
di sebuah gedung yang menjulang tinggi, seorang wanita cantik, bahkan kecantikan miliknya bisa dikatakan setara dengan wanita-wanita di eropa. bisa dikatakan kalau memang dirinya adalah keturunan dari ayah yang berkebangsaan Jerman dan ibunya orang Indonesia. ia sedang duduk di kursi kebesarannya dan menghadap ke arah jendela. gedung-gedung pencakar langit pun terlihat dari arah jendela itu. bahkan kendaraan dibawah sana seperti semut yang sedang berjalan.
di tangannya segelas minuman yang berwarna merah, ia teguk penuh kenikmatan. bahkan akan menuang lagi dari botol yang ada di atas meja jika minuman yang ada di gelasnya telah habis.
tok...tok...tok
suara ketukan pintu terdengar dari luar, wanita itu hanya membalikkan kepalanya setengah putar dan melirik pintu ruangannya.
"masuk" ucapnya
cek lek
pintu terbuka dan masuklah seorang laki-laki bersama dua orang perempuan.
"saya membawa yang bos inginkan" ucap laki-laki itu
wanita itu meneguk habis minumannya dan menyimpan gelasnya di atas meja. kemudian memutar kursinya untuk menghadap ke arah tiga tamunya.
"masih perawan kan...?" tanya wanita itu menatap lurus ke arah laki-laki itu
"tentu saja, bukankah itu yang bos inginkan" jawabnya
"bagus"
wanita itu berdiri dan mendekati dua gadis yang berdiri di depan mejanya. keduanya begitu cantik dan juga putih. wanita itu mengelilingi kedua gadis itu.
"aku akan memberikan sebanyak yang kalian mau, namun tentu itu tidak gratis" ucapnya memegang rambut salah satunya
"memangnya apa yang harus kami lakukan...?" tanya salah satunya
"gampang saja, kalian tinggal menuruti perintah ku maka uang akan mengalir di rekening kalian" jawabnya kembali duduk di kursinya
"kalian bersedia...?" tanyanya dengan mata menatap seakan mengintimidasi keduanya
"kami bersedia" jawab keduanya
senyuman puas terukir di wajah wanita itu. ia kembali membuka penutup botol dan menuang isi di dalamnya ke dalam gelas miliknya. minuman yang berwarna merah kental, terlihat begitu menggiurkan baginya.
"bagaimana, sudah mendapatkan informasi dimana dia menyimpan benda itu...?"
"belum bos, hanya saja yang saya tau kalau pasangan dari benda itu telah berada di tangan salah satu pemuda. Harun telah memberikannya kepada pemuda itu"
"apakah yang kamu maksud, dia yang selalu menggagalkan rencana kita...?"
"betul bos, kekuatannya tidak bisa dianggap remeh. terlebih lagi mustika merah telah berada di genggamannya semakin memperkuat ilmu Kanuragan miliknya"
"sekuat itu dia ya" gumamnya sambil mengetuk-ngetuk meja menggunakan jari telunjuknya
"guna-guna yang dikirimkan oleh dukun sakti kepada Harun yang bekerja untuk Aji Wiguna, malah disembuhkan olehnya meskipun pada akhirnya Harun harus mati dan saat itulah Harun memberikan mustika merah itu kepada pemuda tersebut"
"Aji Wiguna, selalunya dia ingin mendapatkan apa yang aku mau. benar-benar menyebalkan" wanita itu terlihat marah dan memegang gelasnya dengan kuat
"Aji Wiguna tidak bisa kita pandang enteng bos, dia juga mengincar kedua mustika itu"
"padahal santet yang dikirimkan kepada putri pak Umar, sudah santet yang begitu dahsyat, bagaimana bisa mereka menyembuhkannya. sekarang kita harus cari cara lain"
"ingat, jangan kalah dengan Aji Wiguna. bagaimanapun caranya kita harus lebih dulu mendapatkan mustika itu daripada mereka. bunuh siapa saja yang menghalangi jalan kita. bunuh semua orang yang mempunyai hubungan dengan Umar sialan itu dan pemuda tersebut. "
"baik bos"
laki-laki itu keluar dari ruangan itu bersama dua gadis yang ia bawa tadi. sementara wanita itu berjalan ke arah jendela dan meneguk minumannya.
