Fatahillah

Fatahillah
Bab 24



POV (Fatahillah)


kami sampai di bengkel dimana pak Umar dan pak Odir masih berada di sana. saat aku dan yang lainnya turun terkecuali Hanum, pak Umar dan pak Odir tengah membantu pemilik bengkel membereskannya segala peralatan bengkel yang dihambur dan dihancurkan oleh Hanum.


"paman baik-baik saja...?" tanya Hasan saat ia berada di dekat pak Odir


"paman tidak apa-apa. bagaimana dengan Hanum...?" tanya pak Odir


"kami sudah mengamankannya" jawabku


"pak, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya atas apa yang dilakukan oleh anak saya. beritahu saya berapa kerugian yang harus saya ganti" ucap pak Umar


pak Umar berniat memberikan ganti rugi kepada pemilik bengkel, bagaimanapun juga kami tidak bisa pergi begitu saja tanpa bertanggungjawab.


"mungkin hanya mengganti papan yang hancur itu saja pak. kalau peralatan yang lain, biar saya urus sendiri" ucap pemilik bengkel yang terlihat masih muda


pak Umar mengeluarkan dompetnya dan mengambil banyak uang merah kemudian memberikan kepada pemuda itu.


"anak saya yang menghancurkan semuanya jadi saya juga yang harus ganti rugi. ambillah ini sebagai permintaan maaf saya" pak Umar memberikan uang itu kepada pemuda itu


"maaf pak, ini terlalu banyak. kerugian yang saya alami tidak mencapai nominal sebanyak ini. saya kembalikan sebagian"


pak Umar menolak dan mendorong tangan pemuda itu yang hendak akan memberikan kembali uang pak Umar.


"saya ikhlas memberikannya. ambillah agar saya tidak diliputi rasa bersalah" ucap pak Umar


"masha Allah, terimakasih banyak pak. semoga apa yang menjadi segala urusan bapak dapat dimudahkan dan di lancarkan"


"aamiin" kami semua mengaminkan doa pemuda itu


aku mendekat pak Umar dan pemuda itu, berniat untuk menanyakan apakah ada penginapan di sekitar sini. karena tidak mungkin untuk melanjutkan perjalanan terlebih lagi sudah hampir magrib dan kami belum melakukan sholat ashar.


"maaf mas, boleh saya tau siapa nama mas...?" tanyaku


"Akmal mas" jawabnya


"mas Akmal, apakah mas tau mungkin ada penginapan disekitar sini. kami sedang melakukan perjalanan jauh tapi karena sudah hampir malam jadi kami memutuskan untuk bermalam sebelum besok kembali melanjutkan perjalanan" ucapku


"kalau penginapan sih tidak ada mas. di sini jarang ada penginapan, kalaupun ada ya bukan di sekitar sini tapi masih jauh. kalau saya boleh tau mas dan bapak ini mau kemana ya...?" Akmal melihat aku dan pak Umar bergantian


"kami akan ke gunung Sangiran" jawab pak Umar


"wah kau sekali pak" Akmal seperti kaget mendengarnya, mungkin karena dia berpikir untuk apa kami pergi ke tempat sejauh itu


"kami ada urusan di sana nak Akmal. sebenarnya kami pergi untuk mengobati anak saya tadi. dia sakit terkena..... santet dan yang dapat menyembuhkannya adalah kiayi yang tinggal di gunung Sangiran" jawab pak Umar


"atagfirullahaladzim" Akmal beristigfar


"apa jangan-jangan tadi itu karena dia....."


