
"Mal, sudah hampir subuh. kita sholat dulu di masjid" Alex melihat jam ponselnya, sudah mendekati waktu sholat subuh.
"tapi di sekitar ini nggak ada masjid mas. tunggu sebentar aku cari dulu di paman google" Akmal merogoh ponselnya yang ia simpan di kantung jaketnya.
"sejak kapan google menikah dengan tantemu"
"sejak negara api menyerang" Akmal menjawab asal, Alex menyoyor kepala pemuda itu.
kedua mata bulat pemuda itu, menatap serius ke arah layar ponsel yang ia pegang.
"belok kanan mas, sepuluh meter dari belokan itu ada masjid Al-jannah"
"baiklah"
tiba di pertigaan, Alex mengambil jalur kanan. memang benar apa yang dikatakan Akmal, ada sebuah masjid besar di pinggir jalan. mereka berhenti di halaman masjid itu. mobil yang dikendarai Arvin dan Utami pun ikut berhenti sebab mobil yang mereka ikuti berhenti.
"kenapa berhenti...?" Utami mengeluarkan pertanyaan setelah dia dan Arvin turun dari mobil dan menghampiri Alex juga Akmal.
"sebentar lagi sholat subuh, kami berdua mau sholat dulu. kalian berdua tidak sholat...?" Alex menatap keduanya.
"sholat...?" Utami mengulang pertanyaan itu. seketika dirinya tersenyum kikuk dan memegang belakang lehernya. wanita itu canggung dan merasa tidak nyaman.
"kenapa nona...? kok keberatan gitu. nggak pernah sholat ya...?"
pertanyaan Akmal membuat Utami semakin merona menahan malu. sudah lama sekali dirinya tidak melaksanakan sholat, apalagi pekerjaannya yang sungguh berada di garis larangan agama. wanita itu sama sekali tidak berkutik.
"pernahlah, ya sudah kita sholat di sini" tidak ingin menanggung malu terlalu lama, Utami terpaksa mengikuti mereka.
"ya sudah, aku juga mau sholat. kebetulan kita sudah berhenti di masjid ini. Utami kamu kalau mau sholat, di dalam pasti disediakan mukenah oleh pengurus masjid" ucap Arvin.
Alex dan Arvin lebih dulu ke tempat wudhu khusus untuk laki-laki, sementara Akmal masih tetap di tempatnya memperhatikan wanita yang kini bingung sendiri.
"kenapa melihatku seperti itu. terpesona dengan kecantikanku ya...? bukankah itu yang kamu katakan di pelabuhan tadi" Utami tersenyum dan melangkah mendekati Akmal. dirinya hendak meraih tangan Akmal namun pemuda itu mundur menjauh.
"sebaik-baik wanita adalah yang baik agamanya bukan kecantikan ataupun rupanya. dan sebaik-baik wanita adalah yang bisa menjaga harga dirinya di depan para lelaki. jujur nona, aku terpesona padamu, siapa yang tidak akan jatuh hati kepada wanita cantik seperti dirimu. tapi harus nona tau, aku lebih suka wanita yang aku cinta menjaga dirinya dan penampilannya hanya untukku seorang sampai aku berhasil membawa dirinya ke mahligai rumah tangga"
ucapan yang dilontarkan Akmal bagai menusuk ke dalam hati Utami. wanita itu terdiam dan terpaku di tempatnya, melihat punggung Akmal yang semakin menjauh darinya. laki-laki yang sudah mencuri perhatiannya sejak bertemu beberapa jam yang lalu, laki-laki itu membuat dirinya begitu penasaran ingin semakin dekat dan memiliki.
"kamu harus aku miliki Akmal, harus" gumamnya dengan senyuman tipis.
_____
"ponselmu bergetar Mal" Alex memberitahukan Akmal kalau ponsel pemuda itu bergetar sebab saat ini ponsel itu ada di tangan Alex. mereka menghubungi Fatahillah dan yang lainnya setelah sholat subuh tadi menggunakan ponsel Akmal sebab ponsel Alex sendiri baterainya lobet. di tangga masjid, keduanya duduk menghirup udara pagi yang begitu sejuk dan segar.
Utami berpamitan untuk menggunakan toilet masjid sementara Arvin, laki-laki itu sedang bercerita dengan seorang bapak yang ternyata adalah tukang bersih-bersih di masjid itu.
"siapa...?" Akmal bertanya dan mengulurkan tangan untuk mengambil ponselnya yang Alex berikan padanya.
"Nagita" jawab Alex setelah ponsel itu berpindah tangan.
[halo mbak cantikku, assalamualaikum]
[wa alaikumsalam, aku ganggu kamu ya Mal...?]
