Fatahillah

Fatahillah
Bab 66



sepanjang jalan Fatahillah terus memikirkan sikap Andini tadi. Zelina pernah mengatakan padanya kalau sepupunya itu berbeda jauh dengan sang ibu dan juga ayahnya, namun entah mengapa hari ini Fatahillah merasakan ada yang berbeda dengan sepupu dari istrinya itu.


setibanya di kampus, Fatahillah langsung ke ruangannya. mahasiswa yang sudah mengetahui bagaimana sifat Fatahillah, akan langsung menyapa dosen muda itu dan Fatahillah membalas dengan senyuman.


"pak Fatah" seseorang memanggil namanya sebelum ia membuka pintu ruangannya


Fatahillah memutar kepala, matanya menangkap seseorang yang sedang berjalan ke arahnya.


"pak Gani, apa kabar pak" Fatahillah menyapa dengan ramah


"kabar baik, bukankah bapak cuti...kenapa sudah masuk saja...?" laki-laki itu berdiri di samping Fatahillah


"Kaisar sakit dan kebetulan saya masih di kota ini jadi saya datang untuk mencari mahasiswa yang dapat menggantikan Kaisar"


Fatahillah membuka kunci dan memutar handle pintu.


"mari masuk" ucapnya mempersilahkan


Fatahillah masuk terlebih dahulu dan kemudian disusul oleh Gani. mereka berdua duduk di sofa di ruangan itu.


"memangnya selama ini kamu kemana, sampai nggak masuk mengajar...?" Gani kini berbicara santai karena memang pada dasarnya mereka berdua begitu akrab


Fatahillah bersandar di sofa dan memijit pelipisnya, ia menarik nafas sebelum menjawab pertanyaan teman sesama dosen itu.


"urusan keluarga, rumit. oh ya, apakah kamu tau mahasiswa yang cerdas seperti Kaisar, aku butuh untuk menggantikan aku selama beberapa minggu ke depan"


"hummm....banyak sih mahasiswa yang cerdas. tapi akan aku rekomendasikan kepadamu satu orang, tunggu sebentar aku kirimkan dulu dia pesan untuk datang ke ruaganmu"


Gani merogoh ponselnya dan mulai mengetik pesan kepada seseorang, tentunya mahasiswa di kampus itu.


"sudah...saya sudah memberitahunya untuk datang menghadapmu. kalau begitu saya pergi dulu ya, mau masuk mengajar, para mahasiswa sudah menungguku di ruangan"


"terimakasih ya" Fatahillah mengangguk dan tersenyum


"santai saja...kita kan teman"


Gani menepuk paha Fatahillah kemudian ia beranjak keluar dari ruangan itu. sambil menunggu mahasiswa yang dipanggil oleh Gani, Fatahillah menghubungi istrinya. beberapa hari tidak bertemu membuat rindu itu semakin hari semakin menumpuk dan rasa cinta itu semakin hari semakin besar.


namun sudah dua kali menghubungi nomor istrinya tapi tidak aktif. setelahnya ia baru sadar dan menepuk keningnya sendiri.


"ponsel Zelina kan hilang waktu penculikan itu" gumamnya pelan


karena sudah ingin mendengar suara istrinya, Fatahillah memutuskan untuk menghubungi Akmal, mungkin saja pemuda itu berada di rumah bersama yang lain.


baru saja hendak menekan nomor Akmal, sebuah panggilan nomor baru masuk di ponselnya. Fatahillah mengerutkan kening namun tetap mengangkat panggilan itu.


(assalamu'alaikum mas)


(sayang) senyum Fatahillah merekah, dirinya tau betul bahwa itu adalah suara istrinya


(iya mas, ini aku. ini nomor baruku...aku baru saja membeli ponsel tadi)


(bagaimana kabarmu, Hanum bagaimana apakah dia sudah sembuh...?)


