
rumah mewah Zelina yang telah dijadikan panti asuhan kini disulap secantik mungkin untuk acara pernikahan dua pengantin yang akan melakukan akad nikah hari ini. setelah sholat subuh tadi Zelina sudah nampak sibuk menyiapkan keperluan yang akan di butuhkan oleh Zulaikha dan Anisa. ponselnya ia tinggalkan di dalam kamar, itulah mengapa dirinya tidak mengangkat panggilan dari Fatahillah.
setelah pagi menjelang, Zulaikha dan Anisa mulai di rias oleh MUA yang tentu saja adalah ahlinya. Anisa sendiri yang memilih orang untuk mendandani mereka. sebenarnya sejak kemarin, di rumah itu sudah sibuk ibu Khadijah dan ibu Fatimah memasak untuk acara hari ini. Zelina mengundang para tetangga untuk membantu mereka. dengan bantuan banyak orang, berbagai hidangan masakan telah siap di dapur dan kini akan disajikan di atas meja nantinya.
"Na, tolong siapkan kue dan minuman untuk MUA yang ada di dalam kamar ya" perintah Zelina
"baik mbak" jawab Najwa
Najwa berjalan ke arah dapur, menata kue di atas piring dan juga teh hangat yang disediakan. setelahnya ia membawa itu semua di dalam kamar yang kini ditempati Anisa dan Zulaikha serta MUA yang akan merias keduanya.
"aku belum apa-apa kok udah gugup gini, jadi lapar" Zulaikha meremas jarinya
"kalau kamu lapar biar aku ambilkan makanan di dapur. kamu mau makan apa...?" Najwa menawarkan
"sate ayam aja mbak" pinta Zulaikha
"aku juga ya Na, aku lapar soalnya" Anisa pun ikut memesan "nggak apa-apa kan mbak aku makan" ucapnya lagi kepada seorang wanita yang kini sedang meriasnya
"tentu saja nggak apa-apa, kalau mau makan ya sok atuh. jangan sampai pingsan ditempat nanti, kan repot" jawabnya sambil tersenyum kecil
Najwa kembali keluar dan menuju dapur. para ibu-ibu kembali datang dan melanjutkan memasak karena kemarin masih ada masakan yang belum terselesaikan. mereka memasak banyak karena masakan itu nanti akan dibagikan kepada ibu-ibu yang datang membantu dan juga akan dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkan.
"siapa yang mau makan nak...?" tanya ibu Fatimah, saat ia melihat Najwa kembali lagi ke dapur
"mbak Anisa sama Zulaikha bu, mereka berdua lapar" jawab Najwa
"walah... hampir saja dua pengantin wanita jatuh pingsan karena kelaparan" sahut ibu yang lain
"biasanya mereka grogi makanya langsung lapar" timpal ibu yang lainnya
"namanya juga mau nikah, pasti panas dingin bawaannya" seru ibu lainnya
candaan seperti itu sudah biasa jika ada ibu-ibu yang ikut membantu. hal itu menjadi penguat mereka saat badan sudah mulai letih.
"kasih tiga piring saja nak, MUA-nya juga ya harus dikasih makan" ucap ibu Khadijah
"baik bu"
tiga piring nasi berisi lauk pauk dibawa Najwa ke dalam kamar. Anisa dan Zulaikha menyambut makanan itu dengan senang, wanita yang merias keduanya pun ikut makan karena sudah susah dibawakan namun masa iya dirinya akan menolak.
setelah selesai makan, barulah Anisa kembali di dandani. untuk sekarang masih giliran Anisa, nanti setelah selesai dokter itu barulah Zulaikha yang akan dirias.
pukul 10 pagi, rombongan pengantin laki-laki tiba di rumah mempelai pengantin wanita. Yusuf dan Fauzan bersama keluarga besar mereka di sambut ramah oleh ibu Fatimah dan pak Ilham. semua seserahan yang dibawa, dibawa masuk ke dalam dan simpan di atas meja panjang.