"Fatahillah Malik.... sehebat apa dirimu sampai begitu sulit untuk dibunuh" gumamnya dengan sorot mata yang tajam
"aaah, darah perawan memang begitu nikmat" ia meneguk minumannya tanpa sisa sedikitpun
sedangkan di tempat lain, seorang laki-laki sedang memainkan pulpen di tangannya. matanya menatap ke arah seseorang yang sedang berdiri di hadapannya. mereka hanya terhalang oleh sebuah meja yang panjang.
"apa segitu kuatnya pemuda itu...?" tanya laki-laki tersebut
"bahkan pak dukun yang kita kirim untuk mengakhiri hidup pak Harun dapat dikalahkan olehnya" jawab anak buahnya
"sial" ia mengumpat dengan kesal
"pantau setiap pergerakannya, jika keadaan memungkinkan maka habisi dia. kita harus mendapatkan mustika itu, setelah itu baru mencari cara mengambil mustika putih"
"bagaimana kalau kita membuat rencana mengambil keduanya bos, karena Samantha juga sedang mengincar mustika itu"
"wanita itu benar-benar membuatku muak, harusnya dulu aku membunuhnya saja" Aji Wiguna mengepalkan tangannya dengan erat
"ingat, jangan mau kalah dengan orang-orang Regina. kita harus lebih dulu mendapatkan kedua mustika itu daripada wanita itu"
"baik bos"
"cari dukun yang lebih sakti untuk membantu kita. saat ini aku belum bisa turun tangan, aku harus memulihkan kembali tenagaku"
"bukankah bos ingin menemui guru bos di desa keramat"
"aku memang akan ke sana. suruh orang untuk menggantikan pekerjaan mu Jaidan, temani aku ke desa keramat"
"baik bos"
laki-laki yang bernama Jaidan itu pergi keluar meninggalkan Aji Wiguna seorang diri.
"bola api yang aku kirim saja dapat mereka hadang bahkan mengembalikan kepadaku. sial sekali, siapa sebenarnya pemuda Fatahillah Malik itu"
***
sore hari setelah sholat ashar dan Hanum dimandikan lagi oleh kiayi Zulkarnain, Fatahillah mengajak Zelina untuk keluar jalan-jalan. tentu saja Zelina mau apalagi pergi berdua bersama suaminya. Zelina ingin menikmati suasana hanya berdua saja bersama Fatahillah.
keduanya telah memberitahu yang lainnya dan tentu semuanya mengizinkan. pak Odir hanya berpesan agar mereka berdua berhati-hati. pak Odir juga menyampaikan agar Fatahillah tidak meninggalkan Zelina seorang diri, karena bagaimanapun saat ini mereka sudah tidak aman dan harus tetap waspada.
Fatahillah memakai mobil Hasan karena hanya mobil laki-laki itu yang bisa mereka pakai. kali ini mereka sudah jauh meninggalkan pesantren Abdullah.
"kita mau kemana mas...?" tanya Zelina
"ke suatu tempat" jawab Fatahillah
tangan kiri menautkan jari jemarinya ke jari-jari kecil Zelina. keduanya saling menggenggam seakan tidak ingin saling melepaskan.
Fatahillah membawa Zelina ke sebuah mall terbesar di kota itu. setelah memarkirkan mobilnya, keduanya keluar dan saling bergandengan tangan.
mereka masuk ke dalam mall yang begitu besar dan tentu saja ratusan bahkan ribuan pengunjung ada di tempat itu. Fatahillah membawa istrinya di sebuah toko emas dan kini mereka telah berada di etalase kaca yang dimana emas-emas cantik tertata rapi di dalamnya. kalung, gelang, cincin dan anting begitu menggiurkan untuk mencoba benda-benda itu satu persatu.
