
malam kian semakin larut, Fatahillah bertekad malam ini dirinya akan melakukan penyatuan energi dengan mustika merah. Hasan sebenarnya ragu, apakah Fatahillah dapat melakukan penyatuan energi itu karena kekuatan mustika merah yang begitu besar jika tidak bisa mengendalikan kekuatan itu maka salah salah, Fatahillah yang akan celaka.
"kamu yakin Fatah mau melakukannya sekarang. apa tidak sebaiknya kita mencari mustika putih itu. kamu bilang Fauzan akan memberikan petunjuk dimana mustika itu berada kan. kenapa tidak sebaiknya kita menemui dia saja"
saat ini mereka sudah berada di perkebunan belakang rumah seseorang yang Hasan kenal. laki-laki tua yang pernah Hasan tolong saat beliau mengalami kesusahan. beliau pernah mengalami kecelakaan dan di sebabkan oleh pak Umar yang tidak sengaja menabrak laki-laki itu. karena rasa bersalahnya dan juga permintaan maafnya, pak Umar selalu mengutus Hasan untuk menjenguk dan memberikan segala kebutuhan yang dibutuhkan oleh beliau. dia adalah pak Hamidi, yang hidup sebatang kara di rumahnya yang tidak begitu besar itu.
"semua orang membutuhkan aku San. istriku, Arjuna, dan kini Anisa. bukan hanya mereka tapi keluargaku membutuhkan ku. jika aku masih berkutat mencari mustika putih, bagaimana bisa aku akan melawan musuh-musuhku"
"tapi ini berbahaya Fatah. kalau kamu celaka, apa kamu masih bisa melindungi semua orang. yang ada mereka akan semakin menderita. kenapa kamu keras kepala sekali sih Fatah"
"lalu aku harus bagaimana San, aku ingin menyelamatkan mereka. aku rindu istriku, aku tidak ingin orang-orang itu menyentuhnya walau hanya seujung kuku"
Fatahillah yang sudah duduk di sebuah batu yang ada di belakang rumah, tidak berkonsentrasi untuk saat ini. ia begitu dilema dengan keputusannya sekarang.
"Yusuf dan Fauzan juga sedang mencari Anisa. kamu masih punya kami yang akan membantu kamu apapun yang akan terjadi nanti. jadi berhentilah meratapi nasibmu, bagikan masalahmu kepada kami semua. sekarang berdiri dan kita kembali ke kota B untuk mencari Zelina dan Arjuna. kita kembali ke jalan itu"
"mereka mempunyai ilmu sihir yang tinggi San"
"bukankah kamu juga mempunyai ilmu tenaga dalam yang mumpuni dan kuat"
"berikan aku satu kesempatan untuk mencoba. jika aku tidak bisa maka aku akan berhenti dan kita akan mencari mustika putih itu"
Hasan menghela nafas panjang sebelum akhirnya ia mengalah berdebat. ia mengangguk menyetujui keinginan Fatahillah.
"hanya satu kali kesempatan. jangan paksakan jika kamu tidak bisa, jangan buat Zelina menjadi janda hanya karena kebodohan mu sendiri"
"iya, aku mengerti"
Hasan pun menjauh dari tempat itu. penerangan yang ada di kebun yang di tanami pisang dan segala macam buah, hanya menggunakan obor dari bambu agar orang-orang tidak dapat melihat mereka dengan begitu jelas.
Fatahillah menutup mata, dirinya ingin berkomunikasi batin dengan sang guru untuk menanyakan mantra yang harus dibaca jika akan melakukan penyatuan energi.
"tidak ada mantra yang perlu kamu baca. cukup buat mustika yang berada di dalam tubuhmu itu keluar dari tubuh mu dan serap energinya. fokus dan tetaplah tenang" suara guru Halim menggelegar namun hanya Fatahillah yang dapat mendengarnya tidak dengan Hasan
"baik guru" jawab Fatahillah
karena telah menjadi tuan dari mustika merah meskipun belum melakukan penyatuan energi, hanya dalam satu kali perintah mustika merah keluar dari tubuh Fatahillah. benda berwarna merah itu melayang-layang di depannya, sinar merah keluar dari mustika itu. itulah kenapa dikatakan sebagai mustika merah.
"bismillahirrahmanirrahim"
Fatahillah mendekatkan telapak tangan kanannya ke mustika merah itu. ia pun mulai fokus dan mengerahkan kekuatannya agar nanti jika terjadi sesuatu, dirinya tidak akan terluka parah.
perlahan-lahan cahaya mustika merah itu berpindah tempat ke telapak tangan Fatahillah. seperti magnet yang menyerap energi dari benda itu.
ughhh....
padahal baru saja permulaan dimana energi mustika merah masuk melalui telapak tangan Fatahillah dan akan menjalar masuk ke dalam tubuhnya, Fatahillah sudah berkeringat dan kepanasan. tangannya seakan berada di atas bara api yang begitu panas.
