Fatahillah

Fatahillah
Bab 140



Takut ketahuan...?


Tentu saja tidak, hanya saja mereka penasaran siapa yang terus mengetuk pintu sampai tiga kali dan setelah itu suara ketukan tidak terdengar lagi.


bukannya bersembunyi diam di dalam kamar, Alex juga Akmal mengintip di pintu. Kepala keduanya saja yang kelihatan, Akmal dibawah dan Alex di atas.


Untuk pak Nanto...?


Laki-laki baya itu belum juga membukakan pintu, dirinya masih mengintip di jendela mengibaskan kain gorden dan melihat ke arah luar. dia yang mengenakan jubah hitam, menutupi tubuh dan wajahnya. Sosok itu menaruh sebuah kertas di depan pintu kemudian meninggalkan rumah itu, berjalan ke arah samping villa dan menghilang di gelapnya malam.


Pak Nanto memutar kunci dan hingga pintu itu terbuka. Kertas putih yang digulung dan diikat oleh tali, tepat ada di kakinya. Ia mengambil benda itu kemudian menutup pintu kembali dan menguncinya.


Melihat tidak ada tamu yang diterima oleh pak Nanto, dua pemuda yang sedang mengintip di kamar tamu, keluar saat itu juga dan menghampiri pak Nanto yang sedang duduk di sofa.


"apa itu pak...?" tanya Akmal ketika melihat gulungan kertas ada di tangan pak Nanto.


"kertas dan ini semacam surat" pak Nanto meneliti kertas itu.


"siapa yang mengirim, memangnya tadi nggak ada orang ya pak...?" ucap Alex.


"orang itu hanya menyimpan kertas ini kemudian pergi begitu saja. Saya juga tidak tau siapa sosok itu"


"sebaiknya buka saja, mana tau ada pesan penting di dalamnya" ungkap Akmal.


ketika pak Nanto ingin membuka tali yang melilit kertas itu, tangannya terhenti karena istrinya datang membawakan minuman teh hangat lengkap dengan pisang goreng yang masih panas.


"maaf ya bu kami merepotkan" ucap Akmal namun tangannya langsung mencopot satu pisang goreng dan memasukkan ke dalam mulutnya.


"sama sekali tidak, kami malah senang aden berdua mau datang bertamu di sini. Ayo diminum tehnya, pisang gorengnya dimakan" ibu Nani tersenyum ramah kemudian meninggalkan mereka kembali ke dapur.


Sepeninggalan ibu Nani, pak Nanto mulai kembali membuka tali kertas itu. Disimpannya tali itu di atas meja kemudian membuka gulungan kertas dan membaca isinya. Alex dan Akmal menunggu pak Nanto mengeluarkan suara.


"Tunggu Samuel datang dan temui aku di pohon raksasa. Victor"


"Victor...?"


Akmal yang sejak tadi mengunyah pisang goreng, membulatkan mata dengan mulut yang menganga penuh makanan. Alhasil Alex menutup kembali mulut pemuda itu dengan tangannya.


"ditelan...bukan mangap kayak gitu"


"yaelah mas, aku sedang mengekspresikan keterkejutan loh" Akmal kembali mengunyah makanannya dan meminum teh manisnya.


"apa maksudnya ini pak...? Apa benar Victor yang mengirim pesan itu. Kalau benar, berarti dia masih hidup...?" Alex sungguh dibuat penasaran.


Bagaimana bisa seseorang yang telah meninggal mengirimkan pesan kepada mereka kalau bukan orang itu masih hidup. Atau bisa saja ada orang lain yang menyamar menjadi Victor.


pertanyaan itu sebenarnya akan dijawab oleh pak Nanto, namun ternyata ada telinga lain yang berada di sekitar rumah. Hal itu karena Alex tidak sengaja melihat ke arah jendela dan terlihat bayangan seseorang yang lewat dari arah samping rumah.


"sssttt" Alex memberikan kode kepada pak Nanto dan Akmal.


