
"Malik...Malik"
Suara itu terdengar di telinga Fatahillah. Ia mengangkat kepala dan melihat sekitar. Dihapusnya air mata dengan kasar menggunakan punggung tangannya.
"guru" Fatahillah terus mencari keberadaan gurunya.
tidak lama dari arah masuk pedesaan, terlihat tiga laki-laki tua berjalan ke arah Gandha Sukandar. Tiga laki-laki itu membawa lima pemuda sebagai pasukan mereka. Mereka berhenti beberapa meter dari Gandha palsu dan pasukannya.
kedatangan tiga orang yang memakai pakaian putih dan sorban juga tasbih di tangan mereka, juga lima pemuda yang bersama ketiganya, membuat kening Gandha palsu mengernyit. Tatapannya penuh tanda tanya menatap orang-orang itu.
"siapa kalian...?" Gandha palsu memperhatikan mereka satu persatu. Yang ia kenal hanyalah Samuel seorang.
tidak ada yang menjawab, guru Halim melihat ke arah Fatahillah. Ia mendekati muridnya itu dan mengelus pundaknya dengan lembut.
"bagaimana bisa kamu lupa kalau di dalam tubuhmu ada senjata yang bisa kamu gunakan untuk membuat mereka bertahan walau tidak sepenuhnya sembuh" guru Halim menatap Alex juga Akmal. Ia berjongkok dan memegang kepala kedua pemuda itu. "lakukanlah.... gunakan mustika putih" guru Halim menatap Fatahillah dengan lembut"
"tapi....tapi mereka sudah tidak bernafas guru. Mereka sudah tidak bernafas" Fatahillah tergugu memeluk gurunya.
"mereka masih bernafas namun begitu lemah. lakukanlah sekarang" guru Halim melepaskan pelukannya.
"astaghfirullah.... astaghfirullahaladzim" Fatahillah mengusap wajahnya dengan begitu menyesal. Bagaimana bisa sampai ia lupa untuk menggunakan mustika putih miliknya. Karena panik dan takut kedua temannya tidak selamat, Fatahillah melupakan senjata sakti yang ada di dalam tubuhnya.
Lima pemuda itu mendekati mereka. Aji Wiguna membelai wajah Alex dan menggenggam tangannya, sementara Hasan duduk di samping Gara dan mengambil alih tubuh Akmal. Ia ciumi kening Akmal dengan air mata yang menetes tepat di pipi Akmal.
"aku yakin kamu kuat Mal, kamu kuat" Hasan berbisik di telinga Akmal.
"lakukanlah, saya akan melindungi kalian dari serangan musuh" guru Halim menepuk punggung Fatahillah.
"apakah mustika putih tidak bisa menyembuhkan mereka seperti sedia kala. Aku ingin mereka sembuh, aku ingin mereka sehat seperti sebelumnya" Fatahillah memandangi kedua wajah temannya.
"harusnya kamu mengobati mereka dari tadi menggunakan mustika itu bukan memakai tasbih milikmu. kenapa Gara saya bawa ke tempatku untuk diobati karena racun yang menjalar sudah bercampur dengan darahnya, maka tahapan penyembuhan harus bertahap. Seandainya kamu melakukan secepatnya menggunakan mustika putih, mungkin keduanya tidak akan terbaring bagai mayat seperti itu. tetaplah lakukan, jangan lupa meminta pertolongan kepada Allah"
Fatahillah mengangguk dan mengambil posisi bersila. Sementara guru Halim, membuat pagar gaib untuk melindungi Fatahillah yang akan mengobati Alex juga Samuel.
"Gara, mari hadapi musuh kita sekarang" guru Halim mengajak pemuda-pemuda itu. Yang berada di dalam pagar gaib hanyalah Sofia, Fatahillah, Alex dan Akmal.
Tujuh pemuda bersama dua kiayi dan guru Halim, kini sedang berhadapan langsung dengan Gandha palsu.
"jadi kalian adalah bala bantuan. Hummm...menarik juga ternyata" Gandha tersenyum kecil. "apa kalian sanggup melawan pasukan ku yang begitu banyak sementara kalian hanya beberapa orang" perkataan Gandha terdengar seperti ejekan.
