
larut malam Fatahillah terjaga dari tidurnya dikarenakan Zelina yang sedang tidur pulas dipelukannya tiba-tiba saja berteriak dengan keras. tentu saja hal itu membuat Fatahillah terlonjak kaget, Zelina yang sepertinya bermimpi buruk membuat Fatahillah berusaha membangunkan istrinya itu.
"sayang bangun" dengan menepuk pipi Zelina lembut, berharap wanita itu bisa bangun namun sayangnya Zelina tetap menutup mata
"sayang hei...bangun"
kaget luar biasa yang dialami Fatahillah karena saat itu tubuh Zelina seketika terangkat ke atas dan kejang-kejang.
"astaghfirullah ya Allah...apa yang terjadi padamu sayang" Fatahillah berusaha untuk menurunkan tubuh Zelina namun begitu berat baginya
"audzubillahi minasyaitonirrajim bismillahirrahmanirrahim" Fatahillah membaca ayat kursi dengan keras dan saat itu juga Zelina semakin teriak histeris hingga tubuhnya jatuh kembali ke kasur.
"sayang... sayang bangun" kembali Fatahillah menepuk wajah Zelina dengan lembut. ia begitu khawatir, baru kali ini selama mereka menikah Zelina mengalami hal semacam tadi
ketukan pintu di kamar mereka membuat Fatahillah turun dari ranjang dan membuka pintu. ibu khadijah sudah berada di depan pintu menatap anaknya.
"ada apa nak, ibu mendengar suara teriakan dari dalam kamarmu" ucap ibu khadijah
"Zelina mimpi buruk bu, aku juga kaget karena dia seperti kerasukan padahal matanya tertutup rapat" Fatahillah menjelaskan dengan raut wajah tegang
"boleh ibu masuk...?"
meskipun Fatahillah adalah anaknya namun ibu Khadijah tetap meminta izin sebab kamar adalah hal pribadi oleh pasangan suami istri yang tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang.
"boleh bu, ayo masuk" Fatahillah membuka pintu dengan lebar untuk mempersilahkan ibunya masuk ke dalam
terdengar suara panggilan dari Zelina, Fatahillah bergegas berjalan cepat ke ranjang sementara ibu Khadijah telah duduk di samping menantunya.
"ibu" ucapnya kaget melihat ibu mertuanya berada di kamar mereka
"nyalakan lampu Fatah" ucap ibu khadijah
Fatahillah turun dari ranjang dan mendekati dinding tempat saklar lampu, ia menekan tombol itu sehingga ruangan besar itu kini lebih terang.
"aku haus bu" ucap Zelina
ibu Khadijah mengambil air minum di gelas yang ada di atas nakas kemudian memberikannya kepada Zelina. habis tak bersisa karena Zelina sepertinya begitu kehausan.
"sayang kamu baik-baik saja kan...? Fatahillah naik lagi ke atas ranjang
"kamu mimpi buruk nak...?" ibu khadijah melap keringat yang ada di kening Zelina menggunakan tisu
"astaghfirullah.... astagfirullahaladzim" pertanyaan ibu Khadijah membuat Zelina beristighfar beberapa kali karena ia teringat dengan mimpinya tadi
bahkan dapat ia rasakan dirinya merinding mengingat mimpi itu, matanya mulai menampakkan ketakutan dan melihat sekeliling kamar.
"apa yang kamu mimpikan...?" tanya ibu khadijah
"hal yang menyeramkan bu, sangat menyeramkan" Zelina menjawab dengan takut
Fatahillah mendekat dan menggenggam tangan Zelina.
"jangan takut...ada aku di sini" ucap Fatahillah
"istirahatlah lagi, jangan lupa membaca doa agar dilindungi dari segala godaan setan yang datang dalam mimpi" ucap ibu khadijah
ibu khadijah keluar dari kamar, setelah kepergian mertuanya, Zelina mengeluh panas bahkan kini keringat keluar dari pori-pori kening dan juga lehernya padahal pendingin di kamar itu berfungsi seperti biasanya.
"panas sekali mas, apa AC-nya mati...?" Zelina mulai gelisah
"AC-nya berfungsi sayang" Fatahillah mulai merasa aneh dengan tingkah istrinya
"tapi aku kepanasan mas, panas sekali"
Fatahillah mengambil remote AC dan memencet tombol agar ruangan itu semakin dingin. sayangnya Zelina bahkan tidak merasakan hawa dingin itu, dirinya tetap mengeluh panas.
"panas mas" Zelina mengipas wajahnya dengan tangan
kini Fatahillah mulai berpikir ada yang aneh terhadap Zelina setelah ia bangun dari mimpi buruknya.