"kenapa mas...?" suara Akmal pelan hampir tidak terdengar.


Alex mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu kemudian memperlihatkan tulisan itu kepada pak Nanto dan juga Akmal.


"ada orang yang sedang menguping. Tetap lanjutkan pembicaraan namun jangan mengungkit masalah Victor"


Pak Nanto dan Akmal mengangguk mengerti. Kertas itu di simpan di bawah meja oleh pak Nanto.


"harusnya tempat ini dijadikan tempat wisata bagi warga lokal atau para turis misalnya. Tempatnya indah banget loh, pantainya bersih dan jernih. adem lagi, aku lama-lama betah berada di sini" Akmal memulai pembicaraan.


"kalau betah ya tinggal lah beberapa hari di sini den. Istri saya bisa memasak makanan yang den Alex dan den Akmal inginkan" sahut pak Nanto.


"tapi..."


"tapi kenapa lagi Mal...?" Alex mencopot satu pisang goreng dan memasukkan ke dalam mulutnya.


"nggak ada ceweknya lah mas, nggak bisa cuci mata"


"ck...cuci mata pakai air laut sana biar krispi tuh mata"


Pak Nanto tertawa kecil, bukan pura-pura namun karena memang ucapan Alex membuat dirinya menyemburkan tawa. Perutnya yang sedikit buncit, bergoyang naik turun.


"kan ada nona Utami, dia cantik loh den mungkin bisa dibilang jelmaan bidadari" ucap pak Nanto.


"jelmaan kuyang dia mah, nggak cocok jadi bidadari"


Praaaaang


Kaca jendela mengeluarkan bunyi yang cukup keras. Ketiganya bahkan kaget dan refleks memutar kepala melihat ke arah samping.


"siapa itu...?" Alex berucap lantang.


Terdengar derap kaki yang berlari dan suara itu mengarah ke arah villa. Kini Alex dan Akmal saling pandang, sepertinya salah seorang dari penghuni villa yang menguntit mereka.


"jangan-jangan itu Utami lagi" ucap Akmal.


"bisa jadi bisa juga nggak"


"kita pulang mas" ucap Akmal.


"jangan, kita harus tetap di sini sampai pagi. entah sejak kapan orang itu menguntit kita dan entah sudah berapa banyak dia mendengar pembicaraan kita. Jika dirinya mendengar dari awal, maka itu tandanya pak Nanto dan istrinya dalam bahaya"


"tapi sepertinya dia tidak mendengar pembicaraan kita tentang Victor, sebab kedatangan orang itu setelah sosok yang memberikan kita kertas pergi dari sini" sambung pak Nanto. "kalian berdua tidak perlu khawatir, in shaa Allah kami aman. saya dan istriku sudah terbiasa dengan hal seperti itu. Sebaiknya kalian pulang saja"


"tapi pak, orang itu bilang kita harus menunggu kedatangan Samuel. Bisa jadi Samuel sedang dalam perjalanan ke arah sini" ungkap Akmal.


"lalu apa kalian benar-benar akan menunggu di sini...?" tanya pak Nanto.


"orang itu sudah pergi pak, sekarang aku meminta jawaban dari pertanyaan ku tadi. Dan juga kami berdua akan tetap berada di sini. Lagipula bos Gandha tentu saja tidak mempermasalahkan kami akan tidur dimana selama kami nyaman"


pak Nanto diam beberapa saat, ia kembali mengambil kertas yang disimpannya di bawah meja kemudian meletakkan di atas meja.


"Victor memang masih hidup" ucap pak Nanto.


"serius pak...?" tanya Akmal.


