
"Gar, kenapa kita belum sampai juga. sejak tadi hanya ada pohon menjulang tinggi, ilalang dan semak-semak. kapan kita sampainya, aku sudah lelah berjalan" Yusrif terus mengeluh sepanjang jalan.
saat ini, dua pemuda itu berjalan menyusuri jalan setapak yang entah akan membawa mereka kemana. hanya mereka berdua, sebab tiga pemuda lainnya pastinya akan mencari jalan yang lain. meskipun sedikit rumit berjalan di semak belukar, namun demi mencari tahu dalang dari semua kekacauan yang terjadi, mereka rela menginjak duri yang membuat kulit mereka perih.
"kita masih mending loh Yus, mengikuti jalan setapak ini. daripada berjalan di semak belukar, lebih rumit dan melelahkan lagi. udah ah jangan protes terus" Tegar yang berjalan di depan, menjawab dan sesekali berhenti melihat sekeliling mereka.
"bodoh sekali yang bersembunyi di hutan seperti ini. ngapain juga capek-capek datang di tempat sepi sunyi nggak ada orang. mendingan bersembunyi di pulau kek, apartemen kek, atau hotel gitu"
"namanya juga tidak ingin ditemukan orang. biasanya memang tempat seperti ini yang dijadikan markas oleh mereka. seperti Ki Demang yang memilih tinggal di desa padahal bos sudah memberikan fasilitas mewah kepadanya"
"tapi ujung-ujungnya Ki Demang malah ingin membunuh si bos. untungnya dia sudah mati, menjengkelkan sekali aki-aki tua itu"
bughhh
"aduh, hei kenapa malah berhenti sih"
Yusrif yang tidak sadar jika Tegar tiba-tiba berhenti, kepala pemuda itu menabrak punggung Tegar yang lebar dan tegap.
"sssttt...aku mendengar suara seseorang" Tegar berbisik.
"dimana...?" Yusrif ikut berbisik, kedua matanya jelalatan melihat ke sana kemari. "aku hanya mendengar suara aliran sungai"
pelan.... sangat pelan mereka melangkah bagai pencuri yang tidak ingin ketahuan. keduanya bersembunyi di balik pohon, beberapa meter dari tempat mereka bersembunyi, aliran sungai terdengar begitu deras. empat orang laki-laki sedang mencari ikan, menggunakan kayu sebagai tombak untuk menangkap ikan.
"hanya orang-orang yang mencari ikan, apa masalahnya...?" Yusrif memperhatikan kegiatan empat orang itu.
"bukan apa masalahnya, tapi tentu saja apa yang sedang mereka lakukan di tempat seperti ini. tengah hutan datang mencari ikan, sungguh tidak masuk akal" Tegar mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan kepada Aji Wiguna.
"kita dekati mereka"
"sekarang...?"
"nggak, tahun depan. ya sekarang lah, kamu kenapa lemot begini sih Yus" Tegar kadang kesal dengan pemuda itu.
"bukan begitu, kita kan mau jadi umpan. setidaknya, kita ikuti mereka sampai di tempat persembunyian. baru setelah itu kita menghampiri mereka, pura-pura tersesat begitu"
"tumben pintar. ya sudah, kita tunggu sampai mereka pulang"
empat laki-laki itu, berbincang sambil menangkap ikan. suara aliran sungai yang deras membuat Tegar dan Yusrif hanya samar-samar mendengar percakapan mereka. akhirnya keduanya memutuskan untuk mendekat lagi dengan cara berjalan pelan dari pohon ke pohon.
"kita apakan ikan-ikan ini, sepertinya bakar lebih enak. kemarin aku baru saja membeli perlengkapan bumbu dapur" laki-laki kepalanya berkilau dan tidak mempunyai rambut sehelai pun, memberikan usul.
"boleh juga. kalau begitu setelah ini kita mencari kayu bakar untuk persiapannya" ucap laki-laki yang bertubuh kurus dari ketiga temannya.
"sebentar malam kita harus segera melakukan tugas lagi, sebab semalam wanita itu dan si Bayu gagal menjalankan tugas. malahan wanita itu nggak pulang sampai sekarang"
"apa-apa jangan dia ditangkap"
"nggak mungkinlah, dia kan sakti"
"tapi kata Bayu, beberapa pemuda yang menggagalkan rencana mereka itu, mempunyai ilmu sakti juga loh. bisa saja kan Hafshah, tertangkap oleh mereka"
"bisa gawat kalau Hafsah menyebut nama si bos"
"nggak akan, wanita itu pastinya akan tutup mulut kalau mau selamat"
"sudah banyak ini, lumayan. ayo pulang, sekalian mencari kayu di jalan nanti"
mereka melangkah menjauh dari sungai itu. setelah tidak terlihat lagi, Tegar dan Yusrif buru-buru mendekati sungai dan mencari aliran sungai yang tidak begitu deras untuk bisa keduanya menyebrang di sebelahnya. dua pemuda itu melangkah terburu-buru, kantung plastik yang dipegang oleh Yusrif ia letakkan di leher dijadikan seperti kalung. beberapa isinya telah dimakan oleh pemuda itu, namun masih banyak makanan lainnya.
