Fatahillah

Fatahillah
Bab 143



"benar nggak sih ini jalannya, kok berlumpur begini" Yusrif mengeluh.


Jalanan yang harus mereka lewati, berlumpur melewati batas mata kaki. Terpaksa menggulung celana agar tidak terkena lumpur.


Bukannya melewati jalan yang sudah itu, semakin ke depan lumpur semakin naik hampir mendekati lutut. kedua kaki yang sulit diangkat membuat mereka kesusahan untuk melangkah.


"Kemuning, kamu sedang tidak mengerjai kami kan. kenapa jalannya seperti ini" Tegar tidak bisa untuk tidak bertanya. Awalnya perjalanan mereka biasa saja, namun tiba-tiba mereka kini malah mendapatkan jalan yang diluar prediksi ketiganya.


"ini memang sudah jalan menuju telaga itu. Setelah di sini, kita akan melewati yang lebih menantang lagi" jawab Kemuning.


Kemuning melayang di samping Tegar. Pemuda itu begitu sulit mengangkat kaki yang tertanam di lumpur. Dirinya hendak jatuh dan untung Kemuning menahan pinggangnya.


"hati-hati. Sini aku bantu" Kemuning memegang tangan Yusrif agar pemuda itu tidak jatuh ke dalam lumpur.


"sungguh meresahkan jalan ini. Dan lebih meresahkan lagi yang berada di depan sana. Ck, ngambil kesempatan dalam kesusahan" Tegar mencebik menatap dua makhluk yang tertawa tanpa beban dan bahkan seperti melupakan dua orang yang berada di belakang mereka.


"kamu cemburu Kemuning lebih dekat dengan Yusrif...?" ucap Hasan.


"ya nggak lah, mana mungkin aku suka sama makhluk jadi-jadian. Meskipun seiman namun beda alam" Tegar sekuat tenaga mengangkat kakinya.


Yusrif tiba di ujung jalan yang berlumpur. Kegirangan karena telah melalui medan tempur yang susah, Yusrif refleks memeluk Kemuning seketika.


"eh maaf, habisnya aku senang karena bantuan kamu" Yusrif melepas pelukannya ketika ia sadar sudah begitu berani memeluk Kemuning.


"tidak apa-apa, aku senang dekat denganmu" Kemuning menjawab apa adanya. Memang yang ia rasakan, dirinya senang dan nyaman jika berada di dekat Yusrif.


"kamu senang bersamaku...?" Yusrif mengulang kata itu dengan alis naik ke atas.


"iya, aku senang bisa dekat denganmu. Aku senang bisa bertemu kalian bertiga. Kamu lucu dan menggemaskan" Kemuning mencubit pipi Yusrif dengan gemas.


"eh...sudah berani main colek-colek ya" Yusrif memegang pipinya.


"tadi saja aku peluk kamu kok, apa salahnya" Kemuning menjawab enteng.


"astaga... makhluk astral yang begitu polos" gumam Yusrif.


Dua orangnya lagi berhasil mencapai tujuan. Lumpur itu tentu saja membuat kaki mereka kotor dan harus dibersihkan. Maka kini mereka membutuhkan air untuk membersihkan kaki mereka.


"apakah tidak ada kali atau sungai di sini. Bagaimana membersihkan kaki kita kalau nggak ada air" ucap Tegar.


"di sana, itu sepertinya kali" tunjuk Hasan ke arah kiri. ia melihat ada aliran air yang kecil tidak sebesar seperti sungai yang mereka temukan pertama kali.


Di kali kecil itu, mereka membersihkan kaki. Untung ada kali itu, jika tidak jelas dedaunan akan menjadi target ketiganya untuk menjadi lap kebersihan.


"jadi kita kemana lagi...?" tanya Hasan.


Setelah membersihkan kaki, mereka beristirahat sejenak di bawah pohon dan kini mereka akan kembali berjalan.


"satu tempat lagi yang harus kita lalui, setelah itu kita akan menemukan telaga itu. Di sini disebut sebagai telaga biru karena airnya yang berwarna biru. namun.... apakah kalian siap melewati medan jalan terakhir ini...?" Kemuning menatap ketiganya, seakan ada rasa ragu dalam diri wanita itu.


