
di rumah kediaman pak Imam dan ibu Fatimah, sejak sore kejadian tadi yang menimpa laki-laki baya itu, kini sudah terasa sepi. para tetangga yang datang melayat sudah pulang ke rumah mereka masing-masing. hanya tersisa orang di dalam rumah saja dan keluarga dari pak Imam.
waktu merangkak naik semakin larut. ibu Fatimah yang sempat pingsan kini telah di baringkan di kamarnya. Zulaikha menemani sang ibu. hancur hati mereka karena laki-laki yang begitu amat lembut hatinya dan penyayang, telah pergi meninggalkan mereka. dengan mata yang sembab dan lelah, Zulaikha tidur di samping ibunya dan memeluk wanita itu.
jenazah pak Imam berada di ruang tengah. ada Yusuf dan Fauzan yang berada di tempat itu. ibu Khadijah sudah masuk ke dalam kamar Zulaikha untuk beristirahat. tubuh lelah mereka membutuhkan tenaga untuk esok hari dan menguatkan mental untuk proses pemakaman nantinya.
orang tua pak Imam sudah meninggal dunia dan kini tinggal kedua saudaranya saja. seorang wanita baya dan laki-laki baya. mereka datang bersama istri dan suami serta anak-anak mereka setelah ibu Fatimah mengabarkan berita duka meninggalnya suaminya. adik pak Imam perempuan itu ikut masuk ke dalam kamar Zulaikha bersama ibu Khadijah. istri dari adik pak Imam pun ikut bersama mereka. untuk kedua anaknya, mereka tidur di kamar tamu bersama anak dari saudara laki-lakinya karena mereka semua perempuan. sementara saudara pak Imam yang laki-laki dan juga kakak iparnya yang merupakan suami dari adiknya dan pak Imam, lebih memilih tidur di samping jenazah pak Imam bersama Yusuf dan Fauzan.
ibu Fatimah lebih memilih membawa jenazah suaminya di rumah mereka daripada di rumah Yusuf. bagaimanapun juga, meski sudah dianggap saudara namun ibu Fatimah tidak ingin menyusahkan dokter muda itu. apalagi ibu Fatimah lebih nyaman mengurus jenazah suaminya di rumahnya sendiri.
saudara laki-laki pak Imam dan juga kakak iparnya sudah tertidur pulas begitu juga dengan Fauzan namun tidak dengan Yusuf. bahkan berkali-kali ia mencari posisi ternyaman di atas karpet yang menjadi tempat mereka berbaring, namun tetap saja matanya begitu enggan untuk meraup mimpi di larut malam itu.
"astagfirullahaladzim waatubu ilaihi"
berkali-kali Yusuf mengucapkan istighfar untuk menghilangkan kegelisahan hatinya. meskipun begitu kelesah dalam dadanya belum sepenuhnya pergi. akhirnya ia pun bangun dan duduk. di lihatnya Fauzan sudah begitu lelap. betapa tidak, mereka berdua akhir-akhir ini tidak pernah untuk tidur nyenyak karena serangan selalu datang tanpa mereka duga.
Yusuf mengalihkan pandangan ke arah pak Imam yang kini terbaring terlentang dengan kedua tangannya di atas perutnya. laki-laki baya itu seperti orang tidur pada umumnya. seketika dada Yusuf merasa sesak seperti kekurangan pasokan oksigen yang menyebabkan dadanya terhimpit tidak sanggup untuk bernafas.
dengan rakus Yusuf menghirup udara sebanyak-banyaknya. ia menutup wajahnya dengan kedua tangan dan terus beristighfar.
perasaan sesal begitu menyelimuti dirinya, kata andaikan dan andaikan terus bersarang di kepalanya. andaikan ia menemani pak Imam, andaikan ia menyuruh orang-orang suruhannya untuk menjaga pak Imam dan masih banyak lagi kata andai yang semua itu tidak ada lagi gunanya.
"maafkan Yusuf paman, Yusuf benar-benar minta maaf" gumamnya merasa bersalah
Fauzan yang membelakangi Yusuf kemudian berbalik badan. matanya sedikit terbuka namun saat itu juga ia melihat dokter muda itu sedang dalam keadaan duduk dan menundukkan kepalanya. merasa temannya itu sedang tidak baik-baik saja, Fauzan memutuskan untuk bangun dan duduk di samping Yusuf.
"kenapa belum tidur Yus...?" tanya Fauzan dengan suara berat khas orang bangun tidur
"aku tidak bisa tidur Zan, entahlah perasaan ku begitu tidak enak" Yusuf menjawab dengan pelan
Fauzan menghela nafas sebelum akhirnya menepuk pelan pundak Yusuf.
