
POV (Fatahillah)
hari ini adalah hari keberangkatan kami ke gunung Sangiran. semua barang-barang yang akan kami bawa, telah dipersiapkan oleh Zelina. sementara aku kini berada di rumah Zelina untuk mengambil mobilnya.
setelah sholat subuh aku sudah bersiap datang kemari. aku berharap tidak lagi bertemu dengan ibu Arum namun ternyata doaku tidak dikabulkan oleh Allah, buktinya sekarang ini baru saja hendak memasuki halaman rumah setelah pagar rumah di buka oleh penjaganya, aku melihat ibu Arum sedang menikmati udara segar di teras rumah.
ingin menyapa tapi pasti nanti dia tidak akan menjawabku. tidak ingin menyapa namun aku takut dikatakan sombong olehnya. maka dengan terpaksa aku menyapanya.
"assalamualaikum bu, selamat pagi" sapaku saat aku telah berada di dekatnya
"sedang apa kamu datang ke sini...?"
bukannya menjawab salamku, ibu Arum malah menanyakan alasan kedatanganku. tatapannya sama seperti biasa, sinis dan merendahkan.
"aku datang untuk mengambil mobil istriku" jawabku dengan sopan
"kamu dosen kan, masa biar satu unit mobil saja kamu tidak bisa beli. untung bukan anakku yang menikah denganmu. sepertinya Zelina sudah buta mata sehingga memilih kamu menjadi suaminya"
"aku juga tidak berniat memperistri anak ibu. istriku sudah cantik jelita, aku tidak tertarik dengan anak ibu"
jawabanku langsung membungkam mulut ibu Arum dan melenggang pergi, masuk ke dalam rumah. aku geleng-geleng kepala, lagian siapa juga yang mau dengan anaknya. dasar ibu-ibu aneh.
mobil Zelina berwarna putih. aku langsung masuk ke dalam mobil itu dan meluncur kembali ke rumah.
Hasan yang ingin menjemput aku dan Zelina, langsung ku beritahu kalau kami akan pergi memakai mobil sendiri.
semalam sebelum tidur, Zelina mengatakan kalau aku yang akan memakai mobil ini. pertama aku menolak, karena aku tidak ingin dikatakan numpang menikmati kekayaan istriku. tapi Zelina tetap memaksa, alhasil kesepakatan terjadi diantara kami.
sebenarnya jika belum ada mobil dari istriku aku akan membeli mobil, namun karena sekarang aku akan menggunakan mobil istriku, maka beralih akan membeli rumah. rumah yang sedikit besar untuk kami tinggali sementara rumah utama keluarga Zelina, akan kami jadikan panti asuhan, tempat anak-anak terlantar dan yang dibuang orang tuanya.
Zelina mengajak aku dan ibu untuk tinggal di rumah mereka, peninggalan ayahnya namun aku menolak dan ibu juga pastinya tidak ingin. maka dari itu daripada tidak berpenghuni, rumah itu akan kami jadikan panti asuhan. itu adalah ide dari Zelina dan aku sangat menyetujuinya. sepulang dari gunung Sangiran, kami akan mencari rumah yang baru untuk kami tinggali.
perlahan mobil memasuki halaman rumah dan aku memarkirkan di bawah pohon jambu air. saat aku keluar dari mobil, aku melihat Anisa sedang duduk di teras bersama ibu dan juga istriku.
melihat Anisa, aku jadi teringat dengan permintaan ayahnya kemarin.
ku langkahkan kakiku menghampiri ketiganya dan aku menyapa Anisa terlebih dahulu.
"kamu di sini Nis" ucapku
"aku menghubungi mas Fatah tadi namun mas Fatah tidak mengangkat panggilanku, makanya aku datang ke sini" jawab Anisa
ku coba cek panggilan masuk di ponselku dan benar saja memang ada panggilan dari Anisa. mungkin karena tadi sedang terburu-buru makanya aku tidak mengangkat telepon darinya.
"maaf Nis, aku tadi buru-buru jadi tidak sempat mengangkat teleponmu" ucapku seraya duduk di dekat Zelina
ku lihat Anisa mengernyitkan dahinya saat aku dan Zelina duduk berdekatan. aku tau dia merasa bingung namun aku tidak mau ambil pusing.
