
Gangan menatap sendu tuannya saat tubuh Gara diangkat dan dibawa masuk ke dalam mobil. mereka tidak ingin berlama-lama di tempat itu maka dari itu mereka harus mencari tempat yang lain untuk mengamankan Gara sekarang.
harimau milik Gara tetap ingin berada di dekat tuannya. di kabin tengah Gara di baringkan di dalam mobil Fatahillah, sedang Langon telah menghilang dan akan kembali muncul lagi jikalau tuannya memanggilnya.
"lalu kita akan bawa dia kemana...?" tanya Hasan, mereka kini berada di luar mobil. Gara bersama dengan Gangan dimana harimau itu berada di kabin belakang, tetap tidak ingin berpisah dari tuannya
"nggak mungkin kita bawa dia ke rumah pak Danang. masalah ini jangan sampai mereka tau" ucap Akmal
"biar itu menjadi urusanku" timpal Aji Wiguna
Aji Wiguna masuk ke dalam mobilnya dan mengambil ponselnya. dia menghubungi seseorang lebih tepatnya dia mengubungi dua anak buahnya yang masih tetap berada di kota X karena perintah dirinya sendiri. dua orang itu tinggal di penginapan yang tidak begitu jauh dengan rumah pak Danang.
(kalian dimana...?)
(di penginapan bos)
(cari rumah yang bisa disewakan sekarang, aku tunggu 30 menit)
(baik bos)
tanpa bertanya untuk apa dan mengapa dua anak buah Aji Wiguna siap melakukan perintah.
"sambil menunggu tempat, sebaiknya kita mencari toko pakaian. nggak mungkin memakai baju yang basah seperti ini terus" ucap Aji Wiguna
"aduh... sepertinya aku tidak bisa ikut kalian, aku harus kembali ke rumah sakit karena mbak Nagita sekarang menghubungiku" Akmal memperlihatkan ponselnya dimana dokter cantik itu kini tengah menelponnya
"pergilah, nanti kami kabari dimana alamat tempat baru kita" ucap Fatahillah
Akmal mengangguk dan masuk ke dalam mobilnya. ia mengangkat panggilan dari Nagita sambil melambaikan tangan kepada yang lain. mobil itu meninggalkan mereka semua.
"jadi, kita kemana sekarang...?" tanya Alex
"seperti kata Aji tadi, kita cari toko pakaian" jawab Fatahillah
"memangnya masih ada yang buka jam segini....?" Hasan melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya
"pasti ada kalau kita cari, ayo. aku sudah kedinginan sekali" ajak Fatahillah
"tunggu sebentar, kita harus membereskan sesuatu terlebih dahulu agar tidak menjadi masalah bagi kita nantinya" ucap Aji Wiguna, matanya menelisik sekitar halaman rumah
"apa yang kamu periksa bos...?" tanya Alex
"cctv, kita harus periksa semua cctv dan hancurkan"
"baiklah, itu ide yang bagus. kalau begitu mari berpencar" timpal Fatahillah
satu persatu melesat untuk mencari letak cctv yang ada. di halaman rumah itu, terdapat dua cctv, dan Aji Wiguna yang menghancurkannya. tidak perlu repot-repot, hanya meledakkan tanpa menyentuh semuanya dapat terkendali.
di depan rumah, sebelah kanan satu cctv terlihat. Alex mengambil pot bunga dan melemparkannya hingga benda itu hancur dan rusak.
mereka masuk ke dalam, semua ruangan di periksa satu persatu tanpa ada yang terlewati. jejak Fatahillah tidak boleh dilihat oleh siapapun kecuali hanya Gara seorang. tidak boleh ada yang tau kalau penguasa gunung Gantara mempunyai sosok yang mirip dengannya. selesai dengan semuanya, mereka kembali bertemu di tempat semula.
