Fatahillah

Fatahillah
Bab 69



Yusuf yang baru saja menghubungi Fatahillah mulai merasa lega setelah menghubungi sahabatnya itu. setidaknya, Anisa masih ada yang sayang kepadanya selain dirinya yang akan menjadi suaminya nanti.


ia melihat jam tangannya, sudah masuk sholat dzuhur. rencananya setelah itu dirinya akan menghubungi Anisa, tapi setelah ia menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim. segera ia sholat dzuhur di ruangannya, karena di dalam disediakan tempat untuk sholat dan juga berwudhu.


di dalam doanya, ia mengucapkan rasa syukur begitu banyak kepada sang pencipta karena kini dirinya dipermudahkan untuk meminang wanita yang selama ini hanya ia cintai dalam diam. tapi sekarang, cinta itu terbalaskan meskipun harus berusaha lagi untuk mengunci hati wanita agar hanya dirinya yang dicintai.


pukul 14.00, Yusuf akan mengunjungi pasiennya. itulah pekerjaan mereka sebagai seorang dokter. punya tanggung jawab moril kepada setiap pasien yang mereka tangani. dengan wajah yang berseri dan senyum yang terus menghiasi bibir, Yusuf melangkah menyusuri kamar demi kamar pasien.


Anisa yang baru saja keluar dari kamar pasiennya melihat Yusuf sedang berbelok ke salah satu lorong rumah sakit. ia ingin berteriak namun Yusuf lebih dulu menghilang sehingga dirinya hanya mengirimkan pesan untuk calon suaminya itu.


Yusuf masuk ke salah satu ruangan yang dimana seorang remaja di rawat di tempat itu. kedua orang tua gadis itu sedang menemani di dalam mengajak cerita anak mereka.


"assalamualaikum" sapa Yusuf dengan ramah


"wa alaikumsalam dokter" ketiganya membalas salam dengan senyuman


Yusuf melangkah mendekat untuk bisa lebih menjangkau pasiennya.


"bagaimana keadaannya sekarang Yunita...?" tanya Yusuf dengan ramah


"masih lemas dok" Yunita menjawab dengan pelan


kantung infus yang berisi cairan merah sisa sedikit lagi akan habis. Yusuf memeriksa denyut jantung, dan juga tekanan darah gadis itu untuk memastikan apakah sudah stabil atau belum.


pertama kali dibawa di rumah sakit, Yunita kehilangan banyak darah. pergelangan tangannya diiris, mungkin gadis itu akan bunuh diri namun sekarang Tuhan masih menyelamatkan nyawanya.


kembali Yusuf mengganti kantung infus yang isinya sudah habis dengan kantung infus yang baru.


"apa masih perlu ditambah lagi dokter...?" tanya ibu dari Yunita


"tekanan darahnya belum normal bu, setidaknya kalau bukan dua kantung darah mungkin tiga. tapi kita akan terus pantau perkembangannya. apakah masih merasakan pusing Yunita...?" Yusuf bertanya lembut kepada gadis yang terbaring lemah di atas ranjangnya


"masih dok, kepalaku pusing sekali. kalau bangun keadaan berputar seperti gasing"


"sudah minum obat...?"


"belum dokter"


"kalau begitu makan dulu setelah itu baru minum obat. jika obat kemarin tidak bereaksi maka saya akan resepkan obat yang lain. nanti akan ada suster yang membawa obatnya ke sini dan juga makanannya"


"terimakasih banyak dokter" ayah dari Yunita menimpali


"sama-sama pak. kalau begitu saya permisi" Yusuf tersenyum ramah


baru membalikkan badan, suara Yunita membuat menghentikan Yusuf dan kembali berbalik.


"Apak kamu bilang...?" Yusuf ingin memperjelas apa yang ia dengar


"apakah temanku bisa diselamatkan...? kemarin kami masuk bersama-sama, dia juga sama sepertiku. laki-laki itu mengiris pergelangan tangan kami dan menampung darah kami"


"jadi gadis yang bernama Amelia itu adalah trmanmu...?" tanya Yusuf


"ia dok, bagaimana keadaannya. dia baik-baik saja kan...? Yunita terlihat mengkhawatirkan temannya


Yusuf menghela nafas dan memberitahu mereka kalau gadis yang bernama Amelia masih dalam keadaan kritis dan belum sadarkan diri. bahkan keluarganya pun tidak ada yang datang untuk menjenguknya.


