
"sudah siap...?" Ali menghampiri istrinya yang sedang bersiap untuk pulang
"sudah mas" Maryam tersenyum
Ali menggandeng tangan Maryam bermaksud untuk keluar dari kamar namun saat hendak melangkah, Maryam merasakan nyeri dibagian bawah. ia meringis sakit dan seketika berhenti
"kenapa...?" tanya Ali begitu perhatian
"sakit" cicit Maryam
"masih sakit ya...? berarti air hangat tadi tidak mempan" Ali mulai khawatir takut dirinya menyakiti istrinya semalam "perlu aku gendong...?"
"nggak ah, aku kan nggak sakit. ngapain mau gendong. malu tau mas" Maryam menolak cepat
"kamu kan memang lagi sakit, aku gendong saja ya"
"nggak mau mas, lagian aku masih bisa jalan"
"maaf ya"
"loh kenapa malah mas minta maaf...?"
"karena aku, kamu kesakitan seperti ini. harusnya tadi subuh aku nggak minta lagi"
"mas nyesal melakukan itu sama aku...?"
"ya nggak lah, sama sekali nggak" Ali menggeleng cepat "aku hanya merasa bersalah karena aku kamu jadi sakit seperti ini"
"bahkan nanti aku masih akan merasakan sakit yang lebih dari ini mas, saat nanti aku melahirkan. mas tidak perlu merasa bersalah seperti itu, aku ikhlas lahir batin karena sakit ini dari melakukan kewajibanku sebagai seorang istri"
Ali menatap manik mata istrinya, jawaban yang diberikan oleh Maryam membuat hatinya tersentuh. ia kemudian menarik Maryam dan memeluknya.
"terimakasih sayang"
satu kecupan mesra mendarat di kening Maryam. dengan senyum malu, Maryam memalingkan wajah. jikalau dirinya tidak mengenakan cadar mungkin dapat dilihat oleh suaminya saat ini wajahnya merona menahan rasa malu karena perlakuan suaminya ditambah lagi dengan panggilan sayang. ah, menurutnya suaminya itu saat ini sepertinya mulai menerimanya sepenuhnya.
"ayo" kembali Ali menarik tangan Maryam
berjalan dengan pelan, mereka melangkah mendekati pintu lift dan hanya berselang beberapa menit mereka tiba di lantai bawah.
"kita sarapan dulu ya, kamu pasti lapar"
"boleh, aku memang sejak tadi ingin makan"
mereka menuju tempat makan yang ada di hotel itu. telah di sediakan beranekaragam lauk, kue dan minuman yang setiap tamu hotel ingin menikmatinya.
"kamu duduk saja ya biar aku yang ambilkan"
"ya sudah, tapi aku mau salad buah yang ada di sana ya mas" Maryam menunjuk ke salah satu makanan yang ia inginkan
"baiklah, akan aku ambilkan"
Maryam melepaskan tangannya dari genggaman Ali, sejak tadi mereka memang masih tetap bergandengan tangan sampai di lobi rumah sakit. Maryam duduk di kursi sementara Ali mengarah ke tempat bermacam makanan yang tersedia. telah di tulis di setiap masing-masing meja lauk yang ada di atas meja panjang itu.
Ali mengambil nasi kemudian beberapa lauk yang dia inginkan. setelah lumayan cukup, ia berlaih mengambil salad buah yang diinginkan istrinya. di situ dirinya mengambil sendok yang bersamaan dengan seorang wanita yang datang secara tiba-tiba. tangan Ali berada di atas tangan wanita itu.
"maaf, silahkan anda duluan yang mengambil" Ali mundur menjauh
wanita itu memperhatikan Ali kemudian tersenyum lebar dan mendekat.
"ustad Ali kan...?" tebaknya
mendengar nama ustad Ali disebut, orang-orang yang berada di dekat mereka mengalihkan mata ke arah mereka. ingin memastikan apakah laki-laki yang wanita dekati itu adalah benar-benar ustad Ali. karena saat ini penampilan Ali tidak seperti saat dirinya menghadiri acara pengajian atau semacamnya. saat ini Ali berpakaian layaknya pemuda seperti dirinya. celana jeans hitam, baju kaos abu-abu dipadukan dengan jaket kulit hitam, sepatu dan juga topi yang ia kenakan, terlihat begitu seperti anak muda yang modis.