"jangan senang dulu kau iblis, sebentar lagi kepalamu akan dipeganggal oleh keturunan Sukandar" Aji Wiguna menatap nyalang.
"hahaha...aku suka kemarahan itu. kalau begitu mari kita bersenang-senang" Gandha palsu mengangkat tangan kanannya ke atas, mengepal dan memberikan arahan untuk menyerang. Semua pasukan gaibnya berlari menyerang, sementara dirinya duduk santai dengan salah satu laki-laki yang memegang rantai di leher dua tawanan mereka.
pasukan Gandha palsu bahkan lebih dari dua ratus makhluk gaib, namun tidak menyurutkan semangat tujuh pemuda untuk melawan. hari itu adalah hari peperangan bagi mereka.
Kiayi Zulkarnain juga kiayi Anshor menggunakan tasbih mereka. Hanya dengan sabetan tasbih dari dua kiayi itu, yang terkena akan merasakan panas dan menjadi luka bakar. Bukankah jin kafir akan tidak mampu mendengar dzikir yang melafazkan ayat-ayat Allah. Karenanya, mereka kepanasan ketika terkena sabetan tasbih dua kiayi itu. begitu juga dengan guru Halim, laki-laki yang sudah berumur itu melepas sorbannya dan melilitkan di tangan, kaki, juga leher para jin kafir itu. Setelahnya ia memusnahkan mereka.
Gara Sukandar memanggil Gangan, harimau peliharaannya. sementara guru Halim memanggil Langon, karena selain Fatahillah maka yang bisa memanggil harimau putih adalah pemiliknya di awal yaitu guru Halim.
Gara mengincar Gandha palsu, namun begitu susah sebab para jin itu tidak membiarkan siapapun untuk mendekati pimpinan mereka. Karena kesal selalu dihalangi, alhasil Gara melempar tombaknya ke arah tempat dimana Gandha palsu berada. Tombak itu hanya mengenai jin yang bersama dengan Gandha palsu sehingga jin itu musnah terkena tusukan tombak Gara yang menembus sampai di punggungnya.
"kurang ajar" Gandha hendak mengambil tombak itu, namun belum juga disentuh oleh tangannya tombak itu berhasil memukul dadanya sehingga Gandha palsu mundur beberapa langkah.
Gara melompat menginjak ke bahu musuhnya hingga ia mendarat di hadapan Gandha palsu. Gandha palsu melompat memberikan tendangan kepada Gara, namun Gara berkelit ke arah samping. Ketika itu Gandha palsu mengambil alih memegang rantai yang melilit leher dua tawanan mereka.
"rupanya kamu sudah sembuh ya anakku" ucapnya dengan tersenyum.
"cuih...aku tidak sudi menjadi anakmu manusia iblis. Lepaskan mereka berdua"
"oh tidak segampang itu nak, mereka berdua adalah tawananku dan tentunya harus ada imbalan atas mereka berdua"
"kamu menginginkan gunung Gantara kan...? Maka ambillah saja, itupun kalau kamu bisa" Gara mengejek.
"hahaha" Gandha palsu tertawa keras, detik berikutnya ia menarik leher salah satu tawanannya sehingga terdengar suara kesakitan darinya. Rantai itu mencekik leher laki-laki itu.
"kamu memang manusia iblis, lepaskan mereka" Gara geram hendak maju, namun Gandha palsu mengancam.
"maju lagi selangkah maka ayahmu akan mati"
"apa maumu BRENGSEK"
"nyawa kalian semua" Gandha palsu tersenyum menyeringai.
"maka bermimpilah saja"
Gandha palsu melemparkan tanah ke wajah Gara sehingga mata Gara kelilipan dimasuki oleh tanah. Kesempatan itu digunakan Gandha untuk menjauh dan mencari tempat yang aman baginya. Sementara Gara, berusaha mengucek matanya agar bisa melihat.
beberapa pasukan gaib Gandha palsu hendak menyerang Gara. Untungnya Samuel datang dan melindungi sahabat sekaligus bosnya itu. Tidak lama Gara kembali bisa melihat, namun ia mencari keberadaan Gandha palsu sudah tidak ada di depannya.
