
tubuh Fatahillah seketika lemas dan luruh ke lantai. Zelina menahannya dan memeluk erat suaminya jangan ia pingsan lagi seperti tadi.
"apa yang terjadi Yus, bukankah kamu mengawasi mereka" suara lemah Fatahillah membuat semua orang waspada dengan kondisi pemuda itu
"maaf Fatah, aku...aku lalai. harusnya aku menemani paman Imam" Yusuf di sebrang sana tidak kuasa menahan tangis
"aku akan segera pulang, jangan dimakamkan sebelum aku tiba"
"baiklah, kami akan menunggumu"
Fatahillah mematikan panggilan dan memeluk Zelina dengan eratnya. ia menangis di pelukan istrinya.
tidak ada yang bertanya apa yang terjadi. mereka membiarkan Fatahillah untuk meluapkan kesedihannya. setelah merasa tenang, Fatahillah menghirup udara sebanyak-banyaknya dan mencoba menetralisir perasaannya.
"ada apa mas...?" tanya Zelina
"paman Imam...paman Imam meninggal dunia"
"innalilahi wainnailaihi Raji'un" semua orang mengucapkan bela sungkawa
"aku harus pulang, aku harus kembali ke kota S"
"tapi kamu belum sehat mas"
"aku tidak peduli, paman Imam meninggal karena aku sayang... mereka mengejar mustika merah ini. mereka menyakiti keluargaku untuk mendapatkan apa yang mereka mau. aku harus pulang"
"kalau begitu biar aku yang menemani mas Fatah. mas tidak bisa menyetir seorang diri, bisa bahaya" ucap Zelina
"biar Hasan juga yang menemani kalian pergi. sekarang sudah sore apalagi Fatahillah masih belum sembuh total. aku takutnya terjadi sesuatu di jalan. kita tidak tau di luar sana pasti masih banyak dari mereka yang ingin mencelakai kita. bukan meminta hal buruk namun setidaknya ada Hasan yang menjaga kalian" ucap pak Umar
"aku ikut mas" Arjuna bersuara dan Zelina mengangguk
kesepakatan pun terjadi, sore itu Fatahillah, Zelina serta Arjuna akan kembali ke kota B ditemani oleh Hasan. bagaimana pun juga Hasan memiliki kemampuan seperti Fatahillah untuk dapat melawan orang-orang yang berusaha mencelakai mereka.
kiyai Zulkarnain memberitahu Fatahillah bahwa cincin yang ia pakai bisa ia gunakan untuk melawan musuhnya. rupanya cincin itu bukan sembarang cincin biasa. terdapat kekuatan besar di dalamnya yang tidak diketahui oleh Fatahillah. andaikan kemarin waktu mereka diserang, ia menggunakan kekuatan dari cincin itu, mungkin Fatahillah tidak akan terluka. namun semua nasib sudah digariskan, bahwa hari itu Fatahillah harus terluka.
mereka kembali ke rumah, dan bersiap-siap. Zelina sedang berkemas di dalam kamar. ia juga memasukkan foto yang suaminya ambil di rumah kiayi Anshor tadi ke dalam tas milik mereka.
"apa tidak sebaiknya kamu di sini saja sayang" Fatahillah memeluk pinggang istrinya karena dirinya sedang duduk di ranjang sementara Zelina dalam keadaan berdiri
"aku tetap ingin ikut mas, keluargamu sekarang adalah keluargaku juga. sangat tidak punya hati sekali jika aku tidak ikut pulang bersamamu"
setelah bersiap, mereka berpamitan kepada semua orang. bahkan Hanum pun ikut mengantar mereka di teras rumah. Hasan mendekati Hanum yang sedang duduk di kursi kayu.
"aku pergi dulu Han" ucap Hasan, ia berjongkok di depan Hanum
"kamu akan kembali lagi kan...?" tanya Hanum seakan enggan untuk melepas Hasan
Hasan mengangguk kemudian tersenyum. ia mengelus kepala Hanum sebelum akhirnya bangkit dan hendak melangkah namun Hanum menahan lengannya.
"kamu tau kan kalau aku menunggu kamu di sini" ucap Hanum dengan tatapan sendu
pak Umar dan ibu Rosida kini paham kalau ternyata putri mereka memiliki perasaan lebih kepada pemuda yang selama ini bekerja dengan mereka. ibu Rosida merasa lega, karena dengan begitu ia tidak akan susah payah menjodohkan mereka berdua.
