
Fatahillah serta Hasan dan juga Langon telah berada di mobil mereka kembali. padahal tadi mereka masih bertarung melawan Wiratama namun entah bagaimana tiba-tiba keduanya telah berada di mobil mereka.
uhuk...uhuk
Fatahillah terbatuk, darah segar keluar dari mulutnya. Hasan segera bergerak masuk ke dalam mobil dan mengambil air minum kemudian ia keluar lagi dan mendekat Fatahillah.
"minum dulu Fatah"
dengan pelan Hasan membantu Fatahillah untuk meneguk air minum yang ada di dalam botol itu. setelahnya ia membantu Fatahillah untuk bersandar di mobil.
Fatahillah menutup mata mencoba mengatur nafas agar dirinya tidak tumbang. untuk saat ini ia harus tetap sadar, dirinya harus tetap kuat karena bisa jadi musuh mereka masih akan mengintai keduanya.
"dimana Langon San...?"
"ada di sampingku" Hasan menjawab dan membalikkan badan untuk melihat Langon yang sedang terbaring di dekatnya
Hasan mengelus dengan lembut kepala Langon dan ia duduk di dekatnya. harimau putih itu beranjak dan naik di atas pangkuan Hasan kemudian ia memeluk Fatahillah yang sedang bersandar di mobil.
"aku baik-baik saja, kamu tidak perlu cemas" Fatahillah tersenyum dan membalas pelukan Langon
dari kegelapan malam, seseorang berjalan mendekati mereka. seorang laki-laki tua yang memakai pakaian putih dan juga sorban serta tasbih di tangannya.
"Malik" panggilnya
mereka langsung menoleh ke arah suara itu berasal. melihat guru Halim datang, Langon bangkit di pangkuan Hasan dan hendak berlari sayangnya harimau putih itu malah terbaring di tanah. tubuhnya tidak sanggup lagi untuk berjalan.
"guru" Fatahillah berucap lirih
Fatahillah hendak berdiri namun Hasan menahannya begitu juga dengan guru Halim yang mengatakan biarlah dia seperti itu. guru Halim mendekati Langon dan memeluknya dengan penuh kasih sayang.
"kamu kuat bukan...? ayo perlihatkan padaku kalau kamu kuat dan bisa melindungi tuanmu"
Langon hanya mengerang tanpa berniat untuk bangkit. sepertinya harimau itu memang terluka parah.
"mau ikut bersamaku...?" guru Halim bertanya dengan lembut seperti sedang berbicara dengan anaknya
Langon menggeleng kepala dengan lemah. guru Halim tersenyum, ia sudah dapat menebak jawaban dari harimau itu. dirinya tidak mungkin pergi untuk meninggalkan tuannya. siapa yang akan membantu tuannya jika ia ikut bersama guru Halim.
guru Halim memegang kepala Langon. sinar putih keluar dari telapak tangan laki-laki tua itu. ia usapkan telapak tangannya dari kepala sampai kaki harimau putih. guru Halim melakukan itu sebanyak tiga kali. setelah di usap oleh guru Halim perlahan Langon mulai bangkit. ia kemudian mengelilingi guru Halim dan setelahnya memeluk laki-laki tua itu. guru Halim tersenyum dan membalas pelukan Langon. setelahnya Langon menarik diri dan kembali ke pangkuan Hasan.
"jika sudah dekat dengan seseorang, dia memang akan manja seperti itu" ucap guru Halim kepada Hasan
"aku malah senang Langon bermanja dengan ku, itu berarti dia menyukaiku dan akan menjadikan aku teman untuknya" Hasan mengelus kepala Langon
tatapan guru Halim berpindah kepada Fatahillah. guru Halim mendekat pemuda itu dan duduk di depannya.
"lepas tasbih milikmu" ucap guru Halim
Fatahillah melepas tasbih miliknya yang sering ia gunakan sebagai kalung. tasbih itu ia serahkan kepada guru Halim.