"memangnya apa yang harus kami lalui sehingga ekspresi wajahmu berubah seperti itu" tanya Yusrif. Ia dapat melihat wajah Kemuning menampakkan kecemasan.


"apakah sesuatu yang berbahaya...?" tanya Tegar.


"katakan saja. Berbahaya atau tidak kami tetap harus melewatinya demi mendapatkan air telaga biru. Sebelum kami datang ke sini, kami sudah mempersiapkan mental untuk hal-hal yang buruk" Hasan berucap sambil menatap Kemuning tanpa berkedip. Baginya, hal yang berbahaya sudah menjadi makanan sehari-hari untuk mereka. Hal seperti itu tidak membuat mereka takut ataupun kaget lagi.


"kalian harus melewati gua tempat tinggal kera iblis berada. Tidak ada jalan lain selain masuk ke dalam gua itu. Dan setelah keluar dari gua itu, maka telaga biru sudah di depan mata"


"kenapa bisa tidak ada jalan lain. Kan masih ada hutan-hutan di pinggir gua, kita bisa lewat di samping gua atau dimana saja kan" ucap Yusrif.


"tidak bisa. Jalan satu-satunya ya harus masuk ke gua dan keluar. Selain jalan itu, tidak ada lagi jalan lain. Sebab jalan yang lain berlumpur seperti tadi bahkan batasannya bukan lagi sampai lutut tapi bisa sampai leher. sedang batas lutut saja kalian sudah kesusahan apalagi kalau batas leher. kalian tidak akan bisa mengambil langkah"


Yusrif dan Tegar saling pandang, keduanya kemudian menatap Hasan yang dimana pemuda itu sedang menatap lurus ke depan.


"bagaimana mas...?" tanya Tegar.


"mau bagaimana lagi, kita tetap harus lanjut" jawab Hasan.


"kera iblis itu tidak akan mencium kedatangan kalian jika menahan nafas saat hendak lewat di sampingnya. Bau tubuh manusia adalah bau yang paling harum baginya" ungkap kemuning.


"kalau begitu kita buat bau tubuh kita menjadi busuk, dengan begitu dia tidak akan dapat mencium wangi tubuh kita" terang Hasan.


"caranya...?" tanya Yusrif.


rencana yang terlintas di kepalanya Hasan kini mereka gunakan. Ketiga pemuda itu sudah bermandikan lumpur saat ini. wajah tampan ketiganya bercampur lumpur dan juga seluruh tubuh mereka. tidak ada cara lain selain membalurkan lumpur ke seluruh tubuh. Dengan begitu kera iblis tidak akan mencium wangi tubuh manusia dalam diri mereka.


"sekarang, antar kami ke gua itu" ucap Hasan.


"baiklah, ayo ikut aku" ajak Kemuning.


Melewati jalan yang terjal, kini mereka tiba di gua yang dimaksud. Gelap di dalam sana, harusnya ada obor atau senter untuk penerangan. Namun Kemuning tidak mengizinkan mereka membawa obor atau semacamnya. Kera iblis akan tau keberadaan mereka.


"lalu bagaimana caranya kita bisa melihat jalan kalau gelap seperti itu" ucap Yusrif.


"hanya penglihatan dari luar memang gelap tapi di dalam tidak segelap seperti mati lampu. Ayo, dan mudah-mudahan kera iblis itu sedang tidur" Kemuning melayang pelan masuk ke dalam gua.


Bagai pencuri yang masuk ke dalam rumah tanpa ingin ketahuan, mereka waspada dan berhati-hati. gua itu begitu luas, dan keras iblis tengah tidur di atas batu besar yang ia jadikan sebagai ranjang baginya. Jalan menuju ke telaga itu, mereka harus melewati si kera iblis yang tertidur pulas. ukurannya yang besar mampu mencabik-cabik siapa saja. dua tanduknya terlihat memang seperti tanduk iblis, hidungnya besar dan juga kedua mata yang tertutup. Ketiganya ngeri melihat makhluk itu, sekali tepukan maka sudah pasti mereka akan rata dengan tanah.


Berjalan pelan dan mengendap-endap, mereka mendekati si pemilik rumah. Menahan nafas saat berada di dekatnya, padahal bau tubuh mereka tidak tercium lagi. namun berjaga-jaga jangan sampai helaan nafas mereka terdengar di telinga makhluk besar itu.