"iya" Ali menjawab sekenanya
"wah kita bertemu lagi ustad. ustad masih ingat saya kan, tadi saya yang meminta berfoto dengan ustad di acara pengajian tadi" wanita itu begitu sumringah bisa bertemu Ali. wanita itu adalah salah satu dari ketiga wanita yang meminta ingin mengambil gambar bersama Ali. wanita itu juga yang terlihat jutek kepada Maryam.
"eh ada ustad Ali, ayo samperin yuk ayo"
para kaum hawa mulai mendekat Ali, tentunya Ali saat ini menghela nafas. dirinya ingin lebih cepat ke tempat istrinya namun kini ia telah dikerumuni oleh para wanita.
"ustad Ali boleh minta foto nggak ustad"
"boleh ya ustad ya"
Ali melihat Maryam yang sedang sibuk dengan ponselnya. Maryam belum sadar kalau suaminya kini telah dikerumuni banyak orang.
"boleh mbak tapi izinkan saya untuk menyimpan makanan ini terlebih dahulu"
"oh iya silahkan ustad"
"permisi... permisi" Ali melangkah, berhati-hati agar tidak salah langkah dan menyenggol orang-orang itu
Ali berjalan ke arah Maryam, semuanya mengikutinya dari belakang. tepat di meja yang di tempati oleh Maryam, Ali menaruh piring makanan itu di atas meja. Maryam mendongak namun kaget karena kini banyak orang yang sedang menatap dirinya.
"sayang, temani aku mengambil gambar bersama mereka ya" dengan lembut Ali meminta kepada istrinya
"sayang...?" semua orang saling pandang
"dia istri saya, kalau kalian mau mengambil gambar saya ya harus dengan dia agar tidak ada fitnah nantinya"
wanita yang menyapa Ali lebih dulu tadi, tersenyum sinis ke arah Maryam. sejak di masjid tadi, ia begitu benci dengan Maryam, menurutnya Maryam sangat tidak pantas untuk Ali. apalagi pakaian Maryam saat ini begitu ia remehkan.
(wanita ganjen) kesalnya dalam hati
"jadi ustad udah nikah...? kita kok nggak tau"
"yang benar saja dong ustad"
mereka malah meributkan tentang pernikahan Ali, ustad muda itu pun hanya tersenyum kemudian mendekat dan merangkul bahu Maryam.
"saya memang sudah menikah dan inilah istri saya" dengan bangga Ali memperkenalkan Maryam sebagai istirnya sementara Maryam saat ini begitu tersentuh lagi-lagi Ali membuatnya semakin jatuh hati
"masya Allah, sekarang ustad Ali sudah milik ustazah kalau begitu ya. ustazah...."
"Maryam....nama saya Maryam" Maryam memperkenalkan diri saat seorang wanita dengan begitu ramahnya ingin tau nama istri dari ustad Rahman Ali
"oh iya ustazah Maryam, bolehkan kami berfoto bersama ustad Ali. tenang saja, ustazah ikut juga kok" dia tersenyum ramah
Maryam melihat ke arah Ali meminta pendapat, suaminya itu mengangguk pelan. akhirnya Maryam pun mengangguk, mereka yang ingin mengambil gambar bersama ustad Ali mendekat satu persatu. selesai dengan itu, mereka berterimakasih dan kembali ke tempat duduk masing-masing. namun tidak dengan wanita tadi, ia bahkan memanggil ustad Ali dengan nada yang lembut sengaja dibuat-buat.
