Fatahillah

Fatahillah
Bab 78



melihat Langon membawa sesuatu, Fatahillah menghampiri dan mengambil kain putih itu dari mulut harimau putih.


"apa itu mas...?" Akmal bertanya


"kain putih...?" ucap Hasan mengerutkan kening


Fatahillah membuka kain putih yang diikat seperti bungkusan permen. isi di dalamnya adalah jarum yang masing-masing ujungnya berbentuk runcing, beberapa paku yang sudah berkarat serta silet tajam. ada juga sebuah kertas yang bertuliskan nama Zelina Muhatmainnah dengan warna merah yang sudah kering. entah itu adalah darah atau bukan tapi isi bungkusan itu membuat Fatahillah geram dan menggertakkan gigi-giginya.


"astaghfirullah...itu benar-benar ritual untuk menyantet orang" ucap Fauzan. semuanya begitu kaget


"kurang ajar... beraninya mereka mengirimkan santet istriku" begitu marah dan emosi yang kini dirasakan Fatahillah


di tempat lain, dua orang wanita sedang duduk berhadapan dimana penghalang keduanya ada sebuah meja yang diatasnya terdapat dupa yang asapnya mengepul. di atas dupa terdapat foto seorang wanita, foto itu adalah Zelina sementara dua wanita tadi adalah ibu Arum dan Andini. rupanya benar apa yang dikatakan oleh Akmal kalau keduanyalah yang mengirimkan santet kepada Zelina.


begitu fokus keduanya hingga mereka terkejut karena ratusan pocong yang mereka kirim untuk menakuti Zelina untuk membuat Zelina kehilangan kewarasan dan dianggap gila, sayangnya para pocong itu kembali ke tempat mereka.


"kurang ajar, beraninya ada yang melawanku" Andini marah dan menggebrak meja


"kirim mereka kembali. perintahkan para pocong ini untuk menakuti mereka lagi. kirimkan juga pasukan mu yang banyak untuk melawan mereka, lakukan ritualnya sekarang juga Zelina harus kita buat kehilangan kewarasan hingga akhirnya dia gila dan melukai dirinya sendiri kemudian mati" ibu Arum berkata dengan mata yang tajam


"tenang saja bu, mereka hanya manusia bodoh yang tidak tau siapa kita sebenarnya" Andini tersenyum menyeringai


sepertinya keduanya tidak mengetahui siapa yang mereka hadapi. yang mereka tau Zelina dan juga suaminya hanyalah manusia biasa yang dapat mereka singkirkan hanya dalam satu kali tiupan, padahal sebenarnya tidak semudah itu untuk menyingkirkan Fatahillah Malik, murid dari guru Halim yang berada di gunung Gangsir.


"aku akan membalas kematian ayah dan membuat mereka menderita selamanya" Andini mengepalkan tangannya "setelah Zelina mati maka semua miliknya akan menjadi milikku" lanjutnya lagi dengan seringai tipis


Andini memerintahkan pocong-pocong itu untuk kembali ke rumah Zelina, sayangnya para pocong-pocong itu menghilang begitu saja tanpa ia suruh.


"brengsek...siapa yang membantu mereka sampai para pocong itu tidak ingin kembali lagi ke sana" Andini semakin marah


"kirim makhluk peliharaan mu yang lain. biarkan semua orang melihat bukan hanya Zelina saja agar mereka sibuk dengan ketakutan masing-masing tanpa peduli dengan Zelina anak sialan itu" ucap ibu Arum


Andini patuh dan memanggil makhluk gaib lainnya. seketika ruangan itu mulai sesak dan penuh oleh banyaknya makhluk gaib yang berbagai bentuk wajah dan tubuh yang menakutkan. Andini memerintahkan mereka untuk ke rumah Zelina. setelah makhluk-makhluk itu menghilang maka kini ia menutup mata dan merapalkan mantra.


masih tidak percaya dengan apa yang ditemukan oleh Langon, kain putih yang dilipat kecil menaruh tanda tanya untuk mereka semua.