"aku akan kembali.... untuk kamu" Hasan tersenyum sebelum akhirnya menyusul Fatahillah dan yang lainnya masuk ke dalam mobil
mobil yang dikemudikan Hasan perlahan bergerak dan meninggalkan pesantren. mungkin malam hari mereka akan tiba di kota B.
setelah kepergian keempat orang itu, ponsel Ali berdering. rupanya kiayi Anshor yang menghubunginya. ia pun mengangkat dan mendengarkan apa tujuan kiyai Anshor menghubungi dirinya. mengerti dengan apa yang diperintahkan, panggilan pun di tutup.
"Mal, kita di panggil kiyai Anshor ke rumahnya" ucap Ali
"memangnya ada apa paman...?" Akmal bertanya dengan raut wajah penasaran
"ini berhubungan dengan wanita gila yang kamu bilang kenal itu. kiyai Anshor meminta kita untuk ke pasar mencari wanita itu"
"wanita gila siapa...?" tanya ibu Afifah
Ali menceritakan semuanya tentang pembicaraan mereka di rumah kiayi Anshor tadi. tentang wanita gila yang menganggap Fatahillah sebagai anaknya, tentang mimpi yang dialami oleh Fatahillah. semuanya diceritakan oleh Ali kepada kedua wanita itu.
"jangan sampai wanita itu memang wanita yang sama yang ada di foto ucap ibu Rosida
"ya sudah kalau begitu, biar kami juga ikut membantu mencari wanita itu" ucap pak Umar
"jangan pak, kalau bapak pergi siapa yang akan menjaga orang-orang di rumah. biar aku dan Akmal saja yang pergi. ayo Mal"
"kami pergi dulu ya bu, doakan anakmu ini agar tidak di kdrt sama wanita gila itu" Akmal mencium tangan ibunya
"nggak mungkin Mal, paling kamu di ajak main kejar-kejaran seperti film india" Ali mengejek
"ogah aku, kalau begitu aku nggak pergi lah. nanti di kejar lagi" Akmal akhirnya menggeleng dan hendak masuk ke dalam rumah namun Ali menarik tangannya dan menyeretnya untuk ke rumah kiayi Anshor
"Bu... tolongin anakmu ini" teriakan Akmal tidak digubris oleh sang ibu, malah ibu Afifah masuk ke dalam rumah
"paman aku belum nikah loh paman" Akmal memelas
"apa hubungannya dengan menikah sih Mal" Ali masih terus menarik Akmal meskipun sebenarnya pemuda itu sudah tidak memberontak lagi
"kalau nanti aku di kdrt seperti mas Fatah tempo hari terus aku masuk rumah sakit terus aku innalilahi, bagaimana paman"
"ya gampang, tinggal dikubur saja... gitu aja kok repot"
"astaghfirullah, betul betul paman nggak ada akhlak" Akmal mengelus dada
mereka kini sampai di rumah kiayi Anshor. kebetulan di depan rumah tepatnya di bawah pohon mangga, Naila dan Maryam sedang duduk santai di gazebo yang ada di depan rumah. semilir angin yang sejuk memang sangat cocok bersantai di depan rumah yang teduh.
"assalamu'alaikum" ucap Ali
"wa alaikumsalam" bakas Naila dan Maryam
"cari Abah ya...?" tanya Naila dengan lembut
"iya, kiyai dimana...?" jawab Ali sedang Akmal hanya diam saja
"itu" Naila menunjuk ayahnya yang baru saja keluar dari rumah bersama kiayi Zulkarnain
keduanya mendekati kedua kiayi itu. mereka berempat terlihat berbincang serius sementara kedua anak kiayi Zulkarnain hanya menatap dari jauh.
"kak Nai" panggil Maryam
"humm" jawab Naila
"apakah masih ada namanya di sini...?" Maryam menunjuk dada kakaknya
Naila hanya tersenyum, tatapannya terus mengarah ke arah tiga lelaki yang berdiri tidak jauh dari mereka berdua.
"aku sudah memberitahu Abah"
mendengarkan penuturan adiknya, sontak Naila melihat ke arah adiknya yang hanya menatap dengan datar.
