Fatahillah

Fatahillah
Bab 38



kedua pasangan suami istri itu nampak begitu bahagia karena selama beberapa jam ke depan mereka tidak akan diganggu oleh siapapun. Fatahillah memang sengaja mencari waktu untuk berdua dengan istrinya. dia ingin merasakan bagaimana berpacaran setelah menikah, bagaimana saling bercengkrama dengan kekasih yang telah halal baginya.


setelah melaksanakan sholat isya, Fatahillah mengajak istrinya ke suatu tempat. di tepi pantai yang jika malam hari maka suasananya akan terlihat romantis apalagi bersama dengan pujaan hati.


mereka berjalan santai di pinggir pantai dan saling berpegangan tangan. ada banyak pasangan muda-mudi yang berada di tempat itu. rupanya selain siang hari, malam hari pun pantai tersebut masih di minati oleh orang-orang.


"sayang" panggil Fatahillah


"iya" Zelina melihat ke samping untuk dapat menatap wajah suaminya


"apakah kamu senang...?" tanya Fatahillah


"sangat, aku sangat senang. terimakasih ya mas sudah mengajak aku jalan-jalan seperti ini. sudah lama sekali aku tidak merasakan ketenangan seperti ini" Zelina tersenyum di balik cadarnya


Fatahillah mengusap lembut kepala Zelina yang tertutup dengan hijabnya. setelah itu mereka ke tempat dimana suasana romantis begitu terlihat. satu meja bundar dan dua kursi, serta makanan yang sudah tertata rapi di atasnya. lilin indah yang ada di samping kanan kiri dan juga sebuket bunga mawar merah yang terletak di atas meja.


"masya Allah, kamu menyiapkan semua ini untukku mas...?" Zelina menatap Fatahillah dengan mata yang berbinar


"iya" Fatahillah mengambil bunga mawar itu dan memberikannya kepada Zelina


"bunga yang cantik untuk wanita yang cantik"


"terimakasih mas, aku sangat bahagia"


Zelina langsung memeluk Fatahillah. malam ini adalah hari terindah untuknya. tidak disangkanya ternyata suaminya memiliki sisi yang romantis.


"ayo duduk"


Fatahillah menggeser kursi agar Zelina bisa duduk setelah itu ia berputar dan duduk di depan istrinya.


"makannya enak-enak semua, aku jadi lapar"


"makanlah, aku memang sengaja memesan sebanyak ini agar kamu bebas memilih"


Fatahillah tersenyum dan tentu saja Zelina membalas senyuman itu. meskipun bibirnya tidak terlihat namun matanya dapat memperlihatkan kalau dirinya begitu bahagia.


di tengah-tengah mereka menikmati makanan yang ada di atas meja, seorang anak laki-laki yang berumur sekitaran 15 tahun datang menghampiri mereka dengan memegang sebuah gitar.


"permisi mas, mbak....boleh aku menghibur kalian...?" tanya remaja itu


"boleh, silahkan" jawab Fatahillah


remaja itu berdiri di samping keduanya. ia memakai jaket warna merah dan celana pendek sampai di lutut serta sendal jepit namun di bagian tumit sendalnya itu telah bolong hingga tumitnya jelas menginjak di pasir.


Fatahillah yang telah selesai makan mulai menopang wajahnya dengan kedua tangannya, menikmati lagu yang disuguhkan oleh remaja itu. sedang Zelina menyilang kaki kanannya di atas paha kirinya dan memperhatikan remaja itu.


lagu dibawakan adalah lagu romantis karena remaja itu melihat kalau sepertinya kedua orang yang berada di depannya itu sedang berkencan sehingga ia menciptakan suasana yang romantis untuk mereka berdua dengan petikan gitar dan suaranya yang merdu.


prok


prok


prok


Fatahillah dan Zelina bertepuk tangan setelah remaja itu mengakhiri nyanyiannya.


"suara kamu bagus sekali" ucap Zelina memuji karena memang begitu yang ia dengar


"makasih mbak" remaja itu tersenyum sopan


"siapa namamu...?" tanya Fatahillah


"Arjuna pak, panggil saja Arjun" jawabnya


Fatahillah ingin bercerita lama dengan Arjuna sehingga ia meminta kursi di salah seorang yang menyiapkan kejutan untuk istrinya tadi.


