Fatahillah

Fatahillah
Bab 52



semua mayat-mayat itu telah di bereskan, pintu rumah masih terus di gedor oleh ibu Khadijah. Fatahillah berlari ke arah pintu untuk membuka daun pintu yang kini menjadi jarak antara dirinya dan ibunya.


"Yus, mana kuncinya" teriak Fatahillah


Yusuf melangkah cepat dan mendekati sahabatnya itu kemudian memberikan anak kunci yang ia pegang. dengan cepat Fatahillah mengambilnya dan memasukkan ke lubang kunci.


klak


Fatahillah membuka lebar daun pintu itu. terlihatlah wanita baya yang sejak tadi terus memaksa untuk membuka pintu tersebut. bahkan bukan hanya ibu Khadijah, semua orang ternyata telah bangun dan berdiri di belakangnya. Hasan serta Fauzan ikut menyusul Fatahillah yang kini sedang berdiri di ambang pintu.


"Fatah" ibu Khadijah termangu melihat anaknya


"bu, Fatah pulang"


Fatahillah segera memeluk ibunya, seketika tangis ibu Khadijah pecah. ia memeluk anak satu-satunya itu dengan erat. tidak menyangka jika Fatahillah akan tiba selarut itu.


setelah melerai pelukan, Fatahillah menatap semua orang. ia menatap satu persatu semua keluarga pak Imam hingga matanya berhenti pada seorang wanita baya yang kini sedang menatapnya sendu. seorang gadis sedang merangkul bahu wanita itu.


"bibi" bahkan ia seakan tidak sanggup memanggil ibu Fatimah


dadanya begitu sesak melihat penampilan wanita yang ia panggil dengan sebutan bibi itu. mata yang sembab dengan begitu penuh kelelahan. wajah yang terlihat pucat dan sama sekali tidak mempunyai semangat hidup. air mata Fatahillah tumpah luruh membasahi wajahnya. ia mengambil langkah lebar dan setelahnya mendekap ibu Fatimah dan Zulaikha. tidak ada yang tidak meneteskan air mata, larut malam itu mereka semua kembali menangis.


"hiks...hiks...ayah sudah nggak ada mas, ayah sudah pergi" Zulaikha terguguk di pelukan Fatahillah


ibu Fatimah menangis pilu di pelukan Fatahillah. kedua wanita beda usia itu menumpahkan semua kesedihan di pelukan pemuda yang selama ini selalu ada untuk mereka. hingga akhirnya rupanya ibu Fatimah kembali pingsan karena tubuhnya melorot ke bawah.


"bi...bibi" Fatahillah panik dan menahan tubuh ibu Fatimah agar tidak jatuh ke lantai


"ibu, ya Allah" Zulaikha ikut panik dan ikut membantu tubuh ibunya


"bawa masuk ke dalam saja" ibu Intan, adik bungsu dari almarhum pak Imam bersuara


"iya bawa masuk saja, dia harusnya istrahat di kamar" ucap pak Nawir adik kedua almarhum pak Imam


Fatahillah mengangkat tubuh ibu Fatimah dan menggendongnya. kemudian ia meninggalkan semua orang untuk menuju ke kamar ibu Fatimah.


"Hasan, Fauzan, ayo masuk" ibu Khadijah memanggil mereka dengan lembut


keduanya mengangguk. Yusuf menutup pintu kemudian mereka mengikuti langkah semua orang yang mengarah ke ruang tengah. setelah membaringkan ibu Fatimah di kamar, Fatahillah kembali dan bergabung bersama mereka.


Fatahillah duduk di tengah-tengah ibunya dan Zulaikha. ia kemudian merengkuh kedua wanita itu di dadanya. Zulaikha kembali menangis saat melihat mayat ayahnya. laki-laki yang memiliki wajah teduh dan hati yang lembut itu kini telah pergi terlebih dahulu menghadap Tuhannya.


Yusuf yang melihat Zulaikha, ia kembali teringat dengan amanah yang diterimanya dari almarhum pak Imam.


*flashback


setelah berjuang keras untuk menyelamatkan pak Imam, kini nyawa laki-laki itu dalam keadaan koma di ruang ICU. sementara semua orang menunggu di luar ruangan dengan harap-harap cemas, berdoa memohon kepada Tuhan agar menyelamatkan nyawa seorang manusia yang sedang melawan maut di dalam ruangan itu.


