Fatahillah

Fatahillah
Bab 80



beberapa santri yang masih bersama mereka menggaruk kepala yang tidak gatal sebab Akmal kini seperti seseorang yang ditinggalkan kekasih pergi jauh dan tidak akan kembali. tanpa mereka tau kalau memang pemuda itu sedang meratapi nasibnya yang ditinggal nikah padahal belum juga di tau apakah yang akan menikah adalah Naila ataukah Maryam karena dua orang santri memberitahu pendapat yang berbeda.


"tenang dulu toh Mal, kan belum jelas juga yang dinikahi ustad Ali itu siapa" Hasan memegang bahu Akmal yang sudah tidak punya semangat


"ustad Ali menikah dengan ustazah Naila mas" ucap santri


"kamu salah Yo, ustad Ali menikah dengan ustazah Maryam"


dua santri itu saling memperdebatkan siapa yang akan menikah membuat Akmal semakin uring-uringan.


"dia kenapa sih mas, sakit kah...?" tanya santri


"lebih tepatnya sakit ulu hati" jawab Fatahillah


"berarti dia asam lambung, bawa ke UKS saja mas"


Hasan dan Fatahillah menepuk jidat, memang bukan salah para santri itu karena jawaban Fatahillah yang asal saja membuat mereka salah paham.


"ya sudah, kalian pergi saja. terimakasih ya sudah memberitahu" ucap Hasan


"sama-sama, assalamualaikum"


"wa alaikumsalam"


para santri berlalu sementara Hasan menyeret Akmal bersama Fatahillah di sebuah gedung kelas yang tidak jauh dari mereka.


"jodohku mas, ya Allah... miris banget sih percintaan ku" Akmal meratapi nasibnya


"berdoa saja semoga bukan Maryam yang menikah dengan Ali, tapi ya kalau memang Maryam berarti kamu ya harus ikhlas dan berlapang dada" Fatahillah menepuk pelan bahu Akmal


"memang benar ya apa kata Najwa, susah untuk mendapatkan wanita idaman seperti mereka. mas Ali memang cocok bersanding dengan Maryam, apalah aku ini yang hanya juragan bengkel" lagi-lagi Akmal meratapi nasib


"sudahlah lebih baik kita ke masjid sekarang untuk memastikan. aku penasaran kenapa sampai terjadi pernikahan mendadak seperti ini, pasti terjadi sesuatu" ucap Hasan


"ayo Mal, kalau Maryam bukan jodohmu berarti ada wanita dibelahan bumi lain yang sedang menunggu pujangga seperti mu untuk meminangnya. sedih boleh Mal tapi jangan berlebihan, kamu meragukan takdir Tuhan ya" Fatahillah berdiri


"sama sekali nggak mas, aku hanya..." Akmal menarik nafas "hanya...ah taulah, aku pusing. ayo kita ke masjid, hari ini hari bahagia keluarga kiayi Anshor" Akmal ikut berdiri


cinta pada pandangan pertama memang sangat sulit untuk dilupakan. kendatipun Akmal belum pernah melihat wajah Maryam, tapi ia begitu yakin kalau dibalik kain yang menutupi wajahnya, ia yakin Maryam memiliki paras yang cantik secantik hatinya.


"kalau nggak kuat kamu di rumah saja Mal" ucap Hasan


"kuatlah...kami kan belum menjalin kasih. aku hanya mengagumi dalam diam saja" jawab Akmal


ketiganya melangkahkan kaki menuju masjid, namun di jalan mereka bertemu dengan ibu Afifah bersama ibu Rosida.


"kalian sudah sampai" ucap ibu Afifah


mereka mencium tangan kedua wanita baya itu, Akmal langsung memeluk erat ibunya.


"kenapa toh nak, datang-datang wajahnya lesu begitu" ibu Afifah membelai wajah anak satu-satunya itu sementara Akmal hanya menggeleng kepala


"bu, Ali akan menikah ya...?" tanya Fatahillah


helaan nafas panjang terdengar dari mulut keduanya, seakan ada beban di pundak yang tidak begitu mudah untuk diselesaikan.


