
sudah pukul satu siang barulah pertemuan antara Alex bersama klien yang sebenarnya ingin bertemu Gandha Sukandar namun malah Alex yang mewakili, berakhir dengan berjabat tangan. sebenarnya Gandha Sukandar bukan tidak ingin bertemu, hanya saja menurut apa dikatakan oleh Utami bahwa laki-laki itu mempunyai kesibukan yang lain.
pasalnya orang seperti Gandha Sukandar tentu saja memiliki berbagai macam jadwal yang harus dilakukan dan salah satunya adalah untuk bertemu klien yang datang jauh-jauh dari luar negeri dan Alex lah yang menemui laki-laki itu.
mempelajari tentang apa yang akan dibahas hanya dalam dua jam, itu karena Gandha Sukandar memberikan file juga berkas yang harus Alex pelajari dan berhasil, pemuda itu berhasil meyakinkan laki-laki yang bernama Mateo itu untuk bekerjasama dengan perusahaan Gandha Sukandar.
"terimakasih pak, senang bisa bekerjasama dengan anda" Alex mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. tubuhnya yang tinggi dan atletis, dibaluti oleh pakaian jas yang membuat dirinya bagai CEO muda.
"terimakasih juga telah menyambut hangat kedatangan saya. saya berharap setelah ini, kita semakin akrab baik dalam bisnis maupun di luar itu" Mateo tersenyum menyambut uluran tangan Alex.
"tentu saja. Gemilang grup akan memberikan yang terbaik"
"saya beruntung bisa bekerjasama dengan perusahaan besar di tempat ini. aku pun juga akan melakukan kerjasama dengan Gantara grup namun sepertinya pemimpinnya sibuk, maka sampai hari ini kerjasama yang kami bahas bulan lalu belum terlaksana"
dua perusahaan besar yang ada di gunung Gantara, Mateo merasa senang bisa bekerjasama dengan salah satunya.
"kalau begitu sampai bertemu lagi, saya harus kembali ke hotel dan menikmati wisata di tempat ini sebelum saya pulang kembali ke negara saya"
"selamat bersenang-senang pak Mateo" sekali lagi mereka berjabat tangan.
bertolak dari restoran tempat mereka bertemu, Alex menghubungi Akmal yang sedang bersama dengan Utami. Akmal tidak ikut dalam pertemuan itu sebab memang hanya Alex yang diberikan mandat oleh Gandha Sukandar.
[assalamualaikum, kamu dimana Mal...?]
[di hatimu mas...aah]
kening Alex mengkerut tatkala mendengar suara ******* dari sebrang sana.
[hei...kamu tidak sedang melakukan hal yang tidak-tidak kan Mal]
[hal yang tidak-tidak bagaimana, aku sedang menikmati durian ini, rasanya enak banget]
[bikin parno aja kamu ini] Alex terkekeh geli memikirkan apa yang ada di kepalanya saat ini.
[sudah selesai mas pertemuannya...?]
[sudah, sekarang katakan kamu dimana agar aku menyusul kalian]
[nyusul kami gampang mas, tapi sholat dulu sana. kami sedang berada di tempat penjual durian. jalan Rajawali, di pinggir jalan samping warung makan]
[ya sudah, tunggu saja aku di situ]
jam tangan dipergelangan tangannya menunjuk jarum pendek di angka satu dan jarum panjang di angka empat. dengan langkah kaki panjangnya, Alex meninggalkan restoran itu, namun sebelumnya ia sudah menaruh uang merah sepuluh lembar di atas meja sebagai bayaran atas minuman dan makanan yang mereka makan.
"durian di sini enak ya, kamu sering datang ke sini...?" Akmal telah melahap habis duriannya dan sekarang sedang menikmati es buah yang juga kebetulan ada di tempat itu.
"emmm kayaknya aku baru tiga kali datang ke sini" Utami menjawab, dirinya telah menghabiskan semua makanannya.
Akmal manggut-manggut, cuaca begitu terik dan hanya dengan meminum yang terasa dingin dapat menyembuhkan dahaga di leher. Utami terus memperhatikan wajah Akmal yang baginya tampan meskipun masih begitu muda namun aura dewasa dalam diri pemuda itu memancar keluar.
ketika melihat sisa makanan yang ada di bibir pemuda itu, dengan berani Utami mencondongkan tubuhnya ke depan. Akmal kaget hendak memundurkan kepalanya namun Utami malah menahan kerah baju pemuda itu.
