
menjelang sholat subuh, rumah itu mulai ramai. para lelaki yang tidur di ruang tengah sudah mulai bersiap untuk ke masjid namun tidak dengan Akmal. pemuda itu, masih nyaman memeluk bantal guling dan membungkus dirinya dengan selimut sampai kepala.
"masya Allah anak bujang.... yang modelan gini yang mau cepat-cepat nikah, bangun sholat aja susah sekali. katanya punya cita-cita rumah tangga dunia akhirat. dasar kamu Mal...Mal" ibu Afifah menggeleng kepala tatkala melihat anaknya masih tertidur pulas di atas karpet
"biar nanti aku yang bangunkan bu" ucap Fatahillah
"jewer saja telinganya kalau dia tidak mau bangun Fatah, sekalian cemblungin ke dalam air" ibu Afifah meninggalkan mereka menuju ke dapur
"ayo Fatah" ajak Aji Wiguna untuk ke masjid
"kalian duluan saja, aku mau mengurus Akmal terlebih dahulu" jawab Fatahillah
"perlu aku tunggu mas...?" tanya Gara
"tidak usah, duluan saja nanti aku menyusul bersama Akmal"
Gara mengangguk saja. para lelaki sudah meninggalkan rumah menuju masjid, tersisa dua orang lagi yaitu Fatahillah dan Akmal. dengan menghela nafas Fatahillah mendekati Akmal dan membangunkan pemuda itu. perlu usaha keras untuk dapat membangunkan Akmal yang sepertinya kelelahan sejak di kota X.
"emang sudah jam berapa mas...?" Akmal bangun dan masih terus menguap
"sudah mau subuh, ayo bangun dan cuci muka sana. aku tunggu di depan"
"masih ngantuk mas" rengek Akmal
"pulang sholat kan bisa tidur lagi Mal, udah cepatan berdiri terus ke kamar mandi sana. atau kamu mau ibu Afifah datang memandikanmu di sini"
"his...iyalah, aku berdiri nih" dengan malas Akmal beranjak dan melangkah ke dapur
Fatahillah hanya menggeleng kepala, dirinya tidak menyalahkan Akmal karena sebenarnya ia pun juga begitu kelelahan namun tidak mungkin bagi dirinya untuk melalaikan kewajibannya. Fatahillah menuju ke teras rumah, sambil menunggu Akmal ia mengirimkan pesan kepada istrinya.
Fatahillah: assalamualaikum sayang, bangun sholat subuh
saat ini Fatahillah begitu merindukan istrinya dan juga ibu Khadijah. semakin hari rasa cinta itu semakin dirasakan dan rindu pun semakin menumpuk. andai bukan karena ingin segera ke gunung Gantara, mungkin ia akan ke kota S untuk menemu Zelina. wanita bercadar yang rela menikah dengannya dan menjadikannya imam untuk mahligai rumah tangga mereka, wanita itu kini semakin bertahta di hatinya.
"angin... sampaikan rinduku padanya" gumam Fatahillah, kepalanya menengadah ke atas
"oh angin....
bawalah rindu ini pada dia yg jauh di sana
katakan padanya kalau aku begitu merindukannya.
kalau dia tidak mau menerima rinduku, maka terbangkan saja rumahnya"
Akmal datang membawa puisi yang membuat Fatahillah tertawa pelan.
"maksa amat mau diterima Mal"
"semuanya tergantung dia, mau menerima atau menolak. kalau menolak ya siap-siap saja rumahnya menjadi layang-layang" celetuk Akmal memeluk dirinya karena kedinginan
"dendam amat. udah ah, ayo ke masjid"
keduanya meninggalkan rumah. hawa dingin di suasana subuh itu begitu membuat tubuh menggigil. sesekali Akmal meniup telapak tangannya dan ia tempelkan di kedua wajahnya. para santri dan santriwati sudah mulai berlomba untuk ke masjid. di perjalanan keduanya bertemu dengan Ali dan juga Maryam.
"assalamualaikum paman, bibi Maryam" sapa Akmal
"aku masih muda loh Mal, panggil mbak ajalah" Maryam protes karena Akmal memanggil dirinya dengan panggilan bibi, seakan ia begitu sudah tua
"ya nggak bisalah bi, kan bibi sudah menikah dengan paman gantengnya aku, jadi berarti sekarang aku adalah keponakannya bibi dan bibi adalah bibinya aku"
Akmal tidak bermain perasaan lagi, wanita yang ada di depannya itu adalah bukan lagi yang menjadi tujuan dalam doanya sehingga sekarang ia bersikap seperti biasanya.
