Fatahillah

Fatahillah
Bab 145



"mas Tegar pingsan, apa yang harus kita lakukan...?" Yusrif memberitahu saat dirinya selesai berpelukan dengan Gara.


"pingsan...? kenapa...?" Hasan seketika panik.


"kepalanya berdarah, lukanya kembali berdarah tapi sudah aku obati. Ayo lihat mas, siapa tau mas Fatah, eh maksud aku mas Gara, bisa mengobati Tegar. Ayo mas"


segera Yusrif mengambil tangan Gara dan menariknya untuk mengikuti langkahnya. Dengan terburu-buru, Yusrif membawa keduanya ke gua tempat persembunyian mereka.


"Ning, dia belum sadar juga...?" Yusrif bertanya setelah mereka tiba di gua.


Kemuning sedang menjadikan pahanya sebagai bantal untuk kepala Tegar. mereka tidak mempunyai bantal empuk untuk mengganjal kepala Tegar.


"belum, dia semakin pucat" Kemuning khawatir melihat keadaan Tegar sekarang.


"tunggulah di sini, aku akan mencari daun-daun untuk mengobati lukanya. Mungkin saja lukanya infeksi atau semacamnya. Dia harus segera diobati pihak medis, tapi perjalanan ke villa masih sedikit jauh. Kita baluri dulu lukanya dengan daun obat" Gara memutar tubuhnya hendak melangkah, namun tanpa sengaja ia menendang sebuah tas yang tersimpan begitu saja di tanah.


"apa ini...?" Gara menunjuk tas itu.


"air telaga biru, itulah mengapa kera iblis itu mengejar kami" Hasan mengambil tas itu dan menyimpannya di tempat aman.


"wah...kalau begitu tidak perlu repot-repot untuk mencari obat karena obat mujarab rupanya kalian bawa" Gara mengambil tas tadi dan ia pun duduk di samping Tegar kemudian membuka tas itu.


"mas mau ngapain...?" Yusrif mengernyitkan kening ketika melihat Gara mengeluarkan satu botol yang berisi air telaga biru.


"aku pernah mendengar cerita dari kakek kalau air telaga biru bisa menyembuhkan luka, luka apa saja asal luka luar. Entah benar atau tidak aku juga tidak tau, namun kalau kita tidak mencobanya maka kita tidak akan tau bukan. semoga apa yang dikatakan kakek benar-benar adanya" Gara memandangi botol itu kemudian membuang tatap ke wajah Tegar dimana kedua matanya tertutup rapat. "buka perbannya" lanjut Gara.


Dengan sigap Kemuning melakukan apa yang dikatakan oleh Gara. Perban yang melilit kepala Tegar dibuka perlahan sehingga luka yang ada di kepalanya terlihat jelas.


Gara membuka penutup botol itu kemudian menuangkan airnya di kepala Tegar. luka itu basah oleh air telaga biru, dan hal yang luar biasa pun terjadi.


Menakjubkan....


Luka yang mengangga di kepala Tegar perlahan-lahan tertutup rapat kemudian setelahnya perlahan-lahan juga lenyap tanpa menyisakan bekas. Semua orang takjub, atas kuasa Tuhan melalui air telaga biru, luka Tegar kini sembuh total. Berikutnya, Tegar membuka mata saat itu juga.


"masya Allah... sungguh luar biasa kuasamu Tuhan" gumam Hasan.


Tegar mengerjapkan mata berulang kali. melihat pemandangan di atas hanyalah bebatuan, Tegar bingung dan menelisik seketika. Jantungnya hampir melompat ketika Yusrif refleks mendekatkan wajahnya begitu dekat dekat wajah Tegar dan mengatakan hal yang membuat semua orang menahan tawa.


"hai manusia...man robbuka...?"


Kemuning menutup mulut agar tawanya tidak keluar, sementara Hasan dan Gara menggaruk kepala dengan kelakuan pemuda yang satu itu.


Tegar melotot menatap wajah Yusrif yang begitu dengan dengan wajahnya, bahkan Yusrif sengaja membuat ekspresi wajahnya menjadi dingin dengan tatapan tajam. Seketika Tegar memicingkan mata kemudian


Plaaaak....


"aduhhh....waaah sekate kate nih si Tegar. Main tampar aja, sakit tau" Yusrif menarik kepalanya menjauh dari Tegar.


