
dua jam perjalanan, mobil yang dikemudikan oleh Hasan masuk di halaman rumah Yusuf. rumah minimalis dengan dua tingkat, seperti rumah modern lainnya. keduanya keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Yusuf dan Fauzan telah menunggu mereka di ruang tengah. karena menunggu lama, Fauzan mulai tertidur di atas sofa sementara Yusuf duduk diam memainkan ponselnya.
"maaf, kami lama" ucap Hasan mengambil tempat di samping Yusuf
Fatahillah mendekati Fauzan dan membangunkan pemuda itu. merasa ada yang menggoyang lengannya, Fauzan membuka mata dan bangun mengambil posisi duduk.
"hoaaam, lama banget" Fauzan berucap sambil menguap
"namanya di tempat ujung. sekarang, apa rencana kita selanjutnya...?" Fatahillah duduk di samping Fauzan
"yang pastinya kita harus mencari keberadaan Anisa serta Zelina. nggak mungkin kita hanya menunggu mereka menghubungi kamu Fatah" ucap Yusuf
"bagaimana kalau kita membuat rencana mereka yang akan mendatangi kita tanpa harus kita susah payah mencari persembunyian mereka" ucap Fauzan
"caranya...?"
"umumkan bahwa kamu akan memberikan mustika merah itu kepada mereka asal mereka membawa Anisa, Zelina dan Arjuna itu" jawab Fauzan
"nggak semudah itu mereka akan percaya" timpal Hasan
"aku khawatir mereka menyakiti Anisa" ucap Yusuf sejak tadi ia diam mendengarkan
"Fauzan, bukannya kamu bilang akan memberitahuku tentang keberadaan mustika putih. sekarang katakan, dimana mustika itu" Fatahillah menatap Fauzan
"aku tidak mengatakan bahwa aku tau keberadaan mustika itu. aku hanya akan memberitahu bahwa saat kamu akan berniat untuk memeriksa rumah pak Umar, aku menghubunginya dan meminta izin. dia mengizinkan namun sangat kecil harapan untuk kita menemukan mustika itu. pak Umar menyarankan agar kita mendatangi rumah adiknya" jawab Fauzan
"Haninayah maksudmu...?" Hasan memastikan
"ya siapa lagi. bukannya hanya dia saudari pak Umar meskipun beda ibu" timpal Fauzan
"jadi pak Umar mempunyai adik. baru tau aku" ucap Yusuf
"itu karena Haninayah tinggal bersama ibunya. umurnya sepantaran dengan kita. setelah ibu pak Umar meninggal, pak Kusuma menikah lagi" ucap Fauzan
"maksudmu aku harus bertemu dia, apakah kemungkinan mustika itu ada padanya...?" tanya Fatahillah
"anak pak Kusuma kan cuma dua, pak Umar dan Haninayah. kalau pak Umar tidak memiliki mustika itu, mungkin saja kan Hani yang memilikinya. tidak ada salahnya kita ke sana dan menanyakannya. dia orangnya baik, sama seperti ibunya" jawab Fauzan
"kenapa pak Umar tidak tinggal bersama adik dan ibu sambungnya saja...?" rupanya Yusuf penasaran dengan kisah keluarga pak Umar
"kalau aku ceritakan, bisa sampai besok. sekarang kita harus menyusun rencana. mencari keberadaan Anisa dan Zelina dan juga Arjuna atau kita mengunjungi Haninayah di kota X" ucap Hasan
"kota X...? kenapa jauh sekali" Fatahillah mengeluh
"jadi bagaimana...?" Fauzan menatap mereka semua
"kalau kita ke kota X, aku takutnya orang-orang itu akan mencelakai Anisa juga Zelina dan Arjuna. tapi kalau kita tidak pergi, apa iya kita bisa melawan mereka. sejak kemarin yang kita hadapi hanyalah orang-orang suruhan bukan bos mereka. aku yakin bos dari orang-orang itu adalah yang mempunyai ilmu kanuragan yang tinggi" Fatahillah ragu dan diliputi kebimbangan
"jika sudah terdesak maka jalan satu-satunya ya melarikan diri. maka dari itu kita harus membuat taktik terlebih dahulu" ucap Hasan
semuanya tampak berpikir apa yang harus mereka lakukan untuk menyelamatkannya nyawa tiga orang yang tanpa mereka ketahui dua orangnya telah melarikan diri.
sejenak mereka hanyut dalam pikiran masing-masing, ponsel Yusuf bergetar. sebuah nomor baru masuk ke dalam layar ponselnya. dengan kening yang mengkerut ia menatap semua orang.
