
setengah jam perjalanan, dua mobil memasuki halaman rumah pak Danang. tepat jam 08.00 pagi, mereka tiba di rumah itu. namun saat turun, ada satu mobil yang terparkir di halaman rumah, entah mobil siapa mereka tidak tau.
"mobil siapa...?" tanya Hasan
"entah" Fatahillah mengedikkan bahu "ayo masuk" lanjutnya
langkah kaki mereka beriringan mendekati pintu masuk dan mengucapkan salam. di ruang tamu rupanya pak Danang kedatangan tamu yang tentu saja mereka tidak tau. seorang pemuda, satu laki-laki baya dan wanita baya. mereka memutar wajah melihat ke arah pintu masuk.
"sudah pulang...?" pak Danang tersenyum ramah
"iya pak, kami sebenarnya ke sini mau pamit pulang" Fatahillah menjawab
"duduklah dulu, kebetulan saya kedatangan tamu. biar kalian temani kami dulu di sini" pak Danang mengajak mereka duduk
tidak enak hati langsung pamit begitu saja, akhirnya mereka ikut bergabung di ruang tamu yang luas itu. ada pak Danang bersama istrinya ibu Nining, juga Guntur dan ibu Halima. Akmal kini tau kalau sepertinya pemuda yang datang bertamu itu adalah dia yang akan dijodohkan dengan Nagita.
(mundur sajalah Mal, kamu tidak ada apa-apanya dibandingkan dia) batin Akmal, dirinya memperhatikan laki-laki itu yang ternyata mempunyai wajah yang tampan dan senyuman yang berkharisma
"tunggu, kalian kembar...?" ibu Halima menunjuk Fatahillah dan Gara yang saat itu duduk saling bersampingan
"masya Allah iya, kalian kembar ya...?" ibu Nining pun dibuat kaget
selain tiga tamu mereka, yang berada di tempat itu begitu terkejut Fatahillah datang bersama seseorang yang begitu mirip dengannya.
"iya, dia saudara kembar saya namanya Farhan. kebetulan kami bertemu di sini karena dia berada di kota ini" ucap Fatahillah, dirinya tidak mengatakan yang sebenarnya. cukup mereka tau kalau dia mempunyai saudara kembar tanpa harus tau cerita sebenarnya
"kenapa tidak bilang dari kemarin...?" ucap Guntur
"maaf mas, saya juga tidak menyangka akan bertemu dia di sini" Fatahillah tersenyum, Gara pun ikut tersenyum ramah
"baiklah, sekarang perkenalkan, mereka pak Zainuddin dan ibu Jenar serta putra mereka yang bernama Fahmi" pak Danang memulai percakapan
mereka semua tersenyum dan mengangguk sopan kepada tiga tamu pak Danang itu. tidak lama Nagita datang bersama Haninayah. dokter yang telah mencuri sebagian hati Akmal itu, kini duduk di samping ibunya. kedua matanya mengarah kepada Akmal dimana pemuda itu hanya menunduk lesu dan membuang nafas beberapa kali.
"jadi anak bapak yang mana...?" tanya pak Zainuddin sebab kini dua wanita muda berada di tempat itu. Haninayah duduk di samping ibu Halima
"dia yang duduk disamping istri saya pak Zai, Nagita Selvia. dulu sepertinya Fahmi dan Nagita pernah satu sekolah kalau saya tidak salah, waktu masih SMP. bukan begitu Fahmi" pak Danang melempar senyum ke arah Fahmi
"betul paman, kami waktu itu satu kelas" Fahmi menjawab dengan ramah
"Nagita mau dilamar ya pak...?" Aji Wiguna yang sebenarnya sejak tadi penasaran pada akhirnya kini mengeluarkan pertanyaan untuk menjawab rasa penasarannya
"masih tahap perkenalan, siapa tau bisa ke tahap lebih serius lagi" ibu Nining menyahut
ruangan begitu luas bahkan hawa dingin AC menerpa kulit mereka namun bagi Akmal dirinya ditempat itu seperti berada dalam sebuah ruangan yang sempit panas dan sesak. sungguh ia tidak tahan untuk terlalu berlama-lama di tempat itu.
