Fatahillah

Fatahillah
Bab 104



"ibu nggak apa-apa kan mas...?" Gara rupanya ikut masuk ke dalam kamar, dirinya cemas jika terjadi sesuatu dengan ibu Laila karena melihat dirinya


"ibu sepertinya shock saja melihat kamu. kita tunggu sampai ibu sadar" Fatahillah memperbaiki selimut yang menyelimuti ibunya


Gara duduk di samping ibu Laila. melihat wajah teduh wanita itu, jika dilihat membuatnya merasakan tenang dan damai. seperti ada sesuatu yang menarik dirinya untuk terus berada di dekat ibu Laila.


"jadi....dialah ibu kita...?"


"iya, dia wanita yang telah melahirkan kita di dunia ini. apa kamu tau, saat pertama bertemu ibu, dia dalam keadaan sedang tidak baik-baik saja. dirinya waktu itu adalah seorang ODGJ yang dihindari oleh semua orang. kamu tau penyebabnya...?" Fatahillah menatap Gara sementara adiknya itu menggeleng


"itu karena dia telah kehilangan kita berdua" Fatahillah mencium lembut tangan ibunya "pasti sulit bagi ibu untuk melalui semua itu, kehilangan suami dan juga kedua anaknya" lanjutnya


"ibu pasti sangat terpukul" ucap Gara


"waktu pertama bertemu dengan ibu, dia mengira kalau aku adalah anaknya. dan hal yang membuat aku merasa bersalah saat itu ketika aku berjanji akan kembali untuk menemuinya namun aku tidak kunjung datang sementara ibu terus menunggu aku di sana" Fatahillah semakin menggenggam erat tangan ibunya "ibu terus memanggil aku anaknya tanpa aku tau kalau ternyata aku adalah benar-benar anak kandungnya. aku sangat bersyukur bisa tau begitu cepat dan bertemu ibu kembali"


"bagaimana kalau nanti ibu nggak percaya kalau aku adalah anaknya, karena yang melekat dalam ingatannya, Farhan Hamid sudah meninggal"


"tidak akan, ibu pasti percaya padamu. tunjukkan saja tanda lahirmu, itu adalah bukti yang kuat. jika perlu kamu akan tes DNA dengan ibu"


"aku jadi teringat ibu di sana" gumam Gara


"ibu siapa...?" Fatahillah melepaskan tangan ibunya dan duduk menghadap ke arah Gara


"ibu yang selama ini telah merawat aku dengan penuh kasih sayang, ibu yang ternyata bukan ibu kandungku namun perlakuannya bagaikan ibu kandung. aku...aku merindukannya. sungguh aku merindukan ibu" Gara menunduk dan meremas jemarinya, dirinya teringat dengan ibunya yang ada di gunung Gantara


Fatahillah berdiri dan duduk mengambil tempat di samping Gara. ia merangkul pundak adiknya itu sembari mengelus dengan pelan.


"kamu merindukan ibumu yang ada di gunung Gantara...?"


"aku ingin sekali bertemu lagi dengan ibu. aku datang ke sini karena memang mempunyai urusan, aku datang menghadiri pernikahan temanku di kota X, namun ternyata keluarnya aku dari gunung Gantara membuat ayah mengambil kesempatan untuk membunuhku"


"apa selama ini juga ayahmu baik padamu...?"


"mungkin baiknya dia karena sedang mengincar sesuatu dariku"


"tenangkan dirimu, sekarang kamu aman di sini. ayo kita keluar, biarkan ibu istirahat di sini"


"tapi bagaimana kalau ibu mencari kita...?"


"tidak apa-apa, nanti aku datang lagi untuk melihatnya. ayo, akan aku perkenalkan kamu kepada mereka yang belum tau tentang dirimu"


Gara sekali lagi melihat wajah ibunya, karena ibu Laila yang masih menutup mata maka dari itu dia bangkit dan mengikuti langkah kaki Fatahillah untuk keluar dari kamar. di ruang tengah, semua orang telah berkumpul melanjutkan pembungkusan hadiah untuk para santri. kedatangan Fatahillah dan Gara, membuat semua orang melihat ke arah mereka.