(Alhamdulillah, semua atas izin Allah... sekarang Hanum sudah mulai kembali cantik seperti dulu)


(Alhamdulillah. lalu ibu bagaimana...?)


(ibu sedang membuat kue di dapur bersama ibu Rosida dan ibu Afifah. beliau ternyata sangat penyayang dan ramah mas)


(mentalnya bagaimana, apakah dia masih...)


(tidak mas. selama ini ibu seperti itu karena kehilangan kamu, tapi setelah kemarin melihat wajahmu...ibu sudah seperti biasanya. ibu tidak sabar ingin bertemu denganmu secepatnya. ibu semalam ikut pengajian bersama para santri. ibu sangat luar biasa sekali. aku sangat senang memiliki dua ibu mertua yang begitu hebat dan baik)


(syukurlah, aku senang mendengarnya. ibu...baik juga padamu kan...?)


(dia bahkan sudah menganggap aku seperti anaknya sendiri mas, bahkan untuk urusan dapur saja ibu tidak memperbolehkan aku memasak. kapan mas akan ke sini...?)


(insya Allah kalau secepatnya sayang. mustika putih sudah di tau keberadaannya, kita akan ke kota X setelah tiba di situ)


(ada pada siapa...?)


(adik perempuan pak Umar. oh iya sayang, tadi aku bertemu Andini)


(Andini...?)


(iya, dia sudah bekerja di kota ini. apa kamu tidak pernah berkomunikasi dengannya...?)


(sejak dari memperkenalkan kamu kepada mereka waktu lalu, aku sudah tidak berkomunikasi lagi dengannya. pernah aku kirim pesan tapi dia tidak membalasnya, bagaimana kabarnya apakah baik-baik saja...?)


(aku lihat dia baik. setelah dari kampus aku akan ke rumah utama untuk mengambil mobil, nggak apa-apa kan...?)


(tidak apa-apa mas, nanti aku hubungi Afkar)


(aku sudah mengubunginya, Afkar akan menungguku di rumah)


tok...tok..tok


ceklek


"assalamu'alaikum pak, bapak manggil saya...?" seorang mahasiswa sedang berdiri diambang pintu


(sayang nanti lagi aku telepon ya, aku harus mengurus sesuatu)


(iya mas, jaga kesehatan selalu. assalamu'alaikum)


(kamu juga, wa alaikumsalam)


"masuk" perintah Fatahillah


mahasiswa itu masuk ke dalam ruangan dan duduk di sofa.


"siapa namamu...?"


"Akhtar pak"


"apa kamu mahasiswa yang saja ajar...?"


"benar pak, saya satu kelas dengan Kaisar" jawabnya sopan


"kamu berteman dengan Kaisar...?" fatahillah menatap lekat


"iya pak. kalau boleh tau, bapak manggil saya, ada apa ya...?" Akhtar memang penasaran kenapa sampai dosennya itu memanggil dirinya, biasanya yang selalu ke ruangan Fatahillah adalah Kaisar


"begini, saya sedang mencari mahasiswa yang ingin menggantikan Kaisar sebagai asisten saya untuk mengajar. tadi saya meminta pendapat kepada pak Gani dan ternyata dia merekomendasikan dirimu"


"saya akan menggantikan Kaisar...?" tanyanya memperjelas


"iya, kenapa...? kamu tidak mau...?"


"lalu bagaimana dengan Kaisar...? saya tidak ingin nanti dia marah karena aku menggantikannya"


"bukankah kamu bilang kalian berteman, kenapa dia harus marah. aku juga sudah menghubunginya dan dia tidak masalah. hanya untuk sementara saja, setelah Kaisar sembuh maka dia yang akan kembali melanjutkan"


"baiklah, saya bersedia asal memang Kaisar sudah tau"


"akan saya beritahu kalau kamu yang akan menggantikan dirinya. setelah dia sembuh, kamu bisa melimpahkan kembali tugas itu padanya. tenang saja, kamu melakukan itu bukan dengan secara gratis, saya tentunya membayar kalian berdua. bagaimana...?"


