Fatahillah

Fatahillah
Bab 23



pukul 14.00, masih tersisa satu jam lagi menuju waktu ashar dan tersisa tiga jam lagi dimana Hanum akan bangun dari tidurnya. untungnya tadi guru memberitahuku apa yang akan aku lakukan saat Hanum bangun nanti sehingga diriku tidak lagi kerepotan mencari cara untuk membuat Hanum tidak lagi memberontak.


"mas, kalau kamu capek biar aku yang menyetir" ucap Zelina


istriku ini memang sangat pengertian sekali. tapi aku belum begitu lelah, jadi masih bisa untuk terus menyetir.


"tidak, aku tidak capek sama sekali. sebentar lagi ashar, sebaiknya kita mencari tempat untuk istrahat malam ini" ucap ku melihat ke arahnya dan tersenyum


jam 17.00 itu adalah waktu dimana Hanum akan bangun. kami harus sudah mendapatkan tempat untuk menginap sebelum tiba dimasa waktu itu.


"ada penginapan namun masih jauh, mungkin sekitar lima kilo lagi. kalau dibagian dekat sini tidak ada" Zelina melihat di layar ponselnya


"apa tidak ada hotel...?" tanya ibu Rosida


"kalau hotel lebih jauh lagi bu. lebih baik kita ambil penginapan ini saja, mungkin setelah kita tiba sudah melewati waktu ashar" jawab Zelina


"yang mana baiknya saja. Fatah juga pasti kelelahan seharian menyetir mobil. besok biar saya saja yang menyetir" ucap pak Umar


"tidak apa-apa pak, saya tidak merasa lelah sama sekali" jawabku


langit yang tadinya cerah tiba-tiba saja menjadi mendung. perubahan cuaca ini menandakan bahwa sebentar lagi akan turun hujan.


"sepertinya akan turun hujan" ucap pak Umar


"iya pak, semoga saja kita bisa secepatnya sampai di penginapan" timpal ibu Rosida


matahari mulai tertutup dengan awan yang mulai gelap. bahkan suara Guntur pun mulai terdengar bersamaan dengan cahaya petir yang menyambar.


perasaanku mulai tidak enak, entahlah aku juga tidak tau kenapa aku merasakan hal semacam ini. aku terus beristighfar dalam hati, semoga yang Maha Kuasa melindungi kami dari segala marabahaya.


rintik-rintik hujan mulai turun dan perlahan semakin deras. hal itu membuat jarak penglihatan mulai kabur karena derasnya hujan.


jalanan yang tadinya lenggang kini mulai macet. bahkan klakson mobil saling bersahutan dan terdengar berisik di jalan raya.


Allah


kalau kami terjebak macet di sini, aku takut kami akan tetap di sini sampai jam 17.00, sementara diwaktu itu adalah waktu dimana Hanum akan bangun.


aku tidak bisa melihat mobil Hasan karena begitu derasnya hujan. apakah mereka tepat berada di belakang kami ataukah tertinggal jauh di belakang sana.


aku mulai gelisah terlebih lagi waktu sudah menunjukkan pukul 15.30. sudah melewati waktu ashar dan sebentar lagi akan menuju ke jam 16.00.


"kenapa mas...?" Zelina memegang lenganku


"aku tidak kenapa-kenapa" jawabku


aku sengaja berbohong agar pak Umar dan ibu Rosida tidak menjadi cemas seperti itu.


seakan tau aku merasakan kegelisahan, Zelina mengambil tangan kiriku dan menggenggam erat. aku tentu saja menoleh ke arahnya dimana dirinya sedang menatapku dengan lembut.


"serahkan semuanya kepada Allah, semuanya akan baik-baik saja. jika mas ragu, bagaimana DIA bisa menolong kita" ucap Zelina


aku mengangguk pelan. wanita yang baru saja dua hari menjadi istriku, kini dengan mudahnya dapat menenangkan hatiku yang sejak tadi gelisah dan tidak karuan.


benar apa yang dikatakan Zelina. bagaimana bisa Allah akan menolongku jika aku meragukan kekuaasan-Nya. kendatipun nanti aku yang akan berusaha, tapi pertolongan Allah datang begitu saja tanpa kita duga.