"terserah kamulah" Maryam memutar bola mata "mas aku duluan ya"
"iya sayang" Ali menjawab lembut
Maryam segera menuju ke masjid bersama para santriwati yang ingin berjalan dengannya. sementara itu, Akmal mulai menampakkan ekspresi hebohnya. Maryam yang dipanggil sayang, Akmal yang belingsatan. bahkan kini ia menabrak bahu Fatahillah menggunakan bahunya sendiri, sambil mengedip-ngedipkan mata ke arah Ali.
"apa sih Mal" Fatahillah geregetan dengan tingkah anak muda itu
"cie cieee.... yang manggil sayang. udah sayang nggak tuh" Akmal memainkan alisnya
"cie cie.... yang geregetan. udah move on nggak tuh" Ali kembali meledek
"nah Mal, nggak baik loh pendam perasaan mengagumi Istri orang lain" Fatahillah menasehati
"aku udah move on ya mas, sekarang ini aku sudah mempunyai tambatan hati dan lagi berusaha meminta jalur langit agar yang menjadi saingan aku di tendang ke sungai Amazon" Akmal melangkah lebih dulu, dua orang itu mengikutinya saja namun kemudian langkah mereka terhenti karena Akmal seketika membalikkan badan begitu cepat
"apa aku kasih pelet aja ya, gimana...?"
pletak
"aawww"
"mau paman yang buang kamu ke sungai belakang pesantren, nggak usah jauh ke sungai Amazon" Ali menjitak kening Akmal
"sakit loh mas" rengeknya
"lebai...buruan jalan sana" Fatahillah mendorong tubuh Akmal agar kembali mengambil langkah
ketiganya tiba di masjid setelah azan subuh dikumandangkan. mereka menuju ke tempat wudhu kemudian masuk ke dalam masjid. Akmal yang hendak duduk di samping Gara, seketika menoleh saat ekor matanya melihat seseorang.
"lah, dia kan yang di rumahnya paman Danang kemarin" Akmal mengernyitkan dahi saat melihat orang itu
begitu penasaran kenapa orang itu bisa berada di masjid pesantren Abdullah. namun rasa penasaran Akmal harus ia kesampingkan terlebih dahulu karena saat ini bukan waktunya untuk memikirkan hal lain selain melaksanakan kewajibannya.
selesaikan sholat dan berdoa, Akmal mengarahkan mata ke tempat dimana orang tadi berada namun ia tidak melihat laki-laki itu lagi. keduanya matanya menelisik ke segala arah mencari sosok itu, sayangnya ia tidak melihatnya lagi.
"cari siapa...?" tanya Gara, ia merasa pemuda yang duduk di sampingnya itu sedang mencari seseorang
"nggak cari siapa-siapa, tadi aku seperti melihat seseorang yang aku kenal namun sepertinya aku salah lihat"
udara yang tadinya dingin berganti dengan hangatnya sinar mentari yang mulai menampakkan diri. saat ini semua orang berencana untuk ke pantai menikmati hari minggu, hari libur yang digunakan semua orang untuk bersantai di rumah atau dimana saja tempat yang membuat mereka nyaman.
"aku jadi ingat masa kecil, sering sekali kabur dari rumah hanya untuk bermain di pantai bersama teman-teman. kadang ibu sampai pusing karena aku begitu nakal" Gara tersenyum mengingat masa kecilnya
"apa kamu juga sering kabur mas...?" Akmal bertanya kepada Fatahillah
"aku pernah kabur dari pesantren, pernah kabur masuk hutan dan dihukum sama oleh guru, digantung terbalik di pohon bersama Langon" Fatahillah menjawab
"lah, Langon nakal juga ternyata ya" ucap Hasan
"karena pasti tuannya juga nakal" timpal Aji Wiguna
Fatahillah hanya tersenyum. semua yang mereka bawa sudah berada di dalam mobil. Maryam dan Ali pun ikut untuk menikmati hari libur mereka. tiga mobil itu keluar dari halaman pesantren dan membelai jalan raya.
di dalam mobil ponsel Akmal terus berdering karena sebuah panggilan. Nagita menghubungi dirinya, namun Akmal membiarkan saja ponsel itu terus bernyanyi tanpa berniat untuk mengangkat panggilan dokter cantik itu.
"kenapa nggak diangkat Mal...?" tanya Alex
"malas, nanti saja" jawab Akmal
panggilan mati, kini pesan masuk di nomornya.
Nagita : kamu dimana Mal, bisa bertemu...?
Akmal : maaf mbak, aku sedang sibuk. lagipula tidak baik bertemu dengan laki-laki lain, nanti kalau calon suami mbak tau bagaimana...?