"saya terima pak" Akhtar mengangguk setuju


Fatahillah mengangguk dan tersenyum namun kemudian ia kembali membuka suara.


"atau begini saja. bagaimana kalau kalian berdua saya kontrak. jika Kaisar berhalangan untuk masuk atau sakit seperti sekarang maka kamu yang akan menggantikannya begitu juga sebaliknya. kalian hanya perlu membagi waktu saja"


"saya tergantung bagaimana baiknya saja pak. tapi... apakah pak kejur tidak akan marah...?


"masalah itu, adalah urusan saya. yang penting sekarang kamu setuju atau tidak"


"setuju pak"


"bagus, mulai besok kamu yang akan menggantikan saya" Fatahillah begitu lega akhirnya ia mendapatkan teman partner untuk Kaisar menggantikan dirinya


pertemuan dirinya dan Akhtar diakhiri, kini Fatahillah sedang bersiap untuk pulang. mengenai permasalahan yang dikatakan oleh Akhtar tadi, sudah ia bicarakan dari dulu kepada dekan dan juga kejur tempat program studi ia mengajar dan mereka tidak mempermasalahkan itu.


kini Fatahillah dalam perjalanan untuk menemui Afkar di rumah utama Zelina. diperjalanan dua mobil hitam mengikuti dirinya dan menyuruhnya untuk berhenti. Fatahillah menarik gas motornya namun bagaimanapun tidak bisa mengalahkan kecepatan tinggi kedua mobil itu. tidak ingin membuat keributan di tempat ramai, Fatahillah memilih tempat yang sepi untuk meladeni orang-orang itu.


ia standar motornya dan menyimpan helemnya dia atas motor. sementara orang-orang itu telah keluar dengan pedang samurai di tangan mereka. seorang wanita cantik ikut keluar dari mobil itu.


"berani sekali kamu menipuku Fatahillah Malik" Samantha menatap tajam Fatahillah


Fatahillah tersenyum tipis, dirinya tetap tenang walaupun kini sedang dalam keadaan bahaya. ia bersandar di motornya dan melipat kedua tangan di depan dada, sementara kaki kirinya ia lipat di atas kaki kanannya.


"menipu bagaimana nona...?"


"jangan pura-pura bodoh. kamu memberikan aku mustika palsu. sekarang tamat riwayatmu pemuda sombong" Samantha begitu murka


flashback


Samantha Regina begitu senang telah mendapatkan mustika merah dengan cuma-cuma. ia pun menghubungi Wiratama untuk menyuruh laki-laki itu pulang karena apa yang mereka inginkan telah didapatkan.


(jangan lupa tetap bawa dukun itu Wira, kita bisa mengandalkannya untuk mencari mustika putih pasangan mustika merah ini)


(baik bos)


Samantha Regina semakin di atas awan. ia berencana akan melakukan penyatuan energi setelah dukun itu dan Wiratama datang. tepat di malam hari, Wiratama datang bersama dengan dukun itu. dukun sakti dari desa keramat, bahkan Wiratama takjub dengan ilmu dukun itu.


segala sesuatunya telah dipersiapkan, malam itu Samantha Regina akan melakukan keinginannya. dirinya kini telah berada di sebuah aula yang begitu luas, Samantha Regina berada di tengah-tengah. sebuah dupa, lilin yang menggantikan lampu sebagai penerang dan juga bunga kantil serta bunga melati sudah berada di dekat dupa. mustika merah yang berada di kotak kayu, sudah berada di atas dupa yang terus mengeluarkan asap.


Wiratama dan dukun itu masuk ke dalam aula menghampiri Samantha Regina yang tersenyum lebar melihat kedatangan mereka.


