Fatahillah

Fatahillah
Bab 27



aku dan Zelina serta ibu Afifah dan ibu Rosida tiba di meja tempat Akmal dan yang lainnya duduk. mereka pasti tadi sedang memperhatikan kejadian yang seharusnya tidak terjadi.


"wanita itu siapa mas...?" tanya Akmal dimana pandangan matanya mengarah ke arah Anisa yang sedang melangkah mendekati kami


"dia Anisa, teman aku" jawabku dengan jujur


aku melihat Zelina sedang sibuk dengan ponselnya, entah menghubungi siapa dia. kami semua terdiam hingga kemudian Anisa datang ke meja kami.


"boleh aku gabung kan...?" tanya Anisa


sebenarnya sejak kejadian tadi aku sudah tidak nyaman bersama dengan Anisa. namun tidak mungkin aku mengusirnya begitu saja tanpa alasan yang jelas, apalagi kami sebenarnya berteman.


"silahkan mbak" ibu Rosida menjawab


tanpa permisi Anisa menggeser posisi Akmal yang sedang duduk di bagian kiriku karena Zelina duduk di bagian kananku. alhasil kini aku diapit oleh dua wanita.


Zelina segera bertindak, ia menarikku untuk sedikit menjauh dari Anisa kemudian dirinya beranjak dan mengambil posisi diantara aku dan Anisa. jadilah kini Zelina yang ada diantara aku dan Anisa.


"mbak Zelina posesif banget ya" Anisa tertawa kecil


"waspada itu hal yang perlu loh mbak Anisa" jawab Zelina sopan


"tapi kadang laki-laki tidak suka sikap posesif seperti itu mbak Zelina" Anisa masih menjawab santai bahkan tersenyum ke arahku


"apa aku posesif ya mas...?" Zelina menatap mataku tanpa menjawab lagi ucapan Anisa


"tidak sayang" jawabku tersenyum, aku tidak ingin istriku sakit hati dengan ucapan Anisa


aku ingin sekali memegang tangan Zelina namun tentu saja hal itu aku urungkan. aku tidak ingin menampakkan kemesraan kami di depan semua orang. aku yakin hanya dengan panggilan sayang saja sudah membuat hati Zelina menghangat meski tanpa sentuhan kecil.


"dengar sendiri kan jawabannya mbak Anisa" ucap Zelina memutar kepala melihat ke arah Anisa yang aku lihat dirinya memasang wajah kesal


semuanya saling pandang, sedang aku melihat Hasan dan Akmal sedang berbisik kemudian mata keduanya mengarah kepada Zelina dan Anisa.


"kita pesan makanan saja ya setelah itu langsung melanjutkan perjalanan" ucap ibu Afifah


Hasan memanggil pemilik warung dan memesan makanan sesuai apa yang kami inginkan. tidak lupa juga minumannya, kami memesan yang segar-segar karena memang cuaca lumayan panas.


"aku seperti pernah melihat mbak Anisa ya" ucap pak Umar


"oh ya, bapak lihat saya dimana...?" tanya Anisa


"emmm... kalau tidak salah kamu ini dokter ya, waktu itu saya pernah melihat kamu bersama Yusuf di rumah sakit" ucap pak Umar


"iya Pak, saya memang dokter. aku dan dokter Yusuf memang satu tempat kerja" jawab Anisa


"jadi mbak ini dokter ya...? boleh periksa saya tidak dok" ucap Akmal


aku menaikkan satu alisku dan menatap Akmal. dia yang terlihat sehat walafiat meminta diperiksa oleh Hanum. apakah dia sekarang sakit.


"kamu sakit mal...?" tanya ibu Afifah yang terlihat panik mendengar anaknya meminta Anisa untuk memeriksanya


"iya bu, jantung aku berdetak kencang terus saat mbak dokter ini datang. saya takut mungkin saya tiba-tiba mengalami penyakit jantung" ucap Akmal dengan enteng dan menatap Anisa


aku mengulum senyum mendengar ucapan Akmal sementara Anisa tersenyum seakan dipaksakan. mungkin dirinya tidak suka dengan ucapan yang dilontarkan oleh Akmal.


"kamu ini loh mal, ada-ada saja. mbak Anisa malu itu loh" ucap pak odir


sementara aku melirik Anisa begitu tidak nyaman dengan pembahasan kami sekarang. pemikiran orang dewasa sudah jelas akan menangkap kalau perkataan Akmal tadi mengartikan bahwa Akmal kagum dan terpesona dengan Anisa. entah itu benar atau tidak, hanya Akmal yang tau.


