
pada akhirnya malam itu semuanya telah terungkap. kebenaran yang disimpan rapat dan di sembunyikan semenjak berpuluh-puluh tahun lamanya, kini telah diketahui.
"kamu tidak membenci ibu kan nak...?" ibu Khadijah menatap sendu Fatahillah
"tidak ada alasan bagi Fatah untuk membenci ibu. sampai kapanpun, ibu tetap akan menjadi ibunya Fatah" Fatahillah menghapus dengan lembut air mata ibunya
"jangan menangis lagi mbak... ikhlas. kita berdoa semoga mas Hadi dan Fatahillah tenang di alam sana. mereka pasti bahagia karena mbak tidak lagi menaruh benci kepada sahabat mbak atas kepergian mereka" ibu Fatimah berucap lembut
ibu Khadijah bernafas lega, setidaknya tidak ada lagi yang ia sembunyikan sekarang. ibu Khadijah memegang tangan Fatahillah dan tersenyum hangat.
"jadi... Halim selama ini menjadi guru kamu...?" tanya ibu Khadijah
"ibu tau guru Halim juga...?"
"tentu saja, dia juga salah satu sahabat ayahmu. dia yang membawa ibu ke kota ini, jauh dari gunung Gantara. setelah yakin kalau ibu dan kamu baik-baik saja, Halim kembali ke tempat itu dan sampai sekarang ibu belum pernah lagi bertemu dengannya"
(guru bilang dia pernah terluka parah dan mengharuskan dirinya untuk memulihkan dirinya di gunung Sangiran. apakah terlukanya guru ada hubungannya dengan kejadian itu ya) batin Fatahillah
"tapi tidak disangka ternyata Halim malah menjadi gurumu. sejak kapan kamu bertemu dengannya nak"
"sejak kecil bu" jawab Fatahillah
"berarti selama ini dia sudah berada di dekat kita" gumam ibu Khadijah "ya sudah sebaiknya kita istrahat, kalian pasti lelah" lanjutnya
"iya. lebih baik sekarang kita istrahat, ini sudah larut malam" ucap Yusuf
mereka mengangguk setuju, rasa lelah memang sudah menghampiri mereka. tubuh yang begitu letih ingin mendapatkan haknya untuk mengistirahatkan diri menyambut esok hari yang akan datang.
"Fatah antar ke kamar bu" ucap Fatahillah
"biar bibi saja yang antar, ibumu kan satu kamar dengan bibi" timpal ibu Fatimah
"baiklah" jawab Fatahillah
semua orang bangkit untuk menuju ke kamar masing-masing. Zulaikha memanggil Anisa untuk tidur di kamarnya sementara para lelaki akan tidur di ruang tengah. masih ada kamar yang kosong namun mereka lebih memilih berkumpul di ruangan yang luas itu.
kini tinggallah mereka yang berada di ruangan itu. sudah dengan selimut dan bantal yang diambil Fatahillah dari kamar. hanya beralaskan karpet, mereka mulai memejamkan mata.
mungkin hanya sekian menit mata Fatahillah tertutup, kini ia kembali membuka mata dan menatap tajam ke arah pintu masuk. seketika ia bangun dan duduk. perasaannya mulai tidak enak, seakan ada sesuatu yang berbahaya di luar sana.
Hasan dan Fauzan telah tertidur, bahkan kini saking lelahnya Fauzan sampai mendengkur. Fatahillah ingin membangunkan kedua temannya itu namun dirinya tidak tega mengusik ketenangan mereka.
tiba-tiba Fatahillah menampakkan wajah yang penuh keterkejutan. bagaimana tidak, saat ini bahkan ia dapat melihat dirinya sendiri yang masih berbaring di samping Hasan. padahal saat ini dirinya sedang dalam keadaan duduk.
"apa yang terjadi, kenapa aku malah lepas raga seperti ini" gumamnya yang begitu kebingungan
Fatahillah akan lepas raga jika dirinya yang menghendaki namun kali ini jiwanya seakan ada yang memanggil sehingga tanpa sadar ia keluar dari tubuhnya.
