Fatahillah

Fatahillah
Bab 131



"kenapa tidak jadi kita ke pulau bambu, bukankah jadwalnya sore ini" Akmal yang sedang menyetir sore itu, mereka akan ke rumah sakit untuk menjenguk Yusrif juga Tegar.


Harusnya sore hari keduanya bersama Gandha Sukandar akan ke pulau bambu. namun karena pak Gandha mempunyai urusan yang mendadak maka keberangkatan mereka dibatalkan dan akan dijadwalkan hari berikutnya.


"kamu dengar sendiri kan kalau pak Gandha bilang dia ada urusan mendadak. Setidaknya dengan begitu, kita bisa istirahat sejenak sebelum kembali berkutat dengan masalah lagi. Lagi pula, ada yang harus kita bahas bersama yang lainnya. Fatahillah, bos dan juga Hasan sedang mengarah ke rumah sakit"


"padahal aku penasaran seperti apa pulau bambu itu, tapi ya sudahlah" Akmal menginjak rem, mereka berhenti di lampu merah. "kita singgah di SPBU dulu ya mas, mobil kita perlu asupan gizi seimbang"


"terserah kamu sajalah, aku mau tidur sebentar, rasanya mengantuk sekali" dengan posisi ternyaman, Alex menutup mata, wajahnya ia tutupkan menggunakan topinya.


Kendaraan kembali bergerak sebab lampu di depan mereka sudah menandakan lampu hijau. Kembali Akmal menginjak gas, roda mobil itu berputar membuatnya bergerak pelan.


di SPBU Akmal berhenti, namun belum mengambil antrian dan masih berhenti di pinggir jalan.


"mas, aku mau ke toilet...kamu saja yang isi bensin ya" pelan Akmal menggoyangkan lengan Alex.


"apa sih Mal, kan bisa setelah datang dari toilet baru kamu ambil posisi antrian" Alex tidak ingin diganggu tidurnya.


"ya sudahlah, udah kebelet banget nih"


Dengan membuka pintu mobil, Akmal turun kemudian berjalan tergesa-gesa menuju ke toilet. Sementara Alex, dirinya kembali terbuai dalam mimpi. Kantuk yang menyerangnya membuat dirinya begitu berat untuk membuka mata.


Akmal kembali datang setelah urusannya selesai. hendak masuk ke dalam mobil, dirinya tidak sengaja melihat seseorang yang ia kenal. Samuel dan Jeni rupanya ada di tempat itu juga, terlihat keduanya sedang berbincang dengan seseorang, namun berada sedikit jauh dari mereka. Bukan untuk mengisi bensin, mereka memang hanya mengobrol di pinggir jalan bersama seorang laki-laki yang tidak Akmal ketahui.


karena memang tidak mempunyai urusan dengan keduanya, Akmal tidak ambil pusing. dirinya kembali masuk ke dalam mobil namun saat itu Alex bangun dan mengatakan kalau ia harus ke toilet.


"aku isi bensin dulu mas"


"humm, nanti aku samperin"


Kembali Alex memakai topinya dan keluar dari mobil. tepat saat itu Jeni melihat ke arah mereka dan saat itu juga ia dapat melihat Alex yang berjalan mencari keberadaan toilet. Senyum gadis itu mengembang, sejak kemarin dirinya memikirkan entah kapan lagi ia akan bertemu dengan Alex dan sepertinya hari ini Tuhan mengabulkan harapannya.


Hanya saja, dirinya malu untuk menghampiri laki-laki dewasa yang kemarin telah menyelamatkannya. Jika mungkin mereka tidak sengaja bertemu, ia tidak akan canggung namun jika dirinya menghampiri laki-laki itu, Jeni berpikir itu bukanlah hal yang wajar.


"ayo Jen" ajak Samuel, sebab laki-laki itu telah selesai berbicara dengan temannya.


