Fatahillah

Fatahillah
Bab 100



GRAAARR


Gangan melompat hendak menerkam dan hal itu dihalangi oleh Langon. kedua harimau itu mulai saling serang. sementara Gara kini berhadapan dengan Fatahillah. keduanya beradu tarung saling serang satu sama lain.


guru Halim tentu saja tidak akan membiarkan gubuknya hancur karena ulah kedua pemuda itu. guru Halim melesat begitu cepat dan menarik keduanya keluar dari rumah. melihat tuannya diseret keluar rumah, Gangan berlari ikut ke luar, Langon mengejarnya dan kedua harimau itu berdiri di samping masing-masing tuan mereka.


"kamu yakin akan menghadapi kami dengan keadaan kamu yang seperti itu...?" guru Halim bertanya dengan nada lembut


"hhh...jangan pikir karena kalian berdua aku akan takut, tidak ada kata takut dalam kamus Gara Sukandar"


"kamu lebih memilih bertarung daripada diobati...?"


"jangan pura-pura tau tentang keadaanku pak tua" Gara sebenarnya masih merasakan sakit, namun karena merasa dirinya dalam keadaan terancam maka sakit itu ia tahan sekuat mungkin "kamu bukan Tuhan yang tau segala sesuatu tentang manusia yang lain"


"tapi kenyataannya memang kamu sedang sakit. apa kamu tau, sakit mu itu semakin lama akan semakin membuat kamu tersiksa. kamu terkena santet ilmu hitam, bahkan lebih berbahaya dari angin beracun"


"santet...?" sungguh Gara kaget mendengarnya, ilmunya begitu tinggi namun dirinya bahkan sama sekali tidak mengira kalau dia akan terkena santet ilmu hitam. namun kecurigaan lebih besar daripada kepercayaannya maka Gara tentunya tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh guru Halim


"tidak usah membawa ucapan bohong pak tua. sekarang biarkan aku pergi atau kalian berdua aku bunuh. jangan berpikir kalian berdua lantas aku tidak akan bisa membunuh kalian"


"Gara Sukandar, apa kamu ingin bertarung dengan saudara kandungmu sendiri..?"


"saudara kandung...?"


bukan hanya Gara yang terkejut, kali ini Fatahillah bahkan kaget begitu ia mendengarkan apa yang baru saja guru Halim katakan.


"maksudnya guru apa...?" Fatahillah semakin dibuat penasaran


"omong kosong apalagi yang kamu berikan pak tua, sebaiknya aku bunuh saja kalian. Gangan serang mereka"


GRAAARR


"lihatlah di dada sebelah kananmu, kamu pasti mempunyai tanda lahir berbentuk naga bukan...?" guru Halim meninggikan suara saat Gara mulai hendak menyerang lagi


saat mendengar ucapan guru Halim, seketika Gara terdiam.


(bagaimana bisa orang ini tau kalau saya mempunyai tanda lahir berbentuk naga) batin Gara


kali ini Gara benar-benar terkejut, bagaimana mungkin laki-laki tua yang bersorban berpakaian putih berdiri tidak jauh darinya tau tentang tanda lahir yang memang ada di dada sebelah kanannya. tanda lahir itu hanya keluarganya saja yang tau, bahkan Gea kekasihnya saja tidak tau tentang hal itu padahal mereka begitu dekat selama ini. sayangnya wanita itu ternyata yang membunuh istrinya dan kini wanita itu mati ditangannya sendiri.


untuk Fatahillah, dia tertegun beberapa saat. dirinya juga mempunyai tanda lahir berbentuk naga, tentu saja hal itu bukanlah kebetulan semata. melihat keduanya begitu mirip bahkan bisa dikatakan duplikat wajah, hati Fatahillah kini mulai merasakan hal lain saat menatap pemuda yang kini juga sedang menatap ke arahnya.


"siapa kamu sebenarnya, darimana kamu tau kalau aku mempunyai tanda lahir berbentuk naga di dada sebelah kanan" Gara menatap guru Halim dengan tatapan penuh selidik. tidak mungkin laki-laki tua itu pernah bertemu dengannya karena dirinya merasa baru kali ini dirinya bertemu dengan guru Halim dan juga Fatahillah


guru Halim tersenyum lembut, ia berjalan mendekati Fatahillah dan berdiri di samping muridnya itu. Langon masih tetap waspada memantau lawannya di depan sana.


