
malam ini adalah malam pertama bagi pengantin baru. saat ini Maryam baru saja melaksanakan sholat magrib di rumah sementara Ali berangkat ke masjid bersama kiyai Anshor dan kiayi Zulkarnain.
Maryam membuka mukenah yang ia kenakan. di dalam rumah kemudian memakai hijab dan cadarnya. sebenarnya jika di dalam rumah baik Naila maupun Maryam, keduanya hanya menggunakan hijab biasa tanpa cadar. tapi karena ada Ali, ia pun harus tetap memakai cadarnya. meskipun sekarang ustad itu adalah suaminya, tetap saja dirinya masih merasa malu untuk memperlihatkan wajahnya.
Maryam keluar kamar, di saat itu ia berpapasan dengan Naila yang juga baru saja keluar kamar.
"kai Nai" Maryam memanggil dan menahan lengan Naila
"ada apa...?" Naila menoleh
"boleh kita bicara sebentar. semenjak kemarin kak Naila selalu menghindari aku"
Naila menghela nafas "kalau kamu mau bicara tentang mas Ali" Naila segera menghentikan ucapannya saat menyadari sesuatu "maksudku...kalau kamu mau berbicara tentang ustad Ali, maka tidak perlu ada yang dibicarakan tentang dia Mar. dia suamimu sekarang, itu kenyataan yang harus aku dan kamu terima"
"tapi aku telah merebut mas Ali dari kakak, apakah kakak tidak marah padaku...?"
"aku lapar Mar, dan tidak seharusnya kamu membicarakan suamimu kepada wanita lain meski itu adalah saudaramu sendiri. terima ustad Ali karena dia sendiri yang memilih kamu untuk menikahimu" Naila melepaskan tangan Maryam dari lengannya dan melangkah namun lagi Maryam menghentikan langkahnya
"maafkan aku kak...maaf"
keduanya diam tanpa suara. Maryam menunduk dalam sementara Naila berusaha menekan sesak di dalam dada.
"malam ini adalah malam pertama Kalian Mar, jangan membuat suamimu kecewa dengan sikapmu yang seperti sekarang ini. kamu seakan menyesal telah menikah dengannya padahal kamu tau, suamimu memilih kamu dan menyelamatkan pesantren ini. apakah kamu tau imbasnya jikalau ustad Ali tidak menikahimu...?" Naila balik badan dan melihat Maryam dengan mata tajam "kamu akan dicap sebagai wanita tidak benar dimata masyarakat luar sana dan nama baik pesantren akan rusak. apakah itu yang kamu inginkan...?"
Maryam menggeleng lemah, air matanya mulai jatuh membasahi wajahnya.
"terima suamimu dengan ikhlas karena diapun menikahimu dengan ikhlas pula. jangan pikirkan bagaimana nasibku karena yang menentukan takdirku bukanlah dirimu" Naila berbalik dan meninggalkan Maryam yang kembali menangis
dimeja makan makanan telah dihidangkan. kiayi Anshor, kiayi Zulkarnain dan Ali baru saja pulang dari masjid dan langsung ke meja makan. Ali duduk di dekat kiayi Zulkarnain namun ibu mertuanya menyuruhnya agar dirinya duduk di samping Maryam.
"saya di sini saja umi" ucap Ali
"kamu harusnya di dekat istrimu Ali, sana pindah" timpal umi Zainab
Ali pun patuh dan beranjak mengambil tempat di samping kiri Maryam sedang Naila berada di samping kanannya.
"aku ambilkan ya mas" ucap Maryam
"boleh" Ali mengangguk
Maryam mengambil piring dan menyendok nasi. "mau lauk apa mas...?" udang mau...?"
"aku alergi udang" Ali menjawab
"oh maaf" Maryam merukuti dirinya sendiri, bagaimana ia bisa lupa kalau suaminya itu alergi udang sebab Naila pernah memberitahunya "jadi mas mau yang mana...?"
"itu saja dan sayur asem"
Maryam mengambil cumi saus dan menyimpannya kedalam piring, setelahnya ia juga mengambil sayur kemudian meletakkan piring itu di depan Ali.
"terimakasih" ucap Ali
umi Zainab tersenyum, ternyata Maryam tau bagaimana caranya melayani suami di meja makan. mungkin putrinya itu belajar darinya saat ia melayani kiayi Anshor.
