Fatahillah

Fatahillah
Bab 130



"kamu sudah menghubungi suamimu nak...?" ibu khadijah bertanya. sore itu Zelina sedang di taman belakang rumahnya. Anak-anak panti bermain di tempat itu. Selain di halaman depan yang juga dijadikan taman bermain, di belakang rumah itu pun menjadi favorit anak-anak. Selain teduh karena banyak pohon, kolam ikan juga taman bermain ada di tempat itu. Zelina sengaja memodifikasi halaman belakang rumahnya agar anak-anaknya terlihat senang bermain. di temani Zulaikha, Zelina duduk di gazebo yang ada di tempat itu. Ibu khadijah datang membawa pisang goreng yang baru saja diangkat dari penggorengan.


"belum bu. Aku hanya mengirim pesan saja namun belum dibalas. Mungkin mas Fatah sibuk" Zelina mengambil satu pisang goreng itu dan menggigitnya.


"ibu juga tadi menghubunginya tapi tidak diangkat. Ibu kasihan padamu, harusnya saat hamil begini kamu ditemani suami" pelan ibu khadijah mengusap perut Zelina yang masih rata.


"mas Fatah juga pergi bukan tanpa alasan bu. Kita berdoa saja semoga mas Fatah cepat menemukan ayah Amsar dan mereka kembali dengan selamat" Zelina tersenyum. "lagi pula aku punya ibu, bibi Fatimah dan Zulaikha serta mas Fauzan"


"pasti berat ya mbak, hamil muntah-muntah terus" ucap Zulaikha. Beberapa hari ini, Zelina memang terus muntah di pagi hari, dan sering mengalami pusing. Untungnya ibu mertuanya juga orang di rumah itu dengan sigap dan siaga membantu dirinya.


"fase yang harus dilewati wanita hamil ya harus seperti itu Icha. Tapi ada kok yang tidak merasakan apapun dan bahkan justru suaminya muntah-muntah. Yang pasti semua yang harus dilewati itu tidak sama. Ada yang biasa saja, ada yang lemas terus, ada yang nggak nafsu makan ada juga pengennya makan terus. Seperti aku ini, ya walaupun kadang akhirnya sering memuntahkannya"


"aku pengen deh hamil seperti mbak" Zulaikha mengutarakan keinginannya.


"kamu kan sudah selesai ujiannya, tinggal menunggu pengumuman beberapa minggu lagi. Kalau kamu hamil sudah tidak masalah lagi. Memangnya kamu sudah membicarakan hal itu dengan suami kamu...?" ibu Khadijah bertanya.


"belum sih bi, Mas Fauzan katanya terserah dari akunya saja ingin hamil cepat atau nunda dulu"


"kamu memang masih muda nak, tapi ingatlah umur suamimu bukan umur anak remaja lagi. dia sudah begitu pantas memiliki anak. Bicarakan hal itu kepada suamimu. Barangkali dia ingin secepatnya punya anak namun memendam itu semua karena memikirkan kamu yang masih begitu muda. Kalau sudah menjadi seorang istri berarti harus siap juga menjadi seorang ibu"


"nanti akan aku bicarakan dengan mas Fauzan setelah dia pulang nanti" Zulaikha mengangguk menerima nasihat ibu khadijah.


"ibu sudah tidak sabar ingin menggendong cucu. Andai Laila ada di sini, kamu pasti akan begitu merasakan kasih sayangnya"


"semoga mas Gara cepat sembuh dan berkumpul bersama kita di sini ya Bu" ucap Zelina.


"aamiin" ibu khadijah dan Zulaikha mengaminkan.


tidak berapa lama, ibu Fatimah datang membawa teh hangat untuk mereka. Menikmati indahnya senja di sore hari itu, dengan suara tawa anak-anak panti yang terdengar di telinga mereka.


_____


Di dalam penjara bawah tanah, dua orang yang terikat kedua tangan dan kaki, tertidur pulas. Tadinya kedua orang itu di siksa seperti intruksi dari bos mereka. Kelelahan dan rasa sakit yang luar biasa membuat keduanya tertunduk dengan mata terpejam.