"saat kejadian mengerikan malam itu, saya sendiri yang menolongnya dan menyembunyikan keberadaannya dari semua orang"


flashback


Suara guntur dan petir saling bersahutan di malam itu. Air hujan turun dengan derasnya membasahi pulau bambu. pak Nanto yang sedang mencari dedaunan obat sebab istrinya sedang sakit, menerobos hujan dengan baju hujan yang dipakainya.


malam itu, dengan senter yang ia bawa pak Nanto menemukan apa yang dicarinya. sudah terlalu lama dirinya keluar rumah dan waktunya pak Nanto untuk pulang. diperjalanan, dirinya samar mendengar suara teriakan seseorang yang tidak jauh berada di posisinya sekarang. Kemudian disusul suara tawa yang semakin membuat pak Nanto penasaran.


Karena hujan deras maka ia tidak bisa mendengar begitu jelas suara itu namun dirinya yakin ada suara yang ia dengar tadi.


Rasa penasaran itu membawa langkahnya untuk melihat dan betapa terkejutnya ia saat melihat siapa yang berada di depannya sana.


"harusnya kamu tidak perlu melakukan itu Victor, sekarang nyawamu yang menjadi taruhannya"


Laki-laki yang terkapar di tanah, wajahnya penuh darah dan luka. Kemeja putih yang dipakainya sudah tidak terbentuk lagi warnanya. Dari kepala sampai kaki, darah segar terus keluar bercampur air hujan.


"manusia iblis seperti kamu tidak pantas untuk dijadikan bos. Gandha Sukandar palsu, apa kamu pikir Gara akan bisa dibodohi terus-menerus dengan penyamaranmu itu. Hahaha" Victor tertawa, tawanya mengejek dan kemudian dirinya terbatuk-batuk. "mungkin bukan aku, tapi suatu saat penyamaranmu akan terbongkar oleh orang lain"


"Gandha Sukandar palsu...?" kening pak Nanto mengerut, sukses membuatnya kaget saat itu dengan ucapan Victor.


"kamu memang perlu di musnahkan sekarang juga Victor" Gandha Sukandar palsu mengambil pisau dari dalam jasnya.


Jleb


Ughhh


"innalilahi" pak Nanto menutup mulut agar tidak mengeluarkan suara yang bisa membuat dirinya ketahuan.


Lima tusukan di tubuhnya dan irisan wajah yang membuat wajah Victor hancur. Tubuh yang tidak bergerak lagi itu, diangkat oleh anak buah Gandha Sukandar dan dibuang ke laut. Seketika air laut berubah warna menjadi merah. tubuh Victor terapung di atas air dan semua orang meninggalkan dirinya.


melihat situasi yang sudah aman, pak Nanto berlari cepat ke arah air dan berenang untuk mengambil tubuh Victor. Untungnya belum terlalu jauh dibawa ombak sehingga pak Nanto dapat meraih tubuh laki-laki itu dan membawanya kembali ke daratan.


Flashback end


"saya pikir dia sudah tidak bisa diselamatkan. Ketika aku memeriksa denyut nadinya, masih terasa meskipun begitu sangat lemah. tanpa menunggu esok pagi, saya membawa Victor ke kota untuk mengobatinya. Bersama istri saya, malam itu dengan kapal seadanya, kami membawa Victor ke wilayah S"


"benar kan mas dugaan kita. kalau ternyata Victor mengetahui rahasia besar yang disimpan oleh bos Gandha palsu itu sehingga Victor ia singkirkan" ucap Akmal.


"Sebenarnya begini pak"


Alex menceritakan semuanya kepada pak Nanto. Apalagi laki-laki baya itu orang baik maka Alex memberitahukan apa yang sebenarnya mereka ingin lakukan di pulau bambu itu.


"tuan Amsar saudaranya tuan Gandha...?" tanya pak Nanto.


"iya pak, kedua ayah mereka adik kaka. Bisa jadi Gandha Sukandar asli dikurung bersama ayah kandung dari Gara Sukandar"


"saya memang sempat mendengar kabar kalau Gandha Sukandar bukanlah ayah kandung dari Gara Sukandar dan ternyata itu benar ya. kalau begitu berarti kalian harus menemui Victor, dia pasti tau dimana keduanya disembunyikan namun kalian harus menunggu Samuel datang terlebih dahulu"


"bagaimana kalau mas Samuel datang menjelang subuh mas, bisa ketahuan kalau kita pergi berdua dan tentu saja Gandha Sukandar palsu akan mencari keberadaan kita pagi nanti"


"berarti hanya salah satu dari kita yang akan pergi bersama Samuel dan satunya lagi menemani Gandha Sukandar untuk melihat perkebunan ganjanya itu" jawab Alex.


