Fatahillah

Fatahillah
Bab 110



berkendara menggunakan helikopter jelas lebih cepat dibandingkan kendaraan jalanan. hanya sekitar 15 menit saja, kendaraan udara yang dikemudikan oleh Taufik mendarat di sebuah atap gedung. baling-balingnya masih terus berputar membuat di sekitar itu menimbulkan angin yang kencang. Fatahillah dan Samuel turun kemudian di susul oleh Taufik setelah mematikan kendaraan mereka.


"ini...kita dimana...?" Fatahillah melihat gedung-gedung tinggi di sekitar itu


"kita di atap perusahaan kamu yang ada di wilayah C. masa iya biar milik kamu, kamu nggak ingat Ga. itu kepala habis terbentur atau gimana sih...?" Samuel lagi-lagi merasa heran


"gitu ya" Fatahillah menggaruk kepala "mungkin karena suasananya malam jadi aku nggak terlalu menandai"


"biasanya bos juga datang malam hari" kali ini Taufik yang mengingatkan


"begitu ya" Fatahillah semakin kikuk "jadi, kita kemana sekarang...?"


"kita turun ke lantai bawah pastinya. nih ambil" Samuel melemparkan pistol kepada Fatahillah


"kenapa harus pakai ini...?" tentu saja Fatahillah bingung


"di bawah sana, kita tidak tau apa yang sedang menunggu kita. menurut informasi yang aku dapatkan. orang-orang yang terkena virus itu, mereka sekarang menjadi brutal dan menyerang orang-orang "


"kenapa bisa sampai seperti itu. bukannya kamu bilang itu hanya wabah penyakit yang menular dan membuat banyak orang yang sudah meninggal. kenapa sekarang jadi lain lagi" kali ini Fatahillah nampak bingung dengan penjelasan Samuel


"itu kemarin Ga. lain kemarin lain hari ini. aku juga tidak tau apa penyebabnya tapi pasti gunakan itu saja sebagai perlindungan. jangan kekuatanmu, bisa mati mereka"


"benda ini juga bisa membuat mereka mati" Fatahillah membentak


"kamu salah bos, benda itu hanya akan membuat mereka pingsan. otot-otot saraf mereka akan lumpuh beberapa saat. kita tidak mungkin membunuh mereka bos. karena yang mereka butuhkan bukan kematian tetapi kesembuhan. setelah mereka pingsan dan tidak bisa bergerak lagi, maka akan ada yang datang menjemput mereka dan membawa mereka di tempat pengisolasian" ujar Taufik


"jadi ini bukan pistol benaran...?" Fatahillah menelisik benda yang ada di tangannya itu


"bukanlah, memangnya kamu pikir aku sejahat itu mau membunuh orang. isi di dalamnya adalah jarum yang berukuran kecil, lebih kecil lagi dari jari kelingking. dokter Najihan yang memberikan itu, tapi sayangnya benda itu terbatas. perlu beberapa waktu lagi untuk bisa membuatnya. bukan alatnya yang susah tapi tanaman herbalnya yang susah di dapat. sekarang ini, kita gunakan sebaik mungkin apa yang kita punya, sampai kita tiba di tempat perkemahan"


"kenapa tidak kita mendarat di tempat perkemahan saja"


"nggak ada tempat untuk mendarat di sana Gara. tempat itu bukan lapangan luas seperti perkemahan pada umumnya. sekarang kita pergi"


Samuel melangkah lebih dulu bersama Taufik. merasa aman, mereka memanggil Fatahillah dan turun ke bawah menggunakan lift. tepat di lobi kantor itu, mereka berjalan ke arah pintu. saat di luar, sebuah senter menyinari mereka. teriakan dari seseorang menjadi sambutan ketiganya. seseorang berlari ke arah mereka.


