
POV (Fatahillah)
aku memang tau apa yang terjadi semalam. aku memanggil angin untuk membawa pergi bola-bola api yang menyerang kami semua tapi aku tidak tau apa yang terjadi setelah aku pingsan.
iya, sudah pastinya aku pingsan karena setelah menutup mata aku malah sudah berada di dalam kamar padahal yang aku ingat aku berada di halaman depan rumah.
"mas pingsan, tapi Alhamdulillah mas sudah sadar" jawab Zelina
"bagaimana dengan bola-bola api itu...?" tanyaku
"berkatmu kita semua selamat" jawab pak Odir
"seumur hidup baru kali ini rumah kami di serang seperti itu. memanggil apa yang sebenarnya terjadi...?" tanya ibu Afifah
"ini semua karena kami ibu Afifah, maaf karena kedatangan kami ibu dan Akmal berada dalam bahaya" pak Umar begitu tidak enak hati telah menarik ibu Afifah dan Akmal ke dalam permasalahannya yang kami hadapi
"semua manusia pasti punya masalah pak Umar. saya tidak menyalahgunakan kalian dan saya serta Akmal malah bersyukur telah memberikan kalian rumah untuk berlindung" ucap ibu Afifa
"terimakasih banyak ibu Afifah, ibu begitu baik" ibu Rosida tersenyum ke arah wanita itu
"sama-sama, selama saya bisa membantu saya akan bantu. sebaiknya nak Fatah istrahat saja, masih lama untuk menunggu pagi" ucap ibu Afifah
aku mengangguk karena memang merasa sangat letih. semua orang keluar dari kamar kecuali istriku. dia masih setia di sampingku dan membantu aku untuk baring kembali.
"kenapa kamu malah menangis...?" tanyaku saat melihat wajah Zelina yang masih ada sisa air mata
"aku takut terjadi sesuatu dengan mas Fatah, aku tidak mau kehilangan lagi" Zelina menjawab lirih
ku angkat kepalanya agar lenganku menjadi bantal untuknya setelahnya aku memeluknya dengan erat dan mengelus punggungnya dengan lembut.
"kamu harus tau sayang, selama nafas masih ada aku akan selalu bersama kamu. tapi perlu kamu tau kehilangan itu sudah pasti akan terjadi, itu takdir Allah yang tidak bisa kita hindari"
"aku tau mas, tapi aku memohon kepala Allah tidak untuk sekarang, aku tidak akan sanggup"
aku mengerti kekhawatiran yang dirasakan istriku. dia baru saja kehilangan ayah dan kakaknya, rasa takut kehilangan pasti membekas dalam hatinya.
"tidurlah" ucapku seraya mencium keningnya
entah berapa lama aku terlelap tapi saat bangun azan subuh sudah mulai terdengar. Zelina sudah tidak ada di sampingku, mungkin dirinya sedang berada di dalam kamar mandi.
aku bangun dan duduk kemudian turun dari ranjang dan melangkah ke kamar mandi. saat itu aku berpapasan dengan Zelina yang baru keluar dari kamar mandi.
"mas sudah bangun...?"
"sudah, kamu sudah berwudhu...?"
"sudah mas, tadinya aku mau membangunkan mas Fatah tapi aku lihat mas begitu lelap tidurnya jadi aku tidak tega untuk membangunkan mas"
"tidak apa-apa, aku sudah mulai kembali segar setelah bangun tidur. aku berwudhu dulu setelah itu kita sholat"
"iya mas"
aku masuk ke dalam kamar mandi kemudian sikat gigi, mencuci wajah dan setelah itu baru berwudhu.
aku pernah mendengar ceramah dari ustad kondang yang terkenal, malaikat tidak suka bau mulut seseorang saat bangun tidur. makanya itu saat akan melaksanakan sholat subuh, aku biasa sikat gigi meskipun tidak mandi. jangankan malaikat, setan saja pasti pingsan jika mencium bau mulut seseorang yang baru saja bangun tidur.
setelah keluar dari kamar mandi, Zelina telah siap dengan mukenah yang ia kenakan. pakaian sholatku telah disiapkan olehnya.
aku mengambil posisi depan dan mulai melakukan kewajiban kami. selesai sholat aku berdzikir terlebih dahulu menggunakan tasbih. tasbih yang lain yang aku sediakan dan aku gantung dileher seperti kalung. tasbih ini juga yang aku gunakan semalam untuk berdzikir melawan bila api yang datang menyerang kami, karena tasbih ku yang diberi ilmu sihir oleh guru di pakai oleh Hanum agar wanita itu tidak sadar dan mengamuk.
seperti biasa setelah sholat Zelina akan mencium punggung tanganku dan aku kini tidak ragu-ragu lagi untuk mencium keningnya bahkan seluruh wajahnya dan berakhir di bibirnya yang tipis.