"rencananya seperti itu tapi sekarang mereka masih di rumah kiayi Anshor membicarakan hal tersebut. kalau kalian ingin ke sana maka pergilah, kami berdua harus pulang ke rumah nanti kami ke sana lagi"


"tapi ada para santri yang memberitahu kalau semua orang sudah berada di masjid" ucap Hasan


"memang sudah dipersiapkan semuanya itu perintah kiayi Zulkarnain, tapi calon pengantinnya masih berada di rumah kiyai Anshor. lebih baik kalian ke sana saja"


"Hanum dimana bu...?" tanya Hasan


"Hanum juga di sana. sekarang kalian pergilah"


ketiganya mengangguk dan kembali melanjutkan langkah sementara ibu Rosida dan ibu Afifah berjalan ke arah pulang. di rumah kiayi Anshor ternyata sudah banyak warga yang berkerumun di depan rumah, ada ibu-ibu dan juga bapak-bapak. hal itu membuat ketiganya bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. mereka mendekat kumpulan bapak-bapak dan mengucapkan salam"


"assalamualaikum"


"wa alaikumsalam" salam ketiganya di jawab


"ini ada acara apa ya pak, kenapa ramai seperti ini...?" tanya Fatahillah


"anak kiyai Anshor kedapatan main mesum di dalam mobil mas" jawab salah satu bapak


"astaghfirullah"


Fatahillah, Hasan dan Akmal saling pandang. tentu saja mereka kaget namun berita seperti itu tidak mereka telan mentah-mentah, pasti semuanya salah paham itulah yang mereka pikirkan sekarang. tapi tidak menutup kemungkinan kalau itu semua bisa terjadi, dengan tipu daya setan sehingga keduanya termakan bujuk rayuan iblis.


"memangnya siapa yang melihat mereka...?" tanya Akmal


"kami tidak melihat hanya saja ada yang memergoki mereka berduaan di dalam mobil, di tempat sepi lagi. mau ngapain coba kalau tidak melakukan hal mesum"


"dunia memang sudah mau kiamat ya, padahal mereka orang yang mengerti agama loh. memang kalau bejad ya sudah seperti itu"


"bapak-bapak, kalau kalian tidak melihat dengan mata kepala bapak-bapak sendiri apa yang mereka lakukan, bisa-bisa apa yang kalian tuduhkan itu akan menjadi fitnah. bisa saja kan mereka mempunyai alasan sampai berada di tempat sepi" Hasan geram namun tetap menahan emosinya. biasanya memang orang-orang menuduhkan apa yang mereka lihat tanpa mau mendengarkan penjelasan


"kami tidak fitnah tapi itu memang kenyataan" teriak seorang bapak yang memakai baju berwarna merah


"bapak melihat mereka sedang berbuat mesum...?" tanya Fatahillah


laki-laki baya itu diam, dia hanya memandangi orang-orang di tempat itu. kini Fatahillah yakin kalau mereka tidak melihat namun tetap saja menuduh.


tanpa mengeluarkan kata lagi, ketiganya mendekati rumah kiayi Anshor dan mengucapkan salam. salam mereka di jawab dari dalam, mereka masuk dan duduk bersama orang-orang di tempat itu. pak Odir dan pak Umar berada di dekat kiyai Anshor dan kiayi Zulkarnain. sedang dua anak perempuan kiayi Anshor duduk bersama ibunya, Fatahillah memilih duduk di dekat Ali.


ada dua orang laki-laki baya yang sepertinya sedang merundingkan hal itu. Hanum tersenyum melihat Hasan telah datang, ia senang laki-laki yang selama ini telah mencuri hatinya itu akhirnya kembali.


"jadi bagaimana kiayi, hal ini harus segera diselesaikan agar nama baik pesantren Abdullah tidak tercoreng" ucap seorang bapak berbaju kemeja putih, tatapannya teduh dan menyejukkan


"tapi kami tidak melakukan apapun pak, mas Ali hanya mengejar laki-laki yang sudah melakukan pelecehan terhadap anak sekolah. dia lari ke arah hutan dan kami kehilangan jejaknya. kami tidak melakukan apapun di tempat itu, sumpah demi Allah dan rasulnya pak. umi...aku tidak mau menikah umi" Maryam dengan suara serak menolak untuk dinikahkan


Akmal menutup mata, merasapi rasa nyeri di hatinya karena ternyata harapannya pupus sudah untuk meminang wanita pujaannya. ia menghela nafas panjang, ternyata memang benar Maryam yang akan dinihaki oleh Ali.