Yusuf jatuh ke lantai setelah tadi berusaha menyelamatkan pak Imam.


"dokter... dokter tidak apa-apa...? salah seorang perawat bertanya, ia khawatir karena Yusuf tiba-tiba saja luruh ke lantai


"saya baik-baik saja sus" Yusuf menjawab dengan menahan suara tangisnya, karena saat ini ia sedang berusaha meredam emosinya, meredam kesedihannya


setelah perasaannya dapat ia kontrol, Yusuf bangkit dan menarik nafas sebelum akhirnya kembali berbalik menghadap ke arah pak Imam yang kini sedang terbaring lemah. ia memeriksa keadaan pak Imam setelahnya mereka semua keluar dari ruangan itu.


tepat setelah pintu ruangan ICU terbuka dan menampakkan Yusuf yang keluar bersama dua orang perawat, semua orang langsung menghampiri dokter muda tersebut.


"Yusuf, bagaimana... bagaimana keadaan suamiku...? dengan wajah yang tegang dan mata yang sembab, ibu Fatimah mengeluarkan pertanyaan


"paman Imam koma" Yusuf menjawab dengan lirih, ia sebenarnya tidak sanggup melihat wajah ibu Fatimah


"Allah... Allah, selamatkan suami ku" ibu Fatimah menangis, ibu Khadijah mendekat dan memeluk adiknya itu


ibu Khadijah membawa ibu Fatimah kembali duduk di kursi. Fauzan yang kini sedang memeluk Zulaikha, hanya dapat mengelus punggung gadis itu.


Yusuf berpikir pak Imam akan mampu bertahan sampai ia bangun namun ternyata dirinya memang sadar namun dalam keadaan akan menghadapi sakaratul maut. pak Imam meminta Yusuf untuk memanggil ibu Fatimah, dengan cepat Yusuf keluar dan memanggil wanita itu. setelah memakai pakaian khusus, ibu Fatimah masuk ke dalam ruang ICU di temani oleh Yusuf.


"ayah" ibu Fatimah tidak sanggup melihat keadaan suaminya sekarang


pak Imam tersenyum menyambut kedatangan istrinya. ia mencoba untuk mengangkat tangannya, melihat itu ibu Fatimah segera menyambut tangan hangat itu dan meletakkan di pipinya.


"maaf bu, aku...aku tidak bisa lagi bersama kalian" ucapnya dengan lirih


"ayah pasti kuat, ayah sanggup. jangan bicara seperti itu yah, ibu tidak mau ayah meninggalkan kami"


pak Imam mengusap air mata istrinya dan memerintah agar istrinya itu mendekatkan wajahnya. ibu Fatimah patuh dan mendekatkan wajahnya ke wajah suaminya. pak Imam mengecup lembut kening istrinya, rupanya itu tujuannya menyuruh istrinya mendekatkan wajahnya.


"ayah lebih dulu pergi, tapi setelah itu ada waktunya ibu akan menyusul ayah. jika hari itu tiba, ayah akan datang menjemput ibu" dengan senyuman lembut pak Imam memandangi wajah ibu Fatimah


ibu Fatimah tidak sanggup berkata-kata dan hanya mampu menangis di dada suaminya.


"Yusuf, kemarilah"


Yusuf mendekat dan berdiri di samping kiri pak Imam.


"aku ingin meminta satu permintaan padamu. ini adalah amanah yang ingin aku berikan untukmu" ucap pak Imam


ibu Fatimah mendongakkan kepalanya dan menarik diri agar wajahnya menjauh dada suaminya. sementara Yusuf, menatap dalam mata pak Imam.


"aku harap kamu tidak akan menolak"


"apa yang ingin Paman amanahkan padaku...?" tanya Yusuf


"menikahlah dengan Zulaikha, saat ini tanggung jawabku aku limpahkan padamu"


deg


jantung Yusuf berdetak kencang ketika mendengar pelimpahan tanggung jawab itu. bahkan lidahnya kelu untuk mengeluarkan satu katapun.


