
"wah wah wah.... lihat siapa yang ada di sini" Fatahillah membuat Henry dan Ki Samidi saling tatap. begitu tidak percaya, Fatahillah yang mereka anggap saat ini adalah Gara Sukandar, tiba-tiba berada di tempat mereka.
"bapak bilang sedang berada di rumah dan akan bersiap ke kantor. sejak kapan Gantara grup berpindah tempat di tengah hutan seperti ini pak Henry. aku tidak pernah merasa memindahkan perusahaan ku sendiri ke tempat pedalaman seperti ini"
"bagaimana bisa kamu berada di sini Gara...?" Henry mendekati Ki Samidi yang diam menatap tiga pemuda itu.
"kenapa pak Henry...? Fatahillah tersenyum kecil. "sudahlah, tidak usah kaget seperti itu. aku bukan hantu yang memakan manusia, tapi bisa saja aku menjadi manusia yang bisa melenyapkan nyawa manusia"
"dan aku mempunyai keahlian untuk mencincang tubuh manusia setelah dia...ck" Hasan menggerakkan tangan kanannya seperti orang yang akan menggorok leher.
"bagaimana ini Ki Samidi...?" pak Henry mulai was-was.
"kenapa kamu takut. mereka hanya bertiga sementara kita banyak. lagipula anak muda seperti mereka ini bukanlah tandingan ku. kamu tenang saja" Ki Samidi begitu enteng berbicara dan meremehkan lawannya.
"siapa bilang mereka hanya bertiga" Tegar tiba-tiba bangun disusul oleh Yusrif. kedua pemuda itu membuat Ki Samidi dan pak Henry membulatkan mata.
"Henry, bagaimana mereka bisa bangun. kamu tidak membius keduanya...?" Ki Samidi menatap tajam laki-laki baya itu.
"maaf Ki, saya hanya memukul tengkuk keduanya dengan sangat kuat. harusnya mereka tidak akan bangun secepat ini"
"bodoh, tapi buktinya mereka berdua bangun. kamu teledor sekali Henry"
Ki Samidi begitu marah, dua tawanannya malah bangun dari pingsannya. sementara pak Henry tidak berani melawan laki-laki tua itu.
"kita perlu marah-marah Ki. kita selesaikan masalah ini di sini. kalian berdua harus menanggung akibat dari perbuatan bejad yang kalian lakukan" Fatahillah menunjuk keduanya dengan sorot mata tajam.
"hahaha, Gara... Gara. kamu pikir bisa mengalahkanku. tubuhmu saja belum pulih namun kamu sudah berani datang menentangku. kamu bisa datang dengan mudah namun jangan harap bisa keluar dari tempat ini dengan selamat. kalian berdua harus menjadi korban berikutnya. Henry, kerahkan semua orang untuk menghadapi mereka"
"tidak perlu repot-repot, mereka akan datang ke sini dengan sendirinya"
swing
swing
ddduuuaaaar
braaaakkk
tenda itu habis porak-poranda dimusnahkan oleh Aji Wiguna. semua orang yang berada di luar dengan cepat berbondong-bondong mendatangi tenda tersebut. berbekal senjata tajam, mereka mengelilingi lima pemuda yang datang tanpa diundang oleh tuan rumah.
wanita yang mengobati Yusrif tadi, bersembunyi di balik pohon dan menghubungi seseorang.
[ada pak Gara di sini bersama empat pemuda lainnya. apa yang harus kita lakukan...?]
[kenapa bisa Gara ada di sana...? ]
[aku juga tidak tau, mungkin saja sejak kemarin dia sudah melakukan pengintaian. tapi bukankah kamu bilang kalau dia berada di wilayah lain. cepatlah datang, kenapa kalian lama sekali]
[kami tiba sepuluh menit lagi. coba ulur waktu mereka]
[tidak bisa Sam, bisa mati aku kalau ikut campur nantinya. aku tidak mempunyai kekuatan apapun untuk melawan mereka. cepatlah datang]
[kami segera datang, tunggu dan bersembunyilah]
[Najihan sudah di wilayah D kan...?]