"besok saya akan kembali ke gunung Sangiran" kiayi Zulkarnain membuka percakapan
"secepat itu bang...? tanya kiayi Anshor
"masih banyak yang menungguku di sana, apalagi Hanum sudah sembuh. jadi saya harus kembali ke sana"
"aku ikut ya paman" Naila yang sejak tadi diam, akhirnya membuka suara
kiyai Anshor saling tatap dengan istrinya kemudian mereka beralih menatap Naila. Maryam yang sedang makan pun menghentikan suapannya. sementara Ali diam tidak bersuara.
"kamu kan dibutuhkan di sini nak, gunung Sangiran itu jauh" ucap umi Zainab
"di sini kan ada Maryam umi, lagipula memang sejak dulu aku ingin sekali kesana. bertemu dengan anak-anak kecil, mengajari mereka berbagai hal. aku ingin merasakan suasana di pedesaan di bawah kaki gunung Sangiran yang katanya asri dan indah" Naila menjawab lembut
"kakak ingin pergi meninggalkan aku...?" Maryam menoleh
selama ini mereka berdua memang tidak terpisahkan. kemana Naila pergi maka Maryam akan ikut. hal itu sudah sejak kecil seperti itu.
"cengeng sekali kamu ini" Naila tersenyum sementara Maryam sudah berkaca-kaca "kamu sudah punya suami Mar, masa harus ngintilin aku terus, kasian ustad Ali"
"tapi kak..."
"Mar" Naila menatap penuh sayang kepada saudarinya itu "zaman sudah canggih sekarang, kita bisa video call atau saling telpon. jangan cengeng begini kenapa sih, nggak malu apa sama suami kamu" Naila menghapus air mata Maryam
Ali diam menunduk kepala, dirinya tidak tau apa yang harus ia lakukan sekarang.
"kamu yakin mau ikut pamanmu nak...?" tanya kiayi Anshor
"yakin Abah. aku boleh ya ikut paman Zul, insya Allah dibawah pengawasannya aku akan baik-baik saja"
"bagaimana umi...?" kiayi Anshor meminta pendapat istrinya
"umi sebenarnya berat, tapi kalau Naila ingin ke sana umi akan izinkan. asal jangan lupa terus mengabari umi ya nak"
Naila senang dan mengangguk cepat. ia mengulurkan tangannya dan memegang tangan ibunya.
"aku akan selalu mengabari kalian semua" Naila tersenyum
"kalau begitu siapkan barang-barang mu karena subuh nanti kita sudah harus berangkat" ucap kiayi Zulkarnain
"baik paman" jawab Naila
makan malam telah selesai, bunyi azan isya berkumandang. dua kiayi di rumah itu dan menantu mereka sudah ke masjid untuk sholat isya sementara para perempuan sholat di rumah. Maryam melepas mukenahnya dan bergegas keluar kamar, ia berdiri di depan kamar Naila dan mengetuk pintu.
"boleh aku masuk kak...?"
"masuk saja Mar"
Maryam menekan handle pintu dan membukanya. di dalam kamar Naila sedang menyiapkan keperluannya untuk ia bawa ke gunung Sangiran.
"ada apa Mar...?" Naila melihat sekilas kemudian kembali memasukkan pakaiannya ke dalam koper
"kak Nai benar-benar akan pergi...?"
"kita kan sudah membahasnya tadi Mar"
"apa karena aku dan mas Ali...?"
Naila menghentikan pengepakan barang dan menghela nafas panjang.
"sini" Naila menepuk kasur di sampingnya meminta Maryam untuk duduk di dekatnya
Maryam naik ke atas ranjang dan duduk di samping kakaknya itu. Naila mengambil tangan adiknya dan menyimpannya di atas pahanya sendiri.
"bukannya pernah aku ceritakan padamu kalau aku ingin sekali pergi ke sana suatu saat nanti dan hari ini adalah hari yang tepat. bukan karena kamu ataupun ustad Ali tapi karena memang keinginanku sejak dulu. jadi buang semua pikiran tentang itu karena sekarang aku akan menjalani hidupku dan memulai lembaran baru. siapa tau kan di sana aku bertemu dengan jodohku, kata paman dia mempunyai pengajar laki-laki yang masih muda" dengan santai Naila berbicara
"kakak bukan pergi karena menghindari aku dan mas Ali kan...?" Maryam memperjelas
"nggak Mar, aku sudah ikhlas. jadi jangan berpikiran yang tidak-tidak lagi, lebih baik sekali siapkan dirimu karena malam ini kan malam.... pertama kalian" Naila mengedipkan mata
"kak Nai, apaan sih" Maryam manyun dan memukul paha Naila, ia merasa malu jika membahas tentang malam pertama
"berikan haknya suamimu Mar, ingat pesan umi...jangan jadi istri yang durhaka kepada suami. kamu nggak mau kan suamimu melihat bunga di luar rumah sebab bunga mekar di dalam kamarnya sendiri tidak bisa ia sentuh"
"aku takut kak"
"kamu takut sama ustad Ali...?"