"siapa...?" tanya Fatahillah
"nomor baru" Yusuf memperlihatkan layar ponselnya ke arah mereka
"angkat dan speaker" ucap Fauzan
Yusuf mengangguk dan menggeser tombol hijau kemudian ia menekan tombol speaker.
(halo)
(Yusuf... tolong aku Yus)
deg
Yusuf kaget begitu juga semua orang karena suara itu adalah suara Anisa.
(Anisa, kamu dimana... katakan kamu dimana...?)
(aku...aku, aku di.... pinggir jalan. aku tidak tau ini dimana. Yus tolong, mereka mau membunuhku. wanita itu ingin meminum darahku. tolong Yus, aku nggak mau mati. mereka... mereka ingin mustika merah. aku tidak tau apa yang mereka katakan, tolong aku Yus) Anisa menangis di sebrang sana
(tetap di tempatmu dan jangan kemana-mana. terus aktifkan ponselmu. aku akan segera ke sana)
(cepat Yus, wanita itu murka karena aku melarikan diri. aku takut mereka akan menemukanku. cepatlah datang, hiks...hiks... cepat datang Yus)
(iya, aku akan segera ke sana. bersembunyi lah di tempat aman sampai aku tiba. jangan keluar, kamu mengerti kan)
(iya, aku tunggu kamu)
"kita harus segera ke sana, Anisa m membutuhkan bantuan kita" Yusuf bangkit dari duduknya, bahkan semua orang
"ayo kita pergi" ucap Fatahillah
namun ternyata baru hendak melangkah, ponsel Fatahillah bergetar. ia berhenti dan semua orang ikut berhenti. ia mengangkat panggilan itu.
(halo)
(mas Fatah) suara Zelina terdengar di sebrang sana
(sayang, kamu kah itu...?) Fatahillah begitu bahagia mendengar suara istrinya. semua orang saling pandang
(iya, ini aku mas. aku melarikan diri bersama Arjuna dan meminjam ponsel seseorang untuk menghubungi kamu. mas... kamu baik-baik saja kan, kamu tidak terluka kan...?)
pertanyaan Zelina membuat Fatahillah begitu merindukan istrinya. padahal dirinya yang seharusnya menanyakan dan khawatir tentang keadaan istrinya sekarang.
(harusnya aku yang bertanya sayang. kalian berdua baik-baik saja kan...?)
(kami baik mas, kami berada di rumah warga. besok kami akan kembali ke pesantren. jika ke kota S, jaraknya cukup jauh)
(jangan-jangan kemana-mana, tetap berada di tempat itu. aku akan menghubungi Ali untuk menjemput kalian, kalian tidak boleh keluar)
(baiklah. beritahu saja mas Ali agar menghubungi nomor ini jika dia ingin menjemput kami)
(iya. setelah urusan di sini selesai, aku akan secepatnya ke kota B)
(aku merindukanmu mas)
suara lirih Zelina mampu memporak-porandakan hati Fatahillah saat ini. bahkan ia pun begitu merindukan istrinya.
(aku juga. tunggu aku di kota B ya)
(iya mas. kamu hati-hati. uhibbu kafilah suamiku. assalamu'alaikum)
(aku juga mencintaimu sayang. wa alaikumsalam)
"itu Zelina...?" tanya Hasan
"iya, mereka melarikan diri. aku begitu bersyukur Tuhan melindungi dan menyelamatkan istriku" Fatahillah begitu bersyukur
"ya sudah, ayo" ucap Fauzan
mereka segera meninggalkan rumah Yusuf dan akan ke tempat dimana Anisa berada. Fatahillah akan menghubungi Ali esok hari karena ia tidak mungkin menghubungi seseorang larut malam seperti itu.