"dia kerasukan mas" jawabku saat Akmal menggantung ucapannya


"innalilahi" Akmal terkejut


"kalau begitu menginap saja di rumahku mas, pak. kebetulan rumahku tidak jauh dari sini" Akmal memberikan tumpangan


"tapi kami bukan hanya berdua mas, banyak" ucap ku dan melihat ke arah istriku dan juga yang lainnya


"tidak masalah, di rumah masih ada kamar kosong dua dan sisanya laki-laki bisa tidur di ruang tengah saja. itupun kalau mas dan bapak tidak keberatan" ucap Akmal


"masha Allah, jelas kami tidak keberatan dan sangat berterimakasih nak Akmal sudah mau memberikan kami tumpangan" pak Umar begitu lega karena kami mendapatkan tempat untuk istrahat


"ya sudah kalau begitu, kita ke rumahku sekarang. tapi saya tutup bengkel dulu sebentar ya pak, mas"


"iya iya, jangan terburu-buru" jawab pak Umar


Akmal serta yang bekerja di bengkel itu memasukkan semua peralatan mereka. dinding yang lubang karena dihancurkan oleh Hanum untuk sementara mereka tutup menggunakan terpal.


satu persatu pegawai Akmal pamit untuk pulang sementara aku dan yang lainnya serta Akmal akan pergi ke rumahnya.


Akmal bersama Hasan dan pak Odir sementara aku bersama istriku dan yang lainnya. aku mengikuti mobil Hasan dari belakang, hingga akhirnya kami berhenti disebuah rumah yang sepertinya itu adalah rumah Akmal.


kami semua keluar dari mobil. Akmal masuk ke dalam rumah kemudian kembali lagi membawa selimut. selimut itu diberikan kepada Hasan untuk membungkus tubuh Hanum agar tidak dilihat oleh para tetangga meskipun sebenarnya didaerah ini tidak begitu ramai.


Hasan menggendong Hanum seorang diri kemudian membawanya masuk ke dalam.


"ke kamar itu saja mas" ucap Akmal


Akmal membuka pintu kamar dan Hasan masuk ke dalam. sementara kami yang lain duduk di ruang tamu. setelahnya Hasan dan Akmal keluar dari kamar.


"maaf mas, bisakah kami menumpang sholat ashar sebelum datang magrib karena kami belum melaksanakan sholat ashar sejak tadi" ucap ku kepada Akmal


"tentu saja. tapi maaf, karena di sini kami tidak mempunyai tempat khusus untuk sholat jadi kalian bisa sholat di dalam kamar saja" jawab Akmal


"terimakasih nak Akmal" ucap pak Umar


"sama-sama pak" jawab Akmal


pak Umar dan ibu Rosida masuk ke dalam kamar yang ditempati Hanum. aku dan Zelina diarahkan untuk ke kamar yang satunya lagi sementara pak Odir dan Hasan ke kamar Akmal.


aku dan Zelina bergantian untuk berwudhu kemudian kami berdua melaksanakan sholat ashar. meskipun terlambat tapi setidaknya tidak ditinggalkan.


"assalamu'alaikum warahmatullahi" salam ke kanan


"assalamu'alaikum warahmatullahi" salam ke kiri


seperti biasanya setelah berdoa aku akan berbalik menghadap ke arah Zelina. ia mencium tanganku kemudian Zelina mendekatkan wajahnya ke arahku.


"ada apa...?" tanyaku karena aku terkesiap saat ia melakukan itu


"mas tidak ingin mencium keningku...?" tanyanya


jujur saja sedekat ini dengan Zelina membuat aku gugup. bagaimanapun aku tidak pernah sedekat ini dengan seorang perempuan.


aku menangkup wajahnya dan mencium keningnya dengan lembut. debaran di dada begitu terasa, rasanya ingin melakukan hal yang lebih namun tidak bisa aku lakukan.


aku menjauhkan wajahku darinya dan ia pun menarik diri untuk duduk kembali.


"mas, boleh aku bertanya satu hal...?" Zelina menatapku dengan lekat


"apa yang ingin kamu tanyakan...?" ucapku


"apakah ada wanita yang mas cintai sebelum menikahi ku...?"


"kenapa bertanya seperti itu...?"


"aku hanya tidak ingin menjadi penghalang diantara mas dan wanita itu. aku tau mas pasti berat menjalani pernikahan ini bersamaku. mas terpaksa melakukannya bukan...?"