"tapi dimata orang-orang kalian telah melakukan perbuatan zina. bagaimanapun dan seperti apapun penjelasan yang akan kalian berikan, tetap tidak akan membuat mereka percaya. salah satu jalan keluarnya adalah dengan kalian berdua menikah" bapak yang berbaju koko berwarna hitam, ikut menimpali


"mas Ali" Maryam memanggil lirih, ia menggeleng tidak ingin menikah


Ali menghembuskan nafas berat, serasa sesak dan ditusuk jarum. apalagi melihat wajah Naila yang begitu kecewa kepadanya, wanita itu memendam rasa sedih teramat dalam.


"saya bersedia untuk menikahi Maryam" ucap Ali menutup mata


air mata Naila jatuh begitu saja, ia remas ujung hijabnya dengan tangan yang bergetar. Naila menggigit bibir menahan sesak yang seakan dihimpit benda yang begitu berat. Hanum ikut merasakan kesedihan Naila, ia hanya dapat mengelus punggung wanita itu tanpa berucap sepatah katapun.


sementara Maryam menangis di pelukan umi Zainab, dirinya begitu merasa bersalah karena telah merebut laki-laki yang dicintai oleh kakaknya.


tidak ada yang bisa mereka lakukan selain menikahkan Ali dan Maryam. Kiayi Anshor menarik Naila dan memeluknya, ia tau putrinya itu terluka dengan keputusan yang mereka ambil namun sekali lagi tidak ada yang bisa mereka lakukan. pernikahan harus tetap di lakukan demi menyelamatkan nama baik pesantren meskipun harus mengorbankan perasaan salah satu anak pemilik pesantren Abdullah.


"ikhlas nak... ikhlas" kiayi Anshor mengusap lembut punggung Naila


"Nai ikhlas bah" jawabnya dengan suara serak


kiyai Zulkarnain diam seribu bahasa, tidak menyangka yang akan menikah dengan Ali adalah Maryam padahal mereka tau kalau Naila menyukai Ali, sayangnya mereka tidak bisa menyalahkan takdir.


Fatahillah merangkul bahu Ali, ia tau ini berat untuk ustad muda itu dan dirinya hanya bisa menguatkan tanpa tau harus mencari jalan keluar kemana sebab orang-orang di luar menuntut keduanya untuk menikah. sementara Hasan merangkul Akmal yang sedang patah hati di tinggal menikah oleh wanita pujaannya yang belum sempat ia utarakan perasaannya.


di luar semua orang telah mendengarkan keputusan yang telah diambi bahwa Ali dan Maryam akan menikah besok.


di luar gerbang pesantren dua orang laki-laki yang berada di dalam mobil menghubungi seseorang.


(bagaimana...?)


(aman bos, untuk saat ini pemuda yang bernama Fatahillah itu akan membatalkan keberangkatannya besok ke kota X, kita bisa mendahuluinya untuk mencari wanita itu)


(bagus, segera ke kota X sekarang juga. temukan wanita yang bernama Haninayah itu bagaimanapun caranya. jika kita tidak mendapatkan mustika merah setidaknya kita mendapatkan mustika putih. dengan begitu Fatahillah akan datang sendiri kepadaku untuk mencari mustika putih)


"bagaimana Aji...?" tanya Ki Demang


"anak buahku sedang ke kota X guru" Aji Wiguna menjawab


"temukan wanita itu sebelum orang lain yang menemukannya, bila perlu kamu dan Alex turun langsung untuk mencari wanita itu" ucap Ki Demang


"kami memang akan ke sana guru, tapi apakah sekarang aku sudah bisa bertarung lagi...?"


"aku menyalurkan tenaga dalamku ke dalam tubuhmu dengan begitu kamu bisa bertarung lagi namun ingat kekuatanmu tidak lagi seperti dulu sebelum kamu diobati dengan mustika merah itu. tapi karena sulit untuk mendapatkan mustika merah maka mustika putih yang akan kita incar, kekuatannya sama-sama sebanding dengan mustika merah"


Aji Wiguna mengangguk paham. ia dan Alex berpamitan untuk meninggalkan desa keramat dan akan ke kota X. setelah kepergian Aji Wiguna, Ki Demang tersenyum menyeringai.


