
aku masih terus mengatur nafas karena mimpi yang entah buruk ataukah bukan. jika mimpi buruk, tidak terjadi sesuatu hal kepada ibu dalam mimpiku itu. namun jika hanya mimpi biasa, kenapa aku merasakan perasaan yang begitu tidak enak, perasaan cemas dan khawatir.
"mas mimpi buruk...?" tanya Zelina padaku
aku bangun dan bersandar di kepala ranjang, kepalaku terasa pusing dan berat.
"aku mimpi bertemu ibu" jawabku
"insya Allah ibu akan baik-baik saja. kalau begitu untuk menghilangkan kecemasan yang mas alami, kita hubungi saja ibu"
"besok saja, ini sudah larut malam. ibu pasti sudah tidur"
"loh mas, bahkan ini baru hampir jam 3 sore mas... bagaimana bisa sampai sudah mau larut malam"
"hah...?"
aku tercengang. ku lihat jam di pergelangan tanganku memang menunjukkan pukul 14.50, sebentar lagi beralih ke jam 15.00.
astagfirullahaladzim
aku mengusap wajah dengan kedua tangan. aku pikir sekarang ini adalah waktu larut malam makanya aku berinisiatif akan menghubungi ibu jika sudah pagi nanti, nyatanya aku yang linglung.
aku ingat sekarang, tadi setelah sholat dzuhur dan makan siang aku berpamitan kepada Akmal dan yang lainnya untuk tidur siang karena mataku yang begitu mengantuk. tidak kusangka aku linglung seperti ini.
"mau telepon ibu sekarang...?" tanya Zelina
"boleh, tolong ambilkan ponselku" jawabku
Zelina mengambil ponsel milikku yang ada di atas nakas kemudian memberikannya padaku. aku mencari nomor ibu dan menghubunginya. beberapa kali aku memanggil namun ibu tidak menjawab panggilan dariku. hatiku mulai diliputi rasa cemas.
"tidak diangkat" jawabku
"coba hubungi bibi Fatimah" ucap Zelina
aku mencari nomor bibi Fatimah dan menekannya melakukan panggilan. sama seperti ibu, masuk namun tidak diangkat. apakah mereka ada urusan atau tidak membawa ponsel disekitar mereka.
aku beralih menghubungi Yusuf. bukankah ibu dan keluargaku yang lain sudah dibawa ke rumah sahabat ku itu. hanya dia yang dapat aku minta keterangan, bagaimana dengan keadaan di sana.
"assalamu'alaikum Yus" ucapku setelah Yusuf mengangkat panggilanku
"alaikumsalam, aku sedang sibuk Fatah. ada apa...?"
"kamu di rumah sakit...?"
"emmm...iya, aku di rumah sakit"
"ibuku dan yang lainnya bagaimana, mereka baik-baik saja kan. tiba-tiba saja aku mengkhawatirkan mereka"
"ibumu....di rumah sakit sekarang"
"APA...?
aku refleks mengeluarkan suara keras saat mendengar Yusuf mengatakan kalau ibu berada di rumah sakit.
"apa yang terjadi dengan ibuku Yus, kenapa bisa dia masuk di rumah sakit" hatiku dilandasi kecemasan yang luar biasa
Zelina memegang tanganku dan aku melihat ke arahnya. mungkin dia bermaksud memberi tahuku agar aku jangan begitu panik.
"halo Fatah, ini ibu" kini suara Yusuf berganti menjadi suara ibu
"ibu, apa yang terjadi...kenapa bisa masuk rumah sakit...?" aku bertanya dengan mata yang nampak akan berair
"ibu tidak apa-apa. hanya jatuh di kamar mandi. kamu tidak perlu cemas, nak Yusuf sudah mengobati ibu. apakah kalian sudah sampai di gunung Sangiran...?"
"kami tidak lagi ke gunung Sangiran bu, kami sekarang di kota B karena kiayi Zulkarnain ada di sini, di pesantren adiknya"
"lalu bagaimana keadaan wanita yang akan diobati itu...?"
"insya Allah nanti malam akan dimulai pengobatannya. ibu benar-benar tidak apa-apa kan. jangan menutupi apapun dariku bu, bagaimana Fatah bisa menjalani hidup kalau terjadi sesuatu dengan ibu"
"ibu tidak apa-apa, hanya cedera biasa. ya sudah, kamu bicara lagi dengan nak Yusuf, ibu mau istirahat"
"halo Fatah" ponsel beralih kepada Yusuf kembali
"para ninja itu tidak lagi mengincar kalian kan Yus...?"
"untuk sekarang belum namun kita harus tetap waspada. bagaimana dengan Hanum...?"