"ketemu sama bibi Arum nggak tadi mas...?" tanya Zelina kepadaku
"ketemu, seperti biasa dia akan memasang wajah jutek padaku" aku menjawab
Zelina terkekeh pelan saat mendengar jawabanku.
"oh ya Nis, ada apa datang pagi-pagi sekali ke rumahku...?" tanyaku setelah sekian menit aku tidak bersuara
"boleh bicara berdua tidak mas...?" tanya Anisa
"aduh maaf Nis, sepertinya tidak bisa. aku harus berangkat ke gunung Sangiran bersama istriku" jawabku saat melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan ku
"i-istri...?" wajah Anisa berubah kaget seketika
tentu saja dirinya kaget, selama ini aku tidak dekat dengan wanita siapapun selain dirinya dan tiba-tiba saja aku sudah menikah. jelas dirinya akan kaget.
"oh maaf, aku belum memperkenalkan diri. perkenalkan mbak, namaku Zelina, istri dari mas Fatah" Zelina memperkenalkan dirinya dengan sopan
"ibu masuk dulu di dalam ya" ibu yang tadinya hanya mendengarkan percakapannya kami kini memilih masuk ke dalam rumah. aku yakin ibu tidak ingin ikut campur dalam masalah kami ini
"jangan membual kamu mas, tidak lucu tau nggak" Anisa berucap seakan ingin marah
"aku tidak bercanda Nisa, dia ini memang istriku. Zelina Muhatmainnah, kami menikah baru satu hari" jawabku dengan jujur
ku lihat raut perubahan di wajah Anisa. aku melihat dia menahan emosi saat menatap istriku. apakah dia marah...?
"kamu menikah tanpa memberitahuku mas" ucapnya dengan suara parau
"maaf Nis, pernikahan ku juga diadakan mendadak. aku tidak sempat mengundang siapapun" jawabku
"mas, aku masuk ke dalam dulu ya" Zelina hendak bangkit dari duduk namun aku tahan dan menggenggam erat tangannya
kedu mata Anisa melihat dengan jelas aku menggenggam erat tangan istriku. ada rasa kekecewaan dimatanya namun ia berusaha untuk tidak memperlihatkan padaku.
"apa karena wanita ini sehingga kamu menolak tawaran ayah...?" tanya Anisa
Anisa menatap tajam ke arah Zelina. tentu saja hal itu tidak membuatku senang, aku tidak suka cara dia menatap istriku seperti musuhnya.
"jika tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, sebaiknya kamu pulang Nis. kami harus segera pergi ke tempat tujuan" ucap ku
Anisa menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan dengan kasar. kemudian beranjak dari duduknya dan mengambil tasnya. namun sebelum pergi, dia sempat mengatakan sesuatu.
"aku pastikan, kamu hanya akan jadi milikku Fatah" ucapnya kemudian berlalu begitu saja
astagfirullahaladzim...
kenapa bisa Anisa yang aku kenal berubah menjadi wanita jahat seperti itu.
"mas" Zelina mengagetkan aku yang masih menatap kepergian Anisa padahal mobilnya sudah tidak terlihat lagi
"ah iya, ada apa...?" aku menoleh ke arahnya
"dia sepertinya menyukaimu mas"
"aku hanya menganggap dia sahabat, tidak lebih" jawabku
"apa aku menjadi penghalang di antara kalian berdua...?"
"kamu bicara apa, dia itu temanku dan sampai kapanpun tidak akan berubah sedangkan kamu, kamu adalah istriku dan sampai kapanpun tidak akan berubah"
Zelina tersenyum dan mengangguk. terbuat dari apa hati istriku ini, bahkan dirinya tidak mengeluhkan sikap Anisa kepadanya tadi. sungguh dia wanita idaman.
sebelum ke rumah pak Umar, aku dan Zelina akan mengantar ibu ke rumah bibi Fatimah. tidak mungkin kami meninggalkan ibu tinggal seorang diri, apalagi sekarang kini diriku telah terikat dengan permasalahan mustika merah, keluargaku pasti dalam bahaya. setidaknya, paman Imam, akan melindungi ibu, bibi Fatimah dan juga Zulaikha dari orang-orang yang ingin menyakiti mereka. apalagi ada Yusuf yang akan memantau keadaan mereka, aku jadi merasa lega meninggalkan ibu.
tiba di rumah bibi Fatimah kami tidak sempat bercerita lama karena aku dan Zelina harus segera berangkat ke rumah pak Umar.