"apa perlu kita mengawasi mereka guru...?" tanya salah satu murid Ki Demang


"tidak perlu, kita tidak perlu repot-repot untuk mendapatkan mustika putih karena Aji Wiguna yang polos itu yang akan membawa mustika itu kepadaku"


"apa yang akan guru lakukan kepada mereka berdua setelah mustika itu berhasil guru miliki...?"


"menurutmu apa yang harus aku lakukan...?" Ki Demang bertanya


"bunuh saja keduanya guru jika tidak mereka pasti akan menjadi musuh kita"


"hahaha" Ki Demang tertawa terbahak-bahak "aku memang berniat akan membunuh mereka nanti" jawabnya dengan senyuman licik


Alex mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, hari sudah menjelang malam saat itu keduanya tetap akan ke kota X walaupun mereka tiba di sana pagi hari.


"bos"


"hmmm" Aji Wiguna menjawab karena matanya tertutup


"maaf jika aku lancang, tapi aku sedikit menaruh curiga kepada Ki Demang"


Aji Wiguna membuka mata dan memutar kepala menatap tajam Alex yang dengan berani mencurigai gurunya.


"apa maksudmu Alex...?"


"kemarin malam saat aku akan ke dapur mengambil air minum, aku mendengar percakapan di luar rumah tepatnya di belakang rumah"


flashback


"jangan membuat dirinya sembuh total guru, karena bisa jadi nanti dia akan menyerang kita sebab kita hanya memanfaatkannya saja"


"tenang saja, dia tidak akan bisa menggunakan kekuatannya karena apa yang aku lakukan selama ini adalah mengunci kekuatannya agar tidak bisa dia gunakan. dengan begitu dia akan patuh kepadaku karena merasa aku yang bisa menyembuhkannya"


"jadi selama ini guru bukan mengobatinya namun malah mengunci kekuatannya...?"


"iya, aku berdalih bahwa yang hanya bisa menyembuhkannya adalah mustika merah dengan begitu dia akan berambisi untuk mendapatkan mustika itu. padahal sebenarnya dia....sudah sembuh hanya saja kekuatan yang ia miliki aku kunci sehingga dirinya tidak bisa menggunakannya"


"lalu apakah mustika merah itu dapat membuka kembali kekuatan miliknya yang terkunci...?"


"mustika itu sangatlah sakti, tentu saja bisa membuka kunci yang aku pasang. hanya saja mustika itu tidak akan dia miliki karena akan menjadi milik kita nanti. tapi karena mustika itu sulit untuk didapatkan maka aku arahkan dia untuk mencari mustika putih"


flashback end


"kamu mendengar percakapan seperti itu, kamu tidak membohongiku kan Alex...?"


"untuk apa aku berbohong bos, aku mendengarnya dengan begitu jelas"


"berhenti Al"


"bos mau ngapain...?"


"aku bilang berhenti" bentak Aji Wiguna


Alex berhenti di tempat sepi, hanya ada semak-semak dan pohon-pohon di samping kiri kanan jalan. lampu mobil tidak Alex matikan sebagai penerangan keduanya karena di tempat itu begitu gelap gulita. Aji Wiguna keluar dari mobil, rasa marah dalam dada seakan membakar akal sehatnya yang ingin meluluhlantakkan tempat itu.


"aaaaagghhh"


swing


swing


ddduuuaaaar


ddduuuaaaar


dua pohon tumbang akibat serangan Aji Wiguna. kembali ia akan menyerang pohon berikutnya namun Alex langsung menahan karena jangan sampai pohon itu tumbang dan menghalangi jalan.


