
hari ini adalah hari dimana Anisa dan Zulaikha akan dilamar oleh laki-laki yang menjadi calon suami bagi keduanya. Zelina dan Najwa membantu keduanya memoles wajah menggunakan makeup tipis namun tetap cantik dan anggun.
"masya Allah, baru lamaran saja kalian sudah secantik ini bagaimana nanti kalau menikah. pasti luar bisa cantiknya" Zelina memuji Anisa dan Zulaikha
"itu karena kamu yang pintar dalam memakaikan makeup kepada kami" timpal Anisa dengan senyum
"aku jadi iri... pengen nikah juga" Najwa memperbaiki anak rambut Zulaikha
"nyusul saja Na, Akmal masih jomblo tuh" goda Zulaikha
"males...dia mah suka gitu sama semua cewek" Najwa memasang wajah jutek
"lah suka gitu gimana maksudnya...?" tanya Zulaikha yang penasaran
"suka sok dekat sama cewek cantik. tadi saja dia cari-cari perhatian sama sepupu kamu yang namanya Aminah itu, terus dia juga ngegombal sama Hana. malas banget aku" jawab Najwa
kedua adik almarhum pak Imam memang datang pagi-pagi sekali hanya untuk melihat acara lamaran Zulaikha. bagaimanapun juga setelah pak Imam tiada maka wali Zulaikha jatuh kepada pak Ilham.
"Akmal memang sudah seperti Na, mudah bergaul dengan siapa saja tapi sebenarnya dia tidak bermaksud untuk menggoda hanya saja caranya untuk dekat dengan orang lain ya seperti itu. kalau memang yang baperan jelas bakalan jatuh hati langsung padanya. tapi dia orangnya baik kok" Zelina mengatakan apa yang ia ketahui tentang Akmal
"aku nggak bisa punya pasangan laki-laki seperti itu mbak, soalnya aku pencemburu" tutur Najwa
"cemburu itu wajar asal yang masuk akal" Zelina tersenyum
di dapur, ibu Intan dan ibu Fatimah sedang mempersiapkan makanan yang nanti mereka akan hidangkan sementara ketiga sepupu Zulaikha ada yang mendekor ruang tengah menjadi semakin cantik dan ada juga yang menyiapkan kue di piring untuk cemilan.
Fatahillah bersama pak Ilham sedang bercakap-cakap di ruang tamu, menunggu kedatangan dua keluarga yang akan datang. pukul 08.00, dua mobil berhenti di depan halaman rumah ibu Fatimah. segera Fatahillah dan pak Ilham keluar dan menunggu mereka di teras rumah.
Yusuf dan Fauzan sudah sama-sama tampan menggunakan kemeja dan juga celana katun. sementara orang tua mereka tentunya lebih rapi lagi.
"assalamualaikum" ucap Yusuf
"wa alaikumsalam" Fatahillah dan pak Ilham menjawab
keduanya menyambut keluarga itu dengan ramah dan sopan. Yusuf datang bersama dengan kedua orang tuanya dan juga adik perempuannya sementara Fauzan juga bersama orang tuanya dan kakak perempuannya. mereka dipersilahkan masuk dan mengambil tempat di ruang tengah yang sudah dihiasi dengan bunga-bunga dan hiasan lainnya.
Anjani pergi ke dapur untuk memberitahu ibunya dan juga yang lain kalau keluarga laki-laki telah datang.
"ayo kita ke depan" ucap ibu Khadijah
makanan telah siap, tinggal nanti disajikan sementara kini kue-kue mulai dikeluarkan dan disajikan di depan masing-masing setiap orang yang berada di tempat itu.
"mas Akmal kapan nikahnya...?" bisik Arjuna di telinga Akmal
"masih menunggu bidadari tak bersayap bersedia untuk aku lamar" Akmal membalas sambil berbisik pula
"siapa bidadarinya...? mbak Najwa ya...?"
