
"uhuk... uhuk"
Semua orang terbatuk-batuk akibat ledakkan keras itu dan mengakibatkan debu berterbangan.
Fatahillah bangkit dan mencari keberadaan Langon. Entah terlempar kemana harimau putih itu, sebab ia tidak melihat keberadaannya.
"Langon... Langon" nama harimau putih dipanggilnya dengan keras.
yang lainnya berusaha untuk bangun, sakit di sekujur tubuh sebab ada yang menghantam batang pohon dan juga yang langsung terlempar di semak-semak. Untungnya tidak ada yang mendarat menghantam batu.
"Langon" Fatahillah semakin panik tatkala harimau putih tidak menyahuti panggilannya.
"Langon"
"di sini mas... Langon di sini" terdengar suara Akmal.
Fatahillah langsung berlari ke arah Akmal, rupanya Langon hewan besar itu menindih tubuh Akmal. Alhasil pemuda itu tidak dapat bergerak, apalagi harimau putih seakan enggan untuk bangkit.
"ayolah Langon, kamu berat tau macam Berton ton. Bisa metong aku Langon" Akmal mencoba berdiskusi dengan Langon.
Fatahillah mendekat dan melihat keadaan mereka. Ternyata bukannya Langon tidak ingin bangun, namun rupanya harimau itu terluka. Kakinya tertusuk kayu yang tajam, bahkan menembus. itulah yang membuat Langon tidak bisa untuk menggerakkan tubuhnya.
"sabar Mal, Langon terluka" Fatahillah memegang kaki Langon yang berdarah.
Alex datang bersama Sofia. Pemuda itu langsung membantu Fatahillah menggeser tubuh Langon agar tidak terus menindih Akmal. Dan setelah berpindah tempat, sekujur tubuh Akmal seakan lumpuh.
"aduh...duh...duh, bantuin mas" Akmal kesulitan menggerakkan tubuhnya.
Alex menarik tangan Akmal dan membantunya untuk berdiri. Barulah setelah itu Akmal meluruskan badannya.
graaaar...
"iya...aku akan obati kamu. Tahan bentar ya" Fatahillah mengelus kepala Langon. Sungguh sayang dirinya kepada hewan peliharaannya itu. hewan yang menemaninya sejak masih kecil sampai mereka berdua sama-sama beranjak dewasa.
GRAAAAR....
GRAAAAR....
Dari jauh terdengar suara harimau yang lainnya. Mendengar suara itu, Sofia ketakutan dan refleks mengapit lengan Alex.
Fatahillah yang ingin mengobati Langon, memutar kepala untuk melihat siapa yang datang. Dua pemuda dan satu harimau, berlari cepat ke arah mereka. Senyuman Fatahillah mengembang melihat siapa yang datang. Ia langsung berdiri saat itu.
"mas" Gara langsung menghambur memeluk Fatahillah.
Dan Gangan...?
Harimau itu langsung mendekati Langon dan terus mengelilinginya. Kemudian Gangan duduk di samping Langon. Melihat luka yang ada di kaki Langon, raut mata Gangan menampakkan kesedihan.
"kamu kembali...?" Fatahillah membalas pelukan adiknya dengan erat. Tidak percaya kalau saudara kembarnya itu telah pulang dan bersama dengannya lagi.
"kami mendengar suara ledakan yang begitu keras, kami pikir mungkin itu kalian dan benar saja kalian ada di sini" Gara melepaskan pelukannya.
Sofia mengangga dan menatap keduanya dengan wajah penuh pertanyaan. Kedua matanya berkedip-kedip melihat saudara kembar itu.
"kok pak Gara ada dua...?" Sofia menunjuk keduanya.
"karena mereka kembar kakak ipar" Akmal menjawab dan ia pun berpelukan dengan Gara. Alex pun ikut dipeluk oleh Gara.
"kembar...? Sejak kapan...?" Sofia menggaruk kepala.