"jadi kalian kembar ya...?" tanya ibu Afifah. mereka telah mengetahuinya karena Hasan dan yang lainnya menceritakan kepada mereka


"iya bu, kami kembar. dia Muhammad Farhan Hamid, adik saya"


"masya Allah, bagai pinang dibelah dua kalian mirip sekali" ibu Rosida menatap keduanya


"bagaimana dengan ibumu...?" tanya pak Umar


"masih belum sadar pak, ibu mungkin hanya kaget saja melihat Farhan" jawab Fatahillah


"bukan hanya ibu Laila yang kaget, kami semua juga kaget mas. nggak ternyata kalau mas Fatah punya kembaran, masya Allah banget. pantas saja ibu Laila pingsan" Maryam menimpali


"iya, kalau mbak Zelina tau pasti bingung dia membedakan kalian berdua" timpal Ali


"mbak Zelina sudah tau paman" ucap Akmal


"lalu...?"


"yaaa mana ku tempel" Akmal mengangkat bahu "mungkin mbak Zelin mau dua-duanya"


plaaaak


"aww... sakit paman" Akmal meringis karena Ali memukul pahanya "ini sih namanya kekerasan dalam kekeluargaan" celetuknya dengan bibir cemberut


"sini itu mulut, aku sumbat pakai kertas" Ali begitu gemas melihat tingkah keponakannya itu, ingin sekali ia jitak kepalanya


"jahat banget, bu.... lihatlah paman Ali kdrt sama aku" Akmal merengek


"pukul saja pantatnya Li, sekalian gantung di jemuran" ucap ibu Afifah


"jahatnyaaaaa" Akmal semakin kesal


semua orang hanya menggeleng kepala dan tertawa kecil, mereka sudah tau bagaimana karakter anak muda itu. pecicilan dan tengilnya luar biasa.


"paman Odir kemana, sejak tadi aku tidak melihatnya" tanya Hasan, memang sejak tadi Hasan mencari kebenaran pak Odir namun sampai sekarang ia tidak melihat laki-laki baya itu


"Allah, sampai lupa memberitahu kamu San. paman kamu pulang ke kota Y, anaknya kecelakaan dan sekarang sedang dirawat di rumah sakit" ibu Rosida memberitahu


"subhanallah" tentu saja Hasan kaget, dengan segera ia menjauh dari tempat itu untuk menghubungi pak Odir


Fatahillah kembali bangkit dan masuk ke dalam kamar ibunya, rupanya ibu Laila baru saja sadar dan hendak bangun dari pembaringan.


"ibu sudah sadar...?" gembira hati Fatahillah melihat ibunya kini telah siuman"


"Firdaus" ibu Laila mengulurkan tangan, segera Fatahillah meraih tangan yang mulai keriput itu


"sepertinya tadi ibu bermimpi" ucap ibu Laila "ibu bermimpi kamu pulang namun ternyata kamu benar-benar pulang nak. namun dalam mimpi ibu, kamu....kamu bersama"


"itu bukan mimpi bu, semuanya adalah nyata"


"nyata...?"


"iya" Fatahillah mengangguk "semuanya bukan mimpi. aku memang datang bersama anak ibu yang satunya, Muhammad Farhan Hamid, dia di sini bersama kita sekarang" Fatahillah tersenyum


"tidak mungkin nak, Farhan sudah... sudah"


"assalamualaikum"


keduanya menoleh ke arah pintu saat seseorang mengucapkan salam. di sana, Gara diam berdiri melihat ke arah ibunya yang kini nampak tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


"ya Allah, b-bagaimana.... b-bagaimana bisa" seketika mata ibu Laila nampak berkaca-kaca


Fatahillah memanggil Gara dengan melambaikan tangan. Gara mendekat pelan dan berhenti di depan keduanya.


"assalamualaikum bu, ini aku Farhan" Gara duduk berjongkok di depan ibu Laila, ia menggenggam tangan ibu Laila yang kini terasa hangat baginya


"bagaimana bisa...?" air mata ibu Laila sudah jatuh membasahi wajahnya


Gara membuka kancing bajunya, ia memperlihatkan tanda lahir yang ada di dada sebelah kanannya. saat itu juga Laila tidak dapat menahan tangisnya. di peluknya Gara dengan erat, diciumi seluruh wajah anaknya itu, ibu Laila histeris menangis bahagia anaknya kembali kepadanya.