"Mar, jangan bercanda ya"
"siapa yang bercanda sih, aku serius"
"astaghfirullah Mar, kamu tidak seharusnya mengatakan itu kepada Abah"
"astaghfirullah, kamu memang mulut ember loh Mar" Naila sungguh hanya bisa geleng-geleng kepala
"tapi karena mulut ember ku ini, penantian kakak setelah bertahun-tahun akan mendapatkan jawaban. tenang saja, sebut namanya dalam doa, insya Allah semuanya akan dilancarkan. atau apa perlu aku mengatakannya langsung kepada orangnya" Maryam menaik turunkan alisnya dan tersenyum jahil
"jangan macam-macam kamu ya" Naila menyentil kening adiknya
Maryam hanya terkekeh geli melihat kakaknya yang sedang kesal itu. tawa Maryam membuat salah seorang melihat ke arah mereka dan hal itu membuat Naila menatap ke arah lain.
"cieeee... di liatin tuh"
"apaan sih" Naila memukul lengan adiknya dan begitu salah tingkah
setelahnya Ali dan Akmal mencium tangan kedua kiayi itu kemudian melangkah menuju ke mobil. mereka berdua hanya melewati dua wanita tadi dan masuk ke dalam mobil milik kiayi Anshor.
setelah kepergian Ali dan Akmal, Naila dan Maryam menghampiri ayah dan paman mereka.
"mas Ali tadi mau kemana bah...?" tanya Maryam
"mencari wanita gila yang kita bicarakan tadi" jawab kiayi Anshor
karena pasar yang tidak begitu jauh maka keduanya kini telah sampai di tempat dimana sudah sepi dari pembeli dan juga penjual. saat itu sudah menunjukkan pukul 17.00 masih ada beberapa toko yang terbuka namun itupun sedang bersiap-siap untuk menutup toko karena sudah sore hari.
"kita mau cari kemana paman"
"kita tanya dulu sama orang-orang di sekitar sini"
Ali mendekati seseorang yang sedang duduk di depan toko yang telah tutup sedang Akmal menunggunya di mobil.
"permisi pak" sapa Ali
"iya, ada apa...?" seorang bapak menoleh setelah disapa oleh Ali
"apakah bapak tau dimana tempat tinggal wanita gila yang berkeliaran di pasar ini"
bapak itu memperhatikan Ali dengan seksama dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"ngapain cari orang gila...?" kening bapak itu mengkerut
"hanya ingin memastikan saja pak jangan sampai dia adalah ibu saya"
"ooh jadi kamu anaknya. kenapa baru datang sekarang mas, masa orang tua di tinggal begitu saja sih. pantas saja wanita itu terus mengejar anak muda dan mengira kalau mereka adalah anaknya ternyata memang dia ditinggalkan sama anaknya sendiri" bapak itu menatap tidak suka kepada Ali
Ali menggaruk kepala yang tidak gatal. sudah terlanjur menyirami dirinya sendiri dengan air maka dengan terpaksa dirinya harus bersedia untuk basah total. bertanggungjawab dengan apa yang diucapkannya tadi.
"jadi apakah bapak tau dimana biasanya wanita itu berada...?"
"yang sopan sedikitlah mas kalau manggil ibunya. masa wanita sih, harusnya mas manggil dengan sebutan ibu bukan wanita"
lagi lagi Ali hanya menggaruk kepala. menghela nafas dan berusaha untuk tetap sabar.
"bapak tau dimana ibu saya berada sekarang...?" tanya Ali dengan sangat sopan
"nggak tau, tanya aja sama yang lain" bapak itu menjawab ketus
menahan sabar adalah sesuatu hal memang sulit untuk dilakukan sebagian orang. dan bahkan kebanyakan orang tidak ada lagi kesabaran dalam dirinya apabila sudah diliputi rasa jengkel dan kesal. seperti yang dirasakan Ali saat ini. ia mencoba terus menahan diri dari godaan setan yang terus merayunya untuk saling adu mulut.
"terimakasih pak" ucap Ali berlalu pergi sementara bapak itu tidak menyahut
"gimana paman...?" tanya Akmal saat Ali sudah berada di dekatnya
"coba kita ke sana" Ali menunjuk dua orang laki-laki paruh baya yang sedang berbincang di pinggir jalan
keduanya mengayunkan langkah, sebelum malam mereka harus sudah pulang meskipun tidak menemukan wanita itu dan akan dilanjutkan pencarian esok hari.