"keluarlah kamu Fatahillah Malik, aku tau kamu sudah mengetahui kedatangan ku" akhirnya terdengar suara dari halaman depan rumah
"sudah aku duga" gumam Fatahillah
"Langon"
GRAAARR
harimau putih datang dan sudah berada di samping Hasan. ia berjalan mendekati Fatahillah dan duduk di depan tuannya.
"jaga semua orang" Fatahillah mengeluarkan perintah
GRAAARR
harimau putih mengangguk mematuhi perintah tuannya. Fatahillah mengelus kepala Langon setelah itu ia bangkit berdiri dan menatap ke arah tubuhnya, setelahnya ia melesat cepat ke arah pintu.
pintu rumah terbuka menampakkan seseorang yang sedang berdiri di depan rumah sambil memegang kedua tangan di belakang pinggangnya. dia adalah seorang laki-laki yang memakai pakaian serba hitam dan ikat kepala hitam.
Fatahillah berjalan menuruni anak tangga di teras rumah dan berdiri di hadapan laki-laki itu dan berjarak beberapa meter.
(dia...memakai pakaian yang sama seperti dua orang yang aku bunuh dalam perjalanan ke kota ini) batin Fatahillah memperhatikan pakaian laki-laki itu
"sepertinya anda tidak mempunyai adab bertamu ya, larut malam datang mengganggu ketenangan orang yang sedang istrahat" ucap Fatahillah
"aku datang bukan berniat untuk bertamu anak muda, aku datang hanya untuk memastikan bagaimana rupa seorang pemuda yang bernama Fatahillah Malik. aku penasaran sebesar apa kemampuanmu"
"apa kita pernah bertemu sebelumnya sampai kamu begitu penasaran denganku...? karena hanya dengan pertemuan maka seseorang akan menaruh rasa penasaran itu, keinginan untuk mengetahui lebih dalam lagi tentang seseorang. tapi kalau aku pikir, wajahmu asing bagiku Ki" Fatahillah memanggil dengan sebutan Ki karena memang laki-laki itu adalah laki-laki baya
"kita memang baru kali ini bertemu anak muda, dan sekarang karena kita sudah bertemu, bagaimana kalau kita bertarung"
(aku yakin dia pasti salah satu kelompok yang menculik Zelina dan Arjuna, bukankah malam itu dua orang laki-laki yang berpakaian seperti dirinya datang mencari ku) batin Fatahillah
"bertarung....? selarut ini...? apakah aki datang jauh-jauh dari rumah hanya untuk bertarung denganku. aku sepertinya tidak yakin dengan itu"
"memang bukan hanya itu. aku datang untuk meminta mustika merah darimu. jika tidak kamu berikan secara baik-baik maka aku akan mengambil paksa"
(hhh sudah ku duga, lagi-lagi tentang mustika merah) batin Fatahillah
"kalau aku tidak mau memberikannya dan aku tidak mau bertarung bagaimana...?"
"maka dengan terpaksa aku akan menyerang"
swing
swing
padahal Fatahillah belum siap menerima serangan namun secara mendadak dirinya sudah di serang. tentunya dirinya tidak ingin terkena serangan laki-laki itu. Fatahillah mengarahkan cincin miliknya dan keluarlah cahaya biru yang menangkis serangan itu.
ddduuuaaaar
dua kekuatan yang saling bertemu menciptakan ledakan yang begitu besar. Fatahillah menyerang balik, ia keluarkan kekuatan dari cincin miliknya dan melesatkan ke arah laki-laki itu. serangan Fatahillah ditangkis hanya dengan sapuan satu tangannya menggunakan kekuatannya.