"duduklah" ucap Fatahillah


"tapi...." Arjuna terlihat ragu untuk bergabung bersama mereka


"tidak apa-apa, kami sama sekali tidak terganggu, duduklah" ucap Zelina karena ia tau Arjuna pasti sungkan


"terimakasih mas, mbak"


Arjuna duduk bersama Fatahillah dan Zelina. gitarnya ia biarkan terbaring di samping kakinya.


"kamu sudah makan...?" tanya Zelina


"emmm... belum mbak" Arjuna menjawab dengan sungkan


Zelina tersenyum dan memanggil laki-laki yang Fatahillah panggil tadi untuk membawakan makanan. menunggu beberapa menit, makanan datang dan tersaji di depan Arjuna.


"makanlah, jika kamu lapar bagaimana bisa menghibur kami nantinya" ucap Zelina


Fatahillah terharu dengan perlakuan istrinya. dalam hatinya ia benar-benar bersyukur mendapatkan istri yang bukan hanya cantik fisiknya namun cantik juga hatinya.


Arjuna makan dengan lahap. Fatahillah dan Zelina saling tatap karena remaja itu terlihat begitu kelaparan.


"pelan-pelan, tidak akan ada yang mengambil makananmu" Fatahillah melap bibir Arjuna yang belepotan karena nasi


"maaf kak, soalnya aku lapar sekali" jawab Arjuna tidak enak hati


setelah selesai makan, tiba-tiba saja hujan turun membasahi mereka. dengan terpaksa ketiganya mencari tempat untuk berteduh. untungnya di dekat mereka ada sebuah gazebo, di situlah mereka berteduh.


"terimakasih banyak atas makannya kak, hari ini aku tidak kelaparan lagi" ucap Arjuna


hati Zelina begitu teriris, anak seusia Arjuna yang harusnya hanya memikirkan pendidikan namun ternyata ia harus mengamen untuk mencari sesuap nasi.


"kamu sering ke sini...?" tanya Fatahillah


"sering mas, tapi kadang banyak yang menolak dan mengusirku karena penampilan aku yang berantakan" jawab Arjuna


"orang tuamu dimana...?" tanya Fatahillah


"aku yatim piatu mas" Arjuna menjawab dengan kepala tertunduk


"lalu sekarang kamu tinggal dimana...?" tanya Zelina yang begitu merasa iba dan kasihan


"aku tidak punya rumah Mbak. kadang aku tidur di depan toko orang dan kadang juga di kolong jembatan" jawab Arjuna


begitu miris kehidupan anak itu, terlunta-lunta tanpa tujuan dan bertahan hidup hanya dengan cara menghibur orang-orang dengan suaranya.


"mas, bukankah kita akan membangun panti asuhan. Afkar bilang rumah utama milik keluargaku telah selesai di renovasi. bagaimana kalau Arjun kita bawa bersama kita. di panti asuhan aku akan menanggung semua kehidupannya, kehidupan anak-anak yang terlantar dan tidak mempunyai orang tua tua" ucap Zelina


sebelum mereka berangkat ke kota B, keduanya memang pernah sepakat untuk membangun panti asuhan. rumah utama keluarga Zelina, akan mereka jadikan panti asuhan karena Fatahillah dan ibu Khadijah menolak untuk tinggal di rumah besar itu.


"boleh juga itu sayang, di sana Arjun akan hidup seperti anak-anak sebayanya. bagaimana Arjun, apakah kamu mau ikut bersama kami. tenang saja kami tidak akan membiarkan hidupmu sengsara. di panti asuhan, kamu akan sekolah dan kami berdua akan membiayai pendidikan mu" ucap Fatahillah


"iya, sekarang akan sudah mulai berjalan. bagaimana, kamu mau ikut bersama kami...?" tanya Zelina


"tapi... apakah aku benar-benar akan sekolah lagi...?" Arjuna memastikan pendengarannya tadi


"tentu saja. panti asuhan yang akan bangun akan menyekolahkan anak-anak panti sampai di perguruan tinggi. kamu bisa memilih jurusan yang kamu inginkan untuk kuliah nanti. asal satu hal yang harus kamu patuhi" ucap Zelina


"apa itu...?" tanya Arjuna


"kamu harus mematuhi semua peraturan dan larangan apa saja yang aku dan suamiku larang. bagaimana...?"