Zelina sedang berada di dalam kamar, saat itu ia baru teringat dengan suaminya. dirinya lupa memberi kabar kepada Fatahillah. ponsel yang ia tinggalkan sejak tadi diambilnya di atas nakas. ada tiga panggilan tidak terjawab dari Fatahillah dan juga satu pesan dari suaminya itu, yang memberitahu kalau sekarang suaminya itu sedang dalam perjalanan ke gunung Gantara.
"subhanallah, sampai mas Fatah menelpon tiga kali"
Zelina hendak menekan nomor Fatahillah, sayangnya panggilan ibu Khadijah diluar kamar membuat ia mengurungkan niatnya untuk menghubungi Fatahillah. pesan pun tidak dapat ia kirim sebab ibu Khadijah terus memanggil dirinya untuk segera ke depan.
"kamu sedang apa sih nak, lama sekali"
"maaf bu, tadi itu..."
"sudah nanti saja dijelaskan. ayo ke depan semua orang sedang menunggu. Anisa dan Zulaikha sudah didandani kan...?" sambil merangkul lengan menantunya, keduanya menuruni tangga untuk ke bawah
"sudah bu, mereka akan keluar kalau ijab qobul sudah selesai kan"
"iya, memang seharusnya begitu"
keduanya duduk di samping ibu Fatimah bersama Najwa. anak-anak panti, tentu saja ikut menyaksikan pernikahan hari itu. Yusuf dan Fauzan telah duduk di depan pak penghulu, hanya terhalang meja panjang saja yang ditutupi dengan kain warna putih. pak Ilham berada di dekat pak penghulu bersama Arjuna dan juga Afkar. kedua orang tua Yusuf dan Fauzan, tentu saja tidak berada jauh dari mereka.
hari itu, pak Ilham sendiri yang akan menikahkan Zulaikha sebagai keponakannya, anak dari kakaknya. sementara Yusuf, akan dinikahkan oleh pak penghulu yang telah mereka panggil.
sebelum menjabat tangan Fauzan, pak Ilham membuka pembicaraan terlebih dahulu.
"nak Fauzan, setelah ijab qobul engkau ucapkan maka saat itu juga Zulaikha akan menjadi tanggungjawab Kamu sebagai suaminya. sayangi dia dan kasihi dia sebagaimana kamu pernah berjanji di hadapanku untuk menerima dan membahagiakan Zulaikha. jika suatu saat nanti kamu tidak lagi mencintainya, maka kembalikan dia kepadaku secara baik-baik dan janganlah pernah kamu mendaratkan telapak tanganmu di atas tubuhnya. jika itu kamu lakukan, maka demi Allah saya yang akan membuat perhitungan denganmu"
"bimbing dirinya untuk menjadi wanita yang Sholehah dan istri yang baik bagimu. jika nanti Kamu lalai dan salah memilihkan jalan untuknya, maka di alam akhirat nanti, bukan ayahnya yang akan mencari kamu tapi saya sendiri yang akan meminta pertanggungjawaban mu atas dirinya"
tatapan mata pak Ilham tidak berkedip menatap Fauzan yang kini tengah serius mendengarkan amanah yang dilimpahkan laki-laki baya itu kepada dirinya.
"bismillahirrahmanirrahim, demi nama Allah...saya Muhammad Fauzan Muttaqin akan menerima Zulaikha sebagai istri saya dan membimbing dirinya ke jalan yang diridhoi oleh yang Maha Kuasa"
kedua mata ibu Fatimah terasa panas, sekuat mungkin ia tahan air matanya. ibu khadijah merangkul adiknya itu dan mengelus lembut lengannya. kini pak Ilham mulai menjabat tangan Fauzan, ijab qobul akan segera dilaksanakan.