Kera iblis bergerak seketika, ketiganya langsung menjadi patung saat itu juga. Padahal mereka berada tepat di depan wajah si kera iblis. Kera itu hanya berganti posisi dan kembali diam.


"huufffttt... hampir saja" ucap Yusrif.


tanpa disangka suaranya itu membangunkan kera iblis. Kedua matanya terbuka, begitu tajam pendengaran makhluk itu. Seketika mereka berguling ke depan, bersembunyi di bawah batu besar itu. Mereka tepat berada di bawah wajah kera iblis. Kemuning sudah berada di tempat aman, jauh dari mereka.


Kera iblis itu mengendus-endus sekitar, ketiga pemuda itu menahan nafas dengan tubuh diam mematung menempel di batu.


"astaga, mereka bisa ketahuan. Apa yang harus aku lakukan" Kemuning panik, meremas jemari memikirkan cara menyelamatkan tiga pemuda yang dalam keadaan bahaya sekarang.


Yusrif hampir kehilangan nafas, ia yang tidak sanggup menahan nafas berlama-lama, menghembuskan dengan keras. Hal itu membuat kera iblis mendengar dan bergerak. Wajahnya ia condongkan ke depan dan menunduk, melihat ke bawah batu tempat tidurnya. Ketiga pemuda itu mulai tegang. Hasan berniat menarik Tegar juga Yusrif untuk berlari, namun sebuah suara lemparan batu terdengar saat itu. Kera iblis langsung melompat turun dan berlari ke arah suara. Kesempatan itu digunakan ketiganya untuk kabur, berlari begitu cepat keluar dari gua.


"haaah... haaah, hampir mati aku" Yusrif menghirup udara sebanyak-banyaknya.


"harusnya jangan bersuara, kera itu mempunyai pendengaran yang begitu tajam. Untung aku bisa mengalihkan perhatiannya" ucap Kemuning.


"terimakasih Kemuning" Hasan lega bisa bernafas normal.


Dan kini pemandangan indah berada di depan mata mereka. telaga yang begitu indah dengan warna airnya yang biru, membuat mereka terhipnotis. Apalagi pemandangan di tempat itu jauh berbeda dengan di hutan yang mereka lewati.


Pohon-pohon besar mengelilingi telaga itu, burung-burung berterbangan mencari tempat hinggap. Kupu-kupu yang indah begitu banyak, terbang di dekat bunga-bunga yang mekar. Bagai di negeri dongeng, pemandangan yang begitu indah dipandang. Rumput-rumput yang hijau, terbentang begitu luas dan indah dipandang mata.


"ambil airnya dan kita harus pergi sebelum ketahuan" Kemuning menyadarkan mereka.


Dengan cepat mereka mendekati telaga itu, mengeluarkan beberapa botol di dalam tas yang dipegang oleh Hasan. botol-botol itu diisi dengan air telaga biru. Setelah penuh, mereka membersihkan diri di telaga itu. Perintah Kemuning karena setelahnya mereka akan pulang tapi tidak dengan kembali melewati gua kera iblis, melainkan memotong jalan untuk bisa sampai ke perkebunan ganja milik Gandha Sukandar.


"memangnya ada jalan tembus ke sana...?" tanya Hasan.


"ada, meskipun jauh tapi setidaknya kita tidak melewati maut" jawab Kemuning.


"baguslah, dengan begitu kami bisa membantu teman-teman kami untuk tugas berikutnya" Hasan bersemangat.


"tapi bukannya kamu bilang tidak ada jalan selain melewati gua itu" ucap Tegar.


"kan sekarang kita sudah berada di tempat tujuan. kalau kembali lagi ke gua itu, ya memang tidak ada jalan lain selain melewati sarang kera iblis. tapi karena sekarang kita sudah berada di telaga biru, maka kita mengambil jalan lain agar bisa selamat dari kera iblis"


Bergegas mereka memasukkan botol-botol itu ke dalam tas. Tepat saat itu, suara kera iblis terdengar begitu keras dari dalam gua. Hingga kemudian terlihat kera iblis keluar dari gua tepat berada di depan mereka berjarak beberapa meter. Melihat manusia datang ke tempatnya, kera iblis marah dengan dengusan nafas keluar dari hidungnya.


