
"tadi itu siapa Mal, kamu ini loh main peluk anak orang saja" ibu Afifah kembali menjewer telinga Akmal
"aduh aduh, sakit bu. lepasin dulu telinga aku Napa"
"his kamu ini loh Mal, udah ibu bilangin jangan seperti itu. nanti kalau wanita tadi datang menuntut bagaimana. punya anak bujang susah sekali kalau dibilangin" ibu Afifah menyoyor kepala Akmal dengan gemasnya
"ya tinggal nikah lah bu, gampangkan" balas Akmal
"memangnya tadi itu siapa Mal...?" tanya Ali
saat ini Akmal dan ibu Afifah berada di mobil Ali sementara Alex dan Hasan di mobil pak Umar bersama Hanum. Fatahillah dan Aji Wiguna sudah pergi lebih dulu membawa Gara ke rumah sakit bersama ibu Laila.
"masa paman Ali lupa sih, dia itu mbak Nagita loh mas sepupu dari mbak Suci" Akmal mencoba mengingatkan
"Nagita...?" Ali sedang mengingat
"iya, dulu dia kuliah di kedokteran dan sekarang jadi dokter benaran. masa paman lupa sih"
"masya Allah....jadi wanita tadi itu Nagita...? aku sama sekali tidak perhatikan kalau itu dia. dulu kan dia nggak pakai hijab dan sekarang dia pakai. baguslah kalau ucapanku dulu dia ikuti" Ali tersenyum telah mengingat dokter Nagita
"walah....jadi yang tadi itu Nagita toh. kenapa tidak bilang dari tadi sih Mal. tau begitu kan ibu mau sapa dulu" ucap ibu Afifah
"sapanya nanti saja bu, lagipula kami akan bertemu lagi kok"
"Nagita siapa sih mas...?" Maryam yang penasaran pada akhirnya bertanya
Ali pun menceritakan kepada istrinya itu siapa Nagita dan bagaimana mereka bisa mengenal wanita itu. Maryam hanya manggut-manggut tanda mengerti.
"nggak usah cemburu bibi Maryam, mbak Gita nggak doyan sama laki orang kok" celetuk Akmal
"terus dia doyannya sama kamu gitu...?" cibir Ali
"lah, paman lihat sendiri kan kalau tadi kami berpelu...."
plak
plak
plaaaak
"aduh bu....kenapa aku dipukul lagi sih. tega amat sama anak sendiri" kembali Akmal meringis karena ibu Afifah memukul pahanya
"berdosa loh Mal kamu ini"
"aku akan bertanggung jawab bu, lagi pula aku dan mbak Gita saling suka"
"haaah...?" ibu Afifah menganga lebar
"jangan ngawur kamu Mal" Ali sungguh tidak percaya
"aku serius paman, lihat saja nanti. akan aku bawa Nagita untuk bertemu ibu, pokoknya ya ibu harus merestui kami nggak boleh tidak"
"lah malah maksa toh" geleng ibu Afifah
"jangan mau mbak" Maryam menjadi kompor
"ya jangan gitu dong bi, tega amat sama keponakan sendiri. pokoknya ibu harus mau ya....ya ya ya" dengan manja Akmal bergelayut di lengan ibunya
"tapi memangnya dia benaran mau sama kamu tidak, kok ibu ragu ya"
"ibu meragukan ketampanan anakmu ini. asal ibu tau ya, mbak Gita bahkan menolak lamaran laki-laki yang super kaya karena dia lebih memilih Akmal. keren kan aku" dengan bangga Akmal mengangkat kerah bajunya
"jangan-jangan yang kamu bilang untuk memakai ilmu pelet itu, kamu mau pelet Nagita ya" Ali memicingkan mata di spion gantung, menatap tajam kepada Akmal
"astaghfirullah Akmal, dosa loh itu kamu" Maryam langsung beristighfar
"Akmal, kamu main pelet...?" tentu saja ibu Afifah melotot
"ya Allah Robbi, ya nggak lah bu. tadi itu Akmal hanya bercanda saja. sumpah deh demi Allah dan Rasul-Nya"
"baguslah, jangan sampai kamu terlibat dengan ilmu seperti itu ya Mal. tapi ngomong-ngomong siapa laki-laki yang ditolak Nagita sampai dia memilih bocah ingusan seperti kamu" ucap Ali
"kalau nggak salah sih namanya Fahmi, tadi subuh ya aku lihat dia sholat di masjid pesantren. aku yakin kalau itu dia"
"Fahmi...?" Ali menyahut
"iya, paman kenal ya...?"