Zelina tersenyum manis, dirinya kemudian memelukku dan aku membalas pelukannya.
"semoga sampai kakek nenek kita seperti ini ya mas, sampai ajal memisahkan kita"
"aamiin allahuma aamiin" jawabku
drrrttt.... drrrttt
ponselku bergetar di atas nakas. Zelina bangkit dan mengambil benda itu kemudian memberikannya kepadaku.
"mas Yusuf mas" ucap Zelina saat menyerahkan ponselku
Yusuf.....
ada apa dia menghubungiku subuh-subuh seperti ini.
aku langsung mengangkat panggilan dari sahabatku itu.
"assalamu'alaikum Yus"
"wa alaikumsalam, Fatah kalian semua baik-baik saja kan...?"
baru hendak menjawab salamku, Yusuf mulai bertanya dengan suara yang aku tangkap seperti suara seseorang yang sedang khawatir
"Alhamdulillah kami semua baik-baik saja. kalian di situ bagaimana, ibu bagaimana...?"
"syukurlah kalau kalian baik-baik saja. semalam kami di sini di serang oleh para ninja. untungnya semalam aku menginap di rumah bibi Fatimah jadinya aku bisa melindungi mereka. Fatah, kalian harus berhati-hati. mereka mengincar siapa saja yang berhubungan dengan pak Umar. bukan itu saja, mereka bahkan menanyakan kepadaku tentang mustika merah, sepertinya kabar tentang mustika itu yang sudah berada di tanganmu mulai tersebar"
Allah
inilah yang aku takutkan jika aku meninggalkan ibu, bahaya akan mengincarnya kapan saja.
"tapi kalian semua tidak ada yang terluka kan...?"
"speaker mas, aku ingin dengar" ucap Zelina
aku mengangguk dan mulai menekan tombol speaker agar Zelina dapat mendengar percakapan kami.
"Alhamdulillah kami tidak apa-apa hanya saja paman imam lengannya terluka karena terkena sabetan pedang dari para ninja itu"
"astaghfirullah, Yus....aku harus bagaimana sekarang"
"jangan panik Fatah, selama aku masih ada tidak akan aku biarkan siapapun menyentuh keluargamu. sekarang ini aku membopong mereka semua untuk tinggal di rumah ku karena aku rasa di rumahku lebih aman, aku bisa menjaga mereka kapanpun"
"teri Yus, keselamatannya mereka aku percayakan padamu. semalam juga kami di serang dengan bola-bola api. untungnya aku dapat menanganinya dengan ajian memanggil angin"
"bisa hancur rumah-rumah warga Fatah"
"astaghfirullah, aku belum melihat keadaan di luar karena semalam aku pingsan"
"aku takutnya ada kacamata ajaib yang nyangkut di atas pohon akibat ulahmu"
"sialan kau, lagi tegang seperti ini masih sempat-sempatnya juga bercanda"
Yusuf memang seperti itu, meskipun dalam keadaan panik tapi kadang dirinya masih bisa melucu.
"jadi kalian menginap dimana sekarang...?"
aku mulai menceritakan kejadian kemarin saat Hanum bangun dari tidurnya hingga aku dan Hasan harus bersusah patah untuk menangkapnya. dari kejadian itu kami bertemu dengan Akmal dan menginap di rumahnya. aku juga memberitahu kalau kiayi Zulkarnain ada di kota B, di pesantren Abdullah tempat adiknya, kiayi Anshor.
"Alhamdulillah kalau seperti itu, kalian tidak perlu lagi pergi jauh-jauh. semoga semuanya lancar. ya sudah aku tutup dulu, aku akan mengantar ibu mu dan yang lainnya ke rumahku".
"sekali lagi terimakasih Yus, kamu memang sahabat terbaik"
"elleh....sok romantis kau"
Yusuf mencebik dan aku terkekeh pelan. setelahnya Yusuf mematikan panggilan.
"apa terjadi sesuatu dengan ibu mas...?" tanya Zelina
"mereka di serang tapi untungnya ada Yusuf" jawabku
"lalu bagaimana keadaan mereka...?"