[iya, dia di tempat isolasi sekarang bersama dokter Abizzar. bagaimanapun kita membutuhkan mereka berdua]
[baiklah, aku tunggu kalian datang ke sini]
[jangan sampai kamu terluka Diandra, aku belum mau menjadi duda sebelum menikah]
[ih, masih juga kamu berbicara seperti itu yang. udah cepatan datang, aku takut tau]
[siap]
_____
"habisi mereka" Henry memerintahkan orang-orangnya yang lebih dari seratus orang itu.
hanya satu pukulan saja, dua orang terbang terkait di atas pohon. tenaga dalam Aji Wiguna membuat beberapa orang melongo tidak percaya. namun tidak membuat orang-orang itu takut, mereka bahkan tetap menyerang menggunakan senjata tajam.
Fatahillah mengincar Ki Samidi, laki-laki tua yang diandalkan Henry dan anak buahnya di tempat itu.
"kamu yakin ingin melawanku...? tidak sayangnya nyawamu rupanya ya"
"kebiasaan mengejek tanpa tau kelebihan seseorang, itu adalah hal yang sangat keliru pak tua. kenapa tidak merasakan dulu pukulan dariku barulah dirimu berkomentar. aku sudah sangat tidak sabar ingin melayangkan tinju bebas di ulu hatimu" Fatahillah menggerakkan pergelangan tangan kanannya.
"cih... justru aku yang akan membuat kamu muntah darah Gara Sukandar"
swing
Ki Samidi menggerakkan tongkatnya mengeluarkan cahaya merah.
ddduuuaaaar
serangan laki-laki tua itu hanya mengenai rumah kayu yang menjadi tempat tinggal mereka. meledak dan hancur, hanya tersisa sebagian saja.
"aku bisa menghancurkan semuanya rata dengan tanah. mau aku bantu pak tua...?" Fatahillah tersenyum tipis, ia mengeluarkan cahaya merah berbentuk bola di telapak tangannya. bola merah itu ia lesatkan ke arah rumah itu. hancur dan terbakar sudah rumah kayu itu.
Ki Samidi dibuat kaget oleh kekuatan yang dimiliki Fatahillah. bagaimana bisa hanya dengan telapak tangannya mampu membakar rumah itu.
"bagaimana pak tua, rumahmu sudah aku hancurkan. kini giliran mu yang akan aku hancurkan" Fatahillah tersenyum tipis.
"mimpi saja kamu jika bisa menyentuhku"
Ki Samidi berlari cepat menyerang Fatahillah, tongkatnya itu ia lempar ke arah Fatahillah. Fatahillah menangkis tongkat itu dengan Kerispatih miliknya. keris kecil yang menjadi senjatanya sejak pertama kali masuk ke dunia menguasai ilmu Kanuragan.
tongkat itu terbang kembali kepada tuannya. keduanya saling beradu kekuatan, saling serang dan mengeluarkan tenaga dalam untuk menyerang lawan.
pak Henry hendak melarikan diri dari arena pertarungan. Hasan yang melihat itu, langsung melesatkan sebuah serangan ke arah laki-laki baya itu. tubuh pak Henry melayang terpental mengenai tenda dapur yang sudah hancur berantakan.
"brengsek" pak Henry bangun dan mencari siapa yang membuatnya terbang mendarat di tanah dengan kasar. melihat Hasan datang menghampirinya, laki-laki itu mengambil kayu seukuran lengan manusia.
"pemuda sialan. belum tau siapa aku ternyata kamu ya"
"aku tidak membutuhkan identitas mu untuk membuatmu babak belur pak"
"kurang ajar"
pak Henry melemparkan Hasan kayu yang ia pegang kepada Hasan.
hap
satu tangan Hasan menangkap kayu itu. dengan senyuman seringai yang ia perlihatkan, Hasan merenggangkan ototnya dan mendekati Henry yang mencari senjata lain untuk melawan Hasan. laki-laki itu menemukan parang pekerja.
"sini kamu, badanmu akan menjadi dua kalau kamu mendekat"
"ck...banyak bacot"
Hasan melempar kayu yang ada di tangannya. tepat mengenai kepala Henry, laki-laki itu kelimpungan memegang kepalanya yang sakit. setelahnya dirinya menerima tendangan bebas dari Hasan yang mendarat di kepalanya. Henry pingsan saat itu juga.