"BRENGSEK" Gara begitu emosi, ia bersama Samuel kembali bertarung melawan banyaknya pasukan Gandha palsu.
banyak Jin yang ingin menyerang Fatahillah, akan tetapi pagar gaib yang dibuat oleh guru Halim membuat mereka terpental saat menyentuhnya. Sementara di dalam pagar gaib, Fatahillah masih berusaha untuk membangunkan Alex dan Akmal.
Sofia terus menggenggam tangan Alex, terus berdoa memohon kepada sang pencipta untuk menyembuhkan keduanya. Air matanya tidak berhenti mengalir, ia benar-benar takut Alex akan menutup mata untuk selamanya.
"uhuk...uhuk"
Tiba-tiba dua pemuda itu bersuara, keduanya memuntahkan cairan hitam yang begitu pekat. cahaya mustika putih perlahan-lahan mulai pudar dan lenyap. Fatahillah mengambil air sungai menggunakan daun yang ia jadikan wadah. Kembali tasbihnya masuk ke dalam wadah itu. Bibirnya bergerak bersholawat dan berdzikir kemudian ia meminumkan air itu kepada Alex dan Akmal.
Setelah meminum itu, keduanya kembali muntah, namun bukan lagi cairan hitam melainkan darah yang sudah seperti biasanya. Hingga akhirnya berubah menjadi cairan putih saja, itu artinya keduanya berhasil diselamatkan.
"Alhamdulillah... terimakasih ya Allah" Fatahillah mengusap wajahnya begitu bersyukur.
Alex dan Akmal berusaha untuk bangun. Sofia dan Fatahillah membantu keduanya.
"apa yang terjadi...?" Akmal memegang lehernya yang terasa sakit.
"kami hampir kehilangan kalian berdua, terimakasih telah kembali" Fatahillah tidak dapat menyembunyikan kesedihannya dan juga ia begitu bahagia, Ia memeluk keduanya.
"aku lemas sekali" Alex merasa seakan tidak mempunyai tenaga.
"itu karena tubuh kalian belum stabil. Tetaplah di sini dan jangan pernah keluar. Kalian aman di dalam sini. Aku akan membantu yang lainnya"
"maaf ya mas, kami tidak bisa membantu" Akmal terlihat begitu pucat. Bukan hanya dia namun Alex pun begitu.
"kalian kembali saja aku sudah begitu bersyukur. Jadi sekarang aku tidak mengizinkan kalian untuk kemanapun. Sofia, tolong jaga mereka ya"
"baik mas" Sofia mengangguk.
Fatahillah hendak berdiri, tetapi Akmal menahan tangannya.
"ada apa...?"
"ambil ini" Akmal mengeluarkan sesuatu di telapak tangannya, benda yang berukuran kecil dan Fatahillah tau benda apa itu. "mungkin saja mas membutuhkannya untuk memenggal kepala Gandha palsu itu"
Fatahillah tidak menolak, ia mengambil benda kecil itu dan ajaibnya benda itu langsung masuk ke telapak tangannya. Setelahnya Fatahillah keluar dari pagar gaib, beberapa jin sudah menunggunya dan langsung menyerangnya.
"Langon"
GRAAAAR
"serang dan cabik-cabik mereka"
GRAAAAR.
Harimau putih melompat menerkam mangsanya, Fatahillah mengeluarkan Kerispatih dan menusuk, melukai siapa saja yang datang mendekat. Cincin gioknya ia arahkan kepada mereka yang berlari ke arahnya. Para jin itu meledak dan hancur lebur.
Gara Sukandar berdiri tegak, dirinya diam dan menutup mata. Di keningnya muncul garis segitiga berwarna kuning, sama seperti ujung tombak yang menjadi senjatanya. Setelahnya ia membuka mata dan tubuhnya berputar kemudian dari keningnya mengeluarkan cahaya kuning menghantam dan menghabisi siapa saja yang terkena serangannya itu. suara teriakan kesakitan tenggelam dengan lenyapnya mereka yang musnah terkena serangan Gara.