"aku dapat melihat mas begitu sulit untuk menerimaku. maaf jika aku telah egois dua hari ini. aku hanya memikirkan diriku sendiri yang takut tidak akan punya siapa-siapa lagi. aku takut kehilangan mas Fatah. maaf jika aku terlalu memaksakan kehendak agar mas dapat menerima aku"


"kenapa berpikir sejauh itu Zelina. saat ini kami istriku, kamu adalah tanggung jawabku. aku tentu saja tidak akan meninggalkanmu. dan perlu kamu tau, aku tidak mempunyai wanita yang aku cintai"


aku menjawab jujur karena memang tidak ada wanita spesial dalam hatiku.


Anisa...?


dia hanyalah teman bagiku tidak lebih dari itu dan bahkan aku menganggap dia saudara.


"mas benar-benar tidak mempunyai wanita yang mas cintai...?"


rupanya jawabanku tidak dapat meyakinkan hati istriku.


"ada" jawabku


Zelina semakin menatapku dengan lekat dan perlahan ia menjauh dariku.


"maafkan aku mas, karena aku kalian tidak bersatu" Zelina menundukkan kepalanya


aku menghela nafas, kemudian mendekatinya dan memegang tangannya. ku pegang dagunya dan aku angkat wajahnya. tatapan kami berdua bertemu sekian detik.


"aku mencintai seorang wanita yang bernama Zelina Muhatmainnah, putri dari seorang pengusaha sukses Muhammad Harun dan adik semata wayang Panji Gumilang" ucapku


aku memang telah jatuh cinta kepada istriku, entah sejak kapan aku juga tidak tau. sejak dia menjadi istriku dan aku bawa ke rumah, perasaanku selalu berdebar saat bersamanya. jantungku bahkan tidak berdetak normal saat berada di dekatnya.


"mas mencintaiku...?" tanya Zelina


aku melihat raut wajahnya yang seakan tidak percaya.


"kenapa, apakah aku tidak bisa mencintai istriku sendiri...?"


Zelina tersenyum lebar bahkan kini ia bukan hanya tersenyum tetapi menangis. aku langsung panik seketika.


"loh, kenapa menangis...?" aku menghapus air matanya yang berjatuhan


"aku bahagia, aku sangat bahagia suamiku akhirnya bisa menerima aku. tadinya aku berpikir aku akan berusaha keras untuk bisa mendapatkan hatimu mas. terimakasih sudah mencintai aku. aku juga mencintai mas Fatah"


aku melongo mendengar ucapan Zelina. dia juga mencintaiku...?" sejak kapan...?"


"sejak pertama kita bertemu di rumah sakit. sejak saat itu aku mengagumi mas Fatah. aku jatuh hati sejak pertama kali bertemu dengan mas Fatah"


masha Allah....


jadi selama ini istriku sudah menaruh hati padaku. aku benar-benar tidak menyangka akan dikagumi oleh wanita cantik seperti istriku ini.


ku tarik tubuhnya dan aku peluk dengan erat. Zelina masih terus menangis di pelukanku. aku mencium keningnya beberapa kali. Zelina membalas pelukanku dengan erat.


"jangan menangis lagi, nanti dikiranya aku kdrt lagi" ucapku


"mas ih, lagi suasana haru juga" Zelina memukul dadaku dengan pelan


"ana uhibbu kafilah Zelina Muhatmainnah" bisikku di telinganya


Zelina menganggukkan kepalanya dengan cepat dan kembali memelukku dengan erat.


terimakasih Tuhan, telah mempertemukan aku dengan wanita yang kini menjadi bagian dari hidupku.


tidak berselang lama suara azan magrib terdengar. aku melepas pelukanku dan menangkup wajah Zelina.


"jangan menangis, aku paling tidak bisa melihat perempuan menangis" ucapku dan menghapus sisa air matanya


Zelina mengangguk pelan. untuk melaksanakan sholat magrib tentunya kami harus kembali berwudhu. karena sudah saling bersentuhan jelas sudah kalau wudhu yang kami lakukan tadi batal.


setelah melaksanakan sholat magrib, aku dan Zelina keluar kamar. di ruang tengah Akmal sedang berbunga dengan pak Odir, pak Umar dan Hasan. aku dan Zelina ikut bergabung bersama mereka.


