
pagi hari di pesantren Abdullah, Ali telah menerima telepon dari Fatahillah untuk menjemput Zelina dan Arjuna. ustad muda itu mempertanyakan kenapa sampai Zelina dan Arjuna tidak ikut ke kota S padahal mereka sama-sama pergi. Fatahillah menceritakan kronologi yang mereka alami. tentu saja hal itu membuat kaget Ali.
(baiklah, aku akan menjemput mereka)
(aku akan mengirimkan nomor yang bisa kamu hubungi. nomor itu adalah yang digunakan oleh Zelina tadi malam untuk menghubungiku)
(kirimkan lewat chat saja, aku akan bersiap-siap sekarang)
(terimakasih Ali)
(sama-sama, jangan sungkan meminta bantuan. assalamu'alaikum)
(wa alaikumsalam)
"siapa Ali...?" tanya pak Odir
Hanum dari arah dapur membawakan kue dan juga teh hangat untuk mereka yang sedang berada di teras rumah. mereka duduk berlesehan sambil menikmati udara pagi yang sejuk. para santri terlihat berlalu lalang bersiap mengikuti pelajaran setiap harinya.
"Fatahillah pak, dia memberitahu padaku untuk menjemput istrinya dan Arjuna" jawab Ali
"bukannya mereka berada di kota S. mas Ali akan ke kota S...?" tanya Hanum meletakkan bawaannya di atas meja
Ali mulai menceritakan apa yang menimpa Fatahillah dan Hasan serta Zelina dan Arjuna saat akan menuju ke kota S. Zelina dan Arjuna diculik namun untungnya mereka dapat melarikan diri.
"astagfirullahaladzim, jemput sekarang kalau begitu jangan sampai orang-orang itu masih mencari mereka. ajak Akmal yang akan menemani kamu" pak Umar tentu saja gelisah
"baik pak, ayo Mal kamu siap-siap" Ali melihat ke arah Akmal
"baik paman" Akmal bangkit dan melangkah menuju kamarnya
setelah bersiap Akmal kembali ke depan dan disana rupanya sudah ada ibu Rosida dan ibu Afifah.
"mau kemana Mal...?" tanya ibu Afifah saat melihat anaknya pagi-pagi sudah rapi
"mereka akan menjemput Zelina dan Arjuna" jawab pak Umar
kemudian cerita tadi diceritakan kembali kepada kedua wanita baya itu.
"ya Allah...semakin berbahaya kalau seperti itu. cepatlah jemput mereka, mereka pasti sudah menunggu" perintah ibu Rosida
Ali dan Akmal pamit kepada semua orang. mereka akan meminjam mobil kiayi Anshor karena mobil pak Umar dibawa oleh Hasan dan yang lainnya ke kota S.
dalam perjalanan ke rumah kiayi Anshor, mereka berdua bertemu dengan putri kedua pemilik pondok, Maryam.
"assalamu'alaikum ustad" sapa Maryam
"wa alaikumsalam, mau kemana...?" tanya Ali
"mau bertemu Hanum. ustad dan Akmal mau kemana...?" tanya tanya Maryam balik
"mau ke rumah calon mertua Maryam" jawab Akmal yang langsung mendapatkan pukulan siku dari Ali
Maryam mengangkat satu alisnya menatap kedua pemuda itu. kemudian ia tersenyum penuh arti dan tatapannya mengarah ke salah satu dari keduanya
"kenapa melihatku seperti itu...?" tanya Ali
"tidak kenapa-kenapa. Hanum ada kan...?" Maryam mengalihkan pembicaraan
"tentu saja ada, kalau begitu kami pergi dulu, kami buru-buru harus menjemput seseorang. assalamu'alaikum" Ali menarik Akmal yang sebenarnya masih ingin bercerita dengan gadis itu
Maryam menggelengkan kepala dan berbalik badan mengayunkan langkah untuk ke rumah kediaman keluarga pak Umar, bertemu dengan Hanum. sejak saling kenal, keduanya semakin akrab begitu juga dengan Naila dan Hanum.
Ali dan Akmal semakin dekat dengan rumah kiayi Anshor. setelah berada di ambang pintu, Ali mengetuk pintu dan mengucapkan salam.
"assalamu'alaikum" ucap Ali dengan sopan
"wa alaikumsalam" suara dari dalam menjawab salam Ali
pintu rumah terbuka, umi Zainab tersenyum ramah saat melihat Ali dan Akmal.
"masuk nak" ucap umi Zainab
"terimakasih umi" jawab Ali
keduanya duduk di sofa bersama umi Zainab. Ali mengutarakan maksudnya datang ke rumah itu.