"Fatah, Gara...pergi dan kejar Gandha palsu itu. Pasukannya ini biar kami yang tangani" kiayi Zulkarnain memerintahkan keduanya.
"tapi mereka banyak sekali yayi" Fatahillah juga Gara masih terus bertempur.
"tidak apa, mereka bisa kami tangani. Selamatkan ayah kalian terlebih dahulu" kali ini kiayi Anshor yang menjawab.
Kedua saudara kembar itu mengangguk patuh dan melesat mengejar Gandha palsu yang baru saja kabur meninggalkan arena pertempuran. Keduanya kehilangan jejak, tidak ada tanda-tanda keberadaan Gandha palsu disekitar itu. Hingga kemudian mereka melihat sosok yang sangat mustahil untuk berada di tempat itu.
"mas"
"sayang...kamu kenapa ada di sini...?" Fatahillah tentu saja melihat Zelina berada di hutan itu.
"aku rindu mas" Zelina berjarak sedikit jauh dari keduanya, merentangkan kedua tangannya meminta Fatahillah agar datang dan memeluknya.
Fatahillah hendak melangkah namun Gara menahan dan menggeleng kepala.
"sadar mas, mana mungkin kakak ipar datang ke tempat berbahaya seperti ini. Itu sama sekali hal yang mustahil" ucap Gara.
"mas...ini aku istrimu. Apa kamu tidak ingin memelukku, aku rindu mas" Zelina kembali memanggil Fatahillah.
"dia benar-benar istriku Ga, lihatlah penampilannya sama persis seperti istriku" Fatahillah mulai percaya.
"sini mas...sini peluk aku"
Fatahillah menepis tangan Gara dan berjalan mendekati Zelina. Wanita itu begitu senang Fatahillah semakin dekat dengannya.
Sementara Gara, dirinya hendak mengejar Fatahillah namun suara seseorang membuat tubuhnya berbalik untuk melihat.
"B-Bulan...?" kedua mata Gara membulat dengan ekspresi kaget.
Wanita cantik dengan rambut panjang sampai pinggang, memakai gaun putih sampai mata kaki. Wanita itu tersenyum manis dan menatap Gara dengan penuh cinta.
"aku rindu mas, apa kamu tidak rindu padaku...?" pertanyaan Bulan sama dengan apa yang dikatakan oleh Zelina.
"tapi....tapi kamu sudah tiada Bulan, bagaimana bisa kamu hidup lagi dan...dan"
"aku rindu mas, aku rindu dipeluk kamu. Sini peluk aku mas" Bulan merentangkan kedua tangannya.
bagai terhipnotis, Gara melangkah mendekati istrinya itu. Hingga ia pun masuk ke dalam pelukan Bulan begitu juga dengan Fatahillah yang sedang memeluk Zelina.
"aku rindu mas" Bulan dan Zelina berucap bersamaan.
"tapi aku tidak" Fatahillah menjawab
"aku tidak merindukanmu makhluk terkutuk" ucap Gara
keduanya melepaskan pelukan mereka dan menatap dua wanita itu dengan senyuman seringai. Hingga kemudian Fatahillah menusuk Zelina dengan kerisnya sementara Gara menusuk Bulan dengan tombak yang ia keluarkan. Rupa kedua wanita itu berubah menjadi menyeramkan dan musnah seketika.
Gandha palsu keluar melompat menghindari serangan Fatahillah. Tidak ada dua tawanan yang ia bawa, hanyalah dia seorang diri.
"dua lawan satu, tidak masalah. Kalian tidak akan bisa membunuhku" Gandha bersikap angkuh.
"kita lihat saja nanti" Gara melesat menyerang.
Dua pemuda itu menyerang seseorang yang bahkan identitas aslinya belum diketahui. namun bukan itu bagian terpentingnya, yang paling penting adalah keduanya harus bisa mengalahkan manusia yang merubah dirinya menjadi Gandha Sukandar asli.
Pertarungan terjadi begitu sengit. kekuatan ketiganya sama-sama seimbang bahkan Gandha palsu tidak merasa tersudutkan oleh dua saudara itu.