"sejak mereka di dalam kandungan. Tidak usah memikirkan hal itu, nanti kepalamu botak" Akmal menjawab seenak mulutnya.
"apa yang terjadi...?" Gara duduk memegang kaki Langon.
"ada tabir penghalang, begitu kuat bahkan sampai kami terlempar dan Langon terluka." Fatahillah ikut duduk.
Graaaar...
"iya, tenang ya. Aku akan menyembuhkan temanmu" Fatahillah mengelus kepala Gangan. Ia tau kalau harimau itu meminta mereka untuk mengobati Langon.
Ketika itu Fatahillah memegang kaki Langon yang terluka. Seketika mustika putih keluar dan berputar memutarinya dengan cahaya putih yang dikeluarkan. Setelahnya mustika itu masuk kedalam tubuh tuannya. Cahaya yang dikeluarkan mustika putih, menjalar ke telapak tangan Fatahillah yang sedang memegang kaki Langon. Tidak lama cahaya itu lenyap, ketika Fatahillah membuka tangannya, luka di kaki Langon sembuh total.
Graaaar....
Langon bangun dan duduk. ia langsung memeluk Fatahillah, mungkin kalau bisa bicara dia akan mengatakan banyak terimakasih kepada tuannya itu.
graaaar...
"sama-sama, kita saudara dan kita akan saling membantu" Fatahillah menciumi Langon.
Graaaar....
Gangan malah ikut mendekat dan memeluk Langon. Alhasil mereka berpelukan saat itu juga. Semua orang haru, pertemanan kedua hewan itu sungguh mulia.
"kalian jadi besti sekarang ya" Gara mengelus kepala keduanya.
"karena sejak kamu pergi, mereka selalu bersama" ungkap Fatahillah.
"emmm lalu dia siapa...?" Sofia menunjuk Victor yang sejak tadi diam.
"dia Victor" Gara menjawab.
"Victor...?" Alex dan Akmal saling pandang. "jadi kamu masih hidup...?" Alex tentu saja kaget.
"berkat pertolongan Tuhan, aku masih hidup sampai sekarang" Victor menjawab.
Fatahillah dan Gara kemudian berdiri, semua orang menatap ke depan dimana sebuah pemandangan yang indah ada di depan mata mereka. padang rumput, itulah yang dimaksudkan oleh Sofia.
"kita berhasil" Akmal girang.
"ayo" ajak Fatahillah.
bagai masuk ke dimensi lain. Tadinya mereka berada di dalam hutan namun saat kaki mereka menginjak rerumputan yang hijau, hutan itu lenyap digantikan padang rumput yang luas.
"sekarang kita kemana...?" Gara menoleh ke arah Victor.
"kalian lihat bukit yang ada di depan sana...?" tunjuk Victor dengan satu tangannya.
"dibalik bukit itu adalah tempat yang kita tujui" Sofia menjawab.
"maka kalau begitu kita bergerak sekarang juga" ucap Fatahillah.
"berjalan kaki akan membuat kita lambat untuk sampai ke sana" Victor menahan langkah Fatahillah.
"lalu...? Kalau bukan berjalan kaki kita akan naik apa...? Di sini kan tidak ada taksi online" Akmal bingung.
"akan ku panggilkan kendaraan untuk kita" Victor tersenyum.
Ia kemudian memasukkan jari telunjuk dan ibu jari ke dalam mulutnya. Bersiul hingga suara itu menggema di tempat itu. Tidak berapa lama, seekor burung yang begitu besar datang entah darimana. Terbang ke angkasa mendekati mereka, memutari mereka semua dan kemudian burung besar itu berhenti di dekat mereka.
Semua orang takjub, bagaimana bisa sampai Victor memiliki hewan yang begitu besar seperti itu. Apalagi dibandingkan dengan burung itu, mereka bagai semut yang berdiri di samping burung itu.
"sahabat, aku membutuhkan bantuan mu" Victor berdiri di depan wajah burung itu.