"pemuda ini juga memiliki tanda lahir sama seperti dirimu. jika penasaran dengan itu, maka mari ikut saya dan akan saya ceritakan semuanya tentangmu, tentang kalian berdua. tenang saja, saya bukan suruhan ayahmu Gandha Sukandar"


guru Halim berjalan lebih dulu menuju sebuah tempat duduk yang berada di depan gubuknya. Fatahillah ikut melangkah mendekati gurunya sementara Gara, dia masih tetap ditempatnya, enggan untuk melangkah mendekati dua yang berbeda usia itu.


"jika nanti kami berdua mencelakai mu maka kamu bisa membunuh kami, bagaimana apakah kamu masih ragu...?" guru Halim menatap lurus pemuda itu


"aku dan dia tidak mempunyai hubungan apapun, untuk apa aku harus mendengar cerita darimu"


"kamu tidak akan tau jika kamu tidak mau mendengar, maka dari itu kemarilah dan duduk di sini"


GRAAARR


Langon mendekat dan mendorong tubuh Gara agar pemuda itu melangkahkan kakinya. sementara Gangan karena melihat Langon terus mendorong tuannya, ia pun mendekati harimau putih dan menatapnya nyalang. harimau putih mundur dan berjalan mendekat guru Halim dan Fatahillah sementara Gara masih belum juga ingin melangkah ke arah mereka.


"apa kamu tau Amsar Sukandar saudara dari ayahmu...?" akhirnya guru Halim mengajukan pertanyaan karena Gara sama sekali tidak ingin mendekati mereka


"darimana kamu tau tentang keluarga kami...?" Gara semakin menatap tajam guru Halim


guru Halim tersenyum kecil, kemudian melambaikan tangan ke arah Gara. pemuda itu tetap waspada jangan sampai dirinya dijebak dan dibunuh dengan cara cepat, bagaimanapun juga dia tidak ingin terkecoh untuk kedua kalinya.


"anak muda, jika kami ingin membunuhmu maka sudah sejak tadi saat dirimu tidak berdaya kami berdua sudah membuangmu ke sungai itu" guru Halim menunjuk sungai yang ada di samping gubuknya "tubuhmu mungkin bisa saja kami cincang menjadikan makanannya buaya. tapi lihatlah, sampai sekarang kamu masih bisa berdiri di depan kami"


sejak tadi Fatahillah tidak mengeluarkan suara, dirinya masih begitu penasaran tentang ucapan yang dikatakan oleh guru Halim tadi. sementara Gara, pemuda itu mulai menimbang-nimbang dan kini mengambil keputusan untuk mendekati keduanya. dirinya duduk sedikit jauh dari mereka, agar nanti jika keduanya menyerangnya ia bisa bergerak menghindar cepat. padahal dua orang itu sama sekali tidak punya niatan untuk mencelakainya. Gangan mengikutinya dan duduk di tanah, di samping Gara.


"perlihatkan tanda lahir kalian"


"untuk apa guru...?"


"perlihatkan saja"


Fatahillah membuka dua kancing bajunya. ia menurunkan baju dibagian bahu kanannya hingga terlihatlah tanda lahir itu.


"i-itu..." Gara kaget melihat tanda lahir Fatahillah sama persis seperti tanda lahirnya. segera ia mengangkat bajunya, tanda lahir yang sama persis dengan tanda lahir Fatahillah, terlihat di bagian dada kanannya


"bagaimana bisa" Fatahillah sungguh sama sekali tidak menyangka


"sudah sangat jelas kalau kalian adalah saudara kembar"


"kembar...?" Fatahillah dan Gara sama-sama bertanya kaget


"jangan membual pak tua. aku hanya mempunyai satu saudara kandung dan dia adalah adikku, bukan dia. bagaimana bisa kami kembar sementara orang tua kami berbeda" Gara menggeleng kepala


"itu tidak mungkin guru. ibu tidak pernah mengatakan kalau aku mempunyai saudara kembar" timpal Fatahillah


"ibumu siapa...? Khadijah atau Laila...? yang mengandung kalian berdua adalah Laila, apakah dia pernah menceritakan itu padamu...? bukannya kamu bilang tidak ada yang dia katakan padamu" guru Halim menjawab


Fatahillah menggeleng, cerita tentang dirinya memang belum ia dengar dari bibir ibunya sendiri.