"hahaha"


Semua orang tidak dapat menahan tawa, seketika suara tawa keluar dari mulut ketiganya.


"ya makanya, kamu ngapain nempel di wajah aku" Tegar mencebik. Ketika itu kedua matanya menangkap sosok yang kini sedang memangku kepalanya. Wanita cantik bergaun merah bermahkotakan bunga melati. Kemuning tersenyum padanya.


"kenapa aku dikelilingi seperti ini...?" Tegar bangun dan duduk di samping Kemuning.


"kamu hampir metong"


Plaaaak


"aaaww...kamu kenapa sih main pukul terus, malah pedis pula macam sambal terasi" Yusrif kembali mendapatkan tabokan lima jari dari Tegar.


"itu mulut kalau bicara di rem juga, untung hanya dapat lima jari" Tegar menjawab santai, sama sekali tidak merasa bersalah.


"ck...tau gitu aku kasih racun kamu sajalah tadi, biar kejang-kejang sekalian" sungut Yusrif.


Tegar terkekeh dan segera merangkul bahu Yusrif. Namun tanpa sengaja ia mengenai luka yang ada di lengan Yusrif sehingga membuat Yusrif meringis kesakitan.


"pakai air telaga biru saja supaya sembuh seperti Tegar" ucap Kemuning.


"iya, kamu juga harus diobati Yus. Sini aku buka perbannya" Hasan menyuruh Yusrif untuk mendekat ke arahnya.


perban yang melilit lengan Yusrif dibuka oleh Hasan, setelahku Gara membasahi luka itu dengan air telaga biru. Untuk kedua kalinya hal menakjubkan terjadi, luka yang ternyata juga berdarah itu kembali sembuh berkat air telaga biru.


"Alhamdulillah" Gara tersenyum.


Kesembuhan Tegar juga Yusrif menjadi kelegaan bagi mereka. Kini mereka mulai akan melanjutkan perjalanan untuk ke villa. itu adalah perintah Gara Sukandar, ia ingin ke villa itu karena untuk ke perkebunan ganja milik Gandha Sukandar maka jalan pintasnya adalah di villa itu.


"kan bisa memotong jalan, tapi yaa jauh sih" Kemuning mengusulkan.


"kita ke villa terlebih dahulu, perasaanku kita harus ke sana dulu" jawab Gara


mereka semua bergegas, keluar dari gua itu dengan perasaan lega karena telah berhasil mendapatkan air telaga biru. Mereka melangkahkan kaki menuju ke arah timur. Namun saat itu Kemuning tidak mengikuti mereka, sehingga ketika sudah jauh Yusrif tersadar dan berbalik. Wanita itu sedang tersenyum manis ke arahnya.


"kenapa berdiri di situ saja, ayo" panggil Yusrif melambaikan tangannya.


Hasan juga Gara dan Tegar berhenti dan membalikkan badan ketika Yusrif memanggil Kemuning.


"tugasku untuk menemani kalian sudah selesai, sekarang aku harus kembali ke tempatku" ucap Kemuning.


"kembali...? Maksud kamu...kamu mau pulang, tidak ingin ikut bersama kami lagi..?" Yusrif bertanya.


"iya" Kemuning mengangguk.


"tapi... kenapa...? Kenapa tidak ikut saja"


Kemuning tersenyum dan menggeleng kepala. "pertemuan kita hanya bisa sampai di sini. Janjiku adalah membantu kalian mendapatkan air telaga biru dan sekarang janji itu tertunaikan. Sekarang tugasku sudah selesai, aku harus kembali"


"tapi...." Yusrif seakan berat menyetujui keputusan Kemuning.


"Yus, dia berbeda dengan kita" Hasan mengingatkan pemuda itu. ia tau kalau sebenarnya Yusrif menyimpan rasa kepada Kemuning, namun semua itu adalah kesalahan. Yusrif salah menempatkan rasa cintanya dan dirinya harus terpaksa melepas cinta pertamanya. Wanita pertama yang membuat hatinya berdesir dan mempunyai keinginan untuk memiliki.


Seketika Yusrif mengambil langkah, berlari ke arah Kemuning dan memeluk tubuh mungil wanita itu. Kemuning terdiam, dirinya membeku dipeluk erat oleh Yusrif dan setelahnya kedua tangannya membalas pelukan Yusrif.


