Fatahillah

Fatahillah
Bab 55



di desa keramat Zelina masih di kurung di dalam kamar bersama dengan Arjuna. awalnya keduanya dipisah namun kemudian Ki Demang menyuruh Alex untuk membawa Arjuna ke kamar yang di tempati oleh Zelina. hal itu agar mereka tidak perlu repot-repot mengurus dan memeriksa masing-masing dari keduanya.


tangan dan kedua kaki mereka di ikat seperti di pasung agar tidak bisa melarikan diri.


"Arjun maafkan mbak ya, harusnya kamu tidak mengalami nasib seperti ini. niat hati ingin membawa kamu ke tempat yang nyaman tapi sekarang kita malah di kurung di sini" Zelina merasa bersalah


"tidak apa-apa mbak, aku malah bersyukur bisa bersama mbak Zelina di kurung di tempat ini. setidaknya aku bisa menemani mbak Zelina selama mas Fatah belum datang" Arjuna menampilkan senyumnya


"apakah dia tau kalau kita di culik oleh mereka. aku tidak khawatir pada diriku tapi aku khawatir padanya. dia belum sembuh total. apalagi banyak orang yang ingin membunuhnya, mbak takut orang-orang itu dapat mencelakai suami mbak" Zelina melihat ke arah jendela kamar


cahaya matahari mulai masuk ke dalam kamar tersebut karena jendela kamar tidak mempunyai gorden.


"semuanya akan baik-baik saja mbak, kita serahkan semuanya kepada Tuhan. Dia tau mana hambanya yang dapat memikul ujian yang berat" Arjuna menyeret tubuhnya untuk bersandar di dinding


pintu kamar terbuka, salah seorang murid Ki Demang masuk ke dalam dengan dua piring nasi dan lauk di tangannya.


"makanlah, kalian harus mempunyai tenaga jangan sampai mati sebelum misi kami tercapai" ia menyimpan piring yang terbuat dari keramik itu di depan Arjuna dan Zelina


"bagaimana kami bisa makan kalau kedua tangan kami di ikat seperti ini" ucap Arjuna


orang itu nampak berpikir sejenak kemudian ia mendekati Arjuna dan melepaskan ikatan tangan kanannya hanya untuk digunakan memegang sendok. setelah itu ia berpindah ke ara Zelina namun wanita itu mundur perlahan karena tidak ingin di dekati.


"biar adikku saja yang menyuapi aku" ucap Zelina


"wanita sok suci, apakah kamu lupa saat menculik kalian justru aku memegang tubuhmu itu" laki-laki itu tersenyum sinis


Zelina mengalihkan pandangannya ke arah lain dan menutup rapat mulutnya untuk tidak menjawab perkataan laki-laki itu.


"aku yakin wajahmu pasti buruk rupa sampai kamu harus menutupinya. jika tidak mana mungkin kamu berpakaian tertutup seperti ini. kamu pikir aku akan tergila-gila padamu" laki-laki itu menarik wajah Zelina dan mencengkeramnya


Zelina meringis menahan sakit, ia mencoba untuk melepaskan diri namun karena kedua tangannya yang terikat membuat dirinya tidak dapat berbuat apa-apa.


"lepaskan kakakku brengsek" Arjuna menarik laki-laki itu dan memberikan bogem mentah menggunakan tangannya yang terlepas dari ikatannya tadi


laki-laki itu tersungkur di dinding kamar tersebut. Arjuna membuka ikatan tangan kirinya dan juga kedua kakinya. setelahnya ia yang hendak menghajar laki-laki itu namun laki-laki itu lebih dulu menendangnya hingga Arjuna terjungkal ke dinding.


buaaaak


buaaaak


laki-laki itu memukul Arjuna dengan bertubi-tubi. Arjuna menggunakan kedua tangannya untuk menahan serangan. setelah mendapatkan kesempatan untuk menyerang, Arjuna menendang ************ laki-laki itu hingga laki-laki itu teriak kesakitan. bukan hanya sampai di situ, Arjuna menggunakan sikunya memukul rahang laki-laki itu hingga darah keluar dari mulutnya.


"Arjuna hentikan...kamu bisa membunuhnya" Zelina panik karena Arjuna seperti seseorang yang kesetanan. ia terus memukul membabi buta.


laki-laki itu sudah tidak sadarkan diri namun Arjuna belum berhenti memukul wajahnya. bahkan tangannya sudah berdarah, darah dari laki-laki itu.


Alex yang mendengar keributan dari kamar tawanan mereka, dirinya yang berada di dalam kamarnya langsung keluar dan melesat ke kamar satunya.


tanpa banyak kata Alex menarik Arjuna dan membawa ke sudut kamar. kemudian ia memukul tengkuk Arjuna hingga ia tidak sadar diri.