"ustad Ali, aku boleh ya berfoto berdua saja dengan ustad"
"maaf, jika mau mengambil gambar maka harus dengan istri saya" Ali menjawab
"saya tidak akan mempergunakan yang macam-macam kok ustad, hanya mau menjadikannya sebagai wallpaper di ponsel ku saja" wajahnya di buat semanis mungkin untuk memikat hati Ali
"nona, anda mengerti bahasa Indonesia kan...? kalau mengerti saya yakin anda akan tau maksud dari penolakan saya" Ali menjawab tegas
sebenarnya sejak di masjid kemarin, Ali sudah tidak suka dengan wanita itu. apalagi melihat sikap wanita itu memperlakukan istrinya kemarin, membuat Ali kesal.
"ayo sayang, kamu bilang tadi kamu lapar kan. setelah ini kita pulang karena aku harus mengajar sebentar" Ali menarik tangan Maryam dan kembali duduk di kursi mereka
Maryam sebenarnya tidak enak hati kepada wanita itu namun melihat sikap suaminya yang seakan menjaga jarak, dia tidak ingin ikut campur. bisa-bisa nanti kalau dirinya meminta untuk mengabulkan permintaan wanita itu, suaminya akan marah padanya.
wanita itu dengan kesal mengumpat dalam hati, begitu susah untuk mendekati ustad yang menjadi idamannya itu. namun karena tidak ingin menyerah, ia bersikap tenang dan lembut. tanpa izin duduk di depan keduanya yang sedang makan.
"maaf mbak, ini meja kami... kalau mau makan silahkan ke meja yang lain" ucap Ali
"saya nggak akan ganggu kok ustad, hanya ingin bergabung saja. tidak apa-apa kan ustazah Maryam kalau saya duduk di sini...?"
"tidak a..."
"tapi saya keberatan mbak, silahkan pindah ke meja lain" Ali menatap wanita itu dengan raut wajah tegas, namun bukannya pindah wanita itu malah semakin membuatnya kesal
"ustad Ali kalau lagi serius kelihatan berwibawa sekali ya" dengan senyuman manis ia perlihatkan
"mas" Maryam mengelus lengan suaminya
"ayo sayang, aku sudah tidak berselera untuk makan" Ali beranjak dan menggenggam tangan Maryam
Maryam mengambil tasnya kemudian mereka meninggalkan wanita tadi. sementara wanita itu dengan perasaan dongkol menghentakkan kaki, begitu kesal karena lagi-lagi tidak dapat mendekati Ali.
"makanya mbak, nggak usah keganjengan jadi perempuan. ustad Ali pastinya lebih memilih permen yang terbungkus rapi untuk pendamping hidupnya daripada yang terbuka seperti ini, meskipun menggoda tapi tetap saja seperti wanita...." seorang laki-laki yang rupanya duduk di dekat mereka tadi, memperhatikan ketiganya sejak tadi
"bacot kamu" wanita itu berdiri dan pergi dengan perasaan jengkel
"idih...dasar nenek lampir"
di dalam mobil Ali hanya diam saja, hal itu membuat Maryam berpikir mungkin saja saat ini suasana hati suaminya sedang tidak baik.
"mas" panggil Maryam dengan lembut
"iya sayang" Ali menoleh sekilas
"mas kenapa, kok diam saja"
"nggak apa-apa sayang" Ali tersenyum "kita berhenti di warung makan ya, kan kamu tadi belum makan tapi aku sudah mengajak kamu pergi"
"nggak usah mas, kita pulang saja. lagipula umi pasti sudah memasak karena kita memberitahu mereka semalam untuk pulang pagi"
"kamu nggak marah kan...?"
"marah...? untuk apa...?"
"karena sikapku tadi. aku, hanya kesal kepada wanita tadi. seakan tidak punya rasa malu datang merecoki kebersamaan kita"
"dia hanya minta foto loh mas"
"tapi aku nggak suka caranya seakan memaksa"
"ya sudah jangan dipikirkan lagi, nanti mas tambah pusing"
Ali mengangguk dan menggenggam tangan istrinya. semenjak hubungan mereka semalam, Ali merasa mulai jatuh hati kepada istrinya itu.
(sungguh Engkau maha membolak-balikkan hati manusia) batinnya tersenyum lembut ke arah Maryam
di rumah yang ditempati pak Umar, saat ini rupanya pak Odir akan kembali ke kota Y, tempat tinggalnya. semalam istrinya menghubungi dirinya kalau anak mereka masuk rumah sakit karena kecelakaan. olehnya itu hari ini pak Odir akan pulang.