(hebat juga orang ini) batinnya
"ternyata kamu memang memiliki kemampuan tenaga dalam yang tinggi anak muda. gesit sekali kamu menyerang balik"
"tentu saja harus ada serangan timbal balik Ki, bukannya aki ingin bertarung, maka kalau begitu aku layani dengan baik" Fatahillah tersenyum tipis
tamu tak diundang itu adalah Ki Demang. melalui lepas raga, dia mendatangi Fatahillah dan memanggil jiwa Fatahillah untuk keluar.
"aku memang ingin bertarung denganmu. mari kita lihat seberapa jauh kemampuan mu anak muda" Ki Demang menatap tajam ke depan
"aku layani Ki" dengan tenang Fatahillah menjawab
Ki Demang melesat cepat menyerang Fatahillah. kekuatan yang besar yang dikeluarkan Ki Demang membuat Fatahillah menangkis namun terseret mundur. Fatahillah menahan tubuhnya dengan menggunakan satu kakinya menginjak di tiang teras rumah. keduanya kini saling berhadapan, baik Fatahillah maupun Ki Demang sama-sama menatap tajam.
Fatahillah memutar badannya sehingga Ki Demang terbawa ke depan. saat itu juga Fatahillah mengunci Ki Demang dengan kakinya yang ia serang di depan dada. Ki Demang memukul kaki Fatahillah namun secepat mungkin Fatahillah melesat dan
bugh
satu tendangan berhasil Fatahillah layangkan di perut Ki Demang. kembali Fatahillah menyerang menggunakan pukulan tangannya, namun yang ia kena hanyalah tiang rumah karena Ki Demang berhasil menghindar. bahkan dari pukulan Fatahillah, tiang itu goyah dan retak hanya saja tidak membuat tangan Fatahillah terluka.
(rupanya dia bukan anak muda sembarangan) batin Ki Demang memegang perutnya yang terkena tendangan Fatahillah
"masih ingin lanjut Ki...?" tanya Fatahillah, dengan santai ia bersandar di tiang yang dipikulnya tadi dan melipat kedua tangannya di depan dada
Fatahillah tau orang yang dia hadapi sekarang adalah orang yang memiliki ilmu yang cukup tinggi. dirinya dapat merasakan hawa energi yang besar di dalam tubuh Ki Demang, hanya saja jika bukan melawan maka tidak mungkin Fatahillah akan mundur. ia tidak akan pernah untuk memberikan mustika merah kepada siapapun.
Ki Demang tersenyum tipis kemudian kembali menyerang. pertarungan dimalam yang larut itu semakin sengit dan seimbang. bahkan kini Ki Demang membawa Fatahillah kedalam ruang gaib yang ia buat. mereka tidak lagi berada di depan rumah namun keduanya sudah berada di tempat gaib yang tidak ada satu orangpun di tempat itu. hutan belantara yang begitu kelabu dan menyeramkan. kabut yang menyelimuti menghalangi jarak pandang mata.
ddduuuaaaar
ddduuuaaaar
bugh
uhuk...uhuk
"kamu bukan tandinganku anak muda, rupanya ilmu yang kamu miliki tidak seberapa" Ki Demang tersenyum puas melihat Fatahillah melayang di udara dengan dililit oleh akar pohon
"serahkan mustika merah jika kamu masih sayang dengan nyawamu"
"hhh...jangan mimpi Ki"
Ki Demang meradang mendengarkan jawaban Fatahillah.
"lilit dia lebih kencang lagi" perintah Ki Demang
akar pohon itu semakin mengencangkan lilitannya.
"aaaggghh"
Fatahillah merasakan tubuhnya seakan ingin koyak dan remuk.
"sudah aku katakan, kamu tidak akan bisa melawanku. lebih baik berikan saja mustika merah itu padaku dan kamu akan aku ampuni"
bukannya menyerah Fatahillah malah membalas dengan senyuman smirk. kedua matanya ia tutup sempurna, bibirnya bergerak membaca mantra dan saat itu juga, akar-akar yang melilit tubuhnya hancur lebur menjadi beberapa bagian. Fatahillah mendarat di tanah dan langsung melesatkan serangan.
bugh
serangan dadakan yang ia lesatkan mengenai Ki Demang dan membuat laki-laki itu terpental. hampir menabrak pohon hanya saja Ki Demang menggunakan kakinya untuk menahan tubuhnya.