Hasan berdiri tidak jauh dari Fatahillah. berjaga-jaga jangan sampai terjadi sesuatu dengan pemuda itu.
uuugghhh
Fatahillah semakin merasakan panas yang begitu dahsyat saat energi mustika merah itu telah masuk ke dalam tubuhnya. ia merasakan tubuhnya seperti terbakar bahkan kini telapak tangannya telah melepuh.
"bismillahirrahmanirrahim laaillaahaula walakuwata illabillah"
Fatahillah menekan kekuatannya untuk menetralisir panasnya kekuatan mustika merah. sayangnya bahkan sudah kekuatan tingkat tinggi ia keluarkan tidak dapat membuat energi benda itu berubah sama sekali.
aaaaagghhh
Fatahillah menghentikan penyatuan itu. mustika merah kembali masuk ke dalam tubuhnya sedang dirinya terbang terpental begitu jauh. untungnya Hasan bergerak cepat dan menangkap Fatahillah agar tidak mendarat dengan kasar di tanah. akibat dirinya menghentikan dengan paksa penyatuan itu, energi mustika merah memukul mundur dirinya.
"Fatah, kamu tidak apa-apa...?" Hasan khawatir melihat tubuh lemah Fatahillah
Fatahillah membuka telapak tangan kanannya, luka bakar yang begitu besar membuat tangannya itu kesakitan dan memerah seperti terkena air panas yang mendidih.
"astagfirullahaladzim" Hasan kaget melihat luka bakar itu
"kamu benar San, aku tidak sanggup melakukannya tanpa mustika putih" Fatahillah berusaha untuk berdiri dan Hasan membantunya
"kita kembali ke rumah pak Hamidi. lukamu harus diobati" ucap Hasan
mereka meninggalkan perkebunan itu dan kembali ke rumah pak Hamidi. lewat pintu belakang, mereka masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tengah. pak Hamidi sudah terlelap di dalam kamarnya.
"tolong ambilkan aku air San"
Hasan mengangguk dan bangkit menuju ke dapur. setelahnya ia kembali dengan satu gelas air putih di tangannya. ia memberikan air itu kepada Fatahillah.
Fatahillah mengambil tasbihnya dan memasukkan ke dalam gelas yang berisi air putih. setelah itu ia membaca sholawat nabi dan kemudian menyiram luka bakarnya dengan air tersebut.
Fatahillah meringis sakit ketika air itu mengenai luka bakar di tangannya. bahkan asap keluar dari telapak tangannya itu. Hasan hanya memperhatikan dan merasa kasihan kepada temannya itu.
sungguh luar biasa atas izin Allah, luka bakar yang dialami Fatahillah kini perlahan sembuh dan menghilang.
"masya Allah, sungguh kuasa Allah begitu besar" Hasan takjub dan memuji penciptanya
"Alhamdulillah" Fatahillah mengucapkan syukur
"Fatah, apakah tasbih milikmu itu bisa menyembuhkan luka dan sakit apa saja..?"
"dengan izin Allah, insya Allah bisa namun hanya luka atau penyakit yang disebabkan oleh sihir, bukan luka biasa yang sering dialami. misalnya luka dari jatuh dari motor atau terkena benda tajam, luka seperti itu tidak bisa karena kekuatan tasbih ini hanya untuk menangkal dan melawan kekuatan sihir serta menyembuhkan sakit dari yang terkena sihir. semua itu tidak lepas dari izin Allah yang Maha Kuasa"
"pantas saja Hanum bisa cepat sembuh, dan juga kamu bisa cepat sembuh saat racun masuk ke dalam tubuh mu waktu itu diobati oleh Kiayi Zulkarnain menggunakan tasbih itu"
Fatahillah mengangguk kemudian ia meriah ponselnya karena benda itu bergetar.
(mereka menghilang seperti di telan bumi, bahkan tempat terakhir mereka terekam cctv pun hanya batas di hotel Claron kawasan barat)
Fatahillah meraup wajahnya dengan kasar. perasaan bersalah menjalar membuat dirinya seakan susah untuk bernafas.
(ini semua salahku, andai aku tidak termakan emosi dan mengantarnya untuk pulang pasti kejadiannya tidak akan seperti ini. sekarang tiga nyawa terancam karena ku)
(tiga orang siapa yang kamu maksud...?)
(istriku juga di culik Yus bersama Arjuna yang rencananya akan kami bawa ke kota ini)
terdengar helaan nafas yang begitu berat. Yusuf meninju dinding beberapa kali mengeluarkan kekesalannya. Fauzan menahannya dan menjauhkan pemuda itu dari tembok.
(kita harus bertemu Fatah, kita harus melakukan sesuatu)
(baiklah, tunggu aku di rumahmu jangan di rumah bibi Fatimah)
(aku tunggu)
"ayo San, kita harus pergi sekarang" Fatahillah bangkit dari duduknya
"tidak ingin istirahat dulu, ini sudah larut malam"
"selama istriku belum ditemukan, aku tidak akan bisa istirahat dengan tenang. kamu bilang akan membantu aku kan, jadi bangun dan bersiap"
"baiklah, ayo kita pulang"
Hasan bangkit dan mereka berdua berjalan menuju ke ruang tamu. di gelap malam, mobil yang mereka bawa melaju di jalan raya meninggalkan rumah pak Hamidi.