"kalau Kalian berdua masih belum yakin maka tes DNA saja agar semuanya jelas. tapi yang pasti saya begitu yakin kalau kalian adalah saudara kandung. begitu kalian berdua lahir, saya melihat sendiri tanda lahir yang ada di tubuh kalian itu"


"tapi bukannya ibu bilang kalau waktu itu aku hanya seorang diri, kenapa sekarang tiba-tiba mempunyai saudara kembar. ini sungguh tidak masuk akal" Fatahillah masih belum percaya


apalagi Gara, pemuda itu hanya menganggap kalau semua itu hanya omong kosong semata yang sama sekali tidak berguna. dirinya sama sekali tidak percaya.


"maka kalau begitu temui ibu kalian berdua, jika dia melihat kalian berdua datang sudah pasti dia akan mengira anaknya yang dulu dianggap telah meninggal, kini hidup kembali. Muhammad Farhan Hamid, saudara kembar Muhammad Firdaus Alqadaffi"


"tapi kenapa selama ini guru tidak membahas itu"


"itu karena selama ini Farhan telah kami anggap meninggal dunia" guru Halim menatap Gara yang kini semakin bingung " namun ternyata Samsir membohongi kami semua. rupanya dia yang memalsukan kematian Farhan dan merawatnya menjadikannya sebagai cucunya, anak dari Gandha"


"coba kamu pikir, apakah sampai hati ayahmu sendiri begitu menginginkan kematianmu anak muda...?


"i-itu...." Gara tergagap


"Amsar Sukandar menikahi Laila Sari. ibu kalian mengandung kalian berdua sampai kalian lahir. betapa bahagianya ayah kalian waktu itu saat tau kalau ibu kalian melahirkan anak jagoan yang kembar. bahkan saya sendiri melihat tanda lahir itu. Firdaus yang mempunyai tanda lahir di bahu sebelah kanan sementara Farhan di dada sebelah kanan"


"lalu...?" Gara mulai tertarik dengan cerita guru Halim


"tepat satu tahun umur kalian berdua, sebuah kecelakaan dialami oleh pengasuh kalian. saat itu hanya ada Farhan bersama mereka sementara kamu Malik, kamu sendiri tidak bersama mereka. sehingga dari kecelakaan itu mereka mengatakan kalau tidak ada yang selamat dari kecelakaan itu"


"ibu kalian bahkan hampir menjadi gila kehilangan anaknya. setelah tiga tahun, pemberontakan di gunung Gantara yang dipimpin oleh Samsir dan anaknya, membuat semua orang yang lebih memilih ayah kalian, dibunuh oleh mereka. bahkan ayah kalian ditahan oleh mereka. suami dan anak khadijah pun menjadi korban dari kebiadaban mereka"


"jadi...aku benar-benar mempunyai saudara kembar...?"


"tidak mungkin, aku tidak percaya itu" Gara menggeleng


"tapi itu kenyataan yang sebenarnya anak muda"


"aku tidak percaya, meskipun ayah menginginkan aku mati, bukan berarti aku bukanlah anak kandungnya. aku tidak percaya cerita bualanmu pak tua"


Gara beranjak dari tempatnya duduknya, dirinya balik badan meninggalkan guru Halim dan Fatahillah. Gangan mengikuti tuannya, apapun yang terjadi Gara harus keluar dari hutan itu. sayangnya sakitnya kembali kambuh, kali ini bahkan dirinya memuntahkan darah beberapa kali.


GRAAARR


Gangan panik dan berusaha menahan tubuh Gara agar tidak terkapar di tanah. Fatahillah berlari cepat menghampiri Gara yang kini kedua telinganya di tutupnya. darah segar kembali keluar dari telinga Gara Sukandar.


"Langon bantu aku" teriak Fatahillah


Langon melompat dari tempat duduk itu, dia berlari ke arah Fatahillah dan membantu Fatahillah membawa Gara ke dalam rumah hanya dengan menggunakan kekuatan miliknya. tubuh Gara melayang di udara, masuk ke dalam rumah dan di baringkan di dalam kamar.


"apa yang harus kita lakukan guru...?"