"ya Allah, kenapa malah macet parah seperti ini" ibu Rosida mengeluh


"pak coba hubungi Hasan, tanyakan bagaimana keadaan Hanum. ibu khawatir padanya" ucap ibu Rosida


"iya bu" jawab pak Umar


karena di depan mulai lenggang, aku pun dengan pelan kembali menjalankan mobil. masih begitu lambat karena jalan raya yang masih di penuhi dengan kendaraan untuk saling berebutan agar berada di depan kendaraan yang lain.


"halo San, bagaimana keadaan Hanum...?"


pak Umar mulai berbicara dengan Hasan. sedang aku tetap fokus ke depan meskipun perasaan gelisah tetap ada. bayangkan saja, sudah hampir satu jam kami terjebak macet dan sampai sekarang belum juga bisa terbebas dari kemacetan yang panjang ini.


"apakah mobil kalian berada di belakang mobil kami...?"


"oh ya sudah, hati-hati kamu menyetir mobil. aku tutup dulu"


"bagaimana pak...?" ibu Rosida langsung memberikan pertanyaan setelah pak Umar mematikan panggilannya


"Hanum masih tidur" jawab pak Umar


"syukurlah, ibu takutnya dia bangun dan mengamuk lagi" dari suara ibu Rosida aku dapat menangkap kalau wanita ini sudah merasa lega setelah mengetahui keadaan anaknya


namun mereka tidak tau saja, satu jam lagi Hanum akan bangun dan di saat itu juga dirinya pasti akan memberontak dan mengamuk. meskipun tubuhnya telah diikat namun yang namanya setan, pasti mempunyai segala macam cara untuk mengelabui manusia. aku khawatir Hasan dan pak Odir tidak bisa untuk mengatasi Hanum saat itu. apalagi diriku yang jauh dari mereka.


pukul 16.50, menjelang pergantian jam. mobil yang aku bawa telah terbebas dari macet. masih tersisa dua kilo lagi untuk sampai di penginapan yang akan kami tuju dan saat ini hujan belum juga berhenti untuk redah.


"pak tolong hubungi Hasan untuk segera menyusul kita" ucap ku setelah menghentikan mobil di pinggir jalan


"mereka pasti akan menyusul mas, sebaiknya kita cari masjid dulu untuk sholat ashar" ucap Zelina


"tidak bisa Zelin. Yusuf sengaja menidurkan Hanum agar kita tidak kesusahan membawanya ke dalam mobil dan waktu yang tersisa hanya 10 menit lagi. jika kita terlambat bisa-bisa Hasan dan pak Odir dalam bahaya. makhluk yang merasuki Hanum akan semakin marah dan bisa saja menyakiti Hasan dan pak Odir" aku menjawab dengan gelisah


"jadi karena itu tadi mas begitu cemas...?" tanya Zelina dan aku mengangguk


"akan saya hubungi" ucap pak Umar


pak Umar menghubungi Hasan beberapa kali namun tidak diangkat. akhirnya ia pun menghubungi pak Odir.


"halo pak kalian dimana...?" tanya pak Umar


berarti telepon pak Umar telah tersambung dengan pak Odir. pak Umar juga sengaja mengeraskan speaker ponselnya agar kami semua dapat mendengar.


"ban mobil kami pecah, sekarang Hasan masih mencari bengkel untuk memperbaikinya"


Allah


itu berarti mereka semakin jauh dari kami karena pasti mereka mengambil jalur yang lain. sementara sejak tadi saat berkendara aku tidak melihat satu bengkel pun di pinggir jalan.


"bengkel dimana pak...?" tanyaku yang semakin gelisah


"San, ini kita mau ke bengkel mana...?" aku mendengar pak Odir bertanya kepada Hasan


"belum tau paman masih mencari juga. bilang saja tadi ada pertigaan kita belok kiri" jawab Hasan


"pak beritahu Hasan hentikan mobilnya, tunggu kami di situ. ini darurat, pokoknya jangan pergi kemanapun sebelum kami sampai" aku menjawab dan langsung menyalakan kembali mobil yang kami kendarai kemudian berputar kembali menyusuri jalan yang tadi


"memangnya kenapa Fatah...?" tanya pak Odir


"berhenti saja pak. akan aku jelaskan nanti. kalau perlu bapak dan Hasan keluar dari mobil dan mencari tempat untuk berteduh. biarkan Hanum sendirian di dalam mobil" jawabku yang langsung tancap gas padahal jalan begitu licin namun aku tidak peduli. aku harus secepat sampai di tempat mereka