"bukankah kamu sudah tau kalau tasbih ini dapat menyembuhkan penyakit dalam yang kamu alami"
"maaf guru, aku tidak terpikirkan oleh itu. aku khawatir dengan keadaan istriku sekarang"
"bagaimana bisa kamu akan menyelamatkan istrimu jika kondisi tubuhmu seperti ini. untung saja Zulkarnain telah mengeluarkan racun itu dari dalam tubuhmu. kamu lemah seperti ini karena efek dari racun itu, meskipun telah di keluarkan namun masih mempunyai dampak pada tubuhmu yaitu membuat dirimu lemah seperti ini. bukannya Zulkarnain menggunakan tasbih ini untuk mengeluarkan racun itu. khawatir memang sifat manusiawi seseorang, tapi jangan menyiksa dirimu hanya karena rasa khawatir itu sampai lupa ada obat yang kamu selalu bawa-bawa"
"maaf guru"
hanya kata itu yang bisa diucapkan oleh Fatahillah. rasa sakit dalam tubuhnya membuat dirinya terasa begitu sulit untuk bergerak.
guru Halim mengambil botol berisi air minum yang diambil Hasan tadi. ia memasukkan tasbih itu ke dalam botol tersebut kemudian membaca doa. setelahnya ia menyuruh Fatahillah untuk meminum sampai habis air tersebut. Fatahillah patuh kepada perintah gurunya. ia meneguk semua air itu tanpa tersisa di botolnya.
"berbaliklah ke sana" perintah guru Halim
Fatahillah memutar tubuhnya membelakangi guru Halim seperti yang diperintahkan oleh gurunya itu. guru Halim bangkit dan menggunakan lututnya sebagai tumpuan di tanah. ia kini berpindah tempat ke sisi kanan Fatahillah. seperti yang ia lakukan kepada Langon tadi, guru Halim memegang kepala Fatahillah dan mengusap kepalanya turun ke bawah. kemudian kembali lagi ke atas dan turun lagi ke bawah mengusap punggung Fatahillah. sinar putih itu yang berasal dari telapak tangan guru Halim, langsung masuk ke dalam tubuh muridnya itu.
"berbaliklah kembali" ucap guru Halim
Fatahillah kembali memutar badannya untuk menghadap kembali ke arah guru Halim.
"terimakasih guru, kini tubuhku terasa lebih ringan kembali" Fatahillah mencium tangan gurunya itu
"lekas cari mustika putih dan lakukan penyatuan energi. kamu harus lebih dulu mendapatkan mustika itu sebelum orang fasik mendapatkannya. dengan begitu kamu akan mampu melawan musuh mu yang telah menculik istrimu dan juga remaja itu"
"aku masih bisa mengalahkannya walaupun belum melakukan penyatuan energi guru. laki-laki tadi akan aku cari dia dan meminta membebaskan istriku. aku kalah karena tubuhku yang lemah namun sekarang aku sudah pulih kembali" Fatahillah mengepalkan tangannya jika mengingat bagaimana Wiratama begitu mengejeknya karena tidak dapat menyelamatkan Zelina
"bukan dia penculiknya" ucap guru Halim
Fatahillah dan Hasan sama-sama kaget dan keduanya saling pandang sebelum akhirnya kembali memutar kepala untuk menatap guru Halim.
"kalau bukan laki-laki itu lalu siapa yang menculik mereka. bahkan dia mengatakan sendiri kalau dia yang menculik Zelina dan Arjuna" Hasan menjadi bingung
"harus kalian tau yang menginginkan mustika merah bukan hanya satu orang. bahkan jika kabar mustika itu tersebar ada pada dirimu, orang-orang jahat akan semakin banyak yang mengincarmu. untuk saat ini dua kubu sedang mencari cara untuk merebut mustika merah dan mustika putih. itu baru hanya dua kubu bagaimana jika ada banyak orang lagi yang mengetahui kalau mustika itu ada padamu. sebelum nyawamu tercabut dari raga, mereka tidak akan berhenti untuk mengincarmu. bukan hanya kamu namun juga keluargamu dan bahkan orang-orang terdekatmu"
"apa kematian paman Imam pelakunya adalah salah satu dari dua kubu itu guru...?" seketika Fatahillah merasakan kesedihan karena suami dari bibinya itu telah meninggalkan mereka
"siapapun akan mereka incar jika itu berhubungan denganmu" jawab guru Halim
Fatahillah menghela nafas panjang sebelum akhirnya ia menghembuskannya dengan kasar. perasaan sesak menggerogoti dadanya, seakan sesak untuk ia bernafas. orang yang selama ini begitu menyayanginya seperti anak sendiri kini telah pergi dan itu semua karena benda yang ada di dalam tubuhnya.