"assalamu'alaikum" ucap Akmal
"wa alaikumsalam" kedua bapak itu menjawab
"numpang tanya pak, apakah bapak berdua tau dimana tempat tinggal wanita gila yang berkeliaran di pasar ini...?" tanya Akmal
"oh ibu Laila...?"
"iya benar, bapak tau wanita itu dimana...?"
"wah kami juga nggak tau. sudah beberapa hari ini dia tidak terlihat lagi di pasar ini. mungkin sudah pergi ke tempat lain"
"kalau tempat biasanya dia tinggali dimana pak...?"
"tidak menentu, kadang di pasar ikan kadang di penjual sembako kadang juga di parkiran pasar ini"
Ali mendesah berat dan menatap Akmal. keduanya berpamitan dan kembali ke mobil.
"bagaimana ini paman...?"
"kita keliling saja, siapa tau kita bisa melihat dia"
"baiklah"
***
malam hari mulai menyapa saat mobil yang dikemudikan Hasan sudah semakin jauh dari kota B. mereka mencari tempat untuk sholat magrib. di sebuah masjid yang mereka temukan di pinggir jalan, mereka berhenti di depan masjid itu.
Fatahillah memanggil harimau putih untuk menjaga mobil mereka. kejadian seperti kemarin saat mobil meledak dan juga rem yang dibuat blong membuat Fatahillah waspada jangan sampai hal seperti itu terjadi lagi. Langon melompat naik di atas mobil dan merebahkan tubuh besarnya di sana.
selesai sholat, mereka melanjutkan perjalanan. untuk mengisi perut, mereka singgah di minimarket membeli roti dan air minum. harimau putih kini telah berada di kabin belakang tidak ingin jauh dari tuannya.
"tidurlah mas, kalau kita sudah sampai nanti aku bangunkan" ucap Zelina
"tidak, aku tidak mengantuk" Fatahillah hanya menggeleng kepala
mobil yang mereka tumpangi itu mulai tersendat-sendat, dan seketika berhenti tanpa bisa menyala lagi. Hasan turun dan memeriksa apakah ada yang bermasalah dan benar saja dua ban depan bocor.
"astaga, kenapa lagi ini"
"kenapa San...?" Fatahillah keluar menyusul Hasan, Langon pun ikut keluar
"bannya bocor, harus ke bengkel dulu ini"
Fatahillah membuang nafas dengan kasar, ia menangkup wajahnya dengan kedua tangannya mencoba menetralisir perasaannya yang saat ini sedang tidak baik-baik saja. selalu saja ada hal menghalangi setiap dirinya sedang mengejar waktu.
"ya sudah, kita ke bengkel saja kalau begitu. kalau tidak salah di depan sana adalah bengkel. kita tinggalkan saja mobilmu di sini, nanti pekerja bengkel yang datang memeriksanya"
Hasan mengangguk setuju dan mereka memanggil Arjuna serta Zelina untuk keluar dari mobil. sembari berjalan ke arah bengkel yang jaraknya beberapa meter, Fatahillah melihat warung makan. ia pun mengajak semua orang untuk makan terlebih dahulu karena roti saja tidak cukup untuk mengganjal perut mereka. Langon telah menghilang dan akan kembali lagi saat dirinya dipanggil.
"aku mau ke bengkel dulu memberitahu mereka untuk mengurus mobil kita" ucap Hasan
"nanti kamu nyusul kita saja di situ ya" tunjuk Fatahillah ke arah warung makan yang ia maksud
"oke"
Hasan dan ketiganya mengayunkan langkah ke arah yang berbeda. saat sampai di warung makan begitu banyak pelanggan yang sedang makan. mereka mencari tempat yang masih kosong dan berada di tengah. tidak ada tempat yang lain selain meja yang berada di tengah, mereka akhirnya mengambil tempat itu.
sembari menunggu pesanan datang, Fatahillah menghubungi Yusuf kembali namun tidak ia angkat. ia pun mencoba menghubungi ibunya namun tidak di angkat juga. semakin nelangsa hati Fatahillah. yang ia pikirkan adalah akan ada banyak orang yang melayat nantinya dan jangan sampai orang-orang yang sedang mengincarnya ke rumah duka dan berbuat onar. dirinya yakin Yusuf bisa mengatasi itu tapi Fatahillah takut hal yang ia alami kemarin sampai terbaring lemah selama dua hari, akan dialami oleh Yusuf. jika itu terjadi sebelum dirinya tiba, keluarganya akan dalam keadaan celaka.