Fatahillah

Fatahillah
Bab 96



di luar nampak rintik-rintik hujan turun, di langit sana guntur dan petir saling bersahutan menggelegar seakan memberitahu kalau hujan deras sebentar lagi akan turun. cuaca semakin dingin malam itu. Akmal yang tidak membawa jaket hanya dapat mengelus lengannya satu tangan sementara tangan satunya tetap berada pada setir mobil. kedua matanya fokus mengamati mobil di depannya yang sedang ia ikuti.


perlahan rintik hujan tadi berganti dengan turunnya hujan yang begitu deras. jalan raya semakin padat akan kendaraan, mulai macet di beberapa titik yang biasanya selalu terjadi kemacetan, dan Akmal terjebak di tempat itu. di depannya masih ada mobil yang dikendarai Gara dan Gea.


"aku hubungi mas Fatah sajalah" gumamnya


namun karena suara hujan yang begitu deras maka tentu saja mereka tidak akan saling mendengar suara. jalan satu-satunya hanya mengirimkan pesan kepada Fatahillah bahwa dirinya sekarang sedang mengikuti Gara.


Akmal : aku sedang mengikuti Gara, apa mas Fatah bisa menyusul...?


setelah mengirimkan pesan kepada Fatahillah , ia juga mengirimkan pesan kepada Nagita. mengatakan bahwa dirinya sedang ada urusan di luar sebentar dan akan kembali lagi untuk menjemput wanita itu.


mobil di depannya kembali bergerak pelan, Akmal mengikutinya sampai kemudian mereka terbebas dari macetnya jalan. mobil itu kembali melaju bahkan kini semakin cepat, tentu saja Akmal tidak ingin ketinggalan. dirinya melajukan mobilnya agar tidak kehilangan mereka.


mobil itu berhenti di sebuah rumah yang di kelilingi danau buatan, tentunya ada jalan untuk sampai di rumah yang terlihat mewah itu. mobil Gara berhenti di halaman rumah sementara Akmal menghentikan mobilnya sedikit jauh agar dirinya tidak ketahuan. apalagi di rumah itu, begitu banyak penjaga yang sedang berjaga di luar. Akmal tidak bisa masuk ke dalam, bisa dituduh penyusup jika dirinya melakukan itu. meskipun sebenarnya ada rencana bagaimana caranya agar bisa masuk ke dalam sana.


Gara dan Gea turun dari mobil, keduanya melewati jalan kecil untuk sampai di rumah itu sebab di sekeliling rumah adalah danau. hanya ada satu jalan itu yang bisa digunakan.


Akmal memeriksa pesan yang masuk di ponselnya.


Fatahillah : kamu dimana sekarang...?


Akmal : aku nggak tau dimana, tapi yang pasti aku sedang berada di depan halaman rumah Gara


Fatahillah : coba lihat di sekitar, pasti ada nama jalan di sekitar itu atau gedung atau semacamnya yang bisa menjadi patokan


Akmal melihat sekeliling, tidak ada yang dapat ia lihat apalagi penglihatannya terhalang dengan hujan yang begitu lebat. dirinya hanya melihat dari kejauhan mungkin lebih dari seratus meter, sebuah tulisan berwarna merah yang di simpan di ketinggian, bertuliskan hotel Cantika. jalannya semakin lurus ke depan maka akan sampai di tempat Akmal berada.


Akmal : dari hotel Cantika, mungkin seratus meter ke depan, jalan lurus saja dan kalian akan menemukan rumah yang di kelilingi oleh danau. aku berada di tidak jauh dari rumah itu


Fatahillah : baiklah. tunggu kami di situ


Akmal : oke, cepat mas kalau perlu terbang


Fatahillah : edan...kamu pikir kami punya sayap


Akmal terkekeh membaca pesan Fatahillah, ia kembali akan menyimpan ponselnya namun benda itu berbunyi. Nagita menghubungi dirinya.


(aku di luar mbak dokter cantik)


(kamu ngapain di luar Mal, ini hujan deras)


(mbak khawatir padaku ya...?)


(memang salah kalau aku khawatir...?)


(ya nggak apa-apa mbak, aku malah senang dikhawatirkan sama dokter cantik. jadi tambah sayang deh)


(idih... nggak usah kepedan deh. kamu dimana, ada urusan apa...?)


(urusan penting mbak, tapi aku tetap pulang dan jemput kamu kok. operasinya sudah selesai ya...?)


(sudah)


(terus mbak Selmi bagaimana keadaannya, anaknya bagaimana...?)