"Fahmi yang ini bukan...?" Ali memberikan ponselnya kepada Akmal, ada satu foto laki-laki di layar ponsel itu
"nah benar, ini orangnya. tapi tunggu, kenapa paman Ali bisa punya foto dia...?"
"ya Allah, ternyata dunia ini sempit ya. dia itu sahabat aku. kemarin dia menghubungiku untuk bertemu denganku maka dari itu aku menyuruhnya untuk datang di pesantren dan tidur di rumah"
"jadi mas Fahmi yang itu yang Nagita tolak...?" tanya Maryam
"iya sayang, memang kalau bukan jodoh ya"
"waaah padahal mas Fahmi lebih mapan loh dari kamu Akmal. bersyukur kamu dicintai wanita seperti Nagita, dia udah cantik dan sepertinya baik"
"makanya itu bi, aku ingin cepat-cepat melamar mbak Gita, biar nggak punya saingan lagi"
"memangnya keluarganya mau gitu nak...? ingat loh nak, kita itu orang nggak punya" ibu Afifah belum merasa yakin
"insya Allah bu, doakan saja yang terbaik untuk anakmu ini" Akmal menarik ibu Afifah ke dalam pelukannya
"jika kita niat kita baik, insya Allah semuanya akan berjalan lancar. mau di terima atau di tolak ya harus kita terima dengan lapang dada" Ali mengingatkan
"semoga saja, soalnya dia itu dokter. takutnya keluarganya tidak mau menerima Akmal karena Akmal hanya punya bengkel sebagai masa depannya"
"jangan pikirkan itu bu, insya Allah jika kami berjodoh maka semuanya akan berjalan lancar"
"semoga saja"
di pertengahan jalan, mobil yang dikemudikan Fatahillah berhenti. itu karena Fatahillah melihat guru Halim yang sedang berdiri dibawah pohon besar, menatap ke arah mereka. segera Fatahillah kembali menyalakan mobil dan berhenti di dekat guru Halim.
"kenapa berhenti di sini nak, adikmu sedang sekarat" ucap ibu Laila
"Farhan tidak butuh rumah sakit saat ini bu, yang Farhan butuhkan adalah seseorang yang dapat menyembuhkan dirinya" Fatahillah memutar kepala melihat di kabin tengah
"justru di rumah sakit dia bisa diobati nak, kamu kenapa bicara seperti itu.
"lihat di depan bu, dialah yang bisa mengobati Farhan saat ini"
Laila melihat seorang laki-laki tua yang bersorban berdiri di dekat mobil mereka. Fatahillah turun begitu juga dengan Aji Wiguna. sementara ibu Laila tidak ingin sama sekali meninggalkan Gara yang kini sudah tidak sadarkan diri.
"bu" Fatahillah membuka pintu mobil "waktunya Farhan dibawa oleh guru Halim" lanjutnya
"guru Halim...?" ibu Laila mengernyitkan dahi
guru Halim datang mendekat dan memberi salam kepada ibu Laila. saat itu, ibu Laila begitu terkejut melihat keberadaan guru Halim.
"H-Halim"
"maaf Laila, tapi sekarang anakmu harus ikut bersamaku. sakit yang dia alami bukan penyakit biasa. dirinya harus diobati secepatnya"
"mau kamu bawa kemana anakku Halim, aku tidak ingin berpisah dengannya. cukup sudah berpuluh-puluh tahun aku kehilangan dia, aku tidak ingin kehilangan Farhan lagi" ibu Laila memeluk tubuh Gara dengan erat, tidak mengizinkan guru Halim untuk membawa putranya itu
"bu, ini semua demi keselamatan Farhan" Fatahillah mencoba memberikan pengertian
"tidak...ibu tidak mau dia membawa Farhan. kita ke rumah sakit saja" ibu Laila tetap menggeleng
"Laila, apa kamu mau benar-benar kehilangan Farhan jika kamu keras kepala seperti sekarang ini. Gandha akan semakin tertawa melihat anakmu mati karena perbuatannya"
"apa maksudmu Halim...?" ibu Laila menatap sengit guru Halim
"Farhan sakit seperti ini karena ayahnya sendiri, Gandha Sukandar. sepertinya kita tidak punya waktu untuk menjelaskan itu semu bu, yang terpenting sekarang adalah membawa Farhan ke gunung Sangiran untuk diobati" kali ini Aji Wiguna yang bersuara
"aku tidak mengerti maksud ucapanmu"
"bu, aku mohon... tolong jangan seperti ini. kasian Farhan. biarkan guru Halim yang membawa, di sana Farhan akan diobati olehnya" Fatahillah kembali membujuk
"Farhan tidak akan pergi kecuali ibu ikut. ibu ingin bersama dengannya ke gunung Sangiran" dengan lembut ibu Laila mencium kening Gara
"tapi bu"
"tidak apa-apa Malik, jika ibumu ikut itu sama sekali tidak masalah" guru Halim sama sekali tidak keberatan
kesepakatan telah diambil, ibu Laila akan ikut ke gunung Sangiran. tepat saat kedua mobil berhenti di dekat mereka, ibu Laila dan Gara menghilang bersama guru Halim.