"sudah beres, jadi kita kemana sekarang...?" tanya Hasan
"mencari pakaian ganti, ayo" ajak Fatahillah
mereka masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumah dimana ada puluhan mayat yang terkapar di tanah. urusan itu biarlah menjadi urusan pihak berwajib nantinya, mereka tentu saja tidak ingin terlibat.
di satu sisi mereka mencari toko baju yang masih buka, di sisi lain Akmal dengan pakaian basah tiba di rumah sakit untuk menjemput Nagita. wanita itu bahkan sudah berdiri di depan pintu menunggu kedatangannya. Akmal turun dari mobil dan tersenyum melambaikan tangan ke arah dokter cantik itu. langkahnya kian mendekat mengikis jarak dengan Nagita.
"aku lama yang mbak...? maaf ya, tadi ada insiden sedikit jadinya lama" Akmal tersenyum manis
Nagita memindai penampilan pemuda itu dari kepala sampai ujung kaki. rambutnya yang basah, bibirnya yang biru akibat sepertinya terlalu lama menahan dingin. bahkan pemuda itu tetap tersenyum hangat ke arahnya.
"kamu kenapa basah begini Mal...?" Nagita mengambil sesuatu di dalam tasnya
"kan hujan mbak ya jadinya basah. kalau mbak takut mobil mbak basah, biar aku pulang naik taksi saja, nggak apa-apa"
"no, kamu harus tetap pulang bareng aku. sini aku lapin wajahmu" Nagita ternyata mengambil tisu dan menarik tangan Akmal agar lebih dekat dengannya
tinggi pemuda itu kini telah melebihi dirinya. jika dulu Akmal hanya sampai bahunya saja namun sekarang pemuda itu bahkan sudah lebih tinggi darinya. Nagita bahkan harus mendongak untuk melihat wajah Akmal.
dengan wajah serius Nagita melap wajah Akmal yang basah, sementara Akmal sendiri senyum-senyum memperhatikan wajah Nagita yang begitu dekat dengannya.
"cantik" puji Akmal seketika
"apanya...?"
"mbak Nagita cantik, sama seperti hatinya. aku jadi makin sayang"
Nagita menghentikan tangannya, keduanya saling tatap bahkan semakin dalam. jika dilihat-lihat, Akmal begitu banyak perubahan menurutnya. pemuda itu semakin tampan sekarang, apalagi jika dia tersenyum Nagita semakin berdebar-debar dibuatnya.
di tatap seperti itu, jantung Nagita semakin berdetak kencang. dengan cepat dirinya mundur namun hampir saja ia terjatuh jika saja Akmal tidak menahan pinggangnya dan menariknya ke dalam pelukan.
deg
deg
deg
jantung keduanya semakin berdebar-debar, apalagi Nagita. ia dapat mendengar dengan jelas detak jantung Akmal yang bahkan sangat tidak normal.
"aku ingin mengatakan sesuatu mbak, mbak percaya atau tidak tapi ini benar-benar tulus dari hati aku" Akmal berhenti, mencoba menguasai perasaannya yang kini semakin menjadi. mereka kini masih dalam posisi saling berpelukan "aku sayang sama mbak Gita, bukan sebagai sayangnya adik kepada kakak tapi aku sayang sama mbak Gita sebagai seorang laki-laki yang mencintai seorang wanita"
tentu saja Nagita kaget, bahkan dirinya ingin melepaskan diri dari dekapan Akmal namun pemuda itu memeluknya dengan erat, sehingga dirinya tidak bisa melepaskan diri.
"mungkin mbak Gita kaget aku berbicara seperti ini namun itu yang aku rasakan sekarang mbak dan aku tidak memaksa mbak untuk menjawab sekarang. cukup mbak tau saja bagaimana perasaan aku. mbak bisa memikirkan jawaban terlebih dahulu, aku tidak akan memintanya sekarang" Akmal melepaskan pelukannya, ia memegang kedua bahu Nagita dimana wanita itu sedang menatap serius ke arahnya.
"jika mbak bertanya kenapa sampai aku menyukai mbak Gita, maka aku akan menjawab, tidak ada alasan untuk jatuh cinta dengan seseorang mbak. perasaan itu datang begitu saja bahkan tanpa aku minta"
"tapi usia kita terpaut jauh Mal, apa kamu tidak malu bersanding dengan wanita yang jauh lebih tua darimu...?" sejak tadi terdiam, Nagita kini membuka suara
Akmal tersenyum lembut, hal itu membuat jantung Nagita semakin berdebar-debar tidak karuan. bahkan bersama dengan Alvian saja, dirinya tidak pernah merasakan perasaan seperti itu.