"hati-hati ya pak, kabari saya kalau sudah sampai" pak Umar memeluk pak Odir
"iya pak, maafkan saya tidak bisa menemani terlalu lama"
"tidak apa-apa, keluarga bapak lebih penting saat ini. dan ini, terimalah pak untuk biaya pengobatan anak bapak" pak Umar memberikan amplop kepada pak Odir
"ya Allah jangan pak, jangan. saya tidak mau menerima" pak Odir menggeleng dan mendorong tangan pak Umar
"terima pak, atau saya akan marah"
"saya ikhlas membantu sejak awal, jangan seperti ini pak Umar"
"ini bukan karena selama ini kamu membantu kami pak, tapi ini karena rasa kepedulian antara sahabat dengan sahabatnya"
"terima saja pak, jangan menolak. kami ikhlas memberi" ucap ibu Rosida
pak Odir masih enggan untuk menerima namun pak Umar mengambil tangannya dan ia letakkan amplop itu di tangan pak Odir. seketika pak Odir langsung memeluk pak Umar, ia begitu terharu dengan kebaikan laki-laki itu. bukan karena dirinya tidak mempunyai uang untuk membiayai pengobatan anaknya, namun karena dirinya menghargai kebaikan pak Umar maka ia pun menerimanya.
"terimakasih pak"
"sama-sama, jika butuh bantuan jangan sungkan untuk menghubungi saya"
mobil yang akan membawa pak Odir sudah berada di depan rumah. setelah berpamitan kepada semua orang, pak Odir masuk ke dalam mobil dan melambaikan tangan. mobil putih itu membawa pak Odir semakin jauh dan hingga akhirnya tidak terlihat lagi.
"ayo Han, kita bungkus hadiah untuk anak-anak santri" ajak ibu Rosida
"saya tidak bisa ikut ya bu, soalnya pagi ini sudah janji sama anak-anak mau menanam sayur di belakang pesantren" ucap ibu Laila
"tidak apa-apa bu, nanti kami meminta bantuan sama santriwati"
semenjak berada di pesantren, ibu Laila begitu disukai anak-anak santri. sifatnya yang lembut dan penyayang, terlebih lagi kerap kali banyak ilmu yang mereka dapatkan dari wanita yang berwajah teduh itu. nasehat-nasehat yang ia berikan membuat kebanyakan santri begitu senang bisa mengenal ibu Laila.
dua anak santriwati telah datang menjemput ibu Laila. janji adalah utang dan ibu Laila tidak ingin memiliki utang kepada anak-anak itu karena janji yang pernah ia berikan kepada mereka. setelah ibu Laila pergi, yang lainnya masuk ke dalam rumah untuk membungkus setiap hadiah yang nantinya akan diberikan kepada para santri. mereka tidak lagi meminta bantuan, hanya ibu Rosida, ibu Afifah dan Hanun yang melakukannya. pak Umar duduk memperhatikan mereka.
"bu, kami dengar dari umi katanya ibu mau pulang ya ke kota S" salah satu santri bertanya kepada ibu Laila
lahan yang telah disediakan menjadi tempat mereka untuk menanam sayur. di belakang pesantren, yang tidak jauh dengan sungai, di tempat itu mereka membuka lahan.
"insya Allah, mungkin dalam waktu dekat ini" ibu Laila menjawab lembut
"yaaah, kita nggak akan bisa bertemu dengan ibu lagi dong. padahal aku sudah mulai jatuh loh bu sama ibu" ucap salah satu santri
"kamu sukanya sama tante-tante Izan...?" santri yang bertubuh gemuk bersuara
"hus... sembarangan kalau ngomong. maksud aku jatuh hati Karena ibu Laila memperlakukan kita seperti anaknya sendiri gitu loh, itu otak kamu isinya apa sih Madun" Izan menggeplak kepala Madun
"susu kotak sama sosis" jawab Madun
"emang lah si tukang makan" Yuni ikut bersuara
"emang kamu nggak makan gitu, kalau aku sih nggak bisa hidup tanpa makanan" Madun berbicara sambil memakan roti yang ada di tangannya
perdebatan mereka sudah menjadi hal yang biasa bagi ibu Laila semenjak mengenal anak-anak itu. baginya, anak-anak itu mengobati rasa rindunya terhadap anaknya, Firdaus yang kini telah menjadi Fatahillah Malik.