"siram mereka" ucap Fatahillah


"baik bos"


Sambil menunggu anak buahnya mengambil air, Fatahillah melihat sekeliling penjara bawah tanah itu. penjara penyiksaan yang disiapkan oleh Gara Sukandar untuk orang-orang yang berani menghianatinya, mengusiknya juga keluarganya.


"ngeri juga di dalam sini" Hasan masuk ke dalam salah satu sel dan memegang gorbol yang dipakai untuk mengikat para tahanan.


"apakah Gandha Sukandar juga memiliki tempat seperti ini. bisa saja kan pak Amsar dikurung di tempat seperti ini juga" ucap Aji Wiguna


"kalau bukan karena masalah ini, kita sudah mencari tahu keberadaan ayah. semoga cepat selesai semuanya" ucap Fatahillah penuh harap


Dua ember berisi air disiramkan kepada Henry dan Hafsah. dua orang itu tersentak kaget, basah kuyup baju mereka.


bagaimana rasanya berada di dalam sini pak Henry, menyenangkan bukan...?" Fatahillah duduk di kursi kayu, satu kakinya berada di atas paha kanannya.


Keadaan Henry dan Hafsah saat ini sudah berantakan. Rambut acak-acakan, darah dari sudut bibir mulai mengering, luka dibagian wajah pun membuat keduanya tidak lagi tampan dan secantik kemarin-kemarin. Alis Henry pecah dan darahnya mengalir di wajahnya, kedua matanya bengkak bagai bulat bakso.


Untuk Hafsah....?


Wanita itu rambut panjangnya di potong sampai leher. wajahnya yang halus dan cantik, kini terlihat bagai gembel jalanan.


"tidak menjawab berarti kalian betah ya di tempat ini. Padahal aku berniat untuk mengeluarkan kalian namun tentu saja dengan syarat dan ketentuan berlaku"


"cuih" Hafsah meludah, menatap tajam tiga pemuda yang ada di depannya dan hanya terhalang besi sel tahanan. "aku tidak sudi menerima tawaran kamu"


"wah wah wah....lihatlah dia, sudah mau mati tapi masih bersikap begitu angkuh. Sayang sekali, hati yang dimilikinya tidak secantik wajahnya. Kira-kira, kalau wajah itu aku gores dengan kerisku ini, bagaimana menurut kalian berdua...?" Fatahillah memainkan keris kecilnya yang muncul begitu saja di telapak tangannya.


"gores sedikit saja nggak apa-apa lah, kan dia punya skin care yang dapat menghilangkan bekas luka" Hasan berucap enteng, bersandar di sel yang berhadapan dengan sel yang ditempati Hafsah.


"jangan sedikitlah, lebih banyak saja. biar jadi tato" tambah Aji Wiguna.


"hahaha, Gara... Gara. Meskipun kamu menyiksa diriku, tidak akan bisa mengembalikan semua apa yang terjadi dan juga tidak akan bisa mengembalikan mendiang istrimu. Daripada mengurusi kami, harusnya kamu waspada dengan keluargamu"


"keluargaku dalam perlindungan ku saat ini. Jadi tidak ada yang akan dapat menyentuh mereka. jadi mari kita bermain hari ini. aku katakan sekali lagi, mau menerima tawaranku atau tidak"


"meskipun kamu membunuhku, aku tidak akan mengatakan apapun" Henry membuat Fatahillah tertawa kecil.


"kamu yakin tidak ingin mengaku...? bagaimana kalau aku menyakiti keluargamu, apakah kamu belum akan mengaku juga pak Henry...?" seringai Fatahillah membuat pak Henry mengepalkan tangannya.


"JANGAN BERANI-BERANI MENGANGGU ANAK DAN ISTRIKU BIADAB" teriakan Henry menggema di ruangan itu. Begitu usaha untuk melepaskan diri, sayangnya dirinya tidak sekuat itu. Henry lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa.