"Abah masih pergi ke kebun belakang pesantren, mereka mau menanam sayur bersama para ustad" ucap umi Zainab
"begitu ya. kalau seperti itu biar kami menyusul kiayi saja umi" ucap Ali
"memangnya kalian mau kemana...?" umi Zainab menatap keduanya
"kami ingin menjemput istri Fatahillah dan Arjuna umi. ceritanya panjang namun insya Allah akan saya ceritakan nanti. kalau tidak sempat bercerita kepada umi saya akan bercerita kepada kiayi. tapi yang pasti sekarang saya membutuhkan mobil untuk menjemput mereka" jawab Ali
"mau menjemput mereka dimana...?"
"masih di kota B umi, di wilayah timur" jawab Ali
"kalau begitu kalian pergi bersama Naila saja, kebetulan juga dia ingin ke daerah itu. dia ingin menghadiri pernikahan temannya. tunggu sebentar ya saya panggilkan Naila dulu"
"tapi umi...ti..."
Ali mengentikan ucapannya karena umi Zainab langsung meninggalkan mereka untuk mencari putrinya. Ali menghela nafas dan menggaruk kepala.
"kenapa paman, kutuan kah...?" Akmal bertanya dengan tampang polosnya
"kamu pikir kepala paman sarang kutu" Ali menjawab kesal
"lah kok malah sensi sih, lagi PMS ya"
plaaaak
"aduh...kok aku dipukul sih"
Akmal meringis karena Ali memukul lengan keponakannya itu. baru hendak bicara, Ali kembali menutup rapat mulutnya karena umi Zainab telah kembali bersama dengan Naila. Ali menundukkan kepala sejenak karena Naila menatap dirinya. setelahnya ia mengangkat kepala namun matanya beralih melihat ke arah umi Zainab.
"mereka akan ke daerah yang kamu tuju Nai. berangkat bersama mereka saja supaya kamu mempunyai teman" ucap umi Zainab
"emmm umi... sebaiknya tidak usah. biar kami mencari mobil lain saja, kami tidak ingin membuat Naila tidak nyaman bersama kami" ucap Ali yang sebenarnya keberatan
"aku yang tidak nyaman atau mas Ali yang keberatan" timpal Naila
"kami hanya akan pergi menjemput Zelina dan Arjuna setelah itu langsung pulang. sedangkan kamu harus menghadiri pernikahan temanmu, pasti akan mutar-mutar dulu nantinya, jadi... mohon maaf umi, kami akan mencari mobil lain saja" jawab Ali menolak sopan
"assalamu'alaikum" terdengar suara salam dari luar
"Wa alaikumsalam" jawab semuanya
ternyata itu adalah kiayi Anshor yang datang, saat melihat Ali dan Akmal kiayi Anshor yang sebenarnya pulang ingin mengambil sesuatu langsung duduk di sofa.
"ada apa Ali...?" tanya kiayi Anshor
"begini bah"
umi Zainab menceritakan kedatangan dua pemuda beda usia itu. sementara kiayi Anshor manggut-manggut mendengarkan cerita istrinya.
"daripada harus mencari mobil lain, lebih baik pergi bersama Naila saja. saya percaya kepada kalian berdua. dengan bersama kalian, Naila akan aman. ingatlah, semua yang berhubungan dengan Fatahillah akan di incar oleh mereka yang menginginkan mustika merah" kiayi Anshor akhirnya memberikan perintah
"ustad Ali keberatan untuk menjaga saya Abah, jadi lebih baik saya pergi sendiri saya. insya Allah saya bisa menjaga diri, begini-begini kan putri Abah ini bisa bela diri" Naila mengeluarkan suara
sementara Ali terdiam di tempat duduknya. ia menatap Naila yang kini sudah beranjak dari tempat duduknya.
"kamu yakin akan baik-baik saja...?" umi Zainab sebenarnya ragu melepas anaknya pergi
"ada Allah yang melindungi putrimu ini umi, umi tidak perlu cemas. assalamu'alaikum"
"wa alaikumsalam"
Naila masuk ke dalam mengambil tasnya kemudian ia keluar dan melangkah ke teras rumah. Ali mendesah berat sementara Akmal bingung hanya menggaruk kepala.