"aduh, pak bos ternyata. saya pikir tadi pencuri. maaf bos" laki-laki yang berpakaian seragam satpam itu, menunduk meminta maaf


"tidak apa-apa. kamu masih kerja malam-malam begini...?" tanya Fatahillah


"saya memang berjaga sampai malam pak" jawabnya


"begitu ya, tapi sepertinya di sini aman-aman saja. sebaiknya kamu pulang. harusnya di saat situasi seperti sekarang ini, kamu jangan terlalu lama berada di luar, bisa bahaya"


"tapi ini memang pekerjaan saya pak, nanti saya bisa dipecat kalau tidak melakukan tugas"


"tidak akan ada yang bisa pecat kamu selain saya. sekarang kamu pulanglah"


Samuel mengkode orang itu agar menuruti perintah Fatahillah.


"baik pak, kalau begitu saya pulang dulu"


laki-laki itu melangkah ke arah kiri untuk mengambil motornya, sementara mereka langsung menaiki mobil hitam yang sudah disiapkan sejak awal. sepanjang jalan, mereka tidak menemukan kendaraan lain. kota itu begitu sepi seperti kota mati. Fatahillah frustasi, apa sampai separah itu wabah penyakit yang menyebar. di lihatnya jam tangannya, masih pukul 00.00, biasanya jam seperti itu masih banyak kendaraan yang lalu lalang. dan juga masih ada penjual entah bakso, martabak atau yang lainnya yang berjejer di pinggir jalan. namun untuk kali ini, Fatahillah tidak melihat satu orang pun.


"kenapa sepi seperti ini...?" tanya Fatahillah


"wilayah C sudah masuk zona merah. artinya berbahaya jika mereka keluyuran di luar. lebih aman berada di dalam rumah daripada di luar bos" jawab Taufik


Fatahillah menghela nafas panjang. niatnya datang ke gunung Gantara hanya untuk menyelamatkan ayahnya. tidak di sangka permasalahan pelik malah menunggunya di tempat itu. ia kemudian teringat dengan keempat teman-temannya yang entah bagaimana keadaan mereka sekarang. untuk memastikan, dirinya mengirimkan pesan kepada Hasan. tidak mungkin menghubungi mereka saat ini, sebab bukan waktu yang tepat.


"ibumu sakit sekarang" Samuel membuka pembicaraan lagi


"sakit...? bukannya ibu baik-baik saja, kamu bilang dia hanya rindu diriku dan Genta"


"hanya sakit demam biasa, mungkin karena juga ibumu rindu kedua putranya. setelah menjemput Genta, kita kembali pulang"


malam itu jalanan hanya ada mobil mereka saja. di depan sana adalah perempatan lampu merah. berjarak beberapa meter lagi seseorang tiba-tiba menyebrang jalan. hampir saja Taufik menabrak orang itu jikalau saja dirinya tidak spontan menginjak rem. seorang laki-laki terjatuh di aspal jalanan, entah di tabrak ataukah dia terjatuh karena kaget.


"kamu menabrak seseorang...?" Fatahillah melihat ke depan, seorang laki-laki berusaha bangun


"entahlah. kalian di dalam saja, biar aku yang periksa" Taufik melepas sabuk pengaman dan keluar dari mobil


Fatahillah yang tidak bisa berdiam begitu saja di dalam mobil, ia memutuskan untuk keluar. Samuel pun ikut turun, sebab tugasnya yang sebenarnya adalah selain membantu Gara, dirinya juga berkewajiban melindungi bosnya itu. dan ia melakukan itu kepada Fatahillah yang dia pikir adalah Gara yang asli.


"kamu baik-baik saja...?" Taufik berjongkok di hadapan laki-laki itu


laki-laki itu tidak menjawab, namun ia dapat melihat di tangannya ada pisau kecil yang berdarah. kedua tangan laki-laki itu pun penuh dengan darah.


"apakah aku menabrak mu...?" tanya Taufik lagi


laki-laki itu belum menjawab, dirinya bahkan ketakutan dan mundur perlahan dengan menyeret dirinya di aspal.