"andai mereka berada di alam yang sama, Yusrif akan begitu bahagia bisa bersama Kemuning" Tegar merasa kasihan dengan temannya itu.


"tapi takdir tidak berpihak kepada keduanya" Hasan menatap keduanya.


Gara pun tidak berkomentar, namun seketika dirinya teringat dengan mendiang istrinya, Bulan. Tiba-tiba rasa nyeri menjalar ke dalam hatinya, senyuman wanita itu masih begitu membekas di dalam ingatannya. Gara menengadahkan kepalanya ke atas melihat daun-daun pohon yang bergoyang tertiup angin. Ia menutup mata dan membayangkan wajah Bulan yang sedang tersenyum padanya.


"semoga bahagia di sana sayang bersama anak kita" gumam Gara.


Yusrif melepas pelukannya dan menatap wajah cantik Kemuning yang menatapnya teduh.


"terimakasih" ucap Kemuning.


"untuk apa...?"


"untuk semuanya, bersama kalian dua hari ini membuat aku selalu tertawa dan tersenyum. Apalagi dengan tingkah mu yang lucu. Aku benar-benar terhibur"


"kalau terhibur kenapa malah pergi" Yusrif menggenggam erat tangan Kemuning.


"karena kita berbeda, aku harus kembali ke alamku...alam para Jin seharusnya berada"


Perasaan sesak seakan menghimpit pernapasan Yusrif. Kalau boleh jujur ia begitu berat ditinggal oleh Kemuning namun perbedaan antara mereka tidak dapat ia tembus. Tuhan akan marah jika dirinya melangkah lebih jauh menggapai Kemuning. manusia dan para Jin tidak akan pernah bisa untuk hidup bersama, mereka hanya bisa saling berdampingan hidup di alam yang semestinya.


"selamat tinggal, aku...aku"


"aku mencintaimu" dua kata itu keluar dari bibir Kemuning, ia langsung mengatakan itu ketika Yusrif hendak ingin mengatakan perasaannya. "meskipun tidak bersama, percayalah Tuhan sudah menggariskan takdir yang lebih baik untuk kita berdua" Kemuning mengambil kedua tangan Yusrif dan menempelkan di kedua wajahnya. "aku pergi"


Wajah cantik Kemuning dihiasi senyuman, setelah itu wanita itu perlahan menghilang dan meninggalkan banyak kunang-kunang yang berterbangan memutari tubuh Yusrif. Setelahnya, kunang-kunang itu menjauh dan menghilang.


"aku juga mencintaimu... Kemuning" gumam Yusrif.


"Yus... ayo" panggil Hasan.


Mereka harus segera pergi dari tempat itu. Yusrif melapangkan hati untuk melepas kepergian Kemuning. Ia pun berbalik dan mengayunkan langkah. Tegar merengkuh bahunya, mengusap pelan punggung temannya itu, mencoba meyakinkan kalau keputusan yang diambil oleh Kemuning adalah yang terbaik untuk keduanya.


_____


masih berada di lingkungan sekitar villa, pengakuan Mamad yang mengakui bahwa dirinya adalah Victor membuat Diandra juga Alvin saling tatap. Dalam pikiran mereka, bagaimana bisa orang yang telah mati bisa hidup kembali.


"kamu Victor...? Hahaha" Diandra tertawa dan menganggap ucapan yang terlontar dari mulut Mamad hanyalah bualan semata. "mana mungkin Victor masih hidup, dia sudah mati"


"dan dia pasti sudah menjadi santapan ikan hiu di lautan sana" Alvin ikut bersuara.


"waooow"


Prok


Prok


Prok


"sungguh luar biasa ya Al, kamu bahkan sampai tau bagaimana aku hampir meregang nyawa di lautan. Siapa yang memberitahumu, atau....kamu terlibat dalam pembunuhan itu" Mamad tersenyum tipis.


"Mbah... sudahlah, jangan bergurau. Sebaiknya tangkap saja mereka semua dan kita bawa ke bos Gandha" Diandra sama sekali tidak percaya.


"iya, aku memang akan menangkap musuhku. namun bukan mereka melainkan kalian berdua. Coba lihat, apa kamu masih ingat dengan luka bakar yang kamu jadikan tato di punggungku Alvin...?" Mamad memutar tubuhnya membelakangi mereka dan ia mengangkat bajunya ke atas sehingga punggungnya terekspos begitu jelas.