"mereka baik-baik saja. kita keluar, aku ingin menemui yang lain"
aku dan Zelina mengganti pakaian sholat dengan pakaian biasa. setelah itu kami keluar dari kamar. Zelina langsung menuju ke dapur sedang aku ikut bergabung bersama para laki-laki di ruang tengah.
"semalam keluargaku di serang para ninja" ucapku
"astaghfirullah, kenapa bisa sampai para ninja itu menyerang keluargamu...?" pak Umar seketika kaget
"mereka mengincar siapa saja yang berhubungan dengan bapak. karena aku mengenal bapak jadi mereka mencari ku namun karena mereka tidak menemukanmu jadinya mereka mengincar keluargaku" jawabku
"astaghfirullah ya Allah" pak Umar memijit pelipisnya
"saya tidak menyangka akan seperti ini" ucap pak Umar lagi
"sebenarnya alasannya bukan hanya itu pak, mereka mencari ku karena mereka menginginkan mustika merah yang kini aku miliki" ucapku
"tapi bagaimana mereka bisa tau kalau mustika merah itu ada padamu...?" tanya Hasan
"aku juga bingung, bagaimana mereka bisa tau" jawabku
"berita yang memang seperti itu sudah lumrah terjadi mas. barang yang diincar banyak orang pasti akan di cari tau keberadaannya bahkan sampai ke lubang semut sekalipun" ucap Akmal
"tapi.....aku kok pernah mendengar tentang mustika merah itu ya" lanjut Akmal
"emmm.... entahlah aku juga lupa dimana aku pernah mendengarnya tapi seingatku mustika merah itu punya pasangan, kalau tidak salah mustika putih. tapi aku pernah dengar dimana ya" Akmal menggaruk kepala nampak berpikir
"aku waktu itu hanya menganggap kalau itu hanya cerita dongeng tapi.... saat mendengar cerita mas Fatah, memangnya mustika itu benar-benar ada ya...?" Akmal melihat ke arahku
"memang ada mal, dan pasangan mustika merah itu yang memegangnya adalah keluarga pak Umar" ucapku
"tapi sampai saat ini saya tidak tau dimana mustika putih itu" jawab pak Umar
"jadi kedua mustika itu benar ada...?" tanya Akmal seakan tidak percaya
aku mengangguk namun tidak dengan yang lain. mereka jelas tidak mengangguk karena mereka belum melihat seperti apa mustika merah yang aku ceritakan.
"wahhh sungguh luar biasa. kalau kedua mustika itu di satukan, maka akan tercipta kekuatan yang begitu dahsyat. pantas saja mas Fatah jadi incaran para ninja itu" ucap Akmal
"kamu benar-benar tidak mengingat darimana kamu mendengar cerita itu mal...?" tanya Hasan
"aku lupa mas" jawab Akmal
"kalau seandainya aku menemukan dimana ayah menyimpan mustika putih itu, aku akan memberikan kepada mereka asal keluargaku selamat dan tidak diganggu lagi" ucap pak Umar
dari raut wajahnya, terpancar raut yang begitu penuh kekhawatiran. aku tau pak Umar pasti merasa sangat tertekan dengan apa yang dialaminya sekarang.
"saran ku jangan pak. jika jatuh ke tangan orang jahat, sudah pasti banyak manusia yang akan menderita. bukan hanya keluarga bapak yang menderita tapi banyak orang yang akan kehilangan nyawa" ucap Akmal
"benar pak. sebaiknya, cari tempat yang aman untuk menyimpan mustika itu atau berikan kepada seseorang yang bapak percayai. dengan begitu orang itu akan melindungi keluarga bapak menggunakan kekuatan mustika itu" ucap pak Odir
pak Umar mengehela nafas. bukan keputusan yang harus diambil secara tiba-tiba, semuanya harus di pertimbangkan dengan matang.
"oh iya, bagaimana keadaan di luar. rumah para warga tidak ada yang ikut terbang bersama angin topan semalam kan...?" tanyaku
aku takut hal yang aku lakukan semalam dapat merugikan warga sekitar.