"kamu dapatkan dimana benda ini Langon...?" tanya Fatahillah


Langon berjalan mendekati pot bunga besar yang ada di samping tangga teras rumah, di pot bunga itulah sepertinya benda aneh itu di tanam.


belum juga mereka masuk ke dalam rumah, kini setan-setan kiriman Andini datang lagi. untungnya rumah itu telah diberi pagar gaib sehingga para makhluk mengerikan itu tidak bisa masuk ke dalam rumah.


namun kedatangan mereka membuat para penjaga ketakutan luar biasa. bahkan ada yang berjaga di luar pagar langsung melompati pagar rumah dan lari terbirit-birit ke arah keempat pemuda yang berada di teras rumah.


"ada apa...?" Fauzan bertanya karena sebagian penjaga kini sudah berwajah pucat dan tegang


"ada setan...ada setan" mereka menunjuk ke arah pagar rumah


keempatnya melihat ke arah pagar dan benar saja para makhluk itu sedang berusaha untuk membobol pagar gaib yang dibuat oleh Fatahillah.


"tenang tenang, mereka tidak akan bisa masuk" ucap Fatahillah


"mengerikan sekali, kenapa bisa sampai ada setan sebanyak itu di rumah ini" penjaga satu tidak berani melihat, ia bersembunyi di balik punggung temannya "kalau orang tentu akan aku habisi mereka, tapi kalau setan bagaimana menghabisi mereka. malah mukanya hancur dan menakutkan seperti itu" lanjutnya lagi


"mas takut setan ya, padahal nggak membunuh loh mas hanya menyerang mental seseorang saja" Akmal berkata


"jelas takutlah.. mereka itu setan bukan manusia" yang lain menjawab ngeri


dua orang penjaga ternyata masih berada di dekat pagar. mereka memperhatikan para makhluk itu yang tidak bisa masuk ke dalam. keduanya bersikap biasa seolah hal semacam itu sudah pernah mereka lihat sebelumnya.


Fatahillah mendekat ke arah keduanya dan memerintah mereka untuk mundur.


"kenapa mereka tidak bisa masuk...?" tanya salah satunya


"sudah aku beri pagar gaib. kalian percaya atau tidak itu terserah" jawab Fatahillah karena bisa saja keduanya tidak akan percaya begitu saja


"rupanya benar kalau pagar gaib itu memang ada. tapi....siapa yang mengirim mereka ke sini, bahkan jumlah mereka ratusan" yang satunya fokus tetap melihat ke depan


"bergabunglah bersama yang lain" ucap Fatahillah dan keduanya mengangguk


sementara itu Fatahillah memanggil ketiga temannya, ketiganya berlari cepat dan berdiri di samping Fatahillah.


"apa yang kamu akan lakukan Fatah...?" tanya Hasan


"aku ingin menggunakan sedikit energi dari mustika merah. kalian tolong bantu aku" jawab Fatahillah


"jangan Fatah, kamu bisa terluka lagi" Hasan menggeleng, ia tidak ingin Fatahillah merasakan sakit lagi


"hanya dengan itu mereka akan musnah terbakar. setelah sisanya barulah kita habisi mereka, untuk sekarang mereka terlalu banyak"


"jadi kami harus bantu kamu bagaimana...?" tanya Fauzan


"San bukankah kamu bisa mengendalikan air saat dulu kita melawan bola api yang menyerang di rumah Akmal dulu"


"jadi maksud mu aku akan membuat tameng untukmu agar kamu tidak kepanasan...?"


"panas itu pasti dapat aku rasakan tapi setidaknya mungkin dengan kekuatanmu aku tidak merasakan panasnya energi mustika merah yang seperti membuatku terbakar"


"kamu yakin Fatah...? kemarin saja kamu bahkan muntah darah dan lemas" Fauzan seakan enggan untuk setuju


"makanya itu aku membutuhkan kalian semua"


"nggak, aku nggak setuju. lebih baik kita hancurkan kain putih itu dengan begitu santet yang dikirim kita kembalikan kepada yang mengirim dengan begitu makhluk-makhluk itu akan lenyap dengan sendirinya karena tuan mereka kita serang" Akmal tidak setuju dengan usulan yang diberikan oleh Fatahillah


"justru dengan energi mustika merah maka santet itu akan terhalang dan tidak masuk ke dalam. bantu aku, aku akan bersiap sekarang" ucap Fatahillah