"kini saatnya beraksi Gar. ayo, kelamaan kalau menunggu mereka sampai"
Tegar pun berhenti dan menelisik sekitar. karena tidak menemukan apapun, ia merogoh kantung jaketnya. pisau kecil yang selalu ia bawa kemanapun, di arahkan ke lengan Yusrif. pemuda itu tidak sadar akan apa yang dilakukan oleh Tegar. saat Tegar melukai lengannya dengan tiba-tiba, Yusrif teriak sekencang-kencangnya dan histeris. empat laki-laki yang mencari kayu bakar itu, berhenti dan membalikkan badan.
"hei...siapa di situ...?"
di balik pohon besar, Yusrif mengumpat dan menggigit lengan Tegar untuk balas dendam. bisa-bisanya temannya itu tega melukai dirinya hanya untuk agar tidak dicurigai nantinya.
"ya ampun Yus. aku melukaimu hanya seperti goresan loh, lah kamu menggigitku seperti vampir saja. astaga...bisa rabies aku" Tegar meringis, nampak di lengannya terlihat bekas gigitan Yusrif bahkan merah dan berdarah.
"sakit bego...ini lebih sakit dari patah hati. hiks... menyebalkan sekali" Yusrif memegangi lengannya yang sudah banyak mengeluarkan darah.
Tegar mengabaikan lukanya akibat gigitan Yusrif, pemuda itu meletakkan satu tangan Yusrif di bahunya dan keduanya berjalan keluar menuju jalan sebab orang-orang itu semakin dekat dengan mereka.
"mas...mas, tolong mas. teman saya terluka" keduanya tergopoh mendekati empat lelaki itu.
keempatnya saling pandang satu sama lain. merasa heran dan bingung. harusnya di hutan itu hanya ada mereka saja namun kenapa bisa sampai tiba-tiba ada orang lain di tempat yang jauh dengan kota itu.
di persembunyian yang sedikit jauh dari mereka, tiga pemuda cekikikan melihat ulah Tegar dan Yusrif. bisa-bisanya mereka melakukan hal yang diluar prediksi mereka.
"pasti sakit banget tuh. Tegar benar-benar dah" Hasan seakan merasakan sakitnya lengan Yusrif.
"kita mendekat lagi" perintah Fatahillah.
empat laki-laki itu mendekati Tegar dan Yusrif. melihat lengan Yusrif yang terus mengeluarkan darah, salah satu dari mereka mencari daun-daun dan menumbuknya dengan batu. setelah itu daun yang telah hancur itu, ditempelkan di lengan Yusrif. pemuda itu meringis karena perih.
"kenapa kalian berdua bisa ada di hutan ini. kalian mau memata-matai kami ya...?" laki-laki yang berkepala plontos tadi membentak keduanya.
"kami berdua tersesat pak. tadinya hanya ingin berjalan melihat keadaan hutan ini, sekalian membuat video untuk di channel YouTube saya. eh tau-taunya malah kesasar dan teman saya ini terluka. bisa tolong kami tidak pak. bisa mati teman saya kalau banyak kehilangan darah" Tegar memasang wajah memelas sementara Yusrif, wajahnya sudah pucat. ingin sekali rasanya Yusrif mensleding muka tengil Tegar yang diperlihatkan kepadanya.
"bagaimana ini...?" keempatnya saling pandang.
"jangan percaya dulu, bisa jadi mereka bohong. kata si bos, anak buah Gara Sukandar sedang melacak keberadaan kita"
"kami pendatang di tempat ini pak. siapa pula itu Gara Sukandar. pak ayolah, masa tidak kasian dengan temanku ini"
saling berbisik-bisik satu sama lain, Tegar dan Yusrif dapat melihat senyuman terukir di bibir hitam mereka. keduanya sudah mulai merasakan, empat orang itu pasti merencanakan sesuatu. dengan tenang dan tetap memasang wajah memohon, agar orang-orang itu tidak curiga.
"ya sudah, kalian ikut kami. temanmu masih bisa jalan kan...?" orang itu melihat Yusrif yang kesakitan.
