
"Lari sayang, kalian harus pergi sejauh mungkin"
"tapi bagaimana dengan mas...?"
"aku akan baik-baik saja. pergilah sebelum mereka menemukan kita. pergi bawa anak kita sejauh mungkin"
"tidak mas, aku tidak mau. ayo pergi bersama mas"
"sayang dengarkan aku"
laki-laki itu menangkup wajah istrinya, merapatkan kedua kening mereka dan menutup mata. perlahan ia membuka mata dan mecium kening istrinya dengan lembut.
"pergilah, pergi cari pertolongan. kalian berdua harus selamat"
"mas"
wanita itu menggeleng, air matanya tumpah ruah tidak tertahankan. ia terguguk di pelukan suaminya. sementara anak laki-laki yang berusia tiga tahun hanya menatap keduanya dengan tatapan bingung penuh tanya.
"jaga ibu ya sayang, ayah akan menyusul nanti" laki-laki itu mencium kening anaknya
anak laki-laki itu hanya tersenyum dan mengangguk kemudian menangkup wajah ayahnya dan menghapus air matanya.
"ayah tidak ikut...?" tanyanya dengan bola mata yang jernih menatap kedua mata ayahnya
laki-laki itu menggeleng merengkuh kembali anak dan istrinya setelahnya ia pergi begitu saja tanpa menghiraukan teriakan istrinya.
"mas....mas"
"ayah....ayah"
"ayah"
Zelina mengucek matanya saat mendengar suara yang keluar dari mulut suaminya. melihat Fatahillah sepertinya sedang bermimpi buruk, Zelina mengguncang bahu suaminya untuk membangunkannya.
"mas... bangun mas"
"ayah"
"mas Fatah"
keringat mulai membasahi kening laki-laki itu. Zelina mengambil tisu di atas nakas kemudian melap keringat suaminya.
"ayah"
Fatahillah tersentak dan membuka mata. hal pertama yang ia lihat adalah istrinya yang sedang duduk khawatir melihat dirinya mengigau.
"mas"
"sayang" Fatahillah hendak bangun namun Zelina menahannya
"jangan bangun dulu mas, mas belum sepenuhnya sembuh"
Fatahillah kembali berbaring, ia mengatur nafas dan mengeluarkan dengan pelan. kilasan mimpi yang ia alami tadi begitu melekat di ingatannya.
"mas mimpi buruk...?"
Fatahillah mengangguk lemah. Zelina ingin menanyakan suaminya itu bermimpi apa sampai berkeringat seperti itu namun ia urungkan karena melihat kondisi Fatahillah yang masih belum stabil.
"itu hanya bunga tidur mas. mas mau minum...?"
Fatahillah kembali mengangguk. Zelina mengambil gelas yang berisi air putih di atas nakas dan membantu Fatahillah untuk meneguk minuman itu. setelahnya, Zelina menyimpan kembali gelas itu di tempat semula.
"sudah berapa lama aku tertidur sayang...?"
"dua hari. aku sangat bersyukur mas bisa membuka mata malam ini. apa yang mas rasakan, kalau merasa sakit aku akan memanggil mas Ali untuk pergi menemui kiayi Zulkarnain"
"kepalaku pusing, tenagaku begitu lemah. sebenarnya apa yang terjadi padaku...?"
"setelah kejadian dua hari yang lalu, mas pingsan dan kritis. untungnya kiayi Zulkarnain dan kiayi Anshor mengeluarkan racun yang ada di dalam tubuh mas Fatah. apa mas Fatah tidak ingat kejadian kemarin" Zelina mengelus dengan lembut rambut suaminya
Fatahillah mulai memutar memori dimana mobil yang ia tumpangi bersama istrinya dan Arjuna mengalami rem yang blong sehingga dengan terpaksa ia memerintahkan istrinya dan Arjuna untuk melompat dari mobil.
ingatannya juga mengingat pertarungan yang terjadi dengan sengit dimana lawannya begitu kuat hingga setelah menghabisi mereka, dirinya sudah tidak mengingat apapun.
"bagaimana keadaanmu sayang, Arjuna bagaimana...?"
"aku dan Arjuna baik-baik saja mas, tidak perlu cemas. yang lebih penting sekarang adalah mas sendiri. aku begitu takut saat mas Fatah tidak membuka mata. aku takut mas...mas pergi seperti ayah dan mas Panji"
mata Zelina nampak berkaca-kaca. membayangkan teriakan kesakitan suaminya kemarin sudah membuatnya begitu terpukul dan takut akan kehilangan. melihat istrinya menangis, tangan Fatahillah terulur untuk menghapus bulir bening yang jatuh di kedua pipi istrinya.