"brengsek... bagaimana bisa kalian tidak menemukan mereka. mereka berdua cuma manusia sampah yang tidak mempunyai ilmu beladiri diri. dasar bodoh"
buaaaak
buaaaak
Aji Wiguna mengamuk karena para murid Ki Demang tidak berhasil menangkap Zelina dan Arjuna kembali. sasaran kemarahannya ia lampiaskan kepada para murid Ki Demang. salah seorang yang yang tidak terima teman-temannya di pukul langsung menghalau serangan Aji Wiguna dan melindungi teman-temannya. sepertinya ilmu kanuragan laki-laki itu, jauh di atas yang lainnya.
"berhenti membuat ulah, mereka bukan boneka mu yang bisa kamu pukul sesuka hati" ucapnya dengan dingin
"kamu melawanku...?" Aji Wiguna semakin marah
"memangnya kenapa. kamu pikir aku takut padamu...? kamu hanya murid guru yang sama seperti kami. kamu bukan tuan kami yang harus kami patuhi perintahnya. kalau bukan guru yang memerintah, kamu pikir kami mau diperintah olehmu. ingat Aji, aku bisa membunuhmu jika aku mau. kekuatanmu yang dulu, sudah tidak kamu miliki lagi bukan. jangan sok jadi jagoan" laki-laki itu menatap tajam Aji Wiguna
"kau..." Aji Wiguna menunjuk laki-laki itu dengan penuh kemarahan "ku bunuh kamu" Aji Wiguna melesat menyerang
"cukup Aji. dengan kekuatanmu yang lemah sekarang, kamu pikir dapat mengalahkan Jagar. dia benar, dia bisa membunuhmu kalau dia mau" Ki Demang datang dan menepis serangan Aji Wiguna
Aji Wiguna mendengus kesal dan menatap begitu tajam ke arah Jagar. seakan memberitahu bahwa "aku akan membunuhmu jika waktunya tiba", dengan kilatan mata tajamnya, Aji Wiguna tersenyum tipis.
Alex dan yang lainnya, hanya diam tanpa berani untuk mengeluarkan suara.
"lalu apa yang harus kita lakukan guru. padahal dengan istri Fatahillah berada di tangan kita, aku dapat menekan pemuda itu untuk menyerahkan mustika merah padaku" ucap Aji Wiguna
"aku akan mencoba untuk menemui pemuda itu. aku juga penasaran, sebesar apa kemampuannya sampai dua muridku dapat dibunuh olehnya" Ki Demang berucap dingin
"dengan cara apa guru, dia sekarang telah kembali ke kota S"
"kamu lupa, bagaimana saktinya gurumu ini" Ki Demang mengelus sifat sombongnya
"maaf guru, kalau begitu buat pemuda itu babak belur dan ia menyerahkan mustika itu"
"hmmm... tenang saja. belum ada yang bisa mengalahkanku jika hanya melawan pemuda seperti Fatahillah itu" Ki Demang mengusap jenggotnya
"tapi... bagaimana bisa kedua orang itu bisa tidak kalian temukan" Ki Demang menatap semua muridnya
"begini guru"
flashback
"Arjun, mbak sudah tidak kuat. mbak sudah tidak mempunyai tenaga lagi" Zelina jatuh terduduk di pinggir jalan
Arjuna yang juga sangat kelelahan, ikut duduk dan berbaring di tanah. nafas keduanya begitu memburu, seperti telah melakukan lari maraton yang berkilo-kilo meter jauhnya.
"mbak haus Arjun" dengan suara yang begitu lemah, Zelina mencoba nafasnya yang naik turun tidak beraturan
"aku juga haus mbak, tapi di sini tidak ada air. kuatlah mbak sampai kita menemukan pemukiman warga. bagaimanapun juga kita masih belum aman untuk sekarang"
"istrahat sebentar saja ya, setidaknya sampai kaki mbak bisa berjalan lagi" Zelina memijit kakinya yang begitu lelah
Arjuna mengangguk dan ia pun memilih memejamkan mata. angin malam memang begitu sejuk menerpa wajah mereka yang basah dengan keringat.
"kita harus menemukan mereka, aku yakin mereka belum jauh dari sini"
suara orang bercakap-cakap yang didengar Zelina membuat ia kalang kabut. segera ia membangunkan Arjuna yang ternyata sudah terlelap karena lelahnya.