Maryam mengganguk pelan, hal itu membuat Naila terkekeh pelan.
"tidak perlu takut, bagaimana pun itu adalah kewajiban mu. sudah sana kembali ke kamar, masa suami pulang kamu malah di sini. sana sana" Naila mendorong Maryam agar turun dari ranjang
"kalau kakak berangkat subuh nanti, jangan lupa bangunkan aku ya kak"
"iya, aku tau kamu akan nangis kejer kalau tidak berpamitan"
"aku mau pergi ke rumah lama mengambil barang-barangku" ucap Ali saat keduanya telah berada di dalam kamar
"perlu aku bantu mas...?"
"tidak perlu, aku bisa sendiri. sebaiknya kamu istrahat saja dan tidurlah"
"mas Ali akan tidur di sana...?" pertanyaan Maryam membuat langkah Ali terhenti saat akan masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian
"kalau kamu tidak nyaman tidur sekamar denganku, aku bisa tidur disana. setelah semua orang tidur aku akan ke sana dan akan kembali jika waktu subuh menjelang"
"bukan begitu maksudku mas. aku hanya bertanya saja. pergilah, aku menunggu mas pulang" Maryam menggigit bibir setelah mengatakan itu
Ali terbengong-bengong di tempatnya, apa dirinya tidak salah dengar, itulah yang ia pikirkan sekarang.
"tidak perlu menungguku, kalau kamu mengantuk maka tidurlah duluan" Ali segera masuk ke kamar mandi
Maryam mendesah berat, ia menghembuskan nafas beberapa kali. sepertinya akan berat untuk mengambil hati suaminya. dirinya telah bertekad untuk menerima pernikahan mereka dengan lapang dada dan tentunya menerima Ali menjadi suaminya. namun melihat sikap acuh suaminya, Maryam semakin diperah kelesah.
"apa mas Ali masih belum menerima aku ya" gumamnya lirih
Ali keluar kamar dan menggantung pakaian sholatnya. ia kembali berpamitan akan ke tempat tinggal pak Umar namun Maryam menahan langkahnya saat itu.
"aku ikut mas, aku ingin bertemu Hanum"
"ya sudah kalau begitu" Ali mengangguk
keduanya keluar rumah berjalan kaki ke tempat tinggal Ali yang dulu. beberapa santri terlihat di depan kamar mereka sedang duduk bercerita dan ada juga yang membaca bukunya. keduanya berjalan beriringan sampai di depan rumah.
sayangnya Hanum telah tidur lebih dulu maka dari itu Maryam tidak bisa bertemu dengannya. Ali hanya mengambil barang-barangnya dan mereka kembali lagi ke rumah kiayi Anshor. di dalam kamar mereka, Maryam menyusun pakaian suaminya di lemari miliknya. Ali sudah di atas tempat tidur, bersandar di kepala ranjang.
dengan perasaan gugup, Maryam sedang memikirkan apakah harus membuka cadarnya atau tidak. ia duduk termenung di meja riasnya.
(dia sudah menjadi suamimu Mar...maka semua yang kamu miliki sekarang adalah miliknya) batinnya
Maryam dengan pelan membuka cadarnya, setelahnya ia kembali membuka hijabnya hingga rambut panjang yang lurus sampai pinggang, terurai dengan indahnya. ia memakai crim malam di wajahnya setelahnya masuk ke dalam kamar mandi dan mengganti pakaiannya dengan baju tidur.
saat keluar, Ali melirik sekilas namun kemudian ia kembali menatap istrinya yang sedang berjalan ke arahnya dengan senyuman manis, tanpa cadar dan hijabnya.