"kenapa kamu marah pak Henry. Terserah padaku aku akan melakukan apapun kepada keluargamu. bukankah kamu juga tidak peduli kepada orang-orang yang tanpa punya salah apapun padamu...pada kalian berdua, namun dengan kejamnya kalian membuat mereka begitu jahat dan menjadi pembunuh"


"mereka pantas mendapatkannya. Semua orang yang masih berpihak padamu, semuanya harus menderita.... SEMUANYA HARUS MENDERITA. MEREKA HARUS MATI...HARUS MA..."


Wuuusshhh


Jleb....


aaaggghh


Kerispatih itu tertancap di dada Hafsah. Wanita itu mengerang sakit, darah berwarna merah itu keluar dari luka yang baru itu.


"ck... harusnya kamu melempar tepat di jantungnya. wanita sundel bolong seperti dia tidak bisa lagi di beri ampun" Hasan mencebik dan mendekati sel tahanan itu. "hei kamu, buka pintunya" perintah Hasan kepada salah seorang yang berjaga.


Laki-laki itu mendekat dan mengeluarkan kunci sel yang ditempati oleh Hafsah. Hasan masuk dan mencabut keris itu. Kembali Hafsah berteriak keras, karena malas mendengar suara wanita yang ia anggap sundel bolong itu, Hasan menyumpal mulut wanita itu.


"bersuara sekali lagi, maka jantungmu yang akan aku belah" Hasan mengancam dan menempelkan keris itu di wajah Hafsah. Wanita itu menatap penuh amarah, sayangnya dirinya tidak dapat berbuat apa-apa.


"kamu punya pistol...?" Fatahillah bertanya kepada anak buahnya.


"ada bos" laki-laki yang memegang kunci tadi memberikan pistol miliknya kepada Fatahillah.


Fatahillah mengambil pistol itu dan melihat berapa peluru yang ada di dalamnya. kemudian dengan secepat kilat dirinya mengarahkan benda itu ke arah pak Henry.


Dor....


tepat melewati persis di samping wajahnya, peluru itu melayang dan mengenai dinding. wajah Henry langsung pucat pasi, tubuhnya bergetar hebat dengan jantung yang berdetak begitu kencang. hampir saja dirinya mati, hampir saja peluru itu mengenai kepalanya. Jika saja dirinya bergerak sedikit saja, sudah pasti kini Henry meregang nyawa di sel tahanan itu.


"aku bisa melakukan itu kepada keluargamu jika kamu masih menutup mulut dengan rapat. Bastian seumuran dengan Genta bukan. Anak bungsu yang begitu kamu sayangi, bagaimana kalau aku bermain-main dengannya, hmmm" Fatahillah mengangkat satu alisnya.


"jangan.... jangan sentuh keluargaku. Mereka tidak bersalah, aku yang bersalah. Hukum saja aku, tolong jangan sentuh mereka" Henry mulai memohon dengan wajah diliputi ketakutan.


"sepertinya membunuhnya dan membuangnya ke laut, sungai atau jurang sekalipun, tidak akan ada yang tau dengan itu. Bagaimana kalau kita melakukannya nanti malam. Tanganku sudah gatal ingin menghajar seseorang" Aji Wiguna merenggangkan otot tangannya yang besar.


Padahal sebenarnya ketiganya tidak mengetahui siapa keluarga Henry. Fatahillah hanya mencari tahu siapa dan dimana mereka tinggal tanpa tahu bagaimana wajah mereka. pak Henry mempunyai dua anak, perempuan dan laki-laki. Anak bungsunya bernama Bastian dan anak sulungnya bernama Maharani, istrinya bernama Lusiana. Itulah yang diketahui ketiganya, tidak lebih dari itu.


"sekarang semuanya tergantung padamu pak Henry. Mau keluargamu selamat atau mereka menjadi mayat" lagi-lagi Fatahillah mengancamnya.


"jangan gila kamu Henry. Sekalinya kamu bicara maka bukan mereka bertiga yang akan menghabisi keluargamu, tapi dia sendiri yang akan membunuh mereka" Hafshah membentak laki-laki itu.