"mohon maaf paman, bukannya kami tidak ingin menyaksikan hari bahagia mbak Nagita, tapi sepertinya kami harus pamit untuk pulang sebab kami mempunyai urusan yang begitu mendadak di kota B dan kami harus segera ke sana" ucap Akmal
"benarkah begitu...?" pak Danang menatap Fatahillah
"benar pak, kami sebenarnya sedang terburu-buru" ucap Fatahillah
Nagita melihat ke arah Fatahillah, dirinya terkejut melihat pemuda itu bersama seseorang yang begitu mirip dengannya. haninayah pun ikut terkejut, namun setelah dijelaskan keduanya mengangguk paham.
"kalau begitu, bolehkah aku dan ibuku ikut bersama kalian saja kembali ke kota B. dengan begitu mas Guntur tidak lagi perlu repot-repot mengantar kami" Haninayah membuka suara
"tentu saja, mbak Hani bisa ikut bersama kami. di sana pak Umar sudah menunggu kalian" Akmal menjawab cepat dan tersenyum
Nagita ingin sekali berbicara dengan Akmal namun pemuda itu tidak pernah sedikitpun melihat ke arahnya. Nagita menggigit bibir, dirinya sebenarnya sudah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan dari Akmal semalam. tapi jawaban itu harus dirinya pendam karena tidak ingin menentang keinginan orang tuanya.
"sayang sekali, kalian harus pulang cepat. kalau begitu hati-hati dijalan ya, kapan-kapan datanglah lagi ke sini" ibu Nining tersenyum arif
mereka kemudian berpamitan untuk pulang, Haninayah memanggil ibunya di dapur. setelah bersiap, mereka melangkah meninggalkan rumah itu dan masuk ke dalam mobil. Akmal melihat ke arah pintu masuk, sesak di dalam dada semakin menjadi. padahal ingin sekali dirinya mengatakan kalau dia menyukai Nagita di depan kedua orang tua wanita itu, sayangnya lagi-lagi dirinya harus menelan pil pahit seperti sebelumnya.
Akmal pun mengirimkan pesan untuk Nagita, sebagai permintaan maaf dan tanda perpisahan mereka.
Akmal : semoga bahagia ya mbak, dan lupakan tentang apa yang aku katakan semalam. anggap saja malam itu aku dalam keadaan tidak sadar dan membuat mbak Gita tidak nyaman. tidak usah memberikan jawaban karena aku pun tau apa yang akan mbak Gita berikan jawabannya. aku minta maaf dan semoga kita bertemu lagi dalam kisah kita masing-masing nantinya.
perlahan mobil yang dikemudikan Alex dan Hasan keluar dari halaman rumah dan meninggalkan rumah ilmu beladiri itu. di dalam mobil Akmal terus diam enggan untuk mengeluarkan suara.
tiba di rest area mereka berhenti untuk sholat dzuhur terlebih dahulu, terlebih lagi Gara yang merasakan lapar sebab pagi tadi sarapan mereka harus terganggu karena kedatangan orang-orang yang ingin menghabisi Gara.
kini setelah sholat, mereka berada di dalam warung makan. dengan lahap mereka menyantap makanan itu. Akmal pun mulai menikmati makanannya, tidak lagi seperti tadi pagi. Haninayah dan ibunya memilih duduk di tempat yang berbeda sebab Haninayah lebih nyaman makan berdua bersama ibunya.
perut telah terisi, kewajiban telah dilaksanakan, kini saatnya mereka melanjutkan perjalanan. Haninayah dan ibu Kamila berada di mobil Aji Wiguna, keduanya duduk di kabin tengah.
"mas Gara, boleh ceritakan bagaimana kehidupan masyarakat di gunung Gantara...?" ucap Akmal, kaca mobil ia turunkan agar angin dapat menerpa wajahnya
"ya sama saja seperti masyarakat yang ada di berbagai kota" Gara menjawab
"banyak cewek cantik nggak mas...?"