"semoga niat baik kalian dipermudahkan oleh yang Maha Kuasa"


"amiin" Alex dan Akmal mengaminkan.


_____


"Sam, aku kebelet pipis...temani ayo" Naomi menarik tangan Samuel untuk ke semak-semak.


Samuel dan Naomi telah tiba di pulau bambu. Sama halnya seperti Fatahillah dan Aji Wiguna, keduanya mengikuti sepanjang pesisir pantai untuk bisa sampai di dermaga pulau bambu itu. Berkat bantuan pak Dodi, keduanya sampai di pulau itu.


"di sini saja Na, aku tunggu di pohon itu"


"jangan kemana-mana tapi ya"


"kamu penakut ternyata ya"


Samuel terkekeh geli kemudian meninggalkan Naomi dan menunggunya di bawah pohon. Naomi segera mengeluarkan isi kantung kemih yang membuatnya sesak nafas sejak tadi, tidak nyaman dan ingin segera dikeluarkan. Setelah selesai, dirinya menemui Samuel.


"sudah...?"


"sudah" Naomi tersenyum.


Keduanya kembali mendekati pasir dan berjalan di pinggiran pantai. Sesekali Naomi membasahi kakinya dengan air laut yang mulai turun saat itu.


"suasana seperti ini, indah kalau bersama pasangan ya Sam" ucap Naomi.


"hummm... sayangnya aku nggak punya pasangan" Samuel tersenyum kecut jika mengingat penghianatan Diandra kepadanya.


"sama...aku juga nggak punya pasangan"


Jawaban itu membuat Samuel seketika memutar kepala untuk melihat wajah Naomi.


"bukannya kamu sudah tunangan ya...?" bingkai wajah penasaran terlihat di wajah Samuel.


"sudah bubar, sama seperti dirimu...dihianati" Naomi tersenyum simpul.


"sayang sekali, padahal aku melihat kamu dan Bram begitu cocok. Apalagi dia laki-laki yang romantis"


"ya...dia bisa juga romantis kepada wanita lain selain aku"


"benar-benar mengenaskan ya perjalanan cinta kita" Samuel terkekeh pelan.


"hummm... mungkin saja jodoh, siapa tau kan"


Diam....


Samuel diam dan melirik Naomi. Jika diperhatikan wanita itu tidak kalah cantik dengan mantan kekasihnya yang baru saja ia putuskan beberapa jam yang lalu. Naomi manis dan tidak bosan untuk dipandang, ditambah lagi gigi gingsulnya yang membuat wanita itu semakin manis.


dibawah cahaya rembulan, malam itu Naomi terlihat begitu cantik. Itulah yang dilihat oleh Samuel sekarang.


"astaga...mikirin apa sih kamu Sam" Samuel menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"kenapa Sam, kamu sakit kepala...?" Naomi panik saat itu ketika melihat Samuel memegang kepalanya.


"tidak...aku tidak apa-apa" Samuel melepaskan tangan Naomi yang menangkup wajahnya. Ia canggung dan tidak terbiasa, sungguh tidak nyaman baginya.


Naomi menjauh dan kembali bermain air. angin laut membuat Naomi kedinginan apalagi dirinya hanya menggunakan dres dengan lengan yang pendek. Samuel langsung membuka jasnya dan memakaikan di tubuh Naomi.


Karena kaget Naomi hampir saja jatuh ke air jika saja Samuel tidak menahan pinggangnya.


saling beradu pandang dan menatap dalam, Naomi jujur mengagumi ketampanan Samuel.