"baiklah" masih aku dengar suara pak Odir setelah itu hening tidak ada lagi suara


"apakah yang merasuki Hanum sekejam itu pak...?" tanya ibu Rosida


"namanya setan pasti akan melakukan cara untuk melukai siapapun yang berniat mengusiknya. Yusuf sudah membuatnya tertidur, pastinya dia akan sangat marah jika bangun nanti" aku yang menjawab pertanyaan ibu Rosida


"hati-hati mas, keselamatan kita juga lebih penting" Zelina mengingatkan aku


"maaf, tapi ini darurat" jawabku tanpa melihat ke arahnya


"di persimpangan di depan katanya belok kiri" ucap pak Umar


aku langsung mengambil jalur kiri setelah mendekat persimpangan yang dimaksud oleh pak Umar. mulai pelan ku lajukan mobil karena kami sedang mencari keberadaan pak Odir dan Hasan.


ku lihat jam tanganku, dua tiga menit lagi untuk mencapai jam 17.00. kami semua menajamkan penglihatan untuk melihat ke segala arah.


"kenapa mereka tidak ada...?" ucap ibu Rosida dengan panik


pak Umar kembali lagi menghubungi pak Odir karena Hasan sedang dalam keadaan menyetir maka dari itu akan berbahaya jika Hasan menyetir sambil menelpon.


"pak Odir kalian dimana...?"


"di bengkel pak, depan warung bakso"


astaga....


kenapa mereka tidak berhenti seperti yang aku katakan. satu menit lagi waktu yang tersisa. mungkin mereka mengira Hanum dalam keadaan terikat sehingga semuanya akan baik-baik saja. padahal malah akan terjadi kebalikannya.


tali yang kami gunakan untuk mengikat Hanum aku lupa untuk memantrai sehingga pasti dengan mudahnya dia akan dapat melepaskan ikatannya. sementara ajian penidur yang dilakukan Yusuf waktunya tersisa satu menit lagi.


"pak Odir, kunci mobilnya jangan biarkan siapapun masuk ke dalam" ucapku begitu lantang


"memangnya ada apa sih Fatah...?"


"PAMAN AWAS"


tuuuuuuut


panggilan langsung terputus begitu saja setelah kami mendengar suara Hasan yang meneriaki nama pak Odir. pak Umar beberapa kali mencoba menghubungi namun tidak tersambung lagi.


17.00, tepat setelah Hasan berteriak disebrang sana. waktu yang aku punya telah habis.


"Hanum pasti sudah sadar" ucapku


"ya Allah, bagaimana ini" ibu Rosida jelas begitu panik


"mas sepertinya itu mobil mereka" Zelina menunjuk ke depan dimana sebuah mobil terparkir di depan bengkel


ciiiiiit


aku yang sedang melaju kencang langsung menginjak rem dengan mendadak.


"saya ikut. saya ingin melihat Hanum" ucap pak Umar


"ibu dan Zelina di dalam saja" lanjut pak Umar


aku dan pak Umar keluar dari mobil. terpaksa harus basah-basahan demi mengamankan Hanum yang sepertinya sudah membuat ulah.


baru saja kami sampai, orang-orang yang berada di dalam bengkel langsung berhamburan keluar. mereka begitu ketakutan seperti telah melihat hal yang mengerikan.


"Hasan" aku mendekati Hasan yang sedang berada di tempat duduk menemani pak Odir


"apa yang terjadi...?" tanya pak Umar


"entah bagaimana Hanum terlepas dari ikatannya. dia menyerang paman Odir dan kemudian memporak-porandakan tempat ini


"aku ingin masuk ke dalam tapi aku tidak bisa meninggalkan paman begitu saja"


"pak tolong jaga pak Odir, aku dan Hasan akan masuk ke dalam" ucap ku kepada pak Umar


"kalian berhati-hatilah" ucap pak Umar


"ayo San" ajakku


sebelum masuk, aku kerahkan semua orang untuk berkumpul di tempat pak Umar dan pak Odir yang kini tengah pingsan. setelah itu aku dan Hasan masuk ke dalam untuk mencari Hanum.