menanam sayur telah mereka selesaikan, kini mereka beralih ke pemancingan sebab salah seorang santri mengajak mereka untuk memancing. dengan semangat 45, mereka mencari tali pancing dan mata pancing. umpan yang digunakan pun adalah cacing tanah yang ada di sekitar sungai.
berjumlah enam orang, dua perempuan dan empat laki-laki, para santri itu kini sedang sibuk dengan pancing mereka masing-masing. ibu Laila duduk di pondok yang ada dipinggir sungai, melihat kegiatan anak-anak itu.
"yuhuuuuuu, aku dapat aku dapat" salah satu santri mengangkat satu ekor ikan yang berhasil ia dapatkan dengan bersorak gembira
"waaah besarnya, bisa kita bakar tuh" ucap Madun
"iya, nanti kita bakar untuk makan siang" jawab Danang, santri yang berhasil mendapatkan ikan tadi
kegiatan mereka itu berakhir karena ibu Laila mengajak mereka untuk pulang. tiba di rumah, Maryam dan Ali telah berkumpul di ruang tengah. sudah banyak yang terbungkus namun masih banyak yang perlu dibungkus. mereka berhenti saat sholat dzuhur tiba dan melanjutkan lagi setelah sholat.
diwaktu jam 2 siang, suara salam terdengar dari luar. ibu Afifa mengenal suara siapa yang mereka mendengar itu, dan tidak lama yang mengucapkan salam terlihat sudah berada di depan pintu.
"ibu" Akmal mendekat dan memeluk ibu Afifah "kangen banget sama ibu" rengeknya seperti anak kecil
"elleh...dasar cengeng" ibu Afifah mencibir namun kemudian mengelus lembut kepala anaknya
bukan hanya Akmal yang masuk, mereka yang ternyata masih berada di luar kini telah berada di depan mereka. namun masuknya mereka membuat semua orang begitu kaget saat melihat Fatahillah bersama seseorang yang begitu mirip dengannya sedang berdiri dan tersenyum di dekat Fatahillah.
"astagfirullahaladzim, kok itu....mas Fatah..... ada dua" Hanum menggosok mata, mungkin saja dirinya salah lihat
semua orang mengalihkan pandangan ke arah dua pemuda yang sedang berdiri saling bersampingan. tentu saja mereka semua kaget, ibu Laila bahkan menjatuhkan nampan gelas yang berisi teh hangat untuk mereka semua.
"ya Allah bu, hati-hati" Maryam menarik ibu Laila agar tidak menginjak pecahan gelas
ibu Laila gemetar menutup mulut. tubuhnya seperti tidak mempunyai tenaga dan hampir jatuh jika saja Maryam tidak menahannya.
"bu" Fatahillah mendekat dan memeluk ibunya. ia cium kening ibu Laila dan kembali memeluknya dengan erat
"lihatlah bu, Firdaus membawa seseorang yang pasti selama ini ibu rindukan. dia Farhan bu, Farhan Hamid saudara kembar aku"
"hah...? saudara kembar...?" semua orang kaget
karena begitu terkejutnya, ibu Laila pingsan di pelukan Fatahillah.
"ya Allah bu"
seketika semua orang panik, Fatahillah dengan cemas menggendong ibu Laila dan membawanya ke kamar. kedatangan kedua anaknya membuat ibu Laila tidak sadarkan diri. ibu siapa yang tidak akan kaget jikalau anak yang selama ini ia anggap telah meninggalkan dirinya ke tempat yang sangat jauh tiba-tiba saja sudah berada di depan matanya. hal itu membuat ibu Laila begitu terkejut dan jatuh pingsan.