Buaaak
Bughhh
Gandha berhasil memukul dada Fatahillah namun dibalik itu Gara berhasil menendang dada laki-laki itu sehingga skor yang didapatkan jelas satu sama.
"kamu tidak apa-apa mas...?"
"tidak, aku baik-baik saja"
"lumayanlah tendanganmu" Gandha membersihkan kotoran yang ada di pakaiannya akibat tendangan Gara.
"kamu akan merasakan lebih dari itu" Gara melesat lagi.
Sudah satu jam lamanya mereka bertarung, baik Fatahillah, Gara dan Gandha palsu belum ada yang merasa lelah. Padahal seharusnya Gandha palsu bisa saja kewalahan namun ternyata menghadapi dua pemuda itu bukan masalah besar baginya.
ddduuuaaaar
ddduuuaaaar
Ledakan saling bersahutan ketika kekuatan mereka yang bertolak belakang saling bertemu. Tenaga Gandha palsu benar-benar tidak bisa diremehkan.
"kuat sekali dia" batin Fatahillah.
"dia ternyata benar-benar lawan yang kuat" Gara membatin.
"kenapa anak-anakku...? Sudah menyerah...?" Gandha tersenyum mengejek.
"tidak akan pernah" Fatahillah melesatkan serangan dari cincin giok, sementara Gandha menghalau dengan kekuatannya. Ketika itu Gara mengambil kesempatan melesatkan serangan, alhasil lengan Gandha menjadi sasaran dan putus jatuh ke tanah. darah segar memuncrat keluar.
Gara tersenyum telah melukai laki-laki itu, begitu juga Fatahillah. Namun detik berikutnya senyuman keduanya hilang ketika melihat hal begitu sulit untuk dipercaya.
Lengan Gandha palsu menggelegar di tanah kemudian melayang dan menyatu lagi dengan tubuhnya.
"a-apa....? Bagaimana mungkin"
"mustahil, bagaimana bisa"
Keduanya membulatkan mata melihat kejadian itu, sementara Gandha Sukandar palsu tertawa keras memamerkan kekuatan yang ia miliki.
"sudah aku katakan bukan, kalian tidak akan bisa membunuhku"
"tidak ada manusia yang tidak mati dimuka bumi ini. Kami berdua pasti bisa membunuhmu" Gara menunjuk ke depan.
"oh ya...? tapi lihatlah bagaimana tubuhku kembali menyatu. Itu hanya akan sia-sia untuk kalian berdua"
"BACOT... RASAKAN INI"
Gara melesat menyerang membabi buta. Semua serangan itu dapat dihindari oleh Gandha. Sementara Fatahillah ikut menyerang. Ia mengeluarkan pedang yang diberikan oleh Akmal, dengan pedang itu Fatahillah menyerang Gandha palsu.
Sreeeet
Sreeeet
pedang Fatahillah berhasil menyayat perut dan juga punggung Gandha palsu. Akan tetapi luka-luka itu sembuh dengan sendirinya. Gara bahkan melesatkan serangan dari garis segitiga yang ada di keningnya sehingga kepala Gandha palsu putus dan menggelinding menjauhi tubuhnya. Akan tetapi lagi-lagi kepala itu melayang dan menyatu kembali dengan tubuhnya.
"rawa rontek" Fatahillah dan Gara berucap bersamaan.
Rawa rontek adalah ilmu yang membuat seseorang abadi. Ilmu ini konon katanya adalah ilmu yang membuat seseorang tidak bisa mati. namun jika Tuhan telah berkehendak maka ilmu apapun tidak akan bisa menandingi kuasa ilahi.
"sudahlah, daripada menyerang sia-sia sebaiknya kalian ikut denganku atau tidak dua orang ini akan aku bunuh sekarang juga" Gandha palsu mengeluarkan dua tawanannya itu dari dalam pohon.
"tidak akan sebelum kami berdua menghabisimu" ucap Fatahillah.