"hati-hati" ucap ibu seraya mengecup keningku sebagi tanda sayangnya padaku
aku mengangguk kecil dan memeluk ibu. seumur hidup baru kali ini aku pergi meninggalkan ibu ke tempat yang jauh. rasanya aku begitu berat meninggalkan ibu, tapi demi kemanusiaan, aku harus melakukannya.
Zelina memeluk ibu sebelum akhirnya kami juga berpamitan kepada bibi Fatimah dan paman Imam serta Zulaikha.
lambaian tangan mereka mengiringi kepergian kami, hingga mobil yang aku kemudikan tidak terlihat lagi dari pandangan mereka.
"kamu baik-baik saja mas...?" Zelina melihat ke arahku
"aku hanya berat meninggalkan ibu" jawabku dengan jujur
"kita berdoa semoga mereka dan kita semua dilindungi oleh yang Maha Kuasa"
"aamiin"
mobil yang kami kendarai sampai juga di rumah pak Umar. aku melihat sudah ada mobil Yusuf yang terparkir di halaman. berarti sahabatku itu sudah datang.
"ayo" aku mengajak Zelina untuk masuk ke dalam
semuanya sudah siap dan tengah berkumpul di ruang tengah.
"Fatah, kita harus memindahkan Hanum ke dalam mobil. tapi bagaimana caranya sedangkan dirinya pasti akan mengamuk dan melawan" ucap Yusuf setelah aku sampai di dekatnya
"kita berdua masuk ke dalam kamarnya" aku mengajak Yusuf dan ia pun mengangguk
memang tidak mudah untuk memindahkan Hanum ke mobil. aku harus melakukan sesuatu padanya agar perjalanan kami tidak mendapatkan masalah nantinya karena ulah Hanum yang tidak bisa kami kendalikan.
"Yus, bukankah kamu mempunyai ajian dapat menidurkan makhluk gaib yang ada di dalam tubuh seseorang sehingga makhluk itu tidak tau apa yang akan kita lakukan kepada tubuh yang di tumpanginya" ucapku
"bisa saja, hanya saja ajian itu belum sempurna aku kuasai. jadi mungkin makhluk itu akan tertidur hanya 10 jam, selebihnya dia akan bangun lagi setelah waktu lewat dari 10 jam" jawab Yusuf
"aku pikir kamu sudah menguasai sepenuhnya ajian itu" ucapku
"ada satu kalimat mantra yang aku lupa makanya ajiannya tidak sempurna. sebenarnya bukan lupa hanya saja di kitab yang diberikan kakekku, mantra dari ajian itu telah sobek di dalam kitab jadi itulah mengapa ajian ku yang itu tidak sempurna"
"tidak apa-apa, kita tidurkan saja dulu dia untuk membawanya masuk ke dalam mobil. urusan lewat dari 10 jam nanti akan aku pikirkan di perjalanan"
"tapi mungkin nanti saat Hanum bangunan dirinya akan begitu marah karena ditidurkan dengan paksa. apa kamu sanggup mengatasinya nanti...?"
"mau bagaimana lagi, jika kita bairkan seperti ini, dia akan membuat masalah nanti" ucapku
"kalau begitu aku akan ajarkan ajian itu kepadamu. jadi jika nanti Hanum bangun, kamu bisa menidurkannya kembali"
"tidak sempat untuk belajar sekarang. nanti saja setelah aku pulang. sekarang tidurkan dia terlebih dahulu"
aku dan Yusuf mendekati Hanum yang terbaring di ranjang. melihat kami berdua datang, Hanum ingin menyerang namun tidak bisa karena tangan dan kedua kakinya diikat.