"j-jangan mendekat" ia mengarahkan pisau yang di pegangnya ke arah depan, berniat mengancam tiga laki-laki yang kini ada di hadapannya


"tenanglah kami tidak akan menyakitimu, tenangkan dirimu" Taufik mencoba mendekat namun laki-laki itu meneriaki mereka agar jangan ada siapapun yang mendekatinya


Fatahillah memperhatikan laki-laki itu, jika ia tafsir umur laki-laki itu akan seumuran dengan Arjuna, adik angkat istrinya. dilihatnya , kepala remaja itu sepertinya terluka karena ada ceceran darah yang mengalir di bagian pelipis. kemudian, sepatu remaja itu juga terdapat bercak darah, Fatahillah merasa kalau remaja itu telah mengalami hal yang serius.


"mundur Taufik, biar aku yang bicara dengannya" ucap Fatahillah


"jangan Ga, biar aku saja" Samuel menghentikan Fatahillah dengan memegang bahunya. ia tidak ingin remaja itu berbuat nekad tanpa mereka ketahui


"dia ketakutan Sam, aku akan berusaha berbicara padanya. Taufik, mundurlah"


perintah bosnya tentu saja Taufik patuhi. ia berdiri dan mundur sejajar dengan Samuel, sementara Fatahillah mendekati remaja itu dan berjongkok di hadapannya.


"kami bukan orang jahat. kami sedang akan menjemput adikku yang juga seusia kamu. maaf jika tadi temanku hampir menabrakmu. katakan padaku, apakah kamu terluka. tenang saja, kami bukan orang-orang yang akan menyakitimu" Fatahillah berucap lembut, ia tau remaja itu kini sedang ketakutan maka dari itu untuk mengambil kepercayaannya, Fatahillah harus bersikap lembut


kedua mata remaja itu, menatap lekat wajah Fatahillah. melihat Fatahillah tersenyum, remaja itu menelisik sekitar kemudian menurunkan pisau yang sejak tadi ia jadikan sebagai senjata untuk melindungi diri.


"hanya kalian bertiga kan...? kalian bukan orang-orang itu kan...?" bibirnya yang terluka, berucap


"iya, kami hanya bertiga. memangnya ada apa. apa ada yang orang-orang yang membuatmu terluka seperti ini...?" Fatahillah ingin memegang kepala remaja itu, namun remaja itu memundurkan kepala


"maaf, tapi kalau kamu tidak keberatan biar kami antar kamu pulang, Bagaimana...? sebagai permohonan maaf kami"


"kalian... tidak ingin membunuhku kan...?" suaranya bergetar menahan takut


"kami orang baik, tentu kami tidak akan mencelakai mu. ikutilah bersama kami, kami akan mengantar kamu pulang" kali ini Samuel yang bersuara


"kamu dengar sendiri kan. tenang saja, tidak akan ada yang menyakitimu saat kamu bersama kami. ayo masuk ke dalam mobil" Fatahillah mengulurkan tangannya


remaja itu masih saja diam. ia tatap tangan Fatahillah yang terulur kepadanya. besarnya keraguan dalam dirinya menyebabkan dirinya tidak mau menyentuh tangan Fatahillah. karena remaja itu tidak mau menggenggam tangannya, Fatahillah lah yang mengambil tangan remaja itu dan menggenggamnya.


"kalau nanti aku berbuat jahat padamu, maka kamu bisa menusukku dengan pisau itu" Fatahillah tersenyum


"siapa namamu...?" tanya Fatahillah


"Fanan" jawabnya pelan


"apa tadi kamu ditabrak oleh mobil kami...?"


remaja itu menggeleng, itu artinya Taufik tidak menabrak remaja itu. Taufik yang melihat percakapan mereka di spion gantung, bernafas lega. sejak tadi dirinya gelisah jangan sampai remaja itu terluka karena dirinya.