"keluar kau makhluk laknat" teriakku di dalam


hujan sudah tidak sederas tadi namun belum berhenti dan masih mengguyur bumi. aku tidak melihat keberadaan Hanum di dalam bengkel ini. apa iya dia kabur. kalau dia kabur akan semakin berbahaya nantinya orang-orang yang bertemu dengannya.


"sepertinya dia tidak ada di sini, apakah dia kabur...?" ucap Hasan


aku melihat dinding yang sepertinya baru dirobohkan. dinding yang terbuat dari kayu itu memiliki lubang yang cukup besar. sepertinya Hanum merobohkan dinding itu dan melarikan diri dari tempat ini.


"dia pasti belum jauh dari sini, ayo kita kejar" ucapku


kami berdua melewati jalur yang dilalui oleh Hanum. keluar dari lubang dinding itu dan berlari mengejar Hanum yang mungkin berada di depan kami dengan jarak cukup jauh.


namun bahkan kami sudah berlari begitu jauh, kami belum juga menemukan Hanum. tidak bisa begini, aku harus melakukan sesuatu.


"Langon"


goaaaaarrrrr


harimau putih milikku datang dengan tiba-tiba dan telah berada di depan kami berdua. Langon mengelilingi aku dan Hasan dan kini ia bermanja di kaki Hasan. sepertinya dia menyukai Hasan.


"tenang saja San, dia tidak akan menerkam mu" ucapku karena aku melihat wajah Hasan yang berubah tegang


"syukurlah" Hasan bernafaskan lega


Langon masih bermanja di kaki Hasan. karena telah aku beritahu bahwa hewan itu tidak akan menyakitinya, Hasan duduk dan mengelus kepala Langon.


"Langon, tunjukkan arah kemana perginya Hanum" ucapku


Langon berputar-putar di depan kami. dia sedang mencium energi yang ada pada diri Hanum kemudian Langon berlari ke arah timur.


"kita ikuti dia" ucapku kepada Hasan


Langon berlari dengan cepat di depan kami sementara aku dan Hasan memanjangkan langkah untuk bisa mengejar Langon. harimau itu memang sangat bisa aku andalkan saat aku ingin mencari makhluk gaib yang tidak aku temukan.


awalnya tempat yang kami lewati adalah jalan raya hingga kemudian kami berhenti di sebuah gedung yang bertingkat. jika aku lihat, gedung ini sudah tidak dipakai lagi karena penampakannya begitu terbengkalai.


"kamu merasakan dia berada di sini...?" tanyaku kepada Langon


Langon mengangguk dan mulai masuk ke dalam. itu artinya, Hanum berada di dalam gedung ini, gedung yang berlantai lima.


"tempat apa ini" ucap Hasan


"yang jelas bukan tempat yang menguntungkan untuk kita" jawabku


kami terus mengikuti Langon menuju ke lantai atas menggunakan tangga. hingga kami tiba di atap lantai paling atas.


"itu Hanum" tunjuk Hasan kepada sosok yang berbaju putih berada di depan kami dengan jarak beberapa meter


"Hanum" Hasan ingin mendekat namun aku mencekal lengannya


"dia bukan Hanum. jiwanya sudah dikuasai oleh makhluk itu. kamu bisa celaka jika mendekatinya" ucapku


Hanum sedang berdiri di tempat yang berbahaya. dimana jika ia goyah sedikit saja maka tentu saja dirinya akan jatuh ke bawah.


"kamu pikir bisa membawa pergi wanita itu...?" ucapku


Hanum menoleh ke arah kami. wajahnya yang mengerikan bertambah sangat mengerikan saat dirinya tersenyum menyeringai.