"Muhammad Fauzan Muttaqin, saya nikahkan engkau dengan dengan putri Zulaikha binti Imam, dengan mas kawin emas 30 gram, satu buah rumah dan seperangkat alat sholat dibayar tunai"
"saya terima nikahnya putri Zulaikha binti Imam dengan mas kawin tersebut dibayar tunai"
"bagaimana saksi...?"
"sah"
"sah"
"Alhamdulillah"
selesai dengan Fauzan, kini tibalah giliran Yusuf yang akan mengucapkan ijab qobul. sama seperti Fauzan, hanya dalam satu kali tarikan nafas, Yusuf dapat mengucapkan ijab qobul dengan benar dan lantang. hari itu, dua sepasang kekasih telah resmi menjadi seorang suami istri.
di dalam kamar, Anisa dan Zulaikha meneteskan air mata. hari ini mereka telah berubah status menjadi istri dari laki-laki yang mereka cintai. Najwa dan Zelina masu ke dalam kamar.
"kenapa malah menangis sih" tegur Najwa, padahal sebenarnya ia pun akan ikut menangis namun dirinya tahan
"sedih aja mbak, nggak nyangka hari ini akan tiba juga" Zulaikha mengambil tisu dan menghapus air matanya
"tahan dulu nangisnya, sekarang ayo keluar. para suami kalian telah menunggu di depan" ucap Zelina
kedua pengantin itu menghirup udara sebanyak-banyaknya, mereka keluar dari kamar dengan diapit masing-masing samping kanan dan kiri oleh Najwa dan Zelina. ketika pengantin wanita keluar, semua mata tertuju kepada keduanya. terlebih lagi para suami mereka. Yusuf dan Fauzan terpaku beberapa detik karena terpana dengan kecantikan para istri mereka. Zulaikha duduk di samping Fauzan sementara Anisa duduk disamping Yusuf.
mereka kemudian saling berhadapan, saling memasangkan cincin pernikahan di jari masing-masing pasangan. Yusuf dan Fauzan mencium kening istri mereka sementara para istri mencium tangan suami mereka.
setelahnya, kini giliran para mempelai akan sungkem kepada para orang tua. ibu Fatimah menangis haru mencium anaknya, kini anak gadisnya itu telah sah menjadi istri orang. Anisa yang tidak lagi mempunyai orang tua, menangis tersedu dipelukan ibu mertuanya.
"sekarang mama dan papa akan menjadi orang tua bagi kamu. jangan sungkan kepada kami berdua ya, kamu telah menjadi istri dari Yusuf anak kami. itu berarti sekarang ini kamu adalah putri kami juga"
"terimakasih mah, terimakasih" Anisa merasa bersyukur diterima dengan baik oleh keluarga suaminya
selesai dengan sungkem, para pengantin mulai duduk di pelaminan. tadinya acara pernikahan itu hanya akan digelar sederhana namun ternyata bahkan diluar pemikiran mereka, pernikahan itu begitu meriah meskipun tidak mencetak undangan untuk para tamu, para teman dan keluarga saja sudah cukup memeriahkan pernikahan. hanya saja, teman-teman Zulaikha memang tidak diundang, sebab pernikahan mereka masih harus dirahasiakan sebab Zulaikha belum lulus sekolah dan belum ujian.
satu persatu semua orang naik ke pelaminan untuk mengucapkan selamat kepada pengantin. anak-anak panti tidak ketinggalan, mereka berjejer rapi dan memberikan salaman. doa tulus yang keluar dari bibir mereka, membuat para pengantin terharu dan mengaminkan doa anak-anak itu.
segala makanan yang dimasak semalam dan kemarin, telah tersedia di atas meja. para tamu mulai sibuk dengan makanan yang tersedia.
menjelang siang, sudah banyak yang pulang ke rumah mereka. acara foto bersama pun telah selesai. di dapur, ibu Fatimah dan ibu Khadijah membantu membungkus makanan dan juga beraneka ragam kue untuk ibu-ibu yang membantu mereka sejak kemarin. tidak lupa juga, mereka memberikan amplop kepada ibu-ibu itu sebagai rasa tanda terimakasih telah membantu mereka.