"nanti malam akan dilakukan pengobatan. Yus, tolong jaga keluargaku baik-baik"
"insya Allah. eh tapi ngomong-ngomong Anisa juga ada di kota B sekarang"
"iya, kami sempat bertemu dengannya"
"aku hanya mau mengingatkan Fatah, jaga Zelina baik-baik. kita tau bagaimana sifat asli Anisa. kalau begitu sudah dulu ya. aku harus memeriksa pasien yang lain. assalamu'alaikum"
"wa alaikumsalam"
"bagaimana mas...?" Zelina langsung bertanya setelah aku mematikan panggilan
"ibu masuk rumah sakit, jatuh dari kamar mandi" jawabku
"astaghfirullahaladzim, lalu keadaan ibu bagaimana sekarang...?"
"sudah membaik. pantas saja hatiku tidak tenang terus memikirkan ibu setelah memimpikannya, rupanya ibu mengalami kecelakaan kecil"
"kita doakan ibu baik-baik saja" ucap Zelina mengelus tanganku dan aku mengangguk
"Allahuakbar Allahuakbar"
suara azan telah terdengar. aku bangkit dari ranjang dan keluar kamar bermaksud ke kamar mandi untuk berwudhu. di dapur aku bertemu dengan Akmal dan Hasan.
"mas, jadi memancing nggak sebentar...?" tanya Akmal
"memangnya segala perlengkapannya sudah ada...?" tanyaku
"sudah, kami baru saja datang meminta milik para santriwan. pulang dari masjid kita langsung ke sungai" jawab Akmal
"kalian benaran mau pergi memancing...?" tanya ibu Rosida yang baru saja datang
"rencananya sih gitu bu, lumayan kan kalau dapat ikan. bisa untuk lauk sebentar malam" jawab Hasan
"asal kalian hati-hati, jangan sampai kecebur di sungai" timpal ibu Afifah yang datang dengan nampan berisi minuman
"insya bu" jawab Akmal
kami berwudhu dan bergegas ke masjid. setelah melaksanakan sholat ashar, pak Umar dan pak Odir masih bercerita dengan kiayi Zulkarnain dan kiayi Anshor sementara aku, Akmal dan Hasan pamit untuk pulang.
di perjalanan pulang aku melihat ke arah gerbang di depan sana. mataku memicing karena melihat seseorang yang berdiri bersembunyi di balik pagar namun aku dapat melihat kalau dirinya sepertinya sedang mengintai ke arah dalam.
kalau seorang santriwan, untuk apa dirinya bersembunyi seperti tidak ingin diketahui orang lain keberadaannya.
"kalian duluan saja, aku ada perlu di luar sebentar" ucapku
"lah mau kemana Fatah...?" tanya Hasan
"di sana" aku menjawab menunjuk ke arahnya gerbang sambil berlari
aku semakin dekat dengan gerbang pesantren namun saat melihatku, orang itu langsung melarikan diri. tidak ingin kehilangan jejaknya, aku mengejarnya dengan berlari kencang. untung saja aku pakai celana kain jika aku pakai sarung sudah jelas aku tidak dapat berlari dengan leluasa.
"berhenti" teriakku kepada orang itu
tanpa sadar aku sudah semakin jauh dengan pesantren bahkan orang yang aku kejar tidak dapat aku tangkap karena diriku menabrak gerobak laki-laki tua yang sedang hendak menyebrang jalan. aku yang kehilangan kendali tidak dapat mengendalikan diriku langsung menabrak gerobak itu.
braaaakkk
tubuhku di tindih oleh gerobak yang berisi sayur-sayuran. semua datangan bapak tua itu berserakan di aspal.
"astaghfirullah anak muda, kamu tidak apa-apa...?" dengan tubuhnya yang renta, bapak tua ini berusaha membantuku untuk bangun
Allah
aku kaget karena semua dagangnya telah aku hancurkan.
"ya Allah, maaf sekali pak...maaf"
aku membangunkan gerobak yang jatuh miring dan menindih ku tadi. bapak tua itu mengambil satu persatu dagangannya dan memasukkan kembali ke dalam gerobak.
"tidak apa-apa, bapak yang tidak hati-hati sampai harus menabrak kamu" jawabnya dengan senyuman tulus
aku sangat merasa bersalah, padahal sebenarnya aku yang salah karena menabrak gerobaknya namun malah ia menyalahkan diri sendiri.
"sebagai permintaan maaf saya, tolong terima ini ya pak. saya minta maaf yang sebesar-besarnya sudah membuat dagangan bapak hancur"
"masya Allah, jangan nak...ini terlalu banyak. harga semua sayuran ini tidak sampai segini jumlahnya"
ia mengambil hanya satu lembar uang merah dan mengembalikannya kepada ku sebagiannya.