"kembalilah ke kota S, Yusuf dan Fauzan membutuhkan bantuan kalian. bukan hanya kalian berdua yang mengalami kesulitan, bahkan mereka pun harus melawan teror yang terus dikirim oleh orang-orang itu. pulang dan rundingnkan bagaimana baiknya. ingat Fatah, bebanmu sudah berat sebelum kamu memiliki mustika itu. pemilik cincin ini" guru Halim mengangkat tangan Fatahillah dimana sebuah cincin batu akik bersarang di jarinya " pemilik cincin ini menunggu kamu untuk membebaskannya. hanya dari ibumu semuanya bisa terungkap. beritahu Khadijah, kalau pemilik cincin ini masih hidup"
rasa penasaran membuat Fatahillah tidak bisa untuk tidak bertanya. Hasan pun sebenarnya penasaran karena hal itu pernah mereka bahas bersama dua kiayi pesantren Abdullah.
"kamu akan tau nanti, sampaikan pada ibumu jika dirinya tidak ingin melepasmu pergi maka kamu tidak akan pernah bisa bertemu lagi dengan pemilik cincin ini. lanjutkan perjalanan kalian. selesaikan urusan di sana setelah itu barulah kamu menyelamatkan istrimu"
"kalau mereka menyakiti Zelina bagaimana guru, aku tidak ingin terjadi sesuatu padanya"
"mereka hanya akan dijadikan sandera untuk menggertakkmu. jika urusanmu telah selesai, aku akan bantu kamu untuk menyelamatkan mereka. sekarang pergilah"
"mohon maaf jika aku lancang. bukankah ilmu anda lebih tinggi dari Fatahillah karena anda adalah gurunya. kenapa bukan anda saja sekarang yang menolong Zelina dan Arjuna" Hasan bertanya dengan sangat hati-hati, takut menyinggung perasaan guru Halim
guru Halim tersenyum setelah mendengar ucapan dari pemuda itu.
"tubuhku tidak bisa terlalu lama meninggalkan gunung Gangsir. aku hanya bisa membantu muridku di saat-saat tertentu saja. kejadian beberapa tahun silam membuat aku harus banyak bersemedi. sekarang aku harus pergi"
guru Halim bangkit dari duduknya, ia kemudian berbalik melangkah menjauh. Langon langsung melompat dari
pangkuan Hasan dan mengejar guru Halim. merasa diikuti, guru Halim berhenti dan saat itu juga Langon mengelilingi kakinya kemudian bermanja di sana.
guru Halim tersenyum melihat tingkah hewan itu. ia pun berjongkok dan mengelus kepala Langon.
"jaga dan bantu tuanmu. kamu mengerti"
GRAAARR
Langon bersuara dan mengangguk. setelah itu ia kembali lagi ke arah Fatahillah dan Hasan. guru Halim menembus gelapnya malam dan menghilang dari pandangan.
"kita pergi sekarang" ucap Hasan
Fatahillah mengangguk, sementara Langon langsung menghilang. ia akan muncul jika dirinya dipanggil oleh tuannya. baru hendak masuk ke dalam mobil, dua orang laki-laki datang meneriaki mereka berdua. Hasan yang hendak membuka pintu mobil langsung menutupnya kembali.