"setiap yang bernyawa pasti akan pulang kepada pemiliknya, Tuhan Yang Maha Kuasa. cara kita pulang pun pasti berbeda-beda. meskipun saat itu kamu bersama paman Imam tapi kalau itu sudah kehendak takdir yang terus memanggil namanya untuk pulang maka kamu tidak dapat menghentikan itu semua. takdir Tuhan tidak dapat kita undur atau majukan Yus, kita pun nanti akan pulang menyusul paman Imam hanya waktunya saja kita tidak tau kapan"
"kalau kamu terus seperti ini, menyesali apa yang terjadi dengan paman Imam itu artinya kamu tidak bisa menerima takdir Yus. daripada meratapi penyesalan, sebaiknya memikirkan cara bagaimana untuk menghadapi orang-orang itu kedepannya dan kita semakin waspada untuk melindungi keluarga kita semua"
Yusuf memundurkan tubuhnya dan menggunakan kedua tangannya sebagai tumpuan di belakang tubuhnya. kepalanya menengadah ke atas dan matanya fokus menatap langit-langit rumah.
"sebenarnya aku sedang memikirkan satu hal Zan dan itu sangat mengganggu pikiranku"
"memangnya apa yang sedang kamu pikirkan. ceritakan padaku, mungkin saja aku dapat memberikan solusi dari permasalahan mu itu"
Yusuf memperbaiki posisinya dan menghadap ke arah Fauzan. sedang Fauzan pun memutar tubuhnya untuk menghadap ke arah Yusuf.
"sebelum meninggal, paman Imam meninggalkan satu amanah padaku"
"amanah...? amanah tentang apa...?" Fauzan semakin penasaran
"ini tentang....aku harus menikahi Zulaikha. paman Imam memintaku untuk menikah dengan Zulaikha. bahkan ibu Fatimah pun tau akan pesan paman Imam itu"
Fauzan mematup mulutnya dengan rapat. bahkan matanya begitu lekat menatap Yusuf yang juga sedang menatapnya.
"lalu apa jawabanmu...?" tanya Fauzan
"entahlah, aku...aku tidak memikirkan sampai sejauh itu" Yusuf mengubah posisinya seperti semula
"apa kamu menyukai Zulaikha...?" pertanyaan Fauzan keluar begitu saja dari bibirnya
"dia sudah aku anggap sebagai adik aku sendiri. perasaan suka...? aku tidak memikirkan perasaan itu"
"apa karena kamu telah menyukai dokter Anisa...?"
Fauzan hanya menebak dan hal itu berhasil membuat Yusuf bungkam tidak mengeluarkan suara. hanya helaan nafas berat yang keluar dari mulut dokter itu. Fauzan tidak lagi bertanya, ia berdiri dan hendak ke dapur untuk mengambil air minum namun matanya menangkap sekelabat bayangan yang lewat di jendela ruang tengah itu.
bahkan Fauzan dapat melihat dengan ekor matanya, bukan hanya satu bayangan yang melintas namun ada beberapa bayangan.
"Yus, hentikan kegundahan hatimu. sekarang waspadalah, kita sedang di kepung" ucap Fauzan dengan pelan
"di kepung...?" Yusuf refleks langsung berdiri
"aku melihat beberapa bayangan yang melintas di jendela, entah maling atau bukan yang jelas mereka pastinya bukan orang baik-baik"
"sialan, bahkan setelah menghabisi paman Imam, mereka masih berani juga datang menyerang. akan aku penggal kepala mereka satu persatu" Yusuf begitu geram
"apa yang harus kita lakukan. apa kita bangunkan saja semua orang...?"
"tidak perlu, kita kunci pintu belakang dan pintu depan. semua jendela kita kunci agar mereka tidak bisa masuk ke dalam. kurung semua orang di dalam, meskipun nantinya mereka mendengar keributan, mereka tidak akan bisa keluar. ini adalah tugas wajib kita berdua Zan, biar kita yang menghadapi mereka"
"baiklah, mari kita amankan semua orang"
keduanya berpencar. Fauzan berlari ke arah dapur untuk mengunci pintu belakang. sementara Yusuf masuk ke setiap kamar memastikan jendelanya semua terkunci. setelah merasa aman, keduanya mulai melangkah menuju ke pintu depan.
