Fatahillah

Fatahillah
Bab 113



harusnya mobil yang dikemudikan Samuel berhenti di sebuah perusahaan besar di wilayah S. namun ternyata laki-laki itu malah berhenti di sebuah gedung yang terbengkalai. gedung dimana sedikit jauh dari keramaian. di tempat itu hanya ada tumpukan pasir, kerikil, batu dan segala macamnya. juga semak-semak yang merangkak di sekitarnya.


"kamu bilang kita akan ke kantor, kenapa malah membawaku ke sini...?" Fatahillah meminta penjelasan dari laki-laki yang duduk di sampingnya itu


"kamu harus melihat sesuatu. harusnya tadi subuh aku membawamu ke sini. namun karena ayahmu menyuruh untuk tidak pulang terlalu siang, maka aku batalkan dan membawamu sekarang. ayo turun" ajak Samuel


meskipun bingung namun Fatahillah tetap turun dari mobil. gedung yang menjulang tinggi, bisa diperkirakan lebih dari sepuluh lantai. sayangnya hanya terbengkalai begitu saja tanpa berniat pemiliknya untuk melanjutkan pembangunan lagi.


"gedung apa ini...?" tanya Fatahillah


mendengar pertanyaan Fatahillah, Samuel memicingkan mata ke arah pemuda itu. ia kemudian melangkah dan berhenti tepat di depan Fatahillah.


"kamu tidak tau gedung apa ini...?" Samuel bertanya dengan wajah serius


Fatahillah diam, jikalau menjawab salah lagi maka Samuel akan semakin curiga padanya. bisa-bisa penyamarannya terbongkar sia-sia.


"apa yang ingin kamu tunjukkan di dalam...?" Fatahillah mengalihkan pembicaraan, dirinya tidak ingin salah bicara lagi "aku penasaran apa yang ingin kamu tunjukkan padaku" tanpa mengajak Samuel, Fatahillah berjalan meninggalkan laki-laki itu untuk masuk ke dalam gedung tersebut. namun apa yang keluar dari mulut Samuel, membuat Fatahillah menghentikan langkah dan mematung di tempatnya.


"siapa kamu sebenarnya, kamu bukanlah Gara Sukandar"


langkah kaki Fatahillah terhenti seiring dengan jantungnya yang berdegup kencang. dirinya menggigit bibir mencoba menguasai kegugupannya. bagaimanapun caranya, jangan sampai ketahuan saat itu juga.


"pertanyaan mu itu konyol sekali Samuel" Fatahillah membalikkan tubuhnya. mereka saling berhadapan dengan jarak yang sedikit jauh


Samuel melangkah mendekati Fatahillah dan berhenti berdiri beberapa jarak darinya. ia menatap Fatahillah dengan intens dan kini berhenti di jemari Fatahillah dimana terpasang dua cincin di sana.


"kamu bukan Gara Sukandar"


Fatahillah menggaruk pelipis dan menarik nafas "Sam, kalau kamu membawaku ke sini hanya untuk main drama, itu nggak lucu sama sekali"


"sejak kapan Gangan berubah menjadi harimau putih. tidak bukan berubah tapi sejak kapan kamu mempunyai harimau putih dan kemana Gangan. meskipun harimau itu berubah warna, aku tetap akan mengenalinya tapi semalam, itu bukanlah Gangan dan jelas-jelas kamu memanggil dia Langon. Gara Sukandar tidak mempunyai peliharaan harimau putih selain Gangan. kedua, kamu tidak pernah suka memakai cincin. yang namanya cincin adalah sesuatu yang tidak kamu sukai selain jam tangan. lalu itu" Samuel menunjuk jemari Fatahillah "saat ini kamu memakai cincin, bahkan sepertinya adalah cincin pernikahan. ketiga, kamu banyak tidak tau dengan apa yang menjadi milikmu. perusahaan kamu di wilayah C, kemudian gedung ini. bukankah itu aneh" Samuel menatap tajam Fatahillah