"keadaannya baik-baik saja Fatah, tidak terjadi apapun. aku sudah memeriksanya semalam" jawab Hasan
jelas aku bingung bagaimana tidak terjadi apapun. angin tadi malam bahkan dapat menyapu ratakan tempat di sekitar ini tapi kenapa malah tidak terjadi apapun.
apakah guru yang mengatasinya karena semalam dia membawaku ke tempatnya. iya, ini pasti karena pertolongan dari guru. syukurlah kalau memang seperti itu, aku merasa lega
Zelina datang memanggil kami untuk sarapan pagi. kami mengakhiri percakapan dan menuju ke meja makan.
jam 10 pagi, kami semua telah bersiap-siap untuk menuju ke kota B. Akmal dan ibu Afifah ikut serta. pak Umar tidak mengizinkan mereka tetap berada di tempat ini. lagi pula mereka berdua memang akan mengantar kami. Akmal menyerahkan bengkel miliknya kepada orang kepercayaannya selama dirinya tidak ada.
karena Hanum tidak akan lagi memberontak seperti kejadian kemarin, dirinya ikut bersama kami ditemani kedua orang tuanya di kabin tengah. sementara ibu Afifah dan Akmal ikut di mobil Hasan.
perjalanan kali ini membutuhkan waktu mungkin enam jam perjalanan atau bahkan mungkin lebih karena jelas kami akan singgah untuk beribadah dan juga makan siang. berarti di perkirakan kami akan sampai di kota B menjelang sore hari.
"kalau nanti mas capek, biar aku yang menyetir" ucap Zelina saat mobil kami telah keluar dari area kawasan tempat tinggal Akmal
"iya sayang" jawabku tersenyum
aku pikir tahun ini diriku masih akan menjalani hari-hari dengan sendiri, namun ternyata Allah mengirimkan teman hidup untukku yang menemani kemanapun aku pergi.
rencana Allah memang tidak ada yang tau. padahal aku lihat ibu menyukai Anisa, aku bisa melihat keakraban mereka berdua namun sayangnya aku sama sekali tidak mempunyai perasaan kepada temanku itu.
kami berangkat dari jam 10 dan kini sudah memasuki jam 12 siang, dalam artian waktu dzuhur sebentar lagi. aku memilih melanjutkan perjalanan dan akan berhenti di rest area, tempat dimana biasanya orang-orang akan beristirahat jika dalam melakukan perjalanan jauh.
"tidak cari masjid Fatah...?" tanya pak Umar
"di rest area saja mas, di sana juga ada musholla yang disediakan" jawabku
"iya di situ saja sekalian kita berhenti untuk istrahat dan makan siang" ucap ibu Rosida
aku melirik istriku ternyata sudah tertidur dengan pulas. biarlah dia terlelap, mungkin dia lelah karena mengikuti kehidupanku yang tidak ia sangka-sangka sebelumnya. penuh dengan bahaya dan teka-teki.
aku mengusap kepalanya yang tertutup oleh hijab, dan aku genggam tangannya menggunakan tangan kiriku karena tanganku satunya aku gunakan untuk memegang kemudi.
kini kami sampai di rest area, aku memilih memarkirkan mobil di tempat yang teduh. setelah itu aku membangunkan Zelina.
"sayang bangun" aku menepuk wajahnya dengan pelan
pak Umar dan ibu Rosida telah keluar lebih dulu sementara Hanum masih terbaring di kabin tengah dengan bantal dan selimut. kami tidak mungkin membawanya keluar dalam keadaan tidak sadar apalagi keadaannya yang tidak memungkinkan.
"sayang, ayo bangun"
euughh
Zelina mengerang pelan dan membuka mata. ia memperbaiki posisi duduknya.
"kita dimana mas...?"
"di rest area, ayo turun sudah waktunya sholat dzuhur"
Zelina mengangguk patuh kemudian kami berdua keluar dari mobil. banyak orang-orang yang memilih untuk istrahat di tempat ini sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan.
kami menuju ke mushola yang berada di bagian belakang, tidak jauh dengan kamar mandi. hanya berjarak beberapa meter saja.
di kamar mandi tidak ku sangka aku akan bertemu Anisa, dirinya sepertinya juga baru saja selesai wudhu.
"mas Fatah" ucapnya
"Nisa, kamu di sini...?" tanyaku kaget
yang lain sudah mengambil tempat untuk berwudhu sementara aku dan Zelina yang memang datang belakangan, masih mengantri.
tempat ini tidak memisahkan tempat wudhu untuk laki-laki dan perempuan, maka dari itu aku bertemu dengan Anisa di sini.