"masih pak, saya yang akan membantunya untuk berjalan" Tegar membantu Yusrif berdiri karena tadi pemuda itu ia biarkan duduk di tanah.
berjalan mengikuti empat laki-laki yang melewati jalan kecil. ternyata masih lumayan jauh juga dari sungai tempat mereka menangkap ikan tadi. lelah berjalan, keringat sudah membasahi punggung keduanya. untung saja matahari tidak mengenai mereka sebab hutan yang mempunyai pohon-pohon dan daun yang lebat, membuat sinar matahari hanya sebagian saja yang masuk menembus ke dalam hutan. udara sejuk begitu terasa persis saat di pagi hari.
lama berjalan, mereka tiba di tempat tujuan. ada satu rumah kayu yang ukurannya lumayan besar. tidak hanya itu, tenda-tenda berdiri saling berhadapan. pakaian menggantung di tali, dapur umum terlihat berada di tenda yang lebih besar dari tenda yang lain.
ternyata ada sebuah jalan di tempat itu. jika terlihat, itu adalah jalan yang dilewati oleh kendaraan besar seperti truk dan kendaraan berat lainnya. bekas roda besar, begitu nampak terlihat.
beberapa orang nampak sedang duduk di bawah pohon ya dijadikan sebagai tempat perlindungan. Tegar dan Yusrif di bawa ke salah satu tenda yang tidak mempunyai penghuni.
"tunggu di sini, kami akan mencari seseorang untuk mengobati temanmu itu"
"daun ini cukup ampuh untuk membuat pendarahan kamu berhenti" Tegar menutup kembali luka temannya itu.
"ini nggak ada dalam rencana, kamu tega sekali melukaiku. sakit tau"
"maaf, lagipula kan kita sudah terbiasa terluka. masa luka kecil begini saja kamu nangis"
"luka kecil pala kau. lukanya dalam kampret"
"itu mereka"
keduanya berhenti berbicara sebab dua orang datang menghampiri mereka. seorang wanita dan satu laki-laki yang berkepala plontos tadi. peralatan medis diletakkan di sebuah kain, wanita itu mendekat Yusrif.
"tunggu, kamu seorang dokter...?" Tegar menahan tangan wanita itu saat akan memeriksa luka Yusrif.
"iya, saya dokter yang diutus pak Henry untuk mengobati temanmu. jangan melihatku curiga seperti itu. saya tidak akan membunuh temanmu" wanita itu tersenyum tipis
Tegar melepaskan tangannya dan membiarkan wanita itu mengobati Yusrif. setelah di suntik, menunggu beberapa menit luka Yusrif mulai dijahit dan diperban.
"jangan sampai terkena air, agar lukanya cepat kering" wanita itu kembali memasukkan peralatannya ke dalam tas. "dan ini obat jangan lupa diminum" wanita itu memberikan obat tablet kepada Tegar, pemuda itu mengambilnya.
"terimakasih"
di tempat yang sedikit tinggi, Fatahillah bersama Hasan dan Aji Wiguna sedang memantau keadaan sekitar. dari teropong yang mereka gunakan, mereka dapat melihat Tegar dan Yusrif yang berada di salah satu tenda. wanita yang mengobati Yusrif tadi telah pergi dari tenda itu.
"apa rencana kita selanjutnya...?" tanya Hasan.
"tetap pada rencana awal. aku yakin, mereka akan melakukan sesuatu terhadap Tegar dan Yusrif" Fatahillah menjawab sambil menoropong rumah kayu berjarak puluhan meter.
awalnya biasa saja namun saat melihat siapa yang keluar dari rumah itu dan berbincang dengan seorang wanita, wanita yang tadi sempat mengobati Yusrif. Fatahillah tercengang dan tidak percaya.
"pak Henry" gumamnya.
"pak Henry siapa...?" Aji Wiguna mengambil teropong yang ada di tangan Hasan dan mendekatkan di kedua matanya.
laki-laki baya dan seorang wanita sedang terlibat dalam perbincangan. Aji Wiguna dapat melihat jelas keduanya namun ia tidak tau siapa dua orang itu.
sementara Fatahillah, pemuda itu mengambil ponselnya dan mencari nomor pak Henry. dirinya ingin memastikan apakah laki-laki itu benar-benar pak Henry atau bukan. nomor pak Henry ia tekan, dirinya sembari mengawasi keduanya dari teropong yang ia pegang.
rupanya dugaan Fatahillah tidak meleset sama sekali. laki-laki baya itu meminta kepada wanita yang berada di sampingnya untuk tidak bersuara dengan cara menempelkan jari telunjuknya di bibir sendiri. wanita itu mengangguk patuh. pak Henry mengangkat panggilan dari Fatahillah.
[halo Gara]
[pak Henry, bapak dimana sekarang...?]