"kamu ini loh Mal, cewek mulu yang ada di otak kamu. mau nikah muda kamu ya...?" Fatahillah melihat Akmal di spion gantung
"yaaa...kalau Tuhan telah menakdirkan aku untuk nikah muda kenapa nggak, lagi pula menikah kan bukan salah satu perbuatan kriminal"
"tapi ngomongin nikah muda, kamu sudah punya calon belum...?" tanya Hasan
"hampir ada" Akmal menjawab dengan helaan nafas
"Maryam maksud kamu...?" tanya Hasan lagi
"yang jelasnya dia adalah wanita bukan makhluk gaib" timpal Akmal, dirinya menjawab seenaknya
"makhluk gaib juga masih mikir kali Mal mau menikah dengan kamu" celetuk Fatahillah
"lah memangnya apa yang salah denganku, aku ganteng kok. benar kan mas Gara, wajah kita sebelas duabelas lah mas" Akmal mendekatkan wajahnya ke arah wajah Gara
"bagai langit dan bumi ege" ejek Hasan sedang Gara terkekeh geli
"huufffttt" Akmal menarik diri dan melihat ke arah luar jendela mobil
"bagaikan langit dan bumi
engkau dan aku selamanya takkan pernah bisa kan bersama,
sadar ku siapa yang tak pantas untuk bersanding denganmu" Akmal kini menyanyikan lirik lagu yang menggambarkan keadaannya saat ini
"kamu sepertinya lagi galau ya Mal...?" tanya Gara
"emang wajah aku memperlihatkan kegalauan ya mas...?" Akmal bertanya balik
"ya nggak tau, makanya aku nanya"
"kamu nanya...?"
puuuk
Gara yang gemas menggeplak kepala Akmal, pemuda itu meringis sakit dengan bibir yang cemberut maju beberapa centi.
"mas Gara ini loh, main geplak saja" Akmal memberenggut
"siapa suruh jawabnya ngasal" ucap Gara
Fatahillah dan Hasan tidak dapat menahan tawa di kabin depan, Akmal semakin kesal dan terus mengoceh panjang kali lebar, sementara Gara menutup telinga karena Akmal kini bukan lagi mengoceh melainkan mengeluarkan suara vokal yang sengaja dibuat-buat seperti radio rusak.
perjalanan mereka sudah memakan waktu tiga jam lebih, dan saat itu juga mobil yang dikendarai oleh Aji Wiguna dan Alex serta ibu Kamila dan Haninayah oleng begitu saja karena tembakan yang tepat mengenai ban mobil. tiga mobil yang ternyata mengikuti mereka sejak tadi.
"AWAS MAS" pekik Haninayah
Aji Wiguna yang saat itu sedang menyetir menggantikan Alex, dia memutar setir mobil ke kanan sebab ke arah kiri hampir saja mereka akan terjun ke jurang. mobil itu berputar seperti gasing, kepala mereka semua terbentur di kaca mobil. Aji Wiguna menginjak rem hingga mobil itu berhenti seketika.
"berhenti Fatah berhenti" ucap Hasan
Fatahillah menghentikan mobil dan menepi di pinggir jalan. sementara di mobil Aji Wiguna, mereka keluar dari mobil, sayangnya saat itu beberapa orang datang dan menarik paksa Haninayah untuk menjauh dari mobil.
"Hani" ibu Kamila hendak menahan, namun tangan wanita itu di tepis oleh salah seorang dari mereka
"lepaskan dia brengsek" teriak Alex
"maju selangkah, maka kepala wanita ini akan meledak" senjata api kini telah berada tepat di kepala Haninayah
"ya Allah Hani, lepaskan anak saya. tolong jangan sakiti dia" ibu Kamila histeris melihat anaknya
Fatahillah bersama yang lain berlari menghampiri mereka. Haninayah di seret paksa menjauh dari mereka. seorang laki-laki datang menghampiri Haninayah dan dengan kasar menarik hijab Haninayah.