"Arjun... Arjuna" Zelina panik karena Arjuna tergeletak di lantai


"dia hanya pingsan" Alex memberitahu


rumah dalam keadaan sepi karena murid-murid Ki Demang sedang berlatih di tempat latihan sementara Ki Demang dan Aji Wiguna berada di sungai tempat Aji Wiguna akan di obati lagi. hanya ada Alex di rumah itu dan dua orang tawanan mereka, Arjuna dan Zelina.


Zelina bernafaskan lega, ia mengira kalau Alex membunuh Arjuna namun ternyata remaja itu hanya di buat pingsan oleh tangan kanan Aji Wiguna itu.


Alex terpaku di tempatnya karena ia merasa terpesona dengan kecantikan Zelina. ternyata saat Arjuna menarik laki-laki dari murid Ki Demang tadi, laki-laki itu rupanya tanpa sengaja menarik cadar Zelina hingga terlihat wajah ayu dan cantik yang selama ini hanya bisa di lihat oleh Fatahillah seorang.


Zelina yang baru saja sadar kalau cadarnya terlepas, ia langsung menundukkan kepalanya merasa malu dan tidak pantas di lihat oleh laki-laki lain selain suaminya.


"ekhem"


Alex berdehem, suasan seketika canggung baginya juga bagi Zelina. dengan perasaan kasihan kepada wanita itu, Alex mengambil cadar Zelina yang ada di lantai dan ia mendekati wanita itu.


"maaf" satu kata yang keluar dari mulut Alex saat ia akan memasangkan kembali cadar Zelina, dimana tali cadar itu hanya di ikat di belakang kepala


Alex sama sekali tidak menyentuh Zelina, bahkan ia mengambil jarak agar tidak bersentuhan dengan Zelina. setelah memasangkan cadar Zelina, Alex kembali berdiri.


"terimakasih. tapi harusnya ikatan tanganku yang kamu lepas agar aku dapat memakai sendiri cadarku" ucap Zelina


"aamm...maaf...aku tidak berpikir sampai ke sana" Alex semakin kikuk


Alex kembali mendekati Zelina dan membuka kedua ikatan tangannya. tidak menyentuh namun Alex menggunakan tenaga dalamnya untuk membuka tali itu. pantas saja Fatahillah pernah terluka olehnya rupanya Alex mempunyai ilmu tenaga dalam yang mumpuni.


"makanlah" ucap Alex kemudian berdiri


ia menyeret murid Ki Demang tadi dan keluar dari kamar setelah itu ia mengunci pintu kamar tersebut.


Zelina menangis dalam diam. ia menggigit bibir agar suara tangisnya tidak terdengar di luar. dirinya sangat merindukan Fatahillah, ia berharap suaminya itu akan datang untuk menyelamatkan dirinya dan juga Arjuna.


"aku rindu mas" gumamnya pelan sambil menatap cincin pernikahan yang melingkar di jari manisnya


satu hari tidak makan membuat Zelina merasakan lapar. ia pun memakan makanan yang di bawakan tadi. sementara Arjuna kini mulai sadar dan bangun bersandar di dinding kamar.


"kamu sudah sadar...?" Zelina senam Arjuna telah siuman dari pingsannya


"mana laki-laki tadi, harusnya tadi aku membunuhnya" Arjuna kembali merasakan kemarahan


"jangan membuat kesalahan yang hanya akan mempersulit kita Arjun. jika kamu yang terluka, mbak akan bertambah merasa bersalah padamu"


"tapi laki-laki tadi menyentuh mbak, tentu saja aku tidak akan tinggal diam. harusnya aku patahkan tangannya tadi"


Zelina menghela nafas kemudian ia menyodorkan piring makanannya di depan Arjuna.


"makanlah, kamu pasti lapar"


"lalu Mbak bagaimana...?"


"mbak tidak lapar"


Arjuna mengambil piring itu dan menyeret tubuhnya untuk duduk di dekat Zelina.


Arjuna mengambil sendok miliknya yang sudah tergelatak di lantai begitu juga dengan makanannya tadi akibat perkelahian mereka. keduanya makan dalam sepiring berdua.


melihat matahari yang semakin meninggi membuat Zelina berpikir mungkin kini waktunya sholat dzuhur. ia pun melakukan tayamum karena tidak mendapatkan air. hanya itu satu-satunya cara agar ia tidak meninggalkan kewajibannya. Arjuna melakukan hal yang sama, ia juga bertayamum dan mereka berdua sholat berjamaah. Arjuna sebagai imam untuk Zelina.


di rumah lain yang masih berada di desa keramat, Wiratama sedang mencabut singkong di belakang rumah seorang dukun yang akan di bawanya di kota nanti. dengan parang yang ia pegang, Wiratama memotong rerumputan yang menghalangi tangannya.


setelah cukup untuk dirinya dan juga dukun itu, Wiratama memikul keranjang miliknya sebagai tempat penyimpanan singkong tersebut. ia melangkah mendekati rumah dan menurunkan keranjang miliknya di tempat duduk yang ada di belakang rumah. bukan kursi namun tempat duduk yang terbuat dari kayu seperti gazebo namun tidak memiliki atap.