[saya di rumah akan bersiap ke kantor. kamu kemana saja, kenapa tidak muncul di kantor kemarin. Samuel pun tidak tau kemana kamu pergi. apa terjadi masalah...?]
[aku punya urusan yang harus diselesaikan. aku menyuruh Samuel untuk membantu Taufik menangani masalah di wilayah X]
[lalu kamu, dimana keberadaan mu...? jangan membuat aku cemas Gara. kalau ayah mu tau kamu tidak datang di kantor, dia akan sangat mudah mengambil alih kepemimpinan mu nanti]
[bukannya bapak akan membantuku. katakan, bapak berpihak padaku bukan...?]
[tentu saja. aku dan Hafshah akan akan membantu sebisa yang kami lakukan]
[baiklah, aku tutup teleponnya. sampai bertemu nanti pak Henry]
"aku sudah menemukan dalangnya. kita ke tempat yang lebih dekat lagi. Yusrif dan Tegar harus terus dalam pantauan kita"
"kalau aku lihat, di pohon yang tidak jauh dari tenda yang ditempati keduanya, aman untuk tempat bersembunyi. soalnya orang-orang itu cenderung ke bawah pohon yang ada di dekat tenda dapur"
"ya sudah, kita ke sana"
bagai Intel yang mengintai penjahat kelas kakap, ketiganya meluncur ke pohon besar yang tidak jauh dari tenda dua teman mereka. melewati jalan yang curam, semak-semak yang merangkak naik, ketiganya tiba di tempat persembunyian.
"apa kita hanya akan diam seperti ini...?" Yusrif mulai bosan.
"kalau bosan, makanlah makanan mu itu"
"aku ingin buang air kecil"
"yasudah, perlu aku bantu ke semak-semak...?"
"hei... masa iya di semak-semak. jelaslah mereka punya kamar mandi" Yusrif memberenggut.
pemuda itu keluar dari tenda, Tegar pun ikut keluar. naasnya keduanya dipukul dibagian tengkuk sehingga dua pemuda itu jatuh terkapar di tanah.
"bawa ke tenda Ki Samidi"
"baik bos"
dua pemuda itu, di angkat dan dibawa ke tenda yang lebih besar lagi. sementara Fatahillah bersama Hasan dan Aji Wiguna, mengikuti mereka dengan hati-hati agar tidak ada yang dapat melihat mereka. dua teman mereka di bawa masuk ke dalam tenda dan di baringkan di tikar seadanya.
"kita tidak perlu mencari mangsa lagi Ki. dua orang ini datang dengan sendirinya membawa nyawa ke tempat ini" pak Henry tersenyum menyeringai.
laki-laki dengan baju serba merah, mempunyai tongkat kayu di tangan kanannya. laki-laki yang sudah putih rambutnya itu, mendekati Tegar dan Yusrif yang tidak sadarkan diri.
"sampai saat ini Gara Sukandar belum mendapatkan obat untuk menyembuhkan orang-orang itu. jelas pasti dia tidak akan mendapatkannya. apalagi dirinya sedang sakit saat ini"
"apakah tanah kuburan itu akan tetap bertahan lama Ki...?"
"tanah kuburan...?" ketiganya saling pandang.
"mereka telah meminumnya dan menyatu dengan aliran darah. tidak ada yang bisa menyembuhkan mereka kecuali hanya aku seorang. kalaupun ada, harus yang mempunyai ilmu tinggi lebih dariku. namun sampai saat ini, tidak ada yang melebihi kekuatan milikku bukan. terkecuali Gandha Sukandar, dia tetap yang nomor satu"
"tanah kuburan itu telah dicampurkan dengan darah kera iblis, itulah kenapa mereka bersikap membabi-buta. aku juga telah memberikan mantra sehingga mereka beringas bagai manusia lapar yang ingin memangsa manusia lain"
"aku penasaran Ki, sebenarnya apa obatnya"
"air telaga gunung Gantara yang ada di pulau bambu. bukankah telaga itu tempat kera iblis tinggal"
"maksud aki, tempat pak Gandha melancarkan bisnis ganjanya...?
"iya, tapi masih jauh dari perkebunan ganja milik Gandha Sukandar. dan tentu saja tidak akan ada yang bisa pergi kesana. pergi ke sana sama saja menyerahkan nyawa"
"kamu salah Ki, siapa bilang tidak ada yang bisa ke sana"
kemunculan Fatahillah bersama dua temannya yang datang tiba-tiba membuat Ki Samidi dan pak Henry terkejut. keduanya bahkan membulatkan mata saat Fatahillah membuka maskernya.
"Gara" pak Henry menelan ludah