Fatahillah mengangkat tangan kanannya ke depan, seketika sebuah keris muncul di telapak tangannya.
Ki Demang pun mengeluarkan senjatanya, keris yang sama namun berukuran besar sedang milik Fatahillah berukuran sedang.
kembali keduanya melesat dan saling serang. pertahanan keduanya begitu seimbang bahkan setiap serangan selalu mengeluarkan cahaya yang membuat semua penghuni hutan itu bergerombol menuju ke arah mereka untuk melihat pertarungan sengit itu.
bugh
bugh
keduanya sama-sama terpental, hanya saja Fatahillah terbatuk mengeluarkan darah sementara Ki Demang tidak terluka sama sekali.
(kuat sekali dia, apakah aku sanggup mengalahkannya) Fatahillah berusaha bangkit dan kembali berdiri
Ki Demang tersenyum menyeringai melihat Fatahillah kembali terluka. ia kemudian mengumpulkan kekuatan kerisnya dan seketika keris itu mengeluarkan sinar merah. ia lesatkan serangan ke arah Fatahillah. Fatahillah refleks menahan dengan kekuatan cincin yang mengeluarkan sinar biru.
semakin lama, Fatahillah semakin mundur ke belakang sedangkan Ki Demang terus memukul mundur Fatahillah dengan mempertinggi kekuatannya.
Ki Demang mendorong tangannya kedepan sehingga serangannya semakin maju dan akan menyerang Fatahillah. saat itu juga Fatahillah langsung menghindar dengan cara melenturkan badannya. ia menghindar dengan cara kayang dan serangan Ki Demang tepat melewati di atas kepalanya.
ddduuuaaaar
serangan itu mengenai beberapa makhluk gaib yang sedang menonton pertarungan keduanya. lengkingan suara kesakitan menggema di hutan itu membuat makhluk gaib lainnya ketakutan dan bersembunyi.
Ki Demang mengumpat kesal karena Fatahillah berhasil menghindari serangannya. Ki Demang duduk bersila dan mengatupkan kedua tangan di depan dada. bibirnya komat-kamit membaca mantra. seketika Fatahillah mencekik lehernya sendiri. bahkan meskipun dirinya berusaha untuk melepaskan tangannya tetap saja kedua tangannya seperti magnet yang menarik paksa untuk mencekik lehernya.
uuugghhh
Fatahillah merintih sakit, kedua matanya mulai memerah dan air matanya mulai keluar. dadanya sakit dan ia pun mulai sesak nafas.
Ki Demang bangkit dari duduknya dan memegang kerisnya dengan kuat. secepat kilat ia melesat akan menusuk Fatahillah dengan kerisnya. belum sempat keris itu mengenai tubuh Fatahillah, Ki Demang terpental ke belakang sementara tangan Fatahillah terlepas dari lehernya.
uhuk...uhuk...uhuk
"haaaah .. haaaah"
seperti seseorang yang kekurangan pasokan oksigen, Fatahillah menghirup oksigen dengan begitu rakus dan tubuhnya jatuh terbaring ke tanah.
"g-guru" dengan terbata Fatahillah memanggil seseorang yang berdiri di depannya
Ki Demang begitu marah, ada yang datang membantu Fatahillah. hendak kembali menyerang namun kepulan asap menghalangi pandangan jarak matanya sehingga ia tidak lagi melihat sosok yang berdiri di depannya dan juga Fatahillah. setelah sekian menit, asap itu menghilang dan Fatahillah sudah tidak berada lagi di tempat itu.