"mati kita"


_____


"kenapa tidak ada seorangpun di tempat ini...?" ucap Aji Wiguna.


Pohon raksasa, pohon yang ukurannya lebih besar dari pohon yang lainnya. Di tempat itu yang menjadi perjanjian pertemuan mereka, namun rupanya tidak ada seorangpun di tempat itu.


"apa kita di bohongi. Bisa jadi ini jebakan" timpal Samuel.


Aji Wiguna mengelilingi pohon itu. Akarnya yang besar menjalar sampai di pohon lain. Ketika mengelilingi pohon itu, Aji Wiguna melihat kertas putih yang ditindiskan batu. Aji Wiguna mengambil kertas itu dan membuka lipatannya.


"kembali" satu kata itu yang tertulis di kertas.


"kamu menemukan sesuatu...?" Samuel mendekat dan mengambil kertas itu.


"kembali...? Maksudnya dia menyuruh kita untuk kembali pulang...?"


Sejenak Aji Wiguna berpikir, jika mereka dijebak maka sudah pasti akan ada orang-orang yang berniat mencelakai mereka saat ini. namun sampai satu jam mereka di tempat itu, tidak ada seorangpun yang datang dan keduanya hanya menemukan secarik kertas di bawah pohon yang ditindih dengan batu.


"gawat Sam" tiba-tiba Aji Wiguna berucap.


"ada apa...?" Samuel mulai tegang.


"Naomi, pak Nanto dan ibu Nani. Aku mencemaskan mereka. Kita harus kembali ke villa"


"tapi kan mereka tidak tau kedatangan aku dan Naomi ke pulau ini"


"mungkin tidak untuk kamu juga Naomi, tapi kami jelas-jelas mereka sudah tau kedatangan kami. Harusnya kita tidak mengambil keputusan secepat ini"


Bergegas Aji Wiguna berlari, Samuel pun menyusul. Rasa khawatir menjalar di hati Samuel, ia takut Naomi ditemukan oleh Diandra dan mantan kekasihnya itu menyakiti Naomi.


ketika semakin dekat dengan rumah, keduanya berhenti karena di depan sana rumah tempat tinggal pak Nanto juga ibu Nani, dilahap oleh si jago merah.


Detak jantung Samuel bagai berhenti seketika itu. tubuhnya lemas karena Naomi berada di dalam rumah itu.


"tidak tidak tidak, NAOMI....NAOMI" Samuel teriak histeris.


Bagaimana bisa dirinya masuk ke dalam sementara rumah itu sudah dikelilingi dan dilahap oleh api. Aji Wiguna meremas rambutnya, harusnya tidak seperti ini. Harusnya tidak ada kejadian seperti ini.


Samuel hendak menerobos masuk namun Aji Wiguna menahannya dan menariknya menjauh.


"lepaskan, aku harus menyelamatkan Naomi" Samuel memberontak, ai mendorong Aji Wiguna dan hampir terjungkal ke tanah.


Samuel berlari mendekati rumah, meneriaki nama Naomi yang entah masih hidup di dalam sana atau sudah mati terbakar di lahap api.


"kamu ingin mati...?" Aji Wiguna menarik tangan Samuel.


"Naomi, pak Nanto dan ibu Nani ada di dalam Aji. Apa kamu hanya akan diam saja"


"lihatlah, itu pak Nanto dan ibu Nani" Aji Wiguna menunjuk ke arah villa, pasangan suami istri itu ternyata selamat. Samuel berlari mendekati mereka dan menanyakan keberadaan Naomi.


"dimana Naomi pak, dimana dia...?" tanya Samuel.


"halo sayang"


Suara yang ia kenal terdengar dari arah samping villa. Diandra datang bersama Alvin, dan Najihan juga Naomi menjadi sandera mereka.


"mas" Najihan terharu melihat Aji Wiguna.


"sayang" Aji Wiguna hendak mendekat.


"eits.... berhenti atau mereka akan meledak" ancam Alvin.


Langkah Aji Wiguna terhenti, tubuh Naomi juga Najihan dipasangkan bom oleh dua manusia licik itu.


"wanita iblis, apa yang kamu lakukan. Masalahmu itu hanya denganku Diandra bukan dengan mereka berdua" Samuel diliputi rasa amarah.