"mau mbak, aku mau sekali" Arjuna langsung mengangguk cepat dan bahkan air matanya mengalir membasahi kedua pipinya


Fatahillah merangkul remaja itu, dan menepuk pelan pundaknya. sementara Arjuna, malah memeluk erat Fatahillah dan mengucapkan berkali-kali rasa terimakasih karena akan menjamin kehidupannya nanti.


"tapi sebelum kita kembali ke kota B, kamu harus ikut kami terlebih dahulu ke pesantren karena sekarang ini kami sedang tinggal di pesantren. kami sedang membawa saudara berobat" ucap Fatahillah


"iya mas, aku malah lebih senang bisa melihat bagaimana suasana di dalam pesantren" jawab Arjuna menghapus air matanya


Zelina tersenyum lega karena Arjuna ingin ikut bersama mereka.


setelah hujan redah mereka akan ke pasar malam untuk membelikan pakaian Arjuna karena tidak mungkin mereka membawanya ke pesantren tanpa menyiapkan pakaian untuknya.


Arjuna memilih baju-baju dan celana yang ia suka. Zelina juga membelikan baju koko dan juga celana serta sarung untuk Arjuna beribadah nantinya. sendal jepit yang ia pakai tadi sudah tergantikan dengan sendal yang baru.


jam 10 malam, mereka pulang ke hotel yang telah dipesan oleh Fatahillah. sebelumnya Fatahillah memesan satu kamar hanya untuknya dan istrinya namun karena sekarang sudah ada Arjuna maka ia memesan satu kamar lagi yang bersampingan dengan kamar mereka.


"kamu istirahatlah" Fatahillah memberikan kunci hotel yang berbentuk seperti kartu kredit


"terimakasih mas" ucap Arjuna


Arjuna masuk ke dalam kamarnya sementara itu Fatahillah dan Zelina pun masuk ke dalam kamar mereka. Zelina memilih untuk membersihkan diri karena sejak mereka keluar dari pesantren tadi, mereka belum mandi sampai saat ini. Fatahillah lebih memilih bersantai di balkon hotel dengan memandangi lampu yang berkelap-kelip diluar sana.


karena merasa dingin, Fatahillah masuk ke dalam dan menutup jendela kamar. saat berbalik, ia dapat melihat Zelina yang hanya mengenakan gaun tipis sampai di lutut. rambutnya yang panjang tergerai, kulit mulus yang selama ini dibungkus oleh pakaian syar'i kini nampak di depan mata Fatahillah.


Zelina mendekati suaminya yang hanya diam mematung tanpa berniat untuk menghampirinya. sebenarnya Zelina pun merasa malu mengenakan pakaian seperti itu namun demi menyenangkan hati suaminya yang tentu saja mendapatkan pahala, maka dengan membuang rasa malunya, Zelina berdandan secantik mungkin untuk memikat hati Fatahillah.


dengan mulut yang terkatup rapat, bahkan tubuhnya kini telah tegang, Fatahillah mencoba untuk mengendalikan perasaannya saat melihat istrinya yang kini sedang berjalan manis menghampirinya.


"mas" panggil Zelina dengan lembut


"sayang...kamu....."


"kenapa, aku tidak cantik ya. memakai baju ini...?"


"bukan seperti itu" Fatahillah menggeleng cepat


"lalu...?" Zelina mengangkat keningnya, ia berpikir apakah Fatahillah tidak tertarik padanya


apalagi melihat Fatahillah yang hanya diam saja membuat Zelina merasa sangat malu dan membalikkan badan untuk menjauhi Fatahillah. sayangnya seketika itu juga tubuhnya tertarik dan Fatahillah memeluknya dari belakang.


"kamu cantik, sangat cantik. sepertinya...kamu sudah siap ya...?" bisik Fatahillah membuat tubuh Zelina menegang


"memangnya mas Fatah tidak menginginkan aku...?" Zelina berbalik dan menatap kedua netra mata Fatahillah


jantung keduanya berpacu dengan cepat, bahkan nafas keduanya pun begitu dekat.