"kalau begitu berarti kalian siap kehilangan keduanya"
Gandha palsu berniat menggorok leher kedua laki-laki itu. Gara dengan cepat melempar tombaknya sehingga menembus tangan Gandha palsu dan pisaunya terjatuh. Sementara Fatahillah melesat menarik dua laki-laki itu menyelamatkan mereka dari tindakan keji Gandha palsu.
Lagi-lagi, luka Gandha palsu sembuh begitu saja. benar-benar ilmu yang tinggi.
Ketika penutup kepala dibuka maka terlihatlah wajah dua laki-laki itu.
"ayah" Gara langsung memeluk Gandha Sukandar asli. Gandha membalas pelukan Gara, ia bersyukur bisa bertemu anaknya lagi. akan tetapi ketika melihat Fatahillah, Gandha melepaskan pelukannya.
"k-kalian...?"
"iya yah, dia Firdaus saudara kembarku" Gandha merangkul Fatahillah.
"Firdaus...?" laki-laki satunya bersuara, sehingga mereka melihat ke arahnya.
"Gandha...dimana kamu bawa anak dan istriku...kemana mereka...JAWAB GANDHA"
Laki-laki itu adalah Amsar, ayah kandung dari Gara dan Fatahillah. Tentu saja keduanya langsung berkaca-kaca melihat Amsar menarik kerah baju Gandha Sukandar.
"hei... hentikan seremonial yang kalian buat. Sebentar lagi kalian akan mati" Gandha palsu meneriaki mereka.
Fatahillah dan Gara saling pandang, keduanya mengangguk merencanakan sesuatu. Gara mengambil rantai yang melilit ayahnya dan melilitkan di tangannya.
"mas pasti tau bagaimana menghadapi seseorang yang memiliki ilmu seperti itu" ucap Gara.
"jangan menyentuh tanah" Fatahillah menjawab.
"maka mari buat tubuhnya tidak menyentuh tanah" Gara menatap nyalang Gandha palsu.
Kembali keduanya melesat menyerang membabi buta. Dengan santai Gandha palsu meladeni mereka, namun ia tidak tau apa yang direncanakan dua saudara itu. Ketika Gandha palsu sibuk melawan Fatahillah, Gara dengan cepat melilit rantai itu di leher Gandha palsu kemudian menyeret laki-laki itu di tanah.
Fatahillah mengambil ujung rantai dan melemparnya ke dahan pohon, kemudian ia menarik rantai itu sehingga tubuh Gandha palsu terangkat ke atas dengan lilitan rantai di lehernya.
Gandha palsu meronta-ronta, kedua matanya memerah dan nafasnya tersengal-sengal. Gandha palsu mati dibunuh oleh keturunan Sukandar. Tubuh laki-laki itu menggantung dengan lidah yang menjulur keluar dan juga mata yang melotot. Kehidupan Gandha palsu berakhir. Wajah asli laki-laki itu langsung terlihat.
Dia adalah Hadi Jatmiko...
Suami dari ibu khadijah yang dianggap meninggal karena pembantaian yang dilakukan oleh Gandha Sukandar dan ayahnya Samsir Sukandar. Namun cerita sebenarnya, laki-laki itulah yang sebenarnya dalang dibalik pemberontakan itu. Menjadikan Gandha Sukandar dan Samsir Sukandar sebagai tumbal dari perbuatannya dengan menyebarkan isu bahwa keduanya lah yang memberontak. Membunuh semua keluarga Sukandar dan yang tersisa hanyalah yang bisa menyelamatkan diri.
Anaknya yang bernama Fatahillah Malik, anak kandung ibu khadijah dan Hadi Jatmiko masih hidup sampai sekarang. Dia berada di tengah-tengah keluarga Gandha Sukandar. Anak itu hampir dibunuh oleh ayahnya sendiri jika saja Gandha tidak menyelamatkannya.
Karena ancaman Hadi Jatmiko yang ingin membunuh keluarganya yang tersisa di pelarian mereka, maka Gandha Sukandar terpaksa mengikuti apa yang diperintahkan oleh laki-laki itu. Bahkan Hadi Jatmiko menculik Gara yang masih bayi dan menyembunyikan bayi itu sebelum akhirnya ia melakukan pemberontakan. ketika dirinya berhasil, Gara yang masih bayi diberikan kepada Gandha untuk dirawatnya karena Hadi ingin bayi itu menjadi tangan kanannya nantinya.