"emmm tunggu sebentar kak, aku mau ke toilet dulu"


"kalau gitu kakak tunggu kamu di mobil"


"iya kak"


Jeni mengangguk dan tersenyum. Ia pun tergesa-gesa berjalan ke arah toilet, tujuannya adalah siapa tau dirinya bertemu dengan Alex di sana. Kalau laki-laki itu bertanya, maka bukankah jawabannya dirinya dari toilet. itulah yang ada di pikiran Jeni.


Sepi, sebab tidak ada orang yang mempunyai urusan di tempat itu. Padahal tadinya ia hanya mencari alasan untuk datang di tempat itu dan sekarang dirinya malah ingin buang air kecil.


"masuk sajalah, nggak mungkin pipis di sini kan" gumamnya.


Masuk ke dalam toilet, Alex keluar dari tempat itu. Namun ia belum beranjak pergi sebab ponsel Alex bergetar. ia pun menerima panggilan dari Aji Wiguna.


[halo bos]


[kalian jadi datang ke sini...?]


[jadi bos, kami masih di SPBU sekarang. Ada yang ingin bos titip, makanan mungkin]


[tidak, ya sudah kami menunggu kalian di rumah sakit]


[baik bos]


"kak Alex"


Panggilan dimatikan, suara seseorang masuk ke dalam indera pendengaran. Alex memutar tubuhnya, seorang gadis cantik tersenyum manis dan menghampiri dirinya.


"hai kak, kita bertemu lagi di sini" Jeni menampilkan senyum terbaik. Ya begitulah kalau sedang kasmaran.


"kamu kok ada di sini...?"


"ini kan tempat umum kak, siapapun bisa datang ke sini"


"maksud aku, kemarin kan kamu masih di wilayah D"


"oh itu, iya kemarin aku masih di sana tapi hari ini aku sudah di sini. Kakak kok sendirian, kakak yang satunya mana...?" Jeni hanya mengetahui nama Alex saja sebab Akmal beberapa kali memanggil nama laki-laki itu, namun Jeni kini lupa dengan nama Akmal.


"sedang antri di depan. Kamu sendirian...?"


"nggak, aku sama kakak aku di depan. Ayo kak aku perkenalkan ke Samuel, dia sebenarnya ingin bertemu dengan orang yang sudah menyelamatkan aku dari pak Gatot" tanpa basa-basi, Jeni merangkul lengan Alex membuat laki-laki itu terkejut. belum sempat melepaskan diri, Jeni sudah menarik tubuhnya untuk berjalan bersamanya.


"kak Sam" setelah dekat, Jeni memanggil Samuel yang sedang berbicara di telepon. Samuel berbalik dan melihat adiknya sedang merangkul seorang laki-laki, keduanya berjalan ke arahnya.


Samuel mematikan panggilan, wajahnya nampak menatap Alex juga Jeni yang kini telah berada di depannya.


"kak Sam, kenalin dia kak Alex yang menolong aku sama Tasya kemarin di wilayah D"


"oh...jadi ini yang bernama Alex dan membuat adik aku tidak bisa tidur nyenyak semalaman" Samuel menggoda adiknya.


"kak Sam, apaan sih" sungguh Jeni malu, ia takut Alex akan tau isi hatinya padahal laki-laki itu, sebenarnya kebingungan dengan ucapan Samuel.


"perkenalkan saya Samuel, kakaknya Jeni" Samuel mengulurkan tangan"


"Alex" uluran tangan itu di sambut baik oleh Alex.


"terimakasih sudah menolong adik aku kemarin, kalau tidak ada kamu entah bagaimana nasibnya sekarang"


"sebenarnya itu hanya kebetulan. Aku mempunyai urusan dengan pak Gatot dan tidak sengaja bertemu dengan Jeni juga Tasya"


Samuel manggut-manggut kemudian melirik tangan adiknya masih setia merangkul lengan Alex seakan tidak ingin melepaskan lengan kekar laki-laki itu.