"hanya segitu ternyata kemampuanmu"
_____
tongkat sakti milik Ki Samidi melayang berputar-putar di udara. setelahnya tongkat itu jatuh ke tangan laki-laki tua itu. Ki Samidi menutup mata, mengetuk tanah sebanyak tiga kali menggunakan tongkat miliknya. bibirnya bergerak cepat merapalkan mantra. hanya hitung detik, Fatahillah memegang dadanya yang luar biasa sakitnya. bagai jantung yang diremas kuat, Fatahillah jatuh ke tanah memegang dadanya yang sakit.
uhuk...uhuk
hueeeeek
hueeeeek
Fatahillah muntah darah, darah hitam yang begitu pekat bagai oli bekas yang tidak dipakai lagi. bukan hanya sampai di situ, Fatahillah terangkat ke atas melayang dengan tangan yang berada di lehernya. Fatahillah mencekik lehernya sendiri.
"bos... Fatahillah bos" Tegar memberitahu Aji Wiguna.
"BRENGSEK"
Aji Wiguna berlari ke arah pertarungan Fatahillah dan Ki Samidi. serangan brutal ia lesatkan kepada laki-laki tua itu namun semua serangannya sama sekali tidak ada berpengaruh untuk Ki Samidi. semua serangan Aji Wiguna hanya terpental dan meledak di udara.
kembali Aji Wiguna mengeluarkan kekuatan besar untuk meruntuhkan laki-laki tua itu.
ddduuuaaaar
braaaakkk
padahal sudah mengeluarkan energi besar namun Ki Samidi tidak terluka sedikitpun. yang ada, serangan Aji Wiguna hanya mengenai anak buah Henry yang membuat mereka mati seketika.
ddduuuaaaar
bughhh
"FATAH"
"Fatah... Fatah bangun" pipi Fatahillah ditepuk beberapa kali oleh Aji Wiguna namun tidak ada respon dari pemuda itu.
Hasan yang baru saja datang, tubuhnya lemas melihat Fatahillah. luka di dada menganga lebar, darah dimana-mana dan juga wajah Fatahillah menghitam. Hasan jatuh terkulai di tanah. Yusrif dan Tegar memalingkan wajah. mereka tidak sanggup melihat keadaan Fatahillah sekarang.
"Fatah... Fatahillah bangun"
"hahaha" Ki Samidi tertawa begitu bangganya. "sudah aku beritahu bukan kalau kalian tidak akan mampu melawanku lihatlah, pemuda sombong itu kini sudah tidak bernyawa lagi"
"BAJINGAN" Hasan berdiri dan menatap tajam Ki Samidi. Hasan benar-benar ingin menghabisi laki-laki tua yang telah membuat Fatahillah terluka parah.
"San jangan gegabah, dia begitu sakti" Tegar menahan Hasan yang akan maju untuk menghadapi Ki Samidi.
"minggir kamu, akan aku patahkan leher laki-laki biadab itu"
"Hasan, kamu mau mati seperti Fatahillah hah...?" Tegar membentak dan menarik kasar tubuh Hasan memberontak di pelukannya.
"lalu apa yang harus kita lakukan Gar... APA...?" Hasan luruh, Tegar menahannya.
"saatnya kalian menyusul Gara Sukandar ke neraka" Ki Samidi melempar tongkatnya ke udara dan berputar-putar. tongkat sakti itu mengeluarkan cahaya merah dan dengan cepat cahaya itu melesat menyerang mereka.
ddduuuaaaar
bughhh
GRAAAAR
dua harimau datang tepat waktu. bukannya mengenai sasaran, namun serangan Ki Samidi malah berbalik dan menyerang dirinya sendiri. jika tidak menangkis sudah pasti laki-laki tua itu mati akibat serangannya sendiri.
"Langon... Gangan"
harimau putih mendekati Hasan dan memeluknya. Gangan mendekat ke arah Fatahillah dan menatap sendu. namun hal terduga terjadi saat itu juga. tiba-tiba tubuh Fatahillah mengeluarkan cahaya putih keemasan. Aji Wiguna yang sedang memeluk Fatahillah, meletakkan tubuh Fatahillah di atas tanah dan dirinya pun mundur.
dari dalam tubuh Fatahillah, mustika putih keluar dengan cahayanya yang berkilau. mustika itu mengelilingi Fatahillah tiga kali, setelahnya cahaya itu menyelimuti tubuh Fatahillah hingga tidak terlihat.
