Fatahillah

Fatahillah
Bab 84



sejak pagi tadi ponsel Haninayah dan juga ibu Kamila di non aktifkan. itu karena pemuda yang menyelamatkannya semalam memberitahu bahwa sebaiknya untuk sekarang ponselnya jangan dulu diaktifkan sebab bisa saja orang-orang tadi malam melacak keberadaannya melalui ponselnya itu.


apalagi Faisal sempat menghubungi dirinya, saat pemuda yang bernama Guntur itu melihat nama yang tertera di layar ponsel Haninayah, Guntur menyuruh Haninayah untuk tidak mengangkatnya. ia juga meminta agar Haninayah menonaktifkan ponselnya.


"dia teman rekan kerjaku di sekolah mas"


"siapapun dia jangan mengangkat telepon darinya. semalam saya mendengar orang-orang itu menghubungi bos mereka dan mereka memanggilnya dengan nama bos Faisal. bisa saja Faisal yang mereka maksud adalah teman rekan kerjamu itu. musuh kadang berkeliaran di dekat kita tanpa kita ketahui Hani"


"tidak mungkin, pak Faisal itu orangnya begitu baik"


"psikopat bahkan lebih berhati baik di depan semua orang agar kedoknya tidak terbongkar"


masih teringat dengan ucapan Guntur tadi pagi. kini Haninayah masih belum percaya kalau Faisal guru yang mengajar di sekolah yang sama dengannya adalah dalang dari kejadian semalam.


"lalu bagaimana aku bisa menghubungi mas Fatah kalau ponselku tidak aktif begini" gumamnya


Haninayah keluar kamar untuk mencari keberadaan Guntur. pemuda itu tidak masuk kerja sebab ternyata sejak semalam ia menggigil demam. ibunya membuatkan ramuan herbal untuk anaknya itu.


"mas Guntur dimana bu...?" Haninayah mendekat ibu Halima, ibu dari Guntur


"di belakang rumah sedang memberi makan ikan-ikan peliharaannya. bagaimana kondisi ibumu...?" ibu Halima yang sedang melipat pakaian di ruang tengah tersenyum lembut kepada Haninayah


"sudah mendingan bu, tapi sekarang masih tidur lagi. maaf kami hanya datang merepotkan saja" Haninayah duduk di samping ibu Halima


"kamu sudah mengatakan itu mungkin hampir sepuluh kali loh nak" ibu Halima tertawa pelan "jangan sungkan, kalian tidak merepotkan sama sekali. memangnya ada apa kamu mencari Guntur" lanjut ibu Halima


"saya ingin meminjam ponselnya bu untuk menghubungi keluarga yang akan datang di kota ini"


"memangnya kenapa dengan ponselmu...?"


Haninayah kemudian menceritakan kalau Guntur melarangnya untuk mengaktifkan ponsel demi keselamatan dirinya dan ibunya. Guntur takut orang-orang semalam dapat menemukan keberadaan Haninayah dan ibunya sekarang.


"pergi saja di belakang rumah, Guntur sedang memberi makan ikan-ikannya"


Haninayah mengangguk dan bangkit dari duduknya. ia melangkah ke dapur kemudian membuka pintu belakang. dilihatnya Guntur sedang duduk di atas batu-batu yang mengelilingi kolam ikannya. sesekali ia melempar makanan ke dalam air hingga ikan-ikan itu berkerumunan untuk memperebutkan makanan yang dilempar.


Haninayah mengikis jarak dan berdiri di samping Guntur. sekilas Guntur menoleh, melihat kedatangan Haninayah, Guntur bangkit berdiri.


"banyak sekali ikannya, apakah mas Guntur menjual mereka...?" Haninayah senang melihat ikan-ikan yang ada di dalam kolam kecil itu


"tidak...aku tangkap yang besar untuk dimakan. kenapa kemari...?" Guntur bertanya tanpa melihat ke arah wanita yang ada di sampingnya itu


"aku mau meminjam ponsel mas Guntur untuk menghubungi mas Hasan, hari ini dia akan kesini. tapi bagaimana dia akan mencariku kalau ponselku tidak aktif"


"ada keluargamu yang datang...?"


