Fatahillah

Fatahillah
Bab 120



harusnya sejak sejam yang lalu, kapal yang ditunggu telah tiba dan bersandar di bibir pelabuhan namun sampai saat ini satu jam kedatangan mereka, kapal itu belum muncul juga. padahal informasi yang didapatkan kapal itu dalam perjalanan, sayangnya sampai saat ini belum ada tanda-tanda kedatangannya.


"apakah masih lama kami harus menunggu...?" tanya Alex


keduanya kini menunggu di tempat yang disediakan, duduk di kursi kayu dengan cemilan yang disiapkan. Akmal sudah begitu bosan, saking jengkelnya, ia menatap laki-laki yang berdiri di depan mereka tatapan tajam.


laki-laki itu menekan alat kecil yang ada di telinganya, diam beberapa saat hingga ia melihat jam tangannya. Alex dan Akmal dikawal lebih dari sepuluh orang anak buah Gandha Sukandar. mereka tidak hanya datang berdua saja tetapi bagai bos besar, mereka diperlakukan dengan baik.


"kapal akan datang terlambat, mungkin sekitar satu jam lagi akan tiba di pelabuhan ini" jawab laki-laki itu.


"apa....? satu jam lagi....?" Akmal semakin dibuat kesal "hei, kamu mengatakan kalau kapal itu akan segera datang dan sekarang kamu mengatakan kami harus menunggu satu jam lagi. sudah sejam kami duduk seperti ini dan sekarang kami harus menunggu satu jam ke depan, berarti totalnya dua jam. kamu mau mempermainkan kami ya" suara Akmal sedikit meninggi, menunggu adalah sesuatu yang membosankan baginya dan kini dirinya ingin sekali membuang laki-laki itu di laut.


"maafkan kami, ini memang kesalahan kami. saya harap kalian dapat menunggu satu jam lagi. jika bosan, kalian bisa saya antar beristirahat di kapal pribadi milik bos Gandha"


Alex membuang nafas, sejak tadi menunggu dan sekarang mereka harus menunggu lagi. ia melihat di ujung jembatan, beberapa orang sedang berjaga menunggu kedatangan kapal sedang yang lainnya mengambil posisi di tempat lain yang tidak jauh dari ketiganya.


dengan pakan serba hitam dan menggunakan jas, mereka layaknya bodyguard yang ada di film-film. Alex kini berpikir jika Victor mendapatkan perlakuan seperti ini juga. buktinya mereka saja di kawal dengan baik dan bahkan seperti bos besar saja padahal keduanya juga adalah anak buah.


"kenapa Faiz...?' laki-laki itu menyampingkan wajahnya dan berbicara dengan seseorang lewat alat kecil yang ada di telinganya. "tidak, kami akan melakukan yang terbaik" lanjutnya, kemudian kembali menghadap lurus ke arah dua lelaki yang saat ini sedang memindai dirinya.


"menunggu seperti ini sangat membuatku muak. aku laporkan nanti ke bos Gandha kalau kalian memberikan informasi yang salah" cebik Akmal


"sekali lagi kami minta maaf, mohon jangan beritahu kepada bos Gandha. Victor tidak pernah melakukan itu" ucapnya memohon.


"Victor...?" Alex mulai tertarik dengan percakapan mereka


"iya, laki-laki yang pernah bekerja dengan bos Gandha. dia tidak pernah melaporkan apapun kesalahan kecil yang tidak sengaja kami lakukan. andai saja kalau dia masih ada" laki-laki itu menatap ke arah laut yang terbentang luas di depannya


"apa maksudmu andai saja kalau dia masih ada...?" Alex menatap curiga


"hah...? m-maksudku....andai saja dia tidak memilih keluar dari pekerjaannya, begitu maksud ucapanku" laki-laki itu tergagap


"siapa namamu...?" tanya Akmal


"Arvin" jawabnya


"kamu sudah lama bekerja seperti ini...?"


"sudah lima tahun, waktu itu Victor yang merekomendasikan aku ke bos Gandha"


Alex kembali memperhatikan sekitar, jarak antara yang lainnya dengan mereka itu sedikit jauh. ia pun ingin menanyakan sesuatu kepada Arvin tentang seorang Victor. dirinya ingin tahu dimana laki-laki itu berada. dia pasti banyak tau tentang Gandha Sukandar dan juga rahasianya. Baron pernah mengatakan kalau Victor adalah orang kepercayaan Gandha Sukandar, itu berarti mungkin saja laki-laki itu tahu dimana Gandha Sukandar menyembunyikan Amsar, ayah Fatahillah dan Gara.