"maaf telah membuat kamu khawatir"
Zelina menghambur memeluk Fatahillah. meskipun masih dalam keadaan lemah, Fatahillah tentu tidak menolak dipeluk oleh istrinya. ia mengecup beberapa kali kening istrinya.
nafas Zelina yang teratur menandakan bahwa wanita itu telah terlelap dalam dekapan suaminya. sementara Fatahillah kembali teringat dengan mimpinya tadi. yang ia bingung kan adalah siapa ketiga orang itu karena ia belum pernah melihat mereka sebelumnya. bahkan wajah keduanya tidak begitu jelas dalam penglihatan di mimpi Fatahillah.
"kenapa aku bermimpi seperti itu ya" gumamnya
Fatahillah menarik nafas panjang, sekuat apapun usaha untuk mengingat bagaimana wajah kedua sepasang suami istri yang ada di dalam mimpinya, hal itu tidak pernah berhasil bahkan hanya membuat ia semakin sakit kepala. Fatahillah memutuskan untuk kembali tidur. keduanya terlelap dalam keadaan berpelukan.
lain di kota B maka lain juga yang berada di kota S. malam semakin merangkak saat Yusuf baru saja melakukan operasi dari pasiennya yang mengalami luka cukup serius. tadinya dokter muda itu sedang terlelap dalam mimpi di rumahnya namun larut malam ia dihubungi oleh rekan sejawatnya untuk melakukan tindakan operasi dari seorang pasien yang baru saja kecelakaan.
dengan mengusap wajah kasar dan membuang nafas, Yusuf terpaksa ke rumah sakit menjalankan tugasnya sebagai seorang dokter. sebelum meninggalkan rumah, ia memastikan terlebih dahulu semua orang sudah dalam keadaan tidur. bahkan Yusuf menyewa beberapa orang untuk berjaga-jaga di rumahnya, untuk melindungi keluarga dari sahabatnya.
dan saat ini Yusuf sedang berada di ruangannya. dirinya duduk di kursinya dan mengangkat kedua kaki di atas meja. lelah menguasai diri dan pelan matanya mulai terpejam.
baru beberapa menit Yusuf menikmati indahnya terlelap dalam mimpi, suara dering ponsel miliknya membuatnya terbangun.
"siapa sih, ganggu banget"
dengan bibir yang menggerutu, Yusuf memperbaiki posisi duduknya dan mengambil ponsel di dekatnya. keningnya mengkerut tatkala tertera nama Zulaikha di layar ponselnya.
"halo Ica ada a...."
"mas Yusuf, tolong mas... tolong"
"Ica, ada apa...kamu kenapa...?"
"lepaskan... lepaskan aku"
"halo...ica...ica"
tidak ada lagi sahutan karena panggilan telah terputus. tanpa menunggu lama Yusuf meraih kunci mobilnya dan bergegas meninggalkan ruangannya. ia berlari ke luar menuju ke lobi rumah sakit. saat itu tepat saat Yusuf akan mendekat di pintu keluar, Anisa datang dalam keadaan menangis. seorang laki-laki baya terbaring di brankar dan beberapa perawat mendorong untuk ke ruang pemeriksaan.
"Anisa" panggil Yusuf
langkah wanita itu terhenti dan berbalik, Yusuf mendekat ke arahnya.
"apa yang terjadi...?" tanya Yusuf
"ayah terkena serangan jantung" Anisa menjawab dengan lirih. matanya bengkak, mungkin sejak tadi terus menangis
"dokter, pasien harus segera ditangani" seorang perawat datang memberitahu Anisa
Anisa mengangguk dan berlalu meninggalkan Yusuf. ia sendiri yang akan menangani ayahnya. sementara Yusuf kini menjadi dilema, entah harus membantu Anisa atau pergi mencari Zulaikha. gadis itu tidak berada di rumah Yusuf karena ia izin untuk menginap di rumah temannya.
Yusuf membulatkan tekad untuk pergi mencari Zulaikha. baru hendak melangkah, namanya dipanggil oleh seorang perawat.
"dokter, mohon tolong gantikan dokter Anisa. dia tadi pingsan sebelum masuk ke ruang IGD"
"apa tidak ada dokter yang lain sus, saya sedang tidak bisa bertugas"
"tidak ada dok, dokter Galih baru saja pulang karena anaknya sakit"
Yusuf meraup wajahnya dengan kasar, otaknya seakan tumpul untuk berpikir. di satu sisi ingin menyelamatkan nyawa ayah temannya namun di sisi lain ada seorang gadis yang mungkin saja nyawanya sedang terancam. dua nyawa harus ia pilih salah satunya.
sebelum itu ia mengubungi Fauzan. dirinya membutuhkan pertolongan laki-laki itu.