"lalu menurutmu kalau aku bukan Gara Sukandar, aku demit yang menyamar menjadi Gara Sukandar begitu. aneh sekali kamu ini. biar aku jelaskan. pertama, aku adalah Gara Sukandar, anak dari Gandha Sukandar dan ibu Gayatri, cucu dari Samsir Sukandar. kedua, Langon memang bukan Gangan. dia adalah peliharaan baruku"


"peliharaan baru...?" Samuel mengernyitkan dahi


"jangan potong pembicaraan ku, aku belum selesai"


"cih, ya sudah lanjutkan"


"Gangan tetap menjadi milikku, dia tetap teman setiaku namun sekarang dia mempunyai teman yaitu Langon. Langon adalah peliharaan baruku. saat di kota X, seseorang menghadiahkan Langon kepadaku karena rasa bentuk terimakasih"


"lalu kenapa saat kita menghadapi orang-orang itu, kamu tidak memanggil Gangan...?"


"apa bedanya jika aku memanggil Langon atau Gangan. yang penting kan dia membantu kita. baik Langon dan Gangan, akan melindungi tuannya jika aku memanggil mereka. dan yang ketiga cincin ini" Fatahillah mengangkat tangan kanannya "batu akik ini adalah milik seseorang yang berharga dalam hidupku, dia...dia seseorang yang berharga. lalu cincin satunya ini....ini adalah cincin pernikahan"


"p-pernikahan...?" Samuel membulatkan mata


"hei...biasa saja ekspresi mu. kenapa kamu kaget sekali seperti itu, seperti melihat hantu saja" Fatahillah mencebik


"kamu sudah menikah...? dengan siapa...? bukannya kamu bilang sudah putus dengan Gearis"


"memangnya wanita di dunia ini hanya Gea saja yang bisa aku nikahi"


"ya terus kamu menikah dengan siapa...? pacarmu kan hanya Gea. oh atau...." ucapan Samuel menggantung


"atau apa...?"


"kamu selingkuh dan ketahuan Gea, maka dari itu kalian putus...?"


"sembarangan kalau ngomong. aku bukan tipe laki-laki yang suka berselingkuh. yang jelas istriku bukan Gearis"


"lalu siapa...?"


"wanita lah, masa waria"


"ck" Samuel melayangkan tinju namun tentunya tidak mengenai Fatahillah, dirinya hanya sekedar ingin memukul namun hanya memukul angin saja "orang mana maksudku kampret" umpat Samuel


"hei...kamu berani mengumpat bos sendiri"


"elleh... bos apanya. kalau nggak ada aku, kamu juga kelabakan mengurus pekerjaan" cibir Samuel "sekarang katakan, wanita mana yang kini telah merebut hatimu"


Fatahillah bukannya menjawab, dirinya hanya tersenyum membayangkan wajah Zelina. dari awal pertemuan mereka hingga akhirnya menikah. wanita bercadar itu telah menguasai tempat di relung hatinya. cincin pernikahan itu, ia tatap dengan begitu mesra.


"ckckck....mulai nggak waras nih orang. ditanya malah senyum-senyum nggak jelas" Samuel menggeleng kepala


"yang jelas dia adalah wanita istimewa"


"lah terus pemilik cincin batu akik itu, kamu bilang dia begitu berharga. wanita juga kah...?"


"Fatahillah menggeleng "dia laki-laki, panutanku, pahlawanku"


"hais... terserah kamu sajalah. tapi ya Ga, kalau ayahmu tau kamu menikah secara diam-diam, habis kamu Ga"


"aku nggak menikah diam-diam, kami menikah secara terang-terangan"


maksud Fatahillah adalah, dia menikah dengan Zelina memang bukan dengan pernikahan sembunyi-sembunyi. ayah wanita itu bahkan yang menyuruhnya untuk menikahi Zelina.


"kalau terang-terangan, kenapa tidak memberitahu kedua orang tuamu...?"