"padahal saya berharap dengan bersama kalian, saya akan tenang Naila akan baik-baik saja, tapi ya kalau kamu keberatan saya tidak memaksa. kalau begitu kalian meminjam mobil ustad Galih saja, dia sekarang ada di kelas mengajar anak-anak" kiayi Anshor memecahkan keheningan
"tidak apa-apa Abah. lagipula nanti mungkin Naila akan ditemani oleh temannya yang lain dan kakaknya yang katanya suka kepada putri kita"
"oh ya, jadi ada yang menyukai anak kita. kenapa tidak langsung datang ke rumah saja, insya Allah kalau agamanya baik pasti akhlaknya pun baik"
"mbak Naila mau menikah ya kiayi...?" karena memang Akmal orang yang tidak bisa diam saat mendengar berita baru, maka lidahnya gatal untuk tidak bertanya. ia bahkan melirik Ali dari ekor matanya
"insya Allah kalau yang menyukai putriku datang melamar" jawab kiayi Anshor
"maaf kiayi, saya ingin bicara dengan Naila" tanpa mendengar jawaban kiayi Anshor, Ali bangkit dan buru-buru keluar sementara Akmal terheran-heran
"paman kenapa sih. tadi sok jual mahal sekarang mau ngejar. heran banget" gumam Akmal
kiayi Anshor dan umi Zainab hanya tersenyum mendengar Akmal yang menggerutu kesal karena tingkah pamannya itu.
di luar rupanya Naila sedang menghubungi seseorang, setelahnya ia mematikan panggilan dan berbalik namun dirinya terperanjat kaget karena Ali tiba-tiba saja sudah berada di depannya.
"bikin kaget saja mas. ada apa...?" Naila bersikap biasa
"mana kunci mobilnya" Ali mengadahkan tangannya ke depan
"untuk...?" Naila mengerutkan kening
"aku yang akan menyetir" tanpa memberikan alasan, Ali meminta kunci mobil
"kalau terpaksa tidak perlu mas, aku bisa pergi sendiri. jangan dengarkan ucapan umi, beliau hanya khawatir saja namun mas Ali tidak perlu melakukan perintahnya. maaf mas, aku harus pergi" Naila akan masuk ke dalam mobil namun Ali menghadangnya
"berikan saja kunci mobilnya, kalau mencari mobil lain maka Zelina dan Arjuna akan semakin lama menunggu"
pada akhirnya Naila mengalah dan menyerahkan kunci mobil kepada Ali. kiayi Anshor dan umi Zainab serta Akmal rupanya telah berada di luar. Ali mendekati mereka dan berpamitan kepada kiayi Anshor dan umi Zainab, begitu juga dengan Akmal kemudian mereka masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumah kiayi Anshor.
Akmal duduk di samping kemudi sementara Naila di kabin tengah. karena tidak mungkin Naila yang akan duduk di depan.
"Mal, coba periksa ponsel paman, siapa tau Fatahillah telah mengirimkan nomor yang bisa dihubungi nanti"
"ponsel paman dimana...?"
Ali memberikan ponselnya kepada Akmal dan segera Akmal memeriksa pesan yang masuk.
"sudah paman, apa langsung di save saja...?"
"iya, itu lebih bagus atau langsung telepon saja, agar kita tau dimana alamat mereka sekarang"
"baiklah"
Akmal menekan nomor yang dikirimkan oleh Fatahillah itu. panggilan pertama tidak dijawab bahkan sudah ketiga kalinya namun tidak di angkat.
"tidak diangkat paman, mungkin pemiliknya sedang sibuk. apa perlu kita kirim pesan saja"
"iya, siapa tau nanti dia yang akan menghubungi kita. dengan mengirimkan pesan, dia akan tau kalau kita akan menjemput Zelina dan Arjuna"
Akmal mengangguk kemudian mulai mengetik pesan dan ia kirimkan ke nomor itu. Naila sejak tadi hanya diam, ia menurunkan kaca mobil dan menikmati terpaan angin yang membuat dirinya tenang. sementara Ali, fokus menyetir mobil tanpa melihat keadaan penumpangnya di kabin tengah.
dalam keheningan karena tidak ada satupun yang mengeluarkannya suara, dering ponsel Ali memecah keheningan. Akmal segera mengangkat panggilan yang berasal dari nomor baru.
(halo, assalamualaikum) Akmal
"speaker Mal" ucap Ali dan Akmal langsung menekan tombol speaker
(wa alaikumsalam, betul ini dengan keluarga Zelina dan Arjuna...?)