"ada apa mbak...?" Arjuna bangun dan duduk
"ada orang Arjun. matikan obormu"
Arjuna segera meniup obor yang ada di sampingnya hingga kini mereka bertemankan gelap. suara-suara itu semakin dekat ke arah mereka. Arjuna bangkit dan membantu Zelina untuk berdiri. mereka bersembunyi di balik pohon di balik semak-semak.
orang-orang itu telah berada di tempat keduanya tadi mengistirahatkan tubuh. saat itu salah seorang dari mereka menendang obor yang digunakan Zelina dan Arjuna.
"obor" ucapnya dan mengambil obor tersebut kemudian menyalakannya
"berarti mereka pasti berada di sekitar sini. karena mendengar kita maka mereka buru-buru bersembunyi di tempat yang tidak bisa kita lihat" ucap yang lain
"kalau begitu kita telusuri tempat ini. siapa tau memang mereka masih berada di sekitar sini"
Arjuna merukuti kebodohannya karena meninggalkan obor itu di tengah jalan. keduanya begitu was-was karena orang-orang itu mulai memeriksa setiap semak-semak dan di balik pohon.
"mbak, aku hitung sampai tiga ya. jika sudah angka tiga maka mbak Zelina harus lari secepat mungkin dari sini" Arjuna berucap dengan sangat pelan
"lalu kamu bagaimana...?"
"aku akan menghadapi mereka"
"tidak...mbak tidak izinkan. kita harus kabur bersama" Zelina mencari sesuatu di saku gamisnya. sebuah sapu tangan dan ia ikatkan sapu tangan itu di tangan Arjuna
"kita akan kabur bersama. apapun yang terjadi, jangan sampai tanganmu terlepas dari tangan mbak" Zelina memegang tangan Arjuna yang sudah ia lapisi dengan sapu tangan miliknya tadi
Arjuna mengangguk dan mereka mulai mengambil ancang-ancang untuk kabur dari tempat itu.
"dapat... mereka di sini" seseorang berteriak
tentu saja keduanya kaget karena mereka telah ditemukan.
bugh
Arjuna melompat dan menendang orang itu hingga ia terjungkal. setelahnya Arjuna menarik Zelina untuk lari dari tempat itu. untungnya sinar rembulan dapat menerangi jalan mereka hingga Arjuna dapat melihat dengan jelas jalan yang harus ia lalui meskipun tidak seterang saat mereka menggunakan obor.
"woi... jangan lari kalian"
orang-orang itu mulai mengejar keduanya. tenaga yang sudah sangat terkuras membuat keduanya beberapa kali terjatuh namun bangkit lagi dan terus berlari.
bugh
"ya Allah, mbak nggak kuat Arjun" Zelina terjatuh karena kakinya tersandung
orang-orang itu semakin dekat dengan keduanya. Arjuna melepaskan tangannya dan mencari kayu. kayu yang berukuran besar seperti paha manusia ia lesatkan ke arah orang-orang itu. dua kayu ia lempar dan tepat mengenai sasaran. mereka teriak kesakitan karena ulah Arjuna.
"ayo mbak, mbak harus kuat" Arjuna kembali memegang tangan Zelina
mereka kembali berlari dan kini keduanya telah berada di jalan raya. keberuntungan berpihak kepada mereka. saat itu ada mobil yang lewat. Arjuna berlari ke tengah jalan dan menghentikan mobil itu.
"woi.. cari mati kamu ya" sang sopir memarahi Arjuna
"tolong kami mas, kami di culik dan akan dibunuh. tolong beri kami tumpangan"
Arjuna mendekati Zelina dan menariknya. orang itu dapat melihat keadaan keduanya yang begitu berantakan. bahkan wajah Arjuna yang babak belur.
"ya sudah, ayo cepat masuk" laki-laki itu membuka kunci pintu mobilnya
keduanya masuk ke dalam mobil dan kemudian mobil itu meninggalkan tempat yang gelap itu. setelah jauh, barulah orang-orang itu sampai di jalan raya dan tidak menemukan siapapun selain hanya suara burung.