"sok tau kamu" Akmal menyoyor kepala Arjuna
"lalu siapa dong...? atau mbak Maryam ya...?" Arjuna kembali menebak
"nanti juga kamu tau" Akmal menjawab pelan
melihat ibu Fatimah datang bersama dua ibu lainnya, dua keluarga itu tersenyum ramah dan menyapa.
"masya Allah, kami tidak menyangka akan disambut dengan hangat seperti ini" ucap ibu Fauzan
"niat baik memang harus disambut dengan baik bu" jawab ibu Khadijah
acara pun dimulai. ayah Fauzan dan ayah dari Yusuf mengutarakan niat mereka berkunjung ke rumah itu, yaitu untuk meminang dua anak gadis yang akan dijadikan istri oleh anak-anak mereka dan akan menjadi menantu bagi mereka.
"kami sangat senang mendengar niat baik itu, namun semua keputusan ada di tangan anak-anak kami. meskipun mereka sudah berkomitmen untuk saling hidup bersama namun kami akan meminta jawaban kepada keduanya untuk memperjelas" ucap pak Ilham
"nak...panggilkan Anisa dan Zulaikha" perintah pak Ilham kepada putrinya Aminah
Aminah langsung berdiri dan menuju ke kamar yang ditempati calon dua pengantin.
"mbak Zulaikha sama mbak Anisa dipanggil untuk ke depan" ucap Aminah setelah membuka pintu dan masuk ke dalam
"ayo" ajak Zelina
"aku kok gugup ya mbak" Zulaikha meremas jemarinya
"santai saja Icha, ini baru acara lamaran loh belum acara perang" ucap Najwa terkekeh
"memangnya mau melawan penjajah sampai harus perang segala" celetuk Anisa
"ya kan perang di ranjang malam pertama" goda Najwa dan langsung mendapatkan tabokan dari Zulaikha
"hehehe" Najwa cengengesan sedang yang lain geleng kepala
Aminah kembali ke ruang tengah, tidak lama muncullah Anisa dan Zulaikha yang dituntun oleh Zelina dan Najwa. Fatahillah tersenyum, bukan kepada wanita lain namun kepada istrinya yang begitu ia cintai. dalam hati ia bersyukur, meskipun pernikahan mereka secara mendadak dan belum ada kata cinta namun sekarang rasa cinta itu semakin merekah di rumah tangga mereka.
Fauzan terpesona dengan kecantikan gadis remaja yang akan ia nikahi nanti. bagaimana tidak, Zulaikha adalah bunga yang masih mekar dan begitu diinginkan oleh banyak kaum Adam namun gadis itu malah memilih laki-laki yang usianya jauh di atasnya.
sementara Yusuf, tidak pernah dirinya sangka kalau Anisa nantinya akan hidup bersamanya, membina rumah tangga yang dimana dirinyalah yang akan menjadi nahkoda dari rumah tangga itu.
"Zulaikha dan Anisa. kedatangan keluarga Fauzan dan Yusuf ke sini adalah untuk melamar kalian berdua menjadikan kalian istri mereka yang insya Allah dunia akhirat. sekarang keduanya menunggu jawaban kalian berdua. bersediakah kalian menerima lamaran mereka atau tidak...?" suara pak Ilham membuat keduanya mengangkat kepala dan masing-masing menatap pasangan.
"saya bersedia paman" jawab Anisa dengan yakin
"lalu bagaimana denganmu Zulaikha...?"
"saya juga bersedia paman" jawab Zulaikha
"Alhamdulillah"
semuanya mengucapkan syukur. ibu Fauzan dan ibu Yusuf mendekati kedua gadis itu dengan sebuah kotak merah yang mereka pegang. saat di buka, satu gelang cantik dan kalung yang indah terdapat di dalam kotak.
ibu Yusuf memasangkan gelang itu dipergelangan tangan Anisa sementara ibu Fauzan memasangkan kalung di leher Zulaikha.