"ingat kisah cinta Baginda Rasulullah...? beliau bahkan menikah dengan istri pertamanya Siti Khadijah dengan usia yang terpaut jauh namun hal itu tidak menjadi penghalang untuk mereka bersatu. cinta tidak memandang usia mbak, jika perasaan itu datang maka kita tidak dapat menolaknya selain yang Maha Kuasa yang dapat mengubahnya"
"apa kamu yakin dengan perasaan kamu...?"
"kenapa aku harus ragu, aku bahkan sangat yakin. tinggal menunggu jawaban dari mbak sendiri, tapi jangan terlalu lama ya mbak jangan sampai aku karatan hanya karena menunggu jawaban"
Nagita memukul pelan dada Akmal, dirinya sudah serius namun bisa-bisanya pemuda itu malah melempar candaan.
bukan apa-apa Akmal berani mengutarakan perasaannya sekarang sebab dirinya tidak ingin kejadian yang pertama kali terulang kembali. karena terlalu lama menunggu waktu yang tepat, wanita yang ingin dipinangnya malah dipinang oleh pamannya sendiri, dan hal itu sungguh dirinya tidak ingin mengalaminya lagi.
"kita pulang ya, karena aku harus pergi lagi mbak"
"pergi kemana...? ini sudah larut malam loh Mal"
"aku tau ini sudah larut malam mbak, tapi ada yang harus aku selesaikan bersama mas Fatah dan yang lainnya dan ini sangat penting. tapi tenang saja, aku akan baik-baik saja kok. kalau mbak rindu tinggal berdoa kepada Tuhan agar memasukkan aku ke dalam mimpimu" Akmal mengedipkan mata
"ganjen" Nagita mencubit perut pemuda itu dengan wajah cemberut
Akmal hanya cengengesan kemudian melangkah lebih dulu sementara Nagita mengikutinya. keduanya masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumah sakit. setibanya di rumah pak Danang, Akmal berpamitan untuk pergi lagi.
"hati-hati Mal" nampak Nagita khawatir kepada pemuda itu sementara yang dikhawatirkan hanya senyum-senyum menatap dokter cantik itu
"kenapa malah senyum-senyum...?
"aku senang loh mbak karena mbak Gita khawatir sama aku"
"idih... PD banget" Nagita memalingkan wajah padahal sebenarnya ia ingin menyembunyikan wajahnya yang merona malu
"kalau gitu mbak masuk gih, jangan lupa bobok mimpiin aku ya"
"masuklah"
"lalu kamu...? apa kamu nggak ganti pakaian dulu...?"
"aku bisa gantian di tempat mas Aji, kalau begitu aku pergi dulu ya"
"kamu mau jalan kaki...?"
"ya nggak lah mbak, aku sudah memesan taksi online tadi dan sekarang sudah dekat. kalau berjuang mendapatkan hati mbak sih aku jelas mau jalan kaki, ngesotpun aku mau tapi nanti kalau celana aku sobek mbak harus siap jahitin"
"aku serius loh Mal"
"iya sayang, aku juga serius"
dipanggil sayang oleh brondong membuat Nagita merasa lucu, namun wajahnya merona merah. segera ia memalingkan wajah karena lagi-lagi Akmal membuatnya susah untuk bernafas.
"kenapa nggak bawa mobil aku saja...?" Nagita kembali menoleh
"mbak kan harus ke rumah sakit besok. nggak usah khawatir, aku bukan anak kecil lagi loh mbak, malahan aku sudah bisa bikin anak kecil"
plaaaak
refleks Nagita memukul lengan Akmal, dirinya melotot mendengar jawaban frontal pemuda itu sementara Akmal hanya cengengesan.