"Allahuakbar ya Allah, ya Allah anakku, ya Allah anakku"


sungguh melihat ibunya begitu bahagia bertemu Gara, Fatahillah menitikkan air mata. perpisahan seorang anak dan seorang ibu yang berpuluh tahun terpisah, kini dengan izin Allah mereka dipertemukan kembali.


Gara pun tidak dapat menahan air matanya. di peluknya ibunya dengan erat, tangisan ibu Laila semakin membuat hatinya perih. betapa tersiksanya ibunya saat kehilangan dirinya dan juga Fatahillah.


"terimakasih ya Allah, terimakasih telah mengembalikan anakku, terimakasih" dengan sujud syukur, ibu Laila mencium lantai begitu berterimakasih kepada sang pencipta telah mempertemukan dengan kedua anaknya.


ia peluk kedua putranya itu, begitu bahagia hatinya sekarang ini. mereka yang ternyata sudah masuk ke dalam kamar, ikut terharu melihat pertemuan itu. Akmal bahkan melap ingusnya di lengan baju Alex.


"ish Mal, jorok banget sih" Alex mendorong kesal kepala Akmal


"aku pinjam sebentar loh mas, pelit amat"


"itu ingus kamu bodoh, iya kali kamu lap di baju aku" Alex kembali mendorong kepala Akmal saat pemuda itu hendak melap ingusnya lagi


"ayo keluar, biarkan mereka bertiga melepas rindu" ajak ibu Afifah


semuanya mengangguk dan keluar dari kamar itu, bagaimanapun momen haru itu tidak ingin mereka rusak dengan kehadiran mereka.


dengan lembut ibu Laila menatap kedua putranya. perjuangan mengandung dan melahirkan kedua putranya yang kembar bukanlah hal yang mudah. nyawa dipertaruhkan bagi seorang wanita hanya untuk melahirkan putra putri mereka ke dunia. rasa sakit tiada tara ditahan dengan menahan suara bahkan menggigit bibir. namun sakit itu berganti dengan kebahagiaan saat mendengar suara tangis bayi yang baru saja dilahirkan.


"jangan nangis lagi bu" Gara dengan lembut menghapus air mata ibunya


"ibu bahagia nak, bahagia bisa melihat kalian berdua lagi. sungguh ibu benar-benar bahagia" ibu Laila mencium tangan Gara


Gara mencium kening ibunya, perasaan sayang tumbuh begitu saja saat melihat ibu Laila. ikatan batin antara anak dan ibu memang tidak bisa dibohongi. bahkan Gara saat itu bersimpuh dan mencium kedua kaki ibunya. Fatahillah terharu, adiknya itu ternyata begitu memuliakan orang tua.


"bu, mungkin kami tidak akan lama di sini. ada perjuangan yang harus kami lakukan. sebelum kami pergi, izinkan kami berdua mencuci kaki ibu ya" ucap Fatahillah


"tapi tetap saja, aku ingin mencuci kedua kaki ibu" pinta Gara, Fatahillah mengangguk dan akhirnya ibu Laila mengangguk menyetujui


kini ibu Laila telah duduk di kursi, kedua putranya duduk di lantai dan mencuci kakinya dengan air yang telah mereka sediakan. setelah mencuci kaki ibu mereka, kaki ibu Laila di lap dengan handuk kecil agar cepat kering.


"semoga Allah selalu meridhoi dan melindungi kalian berdua" doa ibu Laila


"aamiin" keduanya mengaminkan


malam hari setelah makan malam, Fatahillah bersama pemuda lainnya berkumpul di teras rumah. mereka mulai membicarakan rencana untuk pergi ke gunung Gantara.