"karena kalian akan segera menikah dan pastinya akan tukar cincin maka dari itu mama memilih gelang sebagai tanda kalau kamu sekarang telah terikat dengan Yusuf" ucap ibu Yusuf dengan senyuman hangat
"terimakasih ma" Anisa tidak kuasa menahan air matanya
ibu Yusuf mencium kening Anisa kemudian memeluknya. setelahnya ia melepaskan pelukan dan menghapus air mata Anisa karena akan merusak make-upnya
"ibu sebenarnya ingin membeli cincin, tapi karena ibu tidak tau ukuran jarimu maka dari itu ibu membawa kalung saja. bagaimana, apakah kamu suka...?" tanya ibu Fauzan
"suka tante, terimakasih banyak" Zulaikha memegang kalung yang sudah terpasang di lehernya
"jangan panggil tante tapi panggil ibu karena sekarang kamu sudah menjadi anak ibu dan ayah"
"baik bu" Zulaikha menjawab patuh
setelah lamaran diterima maka kini pihak keluarga membicarakan acara pernikahan. orang tua Yusuf dan Fauzan menyerahkan kepada keluarga ibu Fatimah kapan sekiranya acar pernikahan anak-anak mereka akan di laksanakan.
"bagaimana kalau minggu depan, lagi pula acaranya tidak usah besar, sederhana saja yang penting ada saksi dan juga keluarga" ucap ibu Fatimah
"bagaimana, apakah bapak dan ibu setuju pernikahan mereka di adakan minggu depan...?" tanya pak Ilham kepada dua keluarga itu
"tidak masalah, tapi apakah waktunya tidak mepet untuk mempersiapkan semuanya...?" tanya ayah Fauzan
"insya tidak pak, kami akan mengusahakan itu" jawab ibu Khadijah
"baiklah, berarti kita sepakat pernikahan mereka akan dilangsungkan minggu depan" ucap pak Ilham dan semua orang setuju
kesepakatan telah diambil dari masing-masing pihak keluarga. kini saatnya mereka menjamu dua keluarga itu dengan makanan yang telah tersedia. Hana dan Najwa mengatur makanan di atas meja makan. kursi yang kurang pun telah di perbanyak untuk semua orang. namun yang makan di meja makan hanyalah pihak keluarga mempelai laki-laki dan perempuan sementara yang lainnya menikmati makanan mereka di ruang tengah.
pukul 12.00, orang tua Yusuf dan Fauzan berpamitan untuk pulang. Zulaikha dan Anisa berpelukan dengan calon ibu mertua mereka.
"apakah mama dan papa akan kembali ke kota Y...?" tanya Anisa setelah melepaskan pelukannya
"kami akan tetap di sini sampai kalian menikah" jawab mama Yusuf
"kapan-kapan main ke rumah mas Yusuf ya mbak supaya aku ada teman" adik Yusuf mendekati Anisa dan memeluknya
"bukannya kamu sekolah, kamu tidak pulang juga...?" tanya Anisa dan melerai pelukan
"besok aku pulang mbak, nanti pernikahan mbak sama mas Yusuf baru aku datang lagi" jawabnya
"hati-hati di jalan bu, ayah" ucap Zulaikha
"pastinya kamu akan jadi menantu kesayangan ibu dek" kakak Fauzan menimpali ucapan ibunya
Zulaikha hanya tersenyum dan setelahnya berpelukan dengan kakak Fauzan. dua keluarga itu masuk ke dalam mobil dan melambaikan tangan kemudian meninggalkan rumah ibu Fatimah.
setelah melaksanakan sholat dzuhur, pak Ilham dan ibu Intan serta anak-anak mereka berpamitan untuk pulang. mereka akan kembali lagi jika sudah waktunya acara pernikahan. kini tinggallah keluarga saja di rumah itu.