Alex mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu setelahnya ia memperlihatkan apa yang ditulisnya kepada Arvin.


"buka alat komunikasi di telingamu, aku ingin menanyakan sesuatu yang penting dan tidak ada yang boleh tau selain kita bertiga" Arvin membaca itu dengan pelan.


karena penasaran, Akmal mengambil ponsel Alex dan membaca pesan itu. kening Akmal mengerut dan menatap Alex penuh tanda tanya.


"memangnya kenapa mas...?"


"sssttt" jari telunjuk Alex ia letakkan di bibirnya, agar Akmal diam dan laki-laki itu mengangguk.


"hei, kamu tidak dengar apa yang temanku katakan. tuli ya" sengit Akmal yang sejak tadi menahan kesal karena menunggu.


meskipun bingung namun Arvin melepaskan benda kecil berwarna hitam di telinganya. ia memegang benda itu dan menatap kedua laki-laki yang kini sedang menatapnya.


"aku ingin menanyakan sesuatu" ucap Alex


"silahkan" Arvin tetap berdiri di depan keduanya.


"aku yakin kamu pasti dekat dengan Victor. bisa kamu memberitahu kepada kami dimana laki-laki itu sekarang...?"


Arvin diam beberapa saat, matanya memindai sekitar seakan khawatir ada yang mendengar mereka.


"kenapa menanyakan dia...?"


"ada yang ingin aku tanyakan padanya dan ini penting. aku yakin kamu pasti tau dimana dia"


"tidak, aku tidak tahu dimana dia sekarang" Arvin menggeleng cepat "jangan tanyakan dia lagi" lanjutnya dengan mimik wajah khawatir.


"kenapa kamu ketakutan seperti itu, kami tidak akan memakanmu. kami berdua masih makan nasi sampai saat ini" Akmal melihat Arvin begitu gelisah dan tidak nyaman.


"aku tidak tau dimana Victor dan aku harap kalian tidak menanyakan hal itu kepada yang lain. kami tidak ingin terkena masalah dan juga kalian....kalian jangan sampai bernasib sama dengannya" tanpa pamit Arvin pergi meninggalkan mereka dengan pertanyaan yang belum dijawab olehnya.


Alex membuang nafas, semakin yakin dirinya kalau sebenarnya terjadi sesuatu dengan Victor.


"kenapa dia mas, apa Victor seseorang yang kejam sampai kita tidak bisa menemuinya"


"sepertinya tidak, ada sesuatu yang terjadi dengan Victor namun mereka tidak ingin memberitahu karena suatu alasan"


"maksud mas, mereka diancam...?"


"bisa saja. jika kita keluar dari pekerjaan ini itu artinya kita memilih mati, itu yang dikatakan oleh Baron"


"maksudnya Victor dibunuh karena memilih keluar dari pekerjaannya...?'


"entahlah" Alex mengangkat bahu dan meraup wajahnya dengan kedua tangannya.


Akmal memutar kepala ke arah ujung jembatan, sebuah kapal mulai mendekat ke arah jembatan. itu adalah kapal yang mere tunggu sejak tadi.


"mas kapalnya datang"


Alex menoleh, semua anak buah Gandha Sukandar mendekati ujung jembatan untuk menunggu kapal itu.


"kita ke sana" ajak Alex


keduanya sampai tepat setelah kapal itu sandar di jembatan. tidak lama tiga orang turun dari kapal. dua orangnya berdiri di dekat kapal sementara satu orangnya mendekati Arvin yang sedang menunggunya.


"maaf ya Vin, kami terlambat. semoga kamu tidak mendapatkan amukan dari bos"


"sebenarnya aku gelisah, tapi ya sudahlah. dan bukan aku lagi yang bertanggungjawab. bos Gandha telah merekrut pengganti Victor, itu mereka" Arvin menunjuk Alex dan Akmal yang sedang memperhatikan mereka


"bos merekrut dua orang...?"