"pilih yang mana yang kamu suka" ucap Fatahillah
"mas mau membelikan aku cincin...?"
"kita belum mempunyai cincin pernikahan kan, jadi hari ini mari kita pilih cincin pernikahan yang cocok untuk kita berdua kenakan"
Zelina tersenyum dan tentunya sangat merasa senang. ia mengangguk dan matanya mulai melihat satu persatu cincin yang ada didepannya.
"mbak, aku mau lihat yang itu" ucap Zelina
pegawai toko mengambilkan cincin yang dimaksud oleh Zelina dan memberikannya kepadanya. Zelina mengambil cincin itu dan memasang di jari manisnya.
"terlalu besar, coba yang itu mbak"
satu persatu Zelina menunjuk namun belum ada yang sesuai hingga kemudian pegawai toko menawarkan sebuah cincin yang baru saja masuk. ia mengambil sebuah kotak dan membukanya. dua buah cincin yang begitu cantik berada di dalam kotak. Zelina langsung jatuh cinta dengan kedua cincin itu.
"aku mau yang ini mas" ucap Zelina
"tentu saja, apapun yang kamu mau" Fatahillah tersenyum
"kalau mas dan mbak mau, kami bisa mengukir nama kalian berdua di cincin ini" ucap pegawai toko
"boleh, tapi kira-kira kapan bisa kami ambil...?" tanya Fatahillah
"malam nanti sudah bisa diambil mas" jawab pegawai toko
"kalau begitu tolong ukir nama kami ya" Fatahillah menulis nama mereka berdua di sebuah kertas yang diberikan oleh pegawai toko tidak lupa ia juga menulis nomor telepon agar mereka dapat dihubungi ketika cincin mereka telah jadi
"baik mas, kami akan menghubungi anda nantinya"
mereka meninggalkan toko emas dan menuju ke tempat lain. Fatahillah mengajak Zelina untuk belanja. Fatahillah membeli beberapa potong baju dan celana sedang Zelina membeli baju gamis dan juga beberapa kain cadar yang ia sukai.
tidak terasa kini waktunya sholat magrib tiba. mereka berdua meninggalkan mall dan mencari masjid terdekat untuk menunaikan ibadah magrib. setelah sholat mereka mencari tempat makan untuk mengisi perut yang sudah meminta jatah. keduanya memilih makan dipinggir jalan padahal sebenarnya mereka bisa saja ke restoran mahal untuk makam malam.
"kita makan di sini saja ya, tidak apa-apa kan...?" tanya Fatahillah
"tidak apa-apa mas, makanan di sini juga tidak kalah dengan makanan di restoran" jawab Zelina
mereka berdua duduk di kursi panjang dan meja yang panjang. Fatahillah memesan makanan dan juga minuman es teh, yang memang biasanya menjadi minuman tetap setiap warung makan.
"sayang"
"ya"
"malam ini...." Fatahillah menggantung ucapannya
"malam ini kenapa mas...?" Zelina menatap Fatahillah dengan bingung karena suaminya itu tidak melanjutkan ucapannya
"tidak...tidak apa-apa" Fatahillah menjawab cepat
makanan mereka datang. dengan membaca doa keduanya mulai melahap makanan itu. baru beberapa suap, seseorang datang menghampiri mereka.
"mas Fatah, kalian di sini juga" Anisa datang dengan senyuman mengembang melihat Fatahillah
"Nisa" panggil Fatahillah
"aku gabung ya" tanpa meminta izin Anisa langsung duduk di dekat Fatahillah
"kalau mau bergabung bersama kami, silahkan duduk di tempat yang masih kosong. jangan di dekatku" tegas Fatahillah
"kamu kenapa sih mas, setiap aku dekati kamu selalu seperti ini" Anisa mencebik
"mau pindah atau kami yang pergi" ancam Fatahillah
"iya iya" Anisa begitu kesal dan duduk di depan Fatahillah serta Zelina
"makan lagi mas" ucap Zelina
Anisa memesan makanan sementara Fatahillah dan Zelina kerap menunjukkan kemesraan di depan dokter itu, membuat hati Anisa begitu sakit dan lebih membenci Zelina.