"bos... perkenalkan, dia mbah Ganta dukun sakti dari desa keramat" Wiratama memperkenalkan


"selamat datang mbah" Samantha mencium tangan Mbah Ganta


"kamu di tipu" ucap Mbah Ganta


Samantha mengangkat kepala dan menatap heran dukun itu.


"apa maksudnya aku di tipu...?" tanya Samantha bingung


"mustika itu adalah mustika palsu, kamu telah di tipu" Mbah Ganta menunjuk mustika merah di atas dupa


"tidak mungkin Mbah, aku sendiri telah memeriksanya sendiri. ada energi kuat di dalam mustika itu, bagaimana bisa itu palsu" Samantha Regina tidak percaya


"apakah benar itu palsu Mbah...?" tanya Wiratama


"kamu memegang mustika itu...?" Mbah Ganta menatap Samantha Regina


"tentu saja, untuk merasakan energinya bukankah aku harus memegangnya" jawab Samantha


"kalian harus tau, mustika merah jika dipegang yang bukan tuannya maka benda itu dapat membakar siapa saja yang akan menyentuhnya. bahkan untuk tuannya saja jika ia tidak memiliki mustika putih maka belum tentu ia dapat menaklukkan kekuatan mustika merah itu. ibaratnya mustika merah itu adalah api dan mustika putih adalah air, melakukan penyatuan tanpa mustika putih sama saja bunuh diri namanya. jika kamu tidak merasakan panas saat memegang benda itu, sudah pasti itu adalah palsu. bahkan energi yang ada dalam mustika itu" Mbah Ganta menunjuk mustika merah " sama sekali tidak ada apa-apanya dengan mustika merah yang asli. lihatlah ini" Mbah Ganta mengarahkan telapak tangannya yang mengeluarkan sinar kuning


ddduuuaaaar


satu kali hantaman dapat meledakkan mustika itu dan bahkan persembahan yang akan dilakukan menjadi porak-poranda.


"lihatlah, jika itu memang mustika asli...maka tentunya tidak akan semudah itu untuk hancur" ucap Mbah Ganta


"kurang ajar...jadi dia menipuku" Samantha Regina begitu marah, bahkan urat-urat lehernya pun terlihat


"aaaaaa... BRENGSEK"


swing


swing


karena merasa di permainkan, Samantha Regina mengamuk. ia menghancurkan seluruh isi tempat itu menggunakan kekuatan miliknya. hanya dalam sekejap mata, tempat itu sudah seperti kapal yang rusak tidak beraturan.


"tunggu saja Fatahillah, akan aku penggal kepalamu"


flashback end


"jadi nona sudah tau kalau itu adalah palsu... baguslah. ternyata nona itu bodoh, padahal memiliki kemampuan namun ternyata tidak bisa membedakan mana yang asli dan mana yang palsu. atau jangan-jangan nona sudah terbiasa memakai barang palsu...?" Fatahillah menaikkan satu alisnya


"kurang ajar, tangkap dan penggal lehernya untukku Wira" teriak Samantha Regina memerintah


"dengan senang hati bos" Wiratama patuh "serang dia" perintah Wiratama


orang-orang itu yang berjumlah banyak menyerang Fatahillah. untuk Mbah Ganta, dukun itu masih berada di dalam mobil. dirinya ingin melihat seberapa kuat seorang pemuda yang memiliki mustika merah tersebut. Mbah Ganta berpikir, jika Fatahillah memiliki mustika merah sudah pasti ilmunya begitu tinggi sehingga dapat menundukkan mustika merah.


"Langon"


GRAAARR


harimau putih muncul untuk membantu tuannya. suara aungan harimau putih membuat sebagian dari mereka terkapar di tanah karena tidak sanggup menahan sakit telinga sementara yang lain menutup rapat kedua telinga mereka.