"iya...aku yang menyuruh mereka untuk datang"


Guntur manggut-manggut dan kembali melempar makanan ikan ke dalam kolam.


"ayo masuk, di sini panas" ajak Guntur. sebenarnya di tempat sejuk karena di bawah pohon namun Guntur tidak ingin berduaan berlama-lama dengan seorang wanita apalagi wanita itu seperti Haninayah


Guntur melangkah lebih dulu barulah Haninayah mengikutinya masuk ke dalam rumah. di ruang tengah Haninayah menunggu Guntur bersama dengan ibu Halima sementara Guntur masuk ke dalam kamar mengambil ponselnya setelah itu ia menuju ke ruang tamu.


"kamu hafal nomornya...?" tanya Guntur seraya memberikan ponselnya kepada Haninayah


Haninayah menggeleng kepala karena memang dirinya tidak menghafal nomor Fatahillah ataupun Hasan. namun dirinya menghafal nomor Fauzan maka dari itu Haninayah akan menghubungi Fauzan terlebih dahulu untuk meminta nomor Fatahillah ataupun Hasan.


"aku akan menghubungi seseorang untuk meminta nomor mereka, aku hafal nomornya mas Fauzan"


Haninayah mengetik angka di ponsel Guntur kemudian menekan tombol hijau. panggilan di mulai dan masuk namun untuk beberapa Fauzan tidak mengangkat. bahkan Haninayah mencoba beberapa kali namun tetap saja Fauzan tidak mengangkatnya.


"tidak diangkat" Haninayah lesu menggeleng kepala


"apakah yang bernama Faisal itu pernah bertemu ibumu...?" tanya Guntur


"lah pertanyaan kamu kok aneh sih Gun" ibu Halima bersuara bahkan Haninayah mengernyitkan dahinya


"begini bu. Haninayah mengajar satu sekolah dengan Faisal itu dan pastinya sudah sering kali bertemu. takutnya dia sudah memasang alat pelacak di ponsel Hani, kita kan nggak tau makanya itu aku menyuruh Hani untuk menonaktifkan ponselnya. kalau ibu Kamila mungkin kemungkinan kecil Faisal melakukan itu kecuali dia pernah bertemu dengan ibu Kamila" Guntur menjelang maksud tujuannya kenapa ia menyuruh Haninayah untuk menonaktifkan ponselnya


"pak Faisal memang pernah bertemu dengan ibu namun hanya beberapa kali dan itupun tidak lama. apa ada kemungkinan dia memasang alat pelacak itu...?" tanya Haninayah


"alat pelacak bisa ditempel dimana saja Hani, di benda apa saja bahkan di tubuh kita." ucap Guntur "tapi melihat kamu berpakaian tertutup seperti ini ada kemungkinan alat pelacak itu tidak disimpan di...maaf, di tubuhmu kecuali di benda yang kamu bawa seperti ponsel misalnya. coba sini mana ponselmu"


"ponsel ku di kamar mas"


"periksa dulu barangkali memang ada alat pelacak di ponselmu, kalau tidak ada berarti aman. sebenarnya sejak pagi tadi aku ingin memeriksa namun karena aku tidak enak badan jadi mengurungkan niat itu"


"tapi aku tidak tau benda seperti itu bagaimana bentuknya"


"ambil dan bawa ke sini, ponsel ibumu juga. ya Allah aku sampai lupa, meskipun ponselmu non aktif kalau sudah diberikan alat pelacak sudah pasti kalian akan ditemukan. cepat sebelum mereka kembali ke sini"


Haninayah buru-buru pergi ke kamar dan mengambil ponselnya kemudian ia kembali lagi dan menyerahkan benda pipih itu kepada Guntur.