"ada apa Yus, kenapa menelpon larut malam begini"
"Zan tolongin aku. Zulaikha dalam bahaya tapi aku tidak bisa pergi karena harus menyelamatkan ayah Anisa. tolong Zan, tolong cari Zulaikha"
"astaga, bukankah anak itu ada di rumahmu...?"
"dia izin menginap di rumah temannya. tolong cari dia, aku akan kirimkan alamat rumah temannya itu. setelah selesai, aku akan menyusul mu"
"oke oke baiklah, kirimkan sekarang alamatnya" Fauzan mengalah
"thanks Zan"
Yusuf mengirimkan alamat teman Zulaikha kepada Fauzan, kemudian ia bergegas ke ruang IGD.
Fauzan mencebik sebelum akhirnya memakai jaket dan mengambil ponsel serta kunci mobilnya. ia meninggalkan rumahnya membelah jalan raya di malam yang terang karena lampu jalan.
Fauzan mencoba menghubungi nomor Zulaikha namun tidak aktif dan hanya operator yang menjawab panggilannya. berkali-kali Fauzan menghela nafas panjang dan menghembuskan perlahan. yang ia pikirkan adalah, dirinya harus bertamu di rumah orang selarut itu. bisa-bisa ia akan dikatakan pencuri.
sebuah rumah yang cukup besar nampak di hadapan Fauzan. mobilnya ia parkir di depan gerbang dan dirinya keluar dari mobil. saat itu ia dapat melihat beberapa orang sedang ribut di halaman depan rumah itu. tanpa menunggu lama Fauzan melesat masuk ke dalam dan menghampiri mereka.
"assalamu'alaikum"
"wa alaikumsalam...kamu siapa...?" wanita baya bertanya
"benar ini rumah temannya Zulaikha yang bernama Meqianti...?"
"mas Zulaikha dibawa pergi, tadi ada orang yang memakai pakaian ninja masuk ke dalam rumah dan menculik Zulaikha. tolongin Zulaikha mas, bagaimana kalau dia dibunuh"
gadis seusia Zulaikha mengguncang lengan Fauzan. gadis itu bahkan sudah menangis dan memohon kepada Fauzan.
"dimana mereka membawanya pergi...?" tanya Fauzan
"mereka ke arah barat, aku sempat mengambil foto nomor plat mobilnya" gadis itu memperlihatkan sebuah gambar di ponselnya
"terimakasih"
Fauzan buru-buru pergi tanpa berpamitan lagi. itu tidaklah penting selain menyelamatkan Zulaikha sekarang. mobilnya dengan cepat berputar dan melaju ke arah barat menyusul mobil yang berplat nomor seperti yang ia lihat di ponsel gadis tadi.
"sial...sial..sial, para ninja itu semakin berani saja" Fauzan menggerutu di dalam mobil
semakin kencang Fauzan melajukan kecepatan mobilnya, ia tidak ingin ketinggalan terlalu jauh sehingga kehilangan jejak mobil itu. hingga beberapa meter di depannya, ia dapat melihat mobil hitam tersebut.
"dapat" Fauzan tersenyum tipis sebelum akhirnya menaikkan kecepatan tinggi dan melaju cepat
braaaakkk
braaaakkk
Fauzan menabrak mobil itu dari arah belakang dengan begitu kerasnya hingga mobil itu oleng dan menabrak tiang listrik. ia menepikan mobilnya di dekat mobil itu dan keluar.
buaaaak
baru saja keluar dari mobil, Fauzan sudah menghadiahkan satu tendangan kepada seseorang yang datang menyerangnya. ia kemudian mengambil pedang samurai ninja itu dan memainkannya dengan kedua tangannya. dirinya sudah di kelilingi dengan para ninja yang berjumlah lebih dari sepuluh orang. dengan pedang samurai yang mereka pegang, siap menusuk dan mencabik-cabik lawan.
"berani sekali kalian membawa pergi anak gadis orang"
"bacot, serang dia"
sreeet
sreeet
Fauzan menebas dua orang di perut mereka hingga keduanya mati seketika. setelahnya Fauzan menarik salah satu dari mereka dan mengangkat kemudian memutar ninja itu, kedua kakinya menendang para teman-temannya. setelahnya Fauzan menggorok lehernya dengan pedang ninja itu sendiri.