selesai sholat ashar, acara telah selesai. para ibu-ibu mulai berpamitan untuk pulang ke rumah masing-masing. Zelina bersama anak-anak panti yang sudah dapat membantu, mereka membungkus makanan di dalam kotak dan juga kue-kue yang masih banyak tersisa. makanan itu akan dibagikan kepada orang-orang yang ada di jalanan.
orang tua Yusuf dan Fauzan telah berpamitan untuk pulang. kini tinggallah kelurga dekat saja yang masih berada di tempat. Aminah, Intan dan Anjani membantu membungkus makanan. Najwa bersama Arjuna mengatur minuman botol yang akan dibagikan nantinya.
selesai sholat ashar, semua makanan yang telah di bungkus dimasukkan ke dalam mobil dan akan dibagikan kepada setiap orang yang mereka temui nanti. Zulaikha ingin ikut serta namun Zelina melarangnya. untuk pengantin, mereka tidak diizinkan keluar rumah.
tiga mobil keluar dari halaman panti asuhan. Zelina bersama dua orang sepupu Zulaikha yaitu Anjani dan Intan. Afkar bersama dengan Arjuna sementara Najwa bersama dengan Hana. mobil mereka mengarah ke jalan raya. setiap melihat orang-orang yang benar-benar membutuhkan makanan, mereka berhenti dan membagikannya.
hampir menjelang magrib, semua makanan yang dibungkus tadi telah habis dibagikan. kini mereka kembali pulang ke rumah.
selesai sholat magrib, Zelina menghubungi suaminya. panggilan pertama tidak diangkat oleh Fatahillah, bahkan panggilan kedua pun belum juga direspon oleh suaminya itu.
"apa mungkin mas Fatah sedang sibuk lagi ya" Zelina menerka-nerka
ia pun hendak mencoba untuk menghubungi sekali lagi, namun ternyata pesan dari suaminya lebih dulu masuk sehingga ia urungkan niat itu.
Fatahillah : maaf sayang, aku tidak bisa mengangkat telepon darimu. kondisinya tidak memungkinkan sekarang. jangan khawatir, aku baik-baik saja. titip salam untuk ibu dan anak-anak kita ya, aku mencintaimu
meskipun tidak dapat melihat, namun hanya dengan menerima pesan dari suaminya sudah dapat mengobati sedikit rindu Zelina kepada suaminya itu. ia pun membalas pesan Fatahillah.
Zelina : hati-hati ya mas, tetaplah dalam keadaan sehat. aku selalu menunggu kamu pulang. aku juga mencintaimu
pesan terkirim namun masih centang satu, itu artinya Fatahillah belum membaca pesan darinya. sebait doa ia langitkan untuk Fatahillah dan teman-temannya.
karena merasa lapar, Zelina memutuskan untuk turun ke bawah. masih berada diambang pintu, kepalanya terasa pusing dan pandangannya mulai gelap. sekuat tenaga ia berpegang di daun pintu, mencoba menahan tubuhnya agar tidak ambruk di lantai. sayangnya, tenaganya begitu lemas bahkan rasa pusing semakin menjadi. Zelina jatuh pingsan di depan kamarnya.
satu jam berada di atas ranjang tanpa membuka mata, semua orang menjadi khawatir dan panik. Anisa sebagai seorang dokter memeriksa keadaan Zelina. semua orang menunggu di luar, penuh dengan raut wajah khawatir dan gelisah.
"nek, ibu kenapa...? kok nggak bangun-bangun" anak kecil berusia tujuh tahun yang sedang berada dipangkuan ibu Khadijah, menanyakan keadaan Zelina
"ibu sedang istirahat sayang karena capek seharian. Nawang mengaji sama yang lain dulu ya, nanti kalau ibu bangun, nenek beritahu Nawang" dengan lembut ibu Khadijah memberitahu
"tapi ibu baik-baik saja kan...?" mata bulatnya menatap ingin meminta jawaban
"iya, ibu baik-baik saja. sekarang Nawang belajar ngaji ya"
"baik nek"
anak kecil bernama Nawang itu, turun dari pangkuan ibu Khadijah menyusul semua anak-anak panti yang akan belajar mengaji. mereka akan diajar oleh Afkar. jika biasanya Zelina yang mengajari mereka, untuk saat ini wanita itu tidak bisa mendampingi mereka.