***
saat ini Arjuna sedang mengintip sekitar rumah melalui jendela kamar yang mereka tempati. di setiap sisi kana dan kiri, hanya di terangi oleh satu obor. merasa tidak ada lagi para murid Ki Demang yang berkeliaran, Arjuna mulai melangkah dengan pelan ke arah pintu. entah sejak kapan pintu kamar itu tidak di kunci, di sengaja atau tidak tapi yang pasti itu ada suatu keberuntungan untuk mereka berdua.
Arjuna membuka pintu dengan sangat pelan dan mengeluarkan kepalanya untuk melihat keadaan.
"ayo mbak" dengan pelan ia memanggil Zelina
Zelina bangkit dan mendekati Arjuna. keduanya keluar sambil mengendap-endap seperti pencuri yang takut ketahuan pemilik rumah.
pintu kamar yang ditempati Alex dan Aji Wiguna terbuka. karena kaget, keduanya masuk kembali ke dalam kamar dan menutup rapat pintu itu.
terdengar langkah kaki yang sedang menuju ke arah dapur. setelah itu sunyi tidak ada lagi suara apapun. keduanya kembali keluar dan berjalan pelan ke arah dapur. orang yang keluar dari kamar tadi entah itu Alex atau Aji Wiguna, sekarang orang itu berada di dalam kamar mandi yang berada di luar rumah. bisa dikatakan kamar mandi itu berada di belakang rumah. seperti kamar mandi pada umumnya yang ada di kampung-kampung.
sebelum keluar, Arjuna mengambil sebua pisau untuk ia jadikan senjata jika nanti terjadi sesuatu yang tidak mereka harapkan. pelan dan sangat hati-hati Arjuna membuka pintu dapur dan mereka keluar dari rumah itu.
pintu kamar mandi terbuka, keduanya dengan cepat bersembunyi di sisi kiri rumah tersebut agar tidak dilihat oleh orang tadi.
"perasaan pintu dapur tadi aku tutup, kenapa sekarang terbuka" ucapnya
dari suaranya, ternyata orang itu adalah Alex yang keluar untuk buang air kecil. karena tidak mempunyai rasa curiga sama sekali, Alex kembali masuk dan menutup pintu. melihat keadaan kembali aman, Arjuna dan Zelina meninggalkan rumah itu. sebagai penerangan, Arjuna mengambil obor di dekatnya. mereka melewati jalan setapak yang akan menuju ke jalan raya.
"ayo cepat mbak, semoga mereka menyadari ketidakberadaan kita setelah kita jauh dari desa ini" Arjuna melangkah dengan cepat
"apa kita tidak salah jalan Arjun, ini jalan yang benar kan...?"
"ini jalan setapak untuk menuju ke jalan raya mbak. kita harus melewati jalan ini terlebih dahulu"
keduanya dengan tergesa-gesa di larut malam itu, mereka berusaha untuk melarikan diri agar tidak tertangkap lagi oleh murid dari Ki Demang.
"astaga, mbak nggak kuat Arjun. mbak lelah" nafas Zelina mulai terdengar tidak beraturan. jantungnya berdetak begitu kencang karena begitu lelah
"harus bisa mbak, jika kita berhenti di sini aku takut mereka akan menemukan kita. ayo aku bantu. maaf kalau aku akan menyentuh mbak"
Arjuna membantu Zelina untuk berdiri kembali. bukannya tidak kasihan kepada wanita yang telah ia anggap sebagai kakaknya itu namun perjuangan mereka harus tetap berlanjut. setidaknya jika ingin istirahat maka mereka harus sudah jauh dari desa tersebut.
"mbak haus Arjun"
"yang kuat mbak, setelah sampai di jalan raya kita akan mencari tempat untuk beristirahat. ayo semangatlah. apa mbak tidak ingin bertemu dengan mas Fatah"
Arjuna terus menyemangati Zelina untuk terus melanjutkan perjalanan. bagaimanapun juga usaha mereka tidak boleh sia-sia begitu saja
di kediaman Ki Demang, Alex mengernyitkan kening saat ia melihat kamar yang ditempati dua orang tawanan mereka terbuka dengan lebar. ia pun melangkah cepat dan masuk ke dalam dan ia dapati hanyalah kamar kosong yang tidak berpenghuni.
"mereka kabur" gumamnya
Alex keluar dan beralih masuk ke dalam kamarnya. ia membangunkan Aji Wiguna yang sedang tertidur lelap.
"bos bangun bos" Alex menggoyang lengan Aji Wiguna
"bos bangun"
"ada apa sih Alex, kenapa kamu berisik sekali" Aji Wiguna bangun dan mengusap matanya
"tawanan kita kabur"
"APA...? KABUR...?"
Aji Wiguna buru-buru keluar dari kamar dan masuk ke dalam kamar yang ditempati Arjuna dan Zelina.
"kurang ajar, beraninya mereka melarikan diri" Aji Wiguna mengepalkan tangannya penuh amarah "cari mereka sekarang juga" lanjutnya dengan suara yang keras
"baik bos" Alex patuh dan mulai melakukan tugasnya