"iya, kata Baron mereka ahli bela diri makanya bos mengambil keduanya"


orang itu melangkah mendekati kedua laki-laki itu dan berhenti di depan mereka.


"hai, aku Utami yang bertugas mengirim barang di pelabuhan ini" wanita itu tersenyum


ya, dia adalah seorang wanita. Alex dan Akmal tidak menyangka kalau yang mereka tunggu selama dua jam lamanya adalah seorang wanita. wanita cantik yang memakai pakaian serba hitam yang terlihat pres di badannya. hal itu menampakkan lekukan tubuhnya yang indah bagi para lelaki. Akmal menunduk, dirinya adalah laki-laki normal. melihat pemandangan seperti itu, otak siapa yang tidak akan memikirkan sesuatu yang tidak seharusnya.


"kami berdua pengganti Victor, barangnya ada kan...?"


"kalian tidak ingin memperkenalkan diri, aku belum tau nama kalian" Utami mengalihkan mata kepada Akmal dan tersenyum. laki-laki muda itu membalas dengan senyuman tipis.


"kami tidak mempunyai waktu untuk berkenalan, barang-barang itu harus segera di bawa pulang. ayo Mal" Alex melangkah diikuti Akmal.


Utami memutar tubuhnya melihat keduanya menjauh darinya. baru kali ini ada laki-laki yang tidak tertarik kepadanya, hal itu membuat Utami tersenyum kecil. dirinya penasaran dengan dua laki-laki itu namun salah satunya menarik perhatiannya. ia pun melangkah mendekati mereka.


lebih dari seratus boks kayu, diangkut dan dibawa masuk ke dalam mobil box. Alex mengawasi di dekat mobil sementara Akmal masih tetap berada di ujung jembatan mengawasi yang lain. Utami menggunakan kesempatan itu untuk mendekati Akmal.


"kamu belum memberitahu siapa nama kalian. apa semahal itu untuk mengetahuinya...?"


"tidak juga" tanpa menoleh Akmal menjawab


"lalu...?"


"apa nama kami penting bagimu nona...?"


"tentu saja, dengan begitu aku bisa memanggil nama kalian, bukan dengan panggilan hei"


Akmal menoleh dan rupanya kedua matanya langsung mengarah ke arah dua gundukan yang terbungkus kain pres sehingga benda itu begitu nampak di matanya. dengan meneguk ludah, Akmal secepatnya memalingkan wajah. kelakiannya mulai mendominasi pikirannya. tidak ingin berpikir yang tidak-tidak, Akmal menjauh dari Utami namun wanita malah kembali mendekat.


"kenapa menjauh, aku seperti virus saja" Utami menunduk untuk melihat wajah Akmal yang ia sembunyikan di balik topinya.


"aku sedang bekerja nona, konsentrasi adalah nomor satu"


"tapi aku kan tidak mengganggumu"


Akmal tidak menjawab, kedua matanya mengarah ke arah Alex yang memantau di dekat mobil. saat itu juga pikiran Akmal tertuju kepada percakapan yang mereka lakukan tadi bersama dengan Arvin. mereka ingin tahu keberadaan Victor. senyum kecil muncul di bibir Akmal, ia melirik Utami di sampingnya. kini dirinya mempunyai rencana mendekati wanita itu, mungkin saja Utami tau sesuatu tentang Victor.


"benarkah...?" Utami memicingkan mata


"mau mendengarnya...?" Akmal melangkah maju semakin dekat dengan wanita itu. ia mengunci tatapan Utami agar tidak berpaling darinya. di tatap seperti itu oleh Akmal, membuat Utami tersipu malu dan merona.


tidak perlu melempar umpan untuk mendapatkan ikan karena ikan itu datang sendiri tanpa diberikan umpan. Utami tertarik kepada dirinya, itu yang Akmal lihat hanya dengan memindai sikap dan malu-malu kucing wanita itu. tidak ingin membuang kesempatan, Akmal mulai memberanikan diri memperlihatkan kalau dirinya juga tertarik kepada Utami. ia mendekatkan wajahnya ke wajah Utami.


"kamu wanita terseksi yang pernah aku lihat. aku sampai tidak bisa berpaling memandangi indahnya dirimu" bisik Akmal di telinga wanita itu


Akmal mundur selangkah dan tersenyum. Utami membalas senyuman itu dengan senyuman manisnya.