"apakah nak Akmal tinggal sendirian di sini...?" tanya pak Odir


sebenarnya itu memang aku akan tanyakan tadi karena aku melihat rumah ini begitu sepi tanpa ada orang lain.


"saya tinggal bersama ibuku pak namun ibu masih di luar. mungkin sebentar lagi pulang, biasanya jika mengikuti pengajian, ibu akan pulang setelah sholat magrib. kalau ayah, beliau sudah tidak ada di saat saya masih kecil" jawab Akmal


"kamu tidak mempunyai saudara...?" tanya Hasan


"saya mempunyai adik perempuan tapi...sudah meninggal tiga bulan yang lalu"


"maaf, saya tidak bermaksud untuk membuat kamu sedih" Hasan merasa tidak enak hati


"tidak apa-apa mas, yang hidup memang suatu saat akan mengalami yang namanya kematian" jawab Akmal


"assalamu'alaikum"


"wa alaikumsalam"


terdengar suara salam dari luar. seorang wanita baya masuk ke dalam rumah dan menghampiri kami.


"ada tamu" ucapnya dengan lembut dan tersenyum kepada kami semua


"mereka kenalan Akmal bu. untuk malam ini mereka akan menginap di sini" ucap Akmal


"oh ya, wah bakalan rame rumah kita. kalau begitu ibu masak dulu, tadi belum sempat memasak saat ke pengajian" ucap ibu Akmal


"kami mohon maaf sudah merepotkan bu" ucap ibu Rosida yang kedatangannya bersamaan dengan pulangnya ibu Akmal


"sama sekali tidak merepotkan bu. saya malah sangat senang bisa mempunyai teman ngobrol. kalau begitu silahkan dilanjutkan ngobrolnya, saya mau ke dapur dulu" ucap ibu Akmal


"biar saya bantu bu" ucap ibu Rosida


"wah tidak usah, masa tamu saya ajak masak. tidak usah bu"


"tidak apa-apa bu, ayo saya juga mau bantu masak" ucap Zelina


ibu Akmal akhirnya setuju ibu Rosida dan Zelina membantunya untuk memasak. sementara kami para laki-laki tetap berada di ruang tengah.


Zelina datang membawakan kami minuman hangat lengkap dengan cemilannya. setelah itu ia kembali lagi ke dapur.


"kenapa tidak mencari orang lain di daerah lain saja. gunung Sangiran itu sangat jauh sekali" ucap Akmal


"kamu pernah ke sana...?" tanyaku


"pernah sekali, waktu itu aku masih sekolah" jawab Akmal


"tidak ada yang bisa menyembuhkannya selain kiayi Zulkarnain" jawab pak Odir


"kiayi Zulkarnain...?" Akmal bergumam


"iya. dia satu-satunya orang yang bisa melawan orang yang mengirimkan santet kepada Hanum" ucap Hasan


"jadi nama wanita itu adalah Hanum...?"


"ah sampai lupa kalau kita ternyata belum berkenalan" ucap Hasan


Hasan memperkenalkan diri kepada Akmal. bukan hanya dirinya tetapi kami semua.


"kalau setau aku, kiayi Zulkarnain mempunyai seorang adik yang bernama kiayi Anshor. beliau tinggal di kota B. kemampuannya setara dengan kiayi Zulkarnain. kiayi Anshor adalah pemilik pesantren yang bernama pesantren Abdullah" ucap Akmal


"dulunya pesantren itu dipimpin oleh kiayi Zulkarnain namun setelah itu beliau menyerahkan pesantren itu kepada adiknya dan beliau lebih memilih tinggal di desa Malanda gunung Sangiran" lanjut Akmal lagi


"sepertinya kamu banyak tau tentang keduanya" ucap pak Umar


"aku pernah masuk di pesantren itu namun tidak lama. karena setelah ayah meninggal, aku tidak ingin meninggalkan ibuku sendirian dan hanyut dalam kesedihan" jawab Akmal


rupanya kisah ku sama dengan Akmal. kami berdua tidak bisa jauh dari orang tua namun bedanya mungkin dia keluar dari pesantren dengan cara baik-baik sementara aku harus membuat ulah terlebih dahulu dan dikeluarkan.