"menikahlah dengan Zulaikha, itu yang aku inginkan. tolong penuhi keinginan terakhir ku"


"ayah" ibu Fatimah menggeleng lemah


sayangnya belum Yusuf menjawab keinginan itu, pak Imam mulai kritis kembali. nafasnya naik turun seperti seseorang yang kekurangan oksigen. Yusuf segera menyuruh ibu Fatimah untuk keluar dan ia segera menangani pak Imam.


tau bahwa laki-laki itu sebenarnya tidak akan bisa bertahan, membuat Yusuf meneteskan air mata dan mendekatkan wajahnya ke telinga pak Imam. ia menuntun pak Imam membaca syahadat, dengan terbata pak Imam mengikuti apa yang diucapkan oleh Yusuf. hingga setelah kalimat terakhir, nafas pak Imam putus seketika.


"innalilahi wainnailaihi Raji'un" Yusuf terguguk di dalam ruangan itu, ia memeluk pak Imam yang kini tidak bernyawa lagi


flashback end*


"kamu sudah mempunyai jawaban...?" Fauzan membuyarkan lamunan Yusuf yang sejak tadi melihat Zulaikha


"aku masih meminta petunjuk kepada Maha Besar yang menggenggam hati manusia" jawab Yusuf mengalihkan pandangannya ke arah Fauzan yang sedang duduk di sampingnya


hanya laki-laki yang pergi sementara perempuan tetap di rumah. ibu Fatimah tidak akan sanggup melihat suaminya di timbun dengan tanah maka dari itu ia memutuskan untuk tidak ikut.


sedang para lelaki dibantu oleh semua para pelayat, kini mereka telah sampai di TPU. acara pemakan berlangsung sampai selesai dan membaca doa bersama untuk almarhum.


satu persatu semua orang memutuskan untuk pulang namun tidak dengan keempat lelaki yang kini masih bergeming di tempat mereka. Fatahillah memegang papan nisan pak Imam, bertuliskan nama dan tanggal kelahiran serta tanggal kematian.


"aku akan membalas semuanya paman, mereka harus membayar semua apa yang telah mereka lakukan. nyawa harus dibayar dengan nyawa" ucap Fatahillah


"kami akan membantu kamu, siapapun mereka kita hadapi bersama-sama" Hasan menepuk pundak Fatahillah


"sebaiknya kita pulang, di rumah tidak ada orang yang akan berjaga-jaga" Fauzan bangkit dari duduknya


keempatnya meninggalkan TPU untuk pulang ke rumah. semua orang telah pulang ke rumah masing-masing, tinggallah keluarga inti yang berada di dalam rumah.


"mas Fatah bukannya sudah menikah, terus mana istrimu mas. sejak semalam aku tidak melihat seorang wanita datang bersama dengan mas Fatah" Anjani, anak pertama dari ibu Intan bertanya


saat ini mereka semua sedang berada di ruang tengah sedang ibu Fatimah berada di dalam kamar.


"oh iya nak, aku baru ingin menanyakan keberadaan Zelina. dimana dia, kenapa tidak ikut bersama kamu...?" tanya ibu Khadijah


pertanyaan ibu Khadijah dan Anjani membuat Fatahillah menghela nafas. ia kembali teringat dengan keadaan istrinya. begitu khawatir jangan sampai Zelina di sakiti oleh penculik itu.


"Fatah, kenapa tidak menjawab ibu. mana Zelina...?" tanya ibu Khadijah lagi


"Zelina tidak ikut bu, karena Fatah harus kembali lagi ke kota B" Fatahillah terpaksa berbohong, dirinya harus mencari waktu yang tepat untuk berbicara dengan ibu Khadijah


"bagaimana dengan wanita yang bernama Hanum itu, dia sudah sembuh kan...?"


"dalam proses penyembuhan bu, insya Allah dia akan sehat seperti sebelumnya" jawab Fatahillah


pukul 12 siang setelah melaksanakan sholat dzuhur, mereka semua makan siang bersama. Zulaikha membawakan makanan untuk ibunya karena sampai sekarang ibu Fatimah belum juga keluar dari kamar. Zulaikha bilang kalau ibunya masih lemah dan tidak mempunyai tenaga, bahkan ibunya kini mengalami demam.


Yusuf yang berprofesi sebagai dokter itu segera mengikuti Zulaikha untuk ke kamar ibu Fatimah. ia harus memeriksa keadaan ibu Fatimah.