"dokter Nagita"


Akmal mendengar ada suara seseorang yang memanggil wanita itu.


(Mal, aku tunggu kamu di rumah sakit ya. hati-hati jangan sampai kenapa-kenapa di jalan)


(siap mbak sayang)


Nagita mematikan panggilan, Akmal terdiam beberapa saat. jika ia pikirkan , suara tadi adalah suara seorang wanita. mungkin itu teman rekan kerjanya atau temannya yang lain.


Fatahillah yang baru saja berkirim pesan dengan Akmal, ia segera memberitahu Hasan, Aji dan Alex untuk menyusul Akmal yang kini sedang berada di rumah Gara.


"dia pergi sendiri...?" tanya Hasan


"iya, kita harus menyusulnya sekarang" jawab Fatahillah


"baiklah kita pergi sekarang" ucap Aji Wiguna


"dengan hujan deras seperti ini...?" ucap Alex


"terobos saja, yang penting Akmal harus kita temani. bahaya kalau dia ketahuan" timpal Fatahillah


"dimana tempatnya...?" tanya Aji Wiguna


"katanya tidak jauh dengan hotel Cantika, rumah yang di kelilingi danau" jawab Fatahillah


"kalau begitu kita berangkat sekarang" ucap Hasan


pukul 22.00, mereka berpamitan kepada pak Danang yang masih berada di ruang tengah bersama dengan Guntur dan Rangga. pak Danang sebenarnya heran apa yang harus mereka urus sampai keluar menjelang larut malam apalagi keadaan di luar hujan begitu turun dengan derasnya. namun karena Fatahillah membuat alasan bahwa mereka perlu mengurus sesuatu yang penting dan harus diselesaikan secepatnya maka barulah pak Danang bisa menerima alasan mereka.


keempatnya keluar rumah dan berlari ke arah mobil masing-masing. Hasan bersama Fatahillah sementara Aji Wiguna bersama Alex.


Fatahillah mencari di google map keberadaan hotel Cantika, dan ia menemukannya. hanya mengandalkan itu mereka mengikuti setiap jalan yang akan mengarahkan mereka ke hotel Cantika.


sementara Akmal dirinya terus memantau keadaan di rumah itu. jari jemarinya mengetuk-ngetuk setir mobil sambil memikirkan sesuatu. bagaimana caranya bisa masuk ke dalam sana. hingga ia melihat Gea keluar dari dan berdiri di teras rumah kemudian wanita itu duduk di sebuah kursi kayu dengan meja bundar di sampingnya. Akmal terus memantau wanita itu.


Gea mengeluarkan sebatang rokok dari bungkusannya dan juga ia mengambil korek api yang ada di dalam tasnya. wanita itu membakar rokok tersebut dan menghisapnya, mengeluarkan asapnya dari mulut dan bahkan hidungnya.


"gila...aku aja kalau merokok langsung terbatuk-batuk. cewek nggak benar nih kayaknya" Akmal geleng kepala "padahal kelihatannya dia wanita polos loh"


terlihat Gea mengambil ponselnya dan ia tempelkan benda itu di telinganya. sesekali ia mengisap asap rokok dan menghembuskannya lagi. setelahnya ia membuang batang rokok itu ke dalam pot bunga yang ada di depannya. tidak lama dari arah depan sana, sebuah mobil mendekat dan berbelok ke rumah tersebut. Gea segera berdiri dan berdiri di dekat tangga. seorang laki-laki dan wanita mendekati Gea. wanita itu berpelukan dengan Gea kemudian mereka masuk ke dalam.


"ada apa sebenarnya di dalam sana" Akmal begitu sangat penasaran


hujan masih terus mengguyur membasahi kota X. udara malam itu semakin dingin saja. sesekali Akmal meniup kedua tangannya dan ia tempelkan ke wajahnya untuk memberikan kehangatan.


mobil yang dikendarai Fatahillah dan Hasan masih terus melaju. Hasan mempercepat laju kendaraannya agar segera sampai di tujuan, Aji Wiguna tentu saja mengimbangi kecepatan mobil yang ada di depannya itu.


"belok kiri San" ucap Fatahillah


di pertigaan jalan, Fatahillah memberitahukan jalan yang akan mereka ambil. Hasan segera membelokkan mobil itu sesuai dengan perintah sahabatnya. setelahnya, tidak jauh dari pertigaan itu, sebuah hotel mewah menjulang tinggi dengan gagahnya, tulisan dengan warna merah yang menyala-nyala, membuat mereka tau kalau kini mereka telah sampai di hotel yang dimaksud oleh Akmal.