Burung itu mengangguk kemudian menyenggol Victor dengan paruhnya yang besar. Sama halnya seperti Fatahillah dan Gara yang memiliki Langon dan Gangan, maka Victor memiliki burung rajawali yang gagah.
"kenapa kalian semua bisa memiliki hewan aneh seperti ini. Jangan-jangan kalian bukan manusia" Sofia lagi-lagi terkejut dengan kejutan yang dibawa oleh Victor.
"kamu pikir kami ini ganteng-ganteng serigala...?" Akmal mendengus.
"idih...kamu aja kali yang jadi serigala" Alex mencebik.
"tapi....kita nggak akan jatuh kan ya...?" Gara ragu untuk naik di atas punggung Raja.
"tenang saja, aman dan terkendali kok. ayo naik"
"lah bagaimana caranya naik, wong dia tinggi banget macam tiang listrik" celetuk Akmal.
Victor menyuruh rajawali itu untuk merebahkan tubuhnya di rerumputan dengan begitu mereka bisa naik ke atas punggungnya. Victor lebih dulu naik mengambil tempat duduk di depan, kemudian yang lainnya menyusul.
"kemarin itu kami ke bukit dengan kendaraan milik bos Gandha, macam kereta kencana, kita hanya bisa duduk menikmati perjalanan. Kalau yang ini, was was jangan sampai jatuh langsung almarhum lah kita" Sofia berpegangan erat di jaket Alex karena wanita itu yang paling belakang.
Tidak mungkin kan membiarkan seorang wanita duduk di tengah-tengah mereka, bisa berabe nantinya.
"sudah siap semua...?" Victor bertanya.
"tunggu bentar mas...aku kok kebelet pipis AAAAAA ALLAHUAKBAR KABIRA WALHAMDULILLAHI KASIRO"
Teriakan Akmal ketika tiba-tiba rajawali itu terbang ke angkasa, bagai orang yang histeris. ia memeluk tubuh Victor dengan eratnya begitu juga dengan Sofia, wanita itu gemetaran dan semakin mengencangkan pelukannya.
"yuuuuuhuuuuuuu.... lebih cepat Raja" teriak Victor, bagai sudah terbiasa dan begitu menikmati.
"AAAAAA PELAN PELAN RAJA, AKU BELUM MAU MATI... BELUM KAWIN SAMA MBAK DOKTER CANTIKKU"
Plaaaak
"kawin aja yang kamu pikirkan. kencing belum lurus sudah mau sok soan kawin" Fatahillah menggeplak kepala Akmal.
Gara dan Alex menertawakan Akmal yang tidak hentinya histeris ketika Raja seakan mempermainkan mereka dengan terbang meliuk liuk dan juga terbang tinggi ke atas.
hingga kini tibalah mereka di balik bukit, rajawali itu mendarat di dekat sungai dan merebahkan tubuhnya di tanah. Semua orang turun dengan normal namun tidak dengan Akmal. Kedua kakinya seakan tidak bertulang dan hampir jatuh jika tidak ditangkap oleh Fatahillah.
"cemen banget sih Mal, baru diajak terbang udah mau KO saja" Alex mengejek.
"lain kali aku mau jalan kaki saja, nggak mau terbang lagi titik. bisa mati muda aku" Akmal luruh ke tanah.
Victor tersenyum geli melihat kelakuan Akmal. Ia pun melangkah dan berdiri di depan rajawali itu.
"terimakasih sahabat, kamu bisa pergi. sampai bertemu lagi" Victor menempelkan hidungnya juga keningnya di paruh rajawali itu.
Rajawali itu kemudian berdiri dan terbang meninggalkan mereka. air sungai yang mengalir melewati gapura perkampungan. Dua batu besar yang berdiri saling berseberangan.
"mana desanya...?" Akmal memperhatikan sekitar, tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Yang ia lihat hanyalah dua batu besar yang berdiri kokoh di depan mereka.