"aku belum mandi, kamu mau kan menunggu aku...?" tanya Fatahillah


Zelina mengangguk dan tersenyum. meski gugupnya bukan main namun Fatahillah memberanikan mencium kening Zelina setelah itu ia melesat masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintunya.


"astagfirullahaladzim"


"eh salah...bodoh banget kamu Fatah. istri cantik bagai bidadari seperti itu malah istighfar" Fatahillah memukul kepalanya sendiri


ia memegang dadanya yang masih terasa degub jantungnya yang seperti ingin meledak. berkali-kali Fatahillah menarik nafas dan membuangnya. ia melakukan itu berulang kali untuk mengendalikan dirinya.


setelah merasa tenang, Fatahillah mulai membersihkan dirinya di bawah guyuran shower yang membasahi tubuhnya. setelahnya ia keluar dari kamar mandi dengan handuk yang hanya ia lilitkan di pinggang. ia tidak mendapati keberadaan Zelina namun baju untuknya telah tersedia di atas ranjang.


"kemana perginya" gumam Fatahillah sambil memakai pakaiannya


Fatahillah melihat pintu ke arah balkon yang terbuka. ia pun tau dimana istrinya sekarang. Fatahillah berjalan ke arah balkon dan benar saja Zelina sedang berada di sana. duduk di sebuah kursi dengan jubah yang ia pakai, hijab dan cadarnya.


"di sini dingin, ayo masuk ke dalam" Fatahillah menarik tangan Zelina membawanya masuk ke dalam kamar


pintu balkon di tutup. Zelina kembali membuka hijab dan cadarnya sehingga dress merah maron yang ia kenakan tadi terlihat kembali.


"kita... sholat sunah dulu ya" ucap Fatahillah


"iya mas"


Zelina tau sholat apa yang akan mereka lakukan sehingga ia tidak bertanya lagi. setelah berwudhu keduanya mulai melaksanakan sholat sunah dua rakaat, sholat yang dilakukan sebelum suami istri saling bertemu di atas tempat tidur.


"assalamu'alaikum warahmatullahi" salam ke kanan


"assalamu'alaikum warahmatullahi" salam ke kiri


setelah mengucapkan salam, Fatahillah berbalik badan. seperti biasa Zelina akan mencium punggung tangan suaminya sementara Fatahillah mencium kening istrinya.


keduanya begitu canggung padahal sebelumnya mereka biasa saja. bahkan sudah sepakat untuk menjalani kehidupan rumah tangga yang serius dan semua itu jelas saja salah satunya harus melewati ibadah di tempat tidur.


"apa kamu sudah siap...?" tanya Fatahillah


"aku siap lahir batin mas" jawab Zelina


Fatahillah mendekati Zelina dan memegang ubun-ubun istrinya itu. setelahnya ia membaca doa, doa khusus untuk pasangan suami istri melakukan ibadah. setelah membaca doa, Fatahillah membuka mukenah Zelina hingga rambut panjang istrinya tergerai dengan indah.


"kamu cantik"


hal itu membuat Zelina tersipu malu dan menundukkan kepala. Fatahillah memegang dagu istrinya dan mengangkatnya agar mata mereka saling beradu tatap.


"kita ke tempat tidur ya" ucap Fatahillah dan Zelina mengangguk


"bismillahirrahmanirrahim"


Fatahillah menggendong Zelina dan membawanya ke tempat tidur. ia baringkan dengan pelan tubuh ramping istrinya sementara tangan Zelina memeluk leher Fatahillah.


lampu kamar dimatikan dan hanya menyisakan lampu tidur. meskipun begitu Keduanya dapat saling melihat wajah satu sama lain dengan begitu jelas.


"aku mencintaimu Zelina Muhatmainnah" ucap Fatahillah dengan suara yang sudah berubah parau bahkan Zelina dapat melihat mata suaminya yang mulai berkabut


"aku juga mencintaimu Fatahillah Malik" jawab Zelina tersenyum


malam itu untuk pertama kalinya selama mereka menikah, malam itu adalah malam pertama bagi Fatahillah dan Zelina. keduanya sama-sama meneguk indahnya surga dunia yang baru pertama kali mereka rasakan.