"terima saja pak, anggaplah itu rejeki dari Allah" aku menolak dan menjauh agar dirinya tidak dapat menjangkauku
"Allahuakbar.... Alhamdulillah, terimakasih anak muda.... terimakasih. semoga semua urusanmu dimudahkan oleh yang Maha Kuasa" ucapnya dengan melangkah mendekati ku dan memelukku
aku membalas pelukannya dan mengelus punggungnya yang telah membungkuk. setelahnya aku pamit kepada beliau untuk kembali ke pesantren karena orang yang aku kejar telah menghilang.
"astaghfirullah, sampai sejauh ini aku larinya" gumamku
aku terus menyusuri jalan raya, tidak berniat untuk naik ojek atau kendaraan lainnya. lagi pula suasana di sore hari tidak seperti siang hari yang panas akan matahari.
aku tidak membawa ponsel, maka dari itu aku tidak bisa menghubungi Hasan atau Akmal untuk datang menjemput ku.
sambil berjalan kaki, aku terus memikirkan orang tadi. siapa sebenarnya dia, untuk apa mengintai pesantren Abdullah. ataukah orang itu adalah orang suruhan dari musuh pak Umar yang berniat melakukan hal yang buruk kepada kami. jika memang itu benar berarti kami harus tetap waspada, bisa jadi mereka akan masuk ke dalam pondok dengan menyamar sebagai warga pondok pesantren dan kemudian melakukan aksi jahat kami.
kalau hanya kami yang diincar aku tidak begitu takut namun yang aku khawatirkan jangan sampai mereka mencelakai para santri yang ada di pondok, tentu hal semacam itu tidak bisa dibiarkan.
piiiiiip
aku terlonjak kaget karena seseorang membunyikan klakson mobilnya di dekatku. baru saja akan menegur namun pemilik mobil keluar dan menghampiriku.
"Anisa" ucapku saat mengetahui siapa yang datang menghampiriku
"mas Fatah kenapa jalan kaki sendiri...?" tanya Anisa
matanya melihat ke arah kanan dan kiri memeriksa aku sedang berjalan-jalan bersama siapa.
"sengaja Nis, supaya badan sehat. kamu darimana...?" tanyaku
"aku baru saja pulang dari membawakan seminar. kalau begitu aku antar saja, sekalian ingin tau dimana mas Fatah tinggal di sini"
aku menggaruk kepala yang tidak gatal. bukan apa-apa Anisa akan mengantar aku pulang hanya saja aku tidak enak hati kepada Zelina nanti. apalagi tadi belum sempat izin kepadanya dan main keluar dari area pesantren begitu saja.
"mas Fatah, kenapa malah melamun. ayo aku antar"
"emmm....gimana ya Nis" aku menggaruk hidung
"takut sama mbak Zelina...? mas Fatah ini lucu sekali. masa iya takut sama istri. harusnya mbak Zelina bisa paham dong nanti kalau mas menjelaskan padanya"
"ayo mas" Anisa menarikku dengan paksa dan membawaku ke dalam mobilnya
aku menghela nafas dan terpaksa mengikuti keinginannya. kalau aku menolak, Anisa pasti akan berpikir aku menjauhinya walaupun sebenarnya itu benar karena aku harus menjaga perasaan Zelina.
"mas tinggal dimana...?" tanya Anisa setelah mobilnya mulai bergerak
"pesantren Abdullah" jawabku
"kalian tinggal di pesantren, ngapain...?" Anisa melirik ku sekilas dan fokus lagi ke depan
"ada yang harus kami lakukan di tempat itu" jawabku dan tidak berniat menjelang secara detail
"kamu mulai tertutup sama aku ya mas, padahal dulu kita begitu dekat" ucapnya lirih
"aku masih sama seperti dulu Nis, masih sebagai temanmu"
"tapi mas Fatah sudah sering menghindari ku, apa karena perempuan itu...?"
"dia punya nama Nisa, dia istriku. kalau hanya untuk membahas ini lebih turunkan aku di sini" ucapku dengan tegas
"aku akan mengantar mas ke pesantren itu tapi sebelum itu kita ke hotel tempat aku menginap dulu. aku harus memeriksa tetangga kamarku yang sedang sakit. tadi dia menghubungiku" ucapnya tanpa meminta persetujuan dulu dariku
"kalau seperti itu, turunkan saja aku di depan, aku bisa pulang sendiri"
"mas Fatah kenapa sih, lagian kita nggak akan ngapa-ngapain mas. kalau istrimu cemburu, itu urusan dia"
aku benar-benar tidak habis pikir dengan yang ada di dalam pikiran Anisa. bahkan aku sangat tidak suka dengan ucapannya yang seakan tidak suka dengan Zelina.