(betul mas, sekarang kami dalam perjalanan untuk menjemput mereka. bisa beritahu alamat mas dimana)
(jalan Sutomo blok B nomor 15. tapi maaf saya sedang tidak berada di rumah, mungkin sore hari saya akan pulang. kalau ingin membawa mereka tidak masalah)
(aduh... apakah tidak ada orang lain selain masnya. tidak mungkin kami pergi begitu saja tanpa mengucapkan terimakasih secara langsung)
(tidak masalah, ada art di rumah. insya Allah kalau Allah berkehendak kita akan bertemu mungkin di tempat yang Allah tentukan)
(masya Allah, terimakasih banyak mas sudah menolong keluarga saya, semoga mas sehat selalu)
(aamiin, kalau begitu sudah dulu ya aku sedang sibuk bekerja. assalamu'alaikum)
(wa alaikumsalam)
"alamatnya sama dengan tempat tinggal temanku yang akan menikah mas" Naila akhirnya bersuara
"oh ya, syukurlah kalau begitu kita tidak mutar-mutar lagi" jawab Ali merasa lega
"hmmm" Naila menjawab
Ali melihat wanita itu di spion gantung. helaan nafas terdengar keluar dari mulutnya.
perjalanan yang memakan waktu 2 jam, akhirnya mereka sampai di jalan Sutomo blok B. kini mereka tengah mencari rumah yang bernomorkan 15.
"itu rumahnya paman" Akmal menunjuk rumah dua lantai yang berwana putih
"lalu rumahnya temanmu dimana Nai...?" Ali memutar kepala setelah menghentikan mobilnya di depan rumah nomor 15
"di depan sana, lihatlah ada tenda di sana bukan. aku turun di sini saja, kalian bisa masuk ke dalam rumah ini dan menanyakan keberadaan mbak Zelina" ucap Naila
saat mereka bertiga keluar dari mobil saat itu juga pintu rumah terbuka. Arjuna yang melihat kedatangan Ali dan Akmal langsung berlari dan menghambur memeluk Ali.
"kamu baik-baik saja kan...?" Ali melepas pelukannya dan memeriksa tubuh Arjuna
"aku baik mas, Alhamdulillah Allah masih melindungi kami. ayo masuk, mbak Zelina sedang memasak di dalam bersama bi Marni"
"kalau begitu aku ke rumah temanku dulu mas, nanti kalau ijab qobul sudah selesai aku kesini lagi" Naila berpamitan
"paman nggak mau ikut, ada yang suka sama mbak Naila loh paman, paman nggak cemburu gitu" Akmal berbisik di telinga Ali
sejak Akmal ke rumah kiayi bersama dengan Ali untuk meminjam mobil karena hendak mencari ODGJ yang mereka cari, Akmal dapat melihat kedua insan itu saling melirik satu sama lain. namun karena entah apa sebabnya sehinga Ali cuek-cuek bebek terhadap putri sulung kiayi Anshor itu padahal Akmal perhatikan kalau Naila sering mencuri pandang ke arah pamannya.
"ngomong apa sih kamu" Ali menatap tajam keponakannya yang kadang suka usil itu
Naila telah pergi dan semakin jauh dari mereka, Ali terus memperhatikan wanita itu sampai ada seseorang yang memanggil wanita itu. Ali dan semua orang refleks melihat ke arah suara. seorang wanita dengan gamis yang ia kenakan dan juga jilbab panjang ditemani seorang laki-laki yang bertubuh tegap dan tentunya berwajah tampan. keduanya menghampiri Naila.
"wah sepertinya laki-laki itu yang dimaksud oleh kiayi dan umi tadi. kalau aku jadi mbak Naila, tentu saja aku tidak akan menolaknya" ucap Akmal yang entah sengaja atau memang sengaja memanasi laki-laki yang di ada sampingnya
ketiga orang itu saling sapa. Naila memeluk wanita itu sementara dengan laki-laki itu, ia hanya mengatupkan kedua tangannya di depan dada. setelahnya mereka berjalan bersama-sama dan masuk ke sebuah rumah yang besar, sama besarnya dengan rumah yang bernomor 15.
"ayo masuk" ajak Ali kepada keduanya
"nggak nyusul mbak Naila paman...?" tanya Akmal mengekor Ali bersama Arjuna
"untuk apa, tidak usah kepo dengan urusan orang lain. kita kesini untuk menjemput Zelina dan Arjuna" Ali duduk di kursi yang ada di teras rumah
sebenarnya Ali kepikiran dengan ucapan kiayi Anshor tadi namun tidak mungkin ia akan mengikuti Naila. masa lalu yang pernah ia alami membuat dirinya tetap diam di tempat tanpa berani melangkah padahal sudah jelas wanita itu memberikan lampu hijau untuknya.