"bagaimana sayang...?" Yusuf bertanya saat Anisa keluar dari kamar
"bagaimana kalau kita duduk dulu" ajak Anisa
semuanya mengangguk, mereka segera duduk di sofa yang ada di lantai dua. dengan harap-harap cemas, Anisa menjadi target tatapan mata semua orang.
"bagaimana nak...? Zelina baik-baik saja kan" tanya ibu Fatimah
"Zelina hanya kecapean saja bu, sejak kemarin dirinya sudah sibuk menyiapkan semuanya makanya energinya terkuras"
"benar hanya kecapean, tidak ada penyakit yang serius kan...?" ibu Khadijah memastikan
"sebenarnya.... Zelina sekarang ini..."
"kenapa dengan mbak Zelina mbak Anisa. mbak Zelina tidak mengidam penyakit yang serius kan...?" Arjuna mulai nampak tegang
"apa perlu dibawa ke rumah sakit saja" ucap pak Ilham
"iya, biar kita tidak panik seperti ini" timpal ibu Intan
"tidak perlu cemas. sebenarnya Zelina pingsan karena kecapean, sekarang ini dia sedang mengandung" Anisa tersenyum lebar memberitahu kabar bahagia itu
"mengandung...? maksud kamu Zelina hamil...?" ibu khadijah sudah nampak berkaca-kaca
"iya bu, ibu akan mempunyai seorang cucu nantinya. menurut pemeriksaan saya, Zelina sedang hamil. untuk lebih pastinya, besok biar Zelina periksa di dokter kandungan"
"masya Allah, Allahu Akbar" ibu Khadijah tidak dapat lagi membendung air matanya
semua orang bersuka cita mendengar kabar bahagia itu. tidak menyangka malaikat kecil telah Allah titipkan di rahim wanita Sholeha yang akan menjadi ibu nantinya. Zelina yang telah siuman ikut merasakan tangis haru bahagia setelah diberitahu oleh Anisa. andai Fatahillah ada disampingnya, mungkin laki-laki itu akan sujud syukur karena kini tidak lama lagi dirinya akan menjadi seorang ayah.
(tetap sehat dan kuat ya nak, temani ibu sampai ayah datang bersama kita. jangan cengeng ya nak. ayah berada jauh dengan kita namun kita berdua akan selalu ada di hatinya. ibu penasaran bagaimana reaksi ayah jika mengetahui kamu sudah berada di dalam perut ibu)
Zelina mengelus perutnya yang masih rata, berharap anaknya di dalam sana terus dalam keadaan sehat sampai nanti ia lahir ke dunia.
***
setelah sholat ashar di salah satu masjid, kini mereka telah kemalaman di jalan. desa yang telah mereka lalui adalah tempat mereka tadi melaksanakan sholat ashar dan saat ini mereka belum menemukan desa yang lain.
dengan terpaksa mereka berhenti di sebuah sungai dimana ada satu gubuk di sekitar itu. entah gubuk siapa, untuk saat ini mereka akan sholat magrib di rumah kecil itu.
mengandalkan senter ponsel masing-masing, mereka menuruni jalanan yang sedikit curam agar bisa sampai di bawah sana, di sungai tempat mereka untuk berwudhu.
"apa sekalian kita mandi di sini saja" ucap Akmal, air sungai yang jernih ia gunakan untuk membasuh wajahnya
segera mereka berwudhu, kemudian naik kembali ke atas. menuju gubuk yang ada, malam semakin terlihat, begitu gelap jika tidak ada cahaya senter ponsel mereka.