"apa yang terjadi...?" Diandra sungguh dibuat terkejut dengan apa yang ia lihat. wanita itu semakin melebarkan mata ketika melihat Fatahillah sembuh begitu saja. pemuda itu bangun dalam keadaan sehat kembali.
"bagaimana bisa...? bukankah dia... sedang sakit, bagaimana bisa dia mempunyai kekuatan menyembuhkan dirinya sendiri" Diandra menganga tidak percaya.
dua harimau yang melihat Fatahillah kembali sembuh, keduanya melompat dan memeluk Fatahillah.
"terimakasih kalian mendengar panggilanku" Fatahillah mengelus kepala keduanya.
"Fatah"
Fatahillah bangkit dan tersenyum kepada semua rekannya. Hasan langsung menghambur memeluk pemuda itu begitu juga dengan Aji Wiguna. merasa bersyukur berkat mustika putih, Fatahillah kembali pulih seperti sebelumnya.
"aku pikir kamu tidak akan bangun lagi" Yusrif ternyata ikut menjatuhkan air mata tadi.
"kamu menangis...?" goda Fatahillah.
"mana ada, nggak ya...ini aku hanya mimisan" elak Yusrif dan menghapus air matanya.
Fatahillah terkekeh kemudian memeluk pemuda itu. dirinya merasa senang dikhawatirkan oleh para rekannya.
"kenapa mereka memanggil Gara dengan panggilan Fatah...?" Diandra menggaruk kepala, nampak bingung dengan apa ia lihat.
Ki Samidi bangun dengan penuh amarah. dirinya benar-benar murka dipermainkan oleh pemuda yang ada di hadapannya. belum sempat menyerang, mereka dikejutkan dengan kedatangan pasukan yang dibawa oleh Samuel.
"angkat tangan di atas atau peluru ini akan menembus kepala kalian" teriak Samuel.
semua anak buah Henry menunduk bersimpuh di tanah dan mengangkat kedua tangan. mereka diringkus begitu cepat dan diikat.
"sayang" Diandra keluar dari tempat persembunyiannya dan menghampiri Samuel.
sementara Fatahillah, ia mengernyitkan kening ketika melihat Samuel bisa ada di tempat itu juga. laki-laki itu mendekat bersama Diandra.
"bos"
"Samuel, bukannya kamu berada di wilayah X. bagaimana bisa kamu berada di sini sekarang...?"
"kemarin aku memang berada di wilayah X bos tapi hari ini aku berada di sini. ceritanya panjang dan tidak mungkin untuk bercerita sekarang sebab laki-laki tua itu terlihat begitu marah" Samuel menunjuk Ki Samidi yang murka karena dirinya ditipu oleh Diandra.
"dokter sialan. beraninya kamu menipu kami semua"
"kamu yang bodoh, begitu mudah tertipu hanya dengan rayuan mautku. kamu pikir aku terpesona padamu. idih.... amit-amit deh" Diandra bergidik dan memeluk lengan Samuel.
"matilah kalian semua"
swing
ddduuuaaaar
serangan Ki Samidi dihalangi oleh Fatahillah. ia kemudian menyuruh semua orang untuk berlindung sementara dirinya harus menghadapi laki-laki tua itu.
"Gangan, Langon.... lindungi semua orang ya" perintahnya kepada dua harimau itu
GRAAARR
dua harimau itu membawa mereka ke tempat aman. tiba di sana, Samuel langsung memeluk Gangan saat harimau itu berusaha untuk dekat dengannya. padahal awalnya Samuel takut dengan Gangan. namun sekarang, laki-laki itu memeluk dan mengelus kepala harimau itu.
"dia tidak akan menggigit kan...?" tanya Diandra.
"tidak, dia baik kok"
_____
"kita selesaikan di sini pak tua".
"ya, aku akan membunuhmu kembali.
Fatahillah dan Ki Samidi kembali terlibat dalam pertarungan. semua serangan yang dilesatkan Ki Samidi dapat ditangkis oleh Fatahillah. bahkan sekarang Ki Samidi kewalahan menghadapi Fatahillah yang kini tenaganya benar-benar kuat.
bugh
tubuh Ki Samidi terpental terseret di tanah. Ki Samidi menggunakan tongkatnya dan Fatahillah menghalau menggunakan energi mustika merah. saling mempertahankan posisi masing-masing, Fatahillah memutar tubuhnya dan melesatkan sinar merah. Ki Samidi terpental menabrak pohon.