"ekhem...apa kamu akan seperti itu terus...?" Samuel mengangkat satu alisnya.


"maksudnya...?" Jeni bingung.


"kalian romantis sekali" ejek Samuel.


sadar jika tangannya masih melingkar di lengan Alex, Jeni tersenyum kikuk dan salah tingkah. ia pun melepaskan tangannya dan mendekati Samuel berdiri di samping kakaknya itu.


(perasaan apa ini) jantung Alex berdegup kencang saat kedua matanya beradu tatap dengan mata indah Jeni. Bahkan senyuman gadis itu membuatnya terpaku beberapa saat.


"maaf kak, aku terlalu bersemangat soalnya untuk memperkenalkan kak Alex dengan kak Samuel" Jeni khawatir Alex akan ilfil kepadanya.


"tidak apa-apa. Kalau begitu saya permisi dulu, teman saya sudah menunggu" Alex melihat mobil Akmal sudah berada di pinggir jalan kembali setelah pemuda itu mengantri untuk mengisi bensin.


"kapan-kapan mainlah ke rumah, Adik aku ini pasti sangat senang" Samuel menarik pelan hidung Jeni.


"kakak... apaan sih" sungguh Samuel membuat Jeni tidak berkutik.


"kalau semesta mempertemukan kita lagi, akan saya pikirkan tawaran itu. Sampai bertemu lagi, Jeni" Alex memberikan senyuman manis, sumpah demi apapun Jeni ingin sekali berteriak saat itu juga. hanya saja dirinya harus tetap kalem dan slow.


"hati-hati kak, sampai bertemu lagi" Jeni pun ikut tersenyum.


Alex mengangguk kemudian berbalik badan. Kaki panjangnya melangkah ke arah mobil yang terparkir tidak jauh dari mereka. Mobil itu perlahan bergerak dan meninggalkan SPBU.


"kenapa sedih begitu mukanya...?" Samuel merangkul bahu adiknya.


"nggak, siapa yang sedih" Jeni mengelak namun sebenarnya ia memang sedih sebab pertemuan dirinya dan juga Alex hanya sebentar saja.


"tenang saja, kalau jodoh nggak akan kemana. Ayo kakak antar pulang, soalnya kakak harus ke kantor"


"aku bosan di rumah kak, aku ikut kakak saja boleh ya"


"nggak bisa Jen. Kamu tau kan sekarang keadaannya seperti apa. Pak Gara pun harus turun tangan langsung untuk mengatasi masalah ini. aku takut terjadi sesuatu lagi sama kamu. Jadi lebih baik kamu di rumah saja ya"


Dengan wajah lesu, Jeni menganggukkan kepala. Samuel mencolek dagu adiknya itu kemudian mereka masuk ke dalam mobil.


"dokter Najihan bagaimana kak...?"


"dia kan mau ke rumah sakit" Samuel menyalakan mesin mobil. Mereka meninggalkan SPBU untuk pulang ke rumah.


"terus dia nggak balik lagi ke wilayah D...?"


"tenaganya di butuhkan di sini, jadi ya terpaksa Diandra dan dokter Abizzar yang bertugas di sana. Lagipula ada beberapa dokter yang membantu mereka"


sebenarnya Samuel belum waktunya untuk kembali ke wilayah S, hanya saja Najihan yang ternyata dihubungi oleh tempat dirinya mengabdi kalau wanita itu dibutuhkan di rumah sakit itu sebab pasien yang pernah ia tangani kembali ke rumah sakit itu dan harus Najihan yang mengurusnya, maka bagai angin segar untuk Najihan. Ia pun memaksa Diandra untuk kembali ke wilayah S, sayangnya Diandra tidak bisa pergi begitu saja. Alhasil Samuel lah yang pulang bersamanya juga dengan Jeni.


_____


Henry kini telah berada di ruang perawatan. Setelah di periksa oleh seorang dokter, laki-laki baya itu kini sedang tertidur pulas di atas ranjangnya karena obat bius yang diberikan.