"kenapa berhenti di sini Fatah, bukannya mau ke rumah sakit...?" tanya pak Umar. semua orang turun menghampiri mereka
"tidak jadi pak, Farhan sudah dibawa guruku ke gunung Sangiran" jawab Fatahillah
"lah kenapa malah dibawa ke gunung...?" Ali bertanya
"karena hanya guru Halim yang dapat mengobati Farhan. tapi ngomong-ngomong ibu Laila kemana...?" Hasan melihat ke dalam mobil, tidak ada ibu Laila di sana
"ibu Laila ikut bersama gurunya Fatahillah dan Farhan" Aji menjawab
"saya tidak mengerti" Maryam linglung dengan pembicaraan mereka sekarang ini
"intinya Farhan sekarang ikut guruku ke gunung Sangiran bersama ibu. karena hanya di sana tempat yang aman untuk melakukan pengobatan kepada Farhan" ucap Fatahillah
"baiklah, tidak masalah jika tidak menjelaskan secara detailnya. sekarang sebaiknya kita pulang saja, bagaimana" ucap ibu Rosida
"benar, sebaiknya kita pulang saja" timpal ibu Afifah
"berarti besok kita sudah bisa berangkat ke gunung Gantara ya" ucap Alex
"bisa jadi seperti itu, ayo kita pulang" ajak Fatahillah
malam harinya pak Umar dan keluarganya berserta yang lain membagikan bingkisan kepada santri dan santriwati. terlihat semua anak-anak pesantren berbasis dengan rapi menunggu giliran untuk mengambil bingkisan itu. Akmal yang juga ikut membantu memicingkan mata ke arah depan sana saat dimana ia melihat Nagita datang bersama dua orang yang berjalan beriringan mendekat ke arah Ali. Fahmi dan juga Nagita serta satu wanita lagi yang mengenakan hijab navy dan gamis hitam, begitu terlihat akrab dengan Ali.
"ngapain sih itu orang datang lagi ke sini" gumam Akmal, dengan mendumel tidak jelas, ia memperhatikan Nagita begitu akrab dengan Fahmi
"mas, mau di kasih nggak sih" salah satu santri bertanya sebab Akmal malah fokus ke arah lain
"nih" Akmal memberikan bingkisan itu dengan wajah jutek luar biasa
"idih..., masnya jutek banget"
"silahkan diambil yang mulia" dengan senyuman mengembang Akmal menatap santri itu namun yang dilihat oleh santri itu bukanlah senyuman hangat melainkan senyuman seperti seorang psikopat. dengan ngeri santri itu mengambil cepat bingkisannya dan berlalu terburu-buru
"bukannya kalian lagi sibuk ya, bagaimana kalau kami bantu" tutur Fahmi
"memanglah jiwa rasa pedulimu nggak pernah luntur Fah. ya sudah kalau nggak mau ke rumah, duduk di sini saja dulu" Ali mempersilahkan mereka untuk duduk di kursi berjejer dengan tempat mereka
mereka pun setuju, tidak enak hati pergi rumah sementara tuan rumah masih sibuk. meskipun di rumah nanti ada kiayi Anshor dan umi Zainab, tetap saja yang mereka ingin temui adalah ustad Rahman Ali.
Nagita celingukan mencari keberadaan Akmal, pemuda itu memang pernah memberitahunya kalau jika mereka pulang ke kota B maka mereka tinggal di pesantren Abdullah. saat ini kedua matanya memindai setiap orang yang membagikan bingkisan. hingga ia melihat seseorang yang dicarinya. senyumannya mengembang melihat Akmal yang berada sedikit jauh darinya.