"kamu kalau makan seperti anak kecil" Utami melap bibir Akmal dengan jemarinya yang putih dan halus.
begitu dekat mereka saat ini sehingga nafas keduanya pun saling beradu. bukan hanya itu, kedua mata mereka saling tatap. Utami begitu terhipnotis dengan pancaran mata tajam pemuda yang membuatnya ingin sekali untuk memilikinya. senyuman Utami membuat Akmal sejujurnya ia akui kalau wanita itu begitu cantik. bibir indah wanita itu menjadi incaran mata Akmal. melihat Akmal yang tidak menolak dengan kedekatan mereka saat ini, Utami memberanikan diri semakin dekat dan dekat saja. sayangnya minuman yang ada di tangan Akmal tersenggol olehnya sehingga tumpah dan membasahi dada wanita itu.
"ya ampun, aku tidak sengaja mbak" Akmal meminta maaf terlihat menunjukkan wajah khawatir namun sebenarnya ia merasa lega. karena sebenarnya bukan Utami yang tidak sengaja namun karena Akmal yang sengaja menumpahkan minuman itu agar Utami menjauh darinya. jika bukan seperti itu, maka bisa-bisa dirinya khilaf dan melakukan hal yang lebih hanya dari pandangan.
sayangnya perbuatannya itu malah membuat dirinya semakin meneguk ludah. sebab dada Utami yang basah akan minumannya membuat dua bongkahan besar itu tercetak jelas. dengan cepat Akmal memalingkan wajahnya. Utami masih sibuk melap bajunya yang basah.
"tidak apa-apa, nanti juga kering sendiri" Utami kembali duduk di tempatnya. "apa yang kamu lihat di sana...?" Utami menegur Akmal yang kini duduk dalam posisi menyamping.
"aku sedang menghayalkan wanita cantik"
"siapa...?" Utami menutupi dadanya dengan jaket yang ia pakai. Akmal melirik sekilas, merasa telah aman, Akmal duduk dalam posisi seperti semula.
"menurutmu siapa...?" Akmal menatap lekat kedua netra Utami.
ditatap seperti itu membuat Utami berdebar dan salah tingkah. tidak tau saja dirinya kalau sebenarnya Akmal hanya memainkan peran agar dapat lebih dekat dengan wanita itu, membuatnya nyaman dan dengan begitu Utami akan menceritakan apapun kepada Akmal, tentang dirinya dan akan lebih baik lagi jika wanita itu akan menceritakan keberadaan Victor.
"mana aku tau siapa" Utami memalingkan wajah, malu tapi mau.
"aku suka wanita yang malu-malu seperti itu. terlihat lucu dan menggemaskan. apalagi wanita cantik seperti mbak Utami" pasti anak buah bos Gandha, banyak yang suka dengan mbak ya"
"tidak juga, ada juga yang biasa saja melihat diriku" Utami kembali memutar kepala untuk bertatapan dengan Akmal.
"oh ya, siapa...? pasti mata laki-laki itu rabun akut, bisa-bisanya wanita secantik mbak dianggurin. tapi ya, aku yakinlah pasti ada yang suka sama mbak, Arvin atau Victor mungkin, laki-laki yang pernah menjadi tangan kanan bos Gandha" seperti air yang mengalir, Akmal ingin pun cerita mereka mengalir begitu saja.
"Victor" wajah Utami menampakkan ekspresi seakan ada kesedihan yang membungkus hatinya.
"kenapa mbak, aku salah ya menyebut namanya. kok wajah mbak sedih begitu. apakah dia mantan mbak yang meninggalkan pas mbak lagi sayang-sayangnya...?" asal menebak agar cerita tetap berlanjut.
"tidak" Utami menggeleng kepala. "dia laki-laki yang baik, hanya saja hidupnya tidak seberuntung orang lain"
"memangnya apa yang terjadi dengannya, kenapa sampai mbak Utami mengatakan hal seperti itu...?"
"itu memang realitanya"
"terus dia dimana sekarang, aku penasaran loh bagaimana wajahnya. siapa tau kan aku dan mas Alex bisa belajar darinya bagaimana mengetahui karakter bos Gandha yang super dingin dan agak menakutkan tatapannya"
Utami menggeleng dan menghela nafas. ada perasaan sesak dalam dada ketika membicarakan laki-laki itu.