"lah saya kan mengatakan yang sebenarnya pak. bagaimana mbak dokter, bisa periksa saya kan...?" tanya Akmal lagi


sayangnya keinginan Akmal untuk diperiksa oleh Anisa harus diurungkan karena makanan yang kami pesan telah datang dan disediakan di atas meja.


"aku ambilkan ya mas" ucap Anisa yang memajukan kepalanya untuk dapat melihatku


"mbak lupa ya, ada istrinya di sini loh mbak" jawab Zelina menoleh sekilas ke arah Anisa kemudian mengambil piring ku dan mengambilkan nasi serta lauknya


makanan yang disediakan tidak seperti di warung makan biasanya. di tempat ini nasi dan lauknya di pisahkan. satu nampan nasi yang penuh berada di depan kami sementara ikan bakar, cumi saus dan terong yang dibumbui memakai sambal kacang terhidang menggiurkan.


"mau cumi tidak mas...?" tanya Zelina


"iya" jawabku


Zelina mengambilkan aku makanan dengan telaten kemudian menyimpan di depanku. yang lainnya pun juga sama, sibuk mengurus diri sendiri.


"mbak dokter tolong ambilkan cumi dong" ucap Akmal karena memang cumi itu ada di depan Zelina sehingga Akmal tidak dapat menjangkaunya


"nih" Anisa memberikan piring cumi itu kepada Akmal


"aku tidak minta piringnya loh mbak dokter, aku minta cuminya saja" ucap Akmal saat Anisa menyodorkan piring yang berisi cumi itu di depan Akmal


"mal, yang sopan sedikit" ibu Afifah menegur anaknya


"tidak apa-apa bu" jawab Anisa


aku dapat melihat Anisa menyendokkan cumi saus ke piring Akmal namun dengan wajah ekspresi datar.


"terimakasih mbak dokter" ucap Akmal tersenyum


"hmmm" jawab Anisa yang entah malas menjawab Akmal atau tenggorokannya gatal


selesai makan dan istrahat beberapa menit, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.


"mas Fatah, tiba di kota B aku bisa kan jalan-jalan di tempat mas Fatah" ucap Anisa


"kami duluan ya" ibu Afifah dan ibu Rosida segera meninggalkan kami sementara Akmal dan ketiga laki-laki lainnya telah menuju ke mobil masing-masing


aku melirik Zelina, saat ini aku tentu tidak bisa mengambil keputusan sendiri karena ada hati yang harus aku jaga.


"datang saja mbak, mbak kan sahabat suami aku, tentunya aku tidak akan melarang" ucap Zelina


"kami berangkat dulu ya Nis, kamu hati-hati menyetir mobilnya" ucapku


aku memang perhatian kepada Anisa namun itu hanya rasa perhatian kepada teman tidak lebih ataupun kurang.


"mas khawatir sama aku...?" tanya Anisa dengan senyuman mengembang


"kamu satu-satunya sahabat aku setelah Yusuf Nis. jelas aku tidak mau terjadi sesuatu dengan sahabat aku" jawabku


aku tidak ingin Anisa salah paham dengan ucapanku sehingga membuat dirinya berharap padaku. aku tau dari gerak geriknya selama ini sebelum aku menikah kalau dia mempunyai rasa padaku. tapi sekarang jika dulu aku tidak membentang jarak maka kali ini harus aku lakukan.


"aku pergi dulu" ucapku


aku menarik tangan Zelina meninggalkan Anisa seorang diri. sebenarnya aku tidak tega memperlakukan Anisa seperti orang asing namun jika tidak aku lakukan maka akan menjadi masalah dikemudian hari. aku tidak ingin itu terjadi.


di dalam mobil kami semua terdiam. Zelina terus melihat ke arah luar jendela. apakah dia marah padaku karena kejadian tadi. bahkan kini dirinya tidak melihat sekalipun ke arahku.


"rupanya kamu berteman dengan dokter Anisa tadi ya Fatah" ucap pak Umar


"iya pak. sejak masa-masa sekolah kami sudah berteman" jawabku jujur


"Fatah, boleh aku bertanya sesuatu...?" tanya pak Umar memecahkan keheningan yang beberapa menit lalu kami membisu


"tentu saja pak" jawabku


"apakah ilmu yang punya sekarang ini, ada seseorang yang mengajarkanmu...?"