"mas Fatah, bagaimana kalau sore nanti kita keluar jalan-jalan ke mall. kita kan baru satu kali setelah menikah jalan-jalan berdua mas" ucap Zelina yang kini sedang berada di dalam kamar bersama Fatahillah
"boleh juga. besok adalah pembukaan panti asuhan kan sayang, bagaimana kalau kita menginap di sana untuk memenuhi keinginan Afkar. dia pasti senang kamu menginap di sana" Fatahillah memeluk Zelina dari belakang
"ide bagus. kita ajak Najwa dan Arjuna karena mulai besok mereka sudah akan tinggal di sana. tapi... apakah tidak apa-apa kita tinggalkan ibu dan bibi Fatimah di rumah. mereka tidak ada yang menjaga"
"oh aku tau mas" ucap Zelina dengan begitu antusias
"ya ampun sayang, aku kaget loh" Fatahillah gemas dan mencium pipi istrinya
"kita ajak semua orang untuk menginap di sana bagaimana...? mungkin ibu dan bibi Fatimah bisa membantu memasak untuk acara pembukaan nanti. bisa catering sih sebenarnya tapi masakan ibu lebih enak"
"ide bagus, setelah kita dari jalan-jalan maka kita langsung ke sana" Fatahillah setuju
"kalau begitu ajak semua orang untuk jalan-jalan ya supaya lebih rame pulangnya tidak singgah lagi ke sini"
"baiklah istriku sayang, semua titahmu akan kanda turuti" Fatahillah mencubit lembut hidung Zelina
"terimakasih kanda, kamu memang yang terbaik" Zelina berbalik dan memeluk tubuh Fatahillah
"tapi nggak gratis loh"
"hah...?"
Zelina menarik diri dan menatap bingung suaminya.
"jadi aku harus bayar...?"
"tentu saja" Fatahillah tersenyum jahil
"berapa yang harus aku bayar...?"
Fatahillah mendekat dan berbisik di telinga Zelina.
"bayar dengan aksimu di ranjang nanti malam" bisik Fatahillah
plaaaak
"dasar mesum" Zelina gemas dan memukul lengan suaminya
"mesum dengan istri sendiri kan nggak apa-apa" Fatahillah menarik Zelina dan memeluknya
sore hari setelah sholat ashar, Fatahillah memberitahukan kepada semua orang untuk jalan-jalan ke mall dan juga akan menginap di rumah utama keluarga Zelina. awalnya ibu Khadijah menolak untuk keluar jalan-jalan namun karena menantunya maka wanita baya itu pun setuju.
Fatahillah membayar mobil rental karena tidak mungkin semuanya menaiki satu mobil saja.
ibu Fatimah dan ibu Khadijah serta Fatahillah dan Zelina satu mobil, sementara sisanya berada di mobil yang akan dikemudikan oleh Akmal.
kedua mobil itu melaju pelan menuju ke tempat pusat perbelanjaan di kota itu. mall yang mewah dengan sepuluh lantai kini telah berada di depan mata mereka.
"di dalam nanti pilih apa saja yang ibu suka ya" Zelina mengapit lengan ibu mertuanya
"pasti mahal di sini nak" ibu Khadijah masih memusatkan mata melihat dengan takjub mall tersebut
"jangan pikirkan mahalnya bu. ayo masuk" Fatahillah mendekat dan merangkul ibunya
"Fatah" panggil ibu Fatimah membuat langkah mereka terhenti
Akmal, bersama Arjuna dan Najwa sudah masuk lebih dulu sementara ibu Fatimah menahan Zulaikha karena enggan untuk masuk ke dalam.
"kenapa bi...?" Fatahillah mendekati ibu Fatimah dan Zulaikha
"apa tidak sebaiknya kita belanja di pasar saja yang lebih murah. di sini pasti mahal, bibi nggak sanggup bayar" ucap ibu Fatimah
mendengar kelesahan hati ibu Fatimah, Zelina tersenyum dan mengatakan sesuatu.
"jangan lihat harganya bi, tidak perlu risau dengan harga. cukup pilih yang bibi suka" ucap Zelina
"bibi dengar apa kata istriku kan, ayo masuk. Akmal, Arjuna dan Najwa sudah masuk lebih dulu" ucap Fatahillah
semuanya masuk ke dalam mall, hal pertama yang akan mereka cari adalah pakaian untuk ibu Fatimah dan ibu Khadijah, juga Zulaikha.
melihat harga yang ada ibu Khadijah meringis, bukan karena kesaktian namun karena merasa barang-barang di tempat itu bahkan empat kali lipatnya dibandingkan dengan yang ada di pasar tradisional. sayangnya Zelina tidak mempermasalahkan hal itu, jika mereka suka maka tentu saja dia akan bayar.
dari toko yang satu ke toko yang lain. mereka menjelajahi barang-barang mewah yang ada di tempat itu.