"ternyata dia mempunyai pelindung" Ki Demang mengepalkan tangannya
di ruang tengah, Hasan dan Fauzan kini tengah panik dan khawatir karena Fatahillah yang kini masih terbaring dan menutup rapat matanya, mengeluarkan darah dari mulutnya. keduanya bahkan sudah berusaha mencoba membangunkan teman mereka itu namun Fatahillah sama sekali tidak membuka mata.
"astag San....apa yang harus kita lakukan...?" Fauzan begitu panik
Langon pun terus menggoyangkan lengan tuannya namun tidak ada respon sama sekali.
"apakah dia mimpi buruk...?" ucap Hasan
"jangan-jangan dia di serang di dalam mimpi. cepat bangunkan San, dia bisa mati kalau seperti itu"
Hasan berlari ke arah dapur. niatnya adalah mengambil air untuk menyiram Fatahillah. dengan satu ember air, Hasan datang tergopoh-gopoh.
byuuur
satu ember penuh berisi air Hasan siramkan ke tubuh Fatahillah. saat itu juga Fatahillah bangun dengan nafas yang memburu.
"Fatah...kamu baik-baik saja...?" Fauzan langsung mendekat meskipun dirinya harus ikut basah
"astaghfirullah...kenapa dengan lehermu" Fauzan kaget melihat leher Fatahillah yang begitu memerah
"haus...aku haus" ucap Fatahillah dengan lirih
kembali Hasan berlari ke arah dapur untuk mengambil air minum. setelahnya ia kembali lagi dengan segelas air minum di tangannya.
"minumlah" Hasan membantu Fatahillah untuk minum
air di dalam gelas itu Fatahillah teguk sampai habis. ia kemudian mengatur nafasnya yang masih naik turun tidak beraturan.
Langon mendekat dan menjilati wajah Fatahillah. bentuk kasih sayangnya kepada tuannya yang begitu ia khawatirkan.
"aku baik-baik saja Langon" Fatahillah memeluk Langon
GRAAARR
"iya... maaf telah membuatmu khawatir" ucap Fatahillah. ia tau kalau harimau putih itu menghawatirkan dirinya
Fatahillah melepas pelukannya dan mengelus kepala Langon dengan lembut.
"apa yang terjadi Fatah, kenapa bisa lehermu seperti ini dan bahkan mulutmu berdarah" tanya Fauzan
"aku di serang, jiwaku di tarik paksa untuk keluar. rasanya leherku begitu sakit dan panas. Fatahillah memegang lehernya namun kemudian ia sadar kalau pakaiannya kini dalam keadaan basah "siapa yang menyiramku...?" Fatahillah memicingkan mata ke arah dua temannya
"entahlah.... sepertinya hujan dan atapnya bocor" Hasan menjawab cepat dan melangkah mundur
"dia pelakunya" Fauzan menunjuk Hasan
"wah nggak solid banget sih kamu" Hasan mencebik kesal sementara Fauzan memasang tampang polosnya
"kalau seperti itu aku tidak ingin basah sendirian, kalian harus ikutan basah" Fatahillah tersenyum penuh makna
"aduh aku sakit perut, ke kamar mandi dulu ya" Fauzan hendak bangkit namun Fatahillah mencekal lengannya
"nggak ada alasan, pokoknya kalian harus basah sama sepertiku. Langon, tangkap Hasan dan bawa ke kamar mandi"
Langon patuh dan mulai berjalan mendekat ke arah Hasan.
"hei hei hei...jangan macam-macam kamu Langon ya, aku bisa melawan loh" Hasan mundur dan hendak melarikan diri namun Langon malah mengejarnya dan akhirnya keduanya malah main kejar-kejaran di dalam rumah
terlepas dari pertarungan yang dialami Fatahillah, kini ketiga pemuda itu saling grasak-grusuk di dalam rumah. Hasan terus melarikan diri dari kejaran Langon sementara Fauzan saling tarik-menarik dengan Fatahillah karena Fatahillah akan membawa Fauzan ke kamar mandi untuk disiram.