"guruku yang mengajarkan aku bela diri dan ilmu kanuragan agar suatu saat nanti bisa menolong orang yang membutuhkan pertolongan"


"kamu saja sudah sesakti ini, apalagi gurumu. dia pasti seseorang yang sangat hebat"


"ilmu yang aku dapatkan belum ada apa-apanya pak. semuanya yang aku lakukan atas pertolongan dari yang Maha Kuasa juga"


"kamu begitu rendah hati. ibumu pasti membesarkan mu dengan penuh kasih sayang dan ilmu agama yang banyak ia tanamkan" ucap Ibu Rosida


"sejak kecil aku memang di didik dengan ilmu agama oleh ibu. didikannya keras bahkan aku pernah di hukum karena kenakalan ku waktu kecil" aku tersenyum mengingat masa-masa kecilku dulu


aku jadi teringat ibu, semoga dia baik-baik saja bersama bibi Fatimah, paman Imam dan Zulaikha.


"semua ibu pasti ingin anaknya mempunyai budi pekerti yang baik, dan tentunya akhlak yang baik pula. kamu dan Hasan sikap kalian begitu sama. kalau Hanum sembuh nanti, saya ingin menjodohkannya dengan Hasan" ucap ibu Rosida


"tergantung Hanum bu, kalau dia mau. tapi kalau dia tidak mau, kita jangan memaksa" timpal pak Umar


aku melirik Zelina yang ternyata sudah tertidur entah sejak kapan. aku memelankan laju mobil dan mengangkat kepala Zelina untuk bersandar di bahuku. dirinya mengeliat kecil kemudian melingkarkan tangannya di lenganku.


"nak Fatah, bukannya ibu mau ikut campur tapi kejadian seperti tadi sebaiknya kamu hindari. meskipun dokter Anisa adalah sahabat mu namun Zelina adalah istrimu. kamu harus menjaga hatinya" ucap ibu Rosida


"iya bu, aku juga tidak menyangka akan ada kejadian seperti tadi" jawabku mengelus wajah Zelina dengan tangan kiriku


aku fokus terus menyetir. mobil yang dikemudikan oleh Hasan berada tepat di belakang kami. semoga kali ini tidak ada lagi halangan seperti sebelumnya.


sebenarnya aku begitu penasaran siapa sebenarnya orang yang begitu mengincar pak Umar dan keluarganya bahkan sekarang pun aku dan keluargaku mulai di teror.


melawan musuh yang tidak nampak wujudnya memang sangatlah susah. berbeda halnya dengan musuh yang sudah di tau siapa orangnya. paling sekali-kali memberikan serangan balik dan mencari tau kelemahannya. namun kalau musuh yang tidak di tau wajahnya seperti apa, sangat susah untuk memprediksi setiap gerakannya.


pukul 15.15, aku mencari masjid untuk melaksanakan sholat ashar. hanya beberapa jam lagi kami akan sampai di kota B namun sebelum melanjutkan lagi perjalanan, kami harus melakukan kewajiban kami terlebih dahulu.


masjid besar yang masih dalam tahap pembangunan menjadi tempat kami untuk melaksanakan sholat. masjid ini sudah dioperasikan, karena terlihat banyaknya orang-orang yang berdatangan di masjid ini.


Zelina sudah bangun setelah mungkin dia mendengar suara azan. kami semua turun dari mobil dan aku memanggil Langon untuk menjaga Hanum yang berada di dalam mobil.


jika tadi tempat wudhu perempuan dan laki-laki bergabung menjadi satu, di masjid ini tempat wudhu laki-laki dan perempuan dipisahkan. aku bersyukur setidaknya Zelina tidak akan kesusahan untuk berwudhu seperti pertama tadi kami di rest area.


rupanya banyak juga yang datang sholat di rumah Allah ini. bahkan kami laki-laki membentuk tiga baris. untuk perempuan aku tidak tau karena kami dihalangi oleh tirai pembatas.


saat selesai mengucapkan salam saat itu juga turun hujan. aku mengarahkan pandangan ke arah luar. padahal tadi cuaca tidak mendung namun rupanya hujan sudah turun saja.


kami tidak mungkin keluar dari masjid karena hujan yang begitu deras dan angin yang bertiup kencang. aku, Akmal serta Hasan, pak Umar dan pak Odir memilih untuk duduk melingkar di pojokan. aku mengirim pesan kepada Zelina agar mereka jangan dulu keluar dari masjid karena kami pun masih berada di dalam.