"lalu kenapa bisa sampai kamu berlari seperti tadi. untungnya kami tidak menabrakmu. apa yang membuatmu menyebrang jalan tanpa melihat kanan kiri seperti tadi...?"


"orang-orang itu ingin mencelakaiku, aku...aku takut makanya aku berlari untuk menyelamatkan diri" Fanan meremas kedua tangannya yang berdarah


pisau itu masih ia genggam dengan eratnya. Fatahillah hendak mengambil namun Fanan yang terkejut mengarahkan pisau itu kepada Fatahillah.


"kalau kamu pegang terus, tanganmu akan bertambah dalam lukanya" Fatahillah mengambil pisau itu dan membuangnya di luar "apa ada tisu...?"


"ada" Samuel mengambil tisu yang berada di dekatnya dan memberikannya kepada Fatahillah


Fatahillah melap tangan Fanan menggunakan tisu tadi. setelahnya ia membungkus luka remaja itu dengan sapu tangan yang ada di dalam mobil itu.


"bagaimana kalau kita singgah di rumah sakit untuk mengobati luka anak ini" ucap Fatahillah


"tidak akan dilayani Ga. kalaupun iya, pasti akan lama sebab dokter dan perawat sedang sibuk menangani pasien yang terkena wabah penyakit itu. dan bisa saja sekarang ini pihak rumah sakit berada di tempat pengisolasian" jawab Samuel


"kalau begitu kami antar kamu pulang ke rumah. beritahu kami dimana rumahmu...?"


"rumah...?"


"iya, kami akan mengantar kamu pulang"


"aku tidak mau pulang, tolong jangan bawa aku pulang" Fanan menggeleng dan memegang lengan Fatahillah


"memangnya kenapa sehingga kamu tidak ingin pulang...?"


"tidak ada lagi orang di rumah, semuanya.... semuanya telah terkena virus itu. aku tidak mau pulang, tolong jangan bawa aku pulang"


Fatahillah serba salah, bukannya tidak ingin membantu Fanan namun kemana dirinya akan membawa remaja itu dalam keadaan genting seperti sekarang ini.


"biarkan dia ikut kita saja dulu bos. setelah menjemput Genta barulah kita pikirkan kemana kita bahas soal sekarang ini" ucap Taufik


"baiklah, kamu benar" Fatahillah akhirnya setuju


Fanan melepaskan tangannya dari lengan Fatahillah. ia mengarahkan pandangan ke arah luar. mobil itu telah masuk ke dalam kawasan perkemahan. di dekat sungai, tenda-tenda berdiri sebagai tempat berteduh. salah seorang datang menghampiri mereka dan berdiri di samping mobil. Fanan tetap berada di dalam mobil, Fatahillah tidak mengizinkannya untuk keluar.


"di sini aman kan...?" tanya Samuel setelah mereka keluar


"aman, namun anak-anak sudah mendesak ingin pulang" jawab laki-laki itu


"dimana Genta...?" tanya Fatahillah


"di tenda UGD"


"tenda UGD...? kenapa bisa dia berada di sana...?"


"tadi siang kakinya terluka karena batu tajam yang ada di sekitar sungai ini. namun sudah dijahit dan sekarang dia sedang istirahat"


"bawa aku bertemu dengannya"


"ikut denganku"


laki-laki itu berjalan terlebih dahulu, ketiganya ikut melangkah di belakangnya. di sebuah tenda UGD yang lebih besar dari tenda lainnya, mereka masuk ke dalam itu. ada seseorang yang sedang terbaring di sana, membelakangi mereka.


"itu Genta" tunjuk laki-laki itu


Fatahillah mendekati Genta dan duduk di sampingnya. remaja itu merasa ada seseorang yang sedang berada di dekatnya. ternyata Genta belum benar-benar tidur. Genta membalikkan badan, saat itu ia melihat Fatahillah sedang duduk menatapnya.