"aku harus menghubungi Samuel dahulu"


"bukannya dia masih di wilayah D...?" ucap Hasan.


"tidak, dia sudah kembali. Ada yang harus dia urus secepatnya di sini makanya dia pulang. Dia pulang bersama dokter Najihan" menyebut nama wanita itu, Fatahillah melirik Aji Wiguna namun pemuda itu hanya cuek memainkan ponselnya.


"Fatah, sebaiknya jangan menghubungi Samuel. Kita tanyakan dulu kepada Henry apakah Samuel terlibat dalam kasus ini atau tidak" Aji Wiguna melarang.


"aku keluar sebentar, ingin menghubungi Zelina" Fatahillah keluar dari ruangan itu.


sementara Alex dan Akmal tiba di rumah sakit. Mereka langsung menuju ke lantai dua tempat dimana Yusrif dan Tegar di rawat. Kamar rawat mereka bersebelahan dengan kamar rawat Henry sehingga tidak susah lagi untuk berjalan jauh.


pintu ruang rawat Henry terbuka, Alex dan Akmal tiba di tempat itu.


"mana mas Fatah...?" Akmal mendekati ranjang Henry.


"di luar sedang menghubungi istrinya" Hasan menjawab.


"terus Tegar juga Yusrif dimana...?" tanya Alex.


"di ruang sebelah, mereka sedang tidur" jawab Aji Wiguna.


Tidak lama pintu ruangan itu kembali terbuka, Fatahillah masuk dan menghampiri mereka.


"pelakunya adalah seorang wanita, bukan Gandha Sukandar" Fatahillah memberitahu Alex juga Akmal.


"maksudnya gimana...?" tentu saja Alex bingung.


Hasan pun menceritakan kejadian yang terjadi di penjara bawah tanah saat meminta informasi dari laki-laki yang kini terbaring di ranjangnya.


"Gandha Sukandar palsu...? Maksudnya Gandha Sukandar sekarang ini adalah orang lain...?" Akmal tentu saja heran.


"pak Henry mengatakan seperti itu, entah benar atau tidak kita harus mencari tahu kebenarannya" helaan nafas Fatahillah begitu panjang. Tidak habis-habisnya masalah yang datang menghampiri.


"masa sih dia bukan Gandha Sukandar yang asli. Bagaimana kalau dia ini bohong. Ingat, dia ini penghianat, bisa saja kan sekarang dia sedang memainkan peran" Akmal belum bisa untuk percaya begitu saja.


"kalau bermain peran sepertinya tidak, terlihat dia begitu memohon agar keluarganya di lindungi. Namun untuk masalah Gandha Sukandar palsu, aku belum bisa memastikan itu" Fatahillah menjawab, Henry masih betah menutup mata.


"lalu bagaimana keluarganya sekarang, mereka amankan...?" tanya Hasan.


"Langon"


GRAAAAR


Untuk mendapatkan informasi itu maka jalan salah satunya adalah memanggil Langon. Harimau putih datang bersama Gangan. Dua harimau yang besar itu duduk di hadapan mereka semua.


"kalian menjaga keluarga itu dengan baik kan...?" keduanya mendapat usapan lembut dari tangan Fatahillah.


graaaar


Langon dan Gangan menjawab, tidak mungkin perintah sang tuan tidak dilakukan.


"apa kalian memasang pagar gaib juga...?"


Graaaar


kembali keduanya menjawab. Fatahillah tersenyum dan memeluk dua harimau yang bertubuh besar itu.


"kalian hebat, terimakasih selalu bisa diandalkan. Sekarang kembalilah ke rumah itu, kalau ada apapun maka laporkan kepadaku"


graaaar


Langon dan Gangan menghilang, urusan keluarga Henry kini telah selesai.