"mas Fatah, ayah sedang sakit dan menginginkan mas Fatah untuk bertemu dengannya" ucap Anisa
"pak Agung sakit, sakit apa...?" tanya Fatahillah
"aku juga belum tau, rencananya malam ini aku akan pulang ke kota S namun ayah menolak karena aku sendirian. mas Fatah bisa tidak menemani aku pulang, sekalian mas bertemu dengan ayah"
"dokter Anisa, aku benar-benar tidak tau apa yang ada di dalam pikiran kamu dokter. tapi mengajak suami orang pergi bersamamu malam hari dan didepan istrinya sendiri....apa dokter tidak punya malu...?" kali ini Zelina begitu kesal mendengar ajak Anisa kepada suaminya
"nggak usah sok mengekang deh mbak Zelina. lagi pula mas Fatah sudah menganggap ayah aku seperti ayahnya sendiri. apa yang salah dengan ajakan aku untuk menjenguk ayah" Anisa membalas sinis
"kasian sekali ya mbak, punya pendidikan tinggi tapi attitude begitu rendah. sampai harus merendahkan diri di depan suami orang. apakah mbak Anisa saking begitu tidak lakunya ya sampai begitu ingin bersama dengan suamiku" ucap Zelina
"kamu" Anisa menggebrak meja dan menunjuk wajah Zelina dengan telunjuknya
orang-orang di tempat itu malah memperhatikannya Anisa yang membuat ulah.
"hhh, lihatlah semua orang melihatmu mbak. apa Mbak tidak malu...?" Zelina tersenyum dibalik cadarnya
"jangan membuat keributan di sini Nis" tegur Fatahillah
Anisa begitu kesal namun tetap tidak pergi dari tempat itu. ia bahkan memasang wajah seakan tidak terjadi apapun. sementara Zelina tersenyum puas dibalik cadarnya. ia tidak akan membiarkan siapapun mendekati Fatahillah, sekalipun itu adalah sahabat Fatahillah yang berniat merusak rumah tangga mereka.
selesai makan, Zelina membayar makanan yang mereka pesan kemudian mereka keluar dari warung makan. Anisa mengekori mereka dari belakang.
"mas Fatah, antar aku pulang ya" ucap Anisa
"mobil kamu mana...?" tanya Fatahillah
"aku nggak bawa mobil mas, mobil aku mogok tadi dan sekarang ada di bengkel" jawab Anisa
"bagaimana sayang...?" Fatahillah meminta persetujuan kepada Zelina
"pesankan taksi saja mas, aku malam ini tidak ingin diganggu siapapun" jawab Zelina dengan dingin menatap Anisa dengan tajam karena Anisa pun menatap Zelina dengan sengit
"kamu naik taksi saja Nis, maaf aku tidak bisa mengantar" ucap Fatahillah
Fatahillah melambaikan tangan ke arah taksi dan setelahnya sebuah taksi telah berada di depan mereka. dengan perasaan kesal Anisa masuk ke dalam taksi tanpa berpamitan kepada keduanya.
"astaghfirullah, kenapa sikapnya semakin menjadi" Fatahillah geleng kepala melihat sikap Anisa
"sekarang kita kemana lagi mas...?" tanya Zelina
"ke hotel" jawab Fatahillah tersenyum penuh arti
Zelina memukul dada Fatahillah dengan pelan, ia tau sekarang apa yang diinginkan oleh suaminya itu. pantas saja membawanya keluar pesantren, ternyata Fatahillah mempunyai maksud terselubung untuk berdua bersama istrinya tanpa ada gangguan sedikitpun.