Nagita : aku ingin mengatakan sesuatu padamu, apa kamu begitu sibuknya sampai tidak ingin bertemu denganku...?
Akmal : aku sibuk mbak, maaf ya.
Nagita : kemarin aku berjuang tapi sepertinya semuanya sia-sia ya. apa yang kamu katakan kemarin ternyata hanya omong kosong semata. baiklah, terimakasih untuk kata-kata puitis mu, bodohnya aku yang begitu mudah percaya. aku tidak akan mengganggumu lagi
membaca pesan dokter itu, Akmal mencoba untuk menganalisa.
"apa maksudnya berjuang...?" gumam Akmal
Akmal pun mulai gelisah saat Nagita memutuskan untuk tidak menghubunginya lagi. akhirnya, ia menelpon wanita itu namun nomornya tidak aktif lagi. berkali-kali ia mengubungi wanita itu, namun hanya suara lembut operator yang menyambutnya.
Akmal : mbak Gita dimana sekarang...?
"sepertinya kamu salah langkah lagi Mal" ucap Fatahillah
"maksud mas Fatah...?" Akmal menoleh ke arah Fatahillah
"kalau suka kenapa tidak perjuangkan, katanya tidak mau mengalami nasib yang sama seperti dulu"
"Akmal suka sama seseorang...? siapa...?" Hasan penasaran
"kita semua kenal namun biar nanti Akmal yang memperkenalkan dia pada kita. pesanku ya Mal, berusaha dulu baru memutuskan langkah berikutnya. kamu tidak tanya padanya apakah dia terima laki-laki itu atau tidak kan...?"
Akmal mengangguk membenarkan ucapan Fatahillah. harusnya memang dia bertanya kepada wanita itu, bukannya malah menghindar tapi masih berharap.
"ceroboh lagi kamu. semoga saja dia tidak kecewa dengan sikap yang kamu tunjukkan saat ini" Fatahillah menepuk pelan bahu Akmal
Akmal menggigit bibir, ia benar-benar menyesal mengabaikan Nagita sejak kemarin dan sekarang dirinya yang pusing karena wanita itu tidak bisa ia hubungi lagi.
mobil yang mereka tumpangi telah sampai di pantai. di hari libur memang biasanya akan banyak pengunjung seperti sekarang ini, banyak mobil dan kendaraan roda dua yang berjejer rapi di parkiran.
mereka mencari tempat yang masih kosong, yang memang disediakan untuk pengunjung yang ingin beristirahat di tempat itu dan tentunya tidaklah gratis. semua tempat makan yang dibawa mulai diangkut dan dibawa di tempat itu. mereka memilih di tempat sepi yang tidak banyak pengunjung lainnya.
"ramai sekali ya" Hanum begitu senang, baru kali ini selama dirinya sakit, ia bisa keluar rumah lagi, tidak jauh dari mereka anak-anak berlarian bermain air
"kamu senang...?" Hasan datang di sampingnya
"senang banget, apalagi datang sama kamu" Hanum begitu jujur
hari itu mereka habiskan dengan bercengkrama dan saling mengisi kisah. Maryam dan Hanum berjalan-jalan di pinggir pantai, Hasan dan Ali berada di belakang mereka. sementara untuk laki-laki yang lainnya, mereka kini sedang asik memancing di tengah laut. menggunakan sampan yang ada di tempat itu, mereka mendayung ke tempat yang lebih dalam.
ibu Laila memperhatikan kedua anaknya yang berada di tengah laut sana, begitu bahagia dirinya sekarang bisa berkumpul dengan kedua putranya.
"ibu Laila begitu beruntung mempunyai kedua putra yang begitu mencintai ibu" ucap ibu Afifah
"iya, saya tidak menyangka ternyata Fatahillah mempunyai kembaran" ucap ibu Rosida
ibu Laila tersenyum menanggapi "mereka adalah hartaku satu-satunya di dunia ini" ucap ibu Laila
pak Umar hanya mendengarkan saja cerita ketiga wanita baya itu. dirinya diajak untuk memancing namun pak Umar menolak karena dirinya mabuk laut, naik sampan sebentar saja dirinya sudah mulai oleng.