"lepaskan Al, atau kamu mau aku menghajarmu di sini" Aji Wiguna memberontak saat Alex memeluknya dari belakang


"aku tau bos marah tapi jangan menumbangkan pohon, bagaimana kendaraan lain bisa lewat kalau terhalang oleh pohon besar itu"


"harusnya kekuatanku lebih besar dari ini Al, kalau saja guru tidak mengunci kekutanku. padahal selama ini aku menjadi murid yang begitu patuh, sampai hati guru memanfaatkan aku demi kepentingannya sendiri" Aji Wiguna mengalah dan tidak lagi memberontak


Alex mendudukkan Aji Wiguna di pinggir jalan kemudian ia masuk ke dalam mobil dan mengambil air minum.


"minumlah dulu agar bos lebih tenang" Alex memberikan botol air mineral kepada Aji Wiguna


"aku tidak butuh minum" Aji Wiguna mengambil botol itu dan melemparnya ke semak-semak


Alex menghela nafas, ia ikut duduk di samping bosnya. sejenak mereka hening tanpa suara, Alex tidak ingin membuat Aji Wiguna semakin marah karena dirinya yang terus berbicara.


"apa aku sebodoh itu Al...?"


"siapa bilang bos bodoh, tidak usah memikirkan hal yang tidak berguna bos. lebih baik sekarang kita memikirkan cara untuk membuka kembali kekuatan bos"


"kamu benar" Aji Wiguna bangkit dengan cepat "ayo Al, kita ke kota B dan cari penginapan. besok kita harus ke suatu tempat"


"kita nggak jadi ke kota X...?" Alex berdiri


"nanti saja, sekarang ada yang harus kita lakukan selain ke kota X. lagipula anak buahku yang akan mengurus di sana. aku tau bagaimana caranya membuka kembali kekutanku yang telah dikunci oleh guru" Aji Wiguna tersenyum


"caranya...?"


"nanti juga kamu akan tau, ayo. biar aku yang menyetir"


meski sebenarnya Alex penasaran apa yang direncanakan oleh Aji Wiguna namun ia tetap mengikuti perintah bosnya itu. keduanya masuk ke dalam dan meninggalkan tempat itu.


di dalam kamar Maryam tidak bisa tidur, ia begitu gelisah memikirkan nasibnya esok hari yang akan berubah status menjadi istri dari seorang ustad Rahman Ali. bukan hal itu yang menjadi keresahannya hatinya sekarang tapi ia begitu merasa bersalah kepada Naila karena selama ini kakaknya itu sudah memendam rasa kepada Ali.


"apa yang harus aku lakukan ya Allah"


Maryam bangun dan turun dari tempat tidur. dirinya ingin ke kamar Naila untuk menemui kakaknya itu. kamar mereka bersebelahan, Maryam mencoba membuka pintu kamar Naila dan tidak dikunci.


"kak, apakah kakak sudah tidur...?" Maryam masuk ke dalam


dilihatnya Naila sudah membungkus dirinya dengan selimut dan berbaring membelakanginya. Maryam berjalan pelan dan dapat ia dengar nafas Naila yang sudah teratur. Maryam duduk di ujung ranjang.


"maafkan aku kak, aku tidak bermaksud menghancurkan kebahagiaan kakak" Maryam menggigit bibir mencoba untuk tidak menangis


"kakak boleh benci aku, tapi tolong maafkan aku"


setelah mengatakan itu, Maryam keluar dari kamar Naila sedang Naila sendiri yang sebenarnya belum tidur hanya menangis dalam diam.


saat ini Ali masih terjaga dan duduk di teras rumah. malam semakin larut, tidak ada lagi aktivitas yang dilakukan para warga pesantren, hanya cahaya lampu yang menjadi temannya saat itu. wajah Naila terbayang di pikirannya, ia mendesah berat dan berkali-kali menarik nafas.


"Engkau tau yang terbaik untukku ya Allah. jika memang Maryam jodohku maka ajarkanlah aku untuk mencintainya nanti" gumamnya dengan kepala ia tadahkan ke angkasa yang bertabur bintang di langit sana


sementara di dalam kamar, Akmal pun tidak bisa memejamkan mata. ia membuka pintu jendela dan duduk di dekatnya, angin malam menerpa wajahnya yang sedang menyimpan kesedihan.


malam itu empat anak manusia sedang diterpa kelesah hati, mencoba ikhlas menerima takdir Tuhan walau sebenarnya hati tidak benar-benar untuk ikhlas.