"justru karena kedua wanita ini, kalian akan bertekuk lutut di hadapan kami. Kalian tidak ingin kan mereka berdua mati" Diandra tersenyum licik. " dan bukan hanya mereka yang akan mati meledak. Teman-teman kalian yang berada di perkebunan ganja, akan ikut meledak. kalian pikir Gandha Sukandar palsu tidak tau rencana busuk kalian itu. Alex juga Akmal akan meledak menjadi kepingan-kepingan kecil. Tubuh mereka akan menjadi santapan binatang buas"


"BEDEBAH, LEPASKAN ISTRIKU WANITA SIALAN"


"hahaha...istri kamu bilang...? Bukankah kamu tidak lagi mengakui wanita ini sebagai istrimu" Diandra membelai wajah Najihan yang sudah tergores beberapa bagian. Di bibir, dahi dan juga pipi.


Najihan menatap Aji Wiguna dengan penuh cinta. Hatinya menghangat ketika Aji Wiguna kini mengakui dirinya sebagai istri dari laki-laki itu.


"apa yang kamu inginkan Diandra" ucap Samuel.


"nyawa kalian semua" jawab Alvin.


Mamad datang dengan tali yang ia pegang. juga dua kursi yang tersedia di hadapan semua orang.


"ikat mereka Mbah" perintah Alvin.


Mamad menatap Aji Wiguna juga Samuel yang berdiri mengepalkan tangan. Gegabah sedikit saja, maka nyawa dua wanita yang mereka sayangi akan melayang. Sementara itu, para anak buah Gandha Sukandar palsu telah bersedia di belakang Diandra juga Alvin.


"kita akan bermain, dan aku pastikan permainan ini akan kalian suka" ucap Mamad tersenyum kecil. "jika kalian memberontak, maka mereka berdua akan meledak" Mamad memperlihatkan sebuah remote pengendali bom di tubuh Naomi juga Najihan yang ia pegang.


"jadi....bisa kita mulai...?" Mamad menatap semua orang.


"mulai saja Mbah, kenapa terlalu lama sekali" Diandra mulai kesal.


"baiklah" Mamad menghadap ke arah Alvin juga Diandra yang sedang menyandera Najihan dan Naomi.


"kalian berdua dengarkan apa yang aku katakan" ucap Mamad menatap lekat Naomi dan Najihan.


"hei Mbah, apa yang kamu lakukan. Harusnya kamu mengikat dua laki-laki itu" ucap Alvin bingung.


"injak kaki dan benturkan kepala di hidung mereka" Mamad memberikan intruksi.


Kening Diandra dan Alvin mengerut, sementara Najihan juga Naomi melongo kebingungan.


"cepat lakukan" teriak Mamad.


Naomi juga Najihan refleks mengangkat kaki kanan dan menginjak kaki Alvin juga Diandra. Setelahnya, mereka membenturkan kepala di hidung keduanya. Alhasil pegangan tangan Diandra dan Alvin terlepas karena serangan yang tiba-tiba itu. Begitu bebas, keduanya berlari ke arah Samuel juga Aji Wiguna dan kedua laki-laki itu langsung memeluk para wanita itu.


"aaaggghh brengsek, APA YANG KAMU LAKUKAN SIALAN" Alvin memegang hidungnya yang berdarah begitu juga Diandra.


Anak buah Gandha Sukandar palsu hendak menyerang, akan tetapi Mamad mengeluarkan kekuatannya. kumpulan daun kering berputar seperti gasing dan terhambur ke arah anak buah Gandha Sukandar. Mereka mundur dan banyak yang memakan daun-daun itu.


"lepaskan baju rompi itu, aku sudah menonaktifkan bomnya" ucap Mamad.


Naomi dan Najihan melepaskan rompi itu dan membuangnya. Sementara Alvin dan Diandra begitu marah, Mamad menghianati mereka.


"kamu.... beraninya kamu menghianati kami Mbah" Diandra sungguh dibuat marah.


"namaku Victor, bukan Mbah atau Mamad"


"A-APA...?"


Diandra shock, matanya membulat dengan mulut ternganga. Sementara Alvin, tubuhnya tegang mengetahui kenyataan kalau Victor selama ini masih hidup.