Kedua mata Alvin membulat dengan ekspresi penuh keterkejutan. Luka bakar itu memang ada dan bahkan membekas di sana. Mamad kembali menurunkan bajunya dan memutar tubuhnya.


"melihat ekspresi yang kamu tunjukkan, aku yakin kamu tidak hilang ingatan" Mamad tersenyum sinis.


"k-kamu benar-benar Victor...?" Alvin kaget dan nampak tidak percaya.


"ya, aku memang Victor. sahabat yang kamu hianati dan dengan teganya kamu membunuh semua keluargaku. KAMU BENAR-BENAR IBLIS ALVIN" kemarahan terlihat jelas di wajah Mamad.


"sayang, bersembunyilah bersama pak Nanto dan ibu Nani" ucap Aji Wiguna.


"hati-hati mas"


Aji Wiguna mencium kening Najihan, setelahnya ia wanita itu bersama Naomi mendekati pak Nanto dan ibu Nani. Mereka menjauh dari, namun tidak meninggalkan tempat itu.


Aji Wiguna juga Samuel maju ke depan sejajar dengan Victor. Ketiganya siap melayani Diandra dan juga Alvin.


"bagaimana bisa kamu..."


"kenapa...? Kamu kaget aku mempunyai ilmu kanuragan...? sekarang aku bukan Victor yang bisa kamu kelabui seperti dulu penghianat. aku penasaran apakah kamu masih sama seperti dulu ataukah mungkin ilmu hutammu sudah meningkat"


"hei...apa yang kalian lihat. Serang mereka" Alvin meneriaki semua anak buah Gandha Sukandar untuk menyerang tiga pemuda yang sudah siap bertarung.


puluhan orang itu berhamburan berlari menyerang tiga orang yang menatap mereka dengan tajam.


Bughhh


Satu pukulan yang Victor lancarkan, mengenai salah seorang dan orang itu melayang menabrak dinding. Giginya patah serta hidungnya berdarah. Orang itu tumbang seketika.


"sial...kenapa bisa dia sehebat itu" Alvin menggerutu dalam hati.


puluhan orang itu tidak membuat ketiganya terluka sedikitpun. Bahkan puluhan orang itu yang babak belur dan terkapar di tanah dengan keadaan yang mengenaskan.


"kurang ajar" Alvin menjadi geram.


Tiga lawan satu, Alvin dikepung oleh tiga orang itu. Sementara Diandra, wanita itu melihat ke arah empat orang yang sedang menonton pertarungan itu dari jarak jauh. Diandra berlari ke arah mereka kemudian menarik paksa Naomi.


"Di, lepaskan. Apa yang kamu lakukan...?" Najihan menahan tangan Naomi.


"mbak Diandra, setan apa yang merasuki mbak sampai bisa seperti ini" pak Nanto pun ikut menahan Naomi agar tidak dibawa oleh Diandra.


"diam kau pak Nanto. Sebaiknya lepaskan wanita ja**ng ini atau ku bunuh kalian semua" Diandra mengancam.


"lepaskan aku wanita siluman" Naomi memberontak.


Plaaaak


Tamparan keras mendarat di pipi Naomi, Diandra melayangkan tamparan dan menjambak rambut Naomi.


"kamu harus mati. beraninya kamu mendekati Samuel"


"lepaskan Di" Najihan mencoba menyelamatkan Naomi namun malah dirinya yang tersungkur ke tanah karena dorongan dari Diandra.


"astaghfirullah...mbak tidak apa-apa...?" ibu Nani membantu Najihan untuk berdiri.


"mbak Diandra... lepaskan mbak Naomi" pak Nanto membentak.


"diam kamu laki-laki tua"


"KAMU YANG HARUSNYA DIAM"


Plaaaak


Naomi ternyata melawan. Ia membalas menjambak rambut Diandra dan menampar wanita itu. Kemudian Naomi mendorong Diandra sehingga Diandra tersungkur ke tanah.


"KURANG AJAR, BERANI KAMU MENYENTUHKU WANITA SIALAN" Diandra bangkit dan melesatkan satu serangan ke arah Naomi.


Hampir saja....


Jika Samuel tidak datang menarik tubuh Naomi, mungkin wanita itu sudah gosong karena serangan Diandra.


"kamu tidak apa-apa...?" Samuel menangkup wajah Naomi.