"keluarlah, biar saya yang mengurusnya"


"tolong selamatkan dia guru. kalau benar dia adalah saudara kembar saya, tolong selamatkan dia. ibu pasti senang melihat anaknya kembali hidup"


"semua kehidupan manusia dikendalikan oleh penciptanya Malik, berdoa saja semoga dia masih bisa kita selamatkan. sekarang keluarlah"


Fatahillah patuh, dia dan kedua harimau keluar menunggu di ruang tengah. berkali-kali Fatahillah menarik nafas. sejak pertama bertemu Gara, dirinya tidak akan menyangka kalau mereka memiliki kemiripan wajah yang begitu mirip. postur tubuh yang sama, semuanya pun sama, seperti yang dikatakan oleh Akmal, hanya suara yang membedakan mereka.


merasa dirinya belum melaksanakan sholat subuh, Fatahillah keluar dari rumah menuju sungai. di air yang mengalir jernih itu, ia berwudhu merasakan dinginnya air pegunungan dari mata air gunung Sangiran. Fatahillah sholat subuh di ruang tamu dan untuk dua harimau tadi, mereka berjaga di luar rumah.


menunggu selama tiga jam lamanya, guru Halim keluar kamar menghampiri Fatahillah di ruang tengah.


"bagaimana guru...?" Fatahillah segera berdiri


"masuklah di dalam"


guru Halim kembali masuk, Fatahillah pun mengikutinya. dua harimau itu ikut masuk ke dalam kamar. di sana, Gara terbaring dengan wajah putih pucat. tasbih Fatahillah masih melingkar di leher pemuda itu.


"alirkan energi mustika putih ke dalam tubuhnya, dengan begitu panas yang dia alami tidak akan menyiksa dirinya"


"baik"


Fatahillah duduk di samping Gara, ia kemudian mengulurkan tangan menyimpan di atas dada pemuda itu sementara dirinya membaca mantra dan keluarlah energi mustika putih masuk ke dalam tubuh Gara. sebanyak mungkin energi mustika putih mampu mendinginkan tubuh Gara yang tadinya begitu panas. perlahan kedua matanya terbuka dan Fatahillah selesai dengan tugasnya.


"kamu sudah sadar"


"apa aku masih di tempat tadi...?" tanya Gara


"hanya di tempat ini ayahmu tidak akan dapat menemukanmu. bagaimana perasaan mu sekarang...?" guru Halim mendekat


"dingin... sedingin terkena mata air" Gara menjawab dengan suara pelan


"syukurlah, setidaknya energi mustika putih dapat menetralisir energi hitam di dalam tubuhmu"


GRAAARR


Gangan mendekat dan hendak naik ke atas ranjang, namun Langon malah menghalanginya membuat Gangan kesal dengan harimau putih itu.


"kalau kamu naik, ranjangnya tidak akan muat" Fatahillah memberikan penjelasan kepada Gangan


Gara tersenyum, dirinya tau kalau harimau miliknya begitu khawatir padanya.


"aku baik-baik saja Gangan, kamu tidak perlu cemas" Gara tersenyum


GRAAARR


"iya...aku pasti sembuh seperti yang kamu harapkan"


"minumlah ini" guru Halim membawakan gelas berisi air berwarna hijau


"apa ini...?"


"itu obat"


Gara belum juga menyentuh gelas itu, guru Halim tau apa yang ada di dalam pikiran pemuda itu.


"tenang saja, itu adalah obat bukan racun. minumlah jika kamu ingin segera sembuh"


Gara mengambil gelas itu dan mendekatkan di bibirnya. satu tegukan membuat wajahnya berubah bahkan hampir memuntahkan minuman itu. namun guru Halim memaksa dirinya untuk menghabiskan minuman itu sampai tidak tersisa. dengan wajah yang meringis tidak sanggup, Gara memaksa dirinya menghabiskan minuman itu.


"pahit sekali"


"namanya juga obat, kalau manis berarti sirup" timpal guru Halim tersenyum "sekarang bagaimana, apakah sudah merasa lebih baik...?"


"aku merasa tubuhku begitu ringan" Gara bahkan bangun dari tempat tidurnya dan bersandar di dinding


kedua matanya saling bertemu tatap dengan Fatahillah, saat itu juga Gara menanyakan apa yang diceritakan oleh guru Halim tadi.


"apa kami benar-benar adalah saudara kembar...?" tanya Gara. rasanya dirinya belum percaya kalau dirinya mempunyai kembaran


"kamu masih ragu...?"