"assalamualaikum" Fatahillah memberi salam
merasa tidak ada yang menjawab salam, Fatahillah mendorong pintu rumah itu. sepi di dalam tidak ada orang. karena waktu magrib adalah waktu yang paling sedikit dibandingkan dengan waktu sholat yang lain, maka mereka tidak lagi bergiliran. di dalam yang tidak begitu luas, mereka gunakan untuk sholat magrib berjamaah.
setelah melakukan sholat magrib, mereka akan meninggalkan tempat itu. tidak mungkin untuk istrahat di tempat yang sempit seperti itu, apalagi bisa dikatakan mereka berada di jalanan yang dimana samping kiri kanan adalah hutan. ponsel baterai Fatahillah tersisa 10 persen lagi, saat Zelina menelponnya ia tidak lagi mengangkat panggilan istrinya itu sebab sekarang ini dirinya merasa di tempat itu ada beberapa pasang mata yang sedang mengintai mereka. ia harus menggunakan 10 persen itu sebagai penerangan untuknya. dirinya hanya mengirimkan pesan kepada Zelina.
"kenapa berhenti...?" tanya Aji Wiguna saat Fatahillah menghentikan langkah
"tidak kenapa-kenapa"
Fatahillah kembali melangkah, telinganya dipertajam untuk mengawasi gerak-gerik yang ia perkirakan ada orang yang sedang memperhatikan mereka semua dibalik pohon-pohon besar yang ada di sekitar itu. hampir sampai di mobil, Fatahillah menghentikan langkah kembali.
"matikan senter kalian" ucapnya
"lah memangnya kenapa, bagaimana kita bisa melihat jalan kalau senter dimatikan" timpal Alex
"matikan saja"
mereka patuh dan mematikan senter ponsel masing-masing. kini di sekitar itu begitu gelap gulita. beberapa menit berlalu, terdengar suara langkah kaki yang sedang berjalan perlahan ke arah mereka.
"ada orang" bisik Akmal, telinganya ia pertajam
"jangan-jangan mereka perampok" bisik Hasan
suara langkah kaki itu semakin mendekat ke arah mereka. hingga tiba saat orang-orang itu sudah berada di depan mereka, Fatahillah mengeluarkan api dari telapak tangannya. bola-bola api itu melayang ke atas menerangi tempat itu. terlihatlah beberapa orang yang kaget kalau ternyata kedatangan mereka diketahui oleh lima pemuda itu.
"wah hebat juga ternyata kalian ya" salah seorang yang memegang pedang tajam tersenyum kecil "tapi bukan berarti kami akan takut. orang-orang seperti kalian ini, bukan tandingan kami" ejeknya dengan senyuman sinis
"oh ya" Akmal menatap lekat " pedangmu bagus ya, aku penasaran apakah pedangmu itu bisa mengalahkan pedang sakti ku ini" Akmal mengeluarkan benda kecil dari telapak tangannya
melihat senjata yang dikeluarkan Akmal, orang-orang itu tertawa mengejek.
"satu tebasan saja sudah pasti senjata kecilmu itu akan patah dan hancur"
"mau mencoba...?" Akmal tersenyum tipis
"begini saja, bagaimana kalau kita mengadakan perundingan. serahkan harta yang kalian punya maka nyawa kalian akan aman"
"bagaimana kalau kalian memberikan kami jalan untuk lewat dengan begitu nyawa kalian yang akan aman" sahut Aji Wiguna
"sombong sekali kamu, sehebat apa dirimu sampai mengancam kami hah" sebuah golok besar telah berada di leher Aji Wiguna
Aji Wiguna hanya tersenyum tipis, berikutnya orang itu melayang terbang ke atas dan tersangkut di atas pohon. sementara goloknya kini telah berada di tangan Aji Wiguna.
orang-orang itu kaget, teman mereka hanya dengan satu pukulan saja sudah berada di atas pohon.