Hasan menyuruh seorang penjaga untuk memutar kran air yang ada di dekat rumah biasa digunakan untuk menyiram bunga-bunga yang ada di halaman rumah. Akmal mengeluarkan pedangnya karena pedang itulah yang memiliki kemampuan. mereka kini duduk di samping kanan kiri dan belakang Fatahillah. satu ember penuh yang berisi air sudah berada di dekat Hasan.


keempatnya duduk bersila, Fatahillah menutup mata berniat untuk mengeluarkan mustika merah dalam tubuhnya sementara yang lain masih tetap diam belum melakukan apapun. setelah mustika itu keluar, barulah Fatahillah memberikan mereka aba-aba untuk menyalurkan energi mereka di dalam tubuhnya. sementara dirinya sendiri menggunakan energi mustika merah untuk melapisi pagar gaib yang ia buat.


Akmal menyalurkan energi pedangnya, Fauzan menaruh telapak tangan di punggung Fatahillah sementara Hasan mengendalikan air yang ada di dalam ember. air itu bergelombang kemudian melayang membentuk seperti balon yang besar, setelahnya air itu berbentuk panjang dan meliuk seperti ular, mengelilingi seluruh tubuh Fatahillah dimana energi mustika merah mulai menyiksa dirinya.


energi mustika merah bersatu dengan pagar gaib yang dibuat oleh Fatahillah sehingga kini setiap makhluk gaib yang menyentuh pagar gaib itu maka akan hangus terbakar


genderuwo dan banyak lagi macam makhluk lainnya, hanya bisa sampai di depan pagar dan tidak bisa masuk ke dalam. sebagian yang memaksa masuk sudah lenyap hangus terbakar dan menghilang seperti buih sementara yang masih tersisa tidak berani lagi untuk memaksa masuk. karena sudah pasti mereka akan terbakar dan lenyap.


"aaaggghh"


satu persatu dari mereka kesakitan dan terbaring di tanah. kesaktian mustika merah memang tidak dapat ditandingi. bahkan mereka yang hanya ingin melindungi Fatahillah dari energi mustika itu, ketiganya rupanya terkena efek dari energi tersebut karena kekuatan mereka bertemu langsung dengan energi mustika itu.


"panas...panas" Akmal mengeluh kepanasan dan meniup telapak tangannya


Hasan dan Fauzan merendam kedua tangan mereka di dalam ember yang berisi air sementara Fatahillah terkapar di tanah dengan luka bakar di dadanya dan juga kembali ia muntah darah seperti sebelumnya.


"Fatah, kamu baik-baik saja...?" Fauzan membantu Fatahillah untuk bangun


"astaga kamu terluka lagi padahal kami sudah berusaha melindungmu tadi" Hasan sudah dapat menduga apa yang akan terjadi


"berarti kekuatan yang kita salurkan kepada tubuh mas Fatah tadi tidak membantu sama sekali. luar biasa sekali mustika merah ini" Akmal menatap mustika merah yang masih melayang-layang


Fatahillah menarik kembali mustika itu untuk masuk ke dalam tubuhnya. kini tubuhnya begitu panas dan sakit.


"apa yang harus kita lakukan sekarang, mas Fatah bisa mati kalau begini" Akmal panik karena luka bakar Fatahillah bukan hanya di bagian dadanya namun juga di telapak tangannya dan menjalar sampai ke pergelangan tangan


para penjaga melongo tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. baru kali ini mereka melihat hal yang begitu menakjubkan selama mereka hidup.


"kembalilah berjaga, tenang saja mereka tidak akan bisa masuk" perintah Fauzan


"baik" mereka semua menjawab


mereka melihat Arjuna sedang menuruni anak tangga, Hasan memanggil remaja itu.


"astaga...apa yang terjadi dengan mas Fatah...?" Arjuna mendekati Fatahillah


"bagaimana dengan mbak mu Arjun...?" Fatahillah malah menanyakan keadaan istrinya


"mbak Zelina sekarang ngamuk mas, cepatlah lihat, sebab mbak Zelina membenturkan kepalanya ke dinding"


mendengar hal itu, Fatahillah bangkit dan berlari ke arah lantai dua. yang lainnya ikut mengejar dan tibalah mereka semua di kamar. Zelina meringkuk di sudut kamar menjambak rambutnya sebab hijab dan cadarnya ia lepas. ia teriak kesakitan dan terus membenturkan kepalanya ke dinding.