"kamu sudah mencabutnya...?" dukun itu keluar dan duduk bersama Wiratama


"sudah Mbah" Wiratama melap keringatnya yang ada di keningnya


"sekarang kupas lah, aku akan ke sungai dulu untuk menangkap ikan"


"baik Mbah"


dukun itu berjalan meninggalkan Wiratama, sedang laki-laki itu mulai mengupas kulit singkong itu.


"aku kenapa malah menjadi pembantu di tempat ini sih" Wiratama menggerutu


namun ia tidak punya pilihan lain selain tetap bertahan karena tujuan dirinya datang ke tempat itu adalah untuk membawa dukun itu bertemu Samantha Regina, menjadikan dukun itu pengikut mereka.


Wiratama yang sedang fokus mengupas kulit singkong itu, tiba-tiba sebuah serangan datang menyerangnya. sebuah kayu yang di lempar dari arah hutan belakang rumah melayang begitu cepat ke arahnya.


hap


Wiratama menangkap kayu itu dan mempertajam penglihatannya ke dalam hutan sana.


"siapa yang berani-beraninya menyerangku" teriak Wiratama


"tangkapanmu bagus juga anak muda" dukun tadi yang berpamitan untuk ke sungai tiba-tiba sudah datang dengan beberapa ekor ikan di keranjang miliknya


"Mbah" Wiratama kaget


"kenapa, kamu ingin membalasku...?" dukun itu menaruh ikannya di atas tempat duduk mereka


"mana berani aku Mbah" Wiratama menunduk hormat


"hmmm... istirahatlah, biar saya yang memasak. jika sudah masak saya akan membangunkanmu"


"tidak usah Mbah, aku tidak lelah" Wiratama menolak


hari mulai menjelang malam. setelah sholat isya pintu kamar kembali terbuka, kini Ki Demang dan Aji Wiguna serta Alex masuk ke dalam kamar itu. mereka bertiga duduk ranjang yang ada di kamar itu.


"apa yang kalian inginkan...?" Zelina bertanya


"kerjasama" jawab Ki Demang


"kerjasama...?" Arjuna mengernyit


"aku ingin kalian bekerjasama denganku, dengan kami semua untuk mendapatkan mustika merah" ucap Ki Demang


"kamu ingin agar aku menjadi bagian dari Kalian dan memusuhi suamiku...?" tanya Zelina


"jika kamu mau bekerjasama maka nyawamu akan aman" kini Aji Wiguna yang bersuara


"hhh, lucu sekali. nyawaku ada di genggaman Tuhanku, bukan di tangan orang-orang jahat seperti kalian" Zelina berucap sinis


Arjuna tertawa kecil kemudian menutup mulutnya dan menatap nyalang ketiga orang itu.


"jangan mimpi Ki" ucap Arjuna "lebih baik kami mati" lanjut Arjuna


"kamu" Aji Wiguna hendak mendekat untuk memukul Arjuna namun Ki Demang menahannya


"kita keluar" ucap Ki Demang


"tapi Ki" Aji Wiguna keberatan


tanpa mendengar keberatan Aji Wiguna, Ki Demang keluar di ikuti oleh Alex. Aji Wiguna menatap nyalang ke Arjuna dan mendekati remaja itu.


"akan ada saatnya, kamu akan meminta ampunan kepadaku" Aji Wiguna menepuk pelan wajah Arjuna


Arjuna tersenyum tipis kemudian berbisik di telinga Aji Wiguna.


"dan akan ada saatnya, nyawamu akan di cabut oleh malaikat maut memalui pemuda yang memiliki mustika merah"


"kurang ajar"


bugh


uhuk...uhuk


Aji Wiguna memukul perut Arjuna membuat remaja itu terbatuk-batuk. setelahnya Aji Wiguna melihat ke arah Zelina yang sejak tadi hanya diam. Aji Wiguna tersenyum menyeringai dan menatap lekat Zelina dari ujung kepala sampai ujung kaki.


Aji Wiguna mendekati Zelina dan tanpa aba-aba ia menjambak kasar hijab wanita itu.


"kurang ajar, apa yang kamu lakukan" Arjuna bangkit namun dirinya tidak dapat menggerakkan tubuhnya. itu semua karena ulah Aji Wiguna


"lihat saja, suamimu akan menjadi mayat nantinya" Aji Wiguna menghentakkan tubuh Zelina dengan kasar dan ia pun meninggalkan kamar itu.


Zelina meneteskan air matanya, ia begitu jijik karena terus di sentuh oleh laki-laki yang bukan mahramnya.


"mas Fatah, cepatlah datang" gumamnya memperbaiki hijabnya


"jangan menangis mbak. malam ini kita rencanakan untuk kabur dari tempat ini"


"bagaimana caranya...?" Zelina mendongakkan kepalanya untuk melihat ke arah Arjuna


"percaya padaku, aku akan membawa mbak pergi dari tempat ini" Arjuna meyakinkan Zelina


malam itu keduanya merencanakan sesuatu untuk dapat melarikan diri dari tempat itu.