"bu, makan dulu ya setelah itu minum obat" Zulaikha memegang lengan ibunya


"ibu tidak lapar" ibu Fatimah menjawab dengan mata tertutup


"kalau ibu tidak makan, bagaimana bisa ibu punya tenaga. ibu harus minum obat supaya cepat sembuh"


Yusuf memegang bahu Zulaikha dan menyuruh gadis itu untuk pindah duduk di ranjang sementara dirinya akan duduk di kursi.


"apa yang bibi rasakan...?" tanya Yusuf


"kepala nyut-nyutan, bibi lemas sekali" jawab ibu Fatimah


Yusuf memeriksa denyut nadi ibu Fatimah, namun norma seperti biasanya. hanya saja penglihatannya seperti yang di katakan ibu Fatimah bahwa memang wanita itu begitu lemas dan sama sekali tidak bertenaga.


Yusuf mengambil tindakan, ia kemudian terpaksa menginfus ibu Fatimah agar tidak kekurangan cairan dan tenaga. setelah Yusuf memaksa ibu Fatimah untuk makan, awalnya wanita itu menolak namun karena Yusuf terus memaksanya akhirnya ia pun membuka mulutnya. dengan telaten Yusuf menyuapi ibu Fatimah sementara Zulaikha hanya termangu melihat pemuda itu begitu memuliakan ibunya.


selesai makan, Yusuf memberikan ibu Fatimah vitamin dan juga obat penurun panas.


"kalau begitu kami akan keluar, bibi istrahat saja" ucap Yusuf


"tunggu Yus" ibu Fatimah menahan Yusuf dan Zulaikha yang ingin bangkit dari duduknya mengurungkan niatnya


"bibi membutuhkan sesuatu...?"


"kita harus bicara soal di rumah sakit kemarin" ucap ibu Fatimah


Zulaikha mengerutkan keningnya, kepalanya memenuhi berbagai pertandingan sementara Yusuf bergeming dan tidak mengeluarkan suara.


"apa kamu sudah mengambil keputusan...?" tanya ibu Fatimah


"kita bahas itu lain kali saja bi, sekarang bibi harus sembuh terlebih dahulu" Yusuf tidak ingin membahas masalah itu


"aku hanya bertanya apakah kamu siap dengan permintaan ayahnya Zulaikha...?"


"memangnya ayah meminta apa sama mas Yusuf bu...?" Zulaikha bertanya karena begitu penasaran


"setelah bibi sembuh, kita akan membahas itu. kami keluar dulu" pamit Yusuf


Yusuf berjalan terlebih dahulu sementara Zulaikha kemudian ikut menyusul. Zulaikha melangkah cepat untuk menyusul Yusuf dan menghadang pemuda itu di depan kamar ibunya.


"apa yang kamu lakukan...?"


"jawab pertanyaan aku mas, apa yang ayah minta padamu...?"


"bukan apa-apa, kamu tidak perlu tau"


"tapi aku ingin tau"


Yusuf terdiam sejenak kemudian ia memegang kedua bahu Zulaikha.


"apa kamu siap untuk menikah Icha...?" tanya Yusuf dengan tatapan lekat


"m-menikah...?" Zulaikha tergagap


"iya, apakah kamu siap untuk menikah...?"


"memangnya apa hubungannya permintaan ayah kepada mas Yusuf dengan pertanyaan yang mas berikan sekarang...?"


Yusuf tidak bergeming dan melepaskan tangannya dari bahu Zulaikha.


"lupakan saja" Yusuf berlalu meninggalkan Zulaikha yang terbengong dengan sikap dokter muda itu


"kenapa dengan mas Yusuf" gumam Zulaikha


selesai makan siang, Fatahillah mengajak ibunya untuk berbicara di dalam kamar.


"mau bicara apa nak, sepertinya penting sampai membawa ibu ke kamar seperti ini"


Fatahillah duduk di samping ibunya dan menggenggam kedua tangan wanita itu.


"aku ingin menunjukkan sesuatu bu"


"apa itu...?"


Fatahillah bangkit dan mengambil tasnya kemudian mencari sesuatu setelahnya ia kembali duduk di samping ibunya.


"ibu kenal dengan mereka...?" Fatahillah memperlihatkan sebuah foto kepada ibunya


hal tersebut membuat ibu Khadijah tersentak kaget, tubuhnya bahkan bergetar dan menegang