"pak, kapan kita pulang ke kota S...?" ibu Rosida menatap suaminya
"kapan-kapan saja. Hanum juga sudah sembuh, hadiah untuk anak-anak santri telah selesai dibungkus. malam nanti kita bisa membagikannya kepada mereka" pak Umar menjawab
"bagaimana kalau lusa...?" usul ibu Rosida
"sudah rindu rumah ya bu" ucap ibu Laila
"iya bu, memang ibu Laila tidak ingin ikut bersama kami. di kota S ada istrinya Fatahillah di sana"
"insya Allah bu" ibu Laila tersenyum "saya memang ingin bertemu dengan menantuku itu dan juga sahabatku"
cukup lama mereka memancing, matahari mulai semakin terik. mereka kembali ke daratan dengan beberapa ekor ikan yang siap untuk dibakar. waktu dzuhur mulai masuk. sebelum makan siang, mereka semua sholat terlebih dahulu. setelahnya, ikan yang dipancing tadi mulai dibakar.
Hanum dan Maryam menyiapkan makanan, para ibu tidak keduanya izinkan untuk mengatur. cukup ketiga ibu itu, duduk melihat mereka.
"kayaknya kalau minum air kelapa muda, enak ya" ucap Ali
"betul, kalau begitu biar aku beli dululah" Akmal beranjak
"aku temani" Alex ikut bangkit dari duduknya
keduanya melangkah menuju ke tempat penjual kelapa muda. di sana banyak orang yang mengantri untuk membeli. Akmal dan Alex mengantri di belakang, keduanya duduk di bangku yang ada di bawah pohon kelapa.
"Gita, kamu yakin dengan keputusan mu itu...?"
"entahlah, udah terlanjur menolak"
Akmal mendengar percakapan dua wanita yang ada di belakangnya. ia begitu tau dengan suara salah seorang wanita itu. dengan cepat ia memutar kepala, tepat saat itu wanita itu juga sedang menatap ke arahnya.
"Akmal"
"mbak Gita"
Alex pun memutar kepala, ia melihat Nagita bersama dengan seorang wanita sedang berdiri tepat di belakang mereka.
"ternyata sibuk liburan ya Mal" ucap Nagita
"emm...ya seperti itulah. mbak ke sini dengan siapa. kok nggak bilang kalau mbak ada di kota ini"
"memangnya kalau aku bilang, apa itu penting buat kamu"
Akmal terdiam di skak oleh Nagita, Alex menjadi kikuk berada di situasi seperti itu.
"maaf mbak, aku..."
"Gita, aku duluan ya nanti kamu nyusul saja"
"eh aku ikut" Nagita menahan lengan temannya itu
"mbak sama aku saja dulu, aku ingin bicara sebentar" Akmal menatap harap ke arah Nagita
"maaf ya Mal, sepertinya nggak ada lagi yang harus kita bicarakan" Nagita tersenyum kemudian pergi bersama wanita itu
Akmal menghela nafas, saat itu dia tidak ingin membuang kesempatan untuk memperjelas semuanya.
"mas Alex kalau sudah selesai, pulang duluan saja. aku masih punya urusan"
"ya sudah, pergilah" Alex kini paham apa yang dikatakan Fatahillah tadi saat mereka di dalam mobil
Akmal mengejar Nagita, mempercepat langkahnya untuk bisa mengejar keduanya. namun kemudian langkahnya terhenti karena seseorang laki-laki datang menghampiri keduanya. wanita teman Nagita tadi pergi begitu saja, tinggallah Nagita dan laki-laki itu. laki-laki yang berniat melamar Nagita dan laki-laki yang Akmal lihat di masjid pesantren tadi subuh.
melihat Nagita tersenyum kepada laki-laki itu, Akmal semakin panas. ia membalik badan dan berjalan pergi. namun kemudian ia berhenti lagi, ada yang harus ia tanyakan kepada wanita itu. sayangnya, lagi-lagi melihat keduanya akrab, Akmal mengambil kesimpulan kalau Nagita menerima lamaran laki-laki yang bernama Fahmi itu.
dengan perasaan kecewa, Akmal mengambil langkah kembali ke tempat mereka. di sana semua orang sudah mulai menikmati makanan. ikan bakar sudah mulai disantap.
"makan nak" ibu Afifah memanggil anaknya
"iya Bu" Akmal memasang wajah biasa saja, dirinya tidak ingin membahas hal yang tadi
Gara yang begitu lahap makan, tiba-tiba saja terkapar di tanah. acara mereka itu digempar dengan keadaan Gara yang kini penyakitnya mulai kambuh lagi. Gara muntah darah dan bahkan tidak dapat disentuh karena panasnya tubuhnya.
semua orang panik, apalagi ibu Laila. ia histeris melihat anaknya berteriak kesakitan di tanah. orang-orang yang ada di dekat mereka, nampak ikut panik.