"kamu siap Zan...? Yusuf menoleh menatap Fauzan
"lebih dari siap. mari kita habisi mereka" Fauzan berucap penuh semangat
pintu depan mereka buka dan setelah itu Yusuf menguncinya. baik Yusuf maupun Fauzan, mereka tidak dapat membuat pagar gaib seperti yang dilakukan oleh Fatahillah. maka dari itu hanya dengan mengunci jendela dan pintu rumah, penghuni rumah akan aman meski belum sepenuhnya aman karena bisa saja musuh mendobrak untuk masuk.
puluhan orang telah berkumpul di depan rumah. bukan orang-orang yang berpakaian ninja namun mereka yang berpakaian hitam dan ikat kepala hitam. mereka semua adalah murid Ki Demang. rupanya laki-laki itu memiliki murid di berbagai kota sehingga hanya dengan memberikan perintah, semua muridnya yang setia langsung melaksanakan perintah dari guru mereka.
mungkin karena ia telah mengetahui kedua muridnya yang terbunuh oleh perbuatan Fatahillah dan Hasan sehingga membuat marah Ki Demang ataukah memang ia sengaja mengirim para muridnya untuk menghabisi semua keluarga Fatahillah. informasi tentang keluarga Fatahillah tentu saja Aji Wiguna yang memberitahu gurunya itu.
"kenapa bukan orang yang sama...?" Fauzan bertanya pelan kepada Yusuf
"entahlah, padahal yang biasa kita hadapi adalah mereka yang berpakaian ninja" jawab Yusuf
"siapa diantara kalian berdua yang bernama Fatahillah...?" tanya salah satu dari mereka
"ada urusan apa kalian dengan Fatahillah...?" tanya Yusuf
"urusan kami adalah mencabut nyawanya"
"hhh, omong kosong apa itu. memangnya kamu Malaikat Izrail sampai ingin mencabut nyawa seseorang...?" Fauzan tersenyum mengejek
"bahkan aku bisa mencabut nyawamu malam ini. katakan saja siapa yang bernama Fatahillah di antara kalian berdua"
"kamu bertanya...? bagaimana kalau aku tidak mau menjawab" Yusuf membuat mereka semakin kesal
"bunuh saja mereka, sekalian dengan orang di dalam rumah" ucap yang lain
"SERANG"
orang-orang itu hendak menyerang namun dua pedang samurai melayang dan menebas dua diantara mereka. tentu saja mereka semua kaget, bahkan Yusuf dan Fauzan ikut kaget.
"Yus, mereka musuh kita sesungguhnya" ucap Fauzan
"mereka semua musuh kita Zan. tidak menyangka banyak sekali yang mencari Fatahillah" jawab Yusuf
salah seorang ninja maju ke depan dan mengacungkan pedangnya ke depan.
"pemuda yang bernama Fatahillah itu adalah milik kami, sebaiknya kalian pergi dari sini" ucap ninja itu
"kami yang lebih dulu berada di sini, berarti harusnya kalian semua yang pergi" jawab anak buah Ki Demang
"cari mati rupanya kalian"
"cih, hanya bermodalkan pedang saja kalian sombong. maju dan hadapi kami. kita bertarung siapa yang berhak untuk membawa pemuda yang bernama Fatahillah itu"
kesempatan itu digunakan oleh Yusuf dan Fatahillah untuk memprovokasi kedua kubu itu.
"mereka kan tidak mempunyai senjata. serang dan bunuh saja mereka, dengan begitu kalian yang akan menjadi pemenangnya" Fauzan berada di pihak para ninja
"apa kalian tidak malu di remehkan oleh mereka. kalau aku jadi kalian sudah aku habisi mereka" Yusuf memanasi murid-murid Ki Demang
kini Yusuf dan Fauzan mempunyai rencana. masing-masing dari mereka memihak salah satunya. dengan kedua kubu itu saling serang maka mereka tidak perlu susah payah untuk mengeluarkan tenaga.
sesuai keinginan mereka, kedua kubu itu mulai saling serang. Yusuf dan Fauzan tersenyum licik karena rencana mereka berhasil. keduanya hanya menjadi penonton dari orang-orang bodoh itu.
setelah orang-orang itu merasa kelelahan karena bertarung. barulah Yusuf dan Fauzan turun tangan. mereka berdua melesat dan menyerang orang-orang itu. a
Yusuf begitu membabi buta menyerang para ninja itu, karena dendam yang merasuki hatinya, Yusuf bahkan tidak segan-segan memotong kepala para ninja itu seperti yang ia katakan tadi.