"iya, aku mau ke kota B, ada tugas dari rumah sakit. kalian mau ke kota B juga...?" tanya Anisa
"iya, aku bersama istriku dan keluarganya akan ke kota B" jawabku sengaja memberitahu bahwa pak Umar adalah keluarga Zelina
"kita bertemu lagi mbak Anisa" ucap Zelina dengan lembut
"iya, tidak disangka kita bertemu lagi" Anisa tersenyum ramah
sikapnya tidak lagi seperti kemarin, aku harap dia tidak sedang memainkan peran. entah mengapa mendengar ucapannya sebelum kami berangkat kemarin membuat aku menjadi was-was jangan sampai Anisa menyakiti istriku.
namun aku mencoba membuang jauh-jauh pikiran buruk itu, aku percaya Anisa adalah wanita yang baik-baik.
"kalian mau istirahat sebentar di sini kan...?" tanya Anisa
"iya, sebelum kembali melanjutkan perjalanan" jawabku
"kalau gitu aku gabung sama kalian saja ya, aku sendirian soalnya" ucap Anisa
"tentu saja bisa mbak, mbak bisa menghampiri kami nantinya" jawab Zelina
Anisa tersenyum kemudian meninggalkan kami untuk ke mushola. ibu Rosida dan ibu Afifah telah lama selesai tinggallah kami berdua.
aku membantu istriku untuk berwudhu dengan berdiri menutupi dirinya agar tidak terlihat. karena tidak mempunyai kain untuk menutupi dirinya maka dari itu aku memasang badan untuk menghalangi mata orang-orang yang akan melihat ke arahnya. sekalipun tempat ini sepi tapi pasti akan ada laki-laki yang datang entah akan berwudhu atau akan masuk ke kamar mandi.
"sudah mas, terimakasih" ucap Zelina kembali kemasan cadarnya setelah selesai berwudhu
"kamu duluan saja, nanti aku menyusul" ucapku
"iya mas"
aku bergegas membaca doa kemudian berwudhu. membasuh setiap tubuh yang wajib untuk di basuh. setelah itu aku kembali membaca doa dan melangkah menuju ke mushola.
kami sholat sendiri-sendiri tidak berjamaah seperti yang aku dan Zelina lakukan. selesai sholat kami memilih untuk mengisi cacing di perut yang sudah meminta jatah.
Akmal dan pak Odir telah lebih dulu memilih tempat untuk kami dan kami pun menghampiri mereka.
"mas Fatah"
terdengar suara seorang wanita memanggil ku. saat aku berbalik Anisa sedang berlari kecil ke arahku dan tanpa permisi langsung memelukku begitu saja di depan semua orang termasuk Zelina.
tentu saja aku kaget dengan sikap berani Anisa. aku langsung mendorongnya untuk menjauh namun dirinya begitu erat memeluk diriku.
ku lihat Zelina terpaku melihat kami berdua, dirinya bahkan menatap ku tanpa ekspresi apapun. hingga kemudian Zelina melangkah dan menghampiri kami.
"maaf mbak, mbak punya etika kan...apa tidak malu memeluk laki-laki yang telah menjadi milik wanita lain" ucap Zelina dengan dingin
Zelina bahkan menghentakkan tangan Anisa dari tubuhku kemudian dirinya mengambil alih tubuhku dan merangkul lenganku dengan mesra.
"kenapa sensitif sekali mbak Zelina, aku hanya merindukan sahabatku ini...apa itu salah kalau aku memeluknya...?" Anisa terkekeh pelan bahkan sama sekali tidak merasa bersalah dengan apa yang ia lakukan tadi
"mbak Anisa lucu sekali ya" ucap Zelina
malah kini Zelina yang terkekeh pelan dan mendekati Anisa hingga kini mereka berhadapan. aku jadi bingung dengan keduanya.
"mbak tau hukumnya seorang wanita tidak bisa bersentuhan dengan laki-laki yang bukan mahramnya kan. kalau Mbak tidak tau berarti agama mbak perlu dipertanyakan. jangan berkedok membawa nama sahabat hanya untuk bisa menyentuh suamiku. dia mungkin sahabatmu tapi ingat dia suamiku di mata agama dan negara. mbak tau sopan santun kan"
kata-kata yang dikeluarkan oleh Zelina membuat Anisa memasang wajah masam. Zelina kemudian berbalik ke arahku dan merangkul lenganku.
"ayo mas" ajaknya
ibu Rosida dan ibu Afifah mengekori kami di belakang sementara aku tidak sedikitpun menoleh untuk melihat Anisa. aku takut istriku tersinggung karena aku mengkhawatirkan wanita lain.