"iya mas" itulah pesan masuk dari Zelina


"mas Fatah, mbak dokter tadi tidak ikut bersama kita lagi ya" ucap Akmal


"kenapa memangnya Mal, kamu suka ya sama dokter Anisa tadi" Hasan menyipitkan mata kepada Akmal


"aku mencari wanita yang tidak jutek seperti tadi mas. aku akui mbak dokter tadi cantik tapi dia bukan wanita yang aku idamkan" timpal Akmal


"lah terus maksud dari ucapanmu tadi apa toh Mal, katanya jantungmu bermasalah saat dekat dengan dokter dokter Anisa tadi" ucap pak Odir


"aku sengaja pak supaya dia fokusnya ke aku bukan ke mas Fatah yang sudah punya istri. kan kasian mbak Zelina melihat suaminya dipeluk wanita lain" ucap Akmal


"jadi kamu memang benar tidak suka kepada dokter tadi...?" tanyaku menggoda Akmal


"untuk sekarang tidak, tapi aku tidak tau kedepannya kalau kami sering bertemu. kita kan tidak tau kehidupan kedepannya seperti apa. Allah yang membolak-balikkan hati manusia. bisa jadi hari ini aku tidak suka tapi besok lusa Allah menggetarkan hatiku untuk menyukainya" ucap Akmal


memang benar apa yang dikatakan Akmal, hanya Tuhan yang tau ke depannya akan seperti apa.


"dia lebih tua dari mu loh Mal, mungkin beda usia lima tahun" ucap Hasan


"Rasulullah dan Khadijah saja beda umurnya sampai puluhan tahun mas. kalau udah cinta, masalah usia bukan menjadi penghalang" jawab Akmal


tidak ku sangka ternyata Akmal hanya terlihat masih sangat muda namun pemikirannya begitu sangat dewasa. andai memang suatu saat Anisa menemukan pendampingnya, aku berharap Akmal yang akan menjadi teman hidupnya nanti kalau bukan Akmal setidaknya laki-laki yang berpikir dewasa dan bertanggungjawab.


Tiba-tiba ponsel Akmal bergetar. ia pun merogoh ponsel yangbl ada di saku jaketnya dan melihat siapa yang menghubunginya.


"paman Ali" ucap Akmal


"angkat saja Mal" ucap pak Umar


"assalamu'alaikum paman"


"iya, kami sekarang dalam perjalanan. mungkin dekat magrib kami sampai di kota B"


karena Akmal tidak memperbesar speaker ponselnya maka dari itu hanya suaranya saja yang kami dengar.


"ibu ikut paman, kata ibu... dia rindu sama paman, makanya ibu ikut"


"iya paman"


"wa alaikumsalam"


"apa kata pamanmu Mal...?" tanya pak Odir


"beliau sudah menunggu kita di pondok pesantren. kiayi Zulkarnain dan kiayi Anshor telah diberitahu bahwa kita akan ke sana" jawab Akmal dan menyimpan kembali ponselnya di saku jaketnya


"alhamdulillah, setidaknya kedatangan kita disambut baik oleh mereka" pak Umar merasa lega


hujan belum juga redah dan sekarang sudah menunjukkan pukul 16.00, artinya sudah satu jam kami tertahan di dalam masjid.


kalau begini terus bisa-bisa kami akan tiba larut malam di kota B. aku menghela nafas dan bersandar di dinding.


pak Umar yang sedang bercerita dengan pak Odir tiba-tiba mengambil ponselnya dan menatap layar benda pipih itu. namun kemudian aku melihat wajahnya menjadi tegang dan pucat.


"kenapa pak...?" tanyaku saat melihat raut wajah pak Umar yang begitu ketakutan


"HANUM" teriak pak Umar dengan kerasnya bahkan dirinya dengan cepat berlari ke arah luar


ddduuuaaaar


suara ledakan begitu keras dan membuat gempar semua orang yang berada di dalam masjid.


aku berlari keluar begitu juga Hasan dan yang lain. tubuhku menegang dan bahkan bergetar hebat saat aku melihat mobil Zelina terbakar dengan nyala api yang membumbung tinggi.


"HANUUUUUM"


bugh


ibu Rosida jatuh pingsan seketika. hujan yang masih deras mematikan api yang membakar mobil Zelina menyisakan asap hitam yang pekat.