Guntur memeriksa dan bahkan membuka casing ponsel Haninayah. benar saja ada alat pelacak yang begitu kecil di sana, berwana hitam yang di simpan di tempat yang aman. kemudian kembali ponsel ibu Kamila yang diperiksa dan Guntur tidak menemukan apapun. segera Guntur melenyapkan alat pelacak itu agar tidak lagi berfungsi.


sementara di tempat lain Faisal begitu geram sebab kini layar laptop miliknya tidak lagi menemukan titik keberadaan Haninayah. harusnya ia bergerak saat ini juga namun beraksi di siang hari terlalu beresiko maka dari itu dirinya menunggu malam tiba. sayangnya pelacak yang ia simpan di ponsel Haninayah kini tidak berfungsi lagi.


"BRENGSEK" umpat Faisal dengan kesal


ia pun keluar dari ruangan kerjanya dan mengerahkan orang-orangnya untuk ke rumah tadi malam. tidak peduli lagi saat ini entah siang ataupun malam, dirinya harus menangkap Haninayah.


"tangkap wanita itu sekarang" perintah Faisal


"tapi ini siang hari bos, bagaimana kalau ada warga yang melihat dan melapor polisi"


"aku tidak peduli, bawa Haninayah dihadapan ku, kalian mengerti"


"baik bos"


suara Faisal yang menggelegar di dalam rumah membuat mereka tidak berani untuk membantah jika tidak ingin terkena akibatnya. berjumlah lima belas orang, mereka meluncur ke rumah Guntur untuk membawa paksa Haninayah.


"kalian harus tinggalkan rumah ini Hani, rumah ini tidak lagi aman. siapapun dalang dari kejadian semalam, dia sudah mengetahui keberadaan kalian" ucap Guntur


"kenapa tidak memberitahu sejak semalam Gun, kalau sudah begini lalu harus bagaimana...?" ibu Halima mulai panik


"aku lupa bu demi Allah" Guntur menyesal dan meraup wajah kasar, kenapa bisa sampai dia lupa alat pelacak tetap akan berfungsi meskipun ponsel di nonaktifkan


"lalu aku harus kemana mas, aku takut ditangkap oleh mereka" dibalik cadarnya Haninayah tegang dan kini meremas ujung hijabnya


"tunggu aku di sini, aku akan ke bengkel mengambil mobil" Guntur segera bangkit dan keluar rumah, mengendarai motornya dan akan ke depan gang


"bangunkan ibumu nak, agar nanti jika Guntur tiba kalian langsung berangkat" ucap ibu Halima


Haninayah beranjak buru-buru ke kamar untuk membangunkan ibunya. namun ternyata saat membuka pintu ia melihat ibu Kamila hendak memasang hijabnya.


"bu, ibu sudah baikan...?" Haninayah mendekati ibunya


"sudah, ibu ingin bertemu dengan pemilik rumah ini, ibu ingin mengucapkan terimakasih"


"kalau begitu kita keluar, ibu Halima ada di ruang tengah. namun kita harus segera pergi dari sini bu, tempat kita bersembunyi telah diketahui"


"ya Allah...jadi bagaimana nak, apa yang harus kita lakukan. ibu tidak sanggup untuk berlari lagi" ibu Kamila mulai kembali pucat


"mas Guntur yang akan mengantar kita. ayo bu, kita tunggu mas Guntur di luar"


keduanya keluar kamar, ibu Halima tersenyum lembut menyambut keduanya. dengan mengucapkan banyak terimakasih, ibu Kamila bahkan memeluk ibu Halima sangat berutang budi wanita baya itu telah menolong mereka.


Guntur kembali dengan membawa mobil yang ia ambil di bengkel tadi. segera ia masuk ke dalam dan menyuruh ibu Kamila dan Haninayah untuk segera masuk ke dalam mobil.