"pak Faisal" Haninayah menahan hijabnya sekuat mungkin "lepaskan pak"
"woi banci, harusnya kalau memang gentle, jangan mainnya sama perempuan tapi lawan kami" Fatahillah tersulut emosi melihat tindakan Faisal kepada Haninayah. dia tau betul bagaimana wanita seperti Haninayah menjaga kodratnya sebagai seorang perempuan, karena wanita itu sama seperti istrinya
"kalian semua memang akan aku bereskan. tapi setelah aku mendapatkan mustika putih. jadi, siapa diantara kalian yang memiliki benda itu karena aku tau wanita ****** ini tidak lagi memilikinya" Faisal menatap semua laki-laki yang ada di depannya
"kamu mau mustika putih...?" Gara maju selangkah ke depan
"oh, jadi kamu orangnya. bagus, serahkan mustika itu dan wanita ini akan aku bebaskan" Faisal tersenyum tipis
"boleh saja"
"Gara" Fatahillah memegangsiapa bahu saudaranya itu
"tenanglah" Gara tersenyum dan meyakinkan Fatahillah bahwa dia akan baik-baik saja. padahal dirinya tidak memiliki mustika putih namun Gara bersikap seakan dia memilikinya
"akan aku berikan, tapi yang pertama suruh semua anak buahmu untuk meletakkan pistol mereka"
"kamu pikir aku bodoh"
"kalau memang kamu mengiyakan dirimu bodoh, ya terserah kamu" Gara mengedikkan bahu
"jangan bermain-main denganku atau wanita ini aku tembak kepalanya"
"lalu apa kamu pikir setelah membunuh wanita itu, kamu akan mendapatkan apa yang kamu mau. ckckck, di luar penampilan mu yang sempurna itu ternyata otak kamu memang bodoh" Gara mengejek
"brengsek, kalian ingin melihat wanita ini menjadi mayat rupanya" Faisal mengunci leher Haninayah dan tetap menempelkan sebuah pistol di kepala wanita itu
"Hani" ibu Kamila semakin histeris "tolong anak saya nak Fatah, tolong" dengan memohon ibu Kamila bersimpuh di bawah kaki Fatahillah
"jangan seperti ini bu, bangunlah" Fatahillah membangunkan ibu Kamila
"kamu mau membunuh wanita itu...? maka bunuh saja" ucap Gara
"mas Gara"
"apa-apaan kamu" Hasan tersulut emosi
"Gara, apa kamu gila" Fatahillah membentak
Haninayah semakin menangis, tidak ada yang menolong dirinya padahal saat ini dia begitu ketakutan dan kesakitan.
"bu"
"bunuh aku saja tapi tolong lepaskan anak saya, lepaskan anak saya" ibu Kamila ingin mendekat, namun Gara menahan
"nak tolong anak saya"
Gara mengkode Akmal untuk menghampiri ibu Kamila, mengerti dengan kode mata yang diberikan oleh Gara, Akmal mendekat dan menarik pelan lengan ibu Kamila. Akmal mencoba menenangkan sementara kini Gara berbisik di telinga Fatahillah.
"kamu yakin...?"
"harus yakin mas, kalau mau wanita itu selamat" bisik Gara
Fatahillah melihat Haninayah, memberikan isyarat mata agar Haninayah mengikuti apa yang ia arahkan. sementara Faisal, laki-laki itu menyuruh semua anak buahnya untuk mengepung mereka. dengan masing-masing pistol di tangan mereka, berjumlah lebih dua puluh orang, mereka mengunci Fatahillah dan yang lainnya di tengah-tengah.
"serahkan mustika putih kalau tidak aku akan benar-benar akan membuat wanita ini meregang nyawa" Faisal mencengkram wajah Haninayah dengan keras
"bu, masuklah ke dalam mobil dan jangan keluar apapun yang terjadi nanti" Akmal membawa ibu Kamila ke dalam mobil
"lalu bagaimana dengan Hani...?" ibu Kamila enggan untuk masuk, ia menahan tubuhnya saat Akmal hendak mendorong tubuhnya
"percaya pada kami ya bu, mbak Hani akan baik-baik saja. sekalian ibu masuklah"
ibu Kamila dengan terpaksa masuk ke dalam mobil sementara Akmal kembali bergabung bersama yang lain.
"Hani, tetap rileks dan jangan tegang. kamu mengerti maksudku tadi kan...?" ucap Fatahillah Haninayah menjawab hanya mengedipkan mata.
"satu...."