"liatin apa hayooo" Sarah menabrak bahu Nagita dengan bahunya sendiri
"liatin orang-orang lah Sar, nggak mungkin kan aku liatin hantu" jawab Nagita dengan santai
"elleh, kayak penting aja ya orang-orang di sini sampai kamu liatin terus. apa karena ada pujaan hati di sana sehingga matamu itu tidak ingin berpaling ke tempat lain" Sarah menggoda Nagita, ia menunjuk Akmal menggunakan dagunya. Sarah melihat Akmal waktu memeluk Nagita di pantai tadi siang, sehingga Sarah kini tau kalau Akmal adalah laki-laki pilihan Nagita
"sok tau kamu" Nagita merasa malu telah ketahuan terus memperhatikan Akmal
"cie cieee.... brondong nih eee"
"hus" Nagita membekap mulut Sarah "pelan-pelan Sarah" seketika Nagita melotot
"ada apa Gita...?" Fahmi bertanya saat melihat tingkah keduanya
"nggak ada apa-apa mas" Nagita tersenyum menjawabnya
Fahmi manggut-manggut kemudian mendekati Ali dan membantunya. semuanya berjalan dengan lancar, santri dan santriwati begitu senang mendapatkan bingkisan dari keluarga pak Umar. selesai dengan pembagian bingkisan, semua santri dan santriwati diarahkan untuk kembali ke kamar mereka masing-masing.
"Alhamdulillah akhirnya selesai juga" ucap Hanum
"iya, tidak terasa selesai sampai jam segini" Maryam melihat jam tangannya
"itu karena banyaknya para santri. Alhamdulillah cukup semuanya" ibu Rosida merasa senang melihat anak-anak santri begitu antusias dan berterimakasih kepada keluarga pak Umar
"kalau begitu kita balik ke rumah, ini sudah mendekati larut malam" ajal pak Umar
"iya, sebaiknya kita pulang" timpal ibu Afifah
mereka berpamitan kepada Ali untuk pulang. di saat itu ibu Afifah melihat Nagita, ia pun tersenyum lembut ke arah dokter itu dan menyapanya.
"kita bertemu lagi dokter Nagita. dokter sepupunya Suci Wulandari kan...?"
"iya bu, Suci memang sepupu saya"
"masya Allah, ternyata Suci mempunyai sepupu yang cantik dan baik seperti kamu" ibu Afifah mengelus lembut lengan Nagita, perlakuan wanita baya itu membuat Akmal tersenyum dari kejauhan "kalau begitu ibu pulang dulu ya, mainlah ke rumah kalau sempat"
"insya Allah bu" Nagita begitu senang disambut ramah oleh ibu dari laki-laki yang ia cintai
semuanya kembali ke rumah, Ali pun mengajak ketiga tamunya untuk ke rumah. namun Akmal menghentikan mereka, ia melangkah mendekat.
"lalu kita bagaimana...?" tanya Hasan
"ya pulang lah, besok kita harus berangkat lagi" Fatahillah merangkul Hasan dan berjalan ke arah rumah. Aji Wiguna dan Alex pun ikut
"ada Mal...?" tanya Ali
"aku hanya ingin bicara sebentar dengan mbak cantik ini paman, boleh kan...?" Akmal menatap Nagita, yang ditatap tersenyum malu
"sudah larut loh Mal, memang mau bicara apa...?"
"ish...paman kepo deh. rahasia tau"
"biarkan saja Ali, mungkin memang dia ingin bicara hal yang penting. bagaimana kalau kita pergi duluan saja" Fahmi bersuara
"waaah pengertian sekali lah mas Fahmi ini. aku memang ingin membicarakan masa depan yang penting bersama mbak cantikku" dengan senyum penuh arti Akmal berucap, seakan ingin memberitahu kalau dia adalah laki-laki yang Nagita pilih
Fahmi hanya tersenyum menanggapi, sementara Ali ingin sekali menjitak kening keponakannya itu.
"jangan bicara berdua saja, harus ada yang menemani" ucap Ali tegas
"saya saja yang menemani keduanya, insya Allah aman dan terkendali. mereka tidak akan macam-macam " ucap Sarah
"lebih baik seperti itu, biar jadinya nggak ada fitnah. kalau begitu kalian bicara di depan rumah saja, agar aman dan dapat dipantau"
"baiklah, bagaimana mbak. mau kan...?" Akmal menoleh
"terserah kamu" Nagita menjawab pelan
mereka berjalan beriringan menuju ke rumah kiayi Anshor. Akmal lebih memilih untuk berjalan di depan bersama Ali dan Fahmi, meski ingin sekali melangkah beriringan bersama Nagita, keinginan itu ia tahan agar dirinya tidak selalu khilaf memegang tangan dan bahkan memeluk wanita itu. bagaimanapun, nafsu manusia adalah hal terberat untuk dikendalikan.