"ayo, desanya ada di depan sana. Memangnya biasanya gapura sudah di depan mata namun desanya harus masuk ke dalam" Victor mengajak semua orang.
jalan setapak, di jalan itu mereka mengayunkan langkah. Semak belukar samping kiri dan kanan, air sungai yang mengalir masih terdengar jelas di depan mata. Tidak lama berjalan, sebuah desa yang mereka cari sudah terlihat di depan sana. Mereka semakin cepat berjalan namun kemudian langkah mereka semua terhenti sebab sesuatu di depan mereka.
bagaimana tidak, lebih dari ratusan manusia....bukan, bukan manusia melainkan makhluk gaib yang dimana wujud mereka sama seperti manusia namun wajah mereka pucat pasi dan bola mata mereka berwarna putih. Di depan mereka semua, ada seseorang yang mereka kenal sedang berdiri tersenyum menyambut semuanya. di sampingnya dua orang yang ditutupi kain kepala keduanya, kedua tangan diikat juga leher mereka yang dikalungkan dengan rantai.
"Gandha palsu" Fatahillah mengepalkan tangannya dengan erat.
"wah wah wah....aku kedatangan lagi tamu tak diundang rupanya" Gandha bertepuk tangan "juga dua penghianat" tatapannya tertuju kepada Alex juga Akmal.
"harusnya kalau kamu pintar, sejak pertama kali kami datang kamu sudah tau siapa kami namun nyatanya kamu itu bodoh" Alex mengeluarkan perkataan yang membuat rahang Gandha palsu mengeras namun kemudian senyuman smirk di bibirnya tercipta.
"hahaha....kamu bilang aku bodoh...?" Gandha palsu menunjuk dirinya "aku bukannya tidak tau namun aku pura-pura tidak tau. Apakah kamu pikir aku akan membiarkan siapapun yang datang mengusikku. harus kalian tau, apa yang kalian makan dan minum akan menghancurkan organ di dalam tubuh kalian berdua"
"apa maksudmu...?" Gara geram
"maksudku...? Maksudku adalah dua teman kalian itu sebentar lagi akan mati. Tersisa 10 menit lagi waktu yang kalian miliki dan setelah itu maka ucapkan selamat tinggal kepada dunia"
Fatahillah juga Gara saling pandang, mereka langsung melihat ke arah Alex juga Akmal. Tadinya dua pemuda itu baik-baik saja namun kemudian keadaan berubah. Keduanya mengalami sesak nafas dan sakit dibagian dada. bukan hanya itu, keduanya terbatuk-batuk hingga darah kental keluar dari mulut keduanya. Alex juga Akmal jatuh ke tanah dengan keadaan menyedihkan.
"ya Allah mas Alex" Sofia kaget dan merengkuh Alex ke pahanya.
Akmal di rengkuh oleh Fatahillah, nafas keduanya naik turun bagai ditarik ulur. Mata keduanya melotot juga muntah darah tidak berhenti.
"APA YANG KAMU LAKUKAN BRENGSEK...?" emosi Gara mulai meluap.
"sama seperti yang Hafsah lakukan padamu, hanya saja aku sengaja memberikan waktu yang paling cepat untuk mereka M A T I" Gandha tersenyum menyeringai.
"mas Alex....hiks...hiks... bagaimana ini, bagaimana ini" Sofia panik, ia memeluk Alex yang sepertinya semakin kritis.
"BIADAB"
Gara hendak menyerang namun Gandha Sukandar mengancam.
"jika kamu maju, maka dua kepala manusia ini akan aku penggal sekarang juga" ancamnya.
tidak punya pilihan, mereka harus menyelamatkan nyawa Alex juga Akmal terlebih dahulu. Saat itu Fatahillah mengangkat Akmal sementara Gara langsung mengangkat Alex dan membawa keduanya di pinggir sungai. Keduanya dibaringkan di pinggir sungai tanpa alas apapun.
