
Mati satu tumbuh seribu....
Itulah yang terjadi malam ini, dimana setan-setan itu menyerang dan mereka melawan. namun mereka seakan sungguh begitu susah untuk dilenyapkan. Merekaenguabisi dua bahkan tiga setan, sayangnya makhluk mengerikan yang lain akan muncul lagi dari dalam tanah.
"sialan....
mereka seakan tidak ada habisnya" Yusrif mulai dikerumuni. "matilah kalian" ia menghentakkan kakinya sebanyak tiga kali, kayu yang ia pegang ia jadikan poros untuk dirinya berputar dan menendang satu persatu makhluk-makhluk itu. Seketika mereka terbang terpental dan langsung musnah. Namun sama seperti sebelumnya, makhluk yang lain akan kembali muncul.
Pertempuran itu sama sekali tidak membuat semua orang bangun. Mereka tidur dengan nyenyaknya tanpa terganggu sedikitpun dengan keributan yang terjadi di luar.
"apa yang harus kita lakukan, mereka semakin banyak saja" suara Tegar ia keraskan. Ia telah memotong kepala salah satunya.
"lawan sambil mencari cara" Hasan menjawab dengan suara yang juga dikeraskan.
dan Samuel...?
Laki-laki itu melempar, membanting mereka yang datang silih berganti. pondok di tempat itu menjadi sasaran namun meskipun begitu tidak membuat penghuninya bangun. Bahkan ketika dinding sudah mulai jebol dengan suara keras yang menghantam, tidak membangunkan orang-orang itu.
"bisa gawat kalau penghuni pondok ada yang terluka karena pertempuran ini. Sebaiknya kita melarikan diri ke tempat yang luas, mereka pasti akan mengejar, ayo" Aji Wiguna sudah lebih dulu berlari
Di susul oleh Hasan, Yusrif juga Tegar, sementara Samuel masih berusaha meloloskan diri sebab dirinya sudah tidak bisa kemana-mana karena dikepung. Alhasil, Samuel berlari dan melompat setinggi-tingginya menginjak bahu makhluk-makhluk itu, dan berlari di atas bahu mereka. Setelahnya Samuel mendarat di tanah kemudian menyusul tiga temannya yang sudah mulai jauh.
Mereka semakin jauh berlari hingga tanpa sadar sudah mendekati pantai. Sementara para makhluk itu, mengejar mereka. Ada yang melayang, merangkak dan berlari.
"bisa mati konyol kita kalau mereka tidak mati-mati" Yusrif semakin kesal, keringat sudah membasahi punggungnya.
"pasti ada cara untuk memusnahkan mereka" ucap Tegar.
"iya...tapi caranya apa. Mending manjat pohon aja deh biar aman. Mereka kan nggak bisa pasti manjat pohon"
"nggak bisa udelmu" Samuel menggeplak kepala Yusrif. "mereka bisa terbang bego"
"eh iya ya" Yusrif cengengesan, menggaruk kepala karena kebodohannya.
"bagaimana Aji...?" tanya Hasan.
Para makhluk itu masih jauh namun sudah terdengar suara seperti gerombolan hewan yang datang ke arah mereka. Aji mengangkat kepala, melihat ke atas sana.
"bagaimana kalau kita mencoba saran dari Yusrif...?" ucapnya sembari menatap semua orang.
"naik pohon...?" refleks Yusrif menunjuk ke atas.
"iya, mumpung mereka masih jauh. Setidaknya di atas sana kita bisa memikirkan cara tanpa harus lelah melawan"
"tapi...kalau ketahuan akan semakin sulit untuk turun" Tegar ragu.
"tinggal lompat saja, apa susahnya. Ayo. tuh pohon yang tinggi, kita naik pohon itu saja. Ayo, mereka semakin dekat" Aji Wiguna melesat.
"eh eh eh....tapi aku nggak bisa manjat pohon bos. Bos....ya ampun bos aku gimana ini...?" Yusrif panik sebab hanyalah ia sendiri di bawah sana, yang lainnya sudah melompat menggapai dahan yang bisa menahan tubuh mereka.
"ayu Yus... ngapain masih di situ...?" Samuel melihat ke bawah"
"nggak bisa naik aku mas... huwaaaa tolongin dong" rengeknya.