"Amelia bisa diselamatkan kan dok...? tolong selamat Amelia, kasian neneknya kalau tau dia kenapa-kenapa. ini semua salahku harusnya aku tidak membujuk Amelia untuk mengikuti laki-laki itu yang mengatakan akan memberikan kami uang banyak jika bekerja dengannya" Yunita mulai menangis


"sudah nak, kan ada bapak sama ibu yang akan menjaga Amelia. neneknya tidak usah diberitahu dulu, ibu akan mengatakan padanya


"laki-laki siapa yang kamu maksud...?" tanya Yusuf


"saya tidak tau namanya, tapi....dia bekerja kepada seorang perempuan yang sangat cantik tapi menakutkan. mereka mengambil darah kami. bukan hanya kami berdua, ada banyak gadis yang seumuran kami waktu itu. yang saya dengar kami akan dibunuh setelah darah kami diambil. dengan memaksakan diri saya dan Amelia melarikan diri walaupun sudah tidak sanggup untuk berlari. bukan uang yang kami dapatkan melainkan kami akan dibunuh"


"saya sebenarnya ingin melaporkan hal ini kepada polisi tapi sepertinya akan sulit karena Yunita tidak mengingat bagaimana rupa laki-laki itu dan juga alamat rumah besar tempat mereka disekap" ayah Yunita menimpali


Yusuf tidak habis pikir ternyata selain perdagangan manusia, ada juga manusia bejad seperti itu.


"apa kamu tidak mendengar mungkin laki-laki itu menyebut nama atau wanita itu memanggil laki-laki itu dengan sebutan nama apa...?"


"tidak dokter. tapi Amelia sempat mengatakan kepada saya kalau dia tau nama wanita itu. andai Amelia sudah sadar.. mungkin kita bisa bertanya padanya. wanita itu cantik tapi berhati iblis. dia... meminum darah kami"


"meminum darah...?" Yusuf sulit percaya dengan apa yang ia dengar


"aw...kepalaku sakit bu" Yunita meringis menahan sakit


Yusuf mulai cekatan memeriksa Yunita setelahnya ia menyutikkan obat pereda rasa sakit agar Yunita tidak teriak kesakitan dan tidak lama gadis itu tertidur.


"saya keluar dulu pak, bu. obatnya akan dibawa suster"


"terimakasih dokter. apakah kami bisa melihat Amelia di kamar rawatnya...?"


"tentu saja boleh bu"


Yusuf keluar kemudian menuju ke apotek rumah sakit. ia menuliskan resep obat di sana dan menyuruh seorang suster untuk membawa obat itu di kamar Yunita. ia merogoh ponsel untuk menghubungi Anisa menanyakan keberadaan wanita itu. senyuman terukir di bibirnya saat ia mendapatkan pesan dari Anisa. segera ia menghubungi wanita itu.


(kamu dimana...?)


(tepat dibelakang mu)


Yusuf berbalik dan benar saja, Anisa sedang tersenyum manis ke arahnya. ia pun mematikan panggilan dan mendekati Anisa.


"sudah selesai melakukan operasi...?"


"sudah, sekitar 30 menit yang lalu"


"kalau begitu setelah ini kamu ikut aku ya"


"kemana...?"


"ke hatimu" Yusuf mengerling nakal


karena gemas, Anisa memukul lengan Yusuf. ia merasa malu takut dilihat orang karena melihat kemesraan mereka.


"ayo" Yusuf menggenggam tangan Anisa


"jangan seperti ini, nanti kalau ada yang lihat bagaimana...?" Anisa panik


"memangnya kenapa, lagipula kita kan hanya berpegangan tangan. sejak tadi juga kita sudah dilihat orang"


tanpa peduli beberapa suster dan orang-orang yang lalu lalang memperhatikan mereka, Yusuf menarik tangan Yusuf menuju ke ruangannya. di sana ia dudukkan Anisa di sofa dan dirinya melepas jas putih yang ia kenakan.


"kita ke bandara ya jemput orang tua aku" Yusuf mendaratkan bokongnya di sofa dekat Anisa


"mereka mau datang...?"


Yusuf mengangguk dan mengambil tangan Anisa menyimpannya di atas pahanya.


"aku sudah memberitahu mereka tentang hubungan kita. besok aku akan melamar kamu secara resmi bersama orang tua aku"


"besok...? secepat itu...?" Anisa kaget dengan rencana Yusuf


"kenapa...? bukannya kamu yang mengajak menikah"


"ya iya. tapi kenapa mendadak sekali bahkan kamu tidak memberitahuku terlebih dahulu. aku kan belum membeli baju yang akan aku gunakan untuk besok terus aku belum mempersiapkan semuanya"


"hei tenang lah dulu" Yusuf memegang kedua bahu Anisa "Fatahillah akan memberitahu bibi Khadijah dan bibi Fatimah. mereka akan mengurus semuanya. kamu tidak perlu cemas" Yusuf memperbaiki anak rambut Anisa yang menghalangi wajahnya


"andai ayah sama ibu masih ada" raut wajah Anisa memperlihatkan kesedihan


"sekarang ada aku, jangan sedih lagi. kita kan mau menikah, masa pengantin wanitanya bersedih terus" Yusuf membelai lembut wajah Anisa


"aku hanya ingin mereka melihat aku menikah tapi ternyata takdir berkata lain"


melihat kesedihan kekasihnya, Yusuf menarik Anisa dan memeluknya. ia mengusap lembut punggung wanita itu memberikan ketenangan agar lebih rileks mengontrol kesedihannya.