"apa perlu kita menyamar...?" ucap Akmal


"sepertinya tidak perlu, lagipula orang-orang disana belum mengenal kita juga kan" timpal Alex


"tapi orang-orang kemarin sudah mengenal kita loh mas, kalau pergi tanpa penyamaran bisa-bisa belum beraksi sudah ditangkap"


"orang-orang tadi itu sepertinya bukan orang di gunung Gantara, mereka suruhan ayah di sini. jadi tidak masalah kalau kalian pergi tanpa penyamaran" ucap Gara


"jadi kapan kita akan berangkat...?" tanya Alex


"lebih cepat lebih baik, lagipula Gara sudah bertemu dengan ibu dan juga dia harus kembali ke gunung Sangiran untuk diobati" timpal Fatahillah


"apa perlu aku ikut bersama kalian saja...?" ucap Gara


"sembuhkan dirimu dulu setelah itu barulah kembali ke sana. bagaimanapun kamu harus sembuh untuk membantu Fatahillah menyelamatkan ayah kalian" timpal Hasan


"Hasan benar, kamu harus sembuh terlebih dahulu" ucap Fatahillah


"baiklah, tapi sebelum itu kamu harus mengenal siapa saja yang berinteraksi denganku di gunung Gantara" Gara mengambil ponselnya dan memperlihatkan beberapa foto yang ada di benda pipih itu


"ini adalah ayahku, lebih tepatnya ayah angkat. Gandha Sukandar namanya" sebuah foto Gara perlihatkan kepada mereka


laki-laki baya yang terlihat masih muda, terdapat bekas luka di wajah sebelah kirinya dan juga ada tato bintang di punggung tangan kanannya.


"dia awet muda ya, harusnya kalau sudah punya anak dewasa jelas umurnya sudah semakin menua kan" ucap Akmal


"tidak semua orang seperti itu Mal, apalagi kalau punya uang banyak" timpal Aji Wiguna


Gara menggeser layar ponselnya hingga muncul gambar yang lain. "dia adalah kakek Samsir" ucapnya


laki-laki yang sudah berumur tua, menggunakan tongkat sedang duduk di sofa bersama seorang wanita yang berumur sama dengan Samsir Sukandar.


"ini pasti istrinya ya" tunjuk Fatahillah


"iya, dia adalah nenekku, nenek Aminah yang sudah meninggal" jawab Gara


"innalilahi wa innailaihi Raji'un" gumam Fatahillah


"lalu ini adalah adikku satu-satunya namanya adalah Genta. sekarang ini dia masih duduk di kelas tiga SMA"


"apakah dia baik padamu...?" tanya Hasan


"dia sangat manja padaku, sejak kecil memang seperti itu" sudut bibir Gara tertarik membentuk senyuman saat melihat foto adiknya yang sedang mengenakan pakaian olahraga dan memegang bola basket "dia sering aku panggil Tanta karena dari kecil nama panggilannya seperti itu. jika kamu bertemu dengannya jangan kaget kalau dia akan begitu manja padamu"


"aku akan senang bertemu dengannya nanti sebab sejak dulu aku tidak mempunyai seorang adik laki-laki selain Zulaikha" ucap Fatahillah


"Zulaikha itu siapa...?" Gara mendongak meminta jawaban


"anak dari adik ibuku di kota S. jika kamu kembali dari gunung Sangiran nanti, akan aku perkenalkan kamu pada mereka semua"


"baiklah" kepala Gara manggut-manggut " sekarang yang ini adalah ibuku di gunung Gantara"


wanita yang masih terlihat begitu cantik, sedang mengapit seorang pemuda yang tidak lain adalah Gara sendiri. menggunakan gaun cantik sampai mata kaki, wanita itu tersenyum manis ke arah kamera.


"cantik sekali ibumu mas, dia masih terlihat seperti anak muda" Akmal berdecak kagum


"umur ayah dan ibu terpaut jauh. saat mereka menikah ibu masih begitu muda"


"ooh pantas saja" ucap Aji Wiguna


"kemudian yang ini adalah Samuel, dia yang selalu membantu aku mengerjakan apapun urusan di perusahaan dan juga untuk masyarakat gunung Gantara" Gara memperlihatkan foto berikutnya


"terus siapa yang bersamanya ini...?" tanya Fatahillah


"itu adiknya, namanya Jeni. dia masih jomblo loh mas"


"aku sudah punya kakak iparmu, dia lebih dari yang namanya Jeni itu" Fatahillah menarik kepala untuk tidak lagi melihat


"cantik ya" ucap Alex tanpa sadar


"kamu suka Al...?" Aji Wiguna mengangkat alis


"aku hanya bilang cantik loh, bukan bilang suka" Alex mencebik


"biasanya ya dari mata turun ke hati langsung ke jantung, belok ke ginjal turun ke usus" Akmal bicara