"kami akan dibawa kemana nak Guntur...?" tanya ibu Kamila


"ibu kan bukan target mereka Gun"


"tetap saja bu, jangan sampai mereka datang dan melakukan kekerasan kepada ibu. ayo bu ibu tetap harus ikut"


"baiklah" ibu Halima mengalah


mereka semua bergegas keluar rumah dan masuk ke dalam mobil. Guntur mengunci pintu kemudian ikut masuk ke mobil. di depan gang, mobil yang mereka kendarai berpapasan dengan mobil anak buah Faisal.


"stop... stop, balik balik" seseorang menepuk bahu yang sedang menyetir


"kenapa kamu...?"


"aku melihat wanita itu di dalam mobil yang lewat tadi, aku yakin itu dia, dia memakai cadar bukan"


"jangan sampai bukan dia, wanita yang memakai cadar kan bukan hanya dia"


"aku ingat wajah ibunya bego. cepat susul mobil itu sebelum tertinggal jauh"


mobil itu berjalan mundur, jika harus belok lagi maka itu akan memakan waktu yang lama. setelah ban mobil keluar dari gang, mobil itu melesat cepat mengarah dimana mobil Guntur tadi pergi.


"mobil tadi berwarna apa...?"


"silver, sepertinya mereka di depan sana"


setiap kendaraan mereka lambung dengan kecepatan tinggi, tidak ingin kehilangan jejak sehingga mereka akan sulit lagi menemukan Haninayah. mobil silver yang dimaksud kini telah berada di depan mereka berjarak dua mobil dengan mereka.


"lambung lah, ngapain jalan lelet sih"


"jangan gegabah, kita harus membuat mereka tidak curiga kalau ada yang mengikuti mereka"


di dalam mobil yang dikemudikan oleh Guntur, Haninayah menghubungi Fatahillah.


(assalamualaikum mas Fatah)


(wa alaikumsalam... ya Allah Hani, kenapa nomormu baru saja aktif, sejak tadi pagi saya menghubungimu namun tidak pernah bisa)


(maaf mas, sekarang mas Fatah dimana sekarang apakah belum sampai...?)


(dua jam lagi kami akan memasuki kota X)


"satu jam lagi mas, aku akan mengemudi dengan kecepatan tinggi"


"Mal, kami tidak datang untuk bertemu malaikat maut ya meskipun sebenarnya dia akan datang kapan saja" timpal Hasan


"tenang mas Hasan, serahkan kepada ahlinya"


(kalian bertiga ya mas...?)


(iya, ada Hasan dan Akmal. jadi kamu dimana sekarang...?)


"mas Guntur, kita akan kemana...?" Haninayah bertanya kepada Guntur dari kabin tengah


"di kawasan barat, rumah pamanku bernama Danang. rumah ilmu bela diri, carilah tempat itu tidak sulit untuk menemukannya" Guntur menjawab dan matanya fokus melihat ke arah spion


(sepertinya kami diikuti) batin Guntur, yang rupanya kini mulai curigai dengan mobil hitam yang berada di belakang mereka


(kami akan ke kawasan barat mas, di rumah pak Danang. rumah ilmu beladiri)


(baiklah, kita bertemu di sana)


panggilan terputus, Fatahillah memberitahukan tujuan mereka setelah sampai di kota X.


"wah itu sih tempat banyak orang yang berlatih ilmu bela diri disana mas, aku tau tempatnya karena pernah ke sana satu kali. waktu itu aku pergi bersama paman Ali. pak Danang itu adalah pamannya almarhumah mbak suci Wulandari, kekasih hati paman Ali. sayangnya mereka tidak berjodoh karena mbak suci... diperkosa dan dibunuh oleh ayah tirinya sendiri"


"subhanallah... kasihan sekali dia" ucap Fatahillah


"bejad betul ayah tirinya itu, kenapa nggak dipotong sekalian saja burungnya" Hasan geram mendengar cerita Akmal


"sudah di hukum mas, aku juga sempat emosi waktu itu. karena itulah paman Ali tidak dekat lagi dengan wanita manapun sampai akhirnya dia bertemu dengan mbak Naila eh tapi ujung-ujungnya malah menikah dengan Maryam"


"jodoh adalah rahasia Tuhan Mal, siapa yang akan mengira kalau Ali dan Maryam akan menikah. eh tapi Haninayah masih jomblo loh Mal, dia juga seperti Maryam memakai cadar. siapa tau kan dia..."