"hihihi... hihihi"


"hahaha hahaha" suara seperti monster keluar dari mulut Hanum. suara tawanya begitu menakutkan jika manusia biasa yang mendengarkannya. namun aku yang sudah terbiasa dengan hal-hal gaib, bukan hal yang baru lagi buatku


"astaga, kenapa dia begitu menyeramkan sekarang" ucap Hasan yang sepertinya kaget mendengar suara Hanum


"San tetap waspada, serangan bisa datang dari arah mana saja" ucapku


"coba saja jika kalian bisa menyelamatkan wanita ini" ucap Hanum


"Langon"


goaaaaarrrrr


bugh


aku memerintahkan Langon untuk melompat ke arah Hanum. hal itu aku lakukan agar Hanum jatuh ke lantai dan hal itu memang terjadi. Hanum jatuh ke lantai, aku dan Hasan berlari ke arahnya. Hanum melesatnya sinar merah ke arah Hasan. untungnya Hasan dapat menghindar.


swing


bugh


jika hanya menerima serangan darinya maka kami hanya akan kelelahan untuk terus menghindar. aku melesatkan sinar biru ke arah Hanum dan tepat mengenai perutnya. dia terpental jauh di depanku.


Hasan berlari ke arah Hanum. pertarungan diantara keduanya pun terjadi. benar apa yang dikatakan pak Odir kalau ternyata Hasan memiliki kemampuan khusus yang ada dalam dirinya.


bugh


satu pukulan di dada Hanum membuat wanita itu terkapar di lantai. bahkan pukulan dari Hasan meninggalkan bekas tangannya dan dada Hanum terluka.


"Fatah, bantu aku" Hasan memanggilku karena aku sejak tadi hanya menjadi penonton


baru hendak mendekat, Hanum melilit leher Hasan dengan tali yang ia dapat.


uuugghhh


Hasan kesakitan, bahkan Hanum akan menjatuhkan Hasan ke bawah. aku berlari secepat mungkin untuk menolong Hasan. rupanya Hasan bisa mengatasi itu sendirian.


Hasan menjambak rambut Hanum dan menariknya dengan kuat hingga kemudian ia membiakkan posisi. tubuh Hanum ia angkat ke atas dan


bugh


Hasan membanting Hanum ke lantai kemudian mencekik leher wanita itu.


"mati kamu setan laknat" Hasan begitu keras mencekik leher Hanum sampai-sampai mata Hanum mengeluarkan air mata


"Hasan, kamu bisa membunuhnya" teriakku mendekat dan berusaha melepaskan tangan Hasan dari leher Hanum


"lepaskan, aku ingin membunuh setan laknat ini" Hasan seperti orang yang kerasukan setan, begitu sangat ingin membunuh Hanum


sedang Hanum meronta-ronta dibawah kungkungan Hasan, berusaha melepaskan diri dari Hasan.


aku mendorong tubuh Hasan dengan keras agar ia menjauh dari Hanum. segera aku mengalungkan tasbih milikku di leher Hanum. saat itu juga Hanum berhenti memberontak dan tenaganya perlahan-lahan melemah.


haaah.... haaah


Hasan ngos-ngosan seperti telah melakukan balab lari. ia menjatuhkan dirinya ke lantai dan bersandar di dinding.


"aku hampir membunuhnya" ucap Hasan yang melihat kedua tangannya


"dia baik-baik saja San, kamu tidak perlu merasa bersalah" ucapku


Hasan dengan cepat mendekati Hanum dan memeluknya. dia menangis memeluk Hanum mungkin karena merasa bersalah dirinya hampir membuat nyawa Hanum melayang.


aku menghubungi Zelina untuk menjemput kami di tempat ini. kami harus menunggu di sini karena tidak mungkin membawa Hanum keluar dalam keadaan dirinya seperti ini. kejadian tadi di bengkel akan kami urus dengan pemiliknya. kami tentunya harus ganti rugi.


Hanum pun tadi harus terpaksa dilihat oleh semua orang. mereka jelas-jelas ketakutan melihat Hanum sekarang.


kami menunggu mereka dibawah. hingga kemudian mobil istriku terparkir di depan kami. Zelina dan ibu Rosida datang menghampiri kami.


"bagaimana keadaannya...?" tanya ibu Rosida


"dia baik-baik saja. kita kembali ke bengkel tadi" jawab Hasan


"mas baik-baik saja kan...?" tanya Zelina kepadaku


"iya, aku baik-baik saja" jawabku mengangguk


kami memasukkan Hanum ke dalam mobil. Hasan dan ibu Rosida menjaga Hanum di kabin tengah sementara aku menyetir mobil dan Zelina duduk di sampingku.


kami meninggalkan tempat yang terbengkalai ini dan menuju ke bengkel dimana disana masih ada pak Umar dan pak Odir yang sedang menunggu kami pastinya.