"Fatah tolong Zelina nak, kasian dia" ibu khadijah sudah berkaca-kaca melihat menantunya


karena Zelina yang tidak memakai hijab dan cadarnya, para laki-laki terpaksa berada di luar. hanya Fatahillah bersama para perempuan yang tetap berada di dalam kamar.


"tasbihnya kemana...?" tanya Fatahillah. ia menanyakan tasbih miliknya karena Zelina akan aman jika benda itu melingkar di leher istrinya


"aku buka mas, ada di atas nakas" Najwa menjawab


"kenapa dibuka, justru dengan tasbih ini dia akan aman dari santet kiriman" suara Fatahillah meninggi membuat Najwa menunduk takut


Fatahillah keluar kamar dan memberikan bungkusan kain putih kepada tiga lelaki yang berada di luar. ia menyuruh mereka untuk membakar benda itu. setelahnya ia masuk kembali dan mengambil tasbihnya.


"sakiiiit.... sakiiiit" Zelina terus teriak kesakitan


"sabar sebentar sayang... sebentar saja" dengan mata yang berkaca-kaca Fatahillah mengambil tasbihnya


Fatahillah mengobati lukanya seperti biasa menggunakan tasbihnya. luka bakar yang ada di dada dan tangannya berangsur hilang dan sembuh.


"masya Allah, tasbih mas Fatah ajaib sekali" Zulaikha takjub


"keluarlah, Zelina biar aku yang tangani" Fatahillah mendekat


"selamatkan dia nak...kasian menantu ibu" ibu Khadijah tidak kuasa melihat Zelina menderita


"doakan Fatah di luar bu" Fatahillah mencium tangan ibu Khadijah dengan lembut


"hati-hati Fatah, kadang dia menyerang untuk menyakiti" ibu Fatimah mengingatkan


"iya bi, insya Allah Fatah sanggup dan akan hati-hati" jawab Fatahillah


meski berat hati namun mereka semua keluar juga dan saat itu juga Fatahillah mengunci kamar itu. ia mendekati Zelina, di lantai sudah ada bercak darah istrinya.


"sayang" Fatahillah memegang bahu istrinya


Zelina menoleh, tatapannya menjadi buas dan tajam. ia mencakar lengan Fatahillah hingga terluka. Fatahillah diam tidak membalas namun ia dengan gesit memakaikan tasbihnya di leher istrinya. Zelina berangsur lemah dan jatuh dipelukan Fatahillah.


Fatahillah membawa Zelina ke atas ranjang. sungguh menyedihkan keadaan istrinya sekarang ini. banyak luka di bagian dadanya dan juga dipergelangan tangannya seperti diiris-iris oleh pisau tajam.


"sakit mas...kepalaku sakit seperti ditusuk jarum, dadaku sesak dan sakit seperti di tusuk paku, seluruh tubuhku sakit seperti di iris-iris silet yang tajam. aku nggak kuat mas" air mata Zelina tumpah


Fatahillah memeluk istrinya, ia ikut menumpahkan air mata melihat penderitaan istrinya.


"aku akan membuatmu sembuh sayang, dengan izin Allah kamu akan sembuh" Fatahillah mencium pucuk kepala Zelina


"Andini" ucap Zelina lemah


"Andini...?" Fatahillah mengulang


"aku bertemu Andini dalam mimpi, dia...dia berubah menjadi wanita yang mengerikan mas"


(kurang ajar, jadi kamu yang melakukan semua ini. lihat saja apa yang akan terjadi padamu) begitu geram Fatahillah


di depan pintu kamar, Akmal memberitahu kalau kain putih itu telah mereka bakar. maka setelah itu Fatahillah mengambil kembali tasbihnya dari leher Zelina. Zelina tidak lagi memberontak namun kembali ia merasakan sakit kepala yang luar biasa.


Fatahillah menyimpan tasbihnya di dalam gelas berisi air minum. ia membacakan doa dan sholawat setelah itu memaksa Zelina untuk meminum habis air itu. Zelina dengan tangan gemetar meneguk habis minumannya. hanya berselang beberapa detik, Zelina memuntahkan hal yang mengerikan. dari muntahnya itu keluarlah paku yang telah berkarat, jarum yang masing-masing ujungnya tajam dan juga silet tajam.


kembali Fatahillah memberikan minum kepada Zelina. Zelina kembali lagi muntah hingga tubuhnya benar-benar lemas dan terbaring.