"ada yang ingin berakhir seperti dia...? masih beruntung aku tidak membunuhnya" Aji Wiguna memainkan golok yang ada di tangannya
"kurang ajar, bunuh mereka"
bola api yang ada di atas sana, bergerak menyerang mereka. itu adalah semacam pengalihan yang dilakukan Fatahillah agar orang-orang itu fokus menyelamatkan diri dari bola apinya sementara Fatahillah melesat seperti angin, menghajar satu persatu orang-orang itu. bahkan ada yang ia lempar ke dalam sungai dan hanyut bersama derasnya air sungai. mereka bukanlah orang-orang yang dapat mengancam nyawa kelimanya sehingga Fatahillah tidak sampai hati membakar tubuh mereka dengan api mustika merah. merasa yang paling kuat padahal hanya dalam hitungan menit saja, orang-orang itu telah berhasil dilumpuhkan. seperti sayuran, mereka diikat di batang pohon dengan wajah yang telah babak belur.
"dasar keras kepala. bukankah kami sudah memberikan kesepakatan membiarkan kami pergi, dasar memang sombong makanya jadi babak belur kan. apa perlu kami cincang kalian semua" Akmal menggertak
"ampun bang...ampun, kami tidak akan mengganggu kalian lagi" mereka memohon dengan wajah tegang
"bukan hanya kami, tapi semua orang yang melewati tempat ini tidak boleh kalian ganggu lagi, jika tidak....ku colok mata kalian" Hasan menunjuk kedua mata salah seorang yang ada di dekatnya
"iya...iya kami janji tidak akan mengganggu lagi"
"bagaimana jika kalian tidak menepati janji...?" ucap Fatahillah
semuanya terdiam, saling pandang karena tidak tau konsekuensi apa yang harus mereka terima jika masih melakukan perampokan. Alex yang merasa kehausan berjalan ke arah mobil mengambil air mineral dan ia kembali lagi.
"JAWAB" gertak Akmal
byuuuur....
Alex yang sedang meneguk minumannya, karena kaget mendengar teriakan Akmal, ia menyembur wajah orang-orang itu dengan air minum yang ada di mulutnya.
"uhuk...uhuk, kampret lu Mal" Alex memukul dadanya yang terasa nyeri
"maaf mas, soalnya aku terlalu menghayati peran" Akmal cengengesan
Alex mencebik dan melempar Akmal dengan batu kecil yang ia pungut di tanah. ingin sekali rasanya menjitak kepala pemuda itu. bajunya basah karena ulah Akmal.
"kita tinggalkan saja mereka di sini" ucap Aji Wiguna
"eh jangan pergi dulu. bagaimana kalau kita gantung mereka di atas pohon sana" Akmal menengadah ke atas
"jangan-jangan...kami janji tidak akan merampok lagi. ampuni kami"
"elleh...gayamu. tadi aja kamu mengejek pedangku yang kecil. mau ku tunjukkan kehebatan pedang milikku" Akmal mendekati orang itu
"tidak...tadi saya hanya bercanda. jangan dimasukkan ke dalam hati"
"sudah telat, saya sudah memasukkan ke dalam ampela. siap-siap digantung di atas sana" gerutu Akmal
benar saja, orang-orang itu kini digantung terbalik oleh Akmal. ya, hanya Akmal sendiri karena hanya dirinya yang ingin seperti itu. sementara yang lain duduk santai memperhatikan.
"bantuin kek mas"
"kan kamu yang ingin seperti itu, ngapain harus bantu" Hasan menjawab santai
dengan mulut komat-kamit, Akmal mengikat tali di batang pohon. setelahnya ia bergabung bersama yang lain.