"aku pergi ya mbak" Akmal melambaikan tangan kemudian berlari ke arah gerbang sementara Nagita tetap di tempatnya sampai pemuda itu tidak terlihat lagi.
mobil yang dipesan Akmal akhirnya datang, dirinya segera masuk dan meminta mengantarnya sesuai tujuan yang ia tulis diaplikasi.
semuanya telah berganti pakaian, baju yang basah mereka simpan di dalam mobil. kini mereka tinggal menunggu Akmal, pemuda itu kini dalam perjalanan ke tempat mereka saat ini. hingga tidak lama Akmal datang dan langsung mencari pakaian yang cocok untuknya. setelahnya ia mengganti pakaiannya dan mereka bersiap ke rumah dimana anak buah Aji Wiguna telah persiapkan.
"kita seperti penculik saja" ucap Akmal
"lah kita memang sedang menculik seseorang Mal" timpal Fatahillah
Fatahillah melihat Gara di spion gantungnya, pemuda itu belum sadarkan diri sementara harimau miliknya tetap setia berada di kabin belakang terus menjaga tuannya.
mobil Aji Wiguna berbelok mengambil jalan kiri, kemudian berhenti di sebuah rumah yang tidak begitu besar namun tentunya bisa dikatakan mewah. rumah dua lantai dengan halaman yang tidak begitu luas namun cukup untuk menampung empat mobil bahkan lebih.
mereka keluar dari mobil, dua anak buah Aji Wiguna tengah berada di teras rumah menunggu kedatangan mereka. satu persatu turun dari mobil dan mengangkat tubuh Gara. mereka masuk ke dalam rumah langsung menuju ke kamar. di kamar itulah Gara di baringkan.
"lalu siapa yang akan mengganti pakaiannya...?" tanya Alex
semuanya saling pandang dan kemudian saling tunjuk.
"nggak mau aku, biar sama laki-laki tapi tetap saja aku merasa risih" Hasan menggeleng kepala
"aku juga nggak mau" Aji Wiguna mengangkat tangan
kini tinggal Alex, Fatahillah dan Akmal. Fatahillah dan Alex sama-sama menoleh ke arah Akmal sementara pemuda itu mulai bisa merasakan maksud dan tujuan tatapan mereka.
"ngapain lihat-lihat aku...?"
"aduh aku capek banget sepertinya butuh istirahat yang cukup" Alex melenggang pergi begitu saja, Aji Wiguna dan Hasan mengikutinya
"aku... kebelet pipis Mal, mohon maaf ya" Fatahillah kabur menyusul yang lainnya
"dasar kakak nggak ada akhlak" Akmal menggerutu
dengan terpaksa Akmal mengganti pakaian Gara dengan baju yang mereka belikan di toko pakaian tadi. Gangan tetap diam di sampingnya memperhatikan wajah Gara yang tertidur pulas tanpa terganggu. setelah mengganti pakaian Gara, Akmal keluar dari kamar itu menghampiri mereka yang sedang duduk di ruang tengah.
"kalian jangan pulang, harus tetap berada di dekat kami" ucap Aji Wiguna kepada dua anak buahnya itu
"baik bos"
Aji Wiguna mengibaskan tangan, keduanya berjalan keluar rumah dan berjaga di sana. untuk sekian menit tidak ada yang mengeluarkan suara. kelimanya bahkan berbaring di sofa dengan kedua mata yang tertutup.
"jadi apa rencana kita selanjutnya...?" Alex bersuara
"tetap di rencana awal, Fatahillah akan menggantikan posisi Gara menjadi penguasa gunung Gantara" Aji memperbaiki posisi duduknya
"lalu Gara bagaimana...?" tanya Hasan
"kalau aku harus menggantikan posisinya maka itu berarti dirinya tidak boleh keluar dan kembali ke gunung Gantara. ya jelas dia harus kita kurung" jawab Fatahillah
"aku nggak yakin kalau kita kurung tanpa kalian ikat menggunakan mantra atau semacamnya. karena yang aku lihat dia itu sakti, tentunya hanya menghancurkan jendela kamar dirinya sudah bisa kabur" timpal Akmal
belum sempat menjawab ucapan Akmal, teriakan dari dalam kamar mengagetkan mereka semua dan itu berasal dari kamar Gara tadi. dengan cepat mereka berlari ke arah kamar yang ditempati oleh Gara.
di dalam kamar, Gara sudah berada di lantai dengan memegang kedua telinganya. sama seperti yang dia alami saat di rumah danau tadi, Gara kesakitan dan menutup kedua telinganya. darah mulai keluar dari telinga mengalir sampai ke lengan.