"maaf, aku hanya ingin memasangkan jas kepadamu" Samuel melepas tangannya.


"tidak apa-apa, aku saja tadi yang kaget. Terimakasih" Naomi memakai jas itu.


Harusnya bergandengan tangan....


Harusnya saling merangkul....


harusnya terlihat romantis....


Apalah daya mereka bukan pasangan kekasih. Keduanya tidak mempunyai hubungan khusus apapun, baik sahabat, TTM ataupun status lainnya. namun karena alam seakan mendukung hubungan mereka untuk lebih dekat, Naomi refleks memeluk tubuh Samuel saat suara binatang yang terdengar seperti suara anjing yang menggonggong mengagetkan dirinya.


"sudah aku bilang seharusnya kamu tidak ikut" Samuel terpaksa menggenggam jemari Naomi untuk meyakinkan wanita itu jika dirinya tidak akan meninggalkannya.


"tidak usah protes, aku juga tidak mungkin kembali lagi kan. pak Dodi sudah pulang, masa iya aku berenang sampai di wilayah S" Naomi membalas genggaman tangan Samuel lebih erat.


Sepanjang perjalanan keduanya mulai diam, di samping mengantuk, Naomi juga sudah kelelahan berjalan jauh. Maklum saja dirinya tidak pernah melakukan perjalanan sejauh itu.


Di depan sana, Samuel melihat cahaya yang berasal dari api. Kening Samuel mengerut dan menarik tangan Naomi untuk mendekati api unggun yang ternyata dinyalakan entah siapa orangnya. Ketika melihat dua orang sedang duduk santai sambil menikmati ikan bakar yang ada di atas daun, Samuel mempercepat langkahnya.


"Gara" panggilnya dengan langkah kian cepat dan alhasil Naomi terjatuh saat itu.


"astaga, maafkan aku...aku terlalu bersemangat bertemu dengan Gara. Sini aku gendong"


tanpa aba-aba Samuel langsung mengangkat tubuh Naomi sementara wanita itu melingkarkan kedua tangannya di leher Samuel agar tidak terjatuh.


"aku bisa jalan sendiri, kakiku tidak begitu sakit" Naomi sungguh malu.


"sudah, kamu diam saja"


Tepat di hadapan Fatahillah dan Aji Wiguna, Samuel menurunkan tubuh Naomi dengan hati-hati di atas daun-daun.


"Sam, bagaimana bisa kamu berada di sini. Aku tidak menyuruh kamu untuk ke sini" tentu saja Fatahillah kaget melihat Samuel menyusul dirinya.


"mengomelnya nanti saja, ada hal yang lebih penting yang harus kalian tau"


"ada apa, ada berita apa...?" tanya Fatahillah.


"Alvin dan Diandra ternyata adalah orang-orang Gandha Sukandar palsu"


"Diandra...? Dokter sahabat Najihan...?" Fatahillah membulatkan mata.


"iya, kami berdua memergoki mereka kemarin dan keduanya bahkan mengakui itu"


"bukankah Diandra...dia adalah kekasihmu...?"


"sekarang bukan lagi"


"astaga, jikalau seperti itu berarti Gandha Sukandar itu tau kalau kita akan datang ke pulau ini" ucap Aji Wiguna.


"maaf Aji, ada hal yang perlu kamu ketahui" Samuel menatap Aji Wiguna.


"katakan"


"Najihan...."


"ada apa dengan Najihan...?" raut wajah Aji Wiguna mulai tidak nyaman.


"Najihan diculik oleh Diandra dan Alvin"


"KURANG AJAR, BERANINYA MEREKA MENYENTUH ISTRIKU"


Naomi yang kaget kembali memeluk lengan Samuel, siapapun akan kaget dengan amarah tiba-tiba Aji Wiguna. Tubuhnya panas dan mengepalkan tangan. Wajahnya menampakkan kemarahan dan tatapannya seakan ingin menerkam lawan.


"akan ku cabik-cabik mereka yang berani menyentuh Najihan"