Yusuf naik ke atas ranjang dan memegang kepala Hanum. sementara aku berada di kaki wanita ini sambil memperhatikan apa yang akan di lakukan oleh Yusuf.
"LEPASKAN AKU MANUSIA HINA, LEPASKAN"
suara Hanum yang begitu mengerikan terus berteriak meminta dilepaskan. untungnya wanita ini telah kami ikat, jika tidak pastinya dia akan dengan brutal menyerang kami berdua.
Yusuf mulai membaca mantra penidur makhluk halus yang merasuki tubuh Hanum. dari telapak tangan Yusuf mengeluarkan cahaya putih. Yusuf mengusap wajah Hanum tiga kali hingga kemudian wanita itu yang tadinya terus memberontak kini tidak melakukan pergerakan lagi.
rupanya ilmu Yusuf jauh di atas ku, buktinya dia bisa menidurkan makhluk gaib yang merasuki tubuh seseorang sedangkan aku. untuk menenangkan Hanum, jelas harus melakukan hal ekstrim seperti melakban mulutnya dan melilit dirinya dengan ikatan tali agar Hanum tidak bisa melakukan pergerakan. sepertinya hal itu akan aku lakukan jika Hanum bangun nanti.
"sudah" ucap Yusuf kemudian turun dari ranjang
"kita ikat memang tubuhnya dengan tali, jadi jika nanti dirinya bangun dan mengamuk, dia tidak akan bisa berbuat apa-apa" ucapku
"mulutnya perlu juga diikat dengan kain agar tidak teriak-teriak nantinya" ucap Yusuf dan aku setuju
aku dan Yusuf mengikat tubuh Hanum dengan tali. kedua tangan dan kakinya pun kami ikat tidak lupa juga mulutnya yang kami sumpal dengan kain. setelah itu Yusuf menggendong Hanum keluar dari kamar sedang aku mengekor di belakang.
"mereka keluar" ucap Hasan saat melihat kami menghampiri mereka
"masukkan ke dalam mobil" perintah pak Umar
Yusuf membawa Hanum ke luar dan kami semua mengikutinya. Fauzan membuka pintu mobil kemudian Yusuf membaringkan Hanum di kabin tengah.
"sebaiknya ibu Rosida dan pak Umar ikut bersama kami saja, takutnya nanti kalau kalian bersama Hanum, Hanum akan menyerang. biar pak Odir saja yang menemani Hasan" ucapku
"iya, lebih baik seperti itu" jawab pak Odir
"bi, saya titip rumah ya" ucap ibu Rosida kepada ART yang biasa di panggil bi Asi
"iya nyonya. nyonya dan tuan hati-hati dalam perjalanan" ucap bi Asi
ibu Rosida dan pak Umar masuk ke mobil kami sementara Hanum, berada di dalam mobil yang Hasan kemudikan dan ada pak Odir yang menemani Hasan.
aku memeluk Yusuf dan juga Fauzan sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumah pak Umar.
gunung Sangiran tujuan kami. entah berapa hari kami akan sampai apalagi keadaan Hanum yang semakin menjadi. penafsiran pak Odir, kami akan sampai dalam waktu dua hari dua malam. itupun jika tidak ada rintangan apapun yang kami alami di perjalanan nanti.
diperjalanan aku menghubungi Kaisar, mahasiswa yang aku jadikan asistenku untuk menggantikan aku mengajar jika aku tidak masuk. dan aku mengatakan padanya mungkin dua Minggu ke depan dirinya yang akan terus mengajar sampai aku pulang dari gunung Sangiran.