"kenapa belok Nis, harusnya lurus"
"kan aku sudah bilang mas, kita ke hotel tempat aku menginap dulu baru setelah itu aku akan mengantar mas Fatah" jawabnya sesuka hati
dengan menghela nafas kasar, aku mengikuti saja keinginan Anisa. semakin dipaksa dirinya akan semakin menjadi.
mobil Anisa berhenti di tempat parkir sebuah hotel yang mewah di kota ini.
"ayo mas" ajaknya membuka pintu mobil
"aku tunggu saja di sini" jawabku
"ya sudah kalau begitu aku tidak akan lama.
Anisa meninggalkan ku di dalam mobilnya. mungkin baru saja beberapa menit ia pergi, setelah itu ia datang.
"aku tidak lama kan...?" tanyanya sembari tersenyum padaku
"bukannya temanmu sakit...?"
"dia sudah lebih baik. sekarang aku antar mas Fatah, aku juga ingin melihat bagaimana suasana di dalam pesantren" jawabnya
mobil Anisa kembali bergerak dan membela jalan raya, pukul 17.00, kami berdua sampai di pesantren dan mobil Anisa berhenti tepat di depan rumah.
aku keluar begitu juga dengan Anisa, di teras rumah Zelina seketika berdiri saat melihatku. ada Akmal, Hasan, ibu Rosida dan ibu Afifah. sementara pak Odir dan pak Umar tidak aku lihat.
"mas" panggil Zelina
"eh ada mbak dokter" ucap Akmal tersenyum
Anisa mendekat ke arahku dan merangkul lenganku. aku tentu kaget dan langsung menarik diri.
"mas darimana saja...?" tanya Zelina
"aku...."
"kami dari hotel mbak" jawab Anisa
jawaban Anisa membuat mataku melotot, bahkan aku menatap tajam ke arahnya.
"kenapa mas, bukannya kita memang dari hotel kan" ucap Anisa dengan wajah tidak berdosa
"mas" Zelina memanggilku
"sebelum pulang ke sini, Anisa mampir ke hotel tempat ia menginap karena temannya sakit" jawabku semakin merasa bersalah kepada Zelina walaupun sebenarnya aku tidak melakukan hal apapun dengan Anisa
"masuk dan bersih-bersih mas, pakaian mas kotor sekali. ayo" Zelina mendekatiku dan merangkul lenganku untuk masuk ke dalam rumah
sementara ibu Rosida mempersilahkan Anisa untuk bergabung bersama mereka.
"sayang, aku tidak melakukan apapun dengan Anisa. aku berani bersumpah" aku menarik tubuh Zelina dan menghadap ke arah ku
"penjelasannya nanti saja, sekarang mas mandi. setelah sholat isya nanti, pengobatan untuk Hanum akan dilakukan" jawab Zelina
"kamu tidak marah padaku kan...?"
"untuk apa marah mas, kan mas sudah menjelaskan tadi. sudah sana mandi, mas bau" Zelina mendorongku
aku bukannya pergi namun malah menarik kembali tubuhnya dan ku peluk dengan erat. sementara Zelina membiarkan aku mendekap tubuhnya yang tingginya hanya sampai di dadaku.
malam tiba, kini kami semua sedang berada di dalam rumah bersiap untuk membawa Hanum ke masjid. setelah melaksanakan sholat isya tadi, kiayi Zulkarnain memberitahu kami agar membawa Hanum ke masjid.
para santri baik putri maupun laki-laki, berkumpul di masjid, mereka akan melakukan dzikir selama kiayi Zulkarnain melakukan pengobatan terhadap Hanum.
Hanum dipakaikan mukenah berwarna putih. pak Umar menggendong Hanum dan kami bergerak ke luar rumah menuju masjid.
Anisa belum juga pulang, dirinya yang penasaran apa yang terjadi dengan Hanum bermaksud untuk melihat pengobatan seperti apa yang akan dilakukan untuk menyembuhkan Hanum.
tiba di masjid, Ali membentang tikar di tengah-tengah dan pak Umar meletakkan Hanum di atas tikar itu. kami semua mengelilingi Hanum yang sedang tidak sadarkan diri.
"Fatahillah, ambil tasbih milikmu yang ada di lehernya" ucap kiayi Zulkarnain
"baik kiayi" jawabku,
aku tidak tau bagaimana kiayi Zulkarnain tau kalau aku menggunakan tasbih milikku untuk menidurkan Hanum. mungkin Hasan atau yang lainnya yang memberitahu beliau.
Dengan perasaan cemas takut Hanum akan bangun ketika tasbih milikku aku ambil, aku membaca basmalah terlebih dahulu kemudian mengambil tasbihku dan mundur ke tempat dudukku semula.