"halangi aku" Fatahillah meminta bantuan kepada yang lainnya
pak Umar dan keempat temannya menghalangi Fatahillah, bermaksud agar orang-orang itu tidak melihat apa yang dilakukan oleh Fatahillah.
wajah Gara sudah dipenuhi darah, ia bahkan merasakan sakit dibagian dada. saat itu Fatahillah menyalurkan energi mustika putih agar panas tubuh Gara berkurang dan mereka dapat menyentuhnya. tepat setelah Fatahillah selesai menyalurkan energi mustika putih, seseorang datang membawa dokter yang kebetulan berada di tempat wisata itu. Nagita dan Fahmi, mereka datang melihat keadaan di tempat itu karena ada seseorang yang meminta bantuan kepada mereka.
"letakkan di atas" ucap Nagita
Gara telah bisa disentuh, mereka mengangkatnya ke atas dan membiarkan Nagita melakukan tugasnya. Fahmi berada di dekatnya, mungkin saja Nagita memerlukan bantuannya.
"harusnya Fatahillah yang mengobatinya" bisik Alex
"terlalu banyak orang, tidak mungkin melakukannya di sini" jawab Aji Wiguna
Nagita menggunting baju Gara, ia melihat memar di bagian perut dan dada. tindakan yang dilakukan sekarang, Gara harus segera dibawa ke rumah sakit.
"mas Farhan harus dibawa ke rumah sakit" Nagita memberitahu semuanya
"kalau begitu kita bawa sekarang, ayo kita bawa sekarang" ibu Laila mendekati Gara dan memeluknya
"apa yang harus kita lakukan...?" bisik Hasan di telinga Fatahillah
"ibu tidak tau dengan penyakit Gara, saat ini lebih baik mengikuti alur saja. kita bawa ke rumah sakit, di sana aku akan memanggil guru untuk menjemputnya"
"lalu bagaimana menjelaskan kepada ibumu jika nanti guru Halim datang menjemput Gara"
"guru akan menjelaskan semuanya kepada ibu"
Fatahillah mendekati ibu Laila dan Gara. ia meminta bantuan kepada Aji Wiguna untuk mengangkat Gara masuk ke dalam mobil. ibu Laila terus menangis melihat keadaan anaknya.
semua orang berkumpul di tempat itu, bahkan setelah mobil yang dikemudikan oleh Fatahillah meninggalkan tempat itu.
"kita susul mereka" ucap pak Umar
mereka bergegas, membereskan semua barang-barang dan memasukkan ke dalam bagasi mobil.
"terimakasih mbak" Akmal mengucapkan terimakasih kepada Nagita
"sama-sama"
"selamat untuk kalian berdua, semoga langgeng sampai pernikahan"
setelah mengatakan itu, Akmal berjalan ke arah mobil karena Hasan telah memanggilnya. seseorang memanggil Fahmi, sehingga laki-laki itu berpamitan kepada Nagita untuk mengurus sesuatu terlebih dahulu. kesempatan bagi Nagita untuk mengejar Akmal dan mengatakan yang sebenarnya.
"Akmal" panggil Nagita
"maaf mbak, aku sedang buru-buru" tanpa menoleh Akmal terus melangkah
"aku menolaknya"
deg
dua kata itu mampu membuat Akmal terkejut dan refleks membalikkan badan.
"menolak...?"
"iya, aku menolak Fahmi karena kamu"
"Akmal, ayo buruan" teriak Ali
"jangan bercanda mbak, itu tidak baik"
"apa sekarang aku terlihat sedang bercanda...?" dengan wajah serius, Nagita menatap Akmal yang jaun di depannya
"mbak.... serius...? pertanyaan Akmal dijawab anggukan kepala oleh Nagita
senyuman mengembang di bibir Akmal. segera ia berlari ke arah Nagita dan memeluk wanita itu. setelahnya ia kembali lagi berlari ke arah mobil namun kemudian ia berhenti lagi dan kembali berlari ke arah Nagita kemudian memeluknya kembali.
"astaga Akmal" ibu Afifah menepuk jidatnya melihat kelakuan anaknya itu
"nanti aku hubungi ya mbak" Akmal menatap teduh Nagita
"iya, pergilah" Nagita mengangguk
"peluk lagi ya" Akmal memeluk Nagita lagi bahkan mengangkat dan berputar-putar, banyak pasang mata yang memperhatikan mereka namun orang-orang itu hanya senyum-senyum melihat keduanya
"bye bye mbak, nanti aku hubungi" Akmal kini melangkah menjauhi Nagita
Nagita membalas melambaikan tangan. ibu Afifah yang begitu gemas dengan tingkah anaknya sampai menjewer telinga Akmal dan menariknya masuk ke dalam mobil. setelahnya ibu Afifah tersenyum ke arah Nagita, kemudian mobil itu meninggalkan pantai.