"aku...aku hanya tidak menyangka saja kalau ternyata aku bukan anak ayah. padahal ayah begitu baik padaku dan juga Genta"


"tapi buktinya sekarang dia ingin membunuhmu. kalau kamu belum percaya maka tanyakan saja pada ayahmu. mungkin dia tidak akan memberitahu namun kamu bisa mencari tau bukan"


"aku percaya"


"kamu percaya...?" refleks Fatahillah bertanya cepat


"kita sama-sama memiliki tanda yang sama, itu sudah menjadi bukti"


"dan satu lagi, kamu memiliki tanda lahir biasa di pinggang sebelah kiri mu" ucap guru Halim


"bukan kamu melihatnya secara diam-diam kan...?"


"kamu sudah mengamuk dan sakit lebih dulu, bagaimana saya mempunyai waktu untuk memeriksa itu" timpal guru Halim


"pantas saja ayah begitu ingin aku mati... ternyata aku bukan anaknya. setelah aku menentang perihal yang dia ingin jalankan kepada semua masyarakat, ayah begitu berubah padaku" gumam Gara


wajahnya menampakkan kesedihan. orang tua yang selama ini dirinya begitu hormati ternyata adalah orang lain yang ingin dirinya mati.


"bolehkah aku.... bertemu wanita yang kalian sebut adalah ibuku...?" Gara menatap Fatahillah


"tentu saja, akan aku bawa kamu bertemu ibu" Fatahillah tersenyum "dia bisa keluar dari sini kan guru...?" tanya Fatahillah kepada guru Halim


"sebenarnya dia lebih aman di sini, namun jika kalian ingin bertemu Laila maka tentu saja saya izinkan. Laila pasti begitu bahagia jika bertemu kalian berdua, apalagi Farhan yang dianggapnya sudah mati ternyata masih hidup. ketika kehilangan Farhan dia hampir menjadi gila dan setelah dulu dia kehilangan kamu Malik, Laila benar-benar menjadi gila. siapa yang tidak akan depresi jika kehilangan dua anak sekaligus"


"pergilah dan temui Laila, tapi setelah itu Farhan harus kembali ke tempat ini untuk melakukan pengobatan sedangkan kamu Malik, kamu tetap harus melanjutkan perjalanan ke gunung Gantara"


"untuk apa ke gunung Gantara...? bisa bahaya kalau dia pergi, mereka akan mengira kalau dia adalah aku. ayah bisa membunuhnya di sana" Gara panik saat mendengar itu


"aku memang akan berpura-pura menjadi kamu. tidak perlu cemaskan aku, yang lebih penting sekarang adalah kamu harus diobati dan kembali ke gunung Gantara untuk membantuku membebaskan ayah kita"


"maksud kamu paman Amsar...?"


"iya, Amsar Sukandar adalah ayah kalian berdua" guru Halim menjawab


"jadi selama ini orang yang dianggap adalah pemberontak adalah ayah kandungku sendiri. aku ternyata ditipu mentah-mentah oleh ayah dan kakek. mereka benar-benar biadab. ini tidak bisa dibiarkan, aku harus kembali ke gunung Gantara" Gara hendak turun namun di tahan oleh Fatahillah


"kamu akan kembali dengan keadaan yang seperti ini...? yang ada kamu di sana bisa tangkap dan langsung dibunuh. tetaplah di sini sampai sembuh, setelah itu maka kembalilah ke gunung Gantara karena aku tentunya membutuhkan bantuan darimu"


"tapi..."


"dengarkan aku kali ini, pulihkan dirimu terlebih dahulu setelah itu barulah kamu kembali" Fatahillah memegang kedua pundak Gara


"baiklah" Gara mengalah "tapi sebelum itu, aku ingin bertemu ibu" lanjutnya, yang ia maksud adalah Laila


"tentu saja, hari ini kita akan kembali ke kota B" Fatahillah mengangguk


guru Halim mengizinkan, dia ingin Laila bertemu kedua anaknya. wanita itu pasti sangat bahagia jika mengetahui kalau ternyata anak yang mereka anggap sudah di ambil oleh pemiliknya, rupanya masih ada di dunia ini.


guru Halim mengembalikan mereka berdua di dalam kamar yang ada di rumah yang disewa oleh anak buah Aji Wiguna. kedua harimau tentu saja ikut bersama tuan mereka. hari itu Fatahillah akan memberitahu kepada semua teman-temannya tentang siapa sebenarnya Gara dan mereka akan kembali ke kota B. sungguh tidak disangka, ternyata selama ini dia dan Gara adalah saudara kembar. itu semua berkat guru Halim, Fatahillah tidak sabar ingin bertemu dengan Laila dan memberikan kejutan kepada wanita itu.