"kena kau" batin Akmal tersenyum menyeringai


semua boks itu telah diangkut ke dalam mobil. Alex memanggil Akmal dengan melambaikan tangan agar laki-laki itu mendekat ke arahnya.


"mau ikut ke sana...?" tanya Akmal


"tentu saja, aku juga harus bertemu bos Gandha untuk melaporkan perkebunan ganja miliknya"


sebenarnya Akmal terkejut mendengar itu namun ekspresi wajahnya ia normalkan kembali. akan dirinya tanyakan hal itu setelah Utami berhasil ia jerat masuk ke dalam jebakannya.


keduanya melangkah meninggalkan jembatan dan menghampiri Alex juga Arvin yang berdiri di samping mobil box.


"kita berangkat sekarang" perintah Alex


"Utami, mau semobil denganku...?" tanya Arvin


"tidak Vin, aku ingin bersama mereka" Utami menunjuk Alex dan Akmal


"baiklah, kalau begitu kami akan mengawal kalian di belakang"


Arvin mengomando semua pasukannya untuk masuk ke dalam mobil. Akmal, Alex dan juga Utami hendak masuk namun seseorang menghentikan mereka dengan teriakan memanggil nama Arvin. laki-laki itu berlari ke arah mereka dan memberitahukan bahwa ada satu teman mereka yang hilang entah kemana.


"bukannya tadi bersama kalian...?" tanya Arvin


"iya tapi setelah itu dirinya berpamitan untuk ke toilet namun sampai sekarang belum kembali juga. kami sudah memeriksa di toilet, tidak ada Jery di sana"


"sudah dihubungi lewat ponselnya...?" tanya Alex


"sudah tapi tidak aktif"


"kalau begitu kita berpencar untuk mencarinya" perintah Arvin


semua orang mulai melakukan pencarian, sementara Alex, Akmal dan Utami menunggu di mobil. saat itu hanya berselang beberapa menit dari pencarian mereka, suara teriakan keras terdengar dari dalam kapal yang ditumpangi oleh Utami dan dua temannya tadi. suara itu membuat semua orang berlari ke arah ujung jembatan.


"sepertinya ada yang tidak beres mas"


"kita ke sana"


ketiganya ikut berlari ke arah ujung jembatan. di sana semua orang sedang berkumpul. Arvin saat itu mendekati kapal yang memuat seratus boks kayu tadi. pistol miliknya ia arahkan ke depan, mencoba untuk masuk ke dalam kapal. tindakan itu terhenti tatkala seseorang muncul dari dalam dengan penampilan yang begitu menakutkan.


"astaga siapa itu...?"


"apakah itu Jery...?"


memakai baju yang sama dengan mereka, semua orang menganggap kalau itu adalah Jery, seseorang yang mereka cari. Arvin sampai terpaku di tempatnya melihat penampakan temannya itu. kuku-kuku yang tajam, mata yang berubah warna menjadi putih seluruhnya, gigi-giginya yang menggeletuk siap menggigit. Jery menatap Arvin dengan tatapan lapar.


"bukankah dia menjadi seperti itu karena virus yang tersebar itu. semua orang akan berubah wujud seperti itu kan"


"gawat, bagaimana bisa virus itu muncul di wilayah ini. apa yang harus kita lakukan...?"


"MUNDUR VIN" teriak Utami


laki-laki itu masih tetap di tempatnya saling berhadapan dengan Jery. sementara Alex dan Akmal begitu kaget, mereka kali ini secara langsung menghadapi manusia yang terkena virus berbahaya itu.


***


Yusrif dan Tegar kini masih tetap berada di pondok dadakan yang dibuat. tanpa dinding dan terlihat seperti pos ronda, mereka berdua duduk di tempat itu. sudah dua jam lamanya mereka menunggu namun sampai saat ini belum juga ada yang menghampiri mereka. bahkan makanan yang mereka bawa di kantung plastik telah habis dan tinggal kulitnya saja.


"kenapa belum ada juga yang datang" ucap Hasan


"iya, padahal kita sudah menunggu dua jam lamanya" timpal Fatih


semua orang masih tetap di posisi masing-masing, bersiap siaga menantikan seseorang yang muncul namun sampai sekarang belum juga ada yang mendatangi dua laki-laki itu. Fatahillah melihat jam tangannya, bukan dua jam lagi namun tersisa beberapa menit maka akan menuju tiga jam mereka menunggu.