[nggak kok mbak, aku malah senang mbak nelpon aku pagi-pagi. kangen ya...?]
[kalau itu kamu pasti sudah tau jawabannya]
[masya Allah, beruntung sekali aku dirindukan bidadari bermata jeli seperti mbak cantikku ini]
[lebai. oh iya Mal, aku mau bicara hal yang penting]
[asal jangan hal yang buruk ya mbak, aku nggak mau]
[bukan, ini hal yang bahagia. aku sudah memberitahu ayah tentang hubungan kita]
[oh ya...? terus respon paman Danang bagaimana, apakah dia setuju...?] begitu deg degan Akmal, bahkan saat ini dirinya duduk gelisah.
[Alhamdulillah, ayah dan ibu setuju. mereka menanyakan kapan kamu akan datang melamar aku]
"yes..." spontan Akmal berdiri dan mengepalkan tangan ke udara. suaranya yang keras membuat Arvin dan Alex yang ternyata sudah duduk bersama kaget dan melempar Akmal dengan botol air minuman.
"kenapa sih Mal, kita kaget tau" Arvin melihat heran pemuda itu.
"jatuh cinta nggak usah lebai begitu juga kali Mal" ucap Alex.
[halo Mal, kamu mendengar aku kan]
[iya mbak aku dengar kok. tolong sampaikan kepada paman Danang dan bibi Nining, aku akan ke rumah setelah pulang dari gunung Gantara. tunggu aku ya, dan doakan aku di sini]
[iya, aku selalu mendoakan kamu kok. hati-hati di tempat itu ya, dan jaga hati]
[tentu saja aku menjaga hati]
"mau menjaga hati siapa...?" Utami datang tiba-tiba dan mengagetkan Akmal.
[mbak, nanti kita bicara lagi ya. aku ada urusan sekarang]
[ya sudah, hati-hati kamu ya. assalamualaikum]
[wa alaikumsalam]
"kamu bicara dengan siapa...?" Utami begitu ingin tau dengan siapa Akmal berbicara.
"yang pasti dengan manusia, bukan makhluk gaib. waaah masya Allah, kamu cantik banget pakai baju seperti ini. tetaplah berpakaian seperti ini, agar kamu terlihat berharga"
saat itu ternyata Utami sudah mengganti pakaiannya. saat dirinya masuk ke dalam untuk sholat, seorang wanita melihat pakaiannya yang tidak pantas untuk dipakai apa lagi membawanya ke tempat ibadah. selesai sholat, wanita itu memberikan pakaian kepada Utami dan mengatakan wanita akan lebih dihargai dari cara dirinya menjaga diri, salah satunya berpakaian menjaga diri dari mata para lelaki yang menatapnya lapar.
Utami tidak ingin menggunakan gamis, menurutnya itu bukanlah tipe cara berpakaian yang ia inginkan. maka saat ini dirinya menggunakan baju kaos longgar dengan dipadukan jaket serta celana yang tentu saja tidak lagi mengekspos bokongnya.
"kamu suka aku berpakaian seperti ini...?" Utami tersenyum manis, dirinya senang Akmal memuji kecantikan yang ia punya.
"tentu saja, bukan hanya aku tapi mas Alex dan mas Arvin pun pasti lebih nyaman kamu berpakaian seperti itu. benar kan mas...?" Akmal meminta pembenaran.
"wanita cantik memakai pakaian apapun akan tetap terlihat cantik" Arvin berdiri dan diikuti oleh Alex.
"kita berangkat sekarang" ucap Alex.
_____
harusnya barang itu telah sampai di tangan Gandha Sukandar saat larut malam yang telah lewat semalam, namun karena kejadian yang tidak terduga akan menyerang mereka, akhirnya barang-barang itu terlambat dibawa pulang.
di sebuah rumah yang berada di ujung kota, mobil boks yang dikemudikan oleh Arvin berhenti di depan pagar. salah seorang datang dan membuka pagar kemudian bertemu dengan laki-laki itu. setelahnya orang itu membuka pagar lebar-lebar dan membiarkan mobil Arvin dan Alex untuk masuk.
memiliki halaman yang begitu luas, bahkan bisa menampung ratusan mobil. rumah mewah lima tingkat yang bahkan jauh dari pagar rumah, berjarak sekitar limapuluh meter. rumah mewah itu seakan menunggu kedatangan mereka.
banyak orang-orang yang berpakaian seperti Arvin, menjaga tempat itu. sungguh penjagaan yang begitu ketat. kedua mobil itu masuk ke parkiran ruang bawah tanah. beberapa orang telah menunggu mereka di dalam.
"dimana bos...?" tanya Arvin saat dirinya keluar dari mobil bersama Utami.
"sedang menunggu kalian" jawab seorang laki-laki.