"nanti saja. sekarang katakan padaku, apa yang ingin kamu tunjukkan"


"ikut aku"


Samuel melangkah melewati Fatahillah, mereka berjalan ke arah gedung itu. di lantai bawah, masih berserakan pekerjaan para pekerja yang belum mereka selesaikan. keduanya menaiki setiap anak tangga hingga mereka sampai di lantai tujuh. di lantai itu, keadaannya jauh berbeda dengan yang ada di lantai sebelumnya. beberapa ruangan telah jadi, bahkan terlihat masih baru, belum lama terselesaikan. keduanya masuk ke salah satu ruangan yang luas namun banyak peralatan medis di dalam. plastik putih yang dibuat seperti gorden, mengelilingi dua orang yang berada di dalam sana. di atas ranjang yang terpisah, kedua orang itu memberontak ingin dilepaskan dari ikatan mereka.


"kemari dan lihatlah" Samuel masuk ke dalam lingkaran plastik itu


Fatahillah menyusulnya dan betapa kagetnya ia saat melihat dua orang yang terbaring di atas ranjang dengan tubuh yang terikat.


"mereka.... bagaimana bisa mereka"


"kamu masih ingat kalau aku pernah mengatakan ada beberapa orang yang kabur dari wilayah zona berbahaya dan menyusup masuk ke wilayah ini. mereka inilah orangnya. sebagiannya telah mati dan hanya tersisa dua orang saja"


"lalu kenapa tidak dibawa ke rumah sakit...?"


"wilayah S masih masuk zona aman sekarang, penjagaan dibeberapa titik yang kemungkinan dapat membuat orang-orang seperti ini menyusup, telah dijaga dengan ketat. kalau seandainya mereka kita bawa ke rumah sakit, maka sudah pasti akan menggemparkan semua masyarakat. di wilayah lain saja kita sudah kesulitan untuk menangani mereka apalagi jika harus bertambah dengan wilayah ini dimana luasnya dua kali lipat dari wilayah yang lain"


"tapi mereka butuh pengobatan Samuel"


"di sini juga mereka diobati, dokter Najihan yang menangani keduanya"


"bagaimana bisa mereka akan sembuh dengan cepat jika melakukan pengobatan ditempat seperti ini. alat-alat medisnya sangat tidak mendukung"


"kamu salah Gara, justru dokter Najihan mengupayakan memberikan yang terbaik untuk keduanya. sekarang ini kita akan ke rumah dokter Najihan untuk membahas penyembuhan virus berbahaya ini"


Fatahillah terus memperhatikan kedua orang itu. kedua mata mereka yang berubah menjadi putih namun masih bisa juga untuk melihat. gemertuk gigi mereka seakan siap untuk mencabik-cabik seluruh tubuh. melihat keduanya berada di depan mata, keduanya semakin bringas ingin melepas diri dan menyerang.


"mereka seperti.... zombie" Fatahillah memikirkan hal itu, sesuatu yang pernah ia tonton di film layar lebar. manusia yang berubah menjadi zombie mengerikan, memakan daging manusia


"obat seperti apa yang bisa menyembuhkan mereka"


"entahlah, sampai saat ini dokter Najihan bersama tim dokter lainnya, masih berusaha mencari obat untuk mengobati mereka. aku berharap semua ini cepat berakhir. kalau masih terus menyebar, aku takut ayahmu akan menggesermu Gara"


Fatahillah diam, Gandha Sukandar memang berniat untuk menggeser posisi Gara. jikalau masalah ini tidak dapat ia tangani, tentu saja posisinya yang menjadi taruhannya. Fatahillah menghela nafas, ia kemudian keluar dari tempat itu. Samuel mengikutinya, mereka melangkah turun ke bawah dan menuju ke mobil.


"kita temui dokter Najihan sekarang" ucap Fatahillah kemudian membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya


Samuel bergerak masuk dan menyalakan mesin mobil. sepanjang jalan Fatahillah sedang berpikir keras, apa yang harus dirinya lakukan untuk menangani masalah ini. ia pun membuka ponselnya dan mencari artikel tentang virus berbahaya yang dapat menjadikan manusia menjadi brutal dan menyerang orang lain. alih-alih mendapatkan informasi, dirinya malah tertarik dengan sebuah video yang ditayangkan di channel YouTube seseorang. ia pun meng-klik video itu.