"masya Allah" tanpa sadar Ali memuji kecantikan istirnya, bahkan ponsel yang ada di tangannya ia jatuhkan ke kasur
"kenapa mas...? aku jelek ya...?" Maryam sudah berada di dekat ranjang, berdiri di sana
"bukan...bukan begitu" Ali menjadi semakin canggung sekarang, ia memalingkan wajah agar tidak melihat lengkuk tubuh istrinya yang memang saat ini Maryam memakai pakaian tidur yang tipis
melihat Ali memalingkan wajah, Maryam beranggapan bahwa suaminya itu tidak tertarik padanya. padahal ia sudah menekan rasa malunya untuk mendekati suaminya, teringat dengan pesan ibunya bagaimanapun Ali sekarang menjadi suaminya dan ia harus melayaninya dengan baik. sayangnya saat ini Ali malah memalingkan wajahnya, hal itu membuat Maryam semakin malu kepada dirinya sendiri.
"apakah aku tidak menarik mas sampai kamu memalingkan wajah...?"
pertanyaan itu seketika membuat Ali merasa bersalah kepada istrinya. harusnya ia tidak melakukan itu, harusnya ia menyambut istirnya dengan hangat bukan malah seakan tidak ingin istrinya berada di dekatnya.
Ali kembali memutar kepala, ia melihat Maryam mulai nampak berkaca-kaca. wajahnya yang putih nampak merah menahan tangis.
"astaghfirullah, maafkan aku... maafkan aku"
Ali buru-buru mendekati istrinya dan menariknya ke dalam pelukan. saat itu juga tangis Maryam pecah begitu saja. Ali semakin merasa bersalah, apalagi tangis istrinya semakin kencang.
"jangan menangis, nanti kalau yang lain dengar mereka bisa menganggap aku menyakitimu" Ali mengusap lembut punggung Maryam
"kamu jahat mas" ucapnya dengan terbata
"iya aku minta maaf, aku salah...maafkan aku. berhentilah menangis"
"kamu jahat mas...aku malu"
Ali melerai pelukan dan menghapus air mata Maryam yang terus saja mengalir. jika dilihat dari dekat, istrinya itu begitu cantik...wajah cantiknya tertutup cadar selama ini dan ia tidak pernah membayangkan bagaimana wajah Maryam. namun sekarang ia dapat melihat bagaimana kini wajah istrinya.
"jangan menangis, nanti cantiknya hilang" bujuk Ali dengan lembut
"aku tidak mau tidur dengan mas Ali" Maryam yang terlanjur malu hendak membalikkan badan dan menjauh namun Ali segera memeluknya dari belakang
deg...
deg...
deg...
jantung keduanya berpacu begitu cepat, Maryam mulai merinding saat Ali memeluknya seperti itu. sementara Ali sendiri, ia pun semakin berdebar-debar apalagi mencium harum aroma tubuh istrinya.
Ali membalikkan tubuh Maryam. kini keduanya saling beradu tatap. Maryam tidak sanggup menatap manik mata suaminya yang menurutnya membuatnya terpesona. baru kali ini dirinya melihat dengan jelas wajah suaminya yang rupanya mempunyai wajah yang tampan. ia menundukkan kepala namun rupanya Ali segera memegang dagunya dan mengangkat wajahnya.
"Maryam" panggil Ali dengan lirih
"iya mas"
"bolehkah..."
"bukankah aku milikmu sekarang mas, jadi mas bisa melakukan apapun padaku, aku milikmu malam ini mas"
Ali menggeleng pelan kemudian mundur perlahan.
"aku tidak ingin melakukannya karena kamu terpaksa Maryam, terpaksa melayaniku karena desakkan dari umi dan juga Abah. maaf, aku tidak bisa melakukan itu jika bukan karena kemauanmu sendiri" Ali hendak meninggalkan kamar namun ucapan yang dilontarkan Maryam membuat langkahnya terhenti
"aku sudah memikirkan itu sejak seharian dan mulai menerima semuanya. aku mulai menerima mas sebagai suamiku. apa mas tidak bisa melakukannya karena mas masih mencintai kak Naila...?" suara Maryam bergetar "aku mulai menerimamu mas, sampai harus membuang malu berpakaian seperti ini, tidak bisakah kamu melupakan kak Naila dan menerima aku" lanjut Maryam dengan linangan air mata
Ali meraup wajahnya dengan kasar, berkali-kali dirinya menarik nafas panjang. ia pun membalikkan badan dan melangkah mendekati Maryam. ia tarik kembali istrinya ke dalam pelukannya. berulang kali mencium pucuk kepala Maryam dan meminta maaf.