Alex dan Akmal turun dan seketika itu seorang laki-laki datang menghampiri mereka.
"bos sudah menunggu kalian semua" ucapnya kepada Alex.
"apa biasanya setelah barang-barang pesanan ini datang, langsung dibawa masuk...?" tanya Alex.
"biasanya Victor menyuruh kami untuk menyimpan di gudang penyimpanan, tidak pernah berubah sampai sekarang"
"kalau begitu bawa semuanya ke gudang penyimpanan" perintah Alex
"baik"
laki-laki itu menyuruh rekan-rekannya untuk menurunkan boks kayu sebanyak itu dan mengangkat memindahkan ke gudang penyimpanan. sementara Alex dan Akmal diantar oleh Arvin bersama Utami untuk bertemu dengan Gandha Sukandar. memasuki lift, keempatnya menuju ke lantai lima.
"ini ruangan bos, silahkan kalian masuk" ucap Arvin setelah mereka tiba di depan ruangan Gandha Sukandar.
"tidak, aku harus mengurus yang lainnya. kalian bisa masuk bersama Utami"
Arvin meninggalkan mereka masuk kembali ke dalam lift dan turun ke lantai bawah. sepeninggalan Arvin, Alex dan Akmal saling pandang saat Utami mengetuk pintu kayu berwarna coklat yang ada di depan mereka.
pintu terbuka setengah, seorang wanita berpakaian seksi. rok span di atas lutut dan baju terbuka yang memperlihatkan belahan dadanya menyambut kedatangan mereka setelah melihat siapa yang datang.
"silahkan masuk" ucapnya tersenyum dan membuka pintu dengan lebar.
ruangan yang begitu luas, mereka melewati lorong di kanan kiri adalah kaca yang tidak transparan, setelahnya mereka di persilahkan duduk di sofa dan ada seorang laki-laki baya yang sedang menikmati indahnya pemandangan dari jendela kaca ruangan itu.
wanita itu mendekati laki-laki baya itu dan memberitahu kalau tamu yang ia tunggu telah datang.
"terimakasih Aline, kamu bisa kembali" ucapnya.
"baik pak"
wanita itu dengan sepatu high heels yang ia pakai, menimbulkan bunyi di seluruh ruangan. wanita itu meninggalkan ruangan itu dan kini tinggal empat orang yang berada di ruangan mewah itu.
Gandha Sukandar berbalik badan melangkah mendekati tiga tamunya dan ikut duduk bersama mereka. kali ini Alex dan Akmal dapat melihat dengan langsung wajah laki-laki itu. wajah yang memiliki bekas luka begitu jelas namun meskipun begitu tidak mengurangi ketampanan laki-laki baya itu meskipun sudah memasuki umur yang begitu matang.
"Utami, cukup sekali ini saja kamu teledor. kamu tau jika itu terjadi untuk kedua kalinya" Gandha menatap wanita cantik itu.
"maafkan saya bos, tidak akan terulang lagi untuk kedepannya" Utami menundukkan kepala sebagai bentuk hormat kemudian mengangkat kembali.
Gandha Sukandar kini mengalihkan pandangan ke arah dua pemuda yang duduk di sofa yang hanya memisahkan meja kaca panjang di depan mereka.
"suatu kehormatan bisa bertemu langsung dengan bos. saya Alex dan dia adik saya Akmal"
"kalian saudara...?"
"benar, dia adik saya satu-satunya"
"kenapa tidak bilang kalau kalian adik kakak...?" Utami seakan kaget mendengar hal itu.
"karena nona sendiri tidak bertanya dan aku rasa itu bukan hal yang penting"
Gandha Sukandar tersenyum tipis mendengar jawaban Alex. ia kemudian berdiri mengambil amplop di atas meja dan kembali lagi.
"aku harap kalian tetap setia dan tidak seperti Victor" ucap Gandha Sukandar.
"kalau bicara tentang setia, kami berdua tidak diragukan lagi bos. setia sama satu pasangan saja aku bisa, apalagi kakakku ini, dia paling setia menjomblo sampai sekarang" Akmal mengedipkan mata genit kepada Alex
"hahaha, kamu lucu juga" Gandha Sukandar tertawa mendengar jawaban Akmal.
(padahal aku sedang tidak melucu, lah dia malah tertawa) Akmal tersenyum nyengir saja
"ini untuk bagian kalian. terimakasih telah bekerja dengan bagus" dua amplop Gandha Sukandar melempar pelan ke depan mereka. "dan untukmu Utami, sudah masuk di rekening mu sendiri"
"terimakasih bos. padahal aku datang untuk membicarakan kebun ganja yang ada di pulau bambu, bos sangat begitu baik hati" Utami tersenyum senang
"kalau begitu ikut denganku. kalian berdua tetap di sini"
"baik bos"
Gandha Sukandar dan Utami meninggalkan Alex dan Akmal. mereka masuk ke suatu ruangan entah untuk melakukan apa. sementara dua pemuda yang masih duduk di sofa empuk nan mewah itu, memandang amplop coklat tebal di atas meja.