Semuanya menepuk jidat. Pemuda itu yang memberikan usul untuk naik ke atas pohon namun ternyata dia juga yang tidak bisa memanjat pohon. Alhasil Samuel mencoba turun dan melompat ke bawah. Ia pun menarik tangan Yusrif untuk berlari sebab para makhluk itu semakin dekat.
keduanya bersembunyi di semak-semak, karena tidak ada tempat persembunyian selain di tempat itu.
"kita ikut turun nggak...?" Tegar bertanya dengan pelan.
"ya nggaklah, lagipula mereka tidak menemukan Samuel dan Yusrif. kita di sini saja. Siapa tau mereka langsung pergi" jawab Hasan.
tidak menemukan mangsa yang mereka kejar, para makhluk itu celingukan mencari. Mereka bergerak ke sana kemari bahkan tidak ada ciri-ciri untuk meninggalkan tempat itu.
Yang di atas pohon memantau ke bawah sementara yang di semak-semak menahan nafas, ketika beberapa dari makhluk itu berdiri tepat di samping mereka.
"haaa...haaachimmmm"
Yusrif tidak bisa menahan gatal di hidungnya sehingga dirinya bersin saat itu. Untungnya Samuel seketika langsung membekap mulutnya sehingga suara Yusrif tidak terdengar.
"tahan Napa sih" Samuel berbicara tanpa suara dan hanya gerakan bibir saja.
"nggak bisa, hidung aku gatal" Yusrif menggosok hidungnya sampai gatal itu hilang.
Dua makhluk itu semakin mundur ke belakang, apesnya lagi kaki besar makhluk itu menginjak tangan Yusrif yang ada di dekatnya. Hampir saja Yusrif mengeluarkan paduan suara jika Samuel lagi-lagi tidak membekap mulutnya.
Hmmm...hmmm...
Yusrif melotot dan menunjuk tangannya, Samuel mengikuti arah tunjuk pemuda itu. Ingin rasanya Samuel tertawa terbahak-bahak, namun jika ia melakukan itu sudah pasti mereka akan ketahuan.
"tahan...tahan sebentar saja" Samuel tetap membekap mulut Yusrif.
Hmmmm... hmmmm...
Yusrif menggeleng dengan wajah yang sudah memerah bahkan air matanya hendak keluar. Sungguh dirinya ingin sekali mensleding wajah makhluk besar itu.
Ketika tangannya telah terbebas, Yusrif meniup tangannya yang memerah dan mungkin saja lepes. Ia menangis diam seperti anak kecil, Samuel mati-matian menahan tawa, dirinya begitu ingin menertawakan Samuel.
"makhluk kampret...si kutu kupret, huwaaaa tanganku"
"Yus...astaga... mampus kita"
Yusrif baru sadar kalau dirinya telah mengeluarkan suara. Dan ketika mengangkat kepala, para makhluk itu sedang menatap nyalang ke arah mereka.
"ngapain lu liat liat gue. Elu yang nginjak tangan gue kan. Rasakan ini, hiyaaaaaa"
Buuukk
Perasaan kesal yang ditahannya sejak tadi, Yusrif keluarkan dan menghajar makhluk besar yang menginjak tangannya tadi. Alhasil makhluk itu terbang dan menindih teman-temannya.
"maju sini...kalian pikir kami takut. Ayo maju" Yusrif keluar dari persembunyian.
Tidak ada pilihan lain akhirnya Samuel pun ikut keluar. Mereka mulai di dekati dan detik berikutnya mulai diserang.
"anak buahmu tuh" Hasan mengkode Aji Wiguna.
"haaah" Aji Wiguna menghela nafas. "memang benar-benar ya anak itu"
Terpaksa mereka keluar dari persembunyian dan kembali bertempur. Tidak ada habisnya para makhluk itu, malah semakin bertambah banyak kali ini.
Aji Wiguna berputar dan mengeluarkan bola api di telapak tangannya. bola api itu semakin membesar dan terbelah menjadi beberapa bagian. Anehnya, ketika melihat api, makhluk-makhluk itu mundur dan tidak menyerang Aji Wiguna. Mereka seperti ketakutan dan cemas.