Anisa mengangguk dan tersenyum, Yusuf mencium pucuk kepala Anisa sebelum akhirnya mereka keluar dari ruangan untuk menuju ke parkiran.


di rumah ibu Fatimah, kini nampak mulai ramai. Zulaikha dan Meqianti sedang mengerjakan tugas mereka dibantu oleh Akmal sementara Arjuna sedang menonton film barat di ponsel miliknya.


Fatahillah berada di halaman belakang rumah bersama dengan ibu Khadijah dan ibu Fatimah, Zelina dan juga Najwa. setelah makan siang, mereka mengademkan diri di halaman belakang rumah dimana banyak pohon-pohon yang menaungi.


"jadi Yusuf akan melamar Anisa besok...?" tanya bibi Fatimah


"iya bi, hari ini orang tua Yusuf akan datang. mungkin sekarang dia sudah pergi menjemput mereka di bandara" jawab Fatahillah


"kalau begitu kita harus menyiapkan segala sesuatunya untuk menyambut kedatangan mereka. bagaimana kalau kita membuat kue untuk acara lamaran besok" ucap ibu Khadijah


"begini bi, sebenarnya ada yang ingin Fatah sampaikan" ucap Fatahillah


"oh iya, kamu memang bilang begitu tadi pagi. memangnya apa yang ingin kamu katakan...?" tanya ibu Fatimah


"bagaimana kalau pernikahan Yusuf dan Anisa bersamaan saja dengan pernikahan Zulaikha dan Fauzan. setidaknya dengan mereka menikah, ada yang akan menjaga kalian jika nanti aku dan ibu kembali ke kota B. Fauzan lebih leluasa untuk menjaga Zulaikha juga bibi. Fatah tidak ingin meninggalkan kalian begitu saja tanpa seseorang yang dapat melindungi kalian bi"


"Zulaikha kan masih sekolah mas" ucap Zelina


"tapi tidak lama lagi kan dia akan ujian dan pelulusan. menikah secara sederhana saja dan hanya keluarga kita yang tau. dengan begitu kita bisa kembali ke kota B dengan tenang sayang" Fatahillah menatap lembut Zelina


"memangnya mbak Hanum belum sembuh ya mas...?" tanya Najwa


"Alhamdulillah sudah Na, sekarang dia sudah pulih. tapi kami kembali ke kota B karena ada urusan lain" Zelina menjawab dan Najwa manggut-manggut


ibu Fatimah saling tatap dengan ibu Khadijah, dia meminta pendapat kakaknya itu.


"bicarakan dulu dengan Ilham Imah, bagaimanapun dia harus tau" ibu Khadijah memberikan solusi


"kalau begitu kita hubungi Ilham sekarang saja. kalau dia setuju, berarti tinggal membicarakan hal ini dengan Zulaikha dan Fauzan"


"iya bi, nanti saya yang akan menghubungi Fauzan untuk ke sini" ucap Fatahillah


ibu Fatimah bergegas meninggalkan mereka untuk masuk ke dalam rumah karena ponselnya ada dikamar.


"kue apa yang akan kita buat untuk acara besok...?" tanya ibu Khadijah


"kita pesan saja bu tidak usah buat, ibu jangan capek-capek" Zelina membelai lengan mertuanya


ibu Khadijah tersenyum lembut dan memegang tangan Zelina.


"ibu tidak sabar menunggu kehadiran cucu dari kalian"


seketika wajah Zelina bersemu merah, jika tidak menggunakan cadar maka sudah pasti pipinya akan terlihat seperti kepiting rebus.


"doakan saja bu, semoga secepatnya" Fatahillah mengerlingkan mata membuat Zelina mencubit pahanya dengan gemas


"sakit sayang" Fatahillah mengelus pahanya


"lebai" Zelina mencibir dan hal itu membuat ibu Khadijah dan Najwa tertawa


tidak lama ibu Fatimah kembali lagi dan bergabung bersama mereka.


"bagaimana bi...?" tanya Zelina


"Ilham setuju, katanya lebih cepat lebih baik. sekarang tinggal berbicara dengan Zulaikha dan Fauzan" jawab ibu Fatimah


Fatahillah mulai menghubungi Fauzan, pemuda itu masih berada di kantor. setelah mendengar apa yang Fatahillah bicarakan, Fauzan langsung mengiyakan untuk datang ke rumah sore hari nantinya karena masih ada pekerjaan yang harus diselesaikannya.