Akmal mengambil amplop miliknya dan melihat isi di dalamnya. kedua matanya melebar melihat banyaknya uang merah di dalam amplop itu.
"kita apakan uang ini mas, aku nggak mau pakai uang haram" Akmal kembali meletakkan amplop itu di atas meja.
"menurutmu kita apakan...?" Alex meminta pendapat.
"sumbangkan saja ke masjid atau ke orang-orang yang membutuhkan"
"ide bagus. sepulang dari sini kita berikan kepada mereka yang membutuhkan " Alex mengambil amplop itu dan memasukkan ke kantung jaketnya, Akmal melakukan hal yang sama.
"Mal, kamu suka ya sama Utami...?" selidik Alex.
"kenapa bertanya seperti itu...?"
"aku bisa melihat tatapan kekaguman mu kepada wanita itu. jangan bermain api kalau tidak ingin terbakar nantinya. dokter Nagita tidak pantas kamu permainkan"
"mas salah paham soal itu"
"salah paham bagaimana...?" kening Alex mengkerut.
"jadi sebenarnya begini"
Akmal memberitahukan kepada Alex kenapa sampai dirinya memperlihatkan ada rasa kagum dan suka kepada wanita yang bersama Gandha Sukandar di dalam satu ruangan.
"bukan karena kamu suka padanya kan...?" Alex memicingkan mata.
"ya nggak lah, aku kan sudah punya mbak Nagita. kalau mas mau, mas saja yang dekati dia agar mas nggak terus jadi jomblo sejati"
"dia bukan tipe wanita yang aku cari"
"memangnya seperti apa tipe wanita idaman mas Alex...? oooh aku tau, pasti seperti Jeni kan adik dari mas Samuel"
"ck, jangan suka bawa-bawa nama orang. kebiasaan kamu ini" Alex mendelik.
"jujur aja kenapa sih mas, lagipula aku lihat Jeni sepertinya punya perasaan sama mas Alex"
"sok tau kamu"
"ember aku selalu tau"
"loyang aja sekalian"
cek lek
perdebatan mereka terhenti tatkala ruangan yang dimasuki Gandha Sukandar dan Utami terbuka. Utami keluar dari ruangan itu dan menutup pintu.
"ayo kita pergi" ajak Utami mendekati mereka
"terus bos bagaimana...?" Akmal menatap pintu ruangan itu.
"kalian harus menyelesaikan tugas selanjutnya. ayo ikut aku"
_____
"kita belum tau apa yang sedang menunggu kita di dalam hutan sana. bagaimana kalau ternyata mereka banyak" Tegar memberitahu isi kepalanya.
"benar juga, terus apa yang harus kita lakukan...?" Yusrif yang duduk berselonjor di bawah pohon bertanya dan sibuk mencabut rumput di dekatnya.
"kita teruskan rencana awal yang kita susun" jawab Fatahillah.
"maksudnya...?" Hasan bertanya
"Yusrif dan Tegar kembali menjadi umpan"
"hiks...umpan lagi. nggak dengan tali pancingnya saja sekalian" Yusrif memasang wajah cemberut.
"aku punya cemilan" Fatahillah memberikan satu kantung plastik berisi makanan ringan kepada Yusrif.
"kamu menyogok ku...?" sok jual mahal namun kedua matanya menatap ingin ke arah kantung plastik itu.
"kenapa...? kamu tidak mau...? ya sudah kalau tidak mau, nih Tegar buat kamu saja. banyak ice cream dan ada juga martabak manis. kue coklat dan minuman dingin. ambilah Tegar" kantung itu diberikan kepada Tegar.
"heh...itu punyaku" Yusrif segera mengambil kantung plastik itu. "okelah, aku bersedia. gampang itu mah kalau mau jadi umpan. asal ada makanan begini aku siap melakukan tugas" kembali Yusrif bersemangat. Hasan memutar bola mata, Aji Wiguna menepuk jidat dan Fatahillah serta Tegar hanya tertawa pelan.
pemuda itu sebenarnya bukan tidak ingin, hanya saja dirinya adalah orang yang begitu mudah bosan dan menunggu adalah hal yang sama sekali dirinya tidak suka. itulah mengapa Yusrif meminta cemilan sebagai temannya menunggu dikala bosan.
"jadi kapan kita beraksi...?" ucap Aji Wiguna.
"sekarang" perintah Fatahillah.