"aku tidak punya pilihan lain Sah. Aku akan mengatakan pada kalian asal kalian berjanji untuk melindungi keluargaku" Henry menatap penuh harap.


"akan aku lakukan, asal kamu tidak membohongiku" jawab Fatahillah.


"Henry"


"diamlah Hafsah, kalau kamu tidak ingin maka biarkan aku yang memberitahu mereka" Henry ikut membentak wanita itu.


"dasar penghianat, lihat saja...kamu akan melihat keluargamu mati ditangannya, camkan itu Henry"


"hei kamu ulat bulu....aku sudah menyumpal mulut mu, sungguh luar biasa kamu ya bisa melepasnya. perlu lakban lah ini" Hasan kesal karena Hafsah mencoba mempengaruhi Henry.


"aku punya lakban"


"waaaoow.... benar-benar lengkap nih penjara... lengkap benda-benda penyiksaan" Hasan mengambil lakban itu dan menempelkan ke mulut Hafsah sehingga wanita itu tidak bersuara lagi. "beres... sekarang silahkan lanjutkan Fatah"


"hebat San" Aji Wiguna bertepuk tangan dan mengangkat jempolnya.


"sekarang beritahu kami, siapa yang menjadi dalang utama dari permainan kalian" ucap Fatahillah.


"jika kamu bertanya siapa orangnya, aku sebenarnya tidak tau siapa dia, namun yang aku tau kalau dia adalah seorang wanita. Beberapa kali berbicara dengannya lewat telepon, dia adalah seorang wanita" Henry pun mulai membuka suara.


"seorang wanita...? Jadi dalangnya adalah seorang wanita bukan Gandha Sukandar...?" Hasan keluar dari sel tahanan Hafsah.


"Gandha Sukandar, dia....dia.... tidak terlibat sama sekali dalam kejadian ini. Aku tidak menerima perintah dari Gandha Sukandar. Gandha Sukandar hanya mengurus bisnisnya saja, dia lebih berambisi untuk meningkatkan usahanya. Maafkan aku, Gandha Sukandar sama sekali tidak terlibat"


"lalu kenapa selama ini kalian selalu membawa nama Gandha Sukandar setiap melakukan kejahatan. Samuel juga mengatakan kalau Gandha Sukandar berusaha untuk membunuh Gara, anaknya sendiri" tentu saja hal itu adalah berita baru bagi mereka, Aji Wiguna sama sekali tidak mempercayai ucapan Henry. yang mereka tau, Gandha Sukandar adalah aktor pemeran utama dalam semua kejahatan yang terjadi dan kesulitan yang mereka alami.


"sebenarnya...."


"sebenarnya apa, cepat katakan dan jangan membuang waktuku" Fatahillah begitu penasaran. Ia tidak begitu percaya bagaimana mungkin Gandha Sukandar tidak terlibat dalam kejadian itu.


"sebenarnya dia bukanlah....Ga-Gandha Sukandar"


"bukan Gandha Sukandar bagaimana maksudmu. coba katakan yang lebih jelasnya pak Henry, jangan membuat aku pusing"


"dia bukanlah pak Gandha Sukandar yang asli, dia orang lain yang menyerupai wajah begitu mirip dengan pak Gandha Sukandar. Dia...dia... Uhuk...uhuk"


Henry seketika terbatuk, begitu keras dan darah memuncrat keluar dari mulutnya.


"astaga, apa yang terjadi" Hasan kaget begitu juga Fatahillah dan Aji Wiguna.


"lepaskan ikatannya" perintah Fatahillah dengan suara begitu lantang.


Tangan dan kaki Henry dilepaskan, laki-laki itu masih terbatuk-batuk dan darah terus keluar dari mulutnya. Bukan hanya itu, dari bawah kakinya, mulai melepuh dan terbakar.


"dia diserang tiba-tiba, apa yang harus kita lakukan" Aji Wiguna bingung harus melakukan apa.