"Langon...mari kita lawan mereka. saatnya balas dendam atas kematian paman Imam" ucap Fatahillah dengan sorot mata tajam dan seringai kecil di bibirnya


GRAAARR


harimau putih mengangguk dan mulai melompat menerkam lawan mereka. Fatahillah maju menyerang dengan senjata andalannya, Kerispatih miliknya. keris kecil melawan pedang samurai yang begitu mengkilap dan tajam, tidak menyurutkan semangat Fatahillah untuk menghabisi mereka satu persatu.


jleb


jleb


aaaggghh


Fatahillah menusuk leher dua orang dan yang lebih kejamnya lagi... Fatahillah merebut pedang salah seorang anak buah Samantha dan menebas kepalanya.


darah seketika mengenai wajahnya, mimik wajah Fatahillah seperti pembunuh berantai yang membantai para korbannya. orang itu tumbang tanpa kepala sementara kepalanya menggelinding berhenti tepat di kaki Samantha. darah membanjiri tanah yang kering itu.


"hadiah untukmu nona, aku gantikan kepalaku dengan kepala anak buah mu" ucap Fatahillah tersenyum menyeringai "dan sebentar lagi, aku akan memenggal salah satu kepala kalian, hitung-hitung sebagai ganti dari nyawa pamanku" lanjutnya lagi, sambil melap darah yang menempel di pedang samurai yang ia pegang


(pantas saja dia bisa menundukkan mustika merah, ternyata dia adalah pemuda yang memiliki ilmu tinggi) batin Mbah Ganta


"nyawa harus dibayar dengan nyawa" ucap Fatahillah


tersisa beberapa orang, mereka kembali menyerang Fatahillah. Fatahillah melesatkan pedangnya dan langsung tertancap di dada salah satunya, tembus di bagian belakang. setelahnya ia melesatkan kekuatannya sehingga orang-orang itu langsung terbang dan mendarat di semak-semak.


kini yang tersisa hanya Samantha Regina dan Wiratama. Mbah Ganta akhirnya keluar dari mobil memperlihatkan dirinya.


"hhh...selalu ada senjata terakhir untuk mengalahkan musuh. aku suka trik kalian" Fatahillah tersenyum


Langon datang dan berdiri di sampingnya, tentu yang saja harimau putih tidak akan membiarkan tuannya melawan musuh seorang diri.


"bawa kepalanya untukku Wira" perintah Samantha Regina


"baik bos" jawab Wiratama


Wiratama maju ke depan, jaraknya dengan Fatahillah hanya beberapa langkah saja. keduanya saling adu tatap dan tanpa senyum yang tergambar.


(dia yang aku lawan saat malam penculikan itu) batin Fatahillah


"takut padaku...?" Wiratama bertanya dingin


Fatahillah tidak menjawab namun ia hanya bersikap tenang dan memainkan kerisnya.


"mundur Langon, kamu berjaga-jaga saja"Fatahillah duduk mengelus kepala Langon


GRAAARR


"tenang saja, aku akan baik-baik saja. percaya padaku ya"


Langon mengangguk dan berjalan menjauhi mereka. ia duduk di samping motor Fatahillah. sementara kini Fatahillah bangkit dan kembali menatap Wiratama.


"bertarung sampai mati, bagaimana...?"


"hhh" Fatahillah tertawa kecil " siapa takut. bertarung sampai mati, mereka berdua tidak boleh ada yang membantu mu bagaimana...?" Fatahillah menunjuk Samantha dan Mbah Ganta dengan dagunya


"baiklah, aku setuju" Wiratama mengangguk "tapi kalau kamu mati, maka mustika merah menjadi milikku"


"setuju" Fatahillah langsung mengiyakan


"bunuh dia Wira, cincang tubuhnya" teriak Samantha


Fatahillah hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Samantha. kini dirinya mulai mengambil langkah begitu juga dengan Wiratama. keduanya sama-sama melangkah cepat dan


buaaaak


kepalan tinju mereka saling bertemu, adu kekuatan kembali dimulai.