"Allahuakbar Allahuakbar, ya Allah mereka brutal sekali. lari...lari semuanya"


suara seseorang yang sengaja melakukan siaran langsung itu, membuat semua orang menontonnya termasuk Fatahillah. di wilayah X kini mulai di beberapa titik sudah terdampak virus tersebut. semua orang terlihat menyelamatkan diri dari serangan orang-orang yang kini menjadi monster mengerikan. tidak sedikit dari mereka yang terbunuh dan ada juga sebagian yang selamat.


"wilayah X sudah masuk zona berbahaya. kami membutuhkan perlindungan. Gara Sukandar, lihatlah semua rakyatmu mati dalam sekejap. apa kamu hanya akan diam saja" orang itu sambil terus berlari, terus memvideo sekitarnya


Samuel yang mendengar itu menghentikan laju mobilnya dan berhenti di pinggir jalan. ia mendekatkan kepalanya ke arah Fatahillah untuk bisa melihat video tersebut.


"subhanallah. padahal baru saja tadi malam kita di wilayah X untuk mengambil helikopter, tapi sekarang wilayah itu sudah masuk zona berbahaya. bagaimana ini Gara, keadaan semakin genting"


darah berceceran dimana-mana, semua pintu rumah tertutup rapat. jalan raya semakin sepi tanpa pejalan kaki ataupun kendaraan. semua toko di tutup, untuk menyelamatkan diri.


ponsel Gara yang kini menjadi milik Fatahillah berdering. tertera nama pak Henry di layar ponsel itu. Fatahillah menggeser tombol hijau hingga panggilan itu tersambung.


Fatahillah


halo pak Henry


pak Henry


semua orang sedang menunggumu di aula rapat. datanglah segera


Fatahillah


baik pak


"pak Henry menghubungi mu...?"


"iya" Fatahillah mengangguk, panggilan telah dimatikan "aku diminta ke sana, semua orang sedang menungguku di aula rapat"


"gawat ini Ga, orang-orang yang tidak menyukaimu dan berpihak kepada ayahmu pasti akan mencari cara untuk menurunkan mu"


"kamu begitu tau dengan sifat ayah, Sam. apakah selama ini ada orang-orang yang ingin membunuhku selain ingin aku turun dari jabatanku...?" Fatahillah menatap lekat Samuel


ditatap seperti itu, Samuel memalingkan wajah. tubuhnya menunjukkan keterkejutan saat Fatahillah bertanya seperti itu dan Fatahillah dapat melihat itu.


"ayahmu kan memang keras Ga. kalau kamu tidak becus maka tentunya dia yang akan memerintahkan kembali"


Samuel menyalakan mesin mobil dan kembali melaju di jalan raya.


"Sam. aku tau, pasti kamu tau sesuatu tentang ayah kan. jujur padaku, kalau memang kamu berada di pihakku"


"memang selama ini yang kamu lihat aku berpihak kepada siapa...?" Samuel melirik sekilas Fatahillah dan kembali fokus ke jalan raya


"aku bukan malaikat yang bisa membaca isi hati manusia. namun jika kamu sampai menghianati aku, aku pastikan kamu akan hancur ditangan aku Samuel"


Samuel tidak menjawab, dirinya hanya menggigit bibir dan mengalihkan pandangan ke arah lain.


"aku tau, ayah bukan hanya ingin aku turun dari jabatanku. dia bahkan ingin membunuhku dan aku rasa...kamu tau akan hal itu. bukan begitu Samuel...?"


"kamu bicara apa sih Ga, aku tidak mengerti"


"Gearis telah mati"


ciiiiit


seketika Samuel menginjak rem secara mendadak. jikalau mereka tidak memakai sabuk pengaman sudah pasti Fatahillah akan melesat ke depan dan menabrak kaca mobil depan.