Ali, Fahmi dan Maryam masuk ke dalam rumah sementara Akmal duduk di teras rumah bersama Nagita. Sarah berada tidak begitu jauh dari mereka. karena tidak ingin mendengar apa yang kedua sejoli itu katakan, Sarah memasang headset di telinganya.
"mbak kok bisa ada di sini...?" awal pembicaraan yang Akmal mulai
"diajak mas Fahmi ke sini"
"kelihatannya kalian berdua begitu dekat ya"
"kami kan berteman Mal, pernah satu sekolah juga"
"mbak benar-benar menolak lamaran itu kan...?"
"kamu tidak percaya padaku...?"
"yaa percaya, aku hanya ingin memastikan saja. makasih ya mbak udah memilih aku" dengan lembut Akmal tersenyum
"kenapa kemarin menghindari aku...?"
"bukan menghindar mbak, hanya sedang menata hati agar bisa menerima keadaan. sakit tau saat kemarin melihat kamu datang dilamar"
"sekarang nggak sakit lagi kan...?"
"sekarang mah hatiku sedang berbunga-bunga, seperti ditaman bunga"
"lebai" Nagita mencibir namun ia pun merasakan bahagia
"oh iya, mbak kok bisa ada di kota ini...?"
"ikut seminar, kebetulan aku dan Sarah yang menjadi perwakilan dari rumah sakit"
"terus kenapa ada mas Fahmi...?"
"kita berangkat bersama, kebetulan juga dia bilang mau bertemu sahabatnya di sini. nggak taunya sahabatnya itu adalah Ali"
"oooh" Akmal manggut-manggut
"mbak"
"ya"
"apa keluargamu nggak marah, mbak menolak Fahmi...?" aku lihat paman Danang begitu antusias waktu itu"
"kecewa sih pasti ada, tapi aku kan punya pilihan sendiri"
"terus mbak beritahu mereka siapa laki-laki yang mbak pilih...?"
"nggak" Nagita menggeleng
"lah terus...?"
"biar menjadi rahasia saja dulu, tapi aku nggak mau punya hubungan yang main-main Mal. umurku sudah bukan lagi untuk terus bermain-main dalam masalah hubungan"
"aku juga nggak main-main loh mbak, aku serius. setelah aku pulang dari gunung Gantara, aku dan ibu akan ke rumah untuk melamar mbak"
"kamu serius kan...?" Nagita kurang yakin
"serius mbak sayang, aku sudah memberitahu ibu dan juga paman Ali. tunggu aku sebentar lagi ya, mbak mau kan menunggu aku" Akmal menatap penuh harap
"iya" Nagita mengangguk "asal kamu serius tentu saja aku akan menunggu"
"terimakasih mbak" Akmal hendak memegang tangan Nagita namun Sarah mulai menggagalkan rencananya
"ekhem... ekhem" Sarah melototi keduanya
"dikit aja kok mbak" cengir Akmal
"mau aku laporin...?"
"yeee mbak mah begitu...nggak ada manis-manisnya" Akmal cemberut, Nagita hanya tertawa kecil
"gula kali yang manis" balas Sarah tertkikik dalam hati
Akmal melihat jam tangannya, sudah menunjukkan pukul 23.30. setengah jam lagi pergantian waktu. ia pun pamit pulang karena dirinya juga harus beristirahat.
"masuk gih, ini sudah larut malam"
"kamu berangkat besok...?"
"iya, mungkin setelah sholat subuh"
"jangan lupa beri kabar ya Mal, aku nggak suka kamu seperti kemarin"
"siap calon ibu negara" Akmal menjawab sambil melakukan penghormatan
"idih... nggak harus gitu juga kali Mal" Nagita geleng kepala
"cieee calon ibu negara" Sarah menggoda membuat Nagita semakin malu
"ya udah mbak, aku pulang dulu ya. jangan lupa mimpiin aku" Akmal mengerling mata "assalamualaikum calon bidadariku"
"wa alaikumsalam" Nagita menjawab dengan senyuman manis
Akmal mengambil langkah melambaikan tangan ke arah wanitanya kemudian dirinya semakin menjauh dari keduanya. Sarah menghampiri Nagita dan kembali menggodanya.
"apaan sih, ayo masuk"
"cieee....mukanya merah tuh"
"ish... nggak ya"
dengan malu Nagita masuk ke dalam rumah meninggalkan Sarah yang tertawa puas telah menjahili temannya itu.