"aku belum bisa terima kenapa pak Gandha tidak terlibat dalam hal ini" mereka berkumpul di ruangan itu, di sofa yang ada di dalam sebab Fatahillah memasukkan Henry di ruang khusus untuk VIP.


"atau mungkin seperti ini. Gandha Sukandar yang asli memang tidak terlibat tapi Gandha Sukandar yang palsu terlibat. Bisa jadi seperti itu kan" Hasan mengutarakan analisanya.


"nggak mungkinlah dalam satu wilayah yang sama, ada dua orang yang memerankan Gandha Sukandar. Jelas sudah pasti akan ketahuan kan" ucap Fatahillah


"betul itu, tidak mungkin pak Gandha Sukandar akan membiarkan ada orang lain yang menyamar menjadi dirinya" Alex sepemikiran dengan Fatahillah.


"hadeeeeh...kenapa malah tambah rumit seperti ini sih" Akmal mengacak rambutnya, kepalanya semakin pusing memikirkan masalah yang mereka hadapi.


"aku dimana...?"


suara dari ranjang membuat mereka semua terdiam dan seketika melihat ke arah Henry yang sudah terbangun dari tidurnya. Dengan cepat Fatahillah mendekat ke arahnya.


"bagaimana keadaanmu pak Henry...?"


Henry menatap semua orang, hanya tiga orang yang ia kenal dan dua orangnya lagi sama sekali tidak dirinya kenal.


"pak Gara, bagaimana keluarga saya... mereka baik-baik saja...?" Henry mencoba bangun, Fatahillah membantunya dan bersandar menggunakan bantal di punggung Henry.


"mereka aman, seperti janjiku padamu. Sekarang, aku meminta semua apa yang kamu ketahui beritahu padaku"


"tentang apa..?"


"tentang ayah saya yang palsu, tentang semuanya"


"Gandha Sukandar yang asli sama sekali tidak terlibat, apalagi mau membunuh anaknya pak Gara sendiri"


"jadi kalau yang bersama kita sekarang adalah Gandha Sukandar yang palsu, terus pak Gandha yang asli dimana...?" Alex mengeluarkan pertanyaan itu. Semua orang mengangguk, begitu menginginkan jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan oleh Alex.


"aku tidak tau dimana keberadaan pak Gandha yang asli"


"oke...aku mulai bisa menangkap apa yang bapak katakan. ayah tidak terlibat dalam penyebaran virus ini namun orang yang menyamar seperti ayah, terlibat dalam kasus ini. Bukan begitu pak Henry...?"


"benar dan dia berkomplotan dengan seorang wanita. Aku tidak tau siapa dia, sebab dirinya hanya memberikan perintah dan meminta aku untuk menemui Ki Samidi yang ada di ujung wilayah ini"


"lalu bagaimana kamu tau kalau Gandha Sukandar sekarang adalah orang lain...?" tanya Aji Wiguna.


"dimana ponselku...?" tanya Henry.


"ada padaku" Hasan mengambil ponsel Henry yang memang ia sita saat laki-laki itu akan dibawa ke penjara bawah tanah.


Henry mengambil ponselnya dan mencari sesuatu. Semua orang terdiam memperhatikan apa yang dilakukan laki-laki itu.


"lihatlah ini, aku tidak sengaja merekamnya dan saat itu juga aku hampir tidak percaya namun memang seperti yang aku lihat"


Sebuah video pak Henry perlihatkan kepada mereka. Saat itu pak Henry sedang merekam pemandangan indah di sekelilingnya dan berbicara akan mengajak keluarganya untuk berlibur di tempat itu. Semakin ke dalam, danau indah begitu memanjakan mata. Kemudian terlihat kamera menangkap seorang laki-laki dan juga seorang wanita yang sedang berbicara sambil berdiri. dari rekaman video itu, wajah laki-laki itu persis seperti Gandha Sukandar, begitu mirip tanpa celah sedikitpun namun untuk wajah wanitanya, mereka tidak melihatnya karena wanita itu menyembunyikan wajahnya.