"terimakasih Fatah sudah mau mengantar kami semua" ucap pak Umar memecahkan keheningan
"sama-sama pak, jika aku bisa membantu tentu aku akan bantu" jawabku
"semoga saja setelah dari gunung Sangiran, Hanum bisa kembali pulih seperti sebelumnya" ucap ibu Rosida
"aamiin, percayakan semuanya kepada sang pencipta Bu, insya Allah ada jalan" Zelina menjawab ucapan ibu Rosida
"siapa namamu nak, kita belum berkenalan tadi" tanya ibu Rosida
"aku Zelina bu"
"kamu beruntung mendapatkan laki-laki seperti Fatahillah nak Zelina"
"iya, aku memang beruntung mendapatkan suami seperti mas Fatah" Zelina melihatku yang sedang fokus menyetir
jika ditatap seperti ini, rasanya jantungku ingin lompat begitu saja.
aku hanya melihat sekilas ke arahnya dan tersenyum kemudian mataku kembali lagi fokus untuk melihat ke depan.
tadi kami berangkat saat sudah jam 7 pagi dan sekarang jam di pergelangan tangan ku sudah menunjukkan angka 13.30, itu artinya 30 menit lagi memasuki waktu sholat Dzuhur.
kami memutuskan untuk berhenti di sebuah masjid yang ada di pinggir jalan. bagaimanapun keadaannya, waktu sholat tidaklah bisa aku tinggalkan.
ibu Rosida dan Zelina ke tempat wudhu khusus untuk perempuan sementara kami tentunya ke tempat laki-laki.
azan mulai berkumandang setelah kami mensucikan diri dengan air wudhu. Hanum kami tinggalkan di dalam mobil, aku memanggil Langon untuk menjaga wanita itu. tentunya aku menyuruh Langon agar tidak menampakkan dirinya kepada manusia agar tidak ada yang lari terbirit-birit saat melihat hewan gaib peliharaan ku itu.
namun untuk Zelina dan yang lainnya, Langon menampakkan diri kepada mereka makanya itu mereka dapat melihat harimau putih milikku.
selesai sholat, aku berdoa memohon kepada Allah agar perjalanan kami selalu dalam perlindungannya. bagaimanapun juga, Allah adalah tempat satu-satunya manusia meminta pertolongan dari segala kejahatan.
"Malik"
saat aku baru saja selesai sholat, aku mendengar suara seseorang memanggil namaku. aku tau suara siapa itu.
"guru"
guruku sudah berada duduk di depanku. aku langsung mencium tangannya sebagai tanda hormatku pada beliau.
"tugasmu berat kali ini Malik" ucap guru
"maksud guru...?"
aku dibuat tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh guru.
"setelah ini, kamu akan menghadapi berbagai macam masalah dan orang-orang yang akan mengambil mustika merah itu"
"aku sudah siap dengan itu semua guru"
"baguslah, berarti kamu juga akan siap dengan kenyataan yang semakin dekat denganmu"
"kenyataan...? kenyataan yang seperti apa yang guru maksud...?"
"kamu akan tau nanti. berhati-hatilah dan ingat, jangan lagi tertipu seperti sebelumnya. jika wanita itu bangun, cukup kalungkan tasbihmu di lehernya, dengan tasbih itu untuk sementara akan membuat dirinya seperti orang lumpuh yang tidak bisa berbuat apa-apa sampai akhirnya kalian sampai di gunung Sangiran. jika kalian tiba nanti, sampaikan salamku kepada kiayi Zulkarnain"
"guru mengenal beliau...?"
guru tidak lagi menjawab dan kemudian menghilang dari pandangan ku. saat itu juga aku dikagetkan dengan suara Hasan yang sedang memanggil namaku.
"Fatah....mas Fatah"
Hasan memukul bahuku pelan hingga aku langsung menoleh padanya.
"iya, ada apa San...?"
"harusnya aku bertanya seperti itu. ada apa denganmu, aku melihat kamu tertidur sambil duduk"
"hah...?"
aku tertidur sambil duduk...? perasaan tadi aku sedang berbicara dengan guru.
oh aku tau sekarang, mungkin guru sengaja membuat penglihatan orang-orang bahwa aku ketiduran padahal sebenarnya aku sedang berbicara dengannya.
"aku hanya kecapean saja" jawabku yang tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya
setelah sholat Dzuhur, kami memutuskan untuk makan terlebih dahulu. jelas kami sudah kelaparan karena memang sudah waktunya untuk makan siang.
kami memilih warung makan yang tidak jauh dari masjid. kami butuh tenaga untuk tetap melanjutkan perjalanan sampai malam tiba nanti dan berhenti untuk istrahat.