"bagaimana Fatah...?" tanya ibu Khadijah setelah Fatahillah selesai menghubungi Fauzan


"Fauzan akan ke sini sore hari bu, sebaiknya sekarang kita bicara dengan Zulaikha" jawab Fatahillah


mereka setuju dan beranjak dari tempat duduk untuk masuk ke dalam rumah. di ruang tengah, tinggallah Zulaikha, Akmal dan Arjuna sementara Meqianti telah pulang.


"mbak...kapan aku bisa ke panti asuhan...?" tanya Arjuna


"sore nanti kita akan ke sana untuk melihatnya" Zelina menjawab


"aku ikut ya mbak, pengen jalan-jalan juga" ucap Najwa


"iya, kamu dan Akmal tentunya harus ikut" ujar Zelina


kini ibu Fatimah memegang kedua tangan anaknya. ia kemudian mengutarakan keputusan yang telah mereka ambil tadi.


"kenapa mendadak seperti ini bu, bukannya menunggu Icha lulus sekolah dulu" ucap Zulaikha


"semuanya demi kebaikan dan keamanan kalian Icha. mas dan ibu harus kembali ke kota B, jika kamu sudah menikah dengan Fauzan maka mas tidak ragu lagi untuk meninggalkan kalian" timpal Fatahillah


"tapi Icha masih sekolah mas, nanti kalau pihak sekolah tau Icha bisa dikeluarkan"


"pernikahannya kita adakan sederhana dan hanya keluarga saja yang hadir" ucap ibu Fatimah


"lalu bagaimana dengan mas Fauzan...?" tanya Zulaikha


"sore hari dia akan kesini untuk memperjelas semuanya. sekarang kami butuh jawaban mu kamu mau atau tidak"


Zulaikha menatap ibunya, ibu Fatimah tersenyum dan membelai lembut lengan anaknya itu.


"baiklah, Icha mau" Zulaikha memberikan jawaban


"Alhamdulillah" semuanya mengucapkan syukur


setelah sholat ashar, Fatahillah bersama istrinya juga Najwa, Arjuna dan Akmal akan berkunjung ke rumah utama untuk melihat kesiapan rumah yang akan dijadikan panti asuhan. Fatahillah yang menyetir sedang Zelina tentu saja duduk disampingnya. Akmal dan Najwa di kabin tengah sementara Arjuna di belakang.


sesekali Fatahillah menggenggam tangan Zelina, rasanya enggan untuk melepaskan tangan istrinya itu membuat Akmal mencibir di kabin tengah.


"bucin juga harus kenal tempat kali mas. kalau kita masuk got bagaimana" ucap Akmal


"kecuali mataku aku tutup Mal baru kita masuk got. bilang saja kamu iri" Fatahillah mengejek


"jangan membuat kejombloanku meronta-ronta ya mas, takutkanya nanti aku main terkam" Akmal melirik Najwa yang sedang memperhatikan keadaan di luar jendela mobil


"jangan main-main ya Mal, anak orang itu" Fatahillah memperhatikan di spion gantung


"idih....siapa juga yang main-main. dari tadi aku duduk anteng ya. kecuali Najwa ajak aku main baru aku mau main"


"kenapa malah bawa-bawa aku...?" Najwa menarik kepala dan melihat ke arah Akmal


"nggak...kamu cantik" ucap Akmal membuat Najwa malu-malu


"mas Akmal mulai nakal" ujar Arjuna di kabin belakang


"lah, nyahut juga nih bocah" Akmal memutar kepala untuk melihat Arjuna sementara Arjuna tersenyum menaik turunkan alisnya


Zelina hanya geleng kepala dan tersenyum dibalik cadarnya. Fatahillah kembali menggenggam tangan Zelina dan lagi-lagi mengerlingkan mata dengan genit. Zelina memukul dada Fatahillah membuat suaminya itu meringis sakit.


"kenapa...?" Zelina panik


"tidak...tidak kenapa-kenapa sayang" Fatahillah menggeleng. dia tidak ingin mengatakan yang sebenarnya kalau dadanya terluka.


sebenarnya setelah pulang tadi ia akan mengobati lukanya namun ternyata melihat kedatangan istrinya membuat Fatahillah lupa dengan tujuan awalnya.


"benaran tidak apa-apa...?" tanya Zelina


"iya sayang" Fatahillah tersenyum agar Zelina tidak lagi khawatir


perjalanan mereka yang memakan waktu kini mobil putih itu berhenti di halaman rumah mewah tersebut. tepat saat mereka keluar maka saat itu juga seseorang memanggil Zelina.


"Zelina"


Zelina berbalik untuk melihat siapa yang memanggilnya. dua wanita datang menghampirinya, mereka adalah ibu Arum dan Andini.