Fatahillah mencari tasbihnya dan melakukan sesuatu. ia menaruh tasbih itu di dalam gelas yang berisi air kemudian membacakan doa dan meminumkan kepada Zelina.
"minumlah sampai habis"
Zelina patuh dan meneguk habis minuman itu. perlahan tubuhnya yang ia rasakan panas kembali ke suhu tubuh seperti semula.
"masih panas...?"
"nggak mas, terimakasih"
"ya sudah tidurlah lagi"
Fatahillah mengajak istrinya untuk kembali tidur karena waktu masih menunjukkan larut malam namun Zelina menolak karena ia takut akan bermimpi buruk lagi.
"minta perlindungan kepada Allah, insya Allah semuanya akan baik-baik saja. sini aku peluk lagi, jangan takut ada aku di sini"
keduanya berbaring kembali kemudian Fatahillah mendekap Zelina di dadanya. ia bersholawat agar dengan begitu Zelina dapat tenang dan nyaman dan benar saja istrinya itu kini mulai teratur nafasnya, Zelina mulai terlelap lagi.
setelah Zelina tertidur kembali, Fatahillah bangun dengan pelan-pelan dan menyelimuti istrinya. ia pun mencium kening Zelina kemudian keluar kamar menuju ruang keluarga. rupanya di sana Fauzan dan Hasan begitu juga Akmal sedang bercakap-cakap sambil menikmati secangkir kopi yang ada di atas meja.
"kalian nggak tidur...?" Fatahillah ikut duduk di sofa
"udah bangun mas karena mendengar suara teriakan mbak Zelina. memangnya mbak Zelina mimpi apa sampai teriak begitu. kata ibu khadijah dia mimpi buruk. serem banget ya mimpinya pasti" Akmal menjawab
rupanya ketiganya juga mendengarkan suara Zelina dan keluar kamar. hanya saja ketiganya sudah bertemu dengan ibu Khadijah dan menanyakan apa yang terjadi. karena merasa tidak mengantuk lagi, ketiganya turun ke bawah untuk membuat kopi.
"aku juga nggak tau dia mimpi apa, tapi katanya mimpinya begitu menyeramkan. kalian tau, tadi bahkan tubuhnya melayang ke atas dan kejang-kejang. untungnya aku segera membacakan ayat kursi dan setelah itu dia mengeluh panas padahal di dalam kamar begitu dingin" ucap Fatahillah
"kenapa bisa ngeri seperti itu. masa hanya mimpi buruk tapi tubuhnya langsung melayang dan kejang-kejang, bukankah itu aneh" timpal Hasan
"apa mungkin dia...."
ketiganya menatap ke arah Fauzan karena pemuda itu menggantung ucapannya.
"karena dia apa Zan...?" tanya Fatahillah
"bukannya aku suudzon nih ya, tapi dulu Hanum seperti itu setelah dia terkena guna-guna, itu yang diceritakan pak Umar. Hanum sering mimpi buruk, merasakan panas di tubuhnya padahal AC di rumah besar itu tidak ada yang rusak dan hari-hari berikutnya dia mulai merasakan gatal-gatal di seluruh tubuhnya hingga...ya kalian tau apa yang terjadi padanya" ucap Fauzan
"jadi maksud kamu, kemungkinan bisa jadi Zelina diguna-guna begitu...?" Hasan memastikan dan Fauzan mengangguk
"ih ngeri banget, zaman sekarang masih saja main guna-guna. kasian mbak Zelina kalau begitu. tapi....siapa yang melakukan itu padanya" ucap Akmal
"musuh Fatahillah mungkin, siapa lagi kalau bukan yang ingin merebut mustika merah" ucap Fauzan
"astaghfirullah" Fatahillah menarik nafas dan meraup wajahnya dengan kasar, ia benar-benar takut hal yang dikatakan Fauzan dialami oleh Zelina
"atau mungkin saja dua nenek lampir itu" ucap Akmal
"nenek lampir siapa...?" tanya Hasan
"siapa lagi kalau bukan ibu dan anak, ibu Arum dan mbak Andini. mereka kan nggak suka sama mbak Zelina" jawab Akmal
"tapi kita berprasangka baik saja dulu, siapa tau memang Zelina kalau mimpi buruk ya seperti itu dan juga dia memang kepanasan karena tegang" ucap Fauzan
"atau mungkin saja mbak Zelina demam, coba aja ada mas Yusuf"
Fatahillah semakin frustasi, setiap hari ada saja masalah yang datang menguji keluarganya. beberapa kali ia menghela nafas panjang, begitu berat dan sesak.