"apa mereka takut dengan api...?" pikir Aji Wiguna. "saya tidak akan tau jika tidak mencoba"
Saat itu Aji Wiguna melesatkan bola-bola api ke arah makhluk-makhluk itu. Di luar dugaan, mereka ketakutan dan mencoba menyelamatkan diri. Namun sayangnya ketika target sudah terkunci maka tidak ada yang bisa menghindari. Beberapa dari mereka terbakar oleh bola api Aji Wiguna.
"mereka musnah dengan api. bagaimana kalau kita bakar tempat ini, dengan begitu mereka tidak akan bisa kabur" Tegar memberikan ide.
"kamu mau kita mati terpanggang di sini juga" Aji Wiguna menyentak.
"kan ada mas Hasan yang bisa mengendalikan air laut untuk memadamkan apinya jika mereka sudah musnah. Ayolah bos, kita tidak punya cara lain" desak Tegar.
"bagaimana San...?" Aji Wiguna meminta pendapat Hasan.
"lakukan saja tapi sebelum itu kita harus berkumpul di satu titik agar tidak ada yang terjebak di dalam kobaran api" Hasan menjawab, ia sedang sibuk menghajar satu persatu yang datang kepadanya.
"SAMUEL... YUSRIF...IKUT KAMI" teriak Aji Wiguna.
Dua pemuda itu melarikan diri ke arah tiga teman mereka. Mereka kembali berlari namu. Tidak jauh. ketika para makhluk itu sedikit jauh. Aji Wiguna duduk bersila memustkan pikiran agar kekuatan besar yang akan ia lakukan, bisa dapat ia kendalikan. Kedua tangannya menengadah ke atas, kemudian sebuah bola api kecil muncul tiba-tiba ketika Aji Wiguna merapalkan mantra. Semakin besar dan semakin besar sehingga makhluk-makhluk itu berhenti ketika melihat api.
Aji Wiguna tiba-tiba melayang dan masih dalam keadaan duduk bersila. Ia kemudian membuka mata dan
Swing
Swing
Swing
empat arah ia lesatkan bola api yang begitu besar sehingga mengenai pohon dan langsung terbakar. semua setan itu banyak yang terbakar namun ada juga yang langsung melarikan diri dengan masuk kembali ke dalam tanah.
Api besar mulai membakar hutan, membumbung tinggi bagai monster yang siap melahap apa saja yang ia temukan.
mereka menyelamatkan diri berlari ke arah pantai yang sudah dekat dengan tempat mereka tadi.
"mas...matikan apinya mas...ayo matikan" Yusrif panik dan mengguncang lengan Hasan.
Hasan duduk bersila, bibirnya bergerak tanpa suara. kedua matanya fokus melihat ke arah laut yang tenang malam itu. telapak tangan kanannya ia arahkan ke depan. Perlahan-lahan air yang tenang itu mulai berombak dan semakin lama semakin menjadi.
air laut berputar dan naik ke atas. Terlihat seperti akan terjadi tsunami, karena Hasan membutuhkan air laut dalam jumlah yang begitu banyak.
tangan Hasan gerakkan ke arah hutan yang kebakaran. Air yang membumbung tinggi itu melesat begitu cepat dan menyirami api yang menyala-nyala. Bahkan mereka basah kuyup saat itu juga karena air laut yang naik ke atas permukaan dan menyeret mereka.
Api yang tadinya menyala-nyala, lenyap dan padam seketika berkat apa yang dilakukan oleh Hasan. Menyisakan asap yang naik ke atas sementara empat pemuda itu, berenang untuk sampai ke permukaan karena mereka diseret oleh air laut tadi.
"Alhamdulillah...aku selamat ya Allah" Yusrif mengusap wajahnya.
"huufffttt... untung ada Hasan" Samuel mengatur nafasnya yang naik turun.
Mereka membaringkan tubuh di atas pasir, malam itu sungguh melelahkan bagi mereka.
____
"ke arah ini kan...?" Akmal menunjuk arah yang mereka temukan jejak kaki tadi.
"iya... memang kita akan ke arah sana" Sofia membenarkan.
"kalau begitu kamu di depan sekarang karena kamu yang tau dimana tempat itu" ucap Fatahillah.