"bagusan yang kiri" ucap Akmal saat Najwa sedang mencoba sepatu cantik dikaki jenjangnya
"kalau menurut aku sih bagusan yang kanan" ucap Arjuna yang sedang menikmati eskrim yang dibelinya tadi
"kulitmu putih, kuning sangat cocok untukmu. lagipula bukannya sepatu warna hitam mu sudah ada" ucap Akmal
"jadi bagusan yang kuning nih...?" Najwa meminta pendapat lagi
"iya, cantik seperti dirimu yang akan memakainya" Akmal menjawab dengan senyuman
"nggak usah gombal, aku tidak suka" Najwa menjawab ketus dan berdiri untuk membayar sepatu itu
(loh kok dia marah, padahal dari kemarin-kemarin aku memang seperti ini dia biasa aja tuh) batin Akmal menggaruk kepala
"hhh...kasian dicuekin" ejek Arjuna
"kampret kau" Akmal mencebik hendak memukul kepala Arjuna namun remaja itu berlari dan berlindung di belakang Zelina yang sedang memilih sepatu untuk dirinya sendiri
selesai belanja pakaian dan lain sebagainya, kini mereka beralih belanja ke supermarket yang ada di mall besar itu. Arjuna mengambil banyak cemilan yang ia suka untuk nanti ia bagi-bagikan kepada adik-adiknya di panti. sayur, daging dan segala macam kebutuhan dapur telah masuk di keranjang hingga penuh dan harus mengambil keranjang yang lain.
"langsung pulang ya, sudah mau magrib" ucap Fatahillah saat memasukkan belanjaan mereka dibagasi mobil
"iya, langsung pulang saja" timpal ibu Fatimah
"tunggu bentar ya, aku mau ke toilet dulu. mbam Najwa ayo temanin aku" Zulaikha menarik tangan Najwa dan mereka menghilang dibalik dinding
"sayang sebaiknya kamu hubungi Afkar kalau kita akan ke rumah utama" ucap Fatahillah
"baik mas" jawab Zelina
karena Afkar tidak mengangkat telepon, Zelina akhirnya mengirimkan pesan kepada laki-laki itu.
sudah 30 menit mereka menunggu namun Najwa dan Zulaikha belum juga kembali, waktu magrib semakin menghampiri.
"kenapa mereka lama sekali" ucap ibu Khadijah
"coba hubungi adikmu Fatah, jangan-jangan mereka kesasar" ibu Fatimah mulai khawatir
Fatahillah menghubungi Zulaikha namun nomor gadis itu tidak aktif. berkali-kali ia menghubungi Zulaikha dan hasilnya tetap sama.
"aku susul saja kalau begitu mas" ucap Zelina
"aku temani"
baru hendak kembali masuk ke dalam, bunyi pesan masuk terdengar di ponsel Fatahillah. ia pun membuka pesan itu sambil berjalan disamping istrinya.
08xxxx : jika ingin kedua gadis ini selamat, maka datang ke danau yang ada di taman sebelah barat.
seketika langkah Fatahillah berhenti dan refleks ia menarik tangan Zelina. hampir saja Zelina terjungkal ke belakang, untungnya Fatahillah menahan tubuhnya.
"maaf sayang" wajah Fatahillah tegang dan rahangnya mengeras
"kenapa mas...?"
Fatahillah memperlihatkan pesan tadi, Zelina menutup mulut tidak percaya kalau Najwa dan Zulaikha diculik.
"aku harus pergi sayang" ucap Fatahillah
bagaimanapun juga dirinya yang mereka incar, maka dari itu ia harus pergi ke tempat yang telah penculik tentukan untuk bertemu dengan Najwa dan Zulaikha.