"kalau memang Zelina diguna-guna, berarti mungkin saja mereka menyimpan sesuatu di rumah ini atau mungkin saja Zelina memakan atau meminum dari minuman yang telah diguna-guna. tapi sejak kemarin dia terus bersama kita di rumah bahkan keluar pun juga begitu. apa mungkin satu-satunya kemungkinan besar, ada benda yang mereka tanam di rumah ini" Fatahillah menatap ketiga pemuda itu
"bisa jadi seperti itu. kalau begitu kita cari benda itu. kalau memang ada pastinya ada di sekitar rumah ini karena tidak ada orang luar yang masuk ke dalam rumah kalau bukan kita saja" Akmal menimpali
"tapi kan belum tentu juga Zelina terkena guna-guna siapa tau prasangka aku salah. mungkin memang Zelina seperti itu kalau mengalami mimpi buruk jadinya tegang dan kejang-kejang. mungkin juga dia memang kepanasan" ucap Fauzan
"tapi nggak ada salahnya kita memeriksa dari sekarang supaya jika kita menemukan sesuatu maka kita bisa mengatasinya. saat ini waspada dan hati-hati itu lebih penting" timpal Akmal
"Langon"
GRAAARR
tanpa pikir panjang Fatahillah memanggil harimau putih, ia membutuhkan bantuan sahabatnya itu. seperti biasanya, Langon akan bermanja di bawah kaki siapa saja yang ia sukai dan kali ini dia sedang bermanja di kaki Akmal.
"halo besti... kita bertemu lagi" Akmal mengelus kepala Langon sementara Langon segera melompat ke atas sofa dan membaringkan tubuhnya di paha Akmal
"Langon...aku membutuhkan bantuanmu" ucap Fatahillah dan Langon mengangguk
"bantu kami mencari benda yang diperkirakan adalah guna-guna yang ditanam di dekat rumah ini. aku mengandalkanmu Langon"
"tapi jangan perlihatkan dirimu kepada anak buah Yusuf ya Langon, bisa jantungan dan mati mendadak mereka semua" Akmal masih bisa bergurau dalam keadaan tegang seperti itu
GRAAARR
Langon bangkit dan meninggalkan mereka. Langon memang selalu bisa menemukan siapa saja yang melarikan diri atau bersembunyi dari Fatahillah, dan Fatahillah berharap Langon dapat menemukan juga benda yang ia maksud.
"kita bantu dia" Hasan bangkit dari duduknya
semua orang mulai berpencar untuk memudahkan pencarian. namun betapa kagetnya mereka saat keluar di luar rumah ternyata begitu banyak pocong yang berwajah mengerikan. dua mata yang merah, tubuh yang gosong dan wajah yang berdarah-darah. pocong-pocong itu mengelilingi rumah. melihat ketiga pemuda yang keluar, mereka menatap dengan tajam dan hendak menyerang.
padahal banyak anak buah Yusuf yang berjaga namun satupun dari mereka tidak ada yang melihat pocong-pocong itu kecuali Fatahillah dan yang lainnya.
kini keempatnya mulai diserang oleh pasukan pocong itu. Fatahillah terpaksa menidurkan para penjaga mereka agar mereka tidak melihat pertarungan yang akan aneh dimata mereka karena keempat pemuda itu akan melawan makhluk gaib yang tidak dapat mereka lihat dengan mata.
"aaaaaa.... aaaaaa"
teriakan dari dalam rumah membuat Fatahillah berlari masuk ke dalam meninggalkan ketiga temannya. di lantai dua, Zelina histeris di dalam kamar membangunkan semua orang yang masih terlelap.
"astaghfirullah...ada apa dengan Zelina, Fatah...?" ibu Fatimah tergopoh-gopoh mendekati Fatahillah yang berusaha mendobrak pintu kamar karena tiba-tiba saja terkunci
rasa panik dan khawatir membuat Fatahillah tidak menjawab pertanyaan ibu Fatimah. karena kesulitan membuka pintu, Arjuna dan Afkar membantu Fatahillah mendobrak pintu itu hingga kemudian pintu terbuka lebar dengan kerasnya.
"ASTAGHFIRULLAH SAYANG"
Zelina melempar apa saja ke kaca jendela, dalam penglihatannya ia melihat pocong-pocong yang begitu mengerikan dan menyeramkan berdiri di jendela kamar. semua orang panik dan masuk ke dalam.
"tutup gordennya Arjun" teriak Fatahillah yang kini berusaha menenangkannya Zelina dalam pelukannya
Arjuna berlari ke arah jendela dan menarik gorden sementara kini Zelina terus menangis histeris begitu ketakutan luar biasa.