Sofia mengangguk, tadinya ia di tengah kini dirinya mulai mengambil tempat di depan semua orang. Lalu menyusul Alex kemudian Akmal dan paling belakang adalah Fatahillah.
"Sofia... apakah tempat rahasia itu semacam berada di sebuah gua atau mungkin di ruang bawah tanah...?" kali ini Alex bertanya sebab biasanya memang seperti itu.
"bukan mas...di tengah hutan ini ada kampung. Nah di kampung itulah saya dibawa untuk melayani penjaga yang ada di sana. saya pernah datang juga bersama bos dan mbak Utami" Sofia menjawab tanpa berhenti.
"kampung...?" ketiga pemuda itu bertanya bersamaan.
"iya... awalnya aku juga nggak yakin kenapa bisa kok ada kampung di tengah hutan. tapi bos memberitahu kalau memang mereka itu adalah penghuni hutan bambu ini. Bos sering ke sana bersama Utami. penduduknya banyak loh mas, mereka sama seperti kita"
"apa iya ada manusia yang tinggal di tengah hutan" Alex menggaruk kepala.
"kok aku nggak yakin ya" timpal Akmal.
"bisa jadi memang benar. Ini kan pulau, siapa saja bisa tinggal di tempat ini. Mungkin saja mereka memang sudah lama tinggal di pulau ini" Fatahillah masih berpikir positif..
"iya juga sih, kan banyak orang-orang yang tinggal di sebuah pulau dan jauh dari masyarakat" Alex berpikir apa yang dikatakan Fatahillah adalah masuk akal.
Mereka terus berjalan sudah semakin jauh, Sofia menelisik sekitar dan menggaruk kepala.
"kenapa kakak ipar...? Kok seperti orang kebingungan gitu" tanya Akmal.
"emmm aku pusing... apakah kita salah jalan ya"
"salah jalan bagaimana, bukannya kamu bilang tau tempatnya dimana...?" ucap Alex.
"ada apa Sofia, kamu merasakan sesuatu yang salah...?" Fatahillah menatap wanita itu.
"harusnya tidak lama kita jalan kaki, kita akan menemukan padang rumput yang luas, dan setelah melewati padang rumput itu maka kita akan sebuah gapura tempat kampung itu berada, tapi kok sampai sekarang kita tidak menemukan padang rumput itu ya" Sofia semakin kebingungan.
"kamu yakin kita akan menemukan padang rumput...?" tanya Alex.
"benar mas, aku pernah ke sini. tapi ini aneh, kita tidak menemukan padang rumput itu. Apa mungkin kita salah jalan"
"bagaimana ini Fatah...?' Alex mendekati Fatahillah.
Fatahillah berjongkok dan memegang tanah, ia menutup kedua matanya dan ingin merasakan apakah ada sesuatu di tempat itu.
"sepertinya tempat itu diselimuti tabir sehingga kita tidak bisa melihatnya dan hanya berkeliling tanpa tujuan" Fatahillah berdiri kembali.
"jadi maksud mas Fatah, tempat itu benar-benar ada...?" tanya Akmal.
"aku percaya pada Sofia" jawab Fatahillah.
"lalu apa yang harus kita lakukan...?" tanya Alex.
Sofia yang kebingungan, bersandar di batang pohon yang ada di dekatnya. Dirinya hanya mendengar dan melihat tiga pemuda itu berbicara hal yang tidak ia mengerti.
"tabir ini kuat, sepertinya harus butuh kekuatan ekstra. Kalian mundurlah dan berjaga, jangan sampai ada yang datang"
Alex juga Akmal mundur menjauh, sementara Fatahillah berdiri tegak menatap lurus ke depan. Kerispatih miliknya keluar dari telapak tangannya. Melihat itu, Sofia membulatkan mata dan takjub.
"apakah dia dukun...?" Sofia hendak mendekati Fatahillah namun Alex langsung menahannya.
"tetap di sini"
"tapi aku ingin melihat dia"
"tetap di sini atau kamu pulang sendirian" ancam Alex.
"dia mungkin mau minta putus mas" Akmal bicara sesukanya.