"ngapain juga harus sejauh itu Mal. tembak saja langsung ke hatinya kan sudah, beres urusan" timpal Hasan


"ya jangan ditembak lah mas, kasian anak orang. kalau diikat baru boleh"


"ngapain ikat anak orang Mal" ucap Fatahillah


"yaaa mengikat dia dalam ikatan pernikahan mas"


"idiiiiih... emang mata keranjang lah kamu ini" Fatahillah menyoyor kepala Akmal


Akmal hanya cengengesan, bukan dirinya mata keranjang namun memang sikapnya yang sudah seperti itu. jikalau kaum hawa yang mudah baper sudah pasti mereka akan berpikir kalau Akmal menyukai mereka padahal pemuda itu kadang hanya mengeluarkan kata-kata puitis untuk mencairkan suasana saja.


Gara telah memberitahukan semua orang-orang terdekatnya kepada mereka semua dan kini tinggal menentukan kepastian untuk berangkat ke tempat itu.


"jadi kapan kita pergi...?" tanya Aji Wiguna


"bagaimana kalau lusa, aku baru saja sehari di sini. aku ingin besok menghabiskan waktu bersama ibu sebelum kembali ke gunung Sangiran" usul Gara


"baiklah, lusa kita akan berangkat ke gunung Gantara" ucap Fatahillah


semua orang sepakat untuk berangkat lusa. cerita mereka terus mengalir sampai tidak terasa sudah memasuki waktu larut malam. semuanya masuk ke dalam rumah untuk istirahat. dengan menggelar karpet di ruang tengah, mereka tidur di depan televisi.


Akmal membuka ponselnya dan melihat banyak panggilan dari Nagita. wanita itu juga mengirimkan pesan kepadanya.


Nagita : apa sekarang kamu menghindariku Mal...? kenapa tidak kamu angkat panggilanku


Nagita : Mal, aku ingin memberikan jawaban atas pertanyaan yang kamu berikan kemarin


Nagita : apa kamu tidak butuh jawabanku lagi...?


Nagita : angkat telponku


Akmal hanya menghela nafas membaca pesan wanita itu yang berniat untuk memberikan jawaban, lagipula semuanya sudah terlambat. itulah yang ada di pikiran Akmal sekarang. dia tidak ingin merusak hubungan orang lain, namun dirinya juga tentu tidak bisa menjauh dari Nagita sebab selama ini hubungan mereka baik-baik saja sejak dulu saat Ali masih berhubungan dengan Suci Wulandari.


"huufffttt...kenapa kisahku serumit ini sih" dengan menghela nafas ia mengacak rambutnya


karena sudah larut malam, ia pun tidak berniat untuk membalas pesan Nagita. biarlah nanti jika wanita itu mengirimkan lagi pesan padanya baru dirinya akan membalas pesannya. terbayang wajah Nagita yang sempat ia peluk di rumah sakit, hal itu semakin membuat Akmal merasa kecewa.


"tidur sajalah, biarkanlah jodohku Tuhan yang memilihkan. kalau dia bukan jodohku maka aku akan berusaha ikhlas. tapi kalau bisa.... apa tidak sebaiknya dipikir-pikir lagi Tuhan" ucapnya kemudian menutup dirinya dengan selimut yang ada


______________________________________


catatan :


masya Allah, kemarin ada yang membuatkan aku caver untuk profil akun. terimakasih banyak untuk kamu, semoga sehat selalu dan semakin sukses.


terimakasih banyak-banyak, tumpah-tumpah, lumer-lumer untuk kalian yang tetap setia membaca cerita Fatahillah. aku tanpa kalian tentunya nggak ada apa-apanya.


sukses selalu untuk kalian semua ya. meski tidak saling mengenal wajah satu sama lain namun semoga kita dapat berhubungan dengan baik. saling menyemangati dan memberikan komentar yang membangun semangat.


kemarin aku lihat di cerita yang lain ada yang komen mengira kalau aku abang 😂😂😂, asli aku sampai tertawa.


aku Eneng cantik ya....bukan Abang ganteng 😁😁😊🤭🤭


sehat selalu untuk kalian semua....