Semua bisnis haram Hadi Jatmiko dilimpahkan kepada Gandha Sukandar, hal itu agar nantinya ketika dirinya berhasil menjadi Gandha Sukandar, bisnisnya itu tidak akan diusik oleh siapapun.
Sementara Hadi Jatmiko melakukan semedi untuk menguasai ilmu bisa menyamar menjadi Gandha Sukandar seutuhnya. Laki-laki itu akhirnya menggantikan peran Gandha Sukandar asli dan mengurungnya bersama Amsar. Sahabat yang ternyata adalah musuh dibalik selimut, dialah Hadi Jatmiko.
_____
"pelan-pelan sayang" Fatahillah menuntun istrinya turun ke lantai bawah.
Zelina menggenggam erat tangan suaminya, perutnya yang buncit dan besar membuatnya kesusahan walau sekedar untuk melangkah.
Semua orang telah bersiap di lantai bawah, memakai pakaian yang rapi dan khusus untuk ke pernikahan.
Zulaikha bersama Furqon, wanita itu pun kini sedang dalam keadaan hamil. Begitu juga dengan Anisa, usia kandungannya tidak jauh beda dengan Zulaikha dan juga Maryam.
Ya Maryam... wanita itu kini telah mengandung buah cintanya dengan Ali.
Lalu Nayla...?"
Wanita itu yang akan melangsungkan pernikahan bersama Gara Sukandar, saudara kembar dari Fatahillah Malik.
Ibu Laila menyambut Zelina dengan wajah yang tersenyum. Sementara ibu Khadijah, saat ini sedang duduk bersama anak-anak panti.
"bu" seorang laki-laki datang menghampiri dan duduk di samping Ibu Khadijah. ia cium tangan wanita yang tidak lagi muda itu dan kemudian memeluknya.
"kapan nyusul nak...? Ibu ingin segera punya cucu" ibu khadijah membelai wajah anak kandungnya.
"kapan saja ibu mau, lagipula Naomi sudah siap menjadi istri aku" Samuel melirik Naomi yang begitu dekat dengan keluarga itu.
Memang benar, Samuel adalah anak dari Hadi Jatmiko dan ibu Khadijah yang bernama asli Fatahillah Malik. Namun kemudian nama itu diberikan kepada Fatahillah yang menjadi anaknya sampai saat ini meskipun bukan darah dagingnya. Orang tua yang selama ini mengasuhnya bukanlah orang tua kandungnya.
Akmal telah bertunangan dengan Nagita, mereka akan melangsungkan pernikahan bulan depan.
Lalu Aji Wiguna...?
Laki-laki itu ikut serta hadir bersama Najihan dan juga putranya Kaindra.
Alex pun telah meresmikan hubungan dengan Jeni, gadis itulah yang berhasil menaklukkan hatinya bukan Sofia.
Tegar dan Yusrif...?
Dua pemuda itu masih saja jomblo sampai sekarang, namun meskipun begitu banyak para wanita yang mengantri untuk menjadi kekasih mereka.
Dan Haninayah...?
Wanita itu bersama Guntur, sepupu dari Nagita calon istri Akmal. Keduanya baru saja melangsungkan pernikahan dua hari yang lalu.
"saya terima nikahnya Naila binti Anshor dengan mas kawin tersebut tunai"
Dengan lantang Gara mengucapkan ijab qobul, kini dirinya resmi menjadi suami dari Naila.
Hasan pun mengucapkan ijab qobul dengan tak kalah lantangnya dari Gara. Hari ini dua sepasang calon pengantin akan melangsungkan pernikahan. Gara dan Haninayah, Hasan dan Hanum. Semua orang bersuka cita merasakan kebahagiaan saat itu.
Kesalahpahaman yang selama ini mendarah daging telah terselesaikan. Semuanya kembali seperti dulu. Musuh dalam selimut telah lenyap karena keserakahannya sendiri.
TAMAT.....