Gangan melompat ke arah tuannya dan menyalurkan energinya. harimau itu mengeluarkan cahaya dan ia mengelilingi Gara sebanyak tiga kali. setelahnya Gangan berhenti dan duduk di depan Gara.
"ada apa dengannya...?" tanya Alex
"sepertinya dia sedang tidak baik-baik saja" Fatahillah memperhatikan Gara yang sedang mengatur nafasnya, pemuda itu bahkan bersujud di lantai dan kedua tangannya tetap dalam posisi menutup telinga
GRAAARR
Gangan yang melihat Gara belum juga bangun padahal energinya sudah ia salurkan, harimau itu langsung mendekati Gara berusaha untuk membangunkan tuannya.
GRAAARR
Gangan sama seperti Langon, jika melihat tuan mereka terluka maka tentunya mereka akan sedih. karena Gara belum juga bangun dari sujudnya sementara darah yang keluar dari telinganya kini telah menetes di lantai, harimau milik Gara mendekati Fatahillah dan memegang tangannya. Gangan beralih ke belakang Fatahillah dan mendorong pemuda itu agar mendekati Gara.
"kamu ingin aku mengobatinya...?" Fatahillah akhirnya berbalik dan duduk di depan Gangan
GRAAARR
Gangan mengangguk, tatapannya beralih ke arah Gara yang kini kembali mengeluarkan suara teriakan karena rasa sakit yang ia alami.
Fatahillah mengelus kepala Gangan, ia berdiri dan mendekati Gara yang kini bukan lagi sujud namun dalam keadaan terbaring meringkuk di lantai. saat dirinya menyentuh tubuh Gara, rasanya begitu panas dan dengan cepat Fatahillah menarik tangannya.
"kenapa mas...?" Akmal bertanya,
"badannya seperti bara api, sangat panas" Fatahillah kembali berdiri
"apa dia terkena santet...?" tanya Hasan
"entahlah tapi yang pasti dia sedang terluka" Fatahillah menatap lekat wajah Gara yang merah padam
"obati saja, bukannya itu keahlian kamu mengobati seseorang" ucap Aji Wiguna
"akan aku coba" timpal Fatahillah
Gangan semakin cemas melihat keadaan Gara, sementara Fatahillah dan yang lainnya mengangkat kembali tubuh Gara ke atas ranjang. benar kata Fatahillah kalau tubuh Gara begitu panas, untuk mengangkat tubuhnya saja mereka harus menggunakan kain agar tidak kepanasan dan membuat tangan mereka melepuh. namun tidak dengan Fatahillah, dia menggunakan energi mustika putih agar panas tubuh Gara tidak ia rasakan seperti diawal tadi.
(aku penasaran apa yang terjadi padanya hingga dia bisa menjadi seperti ini dan kenapa sampai ayahnya sendiri ingin membunuhnya) batin Fatahillah
__________________________________________
catatan :
jangan komplen kenapa aku lama up dan hanya up satu bab saja. dari tiga hari yang lalu aku sedang sibuk-sibuknya mengurus pemberkasan untuk kehidupan yang lebih baik lagi. bahkan kemarin saja, dari jam 9 pagi mengantri di polres tembus sampai jam 10 malam. nggak sempat ngisi perut sampai pulang ke rumah.
perjuangan aku nggak segampang perjuangan Fatahillah yang sat set sat set langsung jadi, karena aku nggak punya kekuatan apapun. ini saja aku usahakan up demi kalian yang suka baca cerita Fatahillah.
mohon maaf ya dan semoga kalian nggak bosan menunggu meski kenyataannya menunggu adalah hal yang paling membosankan.
semoga kita semua sehat walafiat selalu.....
terimakasih sudah setia membaca cerita aku.....