"Alhamdulillah... semuanya telah keluar" ucap Fatahillah penuh syukur


Fatahillah memakaikan hijab dan cadar istrinya kemudian membuka pintu. semua orang berbondong-bondong masuk ke dalam untuk melihat keadaan Zelina. sementara para laki-laki, Fatahillah mengajak mereka turun ke bawah. hanya Arjuna yang masih berada di dalam kamar itu.


"Andini, semua ini adalah perbuatan Andini" ucap Fatahillah


"nah kan, sudah aku duga pasti dua nenek lampir itu biang keroknya" ucap Akmal


mereka mendengar suara mobil di luar. tidak lama suara kaki melangkah terdengar semakin dekat hingga sebuah suara keluar.


"kenapa di luar bau gosong, apakah ada yang terbakar...?" Afkar yang baru saja pulang ikut duduk bersama mereka


"mas Afkar baru pulang jam segini....?" Akmal melihat ke arah jam, sudah pukul 3 dini hari


"iya, aku ikut merayakan pesta ulang tahun teman. kalian kenapa ada di sini...?" tanya Afkar menatap mereka satu persatu "oh iya tadi di luar bau gosong, memangnya ada yang terbakar ya...?"


"Zelina di kirimkan guna-guna Af"


"astaghfirullah...jangan bercanda mas" Afkar menatap Fauzan, tidak suka dengan ucapan pemuda itu


"kami nggak bercanda, apa kami sekarang terlihat bercanda" Fauzan kesal


"lalu bagaimana dengan mbak Zelina, dia baik-baik saja kan...?" Afkar melihat Fatahillah


"dia sudah tenang, sekarang sedang istirahat" jawab Fatahillah


"terus siapa orang yang mengirimkan hal semacam itu, kurang ajar sekali dia" Afkar tersulut emosi dan mengepalkan tangan


"Andini" jawab Fatahillah


"mbak Andini...?" tanya Afkar dan Fatahillah mengangguk


"kurang ajar, dua manusia iblis itu benar-benar dibutakan oleh harta sampai bermain dengan hal semacam itu" Afkar menggebrak meja, Akmal kaget dan refleks memukul bahu Afkar


"hampir copot jantungku mas" Akmal menggerutu


"maaf Mal, tapi kali ini keduanya benar-benar sudah keterlaluan" Afkar menahan amarah "bagaimana kalau kita balas mengerjai mereka supaya kapok dan tidak mengusik mbak Zelina lagi. kasian mbak Zelina, sejak dulu semua yang ia miliki diincar oleh mereka. benar-benar manusia tidak punya hati"


"tenang Af, mereka akan mendapat balasannya" Fatahillah tersenyum penuh arti


di rumah Andini sudah hancur porak-poranda. Langon mengamuk di dalam rumahnya membuat kedua wanita itu gemetar ketakutan dan bersembunyi di dalam kamar. sayangnya Langon tetap bisa menemukan mereka.


GRAAARR


suara Langon menggema di dalam rumah. ia mendekati keduanya yang ketakutan di sudut kamar dan saling berpelukan.


GRAAARR


"jangan bunuh kami... ampun jangan bunuh kami" ibu Arum menangis


Langon memberikan sebuah kertas kepada mereka. keduanya membaca tulisan yang ada di kertas itu. isinya adalah sebuah peringatan untuk tidak mengganggu kehidupan Zelina lagi, jika tidak maka keduanya akan diterkam oleh harimau putih itu.


"iya...iya kami janji...kami janji tidak akan menggangu Zelina lagi" dengan suara gemetar Andini bersuara


serangan yang ia kirimkan untuk Zelina berbalik kepadanya. tubuhnya merasakan sakit yang luar biasa


GRAAARR


Langon menatap tajam Andini seakan memberitahu bahwa jika mereka ingkar janji maka tamat sudah riwayat mereka. setelah itu Langon menghilang dari tempat itu. kepergian Langon membuat Andini mengamuk dan histeris. apa yang dirasakan oleh Zelina tadi kini berbalik ke padanya. ibu Arum kalang kabut dan terpaksa menghubungi dukun kenalannya untuk datang mengobati Andini yang bahkan sudah hendak melukai dirinya sendiri.