"ada pertigaan lagi. mau belok kanan atau lurus"


"Akmal, ambil jalan lurus"


Hasan melewati belokan ke arah kanan, ia mengambil jalan lurus sampai ke penurunan. kemudian sampailah mereka di tempat dimana sebuah rumah dikelilingi dengan danau. mobil mereka melewati jalan itu dan berhenti di sebuah mobil yang terparkir sedikit jauh dari rumah tersebut. Aji Wiguna menghentikan mobilnya di samping mobil Fatahillah.


mereka semua keluar dari mobil dan menerobos hujan mendekati mobil Akmal. mereka masuk ke dalam mobil Akmal dengan sedikit basah.


"jadi ini rumah Gara...?" tanya Hasan


"ya nggak tau aku mas, tapi yang pasti mas Gara dan mbak Gea masuk ke dalam rumah itu" jawab Akmal "jadi apa yang harus kita lakukan sekarang...?"


"tapi pertanyaannya adalah bagaimana kita bisa masuk ke dalam. sejak tadi aku nampak berpikir cara seperti apa yang harus dilakukan untuk bisa masuk ke dalam. sampai pusing kepala aku" Akmal menimpali


"baiklah...kalian tunggu di sini. aku ingin mencoba akankah kekutanku sudah kembali setelah aku diobati. jika tidak mempan maka kalian harus segera keluar untuk menolongku" ucap Aji Wiguna


"aku temani bos"


"tidak perlu Al...kamu di sini saja"


"apa yang akan kamu lakukan...?" tanya Fatahillah


"mencoba kekuatanku, sudah kembali ataukah belum"


"tapi di luar hujan" timpal Hasan


"kalian ingin berlama-lama di sini sampai pagi dan tidak melakukan apapun...?" Aji Wiguna menatap mereka semua


keempatnya menggeleng kepala. "makanya itu, ikuti saja perintahku" Aji Wiguna membuka pintu mobil dan keluar


"apa yang akan dia lakukan...?" Akmal menggaruk kepala


"kita lihat saja dulu" ucap Fatahillah


Aji Wiguna menutup kepalanya dengan sebuah topi. ia berjalan mendekati pagar rumah dimana ada dua orang yang sedang berjaga di sana.


"hei...siapa kamu...?" salah seorang mendekati Aji Wiguna


Aji Wiguna tersenyum tipis, bibirnya bergerak membaca sesuatu kemudian ia meniup wajah laki-laki itu. hanya dalam satu kali tiupan, laki-laki itu jatuh pingsan.


"hei...apa yang kamu lakukan padanya...?" satu orang lagi mendekati temannya yang sudah tidak sadarkan diri


ia hendak menyerang Aji Wiguna namun lagi-lagi Aji Wiguna meniup wajah laki-laki itu hingga ia pingsan menindih temannya tadi.


"woaaah... amazing" Akmal bertepuk tangan "tanpa berkelahi mas Aji dapat menumbangkan mereka berdua" Akmal berdecak kagum


"dia menggunakan ajian gendam" ucap Alex


"dia memiliki ajian itu...?" tanya Fatahillah


"bukankah kamu sudah melihat buktinya. Ki Demang yang mengajarkannya"


(rupanya dia sesakti itu) batin Fatahillah


dua orang penjaga di depan pagar telah dilumpuhkan oleh Aji Wiguna. ia kemudian masuk ke halaman rumah. beberapa penjaga lainnya berlari ke arahnya untuk menghadangnya. Aji Wiguna memusatkan tenaga dalamnya di telapak tangan, kemudian ia berputar dan menyerang orang-orang itu. semuanya tercebur ke dalam air. setelah itu ia berdiri tepat di jalan kecil yang akan menuju ke rumah itu. ajian gendam yang ia miliki, dikirimkan lewat angin dan masuk ke dalam rumah. para penjaga yang baru saja keluar dari dalam air langsung pingsan saat itu juga.


dirinya berbalik dan melambaikan tangan ke arah teman-temannya. setelah itu tangannya terlihat memanggil mereka untuk menghampirinya.


"dia memanggil kita, ayo turun" Alex segera membuka pintu mobil


semuanya turun dari mobil dan berlari kecil menghampiri Aji Wiguna. pakaian mereka sudah nampak basah akibat air hujan yang mengguyur mereka.