"apa yang kalian rencanakan, jangan macam-macam ya" Faisal mulai gelisah saat Fatahillah mulai menghitung, entah apa maksudnya
"dua"
"bersiap" ucap Gara
"tiga, sekarang Han"
bughhh
tepat setelah hitungan ketiga, Haninayah menginjak kaki Faisal kemudian membenturkan kepalanya di hidung laki-laki itu hingga cengkraman tangan Faisal di leher Haninayah terlepas.
"aaaggghh... BRENGSEK, BUNUH MEREKA SEMUA" Faisal kesakitan memegang hidungnya yang berdarah
Gara berlari ke arah Haninayah dan menarik wanita itu ke dalam pelukannya. untuk saat ini tidak ada jalan lain selain melakukan sentuhan fisik karena hanya dengan seperti itu, Haninayah bisa di lindungi. anak buah Faisal melesatkan tembakan bertubi-tubi, Fatahillah memasang tabir pelindung sehingga peluru yang banyak itu tidak menyentuh mereka dan hanya jatuh tepat di kaki mereka.
"TEMBAK MEREKA SAMPAI MATI"
dor...
dor...
"LANGON"
GRAAARR
harimau putih datang melompati salah seorang anak buah Faisal. laki-laki itu mati mengenaskan di cabik-cabik oleh Langon. Gara pun memanggil Gangan. semua anak buah Faisal kalang kabut melihat dua harimau yang bertubuh besar menyerang teman-teman mereka.
"kabur...kabur, ada harimau"
"kalian mau kemana, tembak mereka bodoh"
"aaaggghh... tolong... tolong"
satu persatu anak buah Faisal habis diterkam dua harimau itu. yang tersisa hanya enam orang, mereka bersembunyi dibelakang tubuh Faisal.
"dasar goblok, ngapain kalian lari bodoh"
"lihatlah bos, dua harimau itu membunuh teman-teman kami. sebaiknya kita pergi saja bos, kami masih ingin hidup bos"
Haninayah telah dibawa masuk ke dalam mobil bersama ibu Kamila, kini tinggal beberapa orang saja yang akan mereka bereskan.
"Gangan, kamu lapar tidak. lihatlah di depanmu, ada makanan enak untukmu. daging mereka pun Sepertinya empuk" Gara sengaja menakuti mereka
"bos, aku belum mau mati bos" rengek mereka
"cih, tadi sok-sokan menjadi jagoan sekarang malah jadi banci kaleng" cibir Akmal
Faisal yang geram karena dipermainkan, dia menarik pelatuk pistolnya dan menembak harimau-harimau itu. sayangnya, tembakannya meleset dan bahkan pelurunya pun telah habis.
"sial" Faisal membuang pistolnya "serang mereka, pakai senjata tajam yang kalian bawa"
"tapi bos"
"serang atau ku bunuh kamu di sini" bentak Faisal
"hei, kalau kalian mau aman sebaiknya pergi saja dari sini. kalau tidak ya sudah pasti kalian akan menjadi santapan dua harimau itu" ucap Aji Wiguna
GRAAARR
GRAAARR
mendengar suara aungan dua harimau itu, dengan terbirit-birit mereka kabur tanpa peduli lagi dengan bos mereka. Faisal kini seorang diri. dia pun mulai ciut saat dia harimau itu mulai mendekatinya.
"masih mau bertahan ya...? sepertinya memang berniat mau menjadi santapan mereka ya" Alex melirik dua harimau itu
"woooi, tungguin bodoh" tanpa pamit Faisal ikut berlari kabur, dua harimau itu bahkan mengejarnya dan semakin membuatnya kalang kabut
tanpa perlu repot-repot mengeluarkan tenaga untuk melawan, hanya mengandalkan dua harimau itu. Faisal dan anak buahnya bahkan kabur dari Medan pertempuran. mereka selamat dari musuh berkat dua harimau itu, meskipun sebenarnya mereka dapat menangani Faisal dan anak buahnya yang berjumlah puluhan orang.
"kamu hebat Langon" Fatahillah mengusap kepala harimau putih
Gara memeluk Gangan, harimau dan sang tuan mereka seperti layaknya saudara. kini mereka mulai berpikir untuk mengurus mobil Aji Wiguna yang hampir membuat mereka celaka. bagaimanapun caranya, hari itu mereka harus sampai di kota B.