Durasi beberapa menit, mereka semua tercengang. Laki-laki yang begitu mirip dengan Gandha Sukandar berubah menjadi sosok laki-laki yang lain.


"apa aku tidak salah lihat...?" Akmal mengucek kedua matanya.


"jadi benar ada yang menyamar menjadi Gandha Sukandar, tapi siapa laki-laki ini" Hasan nampak memperhatikan wajah laki-laki yang bisa dipastikan masih muda.


"kalau dia menyamar menjadi ayah, berarti ayah... dia...." Fatahillah menerka-nerka


"di kurung oleh mereka atau mungkin saja Gandha Sukandar yang asli telah....."


"tidak mungkin, ayah memiliki kemampuan yang tidak bisa dikalahkan begitu saja" Fatahillah langsung memotong ucapan Alex, ia menggeleng kepala sementara Henry hanya menghela nafas.


"aku tidak tau apakah mereka ada di sana atau tidak. tapi cobalah pergi ke pulau bambu tempat dimana pak Gandha yang asli memajukan usaha ganjanya. Mungkin saja pak Gandha berada di sana. Siapa yang akan mencari keberadaannya yang ada di wilayah kekuasaannya sendiri apalagi semua orang tidak tau kebenarannya"


"lalu kenapa kamu tidak memberitahu ibu atau kakek"


"aku sebenarnya ingin, namun pastinya nyawaku akan terancam karena mereka begitu cepat bisa menangkap siapa saja yang menghalangi jalan mereka. Makanya itu aku menyuruh pak Gara untuk melindungi keluargaku dan sekarang ini pun aku juga pasti sedang diincar"


"pak Gandha sebenarnya menyuruh kami berdua untuk menemani dirinya ke pulau bambu, namun tidak jadi karena ada hal yang mendadak yang harus ia selesaikan" ucap Akmal.


"kita akan sama-sama ke pulau bambu, obat dari kasus yang kita hadapi ada di tempat itu. Semuanya harus berakhir di pulau itu, apapun yang terjadi nantinya, Gandha Sukandar yang palsu ini harus ditangkap" Fatahillah memberikan kembali ponsel Henry.


"ikut aku" perintah Fatahillah.


Mereka semua keluar dan masuk ke ruang rawat Tegar dan Yusrif. Sengaja keduanya diberikan ruangan yang sama, karena itu adalah keinginan Yusrif si pemuda yang terkadang terlihat manja.


"mungkin saja pak Amsar ada di sana juga Fatah" ucap Hasan.


"apa yang sedang kalian bahas...?" Tegar bertanya, dirinya sudah bangun sementara Yusrif masih setia dalam mimpi indahnya.


hal yang diketahui diberitahu kepada Tegar, kini mereka sedang menyusun rencana untuk ke pulau itu.


"apa selama ini Gandha Sukandar tidak jahat ya" ucap Akmal.


"tapi dari cerita dua kiayi dan juga ibu, pak Gandha yang menyebabkan kericuhan di masa lalu" jawab Fatahillah.


"lalu sekarang bagaimana...?" tanya Hasan.


"kita berbagi tugas. Hasan, Aji Wiguna juga Tegar akan ke telaga gunung Gantara sementara aku dan Yusrif akan mengintai pergerakan Gandha Sukandar. Alex dan Akmal, kalian berdua harus memberitahu setiap kegiatan laki-laki itu di pulau bambu nanti" Fatahillah kini memberitahukan rencananya.


"baiklah, aku setuju" ucap Alex.


Semuanya mengangguk setuju, masalah ini harus selesai secepatnya juga.


_____


Detik-detik novel Fatahillah tidak lama lagi akan tamat. Terimakasih semuanya telah setia membaca cerita Fatahillah.


Dan juga aku mau mengucapkan minal aidzin wal Faidzin, selamat hari raya idul Adha mohon maaf lahir dan batin untuk kalian semua.