"kita tidur saja ya, masih banyak malam lainnya untuk melakukan ibadah panjang kita. bukannya aku tidak mau malam ini tapi suasana hati kita berdua sedang tidak baik" Ali berucap dengan lembut
"mas sudah menerimaku...?" Maryam mendongak untuk melihat wajah suaminya
"sejak mengucapkan janji suci dihadapan kedua orang tuamu dan tentunya disaksikan sang pencipta dan para malaikat, mulai saat itu aku sudah membuka pintu hati untuk menerimamu. takdir kita telah ditentukan Allah untuk bersama jadi mana mungkin aku harus menolak lagi. jangan berpikir yang bukan-bukan lagi, sebaiknya kita tidur"
"mas akan berusaha melupakan kak Naila dan belajar mencintaiku kan karena saat ini aku pun akan belajar mencintai mas"
"tidak seharusnya aku memikirkan wanita lain sementara aku sudah mempunyai istri. oke aku jujur kalau tidak semudah itu menghilangkan perasaan sayang kepada orang yang kita sayang. kamu tau kisah percintaan ku sebelum aku bertemu Naila. perasaan itu pasti masih ada, tapi bukankah kita akan belajar untuk saling menerima. maka perlahan lambat-laun semuanya akan berganti menjadi kisah kita berdua. kamu mau kan berusaha untuk mengganti nama wanita yang aku sayang menjadi namamu di sini" Ali menunjuk dadanya
"aku mau mas, aku akan pastikan kedepannya hanya ada namaku di sini" Maryam memegang dada suaminya
Ali tersenyum dan kembali memeluk Maryam. "kita tidur ya"
Maryam mengangguk patuh, mereka berdua naik ke atas tempat tidur dan berbaring di sana. Ali menarik Maryam, menjadikan lengannya sebagai bantal untuk sang istri. kendatipun dirinya masih kaku dak gugup namun ia harus membiasakan itu. bukankah mereka sudah saling sepakat untuk saling menerima, maka dari itu dirinya memberanikan diri merengkuh istrinya dalam pelukannya lagi.
"selamat malam"
cup
satu kecupan mesra mendarat di kening Maryam.
"selamat malam mas" Maryam tersenyum kemudian menutup mata. Ali pun ikut menutup mata dan keduanya sama-sama terlelap
di kota X, kini Fatahillah telah berada di halaman belakang rumah, tempat anak didik pak Danang latihan beladiri jika sore hari maupun pagi hari. di sebuah batu yang berada di bawah pohon, Fatahillah duduk di atasnya.
Haninayah pun duduk di depan Fatahillah. wanita itu akan mengeluarkan mustika putih dalam tubuhnya. semua orang sedang berjaga tidak jauh dari mereka.
Haninayah menutup mata, bibirnya bergerak membaca mantra dan tentunya tidak dapat dilihat oleh Fatahillah sebab terhalang kain cadarnya.
tidak berapa lama, tubuh Haninayah mengeluarkan sinar putih. mustika putih keluar dari tubuh Haninayah dan mengelilingi wanita itu. setelahnya Fatahillah mengeluarkan mustika merah. setelah mustika merah keluar dari tubuh Fatahillah, mustika putih melayang mendekati Fatahillah dan mengelilinginya kemudian dengan cepat masuk ke dalam tubuhnya. mustika putih telah memilih tuannya sebab Haninayah telah memutuskan mantra kepemilikan dirinya untuk mustika putih.
hal pertama yang Fatahillah rasakan adalah dingin, di dalam tubuhnya begitu dingin, seperti dirinya berada di dekat air terjun dimana airnya yang jernih dan dirinya berada di dalam air itu.
Haninayah bangkit dan meninggalkan Fatahillah, kini Fatahillah akan melakukan penyatuan energi. kedua matanya tertutup rapat. mustika putih mengeluarkan sinar putih yang menyilaukan mata, kemudian perlahan cahayanya berkurang dan menyelimuti tubuh Fatahillah.
"apakah mas Fatah akan baik-baik saja mas...?"
"semoga saja" jawab Hasan, dirinya sebenarnya khawatir
Fatahillah menjulurkan telapak tangannya ke arah mustika merah. ia menyerap energi mustika merah, masuk ke dalam telapak tangannya dan masuk ke dalam tubuhnya. karena mustika putih, ia tidak merasakan apapun lagi seperti sebelumnya. kini penyatuan energi itu sedang berproses, semua orang memperhatikannya dari jauh.