"bertahanlah aku mohon bertahan" Fatahillah mulai berkaca-kaca, ia panik benar-benar panik.
Sementara Gandha Sukandar berdiri sambil menonton dengan pasukan dibelakangnya. ia tersenyum menyeringai sebab berpikir mereka tidak akan bisa menyelamatkan Alex juga Akmal.
Air.... Fatahillah membutuhkan air. Dengan cepat ia mencari sesuatu yang bisa dijadikan wadah untuk mengambil air sungai. Karena tidak menemukan apapun, ia pun mengambil daun besar dan dijadikan sebagai wahdah. Setelah itu ia mendekati Alex juga Akmal dimana mereka mulai kejang-kejang.
"bertahanlah mas Alex... bertahanlah aku mohon. Hiks....hiks, tolong mas tolong selamatkan mereka" Sofia berlinang air mata.
kepala Akmal berada dipangkuan Gara sementara Alex kepalanya dipangku oleh Sofia.
Dengan tangan bergetar, Fatahillah mengeluarkan tasbihnya dan merendamkan ke dalam wadah yang ia pegang. Membaca sholawat dan dzikir dengan air mata yang tanpa bisa ditahannya. Semua orang menangis saat itu, dua nyawa berada di ujung tanduk.
Air sungai itu diminumkan kepada Alex juga Akmal. Kejang-kejang yang mereka alami tidak juga berhenti. Air itu masuk ke dalam tenggorokan mereka dan kemudian tidak lama keduanya lagi-lagi memuntahkan darah yang begitu kental.
"hueeeeek... hueeeeek"
Tidak berhenti mereka memuntahkan darah segar yang kental. Dari jarak jauh, Gandha palsu lagi-lagi dengan ekspresi menyeringai duduk santai menyilangkan kedua kakinya.
"tidak ada yang bisa menyelamatkan mereka berdua...tidak ada" ucapnya dengan seringai iblis.
Kembali Fatahillah mengambil air dan melakukan hal yang sama seperti tadi. Tiga kali meneguk air itu, kejang-kejang keduanya berhenti. Namun kemudian mereka kembali sesak nafas dan bahkan kedua mata mereka melotot ke atas. Tiba-tiba perlahan-lahan nafas keduanya berhenti dan keduanya menutup mata.
"tidak tidak tidak.... bangun Mal... Alex bangun" Fatahillah mengguncang tubuh keduanya.
"mas Alex...bangun mas...BANGUN" Sofia menangis histeris.
Gara menepis tangan Fatahillah yang saat ini bagai orang yang kehilangan akal. Victor memeriksa detak jantung keduanya, ia menggeleng pelan ketika itu.
"tidak... tidak mungkin. Ini tidak boleh terjadi. Bangun Alex...Mal bangun"
Prok
Prok
Prok
Gandha palsu bertepuk tangan dan tertawa sekeras-kerasnya. ia begitu bahagia melihat Alex dan Akmal menghembuskan nafas terakhir mereka dengan begitu tragis.
"itulah akibatnya jika bermain-main denganku"
"BANGUN MAL..BANGUN. ALEX BANGUN.... BANGUN"
"stop Fatah, mereka berdua sudah tidak ada" Victor menarik Fatahillah agar tidak terus mengguncang tubuh Akmal dan Alex yang sudah tidak bergerak lagi.
"AAAAAGGGHHH....KENAPA HARUS MEREKA YA ALLAH...KENAPA...? KENAPA BUKAN SAJA YANG KAMU AMBIL. AMBIL SAJA NYAWAKU DAN KEMBALIKAN MEREKA. AMBIL AKU SAJA...hiks hiks...ambil aku saja"
Fatahillah tergugu di kedua tubuh temannya yang tidak lagi bergerak sama sekali. Pundaknya naik turun, ia menangis seperti anak kecil.
Gara memeluk tubuh Akmal, dirinya pun menangis pilu. saat itu adalah saat yang paling menyakitkan untuk mereka.