"dia menyeramkan Sam, dia... mempunyai ilmu hitam" Naomi ketakutan.


"tenanglah, biar dia menjadi urusanku. Kamu mundurlah" perintah Samuel.


"hati-hati Sam"


Samuel mengangguk sementara Naomi kembali ke Najihan juga pak Nanto dan istrinya.


"kenapa kamu menyelamatkan wanita itu Sam. Apa kamu mulai jatuh hati padanya...?"


"masalah perasaanku bukan lagi menjadi urusanmu Diandra"


"jadi benar kalau kamu mulai menaruh hati kepada Naomi...?" Diandra mengepalkan tangan.


"kalau iya memangnya kenapa. Kamu bukan lagi siapa-siapa di dalam kehidupan aku. Jadi berhenti memasang wajah munafik itu, aku tidak akan tertipu lagi"


Hahaha....


Diandra bertepuk tangan dan tertawa sekeras-kerasnya. Detik berikutnya wanita itu diam, menatap Samuel dengan tatapan tajam.


"maka kalau begitu, aku juga akan membunuhmu Sam. Kalian semua harus mati"


Swing


ddduuuaaaar


Samuel menghindar, serangan Naomi hanya mengenai batang pohon dan meledak. Pertarungan mantan sepasang kekasih itu akhirnya terjadi.


Samuel adalah pemuda yang selalu berada di samping Gara Sukandar apapun dan bagaimanapun keadaannya. sudah pasti laki-laki itu telah melewati berbagai rintangan hidup dan juga pertarungan dalam perjalanannya. Dan melawan Diandra bukanlah hal yang sulit untuk Samuel.


Laki-laki itu tidak mengeluarkan jurus apapun untuk melawan Diandra. Samuel hanya terus menghindar dan menghindar. Menunggu Diandra lelah dan lengah, barulah ia akan meringkus wanita itu. Dan ketika Diandra mulai kelelahan, Samuel melompat melayangkan pukulan di tengkuk wanita itu. Alhasil Diandra jatuh pingsan seketika.


"Sam" Naomi langsung berlari dan memeluk Samuel. Entah sadar ataukah tidak, keduanya malah terbawa suasana.


"ekhem" pak Nanto datang memisahkan hanya dengan suaranya.


"maaf, aku terlalu lega kamu tidak terluka" Naomi begitu canggung.


"kita pindahkan mbak Diandra ke tempat aman, bahaya kalau sampai dia bangun dan melawan lagi" ucap pak Nanto.


Samuel menggendong Diandra dan membawanya ke bawah pohon, tempat yang sedikit jauh dari arena pertarungan. Tidak lupa tubuh Diandra diikat agar wanita itu tidak berulah lagi.


"kamu tidak membantu mereka Sam...?" Najihan melihat Victor juga Aji Wiguna yang masih melawan Alvin.


"aku di suruh untuk menjaga kalian. Kita tidak tahu mungkin saja tiba-tiba ada serangan yang datang kepada kalian. Jika mereka membutuhkan bantuan maka aku akan maju" jawab Samuel.


sudah berulang Victor juga Aji Wiguna menyerang Alvin dengan serangan bertubi-tubi, namun laki-laki itu tetap berdiri kokoh di tempatnya tanpa terluka sedikitpun.


"apa yang terjadi, kenapa serangan kita tidak mempan padanya" Victor kebingungan.


"dia kebal dengan semua serangan kita" ucap Aji Wiguna.


Hahaha....


"sudahlah...jangan membuang waktu dan tenaga kalian. Sampai kapanpun, kalian tidak akan pernah bisa mengalahkanku" dengan sombongnya Alvin berucap.


"dia memiliki ilmu kebal, benar-benar bersekutu dengan iblis" umpat Victor.


Semua serangan telah dilakukan, tetap saja Alvin tidak terluka sedikitpun. Bahkan yang ada, Aji Wiguna dan Victor yang kelelahan.


"kini giliran ku" seringai iblis terbentuk di bibir Alvin.


kedua matanya ia tutup, bibirnya merapalkan mantra. Angin kencang datang tiba-tiba, menyapu semua yang ada di tanah. dikedua tangan Alvin, muncullah cahaya berbentuk bola yang berwarna ungu. Semakin lama bola ungu itu semakin besar dan semakin besar.


"MATILAH KALIAN SEMUA"