"kita masuk ke dalam" ucap Aji Wiguna


"kamu yakin mereka sudah tertidur semua...?" Hasan nampak ragu untuk masuk ke dalam rumah


"memangnya kenapa...? kamu takut kita ketahuan...? segala sesuatu yang dilakukan dengan sembunyi-sembunyi adalah harus berani untuk menanggung resikonya dan salah satunya ya....ketahuan sama pemilik rumah" Aji Wiguna berucap dengan santai


"ini sebenarnya kita masuk ke dalam mau ngapain...?" Alex bertanya dengan bodohnya


"ngambil emas lalu kabur, sepertinya di dalam banyak harta karun" Akmal menjawab enteng


pluuuk...


Fatahillah menggeplak kepala Akmal, selalu menjawab tidak sesuai yang diharapkan.


"kok di pukul sih mas...?" Akmal cemberut


"kalau mau cari harta Karun, ya aku jual saja kamu sama tante-tante girang yang kesepian, sepertinya dapat dua puluh juta bisalah" Fatahillah ikutan gresek


"wah aku punya kenalan banyak tante-tante yang kesepian. mereka paling suka sama pemuda yang bertubuh maco seperti Akmal. pulang dari sini kita jual Akmal untuk komisi telah melakukan tugas berbahaya" timpal Aji Wiguna


"hei...enak saja..kalian pikir aku sayuran main jual-jual saja, sama tante-tante lagi...hiiiiiii" Akmal bergidik ngeri


"sudah...sudah. kalian mau bahas tante-tante atau mau masuk ke dalam rumah" Hasan menengahi


"jadi apa rencana kita...?" tanya Akmal


dibawah guyuran hujan, mereka nampak sedang memikirkan sesuatu. kelimanya terdiam sejenak sedang memikirkan rencana dadakan yang harus mereka lakukan.


"kita culik Gara dan Gea" ucap Fatahillah


"ide bagus. dengan begitu kamu bisa berperan seperti dirinya" Aji Wiguna menjetikkan jarinya


semuanya sepakat untuk menculik Gara dan Gea. mereka melangkah mendekati teras rumah dan menaiki tangga menuju pintu masuk.


Fatahillah yang berada di depan membuka pintu secara perlahan, merasa aman karena tidak ada orang, Fatahillah menyuruh mereka semua agar masuk ke dalam.


ruang tamu yang begitu luas, dengan sofa panjang dan meja kaca sebagai pendampingnya. lantai yang berwana biru tua mulai basah karena memang tubuh mereka yang telah basah kuyup.


mereka melangkah menuju ke ruang tengah, di sana ada beberapa orang yang sedang tertidur dengan keadaan terbaring di sofa. bahkan ada yang tertidur di lantai. minuman beralkohol berada di atas meja, gelas-gelas yang sudah terisi dengan minuman itu ada yang tertumpah di lantai. mereka tertidur karena terkena gendam Aji Wiguna.


"apa hanya mereka...? Gara dan Gea kemana...?" tanya Hasan


"kita cari lagi" jawab Fatahillah


beberapa kamar mereka periksa, tidak ada satu orang pun di dalam kamar-kamar itu. bahkan kini mereka telah sampai di dapur, namun yang mereka temui hanya dua orang wanita baya yang tergelatak di lantai. sepertinya mereka adalah pekerja di rumah itu.


mereka memeriksa halaman belakang rumah, hanya ada penjaga yang tertidur di lantai. tidak menemukan siapapun, mereka kembali ke ruang tengah.


"kenapa nggak ada orang. padahal tadi bahkan ada teman-teman mbak Gea yang datang ke rumah ini. tapi kemana perginya mereka" Akmal menggaruk kepala sebab bingung dengan situasi sekarang


"apa mereka tau dengan kedatangan kita...?" tanya Alex


"nggak mungkin, bahkan mereka tidak tau kalau aku mengikuti mereka" jawab Akmal


"lalu kemana mereka pergi...?"


"kalian mencariku...?"


suara yang terdengar itu membuat mereka semua terkejut. Akmal bahkan langsung menoleh karena dia tau suara itu milik siapa.


saat itu juga Fatahillah dapat melihat seorang laki-laki yang sedang berdiri di hadapan mereka berjarak beberapa meter saja. kemiripan itu begitu mirip, bisa dikatakan sembilan puluh persen wajah mereka mirip. benar apa yang dikatakan oleh Akmal, mereka benar-benar terlihat mirip yang membedakan hanyalah suara saja.


"kamu....? laki-laki itu nampak terkejut dan menunjuk Fatahillah


keduanya saling tatap, seakan mereka dapat melihat wajah mereka sendiri seperti di dalam cermin.