"kalau begitu kita ke kota B saja pak, di sana lebih dekat" usul Hasan


"aku memang tau kalau kiayi Zulkarnain mempunyai saudara tapi aku tidak tau kalau kiayi Anshor mempunyai ilmu sama seperti kiayi Zulkarnain" ucap pak Odir


"bagaimana kalau kalian mencoba ke sana dulu. akan aku antar, kebetulan salah satu ustad yang mengajar di pondok pesantren itu adalah pamanku, adik dari ibuku" ucap Akmal


"Mash Allah. pak Umar, sebaiknya kita coba saja dulu ke tempat itu. tidak ada salahnya kita mencoba. kiayi Anshor adalah adik dari kiayi Zulkarnain, beliau pasti mempunyai ilmu yang sama dengan kakaknya" ucapku


jika ada yang lebih dekat, kenapa harus memilih yang jauh. hanya dalam beberapa jam kami sudah akan sampai di kota B. sementara untuk ke gunung Sangiran, butuh waktu beberapa hari, 2 hari atau bahkan lebih.


belum selesai percakapan kami semua, azan isya mulai terdengar. kami kembali ke kamar masing-masing untuk melaksanakan sholat isya.


aku memohon kepada yang Maha Kuasa agar perjalanan kami dapat dilancarkan dan dilindungi dari segala marabahaya.


setelah sholat isya, kami semua makan malam. Zelina menyiapkan makanan untuk ku. ternyata begini rasanya mempunyai seorang istri, segala kebutuhan disediakan olehnya.


"silahkan silahkan, jangan sungkan" ucap ibu Akmal


"wah...hari ini kita makan seperti di pesta ya bu" ujar Akmal


wajahnya terlihat sumringah, mungkin selama mereka berdua, mereka tidak pernah memasak sebanyak ini.


"makan yang banyak" ibu Akmal mengambilkan nasi dan lauk dan menyerahkan kepada putranya itu


"oh ya bu, ibu bisa hubungi paman Ali tidak" ucap Akmal


"memangnya kenapa...?" tanya ibu Akmal


Akmal menceritakan semuanya kepada ibunya dan kami berharap dapat ke tempat itu, ke pesantren Abdullah milik kiayi Anshor.


"jadi ada lagi tamuku selain kalian semua...?" tanya ibu Akmal


"iya, dia anak saya dan sekarang ada di kamar" jawab ibu Rosida


"kalau begitu sebelum ke sana sebaiknya saya akan menghubungi adikku dan dia akan memberitahu kiayi Anshor. karena biasanya beliau sering ke luar kota. takutnya kalian ke sana terus beliau berada diluar" ucap ibu Akmal


kami semua setuju. memang harusnya seperti itu agar nanti kedatangannya kami tidak membingungkan pemilik pesantren.


setelah makan, kami semua berkumpul di ruang tengah. ibu Akmal sedang menghubungi adiknya yang bernama ustad Ali.


"assalamu'alaikum Ali"


"wa alaikumsalam mbak"


"apakah mbak mengganggu...?"


"tidak, aku sedang istrahat di kamar. ada apa...?"


"begini"


ibu Akmal mulai memberitahu bahwa ada yang meminta pertolongan. dan ibu Akmal menceritakan keadaan yang menimpa Hanum agar Ali dapat memberitahu kiayi Anshor.


"kebetulan sekali mbak, kiayi Zulkarnain ada di sini. suruh saja mereka ke sini, nanti akan aku sampaikan kepada kiayi Anshor dan kiayi Zulkarnain" jawab Ali


kami mendengar suaranya karena ibu Akmal mengeraskan speaker ponselnya.


"Alhamdulillah"


kami semua mengucap syukur. begitu bersyukur kalau ternyata kiayi Zulkarnain ada di kota B. ada hikmahnya juga dengan kejadian tadi. untungnya kami dapat bertemu Akmal sehingga kami tidak perlu lagi ke gunung Sangiran padahal yang kami cari ada di kota B.