"senjata membunuh tuannya sendiri" Fauzan menyeringai
pertarungan di tengah malam itu tentu saja tidak dapat di hindari. para ninja melawan satu orang pemuda yang hanya seorang diri. satu persatu para ninja itu tumbang dengan berbagai macam luka di tubuh mereka. tersisa satu ninja lagi, Fauzan menyeringai dan melap darah yang tadi memuncrat di wajahnya.
"perlu kamu pilih mau mati dengan cara apa. di gorok, di tebas, atau di tusuk" Fauzan semakin mendekat ke arah ninja itu
ninja itu melarikan itu, mencoba untuk menyelamatkan dirinya dari maut melalui tangan seorang pemuda. Fauzan tersenyum tipis sebelum akhirnya melempar pedangnya dan
jleb
ugh
tepat mengenai sasaran, pedang itu tertancap di punggung ninja itu menembus di depannya.
"mas Fauzan" Zulaikha keluar dari mobil dan berlari memeluk laki-laki itu
"kamu tidak apa-apa...?" Fauzan melerai pelukan menelisik Zulaikha dari atas sampai bawah
wajah gadis itu membiru, bahkan tercetak telapak tangan. sepertinya mereka menampar gadis itu karena Zulaikha melawan.
"aw... sakit" Zulaikha meringis saat tangan Fauzan memegang wajahnya
"kita ke rumah sakit, biar Yusuf yang obati kamu"
Zulaikha mengangguk dan masuk ke dalam mobil bersama Fauzan. di perjalanan ke rumah sakit, Fauzan menghubungi Yusuf untuk memberitahu laki-laki itu.
"ya sudah, aku tunggu kalian saja di rumah sakit" ucap Yusuf
panggilan ia matikan dan memutar kembali mobilnya, karena dirinya dalam perjalanan akan menyusul Fauzan namun ternyata mereka dalam perjalanan ke rumah sakit maka Yusuf memutar arah kembali ke tempat kerjanya.
sambil menunggu Fauzan dan Zulaikha, Yusuf datang melihat keadaan Anisa yang sedang dalam ruang perawatan. wanita itu ternyata sudah sadarkan diri dan berusaha melepaskan jarum infusnya.
"kamu ngapain" Yusuf mendekat dan menahan tangan Anisa
"aku mau lihat ayah Yus"
"kondisi kamu masih lemah seperti ini, istrahat dulu setelah itu baru kamu melihat ayahmu"
Anisa tidak mengindahkan ucapan Yusuf, ia hendak bangkit namun kemudian kepalanya mulai pusing dan hampir saja terjatuh. untungnya Yusuf segera merengkuh tubuh ramping Anisa dan mendudukkannya di ranjang.
"jangan ngeyel Nis, sekali ini saja dengarkan aku"
"aku baik-baik saja Yus, aku hanya kecapean menyetir mobil dari kota B sampai di sini"
"Nis, turuti aku atau aku tidak akan mengizinkan kamu keluar dari ruangan inj" tegas Yusuf penuh penekanan
Anisa menghela nafas panjang sebelum akhirnya mengangguk dan kembali berbaring di bantu oleh Yusuf.
"bagaimana keadaan ayah aku Yus...?"
Yusuf duduk di samping Anisa dan menghela nafas sebelum memulai cerita. ia memegang tangan Anisa dan menggenggamnya dengan erat.
"pak Agung..." Yusuf menjeda ucapannya kemudian kembali mengehela nafas
"pak Agung kritis"
air mata Anisa tidak dapat lagi di bendung. ia menangis menggigit bibir agar tidak bersuara. Yusuf merasa kasihan dan naik ke atas ranjang kemudian memeluk wanita itu.
"sabar Nis, berdoa agar semuanya baik-baik saja" Yusuf mengelus punggung Anisa
"aku nggak punya siapa-siapa lagi selain ayah Yus, kalau ayah pergi...aku sama siapa. mas Fatah....mas Fatah sudah bersama wanita lain" Anisa terguguk di dada Yusuf
tidak ada kata yang Yusuf keluarkan lagi. ia hanya mengelus lembut punggung wanita itu. dia tau Anisa begitu mengharapkan Fatahillah, namun saat ini pemuda itu telah menikah, Yusuf tidak mungkin mengatakan kepada Anisa agar jangan menyerah mengejar Fatahillah.
"masih ada aku Nis, kamu tidak sendirian" ucap Yusuf pelan