"a-apa katamu...?" Samuel tergagap


"Gearis telah mati, aku...aku membunuhnya"


"kamu gila Ga...kamu benar-benar gila" Samuel meninggikan suara, tidak habis pikir dengan laki-laki yang ada bersamanya sekarang "sampai hati kamu membunuh dia Ga. kalau nggak cinta lagi ya putus saja, nggak sampai harus kamu membunuhnya Ga. kalau pak Gandha tau bagaimana"


"ayah sudah tau"


kembali Samuel membulatkan mata "maksud kamu...?"


"ayah menyuruh Gea untuk membunuhku di kota X. dengan membayar pembunuh bayaran, Gea berniat membunuhku. aku tidak tau alasan kenapa sampai dia menuruti perintah ayah. tapi apa kamu tau, kalau ternyata Gea juga yang membunuh istriku. dia mengaku membunuh istriku, maka dari itu aku membunuhnya"


Samuel semakin sakit kepala, ia bahkan belum bisa mencerna dengan baik setiap kata yang keluar dari mulut Fatahillah.


"tunggu sebentar. kenapa bisa Gea yang membunuh mendiang istrimu. bukankah waktu itu kamu belum saling mengenal dengan Gea...?"


"tapi itu yang dia katakan padaku, dan untuk membalas semuanya maka aku membunuhnya. sekarang katakan padaku Sam, kamu tau kan kalau ayah ingin membunuhku...?"


"a-aku..."


"apa kamu berniat untuk membunuhku juga...?


"ya nggak lah, kamu pikir aku sejahat itu" Samuel membentak "oke aku mengaku kalau ayahmu berniat ingin membunuhmu. itu karena... karena"


"karena aku bukan anak kandungnya, begitu maksudmu...?"


Samuel kaget dan refleks melihat Fatahillah "darimana kamu tau...?"


"tidak penting aku tau darimana, tapi yang jelas nyawaku sekarang dalam bahaya. apa hanya karena jabatan sehingga ayah yang dulu begitu menyayangiku berubah ingin membunuhku" Fatahillah membuang nafas pelan


"itu...itu karena ayahmu mempercayai ramalan seseorang"


"ramalan...?" kening Fatahillah mengekerut


"iya. waktu itu aku tidak sengaja mendengar dirinya berbicara lewat telepon. ayahmu diramal akan dibunuh oleh anaknya sendiri, putra sulungnya dan itu adalah kamu. peramal itu mengusulkan untuk membunuhmu saja sebelum kamu yang membunuh ayahmu"


(karena peramal itu atau karena Gara adalah anak dari Amsar Sukandar sehingga Gandha berniat membunuh Gara. tapi dulu Gandha Sukandar begitu menyayangi Gara, jadi benar itu semua karena ramalan) batin Fatahillah


(tidak, aku yakin karena kekuasaan makanya Gandha Sukandar ingin membunuh Gara. lebih mudah membunuhnya karena Gara bukan anaknya)


"Samuel, apa kamu tau sesuatu selain kalau aku bukanlah anak kandung ayah...?"


"cari tau sendiri Ga dengan begitu kamu akan yakin. satu hal yang harus kamu tau, aku selalu berada di pihak kamu walaupun banyak orang yang akan berpaling darimu nanti"


"terimakasih Samuel. sekarang kita sedang ditunggu banyak orang, kita berangkat sekarang"


Samuel mengangguk dan mobil itu kembali membelah jalan raya. untuk urusan ayahnya, Fatahillah akan meminta bantuan Samuel nantinya. sekarang yang harus dirinya urus adalah urusan tanggung jawabnya sebagai seorang pemimpin. bagaimanapun nanti, ia harus tetap mempertahankan posisi Gara Sukandar sebagai pemimpin gunung Gantara. saudara kembarnya itu begitu berharap banyak padanya dan Fatahillah tidak ingin mengecewakannya.