"aku nggak tau dimana dia sekarang. terakhir setelah kejadian mengerikan yang menimpa keluarganya, Victor tidak pernah lagi terlihat dan yang aku dengar dia keluar dari pekerjaannya yang selama ini menghidupi keluarganya"
"kenapa dia keluar padahal gajinya besar sekali. bodohnya orang itu"
"Mal, aku yakin kalian pasti sudah mengetahui apa syarat setelah kamu dan Alex bisa masuk bekerja menggantikan posisi Victor" Utami menatap serius pemuda itu.
Akmal mulai merasa ada yang terjadi dengan Victor sehingga dirinya mengundurkan diri dari pekerjaannya yang hanya dalam waktu sebentar sudah dapat membuat dirinya kaya.
"keluar berati mati, itu maksud mbak Utami...?"
"iya....entah itu benar atau hanya gertakan saja. namun semenjak Victor keluar dari pekerjaannya, dia tidak pernah terlihat lagi dan juga aku yang sering berkomunikasi dengannya, aku sudah tidak bisa menghubungi dirinya. kejadian itu baru dua bulan yang lalu. ada yang mengatakan kalau dirinya dikurung di ruang rahasia dan juga yang mengatakan kalau Victor sudah mati ditangan...."
"di tangan siapa...?"
"kamu pasti tau siapa yang aku maksud"
Akmal melihat kanan dan kiri memastikan apakah ada yang mendengar mereka dan untungnya tidak ada selain hanya penjual durian yang sedang sibuk menonton video di ponselnya menggunakan headset.
awalnya keduanya duduk berhadapan, namun kini Akmal menggeser kursinya aga semakin dekat dengan Utami.
"apa mbak tau dimana ruang rahasia itu...?" pelan, Akmal bertanya.
"kenapa menanyakan hal itu...?" satu alis Utami terangkat.
"yaaa siapa tau kan apa yang dikatakan sebagian orang memang benar kalau Victor dikurung di ruang rahasia itu. kalau kita tau, kita bisa mencoba untuk mencarinya ke sana"
"dan semoga saja ayah mas Fatah ada di sana juga" batin Akmal.
"aku tidak tau kalau soalnya itu, tapi sepertinya Arvin tau dimana tempat itu"
"kenapa wajahmu tiba-tiba cemberut seperti itu...?" Utami heran akan perubahan wajah Akmal yang menampilkan kesan cemberut.
"ah tidak apa-apa, ekspresi wajahku memang seperti ini. itulah makanya banyak wanita yang tidak terpesona denganku" Akmal kembali menggeser kursinya aga sedikit menjauh dari Utami.
"kamu tampan kok, bahkan aku sekarang sudah jatuh hati" Utami malah memegang tangan Akmal sekarang.
"ekhem"
suara deheman seseorang membuat keduanya tersentak. buru-buru Akmal menjauh sementara Utami bersikap biasa saja.
"lama amat mas, sholatnya di negeri bulan kah"
"masih di bumi lah. kalian romantis juga ya berduaan di tempat ini, makan durian lagi"
"kamu mau...?" tanya Utami.
"tidak...aku tidak suka durian" Alex menggeleng.
"lalu tugas kita selanjutnya apa mas...?"
drrrttt....drrrttt
ponsel Alex bergetar, dibalik kantung jas yang ia pakai, dirinya merogoh benda tipis itu.
"bos Gandha"
"angkat saja, siapa tau penting"
[halo bos]
[bagaimana Alex, kamu sudah bertemu dengan pak Mateo...?]
[sudah bos, kami pun sudah setuju untuk melakukan kerjasama seperti yang bos inginkan]
[bagus. kalau begitu sebentar sore kamu dan Akmal temani saya ke pulau bambu]
[baik bos]
[di sana kalian harus melakukan tugas yang tidak boleh kalian bantah. mengerti...?]
[mengerti bos]
[aku suka caramu bekerja Alex. beritahu Utami agar dirinya datang menemuiku di tempat biasa]
[baik bos]
panggilan dimatikan oleh Gandha Sukandar. tatapan Alex kini tertuju kepada Utami yang sejak tadi memperhatikannya.