Fauzan menyerang murid-murid Ki Demang. meskipun mereka mempunyai ilmu Kanuragan namun tidak membuat Fauzan dapat di lumpuhkan. bahkan saat ini Fauzan melesatkan kekuatannya dengan bertubi-tubi. banyak dari murid Ki Demang yang terluka namun Fauzan pun juga ikut terluka karena terkena serangan.
tersisa dua orang dari murid Ki Demang dan sementara dari para ninja hanya tersisa satu orang. ketiganya melarikan diri untuk menyelamatkan diri. Yusuf dan Fauzan tidak mengejar karena bagaimanapun mereka tidak bisa meninggalkan rumah begitu saja.
keduanya kaget saat pintu depan mulai di gedor memaksa untuk di buka. teriakan yang memanggil nama keduanya membuat Fauzan dan Yusuf mematung di tempat.
"bagaimana dengan para mayat ini...?" tanya Fauzan kebingungan
sedang dalam kegelisahan, sebuah mobil masuk ke dalam halaman rumah dan berhenti. Yusuf dan Fauzan mengambil ancang-ancang untuk langsung menyerang jika itu adalah musuh. namun ternyata yang datang adalah Fatahillah dan Hasan.
"Fatah"
"Hasan"
keduanya berlari dan memeluk kedua lelaki itu. melihat begitu banyak mayat, membuat Fatahillah dan Hasan langsung melepaskan pelukan.
"apa yang terjadi, apakah kalian di serang...?" tanya Hasan dengan raut wajah panik
"iya tapi mereka berhasil kami kalahkan. tolong bantu kami menyingkirkan mereka semua. aku takut orang-orang di dalam rumah akan pingsan jika melihat mayat-mayat ini" ucap Fauzan
"Yusuf... Fauzan... apakah itu kalian. kenapa mengunci pintunya, ayo buka" suara ibu Khadijah terdengar keras. ia berusaha untuk mendobrak pintu
"itu ibu" Fatahillah begitu merindukan ibunya
"kita bereskan ini terlebih dahulu" ucap Hasan
"Langon"
GRAAARR
Langon datang dan mengelilingi mereka semua. kemudian ia berhenti di kaki tuannya.
"apakah kamu bisa membawa mereka semua...?" tanya Fatahillah dengan berjongkok di depan harimau itu
GRAAARR
Langon mengangguk kemudian ia menjalankan tugasnya. satu persatu orang-orang itu ia bawa pergi dengan cara tentu saja menghilang. bahkan begitu cepat sampai tidak sadar semuanya telah beres.
"waaah sungguh hebat lah kamu ini" Fauzan takjub dan berjongkok mengelus kepala Langon
Langon kembali menghilang, semua mayat-mayat itu telah dipindahkan bahkan darah yang berceceran pun telah di bereskan oleh Langon.
di tempat lain, Samantha Regina begitu murka karena lagi-lagi usahanya gagal.
"dasar bodoh. siapa yang menyuruh kalian semua menyerang orang-orang itu. aku meminta kalian membawa Fatahillah bukan menyerang orang-orang Aji Wiguna"
"maaf bos"
"kamu memang tidak berguna"
jleb
ugh
Samantha Regina menarik pedang dan menancapkan di leher anak buahnya itu. darah segar mengucur deras dan orang itu tumbang seketika.
"menyebalkan"
praaaaaang
ia melempar gelas minumannya ke dinding. setelah itu dirinya menghubungi seseorang.
(kapan kamu pulang Wira, kenapa lama sekali kamu pergi)
(maaf bos, dukun itu menyuruhku untuk tinggal selama dua hari)
(sialan, kenapa harus tinggal di situ. pulang cepat, anak buah kita tidak becus jika tidak ada kamu)
(akan aku pulang dengan membawa dukun itu bos)
Samantha mematikan panggilan dan kemudian ia berjalan ke arah lemari untuk mengambil minuman kesukaannya.
"hanya dengan ini bisa membuatku tenang"
Aji Wiguna begitu marah setelah mengetahui murid dari gurunya tidak becus menghadapi Yusuf dan Fauzan. berkali-kali ia mengumpat kesal. sementara Ki Demang berdiri dan menepuk pundaknya.
"masih ada esok hari dan esok hari lagi. tidak perlu semarah itu. sekarang sebaiknya kamu istrahat, racun yang keluar dari tubuh mu tadi pasti membuat kamu lemah"
"baik guru" Aji Wiguna patuh dan masuk ke dalam kamar
Alex pun juga memutuskan untuk istrahat. ia masuk ke dalam kamar yang di tempati oleh Arjuna. remaja itu belum juga sadarkan diri.