Hafsah tersenyum licik, dirinya benar-benar begitu puas melihat Henry akan mati, dengan begitu tuannya tidak akan terbongkar identitasnya.


Fatahillah bergerak cepat melepaskan tasbihnya dan memakaikan di leher Henry. kepala laki-laki itu berada di pangkuannya, tidak peduli darah Henry mengotori bajunya, Fatahillah harus bisa menyelamatkan nyawa laki-laki itu.


"audzubillahi minasyaitanirrajim, bismillahirrahmanirrahim"


aaaggghh


Teriakan Henry begitu pilu, laki-laki itu begitu kesakitan saat telapak tangan Fatahillah menekan bagian perutnya. Cahaya putih keemasan keluar dari telapak tangan Fatahillah, menyelimuti tubuh Henry beberapa menit kemudian cahaya itu hilang lenyap lagi.


"kiriman teluh" ucap Fatahillah.


Berkat mustika putih, tubuh Henry yang melepuh langsung sembuh seperti semula. Dan juga tasbih milik Fatahillah mengunci pergerakan Henry karena tadi Fatahillah melihat, laki-laki itu hendak memberontak dan akan menyerang. Seperti Hanum dulu, Fatahillah mengunci pergerakan Hanum dengan tasbih miliknya.


"ambilkan air minum"


Segera anak buahnya mengambilkan gelas berisi air putih. Tasbih itu ia ambil kembali dan memasukkan ke dalam gelas itu. Setelahnya air itu ia minumkan kepada Henry. Satu teguk.. Dua teguk dan tiga teguk, Henry meminum air itu. hanya beberapa detik, dirinya kembali muntah. Darah kental yang keluar bersama ulat kecil yang begitu banyak, membuat anak buah Fatahillah merinding geli.


hueeeeek


hueeeeek


Kembali Henry memuntahkan semua isi perutnya. Dari darah kental kini berubah menjadi cairan putih biasa.


"dia selamat" Hasan merasa begitu bersyukur.


Henry terkulai lemas, tubuhnya yang basah bercampur dengan keringat yang keluar dari pori-pori kulitnya.


"Langon... Gangan"


GRAAAAR


Dua harimau datang mengeluarkan suara yang begitu menggelegar. Anak buah Fatahillah tidak merasa ketakutan, itu berarti mereka pernah melihat harimau milik Gara Sukandar.


"San, gunakan ketakutan pengendali air. Buat gelembung air untuk menuntun Langon dan Gangan ke rumah pak Henry. Keluarganya harus dilindungi"


"baiklah"


Hasan mengambil satu gelas yang berisi air putih. Dirinya duduk bersila dan gelas itu ia letakkan di depannya. telapak tangan kanannya berada di atas gelas itu. Seketika tiga gelembung air melayang mengambang di udara.


Fatahillah menggerakkan bibirnya kemudian meniup tiga gelembung air itu.


"Langon... Gangan, ikuti gelembung air itu ya. Ketika tiba di rumah yang kalian tuju, maka lindungi rumah itu dari serangan apapun. Lindungi semua penghuninya. Kalian mengerti"


GRAAAAR


Langon dan Gangan menghilang seketika begitu juga gelembung air yang dibuat oleh Hasan.


Hafsah membelalakkan matanya, tidak percaya Henry selamat dari serangan gaib dan bahkan kini kembali sehat.


"lalu selanjutnya bagaimana...?" tanya Aji Wiguna.


"kita bawa pak Henry ke rumah sakit tempat Tegar dan Yusrif di rawat. Banyak informasi yang harus kita dapatkan darinya" jawab Fatahillah.


"kalian semua...jaga wanita iblis ini" Fatahillah menunjuk Hafsah.


"baik bos"


"bantu aku membawanya keluar"


Hasan membantu Fatahillah membopong tubuh Henry yang lemah untuk keluar dari penjara bawah tanah itu. Mereka harus membawa Henry ke rumah sakit untuk dirawat dan akan meminta informasi lainnya kepada laki-laki itu.