"aku nggak mau berharap lagi mas, takut patah lagi kan nggak ada enak-enaknya" Akmal memotong ucapan Hasan


"sabar dan berlapang dada, insya Allah semuanya ada hikmahnya" Fatahillah menepuk pelan bahu Akmal


mobil mereka semakin berlari kencang dan mobil yang berada di belakang mereka pun tidak kalah cepatnya. Alex tetap mengejar mobil yang ada di depannya, karena tidak ingin tertinggal lebih jauh.


Guntur mengambil jalan yang berbeda dari tempat tujuan mereka. ia ingin memastikan apakah mobil hitam itu mengikuti mereka dan benar saja kemanapun ia pergi mobil itu selalu mengambil arah yang sama.


"loh Gun, ini kan bukan arah ke rumah pamanmu" ibu Halima berucap karena putranya mengambil arah yang berbeda


"ada yang mengikuti kita bu jadi aku terpaksa mengambil jalur lain"


ketiganya segera memutar kepala untuk melihat ke belakang, benar saja satu mobil hitam yang berjarak beberapa meter terus mengikuti mereka.


"lalu bagaimana ini nak, gawat ini kalau sampai mereka menghadang kita. kamu hanya sendiri Gun, kalau mereka banyak bagaimana" ibu Halima mulai panik


"mas Guntur, apa yang harus kita lakukan. aku tidak mau tertangkap oleh mereka mas" Haninayah tidak tenang, ia mulai gelisah dan terus melihat ke arah belakang


"tenang. insya Allah, Allah selalu bersama kita" Guntur tetap tenang di posisinya


mobil hitam itu mulai melaju dan menghadang mobil mereka. Guntur menginjak rem dan hampir saja menabrak mobil itu.


"ya Allah nak Guntur, jangan turun nak. mereka banyak sekali" ibu Kamila mulai takut, bukan hanya dirinya bahkan kini Haninayah dan ibu Halima tegang dan was-was


"kalian semua jangan ada yang keluar, aku akan menghadapi mereka"


"jangan mas" Haninayah menarik leher baju Guntur saat pemuda itu hendak membuka pintu


"semuanya akan baik-baik saja"


orang-orang itu mulai memukul kaca mobil berteriak meminta agar mereka semua keluar. Guntur keluar dan mengunci pintu mobil. satu orang menarik kerah baju Guntur namun ia menepis tangan orang itu dengan kasar.


"mau apa kalian...?" Guntur bersandar di mobilnya


"buka pintu mobilmu, wanita itu harus kami bawa"


"kalau aku tidak mau...?"


"berarti kamu harus mati"


"hhh" Guntur tersenyum sinis "memangnya kalian siapa sampai berani mau membunuhku...?"


"banyak bacot nih orang. habisi saja dia"


mereka hendak menyerang Guntur bahkan Guntur pun telah bersiap. tapi saat itu juga beberapa batu melayang dan menghantam kepala sebagian dari mereka, membuat orang-orang itu kesakitan dan kepala mereka langsung mengeluarkan darah.


"KURANG AJAR, SIAPA YANG MELEMPARKU"


"mau kami lempar lagi...?" dua orang datang dari arah samping


"brengsek...cari mati rupanya kalian"


"lepaskan mereka dan kalian berdua akan kami ampuni, jika tidak maka siap-siap saja nyawa kalian melayang" salah satunya dengan santai bersandar di batang pohon kedua orang itu adalah anak buah dari Aji Wiguna.


"kalian berdua yang akan mati brengsek. serang mereka"


dua orang itu ikut di serang, Guntur pun tentu saja menjadi target utama mereka. di siang hari itu pertarungan tidak lagi dapat dielakkan. baik Guntur maupun dua orang itu sama-sama melawan lima belas orang anak buah Faisal.