"dadaaaa besti....jumpa lagi yaaa" Akmal melambaikan tangan saat orang-orang itu meminta untuk diturunkan
tanpa menghiraukan rengekan dari orang-orang itu, mereka masuk ke dalam mobil dan meninggalkan tempat itu. 2 jam perjalanan, mereka sampai di tempat ramai yang dihuni oleh masyarakat. hotel menjadi salah satu tempat tujuan mereka saat ini, karena mereka tidak mempunyai kenalan di tempat baru itu. mencari sekitar 10 menit, sebuah hotel mewah telah berada di depan mereka. sudah pukul 20.00 lewat untuk saat ini. mereka memesan dua kamar sebab tidak mungkin satu kamar dihuni oleh lima orang. tidak ada karpet atau semacamnya untuk mereka tidur di bawah ranjang.
Akmal bersama Fatahillah dan Hasan, Aji Wiguna satu kamar dengan Alex. mendapatkan tempat untuk istirahat, mereka menghempaskan tubuh di atas ranjang. selesai sholat isya, lanjut makan malam. kini di kamar Aji Wiguna, keduanya telah terlelap tidur. sementara di kamar satunya, Fatahillah mencoba menghubungi istrinya karena baterai ponselnya telah terisi beberapa persen meskipun belum penuh.
Fatahillah
assalamualaikum sayang
Zelina
wa alaikumsalam mas...mas dimana sekarang. mas baik-baik saja kan...?
Fatahillah
aku baik-baik saja. bagaimana pernikahan Yusuf dan Fauzan, semuanya lancar kan...?
Zelina
lancar mas, Alhamdulillah. sekarang mereka telah sah menjadi suami istri.
Fatahillah
lalu ibu bagaimana...?
Zelina
ibu di bawah mas bersama dengan yang lain. oh iya, kapan ibu Laila akan ke sini. ibu sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya
Fatahillah
ibu tidak jadi ke sana sayang
Zelina
loh kenapa, apa terjadi sesuatu...?
Fatahillah
ibu menemani Farhan ke gunung Sangiran untuk berobat. ibu tidak mau pisah dengan Farhan, makanya itu ibu ikut ke sana
Zelina
Farhan saudara kembar kamu kan...? memangnya dia kenapa...?
Fatahillah
dia sakit parah.
Fatahillah mulai menceritakan apa sebenarnya yang terjadi dengan keadaan Gara sehingga saudara kembarnya itu harus dibawa ke gunung Sangiran
Zelina
kasian sekali, kamu harus hati-hati mas. pulang harus dalam keadaan baik-baik saja. aku dan anak kita selalu menunggu kamu pulang
Fatahillah
iya sayang, aku juga rindu ingin bertemu denganmu dan anak-anak
Zelina
yang aku maksud bukan anak-anak panti mas
Fatahillah
maksudnya...?
Zelina
di dalam perut aku, ada malaikat kecil yang akan memanggil kita ayah dan ibu jika ia lahir nanti. aku hamil mas...mas akan jadi seorang ayah
Fatahillah
Allahuakbar
perasaan haru, bahagia bercampur menjadi satu. Fatahillah tidak dapat membendung air matanya. ia bahkan sujud syukur berterimakasih kepada sang pencipta telah memberikan kepercayaan kepadanya untuk menjadi seorang ayah.
Fatahillah
kamu tidak bercanda kan sayang. apa kamu sudah periksa ke dokter...?
Zelina
Anisa telah memeriksanya mas, dan aku pun tadi sudah melakukan tes urin. hasilnya positif
Fatahillah
masya Allah... terimakasih sayang... terimakasih untuk kabar bahagianya. aku benar-benar bahagia
Zelina
aku juga mas. mas harus pulang dalam keadaan baik-baik saja ya. aku dan anak kita menunggu mas pulang
Fatahillah
iya sayang. aku mencintaimu... sungguh aku mencintaimu
suara serak Fatahillah, dapat Zelina tebak kalau suaminya itu sedang menangis. ia benar-benar tidak menyangka, Fatahillah akan sebahagia itu mendengar kabar kehamilannya. keduanya berharap, mereka dipertemukan kembali dalam keadaan yang baik-baik saja dan bisa berkumpul seperti hari-hari kemarin.