"bos menyuruhmu untuk menemuinya di tempat biasa" Alex memberitahu Utami
"sekarang...?"
"humm"
"ya sudah, aku pergi dulu"
Utami bergegas meninggalkan mereka. dia tidak meminta Alex ataupun Akmal untuk mengantar dirinya. kedua laki-laki itu hanya menatap datar dan kemudian kembali fokus pada pembicaraan.
"kita akan ke pulau bambu sebentar sore"
"perkebunan ganja milik Gandha Sukandar...?"
"iya, dia meminta kita untuk menemaninya ke sana"
"padahal aku ingin kita mencari cara untuk mendekati Arvin dan menanyakan sesuatu padanya"
"memangnya kamu ingin menanyakan soal apa...?"
"tentang ruang rahasia yang dimiliki oleh Gandha Sukandar. Utami bilang, ada kemungkinan Victor belum mati tapi melainkan di kurung di ruang bawah tanah. dan salah seorang yang tau akan tempat itu adalah Arvin"
"kalau seandainya dia tidak ada di sana bagaimana...?"
"tidak apa, yang penting kita tau dulu dimana tempat itu berada. bisa saja kan ayahnya mas Fatah di kurung di tempat itu. bukankah kiayi Zulkarnain dan kiayi Anshor mengatakan kalau Amsar ayah mas Fatahillah, di kurung di suatu tempat oleh Gandha Sukandar. bisa saja kan tempat pengurungannya ada di ruang rahasia itu"
"memangnya kamu telah diberitahu sejak awal...?"
"sudahlah. hummm pantas saja mas Alex nggak ngeh. soalnya saat itu yang tau semuanya hanya aku, mas Hasan, mas Fatah juga paman Ali. waktu itu kan, mas Aji masih jadi musuhnya mas Fatah kan ya"
"mungkin" Alex mengangkat bahu. "kita akan cari tau itu setelah pulang dari pulau bambu"
"apa perlu kita memberitahu yang lain tentang rencana kita...?" tanya Akmal.
"jangan dulu, soalnya saat ini mereka juga pasti sedang sibuk menangani masalah yang rumit. kita akan beritahu mereka setelah kita menemukan tempat rahasia itu"
"baiklah" Akmal mengikut.
_____
di rumah sakit besar tepatnya di wilayah S, hampir menjelang ashar Fatahillah juga teman-temannya tiba di halaman parkir rumah sakit itu.
seperti yang dikatakan oleh Hasan, mobil mereka telah diganti dengan mobil yang lain dan juga Fatahillah menyembunyikan wajahnya dibalik masker dan topi yang ia kenakan.
Tegar dan Yusrif segera ditangani oleh dokter, sementara mereka bertiga menunggu keduanya di ruang tunggu.
Fatahillah menghubungi seseorang yang membawa Henry juga Hafsah saat berada di wilayah D. orang itu mengatakan, Henry dan Hafsah kini sudah dimasukkan ke dalam penjara bawah tanah.
[bagus, siksa mereka saja asal jangan sampai mati]
[baik bos]
"kita akan ke sana sekarang...?" tanya Hasan.
"nanti saja setelah sholat ashar dan melihat keadaan Tegar juga Yusrif. kalau keduanya harus menginap berarti kita batal ke pulau bambu hari ini. atau mereka berdua tidak usah ikut. bagaimana menurut kalian" Fatahillah meminta pendapat.
"kita tanyakan dulu kepada mereka berdua, ingin tetap ikut atau menunggu kita di sini saja" jawab Aji Wiguna.
"baiklah, sebaiknya memang begitu"
satu jam mereka menunggu, kini mereka dapat melihat dua orang itu. berada dalam ruangan yang sama namun hanya dibatasi tirai saja, mereka terbaring dengan infus di tangan masing-masing.
"kalian tidak usah ikut ke pulau bambu, masih sakit seperti ini juga" ucap Hasan.
"nggak ah, aku tetap mau ikut" Yusrif menolak.
"aku juga" Tegar pun sama.
maka keputusan telah diambil, mereka akan ke pulau bambu besok pagi sebab hari ini Yusrif juga Tegar masih memerlukan istirahat yang cukup. sementara itu Fatahillah bersama Hasan juga Aji Wiguna akan pergi ke suatu tempat. Tegar dan Yusrif mereka biarkan beristirahat di ruang rawat mereka.