Ki Samidi kembali bangun meskipun telah sempoyongan. laki-laki tua itu hendak menyerang Fatahillah dengan apa yang dilakukannya tadi. Fatahillah melindungi dirinya menggabungkan dua energi dari mustika putih. apa yang dilakukan oleh Ki Samidi tidak berpengaruh terhadap Fatahillah. dua mustika itu melayang mengelilingi Fatahillah, melindungi tuannya dari serangan.
"apa...? bagaimana bisa dia memiliki dua mustika yang sakti itu" Ki Samidi membelalakkan mata, begitu tidak percaya Fatahillah memiliki dua mustika sakti yang melindungi dirinya.
karena serangannya tidak menghasilkan apapun, Ki Samidi mengeluarkan kekuatan besar yang ada dalam tongkat sakti miliknya. ia mengetuk tanah tiga kali dan dirinya menjadi makhluk yang menyeramkan. Ki Samidi menjadi layaknya kera yang mempunyai tubuh yang begitu besar dengan bulu yang menyelimuti dirinya.
"dia ternyata menyembah kera iblis itu" gumam Fatahillah
"astaga...kenapa bisa dia menjadi seperti itu" Yusrif menganga dan kaget.
"kera iblis" gumam Samuel.
"bisa mati pak Gara, apa kalian tidak ingin membantunya...?" Diandra panik.
"kita pantau saja dulu" Aji Wiguna tidak ingin gegabah.
Samuel memperhatikan dengan seksama bagaimana pertarungan Fatahillah melawan Ki Samidi. satu yang membuat dirinya heran, kenapa sampai Fatahillah mempunyai kekuatan yang begitu besar. dan juga selama pertarungan, ia tidak melihat Fatahillah mengeluarkan tongkat sakti miliknya.
"kenapa Gara tidak menggunakan tongkat sakti miliknya. dan bagaimana bisa dia memiliki dua mustika sakti itu" gumam Samuel.
ddduuuaaaar
ddduuuaaaar
serangan bertubi-tubi membuat Ki Samidi nampak begitu murka. tangan besarnya menggapai tubuh kecil Fatahillah namun sama sekali tidak ia dapatkan.
sreeeet
sreeeet
kedua kaki Ki Samidi dilukai Fatahillah dengan keris kecilnya. Ki Samidi menepuk tanah hingga bergetar hebat. Fatahillah melompat melayangkan di udara dan
sreeeet
kembali ia menyayat lengan dan tubuh lainnya Ki Samidi. setelahnya, Fatahillah mendarat di tanah. diambilnya cincin giok milik sang ayah dan ia pakai di jari telunjuknya. Fatahillah menutup kedua matanya, tubuhnya terangkat melayang sejajar dengan tinggi Ki Samidi. tubuh Fatahillah berputar pelan. energi cincin giok itu, menyatu dengan energi mustika merah.
Ki Samidi mengeluarkan serangan dari dalam mulutnya dan Fatahillah pun melesatkan serangan dengan dua energi yang begitu kuat, cincin giok dan mustika merah.
"MATILAH KAU IBLIS"
Fatahillah mendorong kuat serangannya sehingga Ki Samidi mundur beberapa langkah. tidak ada apapun yang terjadi, Ki Samidi tertawa terbahak-bahak karena serangan Fatahillah tidak mempan padanya.
"kamu yakin tidak mempan...?" Fatahillah tersenyum smirk.
tawa Ki Samidi terhenti tatkala ia merasakan hawa panas yang muncul dari dalam tubuhnya. tubuh besarnya meraung kesakitan hingga tubuh itu perlahan-lahan semakin mengecil dan kembali ke tubuh aslinya. Ki Samidi terbakar, terbakar oleh energi mustika merah yang dimana energinya dua kali lipat karena menyatu dengan energi cincin giok.
Ki Samidi mati dengan tubuh terbakar dan terkapar di tanah. laki-laki tua yang sombong itu, hangus dilahap api.