"mas Gara" Genta dengan senyuman sumringah, bangun dan langsung memeluk Fatahillah "kenapa lama sekali, aku sejak kemarin menunggu mas datang" ujarnya melepas pelukannya


"maaf membuat kamu menunggu lama. sekarang kita pulang ya"


"iya" Genta mengangguk


Genta di bawa ke mobil, di sana dirinya bertemu dengan Fanan. melihat remaja itu terluka, Genta mengusulkan agar Fanan di obati di tenda UGD. Fatahillah setuju dan mereka membawa Fanan ke tenda UGD. sembari menunggu Fanan selesai di obati, Fatahillah sedang berbicara dengan beberapa orang bersama Taufik dan Samuel.


"semua yang ikut kemah adalah mereka yang tinggal satu wilayah dengan kita, jadi sebaiknya mereka ikut bersama kita saja. menggunakan helikopter, kita bawa mereka pulang" ucap Fatahillah


"kalau begitu, suruh semua anak-anak untuk bersiap-siap. kita harus pulang secepatnya, jangan terlalu lama berada di tempat ini" perintah Samuel kepada beberapa orang itu


malam itu semua orang bersiap-siap untuk pulang. Fatahillah menyuruh Taufik untuk memesan tiga helikopter yang akan menjemput mereka. perintah penguasa gunung Gantara tentu saja langsung dipatuhi oleh bawahannya. Taufik menghubungi temannya memberitahukan perintah dari Gara Sukandar yang sebenarnya adalah saudara kembarnya.


malam semakin larut, semua orang telah siap dengan tas yang akan mereka bawa. sebelum meninggalkan tempat perkemahan, Fatahillah melakukan sholat malam. dirinya meminta agar segala urusannya dimudahkan dan dilindungi dari segala marabahaya. bagaimanapun juga saat ini ia berada dalam kandang musuh ayahnya yang tentu saja sekarang menjadi musuhnya juga. setelah selesai sholat barulah Fatahillah mendekati semua orang dan memberitahu kepada mereka semua agar masuk ke dalam mobil sebab mereka akan segera berangkat.


dengan mengangkat barang satu persatu, semua orang membawa masuk ke dalam mobil. untuk barang-barang mereka, dua mobil pick up yang akan membawanya sementara anak-anak dan para pembina rupanya akan menggunakan bus.


Fatahillah sedang mengamati sekitar, dirinya akan masuk ke dalam mobil jika semua orang telah berada di dalam kendaraan masing-masing. saat itu ponselnya berdering, Hasan menghubunginya.


Fatahillah


assalamualaikum San, kalian di tempat yang aman sekarang kan...?


Hasan


iya. anak buah Aji Wiguna menyewa rumah yang tidak begitu jauh dari rumah Gara


Fatahillah


syukurlah. untuk sekarang kalian jangan keluar dulu


Hasan


kita harus bertemu untuk menyusun rencana selanjutnya, nggak mungkin kan kami berdiam diri saja di sini


Fatahillah


iya, aku akan menemui kalian nantinya, kirimkan saja alamat....


"LARI....LARI SEMUANYA"


belum sampai di ujung kalimat Fatahillah, seseorang datang dari arah depan. berlari dengan kencang dan meneriaki semua orang untuk menyelamatkan diri. Fatahillah diam di tempatnya, menatap lurus laki-laki itu yang sedang berlari ke arahnya. siapa sangka ternyata dibelakang laki-laki itu, ada begitu banyak orang yang datang dengan rupa yang mengerikan, ikut berlari mengejar laki-laki tadi.


"astagfirullahaladzim" Fatahillah kaget bukan main


bukan makhluk gaib namun mereka adalah manusia, hanya saja entah apa yang terjadi pada mereka sehingga orang-orang itu seperti mayat hidup yang ingin memangsa manusia. bisa dikatakan, mereka seperti zombie yang menyerang dan membunuh siapa saja yang mereka lihat.