Sofia akhirnya mundur dan kembali ke tempatnya bersandar tadi. Namun matanya tidak lepas memperhatikan Fatahillah.
Fatahillah Malik....
Murid dari guru Halim dan keturunan dari keluarga Sukandar...
Pemuda itu memusatkan pandangan ke depan, dan dengan cepat berputar melempar Kerispatih ke depan sana. Benar apa yang menjadi dugaannya, ada tabir yang menghalangi mereka. Terbukti saat Kerispatih miliknya tertancap dan tidak jatuh ke tanah. Karena kerisnya itu, maka terlihatlah tabir yang pertamanya tidak dapat dilihat oleh mata.
Ia mengeluarkan kekuatannya dan mengarahkan ke arah tabir itu. Sayangnya dirinya langsung terpental dan tersungkur ke tanah.
"mas"
Akmal buru-buru menghampiri Fatahillah dan membantunya untuk bangun. Sofia semakin mrngangga, baru kali ini dirinya melihat seseorang yang memiliki kekuatan yang tidak dimiliki oleh manusia lainnya.
"apakah dia elien ya" Sofia menggaruk kepala.
"kenapa bisa kamu terpental...?" tanya Alex.
"tabir itu terlalu kuat, sepertinya aku salah langsung mengeluarkan satu kali kekuatan besar" Fatahillah menghela nafas.
"lalu sekarang bagaimana...?" Akmal risau.
Fatahillah tidak menjawab, namun ia kembali melangkah ke depan dan mengatur nafas.
"bismillahirrahmanirrahim
aku hanya manusia biasa Tuhan, semua yang aku miliki hanya secuil dari apa yang Engkau punya. Maka dari itu, bantu aku membuka tabir ini. Laahaula walaakuwata illabillah....
ALLAHUAKBAR"
Fatahillah melesatkan sedikit kemampuannya. Luar biasa, dirinya tidak lagi terpental. Kemudian ia menambah menaikkan energi kekuatannya, masih aman dan tidak ada reaksi apapun. Setelah itu kembali ia menaikkan energinya, seperti itu seterusnya sampai ia merasa tubuhnya mulai lemah. rupanya tabir itu ketika mengeluarkan energi yang cukup besar maka dia akan menyerap energi itu dan membuat yang mengeluarkan energi menjadi lemah.
tapi hanya dengan begitu cara satu-satunya untuk membuka tabir tersebut. Meskipun begitu, tetap harus dengan kekuatan besar agar tabir itu musnah.
"LANGON"
GRAAAAAR
Langon datang seketika, hanya seorang diri tanpa Gangan.
"berikan aku energimu, aku butuh energimu" Fatahillah mulai berkeringat
Langon mengelilingi Fatahillah tiga kali. Tubuh Fatahillah mulai terjatuh dengan kedua lutut sebagai penopang tubuhnya. Dirinya benar-benar merasakan energinya diserap. Saat itu Langon bercahaya dan kemudian ia tempelkan satu kakinya di punggung Fatahillah. energi dari Langon, masuk ke dalam tubuh Fatahillah.
Alex, Akmal dan Sofia hanya bisa menonton karena mereka tidak mempunyai kekuatan besar untuk diberikan kepada Fatahillah. Mereka hanya bisa berdoa semoga Fatahillah berhasil dan baik-baik saja.
Mendapatkan tenaga kembali, Fatahillah kembali berdiri sementara Langon beralih memegang kakinya agar transfer energi tetap berjalan.
Dua mustika merah keluar dari tubuhnya dan mengelilinginya. Dua mustika itu mengeluarkan setengah energi dari keduanya dan kembali masuk ke dalam tubuh tuannya. Energi yang dikeluarkan dua mustika itu menjalar berkumpul di telapak tangan Fatahillah. Selain itu, Fatahillah juga menggunakan kekuatan cincin gioknya dan
"bismillahirrahmanirrahim
ALLAHUAKBAR"
kekuatan besar itu ia lesatkan ke depan, tepat mengenai tabir itu dan
Ddduuuaaaar....
Sebuah ledakan menghancurkan tabir tersebut. Akibat ledakan dari tabir itu, mengakibatkan angin besar dan menghantam mereka semua sehingga mereka terpental jauh.