"apa mungkin mereka tidak datang ke wilayah ini...?" ucap Aji Wiguna


"tidak mungkin, wilayah ini adalah yang paling dekat dengan wilayah G. jelas mereka mengambil wilayah yang paling dekat sebelum berpindah ke wilayah lainnya" jawab Fatahillah


"tapi sampai sekarang kita tidak melihat siapapun kan" ucap Hasan


tidak ada yang menjawab, Fatahillah duduk di tanah dengan tangan kanannya menopang wajahnya. saat itu dirinya sedang memikirkan sesuatu. penyebaran virus itu dapat dilakukan dengan tiga jalur. jalur darat yang sekarang mereka telah blokir, jalur udara dan laut.


"astaga, kenapa aku tidak berpikir sampai di situ"


"kenapa Fa....eeee Elang....?" Hasan hampir keceplosan memanggil nama asli Fatahillah, untungnya ia segera meralat dan memanggil dengan nama samaran temannya itu.


"tunggu di sini" Fatahillah menjauh dan memilih tempat yang sepi. ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Samuel.


[halo Ga]


[Samuel, apakah kamu telah tiba di wilayah X...?]


[sudah dan sekarang aku sedang bersama Taufik. ada apa...?]


[beritahu padaku siapa yang menjaga di setiap masing-masing wilayah...?]


[kenapa malah menanyakan itu padaku, harusnya kamu tau]


[cepat Sam, ini masalah urgent]


[oke baiklah. di wilayah X Taufik yang bertanggungjawab, wilayah C Arganta, Wilayah G Ahmad, wilayah S aku sendiri dan sekarang digantikan oleh Emril, wilayah D Fatih, wilayah L ada Kemal, wilayah A ada Gino dan wilayah N ada Nino]


[baiklah, terimakasih]


Fatahillah menghubungi nama-nama yang disebutkan oleh Samuel tadi. lewat ponsel Gara yang ia pegang, satu persatu ia hubungi dan memberitahu agar mengerahkan banyak anak buahnya untuk berjaga di masing-masing perairan wilayah dan juga pendaratan helikopter. setelahnya Fatahillah kembali bergabung bersama yang lain.


"masih belum ada yang datang...?" tanya Fatahillah


"belum" Fatih menjawab


"Fatih, dimana tempat pendaratan helikopter di wilayah ini jika bos Gara datang ke sini...?"


"di dekat perumahan milik bos Gara. memangnya kenapa...?"


"kerahkan anak buah bos Gara untuk berjaga di tempat itu dan juga setiap pelabuhan yang ada di wilayah ini"


"di sini hanya ada satu pelabuhan"


"berikan perintah dan blokir tempat itu"


"kenapa Lang...?" tanya Aji Wiguna penasaran


"kita terlalu memikirkan jalan daratnya sampai lupa kalau mereka bisa saja melakukan itu melalui perairan atau lapangan udara. jika mereka tidak ke sini, bisa jadi di dua tempat itu mereka melakukannya"


[APA....? KENAPA TIDAK MENGHUBUNGIKU SEJAK TADI] suara keras Fatih mengagetkan semuanya.


[kerahkan semua orang untuk memblokir tempat itu, jangan biarkan dia masuk ke dalam kota]


"ada apa Fatih...?" tanya Fatahillah


"kamu benar Lang, mereka melakukan itu lewat jalur lain. saat ini salah satu anak buah pak Gandha telah terpapar virus itu. mereka berada di pelabuhan sekarang ini"


"sial" Fatahillah begitu emosi "kamu dan yang lainnya tetap berjaga di sini. Aji, panggil Tegar dan Yusrif, kita ke pelabuhan sekarang"


panik dan juga khawatir, semuanya kocar mengambil langkah meninggalkan tempat persembunyian. Aji Wiguna menghampiri Tegar dan Yusrif sementara yang lain kembali ke tenda.


beberapa koper berisi jarum yang mereka butuhkan di masukkan ke dalam mobil. Fatahillah bersama teman-temannya betolak ke pelabuhan sementara Fatih tetap berjaga di tempat itu.