"pergi....pergi...jangan ganggu aku" Zelina memberontak di pelukan Fatahillah
"sayang ini aku" Fatahillah mendekap erat tubuh Zelina
"ya Allah...kenapa dengan mbak Zelina" Najwa takut melihat Zelina seperti orang kesurupan yang terus berteriak untuk ditinggalkan
selain Fatahillah sendiri, tidak ada yang bisa mengendalikan Zelina. Fatahillah terpaksa memukul tengkuk Zelina hingga istrinya itu pingsan. ia melakukan itu agar Zelina tenang dan tidak mengamuk.
"maafkan aku sayang, aku terpaksa" gumam Fatahillah, ia menggendong Zelina dan membaringkannya di atas ranjang
"kenapa dengan Zelina nak...?" raut wajah ibu begitu khawatir
Fatahillah pun menceritakan apa yang terjadi sekarang, tentu saja hal itu membuat mereka ketakutan. Zulaikha bahkan mengapit lengan Anisa dengan rapat.
"tapi siapa yang ingin mencelakai Zelina...?" tanya Anisa
"itu juga aku tidak tau. kalian tetaplah di kamar ini, aku harus membantu yang lain melawan pocong-pocong itu
"pocong...?"
tentu saja semua orang kaget namun Fatahillah tidak mempunyai waktu untuk menjelaskan semuanya. ia memasangkan tasbihnya ke leher Zelina karena hanya dengan itu atas izin Allah maka istrinya akan terhindar dan terlindungi dari gangguan jin dan setan. Fatahillah berlari keluar kamar menuruni satu persatu anak tangga dan melesat ke halaman rumah.
di luar nampak pocong-pocong itu semakin bertambah banyak. bahkan Akmal telah memotong kepala, dan badan mereka dengan pedang miliknya namun tetap saja mati satu tumbuh seribu, itulah yang terjadi pada para pocong-pocong itu.
Fatahillah mengeluarkan kerisnya dan membuat pagar gaib mengelilingi rumah, dengan begitu pocong-pocong mengerikan itu tidak bisa masuk ke dalam rumah. setelahnya ia menghabisi mereka dengan keris miliknya namun tetap saja malah pocong-pocong itu semakin bertambah.
"pasti ada yang mengendalikan mereka" ucap Fauzan
makhluk-makhluk itu berusaha untuk masuk ke dalam rumah, sayangnya karena pagar gaib itu mereka terpental jauh sebelum berhasil menyentuh tangga teras rumah.
sementara di dalam kamar, Anisa memasangkan hijab dan cadar kepada Zelina karena jangan sampai tiba-tiba ada laki-laki yang masuk selain Fatahillah apalagi di tempat itu ada Arjuna yang sejak tadi memalingkan wajahnya ke arah lain sebab Zelina tadi tidak memakai hijab dan cadarnya. meskipun tadi Arjuna sempat melihat wajah Zelina karena kejadian yang tadi.
di luar semakin sengit pertarungan, karena pocong-pocong itu bertambah banyak maka Fatahillah memanggil angin untuk membawa mereka pergi.
Fatahillah duduk bersila, ia membuat pagar gaib untuk dirinya agar pocong-pocong itu tidak dapat menyentuhnya. ia membaca mantra pemanggil angin.
"wahai angin yang berada di bagian Utara
aku memanggilmu
datanglah.... datanglah"
"wahai angin yang berada di bagian selatan
aku memanggilmu
datanglah.... datanglah"
"wahai angin yang berada di bagian timur
aku memanggilmu
datanglah.... datanglah"
"wahai angin yang berada di bagian barat
aku memanggilmu
datanglah.... datanglah"
empat penjuru mata angin ia panggil, maka seketika itu juga gemuruh suara angin dari berbagai arah berhembus begitu kencang. pohon-pohon dan apa saja bergoyang-goyang begitu hebat, untungnya Fatahillah telah menguasai cara mengendalikan angin itu sehingga rumah Zelina dan mereka semua tidak akan dibawa angin namun tetap saja akan merasakan kencangnya angin itu.
"Mal...Zan....San, masuk ke sini" teriak Fatahillah
keduanya berlari dan masuk ke dalam pagar gaib, angin kencang semakin dekat dan membawa semua pocong-pocong itu hingga tidak tersisa. setelahnya semuanya kembali normal dan para makhluk mengerikan itu sudah tidak ada lagi.
"kamu bawa kemana pocong-pocong tadi Fatah...?" tanya Fauzan
"ke tempat asalnya" jawab Fatahillah
Fatahillah kembali membangunkan para penjaga yang tadi ia tidurkan, setelahnya mereka masuk ke dalam namun masih di teras rumah, Langon datang sudah menunggu mereka di depan pintu dengan bungkusan kain putih di mulutnya.