"siapa diantara kalian yang bernama Fatahillah...?" tanya salah satunya. mereka berdua menggunakan pakaian serba hitam dengan ikat kepala hitam di kepala
"ada urusan apa kalian berdua mencari Fatahillah...?" Fatahillah bertanya balik
"cukup jawab pertanyaan saya, tidak usah banyak bacot bertanya kembali" jawabnya dengan angkuh
"kalau begitu silahkan tebak saja siapa diantara kami yang bernama Fatahillah" ucap Hasan
kedua orang itu saling pandang kemudian tersenyum menyeringai.
"hhh, untuk apa susah-susah menebak karena diantara kalian berdua pasti adalah yang bernama Fatahillah. sekarang serahkan mustika merah itu dengan begitu kalian berdua akan kami biarkan pergi"
"apa kamu bilang...?" Fatahillah tertawa pelan kemudian dirinya maju selangkah, Hasan pun mensejajarkan posisinya dengan Fatahillah "harusnya aku yang berkata lebih baik kalian kembali sebelum aku mencabut nyawa kalian berdua" Fatahillah tersenyum smirk
"sombong juga kamu ternyata. sepertinya kamu yang bernama Fatahillah. baiklah, karena kalian tidak mau bernegosiasi maka jangan menyesal jika nanti kami berbuat kasar"
"aku suka tindakan kasar. mau beradu bermain kasar bersama kami...?" Hasan menaikkan satu alisnya dan bersidekap
kedua orang itu saling pandang kemudian menganggukkan kepala. mereka berdua menyerang Fatahillah dan Hasan. satu lawan satu, pertarungan yang seimbang. baik Fatahillah maupun Hasan serta kedua orang itu, mereka sama-sama mempunyai ilmu Kanuragan yang kuat. buktinya dua orang itu begitu lihai dalam menangkis serangan dan juga begitu pintar melesatkan serangan.
swing
swing
lawan Fatahillah melesatkan serangannya. Fatahillah melompat ke samping untuk menghindar. setelahnya kini dirinya yang melesatkan serangan. orang itu menangkis kekuatan Fatahillah dengan kekuatan miliknya hingga menimbulkan suara ledakan yang keras.
ddduuuaaaar
dari ledakan itu mengeluarkan asap. jika tubuh manusia yang terkena serangan tadi sudah pasti tubuhnya akan hancur berkeping-keping.
kembali keduanya bertarung. saling serang dan menghindar. laki-laki itu melesatkan sebuah pisau kecil ke arah Fatahillah. untuk menghindari itu, Fatahillah menggunakan kekuatan cincin miliknya hingga pisau itu hancur sebelum mengenai dirinya.
ddduuuaaaar
ddduuuaaaar
di satu sisi pertarungan Hasan dan lawannya semakin sengit. bahkan serangan keduanya saling menangkis dan hanya mengenai batang pohon.
"mereka ternyata bukan kaleng-kaleng Fatah" ucap Hasan saat ia kini tengah berdiri bersama Fatahillah
"aku sedang malas bertarung. mari kita selesaikan ini. Langon"
GRAAARR
Langon datang dan langsung melompat menyerang salah satu orang itu. untungnya ia menghindar sehingga Langon hanya menangkap angin.
goaaaaarrrrr
auman harimau putih membuat kedua orang itu menutup telinga namun tidak dengan Fatahillah dan Hasan. karena sasaran yang dituju oleh Langon bukanlah mereka berdua melainkan lawan mereka sehingga auman harimau putih tidak berpengaruh apapun untuk keduanya. kedua orang itu teriak kesakitan karena telinga mereka berdenging begitu memekakkan telinga.
aaaggghh
aaaggghh
semakin lama keduanya berguling-guling di tanah. darah segar mulai keluar dari telinga mereka hingga tidak menunggu lama keduanya tewas dengan mengenaskan.
"aku merasa seperti berperan menjadi seorang psikopat, membunuh siapa saja yang menghalangi jalan ku" ucap Hasan merasa ngeri dengan mayat keduanya. mata melotot dan telinga terus mengeluarkan darah
"nyawa harus dibayar nyawa. kubu siapapun yang telah membunuh